Selasa, 18 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 9

KARYA SARAH AISHA

BAG 9

Hari itu tiba. Setelah Dani meminta cuti dari kantornya dan Nuning juga sudah menitipkan Fitri pada orang tuanya, mereka segera berangkat menuju Solo dengan penerbangan pagi menggunakan pesawat Air Lines, dengan sebelumnya sudah mengabarkan pada Novri kalau mereka akan berkunjung. Baiknya lagi, pada saat itu memang kebetulan True Voice sedang tidak ada kegiatan. Dengan bekal tekad dan sebuah harapan agar mereka bisa segera bertemu Firman, mereka membelah angkasa luas menuju Solo.


Sesampainya di Bandara Adi Sucipto, Dani segera menghubungi Novri.Alhamdulillah diangkat. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Dani tahu kemana mereka harus melangkahkan kakinya itu.Dengan mengikuti petunjuk yang diberikan Novri tadi, akhirnya Dani dan Nuning sampai juga di basecamp True Voice tepat sepuluh menit sebelum azan zuhur berkumandang. Mereka disambut dengan baik oleh Novri dan orang-orang yang ada pada saat itu. Namun sayangnya, True Voice belum juga datang.


Setelah shalat Zuhur dan makan siang, Dani dan Nuning sedikit berbincang-bincang dengan Novri dan beberapa orang lainnya yang ada disitu. Dani menceritakan semua permasalahannya pada mereka yang akhirnya mengharuskan mereka untuk jauh-jauh datang ke Solo. Novri mengatakan bahwa dia sudah menghubungi True Voice agar segera datang. Dan Alhamdulillah mereka tengah berada di perjalanan.


Nuning sudah mulai gelisah. Sementara Dani masih terus saja berbincang dengan Novri perihal sepak terjang True Voice di kancah pernasyidan.Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya True Voice itu datang juga. Dani dan Nuning segera berdiri menyambut mereka. Satu per satu Nuning menatap wajah-wajah personel True Voice itu. Dan, satu wajah yang melintasi penglihatannya tiba-tiba saja membuat hati Nuning menjadi tak menentu. Dialah Firman. Laki-laki itu hanya tersenyum pada Dani dan Nuning tanpa pernah dia tahu kalau sebenarnya dialah yang menjadi target pencarian Dani dan Nuning.


True Voice segera duduk bersama dengan Dani, Nuning, dan Novri serta manajer mereka yang bernama Andi. Firman dan kawan-kawannya masih menganggap bahwa Dani dan Nuning ini adalah salah satu fans mereka yang datang berkunjung. Maka mereka pun menyikapinya sama seperti fans-fans mereka lainnya.Namun perasaan itu tak berlangsung lama. Setelah Novri memberitahukan perihal kedatangan Dani dan Nuning ke tempat mereka pada Andi, Andipun tidak tahu harus berkata apa. Awalnya dia juga sangat terkejut. Kenapa kejadiannya persis seperti Maria pada Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy?.Andi berpikir sejenak. Setelah itu dia mengambil keputusan agar dia membicarakan hal tersebut pada Dani dan Nuning ini adalah salah satu fans mereka yang datang berkunjung. Maka mereka pun menyikapinya sama seperti fans-fans mereka lainnya.


Namun perasaan itu tak berlangsung lama. Setelah Novri memberitahukan perihal kedatangan Dani dan Nuning ke tempat mereka pada Andi, Andipun tidak tahu harus berkata apa. Awalnya dia juga sangat terkejut. Kέ♌āPå kejadiannya persis seperti Maria pada Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy,Andi berpikir sejenak. Setelah itu dia mengambil keputusan agar dia membicarakan hal tersebut pada Dani dan Nuning terlebih dahulu agar jelas detail permasalahannya. Dani dan Nuning pun menurutinya. Mereka berbincang sebentar lalu kembali menemui Firman dan kawan-kawannya.


Perbincangan dimulai oleh Andi yang membuka pertemuan itu. Biasanya Andi tak pernah seperti itu pada fans-fans True Voice yang datang ke basecamp TV. Tapi kali ini berbeda. Ada keanehan yang ditangkap oleh Firman dan kawan-kawannya selama Andi berbicara.Sementara Dani dan Nuning hanya bisa diam sambil mendengar Andi berbicara.


Pada akhirnya Andi masuk ke permasalahan inti. Dia mengatakan semua yang tadi dia dengar dari Novri, juga dari Dani dan Nuning. Semua yang mendengar hal itu terkejut. Terlebih lagi Firman yang tiba-tiba saja terhenyak dan tak bisa mengatakan apa-apa setelah Andi mengetahui hal tersebut.


"Gimana pendapatmu Firman," Tanya Andi mengejutkan keterhenyakan Firman. Firman tak langsung bisa menjawab pertanyaan itu. Dia masih shock atas berita yang baru saja di dengarnya dan masih belum bisa menanggapi hal tersebut. Dia meminta waktu sejenak untuk menyendiri dan berpikir. Ya, memikirkan sebuah permasalah yang sangat baru bagi diri dan hidupnya.


* * *


Sudah tiga hari Dani dan Nuning berada di Solo. Sudah tiga hari pula mereka menanti jawaban dari Firman. Pagi ini Dani meminta Andi agar dia bisa dipertemukan oleh Firman di basecamp Truevoice. Andi bersedia mempertemukan mereka berdua.Semalam, Andi menghubungi Firman dan alhamdulillah Firman berkenan untuk bertemu dengan Dani. Pagi ini, Dani dan Nuning berniat untuk bertemu dengan Firman sebelum mereka pulang ke Jakarta. Semua barang-barang mereka sudah dikemas kedalam koper. Dibawah sinar mentari yang baru saja menampakkan dirinya, Firman, Dani, dan Nuning duduk bersama di bangku panjang yang ada di halaman belakang basecamp Truevoice.
Awalnya Dani mengucapkan terima kasih pada Firman karena telah berkenan bertemu dengan dia dan Nuning. Firman lebih banyak diam saat ini. Dani pun hanya bisa pasrah melihat sikap Firman yang seolah tak acuh pada kondisi keluarga mereka saat ini. Dani memulai pembicaraan.


"Sebelumnya ana berterima kasih sekali atas kesediaan antum untuk bertemu dengan ana dan istri. Jujur ana sudah bingung sekali bagaimana caranya agar antum mau membantu keluarga kami untuk menyembuhkan Aulia."


"Kesembuhan itu datangnya dari Allah, Mas." Ucap Firman memotong perkataan Dani.

"Ya memang kesembuhan itu datangnya dari Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan seseorang itu untuk sembuh dari penyakitnya, mau dengan usaha apapun tidak akan berhasil. Tapi apa hanya dengan memohon dan berdoa kepada Allah, kesembuhan itu akan datang dengan sendirinya, jika kita tidak berusaha dan berikhtiar. Apa antum tidak sadar kalau sebenarnya antum bisa menjadi perantara kesembuhan Aulia."


Firman hanya terdiam sambil mengarahkan pandangannya ke pepohonan yang ada dihadapan mereka.


"Mungkin jika kami masih mempunyai sedikit harapan untuk kesembuhan Aulia, kami mohon sekali lagi pada antum agar berkenan membantu Aulia untuk sembuh. Kami mohon dengan sangat. Kami datang kesini jauh-jauh dari Jakarta semata-mata hanya karena kami mempunyai harapan yang besar pada antum. Kami tidak meminta lebih pada antum. Kami hanya minta agar antum mau datang bersama kami ke Jakarta sebagai perantara kesembuhan Aulia. Itu saja."


Sekali lagi Dani memohon kepada Firman. Sedangkan Nuning hanya dapat duduk diam disamping Dani sambil mendengarkan suaminya itu memohon kepada Firman.

"Lalu jika seandainya ana sudah berada di Jakarta, apa yang harus ana lakukan untuk bisa membantu Aulia agar bisa sembuh dari penyakitnya." Kali ini suara Firman lebih lantang terdengar.


"Ya...antum bisa...berbuat apa saja yang diperintahkan oleh dokter." Jawab Dani sekenanya. Karena sebenarnya dia tak mempunyai jawaban yang pasti atas pertanyaan Firman itu.

"Apa såĴa ." Tanya Firman geram. Dani hanya menatap Firman dengan gugup.

"Apa maksudnya ana bisa menyentuh dia seenaknya,Atau mungkin justru ana harus menikahinya dulu agar ana bisa membantu kesembuhan dia.Seperti Fahri dengan Maria dalam novel Ayat-Ayat Cinta.Ingat Mas, Mbak, pernikahan itu tidak bisa dilaksanakan atas dasar kasihan semata. Harus ada rasa cinta dan pemahaman satu sama lain. Lagi pula pernikahan itu bukan hanya dilakukan sehari atau dua hari, bukan pula sebatas membantu Aulia untuk sembuh, setelah itu perkara selesai. Bukan itu Mas, Mbak. Pernikahan itu lebih dari apa yang kalian ingin ana lakukan pada Aulia. Dan ana sebagai laki-laki berhak untuk menolak hal tersebut. Ana masih ingin memiliki masa depan yang cerah bersama dengan wanita shalihah yang ana cintai dan satu pemahaman dengan ana."


"Cukup!!!." Kali ini Nuning angkat bicara. Sambil berdiri dia terus berbicara pada Firman.

"Kami tidak pernah menyuruh kamu untuk menikahi Aulia, Firman. Kami hanya memintamu untuk bersedia datang ke Jakarta bersama kami. Mungkin dengan jalan lain selain pernikahan, kamu bisa membantu Aulia. Tapi kalaupun tidak ada jalan lain,mengapa kau begitu membenci Aulia sehingga kau enggan menikahinya. Dia itu wanita shalihah, Firman. Dia akhwat berjilbab yang selalu menjaga pergaulannya pada siapapun. Dia amat menjaga kesopanannya. Dia tak pernah berpacaran apalagi bersentuhan tangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Aulia adalah seorang aktivis dakwah di kampusnya. Dan apa kau tahu Firman? Meskipun dia mencintaimu, tapi dia tidak pernah menuliskan namamu dalam buku hariannya, dia tak pernah menyimpan fotomu dalam dompetnya, dia tak pernah bercerita pada siapapun tentang perasaannya terhadapmu. Dia hanya memendam semua itu sendirian. Dan apakah dia salah jika mempunyai perasaan itu terhadapmu? Dia pernah menuliskan di buku hariannya, kalau saja dia tahu akan seperti ini kejadiannya, maka buta adalah lebih baik baginya menurut dia. Apakah tak ada rasa kasihan sedikitpun dihatimu untuk dia.Sedangkan kesakitannya saat ini juga sebenarnya bukanlah keinginannya. Ingat Firman, kamu bukanlah malaikat yang bisa sempurna. Kamu hanya manusia biasa yang kerap juga melakukan kesalahan. Seshalih dan sealim apapun kamu, tetap kamu hanyalah manusia biasa. Jangan pernah merendahkan siapapun, sebab dimata Allah semua sama, kecuali tingkat ketaqwaannya. Dan saya bisa menjamin ketaqwaan Aulia. Dia seorang wanita yang sangat mulia."


Nuning menarik nafasnya. Tanpa terasa air mata kesedihannya jatuh membasahi pipinya karena Firman tak juga mengerti perasaannya. Dani sedikit menenangkannya. Melihat dan mendengar hal itu, Firman hanya diam seribu bahasa tanpa menanggapi perkataan Nuning. Dia hanya menunduk lemas dengan pikiran yang terus berkecamuk dalam benaknya.Tatapannya terlihat hampa.
Tiba-tiba suara ringtone handphone Dani berbunyi. Ketika dilihat, tertera nama Bapak di layar handphone-nya. Dia segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam. Dan, bagaimana dengan Firman, apa dia sudah mau ke Jakarta untuk menemui Aulia? Kenapa kamu tidak juga mengabari bapak dan ibu di Jakarta."Dani hanya diam sambil menatap Nuning yang masih terus mengeluarkan air matanya.

"Halo, Dan..Dani.Kamu masih disana? Kapan pulang? Kenapa kamu diam saja Dan."

"Ehm... Sebentar lagi Dani dan Nuning akan pulang Pak. Tapi mungkin....tanpa Firman." Jawab Dani begitu lesu dan tak bersemangat.


"Lho!! Kenapa bisa begitu Dan? Kenapa Firman tidak mau membantu kita." Terdengar suara Pak Wahyu begitu terkejut mendengar kata-kata Dani. Dan sebenarnya, Dani pun tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada Pak Wahyu. Tapi biar bagaimana pun, dia harus menceritakan yang sebenarnya pada Pak Wahyu.


"Begini Pak, banyak pertimbangan yang harus dipertimbangkan oleh Firman, yang menyebabkan dia tidak bisa ikut kita ke Jakarta. Dan Dani yakin, tanpa Firman pun, kalau Allah mengizinkan, Aulia pasti sembuh. Kita harus yakin itu Pak." Dani berusaha meyakinkan Pak Wahyu bahwa kesembuhan Aulia itu pasti akan tiba masanya meskipun tanpa Firman sekalipun yang mereka kira bisa menjadi perantara kesembuhan Aulia.


"Ya memang, tapi apa kamu tidak bisa membujuknya sekali lagi agar dia mau ikut bersamamu ke Jakarta? Barusan Dokter Rina mengatakan, kondisi Aulia semakin lemah. Belum ada tanda-tanda kalau keadaannya membaik. Tolonglah Dan, demi Bapak dan Ibu." Dani terdiam sambil menatap Nuning kemudian menatap Firman dengan penuh harap. Firman pun kembali menatapnya.


"Sebentar ya Pak..." Ucap Dani kemudian menutup Handphone-nya dengan telapak tangannya.


"Dik, kondisi Aulia semakin lemah. Biar bagaimanapun hari ini kita harus pulang. Aulia sedang membutuhkan kita" Ucap Dani pada Nuning.


"Lalu.Untuk apa kita kesini kalau....."


"Dik, sudahlah, kalau memang Firman tidak berkenan membantu kita, kita harus menghargai keputusan dia. Meskipun berat adanya. Ya Lagipula, tidak ada yang sia-sia dimata اَللّهُ." Nuning menatap wajah suaminya itu dengan lirih. Dia menghela nafasnya dan kembali menundukkan wajahnya. Air mata itu kembali membasahi pipinya. Dani kembali berbicara pada Pak Wahyu sebelum akhirnya Firman angkat bicara.


"Ana putuskan untuk bersedia membantu kalian. Ana sudah pikirkan, biar bagaimanapun, ana sudah terlibat dalam masalah ini. Sebagai orang yang beriman, sudah sepatutnya ana berkewajiban untuk membantu kalian. Dan setelah ana pikir-pikir lagi, ana bersedia ikut kalian ke Jakarta."
Dani dan Nuning begitu terkejut mendengarnya. Tapi inilah kebahagiaan yang sedari tadi dicari mereka.

Mendengar kesediaan Firman untuk ikut ke Jakarta. Dani dan Nuning mengucapkan terima kasih padanya. Dani pun mengabarkan pada Pak Wahyu kalau akhirnya Firman bersedia ikut mereka ke Jakarta. Pak Wahyu pun tak terkira bahagianya.


Pagi itu juga, Dani, Nuning, dan Firman berangkat ke Jakarta. Firman meminta izin pada pihak manajemen True Voice untuk pergi beberapa hari ke Jakarta. Dengan penerbangan pagi, mereka pun berangkat ke Jakarta. Dan sebelumnya Firman sudah meminta izin pada orang tuanya.


Perjalanan ke Jakarta itu bukanlah yang pertama bagi Firman, tapi baru kali ini dia merasakan perasaan yang galau dalam perjalanan menuju ke Jakarta. Dia hanya banyak diam sambil memikirkan sesuatu yang entah apa itu. Pikirannya sangat galau. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan seorang akhwat yang sangat mencintainya sampai harus membawa-bawa dirinya jatuh ke dalam permasalahan hatinya ini.


* * *


Firman duduk terdiam di teras depan rumahnya sambil memegang sebuah mushaf Al Qur'an kecil yang baru saja dibacanya setelah shalat Isya tadi. Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan Firman dari balik jendela rumahnya, kini menghampiri Firman.

"Man, kamu kenapa toh le, Dari tadi ibu perhatikan kamu kok melamun såja Ada masalah Cerita sama ibu. Siapa tahu saja ibu bisa membantumu,le. Ibu paruh baya yang ternyata ibunda Firman,duduk disamping Firman sambil mengusap-usap kepalanya. Jujur, saat ini Firman sangat merasakan kehangatan belaian lembut ibunya. Dia menatap wajah ibunya dengan tatapan penuh harap. Suatu harapan yang bisa membantunya keluar dari permasalahan yang tengah ia hadapi saat ini. Dia tersenyum.


"Ada masalah apa toh," Tanya ibunya sekali lagi.


Firman menarik nafasnya kemudian dia hembuskan perlahan. Dalam hatinya ia berucap, ibunya tahu saja kalau dia memang sedang punya masalah. Masalah yang sangat berat.

"Firman memang punya masalah,bu. Apa benar ibu akan mendengarkan cerita Firman."Ibunya tersenyum sambil mengangguk.


"Mau cerita apa?" Firman terdiam sejenak. Masalah ini tak bisa dibiarkan, dipendam dalam hati, dan disembunyikan dari ibunya. Karena biar bagaimanapun, ini sudah menyangkut masa depannya. Bagaimana jika dia memang harus menikahi Aulia. Meskipun sebenarnya, hatinya tidak menginginkan hal itu. Lalu iapun mulai bercerita


"Firman tidak ingin menyembunyikan hal ini pada ibu. Jujur, saat ini Firman sangat bingung. Saking bingungnya, Firman berpikir untuk lari saja dari dunia ini. Tapi kemana? Sedangkan tempat yang ada selain dunia ini adalah akhirat. Firman belum mau kesana ,bu." Ucap Firman mengawali ceritanya.


"Sebenarnya masalahmu apa toh,le" Tanya ibunya tanpa berbelit-belit.

"Begini,bu. Kemarin ada sepasang suami istri ikhwan dan akhwat yang datang menemui Firman untuk memberitahukan suatu hal."


"Apa hal itu."

"Ehm...mereka memberitahukan bahwa adik mereka yang bernama Aulia, saat ini sedang sakit dan mengalami koma di rumah sakit, di Jakarta." Firman menghentikan sejenak kata-katanya dan menatap wajah ibunya yang menampakkan raut wajah yang seolah-olah berkata padanya,Lalu." Firman pun melanjutkan kata-katanya.

"Masalahnya, penyakit yang dia alami saat ini adalah karena dia memendam perasaannya pada Firman."


"Perasaan apa toh." Tanya ibunya tidak mengerti.

"Entahlah perasaan apa itu,bu. Tapi yang pasti, mereka bilang Aulia itu koma karena cintanya tidak tersampaikan pada Firman. Lantas mereka meminta Firman untuk pergi ke Jakarta bersama mereka untuk membantu Aulia agar bisa sembuh. Firman bingung,bu. Sangat bingung. Apa yang harus Firman lakukan? Sedangkan Firman tidak pernah mengenal siapa Aulia itu. Bagaimana paras wajahnya dan sikapnya juga Firman tidak pernah tahu. Bahkan tak pernah terbersit sedikitpun di benak Firman, kalau ada seorang akhwat yang jatuh cinta pada Firman, sampai sebegitu dahsyatnya. Menurut Firman itu bukan cinta, tapi hanya nafsu belaka. Dan Firman kira, kejadian seperti ini hanya ada dalam novel dan film saja. Seperti Maria dalam novel Ayat-Ayat Cinta yang memendam perasaan cintanya pada Fahri yang telah menikah dengan Aisha, akhirnya dia depresi dan koma di rumah sakit. Lucunya, hanya Fahri saja yang bisa menjadi perantara kesembuhan Maria itu. Firman kira, semua itu hanya dalam dunia khayal. Namun semua kini menjadi kenyataan. Kini Firman yang dikondisikan menjadi Fahri, tapi untungnya tidak ada Aisha dalam masalah ini. Tolong jelaskan bu, apa yang harus Firman lakukan,"


"Firman, masalahmu saat ini memang mirip sekali dengan kisah Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Tapi memang bedanya tidak ada Aisha. Tapi apa kamu lupa, bahwa perbedaannya bukan hanya terletak pada adanya Aisha atau tidak."


"Memang ada perbedaan apa ƪaƍϊ,bu." Tanya Firman penasaran.

"Ada satu lagi perbedaannya. Aulia yang kamu anggap sebagai Maria bukanlah seorang non muslim seperti Maria yang ada dalam novel Ayat-Ayat Cinta bukan." Firman sangat terkejut mendengar kata-kata ibunya. Dia terdiam sejenak kemudian mengangguk lirih.

"Nah, disitu letak perbedaannya Firman. Kalau yang ibu dengar dari ceritamu, sepertinya kamu tidak suka dengan Aulia itu.Kenapa?"


"Ya karena dia sudah membuat Firman menjadi terpojok seperti ini tanpa bisa berbuat apapun,bu. Kakaknya meminta Firman untuk membantunya agar bisa sembuh tanpa memikirkan perasaan Firman. Seolah-olah Firman harus mempertanggung jawabkan sebuah kesalahan yang tidak pernah Firman lakukan pada siapapun."


"Bukan. Bukan hal itu yang membuat kamu tidak suka pada Aulia. Tapi karena dia sudah berani mencintaimu. Itu kan alasannya,"


"Maksud ibu apa?"


"Firman. Tidak ada seorangpun yang bisa membenci orang lain tanpa pernah ia melihat orang itu sebelumnya atau karena satu perbuatan yang belum pernah dia lakukan. Kamu belum pernah melihat Aulia dan belum pernah mengenal sifat dan tingkah lakunya kan? Lalu kenapa kamu bisa membencinya, Apa hanya karena masalah ini såĴä . Cobalah Firman, tengok lagi kedalam hati nuranimu yang terdalam. Apakah ini salah Aulia jika ia terlahir ke dunia ini untuk mencintaimu. Apakah ia salah jika ia memendam rasa cintanya padamu."

"Ya tapi,bu, karena perasaannya terhadap Firman itu, akhirnya Firman terbawa kedalam permasalahan yang sangat rumit." Elak Firman.


"Firman, sekarang ibu tanya, jika ada seorang temanmu menawarkan seorang akhwat untuk berta'aruf denganmu apa kamu terima."


"Kenapa ibu jadi mengalihkan pembicaraan kesana,"


"Jawab saja Firman!"


Firman berpikir sejenak lalu menjawab.
"Karena tujuannya untuk berta'aruf saja, Firman rasa tak ada salahnya. Toh kalau Firman tidak cocok dengannya, maka ta'aruf pun dibatalkan. Memang kenapa ,bu."


"Nah seperti itu Firman. Kamu belum pernah bertemu dan mengenal Aulia, lalu apa salahnya jika kamu mencoba membantu dia untuk sembuh."


"Firman ingin membantu dia,bu. Tapi bagaimana kalau nanti keluarganya meminta Firman untuk menikahinya." Seperti keluarga Maria meminta Fahri untuk menikahinya. Apa yang harus Firman lakukan."


"Apa kamu tidak mau menikahinya."


"Maksud ibu."


"Aulia itu pasti gadis yang baik Man."


"Dari mana ibu tahu."


"Kamu menyebutnya akhwat. Apa seorang akhwat itu tidak baik budi pekerti dan akhlaknya.Ibu tahu kamu,Man. Kamu tidak akan menyebut orang-orang biasa itu dengan sebutan ikhwan dan akhwat. Kamu pasti menyebutnya dengan sebutan laki-laki atau perempuan. Dan pasti kamu menyebut teman-teman seperjuanganmu dengan sebutan ikhwan/akhwat. Asal kamu tahu saja, ibu itu memperhatikan segala tindak tanduk dan perkataanmu."

Firman terdiam sambil merenungi perkataan ibunya itu.


"Pikirkanlah kembali,nak. Sekarang, kebaikanmu sedang di uji oleh Allah. Jangan sampai hanya karena Aulia itu mencintai kamu dan membawamu kedalam masalahnya, kamu jadi membenci dia. Mungkin saja dia itu adalah seorang wanita yang sangat menjaga kemuliaan dirinya. Apa hanya karena dia mencintaimu, lalu kamu membencinya sehingga untuk dimintai tolong saja untuknya kamu tidak ♏äƱ.Lalu bagaimana kalau semua kejadian ini tidak pernah terjadi, dan tiba-tiba ada seorang ustadz yang mengajukan biodata akhwat untuk berta'aruf denganmu, dan ketika itu kamu tahu bahwa akhwat itu adalah Aulia. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menolaknya. Tidak kan ,Man. Nah, seperti itulah sekarang. Anggaplah kamu diminta oleh keluarga Aulia untuk bersedia berta'aruf dengannya. Pergilah ke Jakarta. Bantulah Aulia untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Kalau memang kamu tidak ingin menikahinya, ibu akan terus berdoa agar ada jalan lain yang dapat menyembuhkan Aulia. Janganlah kamu membencinya ,Man. Sebab masalah ini juga bukan sepenuhnya kesalahan dia. Ibu yakin, sebenarnya dia juga tidak ingin seperti ini. Ibu yakin, kalau saja perasaan sukanya terhadapmu dapat dihilangkan, mungkin sudah dari dulu dia lenyapkan. Tapi hal itu mustahil,Man. Allah yang menganugerahkan perasaan itu. Janganlah kamu menyalahinya. Kalau hanya karena perasaan cintanya terhadapmu kamu membencinya, lalu bagaimana dengan akhwat-akhwat lain yang ada diluar sana yang saat ini mungkin juga mempunyai perasaan yang sama seperti Aulia. Yang juga menyimpan perasaannya terhadapmu. Apa kamu juga akan membencinya.Kesalahan Aulia dimatamu hanyalah dia mencintaimu dan kamu mengetahui hal itu. Selebihnya,Tidak ada Man. Aulia itu gadis yang shalihah. Dia adalah akhwat yang jauh lebih baik dari wanita-wanita zaman sekarang. Dia tak jauh berbeda dengan teman-teman akhwatmu. Dia berjilbab, rajin ibadah, pandai mengaji, lalu apa kurangnya Man. Apa kurangnya hanya karena dia mencintaimu.Tidak,Man. Dia wanita yang baik."


Firman terperanjat mendengar kata-kata ibunya yang seolah-olah telah mengenal Aulia dengan baik.

"Kenapa ibu begitu bersemangat membela Aulia," Tanya Firman dengan penuh perasaan.

"Bukan membela,Man..."

"Ya apalah itu. Tapi kenapa seolah-olah ibu sangat mengenal Aulia,Ibu kan belum pernah mengenalnya apalagi bertemu dengannya."



"Kemarin, ibu bertemu dengan kakaknya Aulia. Mereka menceritakan permasalahan ini pada ibu. Merekapun menceritakan tentang Aulia pada ibu, maka dari itu ibu sangat mengenal Aulia. Meskipun hanya mendengar dari cerita kakaknya itu. Sekali lagi ibu tegaskan,Man. Saat ini kebaikanmu tengah di uji. Lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan untuk menolong hamba Allah yang lain yang memang sedang membutuhkan bantuanmu. Allah telah menunjukmu untuk dapat membantu menyembuhkan Aulia. Jika memang hanya pernikahan yang bisa menolongnya, ibu harap kamu bisa bersikap bijaksana. Meskipun kamu tidak mencintainya, paling tidak ada satu pahala yang kamu dapat. Menolong nyawa seseorang, yaitu Aulia. Lagipula ibu yakin, kalau kamu menikah dengannya, kamu tidak akan rugi. Kamu akan mendapatkan perhiasan dunia. Ingat Man. Pikirkan kembali ya saya♌g," Ibunya pergi dari hadapannya sambil meninggalkan sebuah belaian sayang di kepalanya. Firman masih terdiam memikirkan sesuatu. Tiba-tiba air matanya terjatuh membasahi pipinya.

"Inikah jalan hidup yang harus aku tempuh untuk menjemput jodoh yang telah Kau janjikan itu Ya Allah," Gumam Firman dalam hati yang masih menyisakan sejuta tanya yang belum ia temukan jawabannya.

* * *

Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar