Sabtu, 30 Maret 2013

ENGKAU WANITA YG BERUNTUNG


♥ ENGKAU WANITA YG BERUNTUNG ♥

 Sobatku,engkau harus beristiqamah!!


jika datang musibah  kesedihan maka ketahuilah bahwa semua itu bisa menjadi penghapus dosa.misalnya jika engkau kehilangan salah satu anak kesayanganmu maka anggaplah ia akan menjadi penolongmu kelak didepan yang maha adil,jika engkau ditimpa sakit anggaplah sakit itu Allah kan memberimu pahala  penghapus dosa2 mu. kelaparan itu pahala,penyakit itu pahala, kemiskinan itu pahala disisi Allah.
Tidak ada satupun dari semua itu yang terlepas dari penjagaan Allah.dan Allah akan menjagamu seperti menjaga barang  yang dititipkan seorang pada
orang lain.bahkan Allah maha menjaga.

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 23


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 23

Alhamdulillah akhirnya selesai juga....

~ Ending yg Mengharukan ~

Satu minggu berlalu usai kegagalan pernikahan Halimah dg Budiman.Saat itu Rizqaan sudah semakin mapan.Ia sudah berhasil tak kurang dari 10 ribu roti setiap harinya dg keuntungan bersih lebih dari 2 juta perhari kini ia sudah bisa membangun rumahnya kembali meski tidak sebesar dulu.Ia juga sudah memiliki mobil taruna tahun 99 mobil bekas tapi masih bagus dan terawat.Saat itulah Halimah bersama keluarganya datang berkunjung kerumahnya.

Kedua orang tuanya akhirnya tak mampu mempertahankan pendapat mereka,untuk menikahkan Halimah dg pria mana pun yg mereka mau.Setelah Budiman mereka mencoba menawarkan pria lain namun dg alasan yg disampaikan oleh Halimah mereka terbungkam tampaknya memang tak ada pria lain yg bisa menikah dg Halimah maka akhirnya mereka pasrah saja,saat Halimah meminta mereka untuk kembali menikahkannya dg Rizqaan.

Saat melihat putranya Nabhaan,mantan istrinya Halimah dan juga mantan mertuanya dari kejauhan wajah Rizqaan berseri,ia tak sedikitpun menyangka bahwa kedatangan mereka kerumahnya adalah untuk suatu hal yg bisa jadi membuat wajahnya semakin ceria nantinya.Sekadar kedatangan mereka,sudah merupakan anugrah baginya.

Saat sudah berdekatan,ia melihat wajah Halimah yg masih terlihat sedih dan berduka.Sebaliknya,ia melihat wajah mantan Bapak mertuanya sedikit ceria terlihat cerah tidak kusam seperti biasanya.Hal itu mengundang tanda tanya besar dalam hatinya.

"Bagaimana kabar,nak Rizqaan." Bapak Halimah menyapanya,agak aneh karena selama ini ia tak pernah menyapa seramah itu.

"Alhamdulillah,baik2 saja Pak.Bagaimana kabar kalian semua? Bapak,Ibu,Halimah dan yg lainnya?"

"Kami baik2 saja,hanya Halimah yg sedikit kurang sehat." Bapak Halimah berkata halus."Mana Ibumu nak?" tanya Bapak Halimah lagi.

"Kebetulan,sedang istirahat dikamar." jawab Rizqaan.


Rizqaan menyuruh mereka masuk.Diruang tamu yg tidak seberapa besar mereka duduk diatas sebuah bangku sofa yg cukup bagus.Rizqaan ke dalam dan menyiapkan minuman,Halimah merasa begitu canggung karena dahulu,bila datang tamu dirumah ini dia lah yg pergi kebelakang menyiapkan minuman kini Rizqaan yg menyiapkan minuman untuknya.Ia bertamu kerumah Rizqaan? Aneh rasanya,hatinya terenyuh.

Beberapa saat Rizqaan keluar membawa nampan berisi minuman dg sebuah toples berisi makanan ringan."Maaf,tidak ada apa2.Maklum sekarang tidak banyak tamu datang kemari." Rizqaan berkata santun.Bapak dan Ibu Halimah memandang kearahnya dg senyum mengembang.

"Tidak apa2,kami datang untuk menengokmu.Menengok keadaanmu sekarang selain itu kami ada keperluan sangat penting ." ujar Bapak Halimah."O ya? Ada keperluan apa? Ada yg bisa saya bantu?"

Keramahan Rizqaan membuat kedua mantan mertuanya itu tersipu malu hati mereka bagai dipecut dg cemeti tajam,perih ada sejenis penyesalan yg membuncah dalam dada mereka atas sikap mereka selama ini terhadap Rizqaan terhada pria yg terlihat begitu baik,begitu shalih,begitu baik tutur katanya.

"Kami datang untuk sebuah keperluan yg mungkin tak pernah kamu duga ananda.Setelah melalui perdebatan panjang dan banyak kisah2 disekitarnya kami berniat akan menikahkahmu kembali dg putri kami,Halimah.....""A...apa? Menikahkanku kembalitdg Halimah?" Rizqaan tergagap-gagap,ia tak mampu berbicara ada kelebatan sinar menyapu otaknya sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yg tak terkira."Ya,kami serius.Kami akan menikahkanmu disini saja nanti soal pengurusan surat nikah gampang.Di urus belakangan tapi kami mohon ananda berbicara dulu dg Halimah.Kalian bisa bicara didepan kalau sungkan dg keberadaan kami.

Tanpa berbasa-basi Rizqaan segera melangkah disitu ada 2 bangku berjejer dibatasi oleh sebuah meja biasanya disitu Rizqaan menerima tamu agar bebas berbicara bila kebetulan tamunya seorang wanita.


Halimah mengikuti Rizqaan dari belakang,Rizqaan duduk disebelah kiri dari arah depan sementara Halimah disebelah kanan meja mereka duduk sejajar namun diantara mereka ada sebuah meja yg membatasi.Halimah langsung membuka pembicaraan.

"Abuya...""Maaf,aku belum menjadi suamimu lagi..." sela Rizqaan"Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya,aku tak terbiasa dg panggilan lain.""Baiklah,ada apa Adinda?""Abuya,Abuya siap menikahiku lagi?""Adinda Halimah,kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu.Aku senantiasa mencintaimu hanya karena kita bukan lagi suami istri aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi aku tak mungkin menolak."

"Meskipun aku sekarang sudah jauh berbeda dg dulu?" tanya Halimah."Maksudmu ?""Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yg tidak kumiliki sebelumnya?""Kekurangan apa adinda?""Jawab dulu pertanyaanku.""Ya,aku akan menikahimu dg sgala kekuranganmu yg ada slama itu bukanlah cacat dalam agamamu yg tak dapat diperbaiki." ujar Rizqaan tegas.

"Abuya,aku ingin abuya menikahiku karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami yg shalih..." Halimah berhenti sejenak ada keharuan yg membuatnya tercekat sehingga sulit berbicara."Abuya bisa segera menikahiku tapi aku tak tahu apakah keinginan itu akan tetap ada setelah abuya mengetahui kekuranganku sekarang.Abuya,aku baru saja satu minggu yg lalu melakukan chek up dan aku terbukti mengindap leukimia..." sampai disitu Halimah terisak ia tak mampu melanjutkan bicaranya.

Rizqaan tersentak.Tapi demi Allah,ia tak sedikitpun merasa sedih kegembiraan bisa kembali bersama istrinya tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah itu."Dokter mengklaim bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja..." kembali Halimah menangis."Aku tak peduli umur ada ditangan Allah manusia hanya mampu mengira-ngira.Nyawaku bisa saja lebih dahulu terenggut dari pada nyawamu aku akan segera menikahimu biarlah Allah yg menentukan akhir dari perjalanan hidup kita.


Bagiku,hidup atau mati bersamamu dalam 'kecintaan' Allah adalah sebuah kenyataan yg paling penuh berkah." Rizqaan berbicara dg keyakinan kokoh membelit jiwanya.

Saat itu juga mereka masuk lalu tanpa menunggu waktu lama mereka dinikahkan.Dalam sekejap mereka kembali menjadi suami istri.Pernikahan dilangsungkan tanpa menunggu Ibu Rizqaan terbangun mereka ingin segalanya cepat berlangsung dan dg izin Allah segala yg semula tak pernah terbayangkan oleh Rizqaan akhirnya menjadi kenyataan.Sebuah kenyataan indah meski ada kabut gelap yg menyelimutinya.

Rizqaan kembali hidup berbahagia bersama Halimah,mereka kembali mengulang masa2 penuh keceriaan diantara mereka.Satu bulan kemudian anak mereka yg kedua lahir,ia seorang bayi perempuan yg cantik mirip ibunya ,Halimah.Bayi itu dilahirkan dg cara normal,bayi maupun ibunya sama2 selamat.

Saat itu kegembiraan memenuhi kehidupan Rizqaan.Baik Rizqaan,Ibunya,istrinya juga kedua mertuanya dan juga kakak Halimah Ja'far.Saat itu Ja'far datang dg keluarganya,istrinya juga ternyata wanita yg shalihah berjilbab lebar bahkan bercadar namanya Muslimah.Mereka berkumpul dirumah dg penuh keceriaan suasana yg tak pernah mereka rasakan selama ini.Bapak dan Ibu Halimah sekarang juga rajin shalat,Rizqaan sering pergi shalat jumat bersama dg Bapak mertuanya.

Hari2 itu mereka lalui dg penuh kebahagiaan sampai suatu hari mereka mendapat sebuah berita yg mengejutkan.Seorang polisi datang menemui Rizqaan dirumahnya kebetulan saat itu kedua orang mertuanya sedang dirumahnya disitu juga ada Halimah.Kecuali Ja'far yg tidak ada,polisi itu menunjukan sebuah foto.

"Bapak kenal dg orang difoto ini?"Mereka bersama-sama melihatnya dan secara serentak mereka terperajat.Orang difoto itu tidak lain adalah Asyraf kakak lelaki Halimah.

"Ada apa dg anak ku ini?" tanya Bapak Halimah."Ia diduga terlibat pengendaran obat bius dan lebih dari itu dari hasil penyelidikan polisi ternyata ia adalah biang keladi terjadinya kebakaran yg menimpa rumah ini beberapa waktu yg lalu.Itu termasuk tindakan kriminal


Apalagi menyebabkan kematian orang....."

Rizqaan terkejut bukan kepalang,Bapak Halimah terhenyak Ibu Halimah berteriak histeris,Halimah sendiri ikut menjerit untuk kemudian roboh pingsan.Berita itu sungguh mengguncangkan keluaqga Halimah,Bapaknya marah2,ia mencaci maki anaknya itu saat menjenguknya dikantor polisi.Ibunya juga terus menangis atas semua kejadian itu.Saat didesak oleh Bapaknya Asyraf mengaku bahwa ia melakukan perbuatan keji terhadap Rizqaan karena ingin adiknya menikah dg Budiman tapi itu murni inisiatifnya sendiri Budiman tidak terlibat sama sekali.Karena ingin memiliki ipar yg kaya raya seperti Budiman Asyraf nekad membakar rumah Rizqaan,Ia tak menyangka bahwa kejadian itu akhirnya menewaskan Bapak Rizqaan.Bapaknya semakin marah,Ia menampar anaknya itu dan menyumpahinya Ibunya berusaha menyabarkan Bapaknya agar tidak mengamuk dan membuat mereka malu ditempat tersebut.

Sementara keadaan Halimah juga mengkhawatirkan,setelah pingsan 3 jam pukul 2 siang ia terbangun tubuhnya masih lemas tapi ia meminta diambilkan air wudhu lalu ia shalat diatas pembaringan.Ia sengaja menjamak shalatnya dg Ashar tak sampai 15 menit ia kembali pingsan.

Sore menjelang Magrib Halimah terbangun disampingnya duduk Rizqaan sementara didepannya Bapak dan Ibunya Halimah duduk diatas 2 kursi plastik.Mereka semua cemas menantikan keadaannya,seorang dokter perempuan yg sengaja diundang kerumah mendekatinya memeriksa nadinya lalu memberikan suntikan dibagian lengannya.


"A...abuya..." Halimah berkata lirih."Aku disini Adinda.""Alhamdulillah,apakah sudah tiba waktu Magrib?" tanya Halimah."Belum,masih kira-kira 10 menit lagi.""Abuya..." sapa Halimah pelan"Ada apa Adinda."

"Apakah Abuya masih mencintaiku?""Tentu adinda,aku slalu mencintaimu karena Allah.""Aku juga mencintaimu karena Allah,Abuya." Halimah diam sejenak lalu bertanya lirih,"Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yg menimpa kita,Abuya?"

"Engkau akan dapati diriku termasuk orang2 yg bersabar adinda...""Abuya,jawablah pertanyaanku.""Ya,apa adinda?""Apakah engkau meridhaiku sebagai istri?""Sudah tentu Adinda,suami mana pun akan meridhai istri seshalih dirimu,setaat dirimu,sepatuh dirimu kamu bukanlah wanita yg tak memiliki kekurangan atau kesalahan tapi dg keshalihanmu,ketaatanmu,kepatuhanmu aku senantiasa ridha terhadapmu...."

"ALHAMDULLAHILLADZI BINI'MATIHI TATIMMUSH SHAALIHAAT,aku ingin masuk diantara wanita yg disebutkan dalam hadits.""Bagaimana itu adinda?"

"Wanita manapun yg meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya,ia pasti masuk surga."(AT-TIRMIDZI & IBNU MAJAH)

Halimah mengucapkan hadits itu sedemikian fasihnya,arab berikut terjemahannya."Semua wanita shalihah,mengidamkan itu,adinda.Dengan izin Allah adinda akan termasuk diantaranya."Allahumma amien.Abuya,sekarang aku puas apapun yg terjadi atas diriku kini aku sudah kembali menjadi istrimu.Aku telah berdoa setiap malam,agar bisa hidup berdampingan dg suami yg shalih sehingga kalaupun mati aku akan mati dg keridhaan Allah kemudian dg keridhaan suamiku...."Halimah berhenti sejenak.

"Abuya,betapa indahnya bila Allah betul2 mencintai kita,aku ingin dg cinta-Nya kita berdua menuai bahagia seutuhnya.Kebahagiaan yg bukan cuma didunia tapi juga diakhirat."Halimah menghela napasnya yg terasa begitu berat."Abuya,bila aku sudah tiada berjanjilah untuk senantiasa berjalan diatas ajaran Allah,didiklah anak kita dan berbaktilah kepada orangtua..."


"Jangan berkata begitu Adinda..." Rizqaan menyela.Halimah memberi isyarat dg tangannya agar Rizqaan tak bertanya apa2."Berjanjilah Abuya...""Aku berjanji Adinda,tanpa berjanjipun ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut Ibu mereka.." ujar Rizqaan."Alhamdulillah....."

"Abuya....tabir itu mulai terbuka....aku mencintaimu,Abuya.Abuya tak perlu meragukan cintaku tapi aku lebih merindukan Allah,bila ini kesempatanku bersua dengan Nya aku tak akan menyia-nyiakannya sedikitpun.....""Adinda....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurrasulullah......""Adinda.....""Laaaa ilaaaha illallah..... Muhammadurusullah.....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurusulullah.....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurusulullah....."

Suara tahlil itu mengalun lembut dan syahdu dari mulut Halimah,terus menerus semakin lama semakin lemah namun semakin syahdu sampai akhirnya suara terakhir terdengar masih sama "Laaaa ilaaaha illallah..... Muhammadurusulullah....."Usai berakhirnya suara itu nafas Halimah terhenti,ditengah keheningan kamar dirumah mereka yg masih tercium bau catnya karena belum lama dibangun.Halimah menghembuskan nafas terakhir,sang Ibu menjerit sang Bapak menangis,Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yg tiba2 mengalir deras.Pernikahannya dg Halimah yg merupakan masa kembalinya kebahagiaanya yg beberapa saat nyaris lenyap kini nyaris terenggut kembali tapi kepergiaan Halimah dg kondisi yg menyemburatkan aurat surga membuat hatinya terasa nyaman.Ia bersedih tapi juga bangga dg istrinya kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yg menyejukan jiwa betapa berbahagianya Halimah.

Tak lama kemudian adzan magrib terdengar mereka mendengarkan dg kyusu.Saat lantunan adzan berhenti Bapak Halimah mendekati Rizqaan.Ia menatap menantu yg sekian lama ia kecewakan,sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan.Pria yg-dg izin Allah- telah mengubah wujud putrinya sehingga menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran.


Ia menatap pemuda itu,air matanya menetes tak terbendung.Penyesalan membuncah hingga nyaris membakar otak.Ia nyaris bisu dalam suasana hati yg kuyup penyesalan.

"Duhai,seandainya aku masih memiliki putri yg lain pasti aku akan menikahkannya denganmu,ananda." ujar Bapak Halimah kepada Rizqaan."Halimah,sudah cukup bagiku Pak,nikahkanlah aku kembali dg putrimu itu Pak?""Aku sudah melakukannya 2 kali ananda...""Cobalah untuk ketiga kalinya Pak..." ujar Rizqaan lirih.

"Itu bukan lagi hakku ananda,biarlah Allah yg akan menikahkanmu dg nya disurga kelak.Relakanlah kepergiannya saat ini semua kita toh pasti akan mati juga.Gapailah surga dg amal ibadahmu dg ketulusan hatimu hanya dg itu Allah akan berkenan mempertemukan dirimu kembali dg nya....."Rizqaan tersenyum.

"Hai jiwa yg tenang kembalilah kepada Rabbu dg hati yg puas lagi diridhainya.Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba Ku dan masuklah kedalam jannah Ku."(AL FAJR:27-30)

TAMAT. 

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 22


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 22

~ Ungkapan Penyejuk Hati ~

Hari itu ja'far datang kerumah,ia datang seorang diri tidak disertai istri dan anaknya.Ia merasa menyesal karena terlambat mendengar berita duka yg menimpa Halimah sekeluarga,ia datang dg wajah yg begitu pekat kesenduan.

Kebetulan saat itu Halimah sedang berduaan dg putranya,Nabhaan.Kedua orangtuanya sedang pergi keluar mengurus bisnis mereka.Ja'far mengucapkan salam dari dalam terdengar Halimah membalas salamnya.

"Siapa diluar?""Aku Ja'far.""Oh,abang Ja'far.Silahkan masuk aja bang." Halimah bergembira menerima kehadiran abangnya itu.Hanya dg abangnya ini selain dg suaminya ia bisa berbagi cerita secara detil menumpahkan segala uneg2 dan gejolak perasaan dalam jiwanya.Ja'far sangat mengerti dirinya meskipun ia tergolong pria yg lemah berbeda dg saudaranya Asyraf yg justru terlihat lebih garang dan kasar.Namun disisi lain Ja'far adalah sosok pria murlim yg teguh pada pendiriannya,ia tak banyak berbicara bahkan sulit bersilat lidah membela keyakinan dan prinsipnya melalui kata2 namun ia pantang beringsut dari kebenaran yg ia yakini itulah kenapa antara dirinya dg saudara laki2 yg satu ini ada keterkaitan yg erat ada keseragaman prinsip dan gaya hidup,ada kesamaan persepsi dalam memandang hidup dari kehidupan.

Ja'far masuk dan langsung memeluk adik tersayangnya.Halimah kembali menangis,ia mencoba melebur segala duka dan kesedihannya dg berbagi rasa bersama Ja'far kakak kandung yg amat dicintai dan juga amat mencintainya.


"Sabar dik,kehidupan orang beriman yg tak pernah lepas dari musibah dan cobaan.Beruntung,Allah masih berkenan melebur dosa2 kita lewat beragam cobaan yg Allah timpakan kepada kita..." tiba2 saja Ja'far berubah menadi pengkhutbah yg fasih.Biasanya,ia sulit bertutur dg kata2 teratur.

"Insya Allah Bang,doakan saja kami sekeluarga.""Aku amat terpukul mendengar berita perceraianmu dik,bagiku itu lebih menikam jiwa ketimbang harta benda kalian berdua yg luluh lantak dimakan api."

"Aku pun tak jauh berbeda bang,aku amat terpukul dg perceraian itu karena kami bercerai dalam balutan kasih sayang tak setitikpun berkurang bahkan semakin bertambah kala perceraian itu terucap itu justru jauh lebih menyakitkan,dg apabila kami bercerai dg suasana hati yg saling membenci...""Tapi,kecintaan seorang muslim atau muslimah terhadap saudaranya memang tak pernah memberi kerugian apa2 dik." ungkap Ja'far bijak.

"Teman2 akrab pada hari itu sebagainya menjadi musuh bagi sebagian yg lain kecuali orang2 yg bertakwa."(AZ-ZUKHUF:67)

Cintamu terhadap mantan suamimu,bukanlah sekadar cinta seorang wanita terhadap pria tapi cinta seorang muslim terhadap saudaranya seiman itulah cinta yg kekal,itulah cinta yg tulus cinta yg tidak bisa pudar atau binasa.Cinta yg akan hidup slama-lamanya tak lenyap atau memudar merki engkau sudah bercerai dgnya sebagai suami istri karena kalian tetaplah 2 orang beriman yg saling mencintai dan menyayangi sebagai sesama hamba Allah."

"Ucapanmu seperti pujangga aja bang,sejak kapan kamu bisa berbicara fasih dan indah seperti itu?" tanya Halimah.Geli dan haru."Wah,aku cuma mencomotnya dari buku2 yg aku baca,mudah-mudahan saja aku tidak salah ucap."Halimah tertawa ringan.

Ja'far senang melihatnya,adiknya itu sesungguhnya cantik.Jiwa dan batinnya bahkan jauh lebih cantik dari lahiriahnya.Ia memang pantas menjadi istri Rizqaan yg juga tampan,shalih,berilmu,dan bertanggung jawab.'Sungguh perceraian yg tak pantas' gerutunya dalam hati.


"Aku mungkin mudah menepis segala sedih dan duka ini bang tapi bila si Nabhaan ini sudah berceloteh sering kali aku larut dalam kesedihan kembali."

"Kalau engkau tidak bersedih,engkau bukan manusia dik.Engkau lebih layak disebut malaikat,siapapun akan bersedih bila mengalami apa yg telah engkau alami.Islam tak sedikitpun melarang kita besedih yg penting ucapan dan sikap kita terjaga jiwa kita tetap tertata jangan sampai bersikap keliru dan mengundang dosa dan jangan juga terlarut dalam kesedihan.Orang yg beriman adalah orang yg tidak akan terpuruk karena rasa sedih dan ketakutan itulah tanda kedekatan Allah dg kita.Yakinlah,bahwa Allah senantiasa menyayangi hamba Nya yg taat dan setia.'

Ungkapan Ja'far itu bagai siraman air surga yg menyejukan hati Halimah.Memang sungguh berbeda ungkapan yg keluar dari hati yg tulus dan jiwa yg terbangun oleh iman,dg ucapan yg mengalir tanpa ketulusan dari mulut sefasik-fasiknya manusia.Ucapan yg tak ubahnya hasil ekspresi seorang aktor kawakan yg betapapun indah dan memikatnya tetap kering dg makna.

Ungkapan Ja'far itu sederhana bahkan terlalu sederhana.Halimah sudah beratus kali mendengar dan membaca nasihat itu namun saat ini ungkapan yg simpel dan sederhana itu terdengar sangat indah,sangat menggugah perasaannya menyentuh hingga lubuk hati yg memang sudah berhias ketabahan.Menyelimuti jiwanya yg memang sedang bersimpuh dihadapan kasih Allah dg sgala kepasrahan.Betapa indahnya

Bersambung..

NOVEL SANDIWARA LANGGIT BAG 21


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 21

~ Menanti Pilihan Allah ~

yuk sahabat  kita lanjutin bacanya........

Saat kandungan mendekati masa melahirkan Halimah diantar Ibunya kerumah sakit.Saat itu ia juga belum menerima pinangan Budiman.Halimah pergi ditemani Ibunya,sebelum sampai dirumah sakit Halimah berhenti disebuah ATM untuk mengambil uang kiriman dari Rizqaan.

Beberapa bulan lalu Rizqaan mengirimkan uang 10 juta untuknya selanjutnya setiap bulan Rizqaan selalu mengirimi minimal 1 juta meski Halimah tinggal bersama orangtua dg uang itu ia bisa membeli sendiri banyak keperluannya dan juga keperluan Nabhaan.Ia tak pernah menerima uluran tangan Budiman,Ia sering menawarkan hadiah,uang atau barang2 berharga kepadanya.

Tiba dirumah sakit Halimah memeriksakan kandungannya selain itu ia melakukan chek up untuk mengetahui kesehatan tubuhnya sendiri sehingga Ibunya agak lama menanti.Setelah dari dokter kandungan ia diantar keruang lain untuk melakukan medicle check up disitu si Ibu harus menunggu lebih lama karena air seni,kotoran dan darahnya diperiksa semua.

Selama ini Halimah agak jarang memeriksakan diri tapi semenjak perceraian itu terjadi.Ia merasa kondisi tubuhnya selalu melemah mulanya ia berpikir pasti hanya faktor kejiwaan tapi ia merasa perlu juga memeriksakan kondisi fisiknya inilah saat yg tepat sambil memeriksakan kandungan ia juga meminta kesehatannya secara seluruh diperiksa.

Halimah keluar dari ruangan medical check up,ia terlihat letih wajahnya agak pucat."Kamu tak apa2 Halimah." tanya Ibunya."Tidak apa2 Bu,tidak apa2." jawab Halimah.

Beberapa hari kemudian Halimah datang untuk mengambil hasil dari check up beberapa hari yg lalu.Kali ini Ibunya juga ikut mengantarkannya karena ia tak bisa menyetir mobil sendiri.Sebenarnya bisa saja ia naik taksi tapi ia malas.Ibunya kembali menanti diluar ruangan saat keluar terlihat Halimah juga begitu keletihan wajahnya kali ini bahkan lebih pucat dari beberapa hari sebelumnya.


"Kamu,tak apa2 Halimah?" tanya Ibunya lagi."Eh,tidak.Tidak apa2 Bu." Halimah agak tergagap menjawabnya."Betul,kamu tak apa2 ?""Be..betul Bu...""Ya sudah,mari pulang."

2 hari setelah itu Budiman datang kali ini ia datang dg ditemani Ayahnya.Bapaknya pernah menyarankan Budiman agar datang dg orangtuanya,kedua orangtuanya atau minimal Ayahnya dg begitu semoga Halimah memahami keseriusan Budiman dan moga2 Hatinya luluh dan bisa menerima lamaran Budiman.

Orang itu datang dg mengendarai sebuah sedan BMW keluaran terbaru terlihat ia dan Ayahnya ceria tampaknya mereka yakin bahwa kali ini Halimah tak akan menolak lagi pinangannya karena ini sudah nyaris sama dg pinangan resmi,ia datang bersama Ayahnya dan kedudukan ayahnya sebagai pejabat tinggi pasti memengaruhi siapapun yg didatanginya.

Setelah mereka duduk,Halimah ditemui oleh Bapaknya.Ia kembali didesak untuk menerima pinangan Budiman.

"Lihatlah,Ia sudah datang bersama Ayahnya itu artinya dia serius ingin menikahimu apalagi yg kamu pikirkan.Ia kaya,baik hati ia menjadi duda bukan karena ditinggal selingkuh istrinya tapi karena istrinya meninggal dunia.Bersamanya,kamu akan jauh lebih berbahagia dari pada saat kamu bersama Rizqaan." jelas Bapaknya itu antusias sekali.

"Kebahagian bagiku bukan karena harta atau kedudukan Pak,yg terpenting dalam rumah tangga adalah cinta dan kepercayaan.Aku tidak mencintai Budiman dan aku juga merasa tak mungkin mempercayainya.""Kenapa? Karena dia bukan Ustadz ?"

"Bukan soal Ustadz atau bukan tapi aku melihat agamanya selama disini saja aku tak pernah melihatnya meminta izin shalat kadang ia duduk disini dari siang hingga ashar aku tak melihatnya shalat kalau shalat sebagai tiang agama saja sudah ia lalaikan apalagi ajaran agama yg lain?"

"Kamu memang keras kepala anakku." tukas Bapaknya kesal."Bukan,bukan itu aku hanya ingin kita selamat dunia akherat.""Jadi bagaimana urusannya?" Bapaknya mendesak."Begini,izinkan aku berbicara dg Budiman dan juga Ayahnya."


"Kamu mau menerima lamarannya?""Pokoknya,izinkan aku berbicara dg mereka.""Kamu jangan membuat Bapakmu malu dihadapan mereka." ancam Bapaknya.

"Tidak,itu tidak akan terjadi percayalah,Pak."

Akhirnya Halimah diperkenankan menemui kedua tamu mereka itu ia meminta kepada mereka berbicara tanpa didengar kedua orangtuanya.Akhirnya mereka memilih berbicara diteras disitu mereka terlibat obrolan yg tidak panjang tapi sangat serius,tidak terdengar ada kemarahan atau kekesalan yg terucap dari mulut Budiman atau Bapaknya tapi juga tidak terdengar keceriaan.Mereka berbicara seperti sedang melakukan perundingan serius bahkan lebih serius dari perundingan bisnis antara Budiman dg Bapaknya tak sampai 10 menit Halimah kembali.Budiman dan Bapaknya juga kembali masuk keruang tamu mereka menemui kedua orangtua Halimah yg menunggu dg harap2 cemas.

Saat itu wajah Budiman terlihat pucat demikian juga wajah Bapaknya tapi mereka tidak terlihat kesal atau marah."Begini Pak." Budiman memulai berbicara."Disini,kami hanya ingin memberikan ketegasan saja bahwa kami tidak jadi melamar putri Bapak."

"Lho,kenapa begitu? Memangnya ada apa?" Bapak Halimah bertanya,ia terheran-heran kaget dan merasa terpukul dg perubahan itu.

"Soal alasannya,nanti Bapak tanya saja sama putri Bapak yg jelas kami tidak jadi melamar putri Bapak bukan kami marah,kesal,kecewa atau karna saya tak menyukainya.Bukan,bukan karena itu kami harap kejadian ini tidak merenggangkan hubungan diantara kita.Hubungan bisnis antara saya dg Bapak juga tidak perlu dibatalkan namun soal pernikahan saya mohon maaf saya tidak bisa menjadi menantu Bapak.Sekali lagi,kami mohon maaf..."

Semua ucapan itu didengar dan simak oleh Bapak Halimah dg hati terbakar.Ia berusaha menahan emosinya yg menyala-nyala ia begitu berharap akan bisa memiliki menantu yg super kaya seperti Budiman namun harapannya itu begitu aja amblas karena alasan yg ia sendiri belum mengetahuinya.Apapun alasan itu,sungguh tidak pantas.


Saat tamu memohon pamit dan pergi meninggalkan rumah mereka,Halimah masuk kamar.Bapak dan Ibunya menyusulnya ke dalam kamar mereka bertanya kepada Halimah tentang alasan kenapa lamaran mereka bisa digagalkan dan kenapa mereka tidak terlihat marah atas penolakan Halimah.Dengan sabar,Halimah menceritakan apa yg menjadi alasannya secara jelas,gamblang dan detil. Kedua orangtuanya hanya mendengarkannya dg wajah pucat pasi.

Bersambung....

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 20


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 20

~ Rintihan Nabhaan ~

Ia hanya anak berusia 8 tahun lebih belum genap 9 tahun tentunya ia bukan sosok orang yg sangat mengerti seluk beluk kehidupan ia hanya bocah lugu dg segala alam kekanak-kanakan yg masih akrab dg jiwanya namun peristiwa menggetirkan itu tetap saja membekas dan memberi pengaruh hebat dalam jiwanya.Insting kemanusiaannya dapat menangkap lebih banyak dari sekadar yg dapat dipahami oleh nalarnya.

Berbeda dg perceraian yg meledak-ledak ditengah amuk amarah dan kebencian.Wujud perceraian semacam itu amat mudah memahami oleh anak2 yg menyaksikannya dg mata kepala mereka sendiri.Perceraian antara Rizqbn dg Halimah hanya seumpama sandiwara singkat yg dimata sang anak masih tak jelas wujudnya kejadian itu terlalu teduh untuk disebut sebagai perceraian namun insting manusiawinya dapat menangkap sinyal2 kedukaan dan kepedihan dibalik peristiwa itu terlebih-lebih saat Nabhaan sudah merasakan bagaimana berpisah sekian lama dari Ayahnya selama ini Ayahnya tak pernah pergi jauh bahkan menginap dirumah orang lain pun nyaris tak pernah kini berhari-hari,berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ia tak melihat wajah Ayahnya.Hatinya sudah semenjak lama bertanya-tanya.

Namun rayuan dan bujukan kakek dan neneknya yg mengajaknya bermain-main terkadang membuatnya lupa menanyakan hal itu.Lupa bukan berarti ia tak ingat sama sekali dilubuk hatinya yg paling mendalam ia mulai merintih.

"Ummi,Abuya pergi kemana? Kenapa tidak pulang2." begitu Nabhaan akhir bertanya suatu pagi."Abuya sedang bekerja keras untuk memperbaiki rumah kita bila sudah selesai,dia akan pulang menjemput kita." ungkap Halimah dg hati pedg dg sejumput rasa menggugah kedukaan hatinya.


"Kenapa kita tidak diajak melihat-lihat rumah kita yg sedang dibangun ummi?"

"Wah,tidak bisa.Itu pekerjaan orang dewasa,sangat berbahaya kalau kita ikut-ikutan disana nanti kita bisa tertimpa batu bata atau menginjak paku yg berserakan""Tapi Ummi,kenapa Abuya lama sekali tidak membawa kita jalan2 dg mobil kita? Aku rindu ingin melihat pemandangan indah dipegunungan."

"Lho,mobil kita kan sudah rusak? Nanti kita beli mobil baru lagi ya? Berdoalah banyak2 kepada Allah nanti kita bisa berjalan-jalan bersama lagi.Lagi pula kakek kan sudah mengajak kita berjalan-jalan minggu kemarin?"

"Aku lebih suka berjalan-jalan bersama Abuya,Ummi dan nenek dirumah." rengek Nabhaan."Ya,Sabar dulu makanya kamu banyak2 berdoa."

"Aku sering berdoa setiap malam Ummi.Aku sering berdoa bisa punya rumah bagus lagi.Bisa punya mobil bagus lagi dan...bisa sekolah dan belajar bersama-sama teman2 ku dulu.sekolah disini tidak enak..."

Halimah terenyuh mendengar celotehan putranya itu.Setiap saat ia berusaha menepis gemuruh rasa sedih yg kerap melanda hatinya namun bila sudah berhadapan dg kata2 putranya yg begitu polos,jujur dan seadanya.Ia sering larut dalam kesedihan.

Betul,sabda baginda Nabi kita "Sesungguhnya anak itu menyebabkan seorang menjadi pelit penakut dan senantiasa berhasil."(Diriwayatkan oleh Al-Hakim,Baihaqi dari hadits Ya'la bin bin Munabbih Ats-Tsaqafi)

"Nabhaan sayang,kalau kamu berdoa jangan lupa meminta doa agar kita masuk surga bersama-sama jangan hanya meminta kekayaan dunia saja."


"Surga itu seperti apa sih Ummi? Apa lebih indah dari pemandangan dipuncak gunung yg sering kita lihat?" Nabhaan bertanya serius."Surga itu puncak dari segala keindahan anakku sayang,tak ada keindahan yg seperti surga.Keindahan surga itu belum pernah kita lihat,belum pernah kita dengar bahkan kita bayangkan pun tidak akan bisa,indah dan indah sekali siapa yg sudah masuk kedalamnya tak akan mau keluar selama-lamanya?"

"Wah,enak sekali Ummi.Aku ingin segera masuk surga.." tukas Nabhaan senang."Tidak bisa begitu anakku sayang,kalau masuk surga kamu harus banyak beribadah,harus rajin shalat,rajin membaca Al Qur'an dan jangan lupa berbuat baik kepada orang tuamu kamu harus jadi anak yg baik dan shalih."

Halimah berkata teduh,jiwanya seolah-olah melambung dibawa kata2 nya sendiri ia bahkan ikut larut dalam harapan dan kerinduan.Ia ikut merasakan kerinduan yg melambai-lambai terhadap surga bila demikian segala kepenatan jiwanya terasa pupus nyaris tak tersisa.

"Ya Tuhanku,berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku kedalam orang2 yg shalih,dan jadikanlah aku buah tutur yg baik bagi orang2 (yg datang) kemudian,

dan jadikanlah aku termasuk orang2 yg mempusakai surga yg penuh kenikmatan,

dan ampunilah bapakku,karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang2 yg sesat,

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) dihari harta dan anak laki2 tidak berguna,kecuali orang2 yg menghadap Allah dg hati yg bersih..."(ASY-SYU'ARAA:83-89)

Bersambung...

N0VEL SANDIWARA LANGIT BAG 19


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 19

~ Catatan-Catatan Kelam ~

Berbeda dg Rizqaan yg berusaha menata hatinya,menahan gejolak jiwanya dg banyak pekerjaan.Halimah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca dan mengurung diri dalam kamar bersama putranya Nabhaan.

Setelah hampir setengah bulan akhirnya tahu faktor apa yg menyebabkan orang tuanya terutama Bapaknya begitu gigih memperjuangkan perceraiannya dg suaminya Rizqaan.

Beberapa bulan sebelum kejadian naas yg menimpa dirinya sekeluarga rupanya ada salah seorang rekan bisnis Bapaknya datang kerumah orang tuanya.Ia seorang duda tanpa anak istrinya belum lama meninggal dunia akibat penyakit kanker yg dideritanya lebih dari 2 tahun,ia pria berusia 35 tahun masih cukup muda tetapi ia sangat kaya bahkan tergolong salah satu konglomerat terpandang di tanah air ini bukan hanya kaya ternyata ia juga putra dari salah seorang petinggi pemerintahan saat ini.

Ia kadang untuk bekerjasama dg Bapaknya sebagai investor dalam sebuah usaha baru yg baru dirintis oleh Bapak.Dalam pertemuan itu,ia mengeluhkan kesendiriannya ia ingin mencari istri lagi.Saat itulah secara tiba2 Asyraf kakaknya muncul ia memberikan masukan yg sebenarnya juga mengejutkan kedua orangtuanya.Ia mengatakan bahwa usaha Rizqaan tak akan mungkin bisa bertahan bila dikembalikan pada perjanjian apabila 10 tahun berlalu ternyata Halimah tidak hidup secara berkecukupan maka suaminya wajib menceraikannya.

Pendapatnya itu dibantah oleh orangtuanya Bapak dan Ibunya.Mereka berpandangan bahwa kehidupan Halimah saat ini sudah layak.Meski tidak terlalu kaya tapi boleh dibilang berkecukupan tapi Asyraf seperti memberi sebuah harapan bahwa segalanya belum berakhir beberapa bulan lagi pada hari 'H' baru bisa diketahui keputusannya karena saat itulah akan dilihat apakah Halimah masih hidup berkecukupan atau tidak.


Harapan yg diberikan oleh Asyraf sungguh melegakan hati pemuda itu ia sudah mendengar tentang kecantikan Halimah selain itu ia juga mendengar bahwa Halimah adalah seorang wanita yg shalihah memakai jilbab dan taat kepada suami betapa ingin dirinya mempersunting wanita seperti itu wanita yg akan rela bersikap patuh kepada suaminya akan selalu bisa menjaga dirinya.

Namun pertemuan itu berakhir dg kering tanpa keputusan apapun selain keputusan soal kerjasama antara Bapaknya dg pemuda kaya itu.

***

Saat Bapaknya mendengar soal musibah yg menimpa putrinya Halimah bersama keluarganya dan saat tahu bahwa putrinya selamat sang Bapak seperti bersorak kegirangan bukan bergembira semata-mata putrinya selamat tapi karena bila perjanjian itu berakhir pada perceraian putrinya Halimah maka ia bisa menikahkan putrinya itu dg pemuda yg kaya tadi betapa bahagianya andai ia memiliki menantu sekaya pemuda tersebut dan alangkah bahagianya bila ia berbesan dg salah seorang pejabat sekaligus petinggi tanah air ini ia akan sangat berbahagia dan itulah yg diharapkannya selama ini.

Maka,begitu mendengar berita duka itu Bapaknya langsung mengajak ibunya kerumah sakit selain menengok putri dan cucunya ia ingin langsung memberikan kartu mati kepada Rizqaan menuntutnya agar menceraikan istrinya saat itu juga maka terjadilah apa yg sudah terjadi.

Halimah mendengar cerita itu mula pertama dari Ibunya selanjutnya ia juga mendengar obrolan kakaknya Asyraf dg Bapaknya beberapa kali.Kesemuanya berkutat seputar kapan Halimah akan dinikahkan dg pria yg ternyata bermama Budiman tersebut bahkan Budiman sendiri beberapa kaki datang kerumah dan sempat berpapasan dg Halimah itu semakin mengukuhkan tekad Budiman menikahi Halimah secepatnya.


Bapaknya menjanjikan setelah 3 bulan setelah masa iddah Halimah padahal masa iddah bisa berlanjut hingga Halimah melahirkan karena ia kini sedang hamil.

Saat perceraian kemarin,ia dan Rizqaan tidak teringat akan kondisi Halimah yg sedang hamil.Menceraikan istri saat sedang hamil baginya sungguh tidak pantas tapi mana sempat ia memikirkan hal itu.Saat itu,ia sungguh panik begitu juga istrinya.

Semula Halimah kurang memedulikan soal keinginan Budiman melamarnya tapi setelah beberapa kali Bapaknya mendesaknya untuk mau menerima pinangan Budiman nanti Halimah menjadi merasa tersudutkan ia tentu saja tak bisa menerima pinangan itu begitu saja.

Pertama dan yg paling utama bahwa ia masih belum mampu melupakan Rizqbn mantan suaminya,ia masih sulit menerima pria lain sebagai suaminya.

Kedua,ia juga belum mengerti soal agama dan akhlak Budiman namun yg ia tahu Budiman tak memiliki latar belakang keluarga yg taat beragama ia tahu dari sosok pejabat yg merupakan ayah kandung dari pria tersebut.Budiman juga tak memiliki latar belakang pendidikan agama atau minimal sebagai pemuda yg aktif dibidang keagamaan,aktif menghadiri pemgajian dan kajian2 ilmiah yg bermutu,ia hanya dikenal sebagai bisnisman pewaris perusahaan Ayahnya itu tidak lebih dari itu.

Hari demi hari berlalu,bulan demi bulan berganti akhirnya berakhirlah masa iddah Halimah.Saat itu desakan demi desakan semakin kuat dari pihak Bapaknya.Ibunya bahkan sesekali juga membujuknya agar menuruti keinginan Bapaknya karena ia yakin setelah menikah Halimah akan berusaha mencintai Budiman seperti dahulu Halimah belajar mencintai Rizqaan sebelum menikah dan banyaknya kesamaan dalam soal keyakinan prinsip dan idealisme antara dirinya dg Rizqaan telah membuat Halimah jatuh cinta kepada Rizqaan.Menikah adalah media dimana rasa cintanya itu dilebur menjadi sebuah ketaatan,kepatuhan dan kesetiaan itu mungkin dilakukan oleh Halimah terhadap seorang pria seperti Budiman.


Akhirnya,Halimah hanya mampu pasrah dan menyerahkan urusannya kepada Allah.

"Ya Allah,aku berserah diri kepada Mu,aku menyerahkan segala urusanku kepada Mu.

Aku hadapkan wajahku kepada Mu dan kusandarkan punggungku kepada Mu (memulai tidur dg pertolongan Mu),dalam suka dan senang.

Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari siska Mu melainkan kepada Mu.

Aku beriman kepada kitab Mu yg Engkau turunkan dan Nabi Mu yg Engkau utus."(Rasulullah bersabda kepada orang yg mengucapkan dzikir itu,"Bila engkau meninggal dunia maka engkau meninggal dalam fitrah"Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Ditengah keheningan malam,sering kali Halimah berdoa,"Ya Rabbi,pertemukanlah diriku dg orang yg layak menjadi suamiku.Dimana aku bisa mati dg keridhaanya,setelah Engkau meridhaiku.

Ya Rabbi,hindarilah aku dari menikahi pria yg tak bisa menjadi pendampingku diakhirat.Ciptakanlah jurang yg memisahkan tubuhku ini dari sentuhan tangannya.

Ya Rabbi,tunjukkanlah kekuasaan Mu.Perlihatkanlah kecintaan Mu.Jadikanlah kami sebagai saksi atas keagungan Mu......"

Bersambung....

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 18


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 18

~ Lembaran Baru Kehidupan Halimah ~

Tak terbayangkan,kepedihan hati yg dirasakan oleh Halimah wanita yg lugu dan santun itu,harus mengalami kedukaan yg mengharu biru saya sampai sulit menceritakan yg tersisa dari perjalanan hidup wanita ini.Hati saya turut bergejolak.Jujur,bahkan teraduk-aduk,saat Rizqaan menuturkan apa yg dialami Halimah.

Sepanjang perjalanan kerumah didalam mobil Halimah terus menangis sang Bapak hanya diam seribu bahasa bisa jadi ia tertumpu pada 2 perasaan sekaligus sedih dan puas berbeda dg kepedihan dan kepuasan yg dirasakan oleh Rizqaan misalnya.Kesedihannya adalah hal yg sangat manusiawi dan kepuasannya muncul karena ia mampu bersikap teguh pada kebenaran janji seorang muslim layaknya sumpah seorang pendekar dalam dunia persilatan pantang dijilat kembali.

Sementara rasa puas yg dirasakan Bapak Halimah berakar pada keangkuhannya,pada superioritas dirinya,pada perasaan bahwa ia berhasil memecundangi Rizqaan sementara kesedihannya itu mirip dg aura penyesalan yg terlambat karena ia punya hak dan kemampuan untuk membuat kesedihan itu tak perlu terjadi tapi ia tidak melakukannya.Ia bersedih karena akhirnya harus menyaksikan tangisan Halimah yg menyayat hati sifat kebapaannya membuat ia harus mengakui,bahwa putrinya itu kini betul2 tersiksa.

Kesedihan itu diekspresikan dg diam sementara sang Ibu sibuk menenangkan Halimah.Rasa pedih dihati sang Ibu membuatnya juga gagap dalam memberikan kata2 penenang apalagi saat dilihat bahwa putrinya pulang dg hanya membawa selembar baju yg kini dipakainya bahkan lebih merana dari saat pertama kali ia memasuki kehidupan rumah tangganya.Ia tahu bahwa itu bukanlah kesalahan Halimah atau Rizqaan sekalipun itu sebuah musibah yg siapa pun bisa saja mengalami.


"Bersabarlah,nak.Tabahkan hatimu." ujar sang Ibu"Aku,Insya Allah bisa bersabar.Aku menangis karena sudah sewajarnya aku menangis tapi aku tidak yakin bahwa Ibu dan Bapak akan mampu bersabar atas kepedihan2 yg akan kita rasakan bersama.""Maksudmu?" Ibunya bertanya heran.

"Bu,setiap kesalahan dalam langkah kita pasti akan dibayar dg penyesalan.Penyesalan itu tak akan kita rasakan diakhirat tapi juga didunia ini,ibarat perampok yg berhasil membunuh dan menjarah harta korbannya hingga ratusan juta rupiah lalu menjadi kaya hingga ia mati bisahkan Ibu bayangkan bagaimana penyesalan yg ada dalam dadanya? Kalau penyesalan itu tak ada sama sekali berarti ia tak berimam,kalau ia beriman ia akan hidup dalam neraka dunia...""Apa kami kamu anggap perampok?"

"Bukan itu maksudku kalau langkah yg kaliam ambil ini salah dan dosa dimata Allah maka kalian berdua akan merasakan penyesalan seperti yg dialami oleh muslim yg hidup kaya raya karena merampok itu."Ayahnya menoleh kebelakang."Kamu mengancam kami nak?" tanyanya."Aku tak mungkin mengancam apalah kekuatanku ini sebagai putri yg harus menurut apa yg dikatakan kedua orangtua tapi ancaman itu dari Allah.

Dalam Al Qur'an,Allah berfirman,"Hai orang2 beriman,janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat2 yg dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui....(AL-ANFAL:27)

"Apakah tindakan kami itu kamu anggap mengkhianati Allah dan Rasul Nya? Kami hanya mematuhi perjanjian kami dg Rizqbn dari sebelum pernikahanmu dg nya.""Benar,Bapak memang hanya mematuhi perjanjian itu tapi perjanjian itu Bapak ajukan pada satu hal yg berakibat terjadinya pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul Nya."Halimah berkata dg pelan namun tegas dg tangisan yg masih terdengar pelan beberapa kali,ia berusaha menahannya sebisa mungkin.


"Apa bentuk pengkhianatan itu?" tanya sang Ayah."Pertama,Ayah sudah membuatku menghentikanku kepada suami,menghentikan baktiku kepadanya,menghentikan kebiasaan yg selalu melayani dan menghormatinya.Padahal Nabi bersabda,"...Yang senantiasa menaatinya (suami) bila diperintah.Dan selalu menjaga dirinya dan harta suaminya,bila ditinggal..."(Diriwayatkan oleh Ahmad sanadnya hasan dalam bab an-nikah)

kedua,Bapak telah memaksa Rizqaan untuk mengkhianati amanah yg diberikan oleh Allah kepadanya yaitu aku dan anakku Nabhaan."Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga istri2 kalian karena kalian merekrut mereka dg amanah Allah dan kalian menikmati kemaluan mereka dg kalimat Allah."(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan juga Muslim dalam shahihnya)

ketiga,Bapak telah mengabaikan perintah sekaligus peringatan Allah"Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yg kalian sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia dg putri kalian.Bila tidak maka pasti terjadi bencana dan kerusakan besar dimuka bumi..."(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)

Bapak tahu bahwa Rizqaan bisa diandalkan agama dan akhlaknya Bapak lihat betapa karena kebersihan akhlaknya ia mampu menceraikanku dg segala keterpaksaan dan kedukaan kalau Bapak membiarkan perceraian kami terjadi itu sama artinya Bapak tidak mengizinkan pernikahanku dg orang yg baik agama dan akhlaknya maka aku berani memastikan bahwa bencana dan kerusakan besar itu pasti akan terjadi dan Bapak akan menjadi saksinya.

Keempat,Bapak telah merebut kesempatanku mencari surga dg menaati suamiku.Nabi bersabda,"Wanita manapun yg meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya,ia pasti masuk surga."(Dari Ibnu Majah dan Sunan At-Tirmidzi)


Para ulama telah menjelaskan bahwa yg dimaksud keridhoan disini adalah keridhoan suami yg shalih terhadap istri yg shalihah.

Dengan semua alasan ini dan masih banyak yg lain aku bisa menegaskan bahwa kalian berdua telah mengkhianati Allah dan Rasul Nya..."

Kedua orang tua Halimah terdiam mereka tak mampu menjawab semua sanggahan yg dilontarkan putri mereka Halimah,mereka sebelumnya tidak menyadari bahwa kini mereka berhadapan dg putri mereka yg selama 10 tahun telah mendapatkan didikan dan binaan seorang lelaki shalih yg cukup paham tentang agama.Halimah sekarang ternyata bukan lagi Halimah dulu yg hanya mengerti secuil ajaran agama,ia kini sudah jauh matang bukan wanita yg hanya bisa diceramahi,tapi juga mampu mengeluarkan pendapat selama itu ia pandang sebagai sebuah kebenaran.

Selanjutnya hanya isak tangis Halimah yg terdengar makin lama makin berkurang hingga akhirnya terhenti sama sekali selebihnya hanya keheningan.

Bersambung..