♥*~ MAHAR CINTA UNTUK ANISA ~*♥
Karya:MUHAMMAD TAUFIQ
Bag(1)
Gerimis berlapis-lapis tak kunjung berhenti mengiris sore ini.Udara kian lembab,Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpendar dalam kamarku membentuk sejuta warna hati yg gelisah,dirundung cemas dipagut rindu yg kian menderu.
Ya Rab,izinkan aku bersama malaikat penurun hujan Mu,menabut benih hujan dari langit agar aku dapat menyirami separoh bumi yg tandus hingga aku dapat melihat senyum orang2 tercinta karena karunia Mu.Hingga aku dapat memandang anisa tersenyum dibalik kerudung hijaunya hingga aku dapat selalu memuji Mu atau izinkan aku menjelma bersama buih gerimis diluar jendela kamarnya agar aku dapat memandang lekat wajahnya sebagaimana Ia sedang melihatku.
Ya Rabb,aku sungguh jatuh cinta.
"Fajar..."
"Astaghfirullahal'adzim! Apa yg sedang kupikirkan? Ah,suara Ayah memanggilku aku menutup jendela kamar lalu segera menghampiri Ayah yg berada diruang tamu.
"Apa kitab Bulughul maram sudah kamu kembalikan ke kyai Faqih?"
"Sudah,Ayah."
"Ada apa denganmu,Jar? Kelihatan aneh!" Ibu coba cermati sikapku.
"Ah,nggak apa2,Bu.Fajar hanya sedang senang saja karena nilai rapot anak2 lebih baik dari semester lalu."
"O,begitu ya." respon Ibu yg ragu dg jawabanku.
"Kamu sudah bertemu Anisa?"
"Subhanallah! Aku terperajat mendengar Ayah menanyakan tentang Anisa belum sempat aku menjawabnya Ibu sudang memberondong dg pertanyaan lain.
"Anisa cantik,kan? Kamu suka,kan? Kamu pasti menyesal telah menolak.Iya,kan? Jangan bohong! Ayo,mengaku sajalah?"
Wajahku memerah seketika seperti makaroni pedas dalam toples diatas meja aku malu sekali.Bagaimana mungkin aku berani mengatakan bahwa Anisa telah mencuri hatiku? Padahal kemarin aku telah bersikeras menolak perjodohan kami.Betapa bodohnya aku yg begitu gegabah mengambil keputusan andai
aku menuruti permintaan Ayah,andai aku menikah dg Anisa.Ah,Anisa.
"Kemarin saja kamu ngeyel nggak mau sama Anisa sekarang coba lihat! Kamu seperti mabuk cinta," lagi2 Ibu menggodaku sementara Ayah tertawa terbahak
"Apa sekarang kamu masih ngeyel nggak mau menikah dg Anisa?"
"Tidak Ayah.Saya ingin menikah dg Anisa" responku cepat agar mereka tidak menerorku terus tapi mereka malah terbahak mendengar ketegasanku untuk meminang Anisa menjadi Istriku sungguh aku tak sanggup menyimpan gejolak hati ini karena Anisa telah membolak-balik hatiku.Ya Rabb izinkan aku mencintainya karena Mu.
Mungkin rencana Ayah juga yg memintaku untuk mengembalikan kitab yg Ia pinjam kepada Kyai Faqih agar aku bisa bertemu langsung dg Anisa.
Sekitar jam 9 tadi pagi sebelum mengajar di MA Tebuireng aku menyempatkan untuk mengembalikan kitab tersebut selama perjalanan menuju rumah beliau aku terus menyusun alasan tentang penolakan atas perjodohanku dg putrinya.Aku tak mau Kyai Faqih tersinggung atau mungkin aku berharap Kyai Faqih sedang tidak berada dirumah hingga aku bisa menitipkan kitab Bulughul maram tersebut pada santrinya.
Ternyata aku salah sesampai didepan gerbang rumah Kyai Faqih aku melihat beliau sedang membersihkan halaman rumah bersama beberapa santrinya,aku menghampiri beliau lalu kami duduk diserambi mushala kecil didepan rumah ternyata beliau tidak menyinggung sama sekali tentang perjodohan itu.Beliau hanya menanyakan kabar Ayah dan Ibu serta mengingatkan untuk mengikuti pengajian Jama'ah Qur'aniyyah minggu depan.Aku tak ingin berlama-lama karena aku ada jam mengajar aku segera menyampaikan amanah Ayah pada beliau setelah menghabiskan secangkir kopi,aku mohon diri.
Saat itulah aku melihat Anisa keluar rumah.Ia mengenakan baju Muslimah putih yg bermotif sedikit bunga berwarna hijau dan kerudung hijau pupus.Subhanallah! Aku teringat akan kerudung hijau Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu'anha istri tercinta Rasulullah.2 tahun setelah wafatnya Khadijah datang wahyu kepada Rasulullah untuk menikah dg Aisyah radhiyallahu'anha sebagaimana diterangkan hadis riwayat Tirmidzi dari Aisyah "Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Rasulullah lalu berkata "Ini adalah Istrimu didunia dan diakherat
Begitu juga aku,aku berharap Anisa dapat menjadi Istriku didunia dan akherat kelak saling mencintai karena Allah semata.
Anisa berjalan menunduk begitu tahu aku sedang memandangnya.Sinar mentari pagi itu tak sehangat wajahnya,wajahnya yg bercahaya yg tiba2 menerobos pintu hatiku dan seakan-akan menghentikan detak jantungku.Aku coba menetralisir keadaan ini,aku segera pamit undur diri pada Kyai Faqih lalu aku menuntun motorku keluar rumah aku hanya bisa memandang Anisa dari kaca spion motorku.Kuperlambat langkahku agar kebahagiaan ini sedikit bertahan lama.Ah,Anisa.
Anisa menghampiri Ayahnya,lamat2 aku mendengar Anisa meminta izin untuk berangkat kuliah Anisa mencium tangan Ayahnya sementara aku menyalakan motorku dan meninggalkan Anisa bersama hatiku yg telah ia curi.
"Hai,Jar! Kok malam melamun!"
Astaghfirullah! Suara Ibu mengagetkanku.
"Kamu serius ingin menikah dg Anisa?" selidik Ayah.
"Ya,Fajar ingin menikah dg Anisa."
"Baiklah.Besok Ayah sendiri yg akan menemui Kyai Faqih semoga saja Kyai Faqih masih mau mempertimbangkannya makanya,nurut sama orangtua! Ojo sak karepe dewe kemarin saja kamu ngeyel nggak mau menikah alasan sibuk mengajar lah,ingin konsentrasi belajarlah!"
Ayah mencercaku habis-habisan sebelum akhirnya mereka berdua menertawakanku sementara aku hanya bisa nyengir melihat mereka terus menggodaku.
Kemarin aku memang membuat banyak alasan ketika Ayah menjodohkanku dg Anisa tapi memang benar aku tak ingin menikah dulu masih banyak yg harus kukerjakan.Jika aku tiba2 menikah maka konsentrasi ku semakin terpecah akhirnya studi S1 ku di STKIP mungkin terbengkalai juga atau jika aku lebih memilih studi S1 ku,giliran istriku yg terlantarkan sungguh berdosanya aku bila demikian belum lagi jadwal mengajarkan di MA Tebuireng lumayan padat.
Namun,setelah bertemu Anisa tadi pagi rasanya semua aktivitas mengajar dan studi S1 ku terasa menjadi nomor kesekian.Aku ingin menikah dg Anisa menyempurmakan separuh ibadahku agar aku lebih tenang menjalani hidup berdamping dg istri yg shalehah.Insya Allah
Ya,Rabb.Aku sungguh jatuh cinta.
"Kamu juga harus shalat istikharah semoga Allah memberi petunjuk yg terbaik bagimu," kata Ayah mengakhiri pembicaraan kami sore ini,kumandang adzan Magrib sudah terdengar.
***
Malam ini kami berkumpul bersama dimeja makan.Selesai makan Ayah memulai pembicaraan.
"Tadi sore Ayah bertemu Kyai Faqih ternyata Kyai Faqih ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu mungkin beliau ingin mengetahui keseriusanmu untuk menikahi Anisa.Kyai Faqih sedikit kecewa karena sebelumnya kamu telah menolak perjodohan itu tapi semoga saja Kyai Faqih bisa mempertimbangkannya lagi.Besok sore Kyai Faqih menunggumu dirumahnya,Jar"
Aku mengangangguk sekali.
"Jangan lupa minta maaf atas penolakanmu kemarin.Perlihatkan keseriusanmu ingin membina keluarga dg Anisa,Cintailah Anisa karena Allah" kata ibu menambah kuatnya niatan suciku untuk meminang Anisa.
Seusai makan bersama,aku langsung kembali mengisi nilai rapot tengah semester anak2 kelas X1 IPA 1 yg kebetulan aku wali kelasnya aku membuka jendela kamar lebar2,hujan tak turun malam ini tapi mendung menyelimuti separuh langit hanya beberapa bintang yg berkelip diujung sana sementara bulan juga tersaput awan.Malam ini terasa membosankan bagiku.
Wahai malam mengapa engkau tak lekas pergi agar fajar cepat hadir dan sore lekas menjelang agar aku dapat segera bertemu kekasihku.Ah,Anisa izinkan aku tidur nyenyak malam ini aku tak ingin bertemu engkau lagi dalam mimpiku,aku tak ingin semakin jatuh cinta kepadamu.Wahai malaikat penjaga malam tolong sampaikan salam rinduku pada Anisa.
***
Hujan deras mengguyur sore ini dalam jas hujanku,aku memacu motorku ke dusun Tebuireng rumah Kyai Faqih yg hanya berjarak 5 km dari rumah kami yg berada didesa Cukir.Saat sampai rumahnya hujan mulai reda aku berteduh diserambi mushala sambil melipat jas hujanku dan merapikan diri.
Kyai Faqih menyambutku langsung dan mempersilahkan ku duduk.Terlihat bibir beliau masih bergemuruh tasbih.
"Bagaimana,Jar? Kemarin Ayahmu bilang jika kamu meralat keputusanmu.Benarkah?"
"Ya,Kyai.Saya minta maaf atas kekhilafan saya,saya terlalu gegabah mengambil keputusan tapi sejujurnya,Kyai.Saya mengambil keputusan itu karena saya masih takut menikah saya takut tidak bisa membagi waktu saya dengan istri yg berujung menelantarkannya selain mencemaskan soal nafkah Kyai juga tahu saya masih butuh biaya banyak untuk menyelesaikan studi S1 saya di STKIP.Sementara saya juga mengajar di MA Tebuireng dan Anisa juga masih kuliah di IKAHA kami sama2 sibuk dg aktifitas masing2 saya takut tidak bisa membahagiakan Anisa dan banyak kecemasan yg lain,Kyai."
"Menikahlah,maka kalian akan kaya,Allahlah yg mencukupi kebutuhan kalian asal kalian menikah karena semata-mata karena Allah.Dan kawinlah orang2 yg sendirian diantara kamu,dan orang2 yg layak (berkawin) dari hamba2 sahayamu yg lelaki dan hamba sahayamu yg perempuan.Jika mereka miskin,Allah akan memampukan mereka dg karunia Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian Nya) lagi maha mengetahui.
Aku tersenyum mendengar penjelasan Kyai Faqih hatiku berdesir semacam ada hawa surga yg tiba2 menyelinap ke dalam relung hati.
"Tapi mengapa kamu tiba2 berubah pikiran ingin menikah dg Anisa?"
Pertanyaan Kyai Faqih membuatku salah tingkah tiba2 sesosok tubuh muncul dari dalam rumah.Anisa membawa teh hangat untuk kami,rasanya jantungku berhenti sesaat melihat Anisa tersenyum dibalik kerudung putihnya lalu kami sama2 menunduk.Anisa meletakkan 2 cangkir diatas meja beruntung sekali aku yg masih bisa mencuri pandang lewat meja kaca yg membentuk bayangan wajah Ayu Anisa.
"Anisa,ini adalah Fajar putra Pak Yazid yg abi ceritakan kemarin"
Subhanallah! Untuk pertama kalinya Anisa menyapaku dg senyum cepat2 aku mengendalikan perasaan dan mencoba tersenyum sesederhana mungkin meski aku malu sekali lalu kami saling menunduk sebelumnya akhirnya Anisa kembali masuk kedalam rumah.
"Anisa,cantik kan?" kata Kyai Faqih sebelum terkekeh "Tapi aku tak ingin kamu menikahi Anisa karena kecantikannya aku ingin kamu menikahi Anisa dg tulus karena Allah.Anisa ingin melihat keseriusanmu,Ia sempat kecewa karena penolakanmu kemarin untuk itu Anisa meminta jika kamu serius ingin menikah dg Anisa maka kamu harus melakukan satu hal sebelum Anisa menerimamu menjadi suaminya.Apa kamu mau melakukannya?"
"Saya harus melakukan apa,Kyai?
Kyai Faqih menghela nafasnya lalu terdiam beberapa saat.
"Anisa ingin agar kamu melakukan mabit di Masjid Jami Cukir.I'tikaf lah didalam masjid selama 3 malam berturut-turut mulai ba'da Magrib hingga Subuh dan jangan keluar masjid selama i'tikaf tentu saja siang hari kamu boleh melakukan aktifitas seperti biasanya.Allah maha mengetahui apa kita kerjakan.Apa kamu bersedia,Jar?"
Aku menyetujui Permintaan Anisa meskipun terdengar aneh sekali bukan tentang mahar nikah atau semacamnya tapi ia memintaku untuk mabit di Masjid Jami Cukir.Ah,apapun itu aku akan memenuhi permintaannya.Insya Allah tak sulit i'tikaf selama 3 malam berturut dimasjid tanpa keluar masjid sekalipun.
"Baiklah,Kyai.Saya akan memenuhi permintaan Anisa"
"Kemarilah setelah kamu mabit selama 3 malam tata niatmu sebelum melakukan mabit.Jangan mabit karena Anisa tapi mabitlah karena Allah"
Bersambung...
Karya:MUHAMMAD TAUFIQ
Bag(1)
Gerimis berlapis-lapis tak kunjung berhenti mengiris sore ini.Udara kian lembab,Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpendar dalam kamarku membentuk sejuta warna hati yg gelisah,dirundung cemas dipagut rindu yg kian menderu.
Ya Rab,izinkan aku bersama malaikat penurun hujan Mu,menabut benih hujan dari langit agar aku dapat menyirami separoh bumi yg tandus hingga aku dapat melihat senyum orang2 tercinta karena karunia Mu.Hingga aku dapat memandang anisa tersenyum dibalik kerudung hijaunya hingga aku dapat selalu memuji Mu atau izinkan aku menjelma bersama buih gerimis diluar jendela kamarnya agar aku dapat memandang lekat wajahnya sebagaimana Ia sedang melihatku.
Ya Rabb,aku sungguh jatuh cinta.
"Fajar..."
"Astaghfirullahal'adzim! Apa yg sedang kupikirkan? Ah,suara Ayah memanggilku aku menutup jendela kamar lalu segera menghampiri Ayah yg berada diruang tamu.
"Apa kitab Bulughul maram sudah kamu kembalikan ke kyai Faqih?"
"Sudah,Ayah."
"Ada apa denganmu,Jar? Kelihatan aneh!" Ibu coba cermati sikapku.
"Ah,nggak apa2,Bu.Fajar hanya sedang senang saja karena nilai rapot anak2 lebih baik dari semester lalu."
"O,begitu ya." respon Ibu yg ragu dg jawabanku.
"Kamu sudah bertemu Anisa?"
"Subhanallah! Aku terperajat mendengar Ayah menanyakan tentang Anisa belum sempat aku menjawabnya Ibu sudang memberondong dg pertanyaan lain.
"Anisa cantik,kan? Kamu suka,kan? Kamu pasti menyesal telah menolak.Iya,kan? Jangan bohong! Ayo,mengaku sajalah?"
Wajahku memerah seketika seperti makaroni pedas dalam toples diatas meja aku malu sekali.Bagaimana mungkin aku berani mengatakan bahwa Anisa telah mencuri hatiku? Padahal kemarin aku telah bersikeras menolak perjodohan kami.Betapa bodohnya aku yg begitu gegabah mengambil keputusan andai
aku menuruti permintaan Ayah,andai aku menikah dg Anisa.Ah,Anisa.
"Kemarin saja kamu ngeyel nggak mau sama Anisa sekarang coba lihat! Kamu seperti mabuk cinta," lagi2 Ibu menggodaku sementara Ayah tertawa terbahak
"Apa sekarang kamu masih ngeyel nggak mau menikah dg Anisa?"
"Tidak Ayah.Saya ingin menikah dg Anisa" responku cepat agar mereka tidak menerorku terus tapi mereka malah terbahak mendengar ketegasanku untuk meminang Anisa menjadi Istriku sungguh aku tak sanggup menyimpan gejolak hati ini karena Anisa telah membolak-balik hatiku.Ya Rabb izinkan aku mencintainya karena Mu.
Mungkin rencana Ayah juga yg memintaku untuk mengembalikan kitab yg Ia pinjam kepada Kyai Faqih agar aku bisa bertemu langsung dg Anisa.
Sekitar jam 9 tadi pagi sebelum mengajar di MA Tebuireng aku menyempatkan untuk mengembalikan kitab tersebut selama perjalanan menuju rumah beliau aku terus menyusun alasan tentang penolakan atas perjodohanku dg putrinya.Aku tak mau Kyai Faqih tersinggung atau mungkin aku berharap Kyai Faqih sedang tidak berada dirumah hingga aku bisa menitipkan kitab Bulughul maram tersebut pada santrinya.
Ternyata aku salah sesampai didepan gerbang rumah Kyai Faqih aku melihat beliau sedang membersihkan halaman rumah bersama beberapa santrinya,aku menghampiri beliau lalu kami duduk diserambi mushala kecil didepan rumah ternyata beliau tidak menyinggung sama sekali tentang perjodohan itu.Beliau hanya menanyakan kabar Ayah dan Ibu serta mengingatkan untuk mengikuti pengajian Jama'ah Qur'aniyyah minggu depan.Aku tak ingin berlama-lama karena aku ada jam mengajar aku segera menyampaikan amanah Ayah pada beliau setelah menghabiskan secangkir kopi,aku mohon diri.
Saat itulah aku melihat Anisa keluar rumah.Ia mengenakan baju Muslimah putih yg bermotif sedikit bunga berwarna hijau dan kerudung hijau pupus.Subhanallah! Aku teringat akan kerudung hijau Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu'anha istri tercinta Rasulullah.2 tahun setelah wafatnya Khadijah datang wahyu kepada Rasulullah untuk menikah dg Aisyah radhiyallahu'anha sebagaimana diterangkan hadis riwayat Tirmidzi dari Aisyah "Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Rasulullah lalu berkata "Ini adalah Istrimu didunia dan diakherat
Begitu juga aku,aku berharap Anisa dapat menjadi Istriku didunia dan akherat kelak saling mencintai karena Allah semata.
Anisa berjalan menunduk begitu tahu aku sedang memandangnya.Sinar mentari pagi itu tak sehangat wajahnya,wajahnya yg bercahaya yg tiba2 menerobos pintu hatiku dan seakan-akan menghentikan detak jantungku.Aku coba menetralisir keadaan ini,aku segera pamit undur diri pada Kyai Faqih lalu aku menuntun motorku keluar rumah aku hanya bisa memandang Anisa dari kaca spion motorku.Kuperlambat langkahku agar kebahagiaan ini sedikit bertahan lama.Ah,Anisa.
Anisa menghampiri Ayahnya,lamat2 aku mendengar Anisa meminta izin untuk berangkat kuliah Anisa mencium tangan Ayahnya sementara aku menyalakan motorku dan meninggalkan Anisa bersama hatiku yg telah ia curi.
"Hai,Jar! Kok malam melamun!"
Astaghfirullah! Suara Ibu mengagetkanku.
"Kamu serius ingin menikah dg Anisa?" selidik Ayah.
"Ya,Fajar ingin menikah dg Anisa."
"Baiklah.Besok Ayah sendiri yg akan menemui Kyai Faqih semoga saja Kyai Faqih masih mau mempertimbangkannya makanya,nurut sama orangtua! Ojo sak karepe dewe kemarin saja kamu ngeyel nggak mau menikah alasan sibuk mengajar lah,ingin konsentrasi belajarlah!"
Ayah mencercaku habis-habisan sebelum akhirnya mereka berdua menertawakanku sementara aku hanya bisa nyengir melihat mereka terus menggodaku.
Kemarin aku memang membuat banyak alasan ketika Ayah menjodohkanku dg Anisa tapi memang benar aku tak ingin menikah dulu masih banyak yg harus kukerjakan.Jika aku tiba2 menikah maka konsentrasi ku semakin terpecah akhirnya studi S1 ku di STKIP mungkin terbengkalai juga atau jika aku lebih memilih studi S1 ku,giliran istriku yg terlantarkan sungguh berdosanya aku bila demikian belum lagi jadwal mengajarkan di MA Tebuireng lumayan padat.
Namun,setelah bertemu Anisa tadi pagi rasanya semua aktivitas mengajar dan studi S1 ku terasa menjadi nomor kesekian.Aku ingin menikah dg Anisa menyempurmakan separuh ibadahku agar aku lebih tenang menjalani hidup berdamping dg istri yg shalehah.Insya Allah
Ya,Rabb.Aku sungguh jatuh cinta.
"Kamu juga harus shalat istikharah semoga Allah memberi petunjuk yg terbaik bagimu," kata Ayah mengakhiri pembicaraan kami sore ini,kumandang adzan Magrib sudah terdengar.
***
Malam ini kami berkumpul bersama dimeja makan.Selesai makan Ayah memulai pembicaraan.
"Tadi sore Ayah bertemu Kyai Faqih ternyata Kyai Faqih ingin bertemu dan berbicara langsung denganmu mungkin beliau ingin mengetahui keseriusanmu untuk menikahi Anisa.Kyai Faqih sedikit kecewa karena sebelumnya kamu telah menolak perjodohan itu tapi semoga saja Kyai Faqih bisa mempertimbangkannya lagi.Besok sore Kyai Faqih menunggumu dirumahnya,Jar"
Aku mengangangguk sekali.
"Jangan lupa minta maaf atas penolakanmu kemarin.Perlihatkan keseriusanmu ingin membina keluarga dg Anisa,Cintailah Anisa karena Allah" kata ibu menambah kuatnya niatan suciku untuk meminang Anisa.
Seusai makan bersama,aku langsung kembali mengisi nilai rapot tengah semester anak2 kelas X1 IPA 1 yg kebetulan aku wali kelasnya aku membuka jendela kamar lebar2,hujan tak turun malam ini tapi mendung menyelimuti separuh langit hanya beberapa bintang yg berkelip diujung sana sementara bulan juga tersaput awan.Malam ini terasa membosankan bagiku.
Wahai malam mengapa engkau tak lekas pergi agar fajar cepat hadir dan sore lekas menjelang agar aku dapat segera bertemu kekasihku.Ah,Anisa izinkan aku tidur nyenyak malam ini aku tak ingin bertemu engkau lagi dalam mimpiku,aku tak ingin semakin jatuh cinta kepadamu.Wahai malaikat penjaga malam tolong sampaikan salam rinduku pada Anisa.
***
Hujan deras mengguyur sore ini dalam jas hujanku,aku memacu motorku ke dusun Tebuireng rumah Kyai Faqih yg hanya berjarak 5 km dari rumah kami yg berada didesa Cukir.Saat sampai rumahnya hujan mulai reda aku berteduh diserambi mushala sambil melipat jas hujanku dan merapikan diri.
Kyai Faqih menyambutku langsung dan mempersilahkan ku duduk.Terlihat bibir beliau masih bergemuruh tasbih.
"Bagaimana,Jar? Kemarin Ayahmu bilang jika kamu meralat keputusanmu.Benarkah?"
"Ya,Kyai.Saya minta maaf atas kekhilafan saya,saya terlalu gegabah mengambil keputusan tapi sejujurnya,Kyai.Saya mengambil keputusan itu karena saya masih takut menikah saya takut tidak bisa membagi waktu saya dengan istri yg berujung menelantarkannya selain mencemaskan soal nafkah Kyai juga tahu saya masih butuh biaya banyak untuk menyelesaikan studi S1 saya di STKIP.Sementara saya juga mengajar di MA Tebuireng dan Anisa juga masih kuliah di IKAHA kami sama2 sibuk dg aktifitas masing2 saya takut tidak bisa membahagiakan Anisa dan banyak kecemasan yg lain,Kyai."
"Menikahlah,maka kalian akan kaya,Allahlah yg mencukupi kebutuhan kalian asal kalian menikah karena semata-mata karena Allah.Dan kawinlah orang2 yg sendirian diantara kamu,dan orang2 yg layak (berkawin) dari hamba2 sahayamu yg lelaki dan hamba sahayamu yg perempuan.Jika mereka miskin,Allah akan memampukan mereka dg karunia Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian Nya) lagi maha mengetahui.
Aku tersenyum mendengar penjelasan Kyai Faqih hatiku berdesir semacam ada hawa surga yg tiba2 menyelinap ke dalam relung hati.
"Tapi mengapa kamu tiba2 berubah pikiran ingin menikah dg Anisa?"
Pertanyaan Kyai Faqih membuatku salah tingkah tiba2 sesosok tubuh muncul dari dalam rumah.Anisa membawa teh hangat untuk kami,rasanya jantungku berhenti sesaat melihat Anisa tersenyum dibalik kerudung putihnya lalu kami sama2 menunduk.Anisa meletakkan 2 cangkir diatas meja beruntung sekali aku yg masih bisa mencuri pandang lewat meja kaca yg membentuk bayangan wajah Ayu Anisa.
"Anisa,ini adalah Fajar putra Pak Yazid yg abi ceritakan kemarin"
Subhanallah! Untuk pertama kalinya Anisa menyapaku dg senyum cepat2 aku mengendalikan perasaan dan mencoba tersenyum sesederhana mungkin meski aku malu sekali lalu kami saling menunduk sebelumnya akhirnya Anisa kembali masuk kedalam rumah.
"Anisa,cantik kan?" kata Kyai Faqih sebelum terkekeh "Tapi aku tak ingin kamu menikahi Anisa karena kecantikannya aku ingin kamu menikahi Anisa dg tulus karena Allah.Anisa ingin melihat keseriusanmu,Ia sempat kecewa karena penolakanmu kemarin untuk itu Anisa meminta jika kamu serius ingin menikah dg Anisa maka kamu harus melakukan satu hal sebelum Anisa menerimamu menjadi suaminya.Apa kamu mau melakukannya?"
"Saya harus melakukan apa,Kyai?
Kyai Faqih menghela nafasnya lalu terdiam beberapa saat.
"Anisa ingin agar kamu melakukan mabit di Masjid Jami Cukir.I'tikaf lah didalam masjid selama 3 malam berturut-turut mulai ba'da Magrib hingga Subuh dan jangan keluar masjid selama i'tikaf tentu saja siang hari kamu boleh melakukan aktifitas seperti biasanya.Allah maha mengetahui apa kita kerjakan.Apa kamu bersedia,Jar?"
Aku menyetujui Permintaan Anisa meskipun terdengar aneh sekali bukan tentang mahar nikah atau semacamnya tapi ia memintaku untuk mabit di Masjid Jami Cukir.Ah,apapun itu aku akan memenuhi permintaannya.Insya Allah tak sulit i'tikaf selama 3 malam berturut dimasjid tanpa keluar masjid sekalipun.
"Baiklah,Kyai.Saya akan memenuhi permintaan Anisa"
"Kemarilah setelah kamu mabit selama 3 malam tata niatmu sebelum melakukan mabit.Jangan mabit karena Anisa tapi mabitlah karena Allah"
Bersambung...
