KARYA: SARAH AISHA
BAG 2
Hari dan bulan berganti seolah kiamat pun semakin dekat. Ya, kiamat memang semakin dekat dan bukan semakin jauh atau masih jauh. Kita tidak tahu kapan Allah akan mengutus Malaikat IsrafilNya untuk meniupkan sangkakalanya. Yang pasti, hari itu akan semakin dekat. Dan tugas kita sebagai hamba yang taat padaNya, senantiasa memperbaiki diri hari demi hari agar kelak Allah merahmati kita untuk dapat masuk ke dalam surga FirdausNya. Aamiin.
Katakanlah: "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."(
QS. Al Mulk ayat 26)
"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesaAulian mereka itu apabila kiamat sudah datang"(QS. Muhammad ayat 18)
Bagi Aulia, mungkin inilah kiamat untuknya. Perasaan cintanya pada Firman benar-benar telah merubah segalanya. Perasaanya terhadap Firman telah membuat dunia Aulia seolah telah kiamat.Semalam, entah karena apa, tiba-tiba saja Aulia teringat akan sosok Firman. Tak terasa, sudah tiga tahun semenjak dia datang ke acara milad Izzatul Islam yang ke 9 dan dia melihat Firman. Tanpa terasa juga dia telah memendam perasaan itu dalam-dalam tanpa bisa ia membuangnya. Masih terlalu sulit baginya untuk melupakan Firman. Dan entah mengapa, seolah perasaan itu semakin kuat bertahta di kedalaman hatinya.
Dalam hati kecilnya yang terdalam, ingin sekali rasanya dia dapat bersanding dengan Firman. Tapi bagaimana caranya? Firman di Solo sedangkan dia di Jakarta. Terlalu sulit rasanya bila harus mengungkapkan perasaan itu pada Firman. Sedangkan Firman sendiri tidak pernah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang begitu mengharapkannya, yang jauh darinya, yang jauh dari pandangannya, dan tak pernah dikenalnya.Perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud. Berniat mengadu pada Sang Maha Pemberi Rasa agar ditunjukkan jalan terbaik untuknya.
Seusai shalat tahajud, ia bermunajat padaNya.
"Ya Allah, sekiranya Engkau tahu, sudah sejak lama aku memendam rasa ini padanya. Rasa yang sulit sekali aku jelaskan pada orang lain. Rasa yang sukar sekali aku ungkapkan padanya karena dia jauh disana. Jarak dan waktu telah memisahkan kami. Dan aku, hanya dapat mencintainya dalam hati saja."
"Ya Allah, sekiranya dia yang terbaik untukku, maka izinkanlah aku untuk menjadi yang halal baginya. Aku yakin, tidak ada yang tidak mungkin bagiMu. Namun, jika memang dia bukan yang terbaik untukku, maka jauhkanlah ia dari hatiku. Aku mohon Ya اَللّهُ "
Tanpa terasa air mata itu jatuh menetes membasahi mukena yang kini menutupi tubuh Aulia. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisannya ini bukan karena dia tidak bisa mendapatkan Firman sebagai pendamping hidupnya, tetapi perenungannya terhadap ketetapan Allah dan perasaannya terhadap Firman yang belum juga bisa hilang dari hatinya. Seusai melaksanakan shalat tahajud, dia menutupnya dengan melakukan shalat witir tiga rakaat. Setelah itu dia mengambil buku diarynya dan menuliskan seluruh isi hatinya di dalam buku tersebut. Sejurus kemudian dia mengambil hand phone-nya dan menuliskan sms untuk kakaknya, Nuning, yang tinggal di sebelah rumahnya.
"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudahmudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."(QS.Al Israa:ayat 79)
Dia menyeka air mata yang masih tersisa di ujung matanya. Kemudian melepaskan mukena yang masih dikenakannya dan menutup buku diarynya.
* * *
Ketika Aulia membuka mata, sejurus kemudian ada sms masuk kedalam ponselnya. Saat dilihat, dari Maya, teman satu kelasnya di kampus. Maya ini adalah sahabat dekatnya sejak dari SLTP.
"Li, bisa kita ketemuan,Hari ini di tempat biasa jam 10 "
Begitu isi sms Maya untuk Aulia. Aulia sendiri mengerutkan keningnya setelah membaca sms dari Maya. Berpikir sejenak apakah hari ini ada acara atau tidak. Setelah cukup berpikir, Aulia pun mengetik balasan sms untuk Maya.
"Ok May. Jam 10 di tempat biasa"
Tak lama berselang, Aulia segera bergegas pergi ke tempat yang biasa dia datangi bersama dengan Maya, teman dekatnya. Entah apa yang ingin Maya bicarakan padanya sehingga harus bertemu pagi ini di tempat biasa.
Di kantin kecil milik Pak Kumis, Aulia menunggu Maya sambil meminum segelas jus alpukatnya. Tak berapa lama, datang seorang wanita mengenakan t-shirt berwarna merah marun dipadankan dengan rok setengah betisnya menghampiri Aulia.
"Hai Li " Ucap wanita tadi yang tak lain adalah Maya. Dia duduk di kursi yang masih kosong di sebelah Aulia.
"Hai May " Aulia menyahuti.
Baik dirinya maupun Maya tak langsung membuka pembicaraan. Maya terlihat murung dan tak bersemangat sedangkan Aulia sendiri menatap Maya dengan penuh Tanya.
"Kamu kenapa May?"
Tanya Aulia membuka pertanyaan.Maya masih menikmati ketermenungannya. Dia hanya menatap wajah Aulia dengan ekspresi sedih.
"Irvan Li....", Ucap Maya buka suara.
"Ada apa dengannya?," Tanya Aulia seolah mencari akar permasalahan yang dihadapi temannya itu.
"Irvan selingkuh....", Jawab Maya dengan tangis yang ditahan.
"Aku lihat dia menggandeng perempuan lain.."
Aulia menatap Maya dengan tatapan hampa. Dia tak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada Maya agar bisa menyadarkan semua kekhilafannya itu. Aulia diam sejenak untuk berpikir sementara Maya sudah mengeluarkan air matanya.
Irvan adalah lelaki yang disebut Maya sebagai kekasihnya. Sudah hampir tiga bulan ini Maya menjalin hubungan haram itu dengan Irvan. Awalnya Aulia sudah menasehati Maya agar tidak berhubungan dengan Irvan sebab Irvan itu adalah salah satu anak kampus yang terkenal dengan kenakalannya.Ketika Aulia memberikan nasehat itu pada Maya, yang ada justru Maya yang marah padanya. Maya bilang kalau Irvan itu laki-laki baik yang akan selalu mendampinginya. Bahkan karena hal tersebut, sampai-sampai Maya tidak mau lagi bertegur sapa dengan Aulia.
Tapi ketika ada masalah dengan Irvan, selalu Aulia yang menjadi tempat curhatnya. Sebenarnya Aulia sudah enggan berurusan dengan Maya disebabkan Maya yang sulit untuk dinasehati. Dia meminta saran pada Aulia, tapi ketika Aulia memberikan saran, dia malah menolak dan enggan untuk berubah. Tapi biar bagaimanapun, kalau tak ada teman yang mau mendengar keluh kesah Maya, takutnya dia akan mencari teman yang salah. Aulia menarik nafasnya dan mulai berkata.
"May, sudah berapa kali kamu minta ketemu sama aku dan membicarakan hal yang §ª♏ª."
"Sudah tidak terhitung May. Aku sudah kasih kamu saran yang terbaik menurut aku, tapi kamu tidak juga mau mendengar. Lalu apa yang kamu inginkan May"
"Jadi kamu menyalahkan aku Li ", Tanya Maya.
"Tidak ada yang menyalahkanmu. Tapi dirimu sendiri kan yang merasa bersalah?
" Aku sudah katakan, jauhi Irvan May, dia tidak pantas untukmu. Tapi apa yang kamu perbuat?
"Kamu masih terus saja bersamanya. Ingat May, Allah itu tidak buta. Dia selalu melihat gerak-gerik setiap hamba-Nya".
"Tapi Irvan kan baik Li..."
"Selalu itu yang kamu katakan. Sekarang aku tanya, apa yang telah Irvan berikan pada kamu? Bunga, perhatian, atau kasih Şaya♌g"
"Semuanya....", Jawab Maya lesu.
"Semuanya itu hanya semu May. Apa bunga yang Irvan berikan masih segar" Maya menggeleng.
"Apa hanya karena perhatian dan kasih sayang dari Irvan, bisa membuat kamu mengatakan kalau Irvan itu baik sama kamu" Maya hanya terdiam. Tidak mengangguk atau pun menggeleng.
"Asal kamu tahu saja ya May, seorang laki-laki bisa dikatakan baik pada wanita, jika dia bisa bersikap sopan. Sopan dalam artian yang sesungguhnya. Menghormati dan juga mengahargai. Kalau yang aku lihat, Irvan itu tidak bisa menghormati wanita apalagi menghargai. Lihat saja tingkahnya, setiap ada wanita yang lewat dihadapannya, selalu digodanya. Dia bahkan berani menggamit tangan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Aku lihat itu dengan mata kepalaku sendiri May. Coba kamu pikir, apa dia itu baik " Maya kembali terdiam sambil menahan tangisnya.
"Menjadi baik itu mudah May. Asal kita senantiasa istiqomah dijalan Allah, Insya Allah, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Kalau kita mau berbuat baik dengan cara yang baik. Aku kan sudah pernah bilang padamu kalau laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim itu dilarang bermesra-mesraan layaknya suami istri. Itu dosa May. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu malah lebih memilih Irvan ketimbang aku, sahabatmu sejak kecil."
''Coba kalau seandainya saja kamu ikuti kata-kataku. Jangan pernah berhubungan dengan Irvan, pasti kejadiannya tak akan seperti ini. Dan coba kalau kamu memegang prinsip bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim itu tidak boleh bersentuhan, maka akan lain ceritanya. Aku yakin kamu tak akan mau dekat-dekat dengan Irvan. Karena pasti kamu akan mencari laki-laki yang tetap menjaga kesuciannya. Dan bukan dengan cara pacaran, tapi menikah."
Dan sekarang kamu lebih memilih kenikmatan yang semu itu, maka nikmatilah hasilnya. Seharusnya kamu tidak boleh marah ataupun kesal kalau Irvan itu bergandengan dengan wanita lain. Apa yang menjadi alasanmu untuk marah.
" Apa karena kamu sudah merasa memiliki Irvan sebagai kekasihmu."
Kamu dan wanita yang digandeng Irvan itu tak ada bedanya May. Kalian sama-sama wanita yang bukan muhrim dengan Irvan. Dan seharusnya yang marah itu adalah orang tuamu karena Irvan sudah seenaknya merebut hatimu dari mereka.
"Cobalah May, untuk bisa membuka pikiranmu. Masih banyak hal yang bisa kamu kerjakan selain memikirkan Irvan. Dan masih banyak laki-laki yang lebih baik dari Irvan. Coba kamu jaga kesucian dirimu, agar kelak kamu pun bisa mendapatkan pasangan hidup yang juga menjaga kesucian dirinya. Ingat May, pasangan hidup kita adalah cerminan diri kita. Kalau kita baik, maka Allah akan mengkaruniakan kita pasangan hidup yang baik pula. Tapi kalau kita buruk dan tidak bisa menjaga kesucian diri kita, maka siap-siap saja mendapatkan pasangan yang serupa."
''Wanita sholehah itu ibarat sebuah benda yang dijual di toko dan dipajang di ruang kacanya. Yang tidak bisa disentuh oleh siapapun kecuali orang yang akan membelinya. Tapi kalau wanita yang hanya menuruti hawa nafsunya, dia ibarat sebuah benda yang diobral di kaki lima yang siapa saja bisa memeganggnya tanpa harus membelinya. Kamu tinggal pilih May, mau menjadi wanita yang pertama atau yang kedua" Maya menangis tersedu-sedu mendengar pernyataan Aulia barusan.
Dia benar-benar menyesal telah mengabaikan nasehat sahabat kecilnya itu. Mulai saat itu dia berjanji tak akan lagi berhubungan dengan Irvan dan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi wanita sholehah yang tadi Aulia katakan.Perbincangan kali ini diwarnai dengan perasaan lega antara Aulia dan juga Maya.
* * *
Bersambung....
Senin, 10 Juni 2013
NOVEL CINTA DALAM DOA
KARYA: SARAH AISHA
BAG 1
Tuhan,
Biarlah kutitip cinta ini pada-Mu
Karena aku tahu,
tak ada yang lebih pantas mendapatkannya
Kecuali Engkau.
Tuhan,
Sekiranya tak ada lagi cinta
yang dapat aku hasilkan
biarlah cintaku pada-Mu
terus merekah sepanjang zaman.
Tuhan,
Apabila sampai akhir waktu
aku tak jua mendapatkan cinta?nya?
Biarkanlah kukembalikan semua cintaku
hanya kepada-Mu
Itulah sebait puisi yang ditulis oleh Aulia ketika perasaan cinta itu tengah melanda hatinya.Perasaan cinta yang tak kunjung jua teraplikasikan pada seorang ikhwan yang entah dimana
adanya sekarang.Ikhwan itu bernama Firman. Aulia mengetahuinya saat dia datang ke perhelatan milad grup nasyid Izzatul Islam ke 9 di Istora Senayan.
Firman itu adalah salah seorang personil grup nasyid asal Solo bernama True Voice. Mereka menjadi salah satu bintang tamu pada acara itu.
Awalnya Aulia tidak pernah mengetahui adanya grup nasyid True Voice dan tidak pernah mengenal Firman. Namun entah mengapa, saat Aulia melihat penampilan Firman dengan aksi panggungnya, tiba-tiba saja ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan, merasuk kedalam sukmanya.
Tiba-tiba saja pandangannya pada Firman berubah menjadi pandangan yang berbeda. Tidak seperti saat melihat penampilan grup nasyid lainnya yang bila dilihat menjadi suatu hiburan dan pencerahan tersendiri bagi kesenangan ruhiyahnya, tapi saat dia melihat Firman dan teman-temannya
mendendangkan nasyid mereka, ada perasaan yang tak menentu arahnya.
Pandangannya berubah menjadi pandangan suka, dan pendengarannya pun berubah menjadi pendengaran suka pada Firman.
Sekitar setengah jam Firman dan teman-temannya membawakan beberapa buah nasyid di atas panggung. Firman juga membawakan sebuah lagu dangdut kepunyaan Rhoma Irama yang berjudul Istri Shalehah.
Setiap keindahan yang tampak oleh mata Itulah perhiasan, perhiasan terindah Namun yang paling indah
Diantara semua Hanya istri shalehah
Istri yang shalehah
Lagu itu terus saja terngiang di telinga Aulia. Tiba-tiba lagu itu menjadi sebuah lagu yang indah yang pernah melintas di pendengarannya. Dan selama itu pula Aulia berusaha keras untuk menjaga pandangannya dari melihat Firman. Namun sebuah layar besar yang terpampang disetiap sudut Istora Senayan membuat Aulia menjadi sulit untuk menahan pandangannya. Dan di
akhir performance mereka, salah seorang dari mereka memanggil nama Firman. Jadilah nama itu menjadi sebuah nama yang selalu di ingat oleh Aulia, sampai sekarang.
Waktu seolah bergulir semakin cepat. Saat Nuning, kakak Aulia mengajaknya untuk segera pergi dari tempat acara karena acara sudah selesai, dia masih belum bisa melupakan sosok Firman yang baru dilihatnya. Entah apa yang membuat Aulia menjadi tertambat hatinya pada Firman.
Yang pasti dalam perjalanan menuju Masjid Al Bina karena waktu sudah mendekati Maghrib, Aulia masih diliputi rasa itu. Rasa yang sangat berbeda pada sosok bernama Firman.Rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya. Apakah mungkin, dia telah jatuh hati pada Firman.
Entahlah. Sejenak, dia basuh peluh yang ada di tubuhnya dengan air wudhu dan dia tenangkan hatinya dengan menunaikan 3 rakaat shalat Maghribnya. Berjamaah dengan kakaknya dan ratusan jamaah lainnya yang pada saat itu juga datang dalam acara milad Izis yang ke 9.
* * *
Pagi kembali menjelang. Sinar matahari pun kembali naik ke permukaan untuk menampakan dirinya dan menunjukkan pada semua penghuni bumi kalau Allah tak pernah tidur. Dia senantiasa mengembalikan malam yang telah larut dengan pagi yang terang benderang.
Mengembalikan matahari-Nya yang sebelumnya telah ia gilirkan ke belahan bumi-Nya yang lain, tanpa prakiraan salah sedikitpun. Dia bisa mengatur semua ini dengan cermat tanpa bantuan
siapapun.
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya Άku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan" (QS.Al An'am ayat 78)
"Dialah Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan seluruh makhluk yang tidak ada sekutu bagi-Nya sampai kapanpun. Dia mengembalikan pagi ini bersama cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke celah-celah kamarnya. Dia mengembalikan pagi ini bersama kicauan burung-burung dan kokokan ayam jantan yang selalu terdengar nyaring ditelinganya. Dan dia pun
mengembalikan pagi ini bersama cita dan harapan yang tengah dirajut oleh hamba-Nya yang bernama Aulia.
Ya, pagi ini setelah shalat Shubuh dan membaca wirid dan Al-Quran, lalu beres-beres di rumah sebentar, rencananya Aulia akan segera bergegas pergi ke kampusnya yang terletak di bilangan
Fatmawati, Jakarta Selatan. Ya, kampusnya bernama Universitas Swadarma.
Hari ini rencananya akan di adakan syuro di Masjid Kampus. Agenda yang nanti akan dibahas adalah masalah Program Bedah Buku yang akan dilaksanakan kurang lebih dua minggu
lagi dari sekarang. Aulia bertugas menjadi sekretaris umum pada acara itu. Makanya jangan heran kalau pagi ini dia tengah dinanti oleh teman-teman ikhwan dan akhwat nya sebab semua
data dan proposal yang dibutuhkan untuk acara itu ada padanya.
Hari ini memang tak ada jadwal kuliah untuknya, namun karena amanah dari acara ini,makanya dia datang ke kampus untuk mengikuti syuro yang diadakan pukul 09.00 WIB. Tapi memang setiap harinya, meskipun tak ada jadwal kuliah, dia memang sering sekali datang ke kampus meskipun itu hanya sekedar menyerahkan tugas pada dosen, mengikuti rapat keorganisasiannya di LDK yang seperti saat ini ia laksanakan, atau membina adik-adik LDK nya.
Jalanan cukup padat pagi ini karena hari ini hari Senin. Hari pertama orang masuk kerja dan hari pertama orang memulai kembali aktivitasnya setelah dua hari kemarin orang-orang itu
berlibur. Termasuk juga Aulia.
Dia sampai di masjid kampusnya tak kurang dari pukul 09.00 WIB saat rekan-rekan satu organisasinya sudah memulai rapat mereka di awali dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an dan
dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia acara bedah buku yang bernama Ramdan.
"Tumben Li, telat." Ucap Yuyun, salah satu sahabat dekatnya, ketika Aulia baru saja sampai dan mendudukkan tubuhnya di dekat Yuyun sambil memegang bahunya.
"Iya nih. Habis macet sekali di jalan. Padahal aku sudah berangkat dari rumah jam 8. Baru
dimulai ya"
Yuyun mengangguk kemudian kembali mendengarkan Ramdan, sang ketua panitia berbicara.Dari sepanjang Aulia berorganisasi di kampusnya, mungkin baru kali ini dia terlambat datang
ke suatu acara. Biasanya dia selalu datang tepat waktu atau kalau pun telat paling hanya lewat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan. Itupun kebanyakan dari teman-temannya yang lain belum pada datang. Biasanya mereka akan berbarengan datang setelah seperempat atau setengah
jam berlalu dari waktu yang ditentukan.
Aulia berprinsip, lebih baik menunggu satu jam dari pada terlambat satu menit. Itulah prinsip yang dijalaninya sampai sekarang. Menurutnya, orang-orang yang sering terlambat berarti
mereka adalah orang-orang yang tidak menghargai waktu. Mereka termasuk orang-orang yang merugi. Seperti halnya yang telah اَللّهُ beri tahukan kepada semua hambaNya dalam firmanNya Surat Al Ashr.
Namun karena jalanan macet, jadilah Aulia menjadi salah seorang dari mereka yang datang terlambat. Namun keterlambatannya itu menjadikan dia semangat untuk lebih disiplin lagi.
* * *
Rapat ditutup dengan pembacaan hamdalah dan doa'a penutup majelis. Aulia, Yuyun, dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk makan bersama di kantin kampus. Setelah
mengelilingi matanya ke semua meja yang ada di kantin, Aulia menemukan tempat yang cukup nyaman disana.
Setelah mendudukkan tubuh mereka disana, Aulia dan teman-temannya memesan beberapa makanan yang berbeda. Aulia memesan somay ikan, Yuyun memesan pempek Pak Karsiman
yang terkenal enak, dan beberapa temannya yang lain ada yang memesan pecel, ketoprak, dan mie ayam.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka sedikit berbincang-bincang tentang masalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun herannya, Aulia seperti tak bersemangat
sekali dengan perbincangan itu. Dia lebih banyak melamun sambil memainkan sedotan yang ada
di dalam jus jeruknya.
"Lia, kamu kenapa sih." Tanya Yuyun ingin tahu.
Aulia terkejut dengan pertanyaan Yuyun barusan. Dia langsung membetulkan posisi duduknya dan segera menggeleng.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Aulia yang menyembunyikan perasaannya saat ini kepada teman-temannya.
"Kamu ada masalah Li." Tanya temannya yang lain bernama Ike.
Aulia hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Dia kembali diam. Teman-temannya Ĵμƍα hanya bisa saling berpandangan sambil mengangkat bahu mereka masing-masing.
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Aulia mengambil sepiring somay ikannya dari tangan pelayan. Dia mengambil sebotol kecap dan menuangkannya ke atas somaynya itu, sambil melamun.
Tanpa sadar, kecap yang dituangkannya itu turun terlalu banyak dari botolnya hingga hampir membanjiri somay ikannya. Aulia langsung tersadar saat Yuyun dan teman-temannya yang lain
menegurnya.
"Aulia, kecapnya!"
"Astaghfirullah!" Ucap Aulia terkejut sambil mengangkat botol kecapnya.
"Ya ampun, kecapnya banyak sekali" Ucapnya sekali lagi.
"Kamu kenapa sih Li? Sedari tadi aku perhatikan, kamu banyak melamun. Bahkan kamu tidak sadar kalau kecap yang kamu tuangkan kebanyakan" Ucap Yuyun penuh perhatian.
"Entahlah. Tapi, sungguh aku tidak apa-apa" Sahut Aulia sambil terus menyingkirkan kecap yang membanjiri somaynya ke sebuah plastik. Wajahnya terlihat bingung. Tidak biasanya Aulia
bersikap seperti itu.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa Li. Kami semua bisa membaca raut wajah dan sikapmu pagi ini. Kamu beda Li. Tidak biasanya kamu seperti ini. Pasti ada masalah yang sedang kamu
hadapi. Ceritalah Li, mungkin kami bisa bantu" Salah seorang teman yang bernama Nasti mencoba mencari tahu apa masalah yang tengah Aulia hadapi.
Tapi lag-lagi, Aulia hanya menggeleng sambil menjawab,
"Tidak ada apa-apa. Sungguh. Sudahlah, sebaiknya kita makan ªåĴĴäª "
"Tapi kecapnya"Tanya Yuyun spontan.
"Biarlah aku makan. Sayang kalau tidak dimakan akan mubazir. Toh semua ini juga karena kelalaian Άku".
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanan nya."(QS.Abasa Ayat 24)
"Aku telah berikan banyak nikmat nikmat pada mu, kalau kamu pandai bersyukur dan mensyukuri segala pemberian Ku, Aku akan tambahkan lagi nikmat-nikmat (kesehatan, rezeki, kebahagian dan ketentraman dll) kepada Mu, tapi kalau kamu tidak pandai bersyukur tunggulah azab Ku yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat nanti".(QS.Ibrahim ayat 7)
Aku takut menjadi orang yang dianggap tidak bersyukur kalau membuang makanan ini.?
Ucapnya lagi lalu langsung membaca Bismillah dan memakan somay yang ada di hadapannya.Teman-temannya yang lain pun mengikutinya.Dibalik perasaannya kini bersama teman-temannya, ada sebongkah rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya.
Mengapa rasa itu menjadi penghalang keceriaannya bersama teman-temannya kini? Perasaan yang menurutnya, tak semestinya timbul dalam hatinya. Saat ini,ia tengah melawan perasaan itu. Perasaan cintanya pada seorang ikhwan bernama Firman.
Tak diduga, rasa itu semakin cepat menjalarnya dan merasuk kedalam sukmanya. Apa yang sebenarnya ia sukai dari sosok seorang Firman, sebenarnya ia juga tidak tahu. Tapi entah mengapa, kini ia menjadi sulit untuk menghilangkan Firman dari ingatannya. Tiba-tiba, ia ingin sekali menikah.
"Menikah dengan orang yang dicintainya, dalam hati ªåĴĴäª " Oh Tuhan, ampuni aku atas perasaan yang tak semestinya ada dalam hatiku.Ucap Aulia dalam hati.
* * *
Bersambung...
BAG 1
Tuhan,
Biarlah kutitip cinta ini pada-Mu
Karena aku tahu,
tak ada yang lebih pantas mendapatkannya
Kecuali Engkau.
Tuhan,
Sekiranya tak ada lagi cinta
yang dapat aku hasilkan
biarlah cintaku pada-Mu
terus merekah sepanjang zaman.
Tuhan,
Apabila sampai akhir waktu
aku tak jua mendapatkan cinta?nya?
Biarkanlah kukembalikan semua cintaku
hanya kepada-Mu
Itulah sebait puisi yang ditulis oleh Aulia ketika perasaan cinta itu tengah melanda hatinya.Perasaan cinta yang tak kunjung jua teraplikasikan pada seorang ikhwan yang entah dimana
adanya sekarang.Ikhwan itu bernama Firman. Aulia mengetahuinya saat dia datang ke perhelatan milad grup nasyid Izzatul Islam ke 9 di Istora Senayan.
Firman itu adalah salah seorang personil grup nasyid asal Solo bernama True Voice. Mereka menjadi salah satu bintang tamu pada acara itu.
Awalnya Aulia tidak pernah mengetahui adanya grup nasyid True Voice dan tidak pernah mengenal Firman. Namun entah mengapa, saat Aulia melihat penampilan Firman dengan aksi panggungnya, tiba-tiba saja ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan, merasuk kedalam sukmanya.
Tiba-tiba saja pandangannya pada Firman berubah menjadi pandangan yang berbeda. Tidak seperti saat melihat penampilan grup nasyid lainnya yang bila dilihat menjadi suatu hiburan dan pencerahan tersendiri bagi kesenangan ruhiyahnya, tapi saat dia melihat Firman dan teman-temannya
mendendangkan nasyid mereka, ada perasaan yang tak menentu arahnya.
Pandangannya berubah menjadi pandangan suka, dan pendengarannya pun berubah menjadi pendengaran suka pada Firman.
Sekitar setengah jam Firman dan teman-temannya membawakan beberapa buah nasyid di atas panggung. Firman juga membawakan sebuah lagu dangdut kepunyaan Rhoma Irama yang berjudul Istri Shalehah.
Setiap keindahan yang tampak oleh mata Itulah perhiasan, perhiasan terindah Namun yang paling indah
Diantara semua Hanya istri shalehah
Istri yang shalehah
Lagu itu terus saja terngiang di telinga Aulia. Tiba-tiba lagu itu menjadi sebuah lagu yang indah yang pernah melintas di pendengarannya. Dan selama itu pula Aulia berusaha keras untuk menjaga pandangannya dari melihat Firman. Namun sebuah layar besar yang terpampang disetiap sudut Istora Senayan membuat Aulia menjadi sulit untuk menahan pandangannya. Dan di
akhir performance mereka, salah seorang dari mereka memanggil nama Firman. Jadilah nama itu menjadi sebuah nama yang selalu di ingat oleh Aulia, sampai sekarang.
Waktu seolah bergulir semakin cepat. Saat Nuning, kakak Aulia mengajaknya untuk segera pergi dari tempat acara karena acara sudah selesai, dia masih belum bisa melupakan sosok Firman yang baru dilihatnya. Entah apa yang membuat Aulia menjadi tertambat hatinya pada Firman.
Yang pasti dalam perjalanan menuju Masjid Al Bina karena waktu sudah mendekati Maghrib, Aulia masih diliputi rasa itu. Rasa yang sangat berbeda pada sosok bernama Firman.Rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya. Apakah mungkin, dia telah jatuh hati pada Firman.
Entahlah. Sejenak, dia basuh peluh yang ada di tubuhnya dengan air wudhu dan dia tenangkan hatinya dengan menunaikan 3 rakaat shalat Maghribnya. Berjamaah dengan kakaknya dan ratusan jamaah lainnya yang pada saat itu juga datang dalam acara milad Izis yang ke 9.
* * *
Pagi kembali menjelang. Sinar matahari pun kembali naik ke permukaan untuk menampakan dirinya dan menunjukkan pada semua penghuni bumi kalau Allah tak pernah tidur. Dia senantiasa mengembalikan malam yang telah larut dengan pagi yang terang benderang.
Mengembalikan matahari-Nya yang sebelumnya telah ia gilirkan ke belahan bumi-Nya yang lain, tanpa prakiraan salah sedikitpun. Dia bisa mengatur semua ini dengan cermat tanpa bantuan
siapapun.
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya Άku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan" (QS.Al An'am ayat 78)
"Dialah Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan seluruh makhluk yang tidak ada sekutu bagi-Nya sampai kapanpun. Dia mengembalikan pagi ini bersama cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke celah-celah kamarnya. Dia mengembalikan pagi ini bersama kicauan burung-burung dan kokokan ayam jantan yang selalu terdengar nyaring ditelinganya. Dan dia pun
mengembalikan pagi ini bersama cita dan harapan yang tengah dirajut oleh hamba-Nya yang bernama Aulia.
Ya, pagi ini setelah shalat Shubuh dan membaca wirid dan Al-Quran, lalu beres-beres di rumah sebentar, rencananya Aulia akan segera bergegas pergi ke kampusnya yang terletak di bilangan
Fatmawati, Jakarta Selatan. Ya, kampusnya bernama Universitas Swadarma.
Hari ini rencananya akan di adakan syuro di Masjid Kampus. Agenda yang nanti akan dibahas adalah masalah Program Bedah Buku yang akan dilaksanakan kurang lebih dua minggu
lagi dari sekarang. Aulia bertugas menjadi sekretaris umum pada acara itu. Makanya jangan heran kalau pagi ini dia tengah dinanti oleh teman-teman ikhwan dan akhwat nya sebab semua
data dan proposal yang dibutuhkan untuk acara itu ada padanya.
Hari ini memang tak ada jadwal kuliah untuknya, namun karena amanah dari acara ini,makanya dia datang ke kampus untuk mengikuti syuro yang diadakan pukul 09.00 WIB. Tapi memang setiap harinya, meskipun tak ada jadwal kuliah, dia memang sering sekali datang ke kampus meskipun itu hanya sekedar menyerahkan tugas pada dosen, mengikuti rapat keorganisasiannya di LDK yang seperti saat ini ia laksanakan, atau membina adik-adik LDK nya.
Jalanan cukup padat pagi ini karena hari ini hari Senin. Hari pertama orang masuk kerja dan hari pertama orang memulai kembali aktivitasnya setelah dua hari kemarin orang-orang itu
berlibur. Termasuk juga Aulia.
Dia sampai di masjid kampusnya tak kurang dari pukul 09.00 WIB saat rekan-rekan satu organisasinya sudah memulai rapat mereka di awali dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an dan
dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia acara bedah buku yang bernama Ramdan.
"Tumben Li, telat." Ucap Yuyun, salah satu sahabat dekatnya, ketika Aulia baru saja sampai dan mendudukkan tubuhnya di dekat Yuyun sambil memegang bahunya.
"Iya nih. Habis macet sekali di jalan. Padahal aku sudah berangkat dari rumah jam 8. Baru
dimulai ya"
Yuyun mengangguk kemudian kembali mendengarkan Ramdan, sang ketua panitia berbicara.Dari sepanjang Aulia berorganisasi di kampusnya, mungkin baru kali ini dia terlambat datang
ke suatu acara. Biasanya dia selalu datang tepat waktu atau kalau pun telat paling hanya lewat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan. Itupun kebanyakan dari teman-temannya yang lain belum pada datang. Biasanya mereka akan berbarengan datang setelah seperempat atau setengah
jam berlalu dari waktu yang ditentukan.
Aulia berprinsip, lebih baik menunggu satu jam dari pada terlambat satu menit. Itulah prinsip yang dijalaninya sampai sekarang. Menurutnya, orang-orang yang sering terlambat berarti
mereka adalah orang-orang yang tidak menghargai waktu. Mereka termasuk orang-orang yang merugi. Seperti halnya yang telah اَللّهُ beri tahukan kepada semua hambaNya dalam firmanNya Surat Al Ashr.
Namun karena jalanan macet, jadilah Aulia menjadi salah seorang dari mereka yang datang terlambat. Namun keterlambatannya itu menjadikan dia semangat untuk lebih disiplin lagi.
* * *
Rapat ditutup dengan pembacaan hamdalah dan doa'a penutup majelis. Aulia, Yuyun, dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk makan bersama di kantin kampus. Setelah
mengelilingi matanya ke semua meja yang ada di kantin, Aulia menemukan tempat yang cukup nyaman disana.
Setelah mendudukkan tubuh mereka disana, Aulia dan teman-temannya memesan beberapa makanan yang berbeda. Aulia memesan somay ikan, Yuyun memesan pempek Pak Karsiman
yang terkenal enak, dan beberapa temannya yang lain ada yang memesan pecel, ketoprak, dan mie ayam.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka sedikit berbincang-bincang tentang masalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun herannya, Aulia seperti tak bersemangat
sekali dengan perbincangan itu. Dia lebih banyak melamun sambil memainkan sedotan yang ada
di dalam jus jeruknya.
"Lia, kamu kenapa sih." Tanya Yuyun ingin tahu.
Aulia terkejut dengan pertanyaan Yuyun barusan. Dia langsung membetulkan posisi duduknya dan segera menggeleng.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Aulia yang menyembunyikan perasaannya saat ini kepada teman-temannya.
"Kamu ada masalah Li." Tanya temannya yang lain bernama Ike.
Aulia hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Dia kembali diam. Teman-temannya Ĵμƍα hanya bisa saling berpandangan sambil mengangkat bahu mereka masing-masing.
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Aulia mengambil sepiring somay ikannya dari tangan pelayan. Dia mengambil sebotol kecap dan menuangkannya ke atas somaynya itu, sambil melamun.
Tanpa sadar, kecap yang dituangkannya itu turun terlalu banyak dari botolnya hingga hampir membanjiri somay ikannya. Aulia langsung tersadar saat Yuyun dan teman-temannya yang lain
menegurnya.
"Aulia, kecapnya!"
"Astaghfirullah!" Ucap Aulia terkejut sambil mengangkat botol kecapnya.
"Ya ampun, kecapnya banyak sekali" Ucapnya sekali lagi.
"Kamu kenapa sih Li? Sedari tadi aku perhatikan, kamu banyak melamun. Bahkan kamu tidak sadar kalau kecap yang kamu tuangkan kebanyakan" Ucap Yuyun penuh perhatian.
"Entahlah. Tapi, sungguh aku tidak apa-apa" Sahut Aulia sambil terus menyingkirkan kecap yang membanjiri somaynya ke sebuah plastik. Wajahnya terlihat bingung. Tidak biasanya Aulia
bersikap seperti itu.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa Li. Kami semua bisa membaca raut wajah dan sikapmu pagi ini. Kamu beda Li. Tidak biasanya kamu seperti ini. Pasti ada masalah yang sedang kamu
hadapi. Ceritalah Li, mungkin kami bisa bantu" Salah seorang teman yang bernama Nasti mencoba mencari tahu apa masalah yang tengah Aulia hadapi.
Tapi lag-lagi, Aulia hanya menggeleng sambil menjawab,
"Tidak ada apa-apa. Sungguh. Sudahlah, sebaiknya kita makan ªåĴĴäª "
"Tapi kecapnya"Tanya Yuyun spontan.
"Biarlah aku makan. Sayang kalau tidak dimakan akan mubazir. Toh semua ini juga karena kelalaian Άku".
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanan nya."(QS.Abasa Ayat 24)
"Aku telah berikan banyak nikmat nikmat pada mu, kalau kamu pandai bersyukur dan mensyukuri segala pemberian Ku, Aku akan tambahkan lagi nikmat-nikmat (kesehatan, rezeki, kebahagian dan ketentraman dll) kepada Mu, tapi kalau kamu tidak pandai bersyukur tunggulah azab Ku yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat nanti".(QS.Ibrahim ayat 7)
Aku takut menjadi orang yang dianggap tidak bersyukur kalau membuang makanan ini.?
Ucapnya lagi lalu langsung membaca Bismillah dan memakan somay yang ada di hadapannya.Teman-temannya yang lain pun mengikutinya.Dibalik perasaannya kini bersama teman-temannya, ada sebongkah rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya.
Mengapa rasa itu menjadi penghalang keceriaannya bersama teman-temannya kini? Perasaan yang menurutnya, tak semestinya timbul dalam hatinya. Saat ini,ia tengah melawan perasaan itu. Perasaan cintanya pada seorang ikhwan bernama Firman.
Tak diduga, rasa itu semakin cepat menjalarnya dan merasuk kedalam sukmanya. Apa yang sebenarnya ia sukai dari sosok seorang Firman, sebenarnya ia juga tidak tahu. Tapi entah mengapa, kini ia menjadi sulit untuk menghilangkan Firman dari ingatannya. Tiba-tiba, ia ingin sekali menikah.
"Menikah dengan orang yang dicintainya, dalam hati ªåĴĴäª " Oh Tuhan, ampuni aku atas perasaan yang tak semestinya ada dalam hatiku.Ucap Aulia dalam hati.
* * *
Bersambung...
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

