KARYA SARAH AISHA
BAG 3
Seusai shalat dhuha di Masjid Nurul Ilmi, Aulia tak langsung bergegas pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran akuntansi perbankan dengan Ibu Tatyana, tapi lebih memilih untuk tetap tinggal di masjid sebentar sambil memuroja'ah hafalan qur'annya. Pelajaran Ibu Tatyana masih sekitar 30 menit lagi. Dia rasa tak masalah kalau menunggu waktu sambil berdiam diri di masjid sambil melakukan hal-hal yang sekiranya bermanfaat untuknya.
Ditengah muroja'ah hafalannya, dia teringat kembali perkataan orang tuanya tadi pagi dan juga tawaran dari kakaknya itu. Dia mulai berpikir, kalau seandainya saja dia tidak mempunyai penyakit itu, pasti orang tuanya akan setuju dengan keputusannya sekarang. Juga dua lembar tiket itu yang sekarang ada dalam genggamannya.
Tapi Allah telah mentakdirkan lain. Biar bagaimanapun dia tak menyalahkan siapa pun. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan sambil terus berdo'a semoga Allah selalu memberikannya yang terbaik.
* * *
"Aulia! Jangan lupa minum obatnya," Teriak Bu Wardah, dari dapur. Bu Wardah adalah Ibunda Aulia. Dia senantiasa mengingatkan Aulia agar jangan sampai telat minum obat.
"Iya Bu", Sahut Aulia tanpa semangat.
Dia duduk di ruang makan sambil mengeluarkan satu per satu obat yang hendak diminumnya.
Pak Wahyu, Ayahanda Aulia, yang sudah bersiap-siap pergi ke kantor, masih menyempatkan dirinya duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi buatan Bu Wardah dan membaca koran pagi. Sedikit demi sedikit kopi itu habis diminumnya. Dia melirikkan matanya ke jam tangannya. Sudah hampir pukul sembilan pagi. Dia segera melipat koran yang dibacanya lalu menghabiskan kopinya yang tinggal satu tegukan lagi.
"Yuk Aulia, nanti kamu telat. Sudah diminum obatnya," Tanya Pak Wahyu sambil berjalan ke kamarnya.
"Sudah Pak," Jawab Aulia seraya memasukkan kembali obat-obatan yang tadi sudah diminumnya.
Dari luar datang seorang perempuan berjilbab lebar dengan seorang wanita kecil, mengucapkan salam. Dia adalah Nuning, kakak perempuan Aulia dan anaknya yang bernama Fitri.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam...," Jawab Aulia dan Pak Wahyu hampir berbarengan.
"Belum jalan Pak," Tanya Nuning sambil mendudukkan tubuhnya di ruang tamu dan memangku si kecil Fitri yang baru berusia dua tahun.
"Belum," Jawab Pak Wahyu sambil mengambil sepatunya di rak sepatu dan memakainya.
"Dari tadi menunggu Aulia minum obat. Lama sekali"
"Lho! Kok jadi Lia yang disalahkan," Ucap Aulia berusaha mencari kebenaran.
"Lha! Habis kamu yang dari tadi merengek minta izin ke acara kampusmu itu sih," Sahut Pak Wahyu memberikan ketegasan.
"Acara apa sih memangnya Pak, "Tanya Nuning ingin tahu duduk persoalannya.
"Tuh, kamu tanyakan saja pada adikmu itu," Sahut Pak Wahyu malah menyuruh Nuning untuk langsung bertanya pada Aulia. Nuning mengalihkan pandangannya pada Aulia tanpa mengulang pertanyaannya tadi.
"Acara LDK. Menginap 3 hari 2 malam sambil outbond," Jawab Aulia dengan nada lirih.
"Acaranya apa ªåĴĴäª "
"Mbak seperti tidak pernah ikut acara LDK saja sewaktu kuliah dulu."
"Oh... Lalu apa yang membuat bapak tak menyetujuinya," Kali ini Nuning bertanya pada Pak Wahyu, ayahnya. Si kecil Fitri hanya diam sambil memakan kue yang sedari tadi dibawanya sejak datang.
"Kamu seperti tidak tahu adikmu saja Ning. Dia itu punya penyakit lemah jantung. Dulu saja ikut perkemahan waktu SMP 2 hari 1 malam, sudah tidak kuat. Apalagi sekarang. Tempatnya jauh lagi. Nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana? Orang tua juga kan yang repot. Bapak hanya tidak ingin kamu sakit lebih parah lagi nduk. Tolonglah kamu mengerti"
"Iya,lagipula cuaca disana kan dingin. Takutnya penyakitmu kambuh disana. Ibu tidak mau kamu sakit ƪά̲̣ƍϊ, Ya" Kali ini Bu Wardah bersuara sambil menghampiri mereka di ruang tamu.
"Apa pendapatmu Ning,"
"Ya... Nuning sih setuju dengan pendapat bapak sama ibu. Biar bagaimanapun semuanya itu melarang untuk kebaikan kamu juga Li," Jawab Nuning.
Aulia terlihat pasrah. Dia mengambil tasnya di kamar lalu berjalan menuju keluar rumah sebelum akhirnya Nuning memanggilnya kembali.
"Eh Li, tunggu sebentar!"
Aulia menoleh ke arah Nuning tanpa bertanya ada apa.
"Sebagai ganti kepergian kamu yang dilarang bapak sama ibu, nih Mbak Ning bawakan tiket konser nasyid. Pekan depan pukul sepuluh pagi. Ada bazarnya lho Li!" Nuning memberikan dua lembar tiket pada Aulia dan Aulia langsung menerimanya.
"Memang Mas Dani tidak bisa ikut," Tanya Aulia sembari membaca nama-nama tim nasyid yang memeriahkan acara itu.
Mas Dani adalah suami Nuning. Mereka menikah tepat dua bulan setelah Aulia datang ke konser IZIS tiga tahun yang lalu.
"Mas Dani bisa ikut. Itu Mbak kasih dua tiket agar kamu bisa mengajak temanmu. Kamu pergi dengan temanmu saja ya," Pinta Nuning.
Aulia tidak menjawab iya atau tidak. Dia masih serius membaca tiket itu. Di sela nama-nama pengisi acara konser nasyid itu, dia melihat salah satu nama nasyid yang sangat ia kenal. True Voice. Hatinya berdegup kencang. Dia menatap kedua mata Nuning lalu menjawab,
"Insya Allah Mbak, aku tidak janji. Aku berangkat."
" Assalamu'alaikum," Aulia membonceng di motor bebek ayahnya. Dia memasukkan dua lembar tiket konser itu kedalam tasnya. Dia kembali menatap wajah Bu Wardah dan wajah Nuning. Dalam tatapannya, dia sangat berharap agar ibu dan juga kakaknya itu dapat mendoakannya yang terbaik.
Motor mulai melaju menembus gersangnya jalan raya.
* * *
Kedua matanya masih setia menatapi dua lembar tiket yang tadi pagi diberikan oleh Nuning, kakaknya. Al Qur'an kecilnya kini sudah dimasukkannya kedalam tas slempangnya. Tak lama berselang, tiba seorang akhwat berjilbab lebar menghampirinya.
"Assalamu'alaikum....." Ucap akhwat tersebut sambil mendudukkan tubuhnya di dekat Aulia.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Aulia sambil menoleh kearah akhwat tersebut.
"Eh, Mbak Asih. Apa kabar Mbak."
"Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar kamu Li," Tanya Asih balik.
"Alhamdulillah aku juga sehat Mbak." Jawab Aulia tanpa menambahkan pertanyaan lain dibelakangnya.
"Oh iya Li, kamu ikut acara pelatihan yang ke puncak itu, "Tanya Asih lagi yang diiringi dengan gelengan kepala Aulia.
"Kenapa rupanya Li,"
"Bapak dan ibuku tidak mengizinkan Mbak. Padahal aku ingin sekali ikut. Tapi mau diapakan lagi. Toh orang tua sudah bilang tidak boleh, itu tandanya mereka tidak mau aku kenapa-kenapa. Maklumlah Mbak, aku kan punya penyakit," Jelas Aulia dengan nada lirih.
"Oh....ya ampun Li. Ya udah, sabar saja ya? Aku yakin orang tua kamu melarangmu itu juga untuk kebaikan. Dan pasti dibalik larangannya itu tersirat sebuah perhatian khusus yang mereka berikan untuk kamu."
"Iya Mbak," Sahut Aulia sambil tersenyum.
"Hei, tiket apa yang kamu pegang Li," Tanya asih mengejutkan Aulia.
"OH,ini tiket konser nasyid," Jawab Aulia pelan.
"Konser nasyid, Coba kulihat!" Ucap Asih seraya mengambil satu tiket konser dari tangan Aulia. Diapun memperhatikannya dengan seksama.
"Dapat dari mana kamu Li,"
"Tadi pagi Mbak-ku memberikan tiket ini. Kenapa, Mbak berminat datang ke acara ini "
"Ehm... mau sih. Mbak-mu punya ƪά̲̣ƍϊ"
"Kurang tahu deh Mbak. Tapi kalau Mbak Asih mau, ambil saja tiket punyaku," Aulia mencoba memberikan tawaran.
"Ah... tidak usahlah Li. Lagi pula, nanti aku pesan sendiri saja ke CP-nya," Tolak Asih.
"Tidak apa-apa Mbak. Lagi pula aku tidak berminat untuk datang ke acara itu..."
"Lho, kenapa Li," Tanya Asih penasaran.
Aulia hanya menggeleng sambil tersenyum. Senyuman yang sangat khas dari seorang Aulia.
"Kamu tidak suka dengan acara nasyid "
"Bukan. Tapi aku sedang tidak mood untuk datang ke acara-acara seperti itu. Ingin menenangkan pikiran dulu Mbak."
"Menenangkan pikiran katamu, Memang kamu kenapa Li? Ada masalah."
"Ah..tidak. Hanya ingin lebih tenang saja." Jawab Aulia santai.
"Nih tiketnya Mbak," Ucap Aulia sambil menyodorkan tiket satunya lagi yang masih di pegangnya pada Asih.
"Mungkin Mbak bisa mengajak teman atau kerabat Mbak untuk datang bersama ke acara itu."
"Duh... syukran banget ya Li," Asih mengucapkan terima kasih sambil meraih tiket konser yang diberikan Aulia padanya.
Sesaat mereka diliputi keheningan. Tiba-tiba Aulia melontarkan pertanyaan pada Asih.
"Mbak.."
"Ya.."
"Boleh aku bertanya " Tanya Aulia yang ditanggapi dengan anggukan Asih.
"Ehm...apa yang akan Mbak lakukan jika sebuah benda berharga milik Mbak, jatuh ke suatu tempat yang sangaaaaat jauh dari jangkauan Mbak.Apakah Mbak akan mengambilnya meskipun Mbak tahu resikonya sangat besar, atau justru Mbak meninggalkannya dan membiarkan benda itu hilang dan tak akan berharap lagi benda itu akan kembali untuk selamanya,Sedangkan tidak ada orang yang bisa Mbak mintai tolong.Apa yang akan Mbak lakukan," Pertanyaan Aulia mengalir begitu saja dari mulutnya. Sekilas tampak Asih sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada Aulia. Ada raut penuh tanya pada wajahnya.
"Apa maksud pertanyaanmu," Asih malah balik bertanya.
"Segala sesuatunya itu pasti memiliki maksud tersendiri. Dan untuk hal ini, simple saja. Mbak hanya tinggal menjawab pertanyaanku dan itulah maksudku." Jelas Aulia.
"Aku sungguh tidak mengerti maksudmu Li,"
"Jangan dimengerti Mbak. Tapi Mbak hanya tinggal menjawabnya saja. Simple kan," Asih terdiam sambil menatap penuh tanya pada Aulia.
"Kalau aku ada di posisi seperti apa yang kamu katakan tadi, aku akan...." Asih menghentikan kalimatnya. Aulia menatapnya dengan penuh keseriusan.
"Entahlah Li. Aku tak bisa menjawabnya. Pertanyaanmu sungguh membuatku bingung. Aku tak tahu apakah aku harus mengambilnya atau justru meninggalkannya. Sebab benda itu sangat berharga untukku. Jadi...."
"Baiklah Mbak, aku mengerti. Terima kasih sudah memberikan pendapat untuk pertanyaanku "
"Tapi Lia, aku belum memberikan jawaban apapun atas pertanyaanmu..."
"Terima kasih."
"Tak apa Mbak. Apa yang Mbak katakan tadi saja itu sudah cukup bagiku. Sudah memberikan sedikit pemahaman padaku tentang sikap Mbak bila Mbak mengalami posisi seperti itu."
Asih terdiam. Tapi tatapannya seolah memberikan isyarat tanda tanya pada Aulia. Ada apa dengan Aulia sebenarnya?
"Kalau begitu aku duluan ya Mbak. Masih ada kuliah dengan Ibu Tatyana. Mungkin suatu hari nanti, Mbak akan mengerti apa maksud dari perbincangan singkat kita ini."
"Assalamu'alaikum." Ucap Aulia seraya berdiri dan segera berlalu dari hadapan Asih."
"Wa'alaikumussalam," Jawab Asih gamang. Dia terus memperhatikan Aulia melangkah menuju keluar Masjid.
"Mungkin suatu hari nanti, Mbak akan mengerti apa maksud dari perbincangan singkat kita ini."
Kata-kata Aulia itu masih terus terngiang di telinga Asih. Apa maksud perkataan Aulia sebenarnya? Diam-diam Asih merasa ada yang berbeda dari Aulia. Ada maksud terselubung yang disembunyikan Aulia padanya. Lebih tepatnya lagi pada orang lain. Sebab akhir-akhir ini, Asih merasakan ada yang berbeda yang tak biasanya ditunjukkan Aulia pada rekan-rekan sesamanya.
Bukan su'udzan atau hal lainnya, tapi lebih kepada pribadi Aulia sendiri yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
* * *
Usai mengikuti mata kuliah akuntansi perbankan, Aulia mengikuti ajakan teman-temannya untuk pergi ke SmartNet. Warung internet yang ada di sekitar Universitas Swadharma. Kebetulan ada tugas kuliah yang memang harus diselesaikan di warung internet. Sejurus kemudian, Aulia dan teman-temannya sudah ada di warnet. Penuh memang. Tapi untungnya Aulia mendapatkan satu tempat kosong. Sedangkan teman-temannya yang lain memilih satu tempat kosong untuk di pakai berdua.
Setelah memposisikan dirinya dengan nyaman di kursi, Aulia langsung mengeluarkan buku tugasnya. Dengan cekatan dia memainkan jari-jarinya di keyboard komputer. Setengah jam kemudian tugasnya sudah selesai. Namun karena dia sudah menyewa komputernya itu untuk satu jam, maka dia menyempatkan dirinya untuk mencari-cari informasi di dunia maya itu. Dia membuka Yahoo Messenger-nya juga Friendster-nya. Iseng-iseng dia membuka Frindster orang-orang yang sedang online pada saat itu. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk membuka Friendster milik grup nasyid True Voice. Dan sejurus kemudian, muncullah wajah-wajah itu. Wajah yang sangat tak asing lagi baginya. Hatinya berdegup kencang saat kedua matanya memandang sosok yang selama tiga tahun ini bertahta dikedalaman relung hatinya. Ya, Firman.
Ada perasaan bersalah, senang, sedih, juga cemas saat dia membuka Friendster kepunyaan grup nasyid pujaan hatinya itu. Merasa bersalah karena tak seharusnya dia memandang sosok yang bukan muhrimnya itu. Senang karena akhirnya bisa melihat wajah itu dari dekat meski hanya di dunia maya. Sedih karena selama ini, dia tak juga bisa menghilangkan sosok Firman dari hatinya. Dan juga cemas, kalau-kalau semua hal tersebut bisa menyebabkan dia menempatkan sosok Firman dihatinya melebihi Allah dan Rasul-Nya.
"Rabbi... maafkan aku...," Bisiknya dalam hati.
Seketika tangannya meng-klik,posting komentar pada Friendster TV. Dia memutuskan untuk memberikan sedikit pernyataannya pada Firman melalui posting komentar itu. Sekedar ingin memberitahukan padanya bahwa ada seorang ukhti yang memendam rasa padanya.
To: Firman TV
From: Ukhti
" Sudah sejak lama aku memendam rasa ini. Rasa yang tak semestinya ada dalam hatiku. Aku belum bisa menghilangkanmu dari ingatanku. Aku mohon do'a agar engkau dan aku bisa tetap menjaga cinta ini hanya untuk-Nya. Maafkan aku bila mengharapkanmu "
Klik Komentar itu langsung terkirim ke Friendster True Voice. Entah perasaan apa yang saat itu ada pada Aulia. Merasa bersalah sudah pasti ada. Bahkan dia sangat menyesal sekali. Dia segera menutup Friendster True Voice tersebut. Menutup Friendster-nya dan juga Yahoo Messenger-nya. Mematikan komputernya dan memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, meskipun belum satu jam dia berada disana.
Teman-temannya bertanya kenapa dia terburu-buru sekali. Dan dia hanya menjawab, "Ada urusan. Aku duluan ya, Assalamu'alaikum.."
Teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya merasa ada yang berbeda dari diri Aulia. Sedangkan Aulia sendiri, dia langsung memutuskan untuk pulang kerumah untuk menenangkan pikirannya yang saat ini masih kacau.
* * *
Bersambung....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar