KARYA SARAH AISHA
BAG 7
Keesokan harinya, Dani lagi-lagi mempunyai ide yang cemerlang. Dia menyarankan agar mencoba mencari buku harian Aulia. Menurutnya, siapa tahu saja dia menuliskan masalahnya itu di buku hariannya.Tanpa berlama-lama, Nuning pun segera menggeledah kamar Aulia untuk mencari buku harian adiknya itu. Di laci, di lemari, bahkan di bawah tempat tidurnya sudah dia cari. Dan Alhamdulillah ketemu! Buku harian itu ditaruh Aulia di sebuah buffet kecil yang semuanya berisi buku bacaan. Nuning serasa menemukan sebuah harta karun yang tak ternilai harganya. Dia segera membuka lembar demi lembar buku harian adiknya itu dan membacanya dengan seksama.
Rabu, 7 Mei 2008 (18:58)
Mbak Nuning,Andai kau tahu siapa yang saat ini tengah aku cintai. Andai saja kau tahu siapa yang membuatku menangis karena nya.
Mbak Nuning, Kalau saja kau tahu siapa ikhwan yang telah mencuri hatiku. Bila saja kau tahu siapa ikhwan yang berhasil melumpuhkan hatiku. Mungkin kau tak akan menyangka. Semenjak aku melihatnya untuk pertama kali, jujur hatiku tertambat olehnya. Kalau aku tahu seperti ini akhirnya, aku kira buta adalah lebih baik untukku daripada aku harus menanggung perasaan ini dengan tujuan yang tidak jelas.
Mbak Nuning,Kau mengenalnya. Kau mengenal ikhwan yang saat ini ada dalam hatiku. Andai saja kau sadar, dia adalah.....
Nuning menghentikan sejenak membaca buku harian Aulia. Ada sebuah tanda tanya besar yang tiba-tiba menggelayuti pikirannya. Apa mungkin saat ini Aulia tengah jatuh cinta? Dan siapa yang sebenarnya dicintai olehnya? Siapa sosok ikhwan yang dikenalnya yang juga dicintai oleh Aulia? Dia kembali membaca.
Senin, 12 Mei 2008 (22:16)
Rabbi,Belum pernah seumur hidup aku men cintai seseorang sampai sebegini dalam nya. Hanya sekali aku melihatnya tapi wajahnya belum bisa aku lupakan sampai sekarang. Rabbi,Tiga tahun aku memendam cinta ini. Cinta pada seseorang yang sangat jauh dariku. Seseorang yang sangat jauh dari pandanganku. Seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Seseorang yang tak pernah tahu adanya aku.
Rabbi,Sekiranya Engkau mengizinkan, pertemu kanlah aku dengannya dalam bingkai sya riatMu. Namun bila tidak, maka mudah kanlah aku untuk melupakannya.
Rabbi,Izinkanlah kutitipkan cinta ini padaMu. Biarkanlah cinta ini tumbuh dan bersemi hanya disisiMu. Jika aku sendiri pun tak tahu lagi harus kemana kutempatkan cintaku, maka perkenankan lah aku untuk menyimpan cinta ini dalam saku kemuliaanMu. Hingga pada waktunya nanti ku ambil lagi cinta itu untuk seseorang yang Kau pilihkan untukku, jika seseorang itu bukanlah,dia."
Nuning semakin berpikir. Siapa kira-kira ikhwan yang dicintai oleh Aulia, yang juga dikenalnya, tapi ikhwan itu tidak mengetahui keberadaan Aulia.Ikhwan yang sangat jauh darinya, dari pandangannya, dan tidak pernah dikenal sebelumnya"
"Oh Rabbi, masalah ini semakin sulit dipecahkan.." Gumam Nuning disela-sela waktunya membaca buku harian Aulia. Dia memutuskan untuk membaca tulisan Aulia yang berikutnya.
Selasa, 13 Mei 2008 (21:16)
Rabbi,Sungguh aku tak dapat melupakannya. Tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Jika melupakannya, apa itu berarti seorang muslimah itu tidak boleh jatuh cinta"
Tuhan,Aku begitu mengharapkannya. Adakah dia merasakan kehadiran seorang akhwat yang mencintainya ini. Tolong aku Rabb. Kirimkanlah obat penawar cinta ini agar aku tak menjadi seperti Laila Majnun yang meninggal karena memendam cintanya. Mengapa cinta ini jatuh, pada sebuah hati yang begituuuuu.. jauh. Sehingga aku tak dapat lagi menjangkaunya. Apakah aku harus meninggalkan cinta tersebut pada hati yang jauh itu, atau aku harus berusaha untuk meraihnya.Sampai seka rang aku belum menemukan jawabannya.
Tiba-tiba Nuning teringat akan sebuah cerita yang pernah dikisahkan oleh sahabat Aulia, Asih. Yang mengatakan bahwa Aulia pernah bertanya tentang sebuah benda berharga yang jatuh di tempat yang sangat jauh. Nuning segera mengambil catatan kecil yang berisi inti sari dari semua investigasi dia dan Dani dengan teman-teman Aulia, dari dalam tasnya. Dia segera mencocokkan pernyataan Asih yang sempat ia tulis, dengan tulisan Aulia yang baru saja dibacanya.
Berulang kali dia mencocokkan dan hasilnya memang pernyataan itu begitu mirip. Tulisan yang ditulis Aulia sangat mirip dengan pertanyaan yang pernah ia lontarkan kepada Asih. Nuning menarik kesimpulan bahwa pertanyaan yang ditanyakan Aulia pada Asih itu adalah pertanyaan tentang perasaannya terhadap ikhwan misterius yang dicintainya. Namun karena Asih bingung harus menjawab apa, makanya Aulia merasa cukup dan segera pergi. Benda berharga yang dimaksudkan Aulia adalah cintanya. Cinta dia pada ikhwan misterius itu. Dan sampai sekarang, dia belum menemukan jawaban itu. Jawaban apakah dia harus berusaha meraihnya atau justru dia harus meninggalkan benda berharga yang tak lain adalah cintanya itu.
Tapi siapa ikhwan itu? Apa yang dimaksudkan Aulia begitu jauh? Nuning meneruskan membaca.
Kamis, 15 Mei 2008 (16:34)
Tuhan,Kau sudah mengkaruniakan cinta ini dalam hatiku. Tapi kenapa begitu sulit aku menempatkan cinta ini dalam hatinya.
Sabtu, 24 Mei 2008 (22:25)
Duh, engkau yang telah mencuri hatiku.
Siapakah kiranya yang kelak akan menjadi bidadarimu.Titipkanlah salamku untuknya. Bahagiakanlah dia seperti aku akan membahagiakan orang yang akan menjadi pahlawanku. Aku yakin, 'dialah' yang terbaik untukku dan juga untukmu.
Semoga 'dia' akan menjadi cinta sejatiku dan juga cinta sejatimu. Aamiin......
Tiba-tiba kedua mata Nuning basah. Sembab. Hatinya merasa sakit sekali. Kemana saja dia selama ini. Mengapa dia tidak mengetahui masalah yang diderita oleh adiknya itu. Kenapa kejadian ini harus terjadi sementara kalau saja dia mau sedikit lebih dekat dengan adiknya itu, mungkin Aulia mau membagi perasaannya itu padanya.
Nuning membasuh air matanya yang mulai turun membasahi wajahnya. Dia pun membuka lembar berikutnya.
Sabtu, 24 Mei 2008 (23:58)
Tuhan,Cinta memang tak harus memiliki. Adakalanya kita harus merelakan apa yang kita ingini tak bisa kita miliki.
Tuhan,Bila sekiranya dia memang bukan yang terbaik untukku, maka hidupkanlah cintaku ini dalam ladang keikhlasanMu. Andai saja aku bisa memutar waktu sebelum aku melihatnya.
Oh Tuhan, Aku mencintainya......
Sabtu, 7 Juni 2008 (17:34)
Tuhan,Maafkan diriku yang telah menyimpan dia dalam hatiku. Sungguh Ya Allah, semakin berusaha aku melupakannya semakin aku mengharapkannya. Hatiku menjadi sedih jika mengingat semua ini.
Tuhan,Berikan aku kekuatan....
Senin, 9 Juni 2008 (20:11)
Bunda,Orang yang aku cintai telah membenciku. Dia membenciku bukan karena wajahku. Bukan juga karena fisikku. Dia membenciku, karena aku telah mencintainya. Bunda,Orang yang aku cintai telah membenciku. Dia membenciku tanpa pernah dia melihat wajahku sebelumnya.
Sabtu, 21 Juni 2008 (11:05)
Ya Allah,Apakah aku termasuk orang-orang yang merugi. Apakah aku termasuk orang-orang yang tak shalihah karena telah menyimpan dia dalam hatiku.Ya Allah, Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal atas semua kejadian ini. Aku bertaubat Ya Allah.
Sungguh-sungguh bertaubat. Tak akan lagi aku memikirkannya.Nuning menutup buku harian Aulia. Air matanya sungguh tak dapat ditahannya. Ada sebuah perasaan bersalah ketika dia membaca buku itu. Mengapa dia tak bisa membantu adiknya itu yang saat ini tengah dilanda perasaan cinta oleh seorang ikhwan. Tapi siapa ikhwan itu?
Dengan cekatan dia segera mencari tahu siapa ikhwan itu. Dia geledah semua isi lemari pakaian Aulia. Dia buka semua laci yang ada disana. Tak lupa juga ia mencari apapun yang bisa memberikan dia informasi tentang siapa ikhwan itu, di dalam buffet kecil tempat Aulia menaruh buku-buku kuliah dan buku-buku bacaannya.
Namun hasilnya nihil. Seluruh isi kamar sudah digeledah namun Nuning tetap tak dapat menemukan informasi apa-apa tentang ikhwan misterius itu. Dia hampir pasrah. Di waktu yang bersamaan hand phone nya berdering. Satu panggilan dari Dani, suaminya.
"Ya, assalamu'alaikum Mas," Sapa Nuning dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam. Gimana, sudah ketemu buku hariannya," Tanya Dani dari sebrang sana.
"Sudah Mas." Jawab Nuning lesu.
"Lalu, ada informasi apa? Apa yang Aulia tulis di buku hariannya" Nuning menghela nafasnya.
"Dia sedang jatuh cinta, Mas." Nuning memberitahu.
"Jatuh cinta, Dengan siapa"
"Itu dia masalahnya. Dia tidak menuliskan siapa nama ikhwan yang saat ini dia sukai. Pokoknya banyak hal yang berkaitan dengan investigasi kita kemarin di kampus Aulia, dengan buku hariannya ini. Kalau bisa, Mas cepat pulang ya? Banyak sekali yang ingin aku bicarakan."
"Iya. Mas akan secepatnya pulang. Kalau begitu sudah dulu ya, Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumussalam...."
Nuning segera mematikan hand phone-nya dan berniat untuk menaruhnya kembali di dalam tasnya, sebelum tiba-tiba sebuah gagasan mendahului pemikirannya. Dia tak jadi menaruh hand phone nya kedalam tas. Seketika dia teringat akan hand phone Aulia. Jangan-jangan dalam hand phone itu Aulia menuliskan semuanya. Tentang perasaannya dan siapa ikhwan itu. Nuning segera mencari hand phone Aulia. Alhamdulillah ketemu di dalam laci meja belajarnya. Sayang hand phone-nya mati. Namun Nuning tak habis akal. Dia mengganti baterai hand phone Aulia dengan baterai hand phone miliknya.
Banyak sekali pesan singkat yang masuk ketika dia membuka hand phone Aulia. Kebanyakan pesan singkat itu datang dari teman-teman dekat Aulia. Nuning pun tak terlalu menghiraukannya. Kemudian dia segera mencari informasi di dalam hand phone tersebut. Di dalam kotak masuk tak ada yang informasi yang terlalu membantu. Dia agenda-nya pun juga tak ada. Di register apalagi. Tak ada nomor yang bisa dipertanyakan. Nuning hampir kehabisan akal. Dia kembali lagi mencari di berita terkirim. Satu per satu pesan itu dibukanya.
Dan..... ada satu pesan yang menurutnya janggal. Pesan itu dikirim oleh Aulia kepada seseorang bernama Mas Syarif. Yang berisi,
"Assalamu'alaikum. Mas, Aulia mw ty, apa yg hrs Lia lkkn jk Lia sk dg seorg ikhwn yg sgt jauh. Dia seorg munsyid dr Solo. Mungkin Mas tahu siapa dia. Lia mhn solusinya Mas ya, Wasalam."
Pesan itu dikirim tanggal 1 Juli 2008. Nuning mulai bertanya-tanya, siapa Mas Syarif ini,Kemudian dia mencari tahu jawaban apa yang diberikan oleh Mas Syarif ini, di kotak masuk. Namun tak ada jawaban itu. Mungkin Aulia sudah menghapusnya.
Dia kembali membuka berita terkirim itu. Ada satu pesan lagi yang ditujukan pada Mas Syarif. Isinya,
"Mas, tlg dilupkn sj prtyaan Lia yg brsn. Dn tlg, rahasiakan ini pd syppn ya,Aq sdh ptskn u mlpkn smwnya. Mgkn mmg bkn jdh. Slm u Mbk Mia. Afwn wjzk"
Nuning kembali berpikir. Ini sebuah informasi yang sangat bagus. Meskipun dia tidak tahu siapa Mas Syarif ini, tapi paling tidak, melalui laki-laki ini, mungkin dia bisa menemukan sosok ikhwan misterius itu. Bukankah dalam pesannya Aulia menuliskan bahwa Mas Syarif ini mungkin tahu siapa dia. Siapa tahu saja Mas Syarif ini benar-benar tahu siapa ikhwan itu. Nuning tersenyum kecil sambil melangkah keluar kamar Aulia serta membawa hand phone milik Aulia tadi. Ada sebongkah harapan yang tiba-tiba saja menyusup kedalam hatinya. Doanya, semoga saja ini pertanda bahwa sebentar lagi Aulia akan sadar dari komanya.
* * *
Bersambung...
