~::* SANDIWARA LANGIT *::~
BY:ABU UMAR BASYIER
BAG 16
~ Perjumpaan Saya Dengan Rizqaan ~
Pagi itu Rizqaan menemui saya.Sudah satu pekan ini,ia tak muncul dalam berbagai pengajian yg saya berikan biasanya minimal 2 kali sepekan ia datang.Hari ahad pagi dan rabu sore selebihnya ia terkadang hadir terkadang tidak karena ia juga punya jadwal mengisi pengajian ke berbagai tempat.Saya sudah mengizinkannya menyampaikan materi2 pengajian sesuai dg kapasitas ilmunya bahkan ia sudah mulai mengajarkan bahasa arab kepada kalangan remaja disekitar rumahnya karena itu saya turut berbahagia.Dugaan saya terhadap anak muda bernama Rizqaan semenjak belasan tahun lalu kini sudah terbukti benar,ia mampu menjadi seorang pengajar,seorang juru dakwah meski ia tak pernah belajar dipondok pesantren ia sekarang bahkan sudah dikenal sebagai Ustadz.Ustadz Rizqaan.
"Assalamu 'alaikum,Ustadz." sapa saya saat berjumpa dg nya pagi itu."Wah,gak enak nih dipanggil Ustadz nanti saya bisa besar kepala." Rizqaan menanggapi sapaan saya dg senyum ringan.
"Sudah,itu anugerah kamu sekarang sudah menjadi Ustadz panggilan itu adalah pengakuan orang lain terhadap dirimu itu salah satu kenikmatan surga yg disegerakan didunia ini."Iya,saya mengerti Ustadz tapi saya tak terbiasa dg sapaan itu kalau yg menyapanya orang yg sekelas Ustadz."
Selama beberapa saat kami mengobrol,kami berbicara banyak soal dakwah seperti yg biasa kami lakukan setiap kali bertemu sesekali menyinggung soal politik negeri ini Rizqaan sangat tangkas menanggapi semua pendapat dan pandangan saya terkadang ia setuju dan ikut andil memberikan masukan2,ide atau gagasannya tapi terkadang ia kurang setuju ia lalu menjelaskan sudut pandangnya saya sama sekali tak tersinggung bila suatu kali Rizqaan menolak sudut pandang saya.Pemuda secerdas Rizqaan memang tak mudah dijejali doktrin kaku tak mudah menerima pendapat yg menurutnya tidak disertai dalil dan alasan2 yg pas bila sudah demikian kami biasanya sering terlibat perdebatan panjang meski saya lebih berpengalaman dalam berbagai hal termasuk soal kehidupan sehari-hari namun tidak jarang saya takluk dibuatnya alasannya yg orisinil yg didukung nash dan dalil plus logika sehat dan pengalaman hidup terkadang mampu saya bantah.Namun juga jarang ia sendirin yg mengakui kesalahannya bila demikian ia biasanya meralat ucapannya itu yg saya suka dari Rizqaan,ia teguh pada pendirian tapi siap mengoreksi diri bila terbukti salah dan keliru bersikap atau pandangan.
Setelah cukup lama mengobrol saya jadi teringat keluarganya."Bagaimana kabar istri dan anakmu,Rizqaan?"
Rizqaan tersentak mendengar pertanyaan saya,agak aneh.Biasanya bila ditanya tentang keluarganya ia akan menjawab dg tersenyum meskipun istri atau anaknya sedang sakit,sosok wajahnya yg tiba2 berubah sendu membuat saya curiga.
"Ada apa Rizqaan? Kenapa tidak menjawab pertanyaan saya?""Saya..saya...gak papa Ustadz..""Tidak,pasti ada apa2.Coba,ceritakan apa yg terjadi pada dirimu." saya sengaja mendesaknya,saya melihat kejanggalan dalam sikapnya saat saya ajukan pertanyaan itu."Ustadz masih ingat,kesepakatan dalam perjanjian saat akad nikah saya dulu?"
"Ya,saya ingat.Soal tantangan itu lalu kenapa? Kondisi ekonomi kamu sekarang kan sudah boleh dibilang mapan jadi tidak ada masalah.""Justru itu,saya sedang dalam masalah." sela Rizqaan
"Maksudnya? Saya gak mengerti sama sekali.""Saya memang belum sempat memberitahu Ustadz,tapi saya mohon Ustadz tidak kaget mendengarnya.Sekarang saya sudah bercerai dg Halimah..""Bercerai? Apa pula ini? Bukankah dalam perjanjian itu kamu harus menceraikan istrimu kalau memang kondisi ekonomimu tidak beres sekarang kamu sudah cukup kaya.Apa masalahnya?""Saya sudah bangkrut Ustadz."
"Bangkrut? Secepat itukah?" saya bertanya dg nada sangat penasaran,saya tidak bisa menerima realita bahwa Rizqaan sudah bercerai dg istrinya apalagi dg cara yg tiba2 seperti ini."2 hari sebelum penentuan,sebelum tepat 10 tahun saya menikah dg Halimah kami mengalami musibah rumah,pabrik dan seluruh harta yg saya miliki dirumah,ludes terbakar?"
"La haula walaa quwwata illa billah." saya tak mampu berkata-kata.Rizqaan lalu menceritakan semua kejadian itu mulai dari saat terjadinya kebakaran saat kematian Bapaknya saat mereka kerumah sakit membawa ibu Rizqaan yg terluka parah juga saat paling menyedihkan dalam hidup Rizqaan ketika ia dg terpaksa mengucapkan lafal talaq menceraikan istrinya di dekat kedua orang mertuanya dirumah sakit.Disaa mereka masih dirundung kesedihan akibat bencana menimpa mereka.
"Ya Allah,saya ikut berduka atas semua iu.Menyesal,kenapa saya dulu justru mendorongmu untuk menyetujui kesepakatan itu...""Tidak masalah Ustadz,kesepakatan itu memang satu2 nya pilihan kita saat itu saya tidak menyalahkan Ustadz juga tak menyalahkan diri saya sendiri semua itu memang sudah takdir.QADDARALLAHU WA MAA SYAA-A FA'AL ("Segalanya sudah takdir Allah,bila Allah menghendaki sesuatu pasti sesuatu itu terjadi" ini ungkapan yg disunnahkan untuk diucapkan oleh orang yg menceritakan musibah yg menimpanya kepada orang lain)
"Ya.Qaddarallahu wa maa syaa-a fa'al.Tabahkan hatimu anak muda,perkhusyulah shalatmu karena Allah berfirman,"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yg demikian itu sungguh berat,kecuali bagi orang2 yg khusyu,(yaitu) orang2 yg meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb Nya dan bahwa mereka akan kembali kepada Nya."(AL-BAQARAH:45-46)
"Tabahkanlah hatimu karena Allah hanya akan menguji manusia sebatas kemampuannya menerima cobaan setiap bulir cobaan adalah kesempatan bagi dirimu untuk bertobat dan memohon ampun atas segala dosamu..."
"Tahukah kamu anak muda,apa sesungguhnya kesabaran itu?""Imam Al-Junaid pernah mengatakan "MENEGUK AIR PAHIT TANPA MERINGIS KEPAHITAN."
Yang kamu rasakan sekarang ini adalah kepahitan aku tahu,betapa pedihnya hatimu sekarang ini betapa dukanya jiwamu saat harus menerima realita perceraian diantara kalian.Saat kalian sendiri tak sedikitpun menginginkan perceraian itu tapi reguklah kepahitan itu bila kamu pasrah meneguknya ia akan menjadi manis jangan sampai kesedihan ini membuatmu berbuat salah,melanggar aturan Allah.
DZUN AN-NUUN AL-MISRI pernah menjelaskan "Sabar adalah menjauhkan diri dari segala yg menyimpang,tenang saat menyantap makanan yg susah ditelan mampu menjadi kaya hati dan bila terpaksa justru mampu menikmati kemiskinan dg lapang dada."
"Rizqaan,kamu telah merasakan kekayaan hidup secara materi kini cobalah merasakan kekayaan sesungguhnya.kekayaan hati dg kekayaan yg satu ini kamu bisa menjalani hidup secara jauh lebih berbahagia saya tidak mengatakan bahwa selama ini hatimu miskin.Tidak.Tapi saya ingin menegaskan bahwa kekayaan hati itu perlu diuji dan kamu anak muda,telah mendapatkan salah satu dari ujian terberatnya.Kembali keposisimu sebagai orang yg nyaris tak punya apa2 padahal sebelumnya kamu cukup kaya disini akan terbukti apakah kamu secara hati memang kaya,atau tidak..."
Selama beberapa saat kami kembali berbincang-bincang kali ini saya yg lebih banyak berbicara saya ingin memberi nasehat2 yg paling berarti buat dirinya karena saya yakin yg paling dibutuhkan oleh Rizqaan saat itu adalah motivasi.Motivasi untuk tetap maju,tetap berusaha,tetap nyaman menghadapi segala persoalan hidup karena tak seorang pun diantara kita mengerti apa yg akan terjadi esok hari.Kaya dan miskin,sehat dan sakit,kuat dan lemah,terkenal atau diabaikan banyak orang bahkan hidup atau mati kesemuanya adalah rahasia ilahi kita hanya berkewajiban menjalani.Berdoa dan berusaha sepenuh hati,suratan takdir itu akan terus saja bergulir bersama perjalanan hidup ini apa yg terjadi pada Rizqaan dan istrinya bisa terjadi pada diri saya atau diri anda tak seorangpun diantara kita mampu menghindarinya kalau Allah sudah menghendakinya.
Sabda Nabi seperti berbisik di hati kita "Kaum muslimin sekalian! Siapapun diantara umat manusia ini atau dari kalangan mukminin secara khusus yg tertimpa musibah,hendaknya ia merasa beruntung karena ia belum merasakan musibah kematianku.Ia baru merasakan musibah2 lainnya karena tak seorang pun dari umatku yg akan tertimpa musibah yg lebih besar dari musibah kematianku ini."(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bab riwayat tentang kesabaran menghadapi musibad.Dalam sanadnya terdapat Musa bin Ubaidah Ar-Rubadzi dan ia perawi lemah)
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar