Rabu, 12 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 4

KARYA SARAH AISHA

BAG 4


Seusai shalat Isya, Aulia merebahkan tubuhnya yang masih terbalut mukena putih diatas
tempat tidur. Hatinya kini masih resah memikirkan kejadian tadi siang di warnet. Dia benarbenar
menyesal. Entah apa yang akan Firman dan teman-temannya katakan bila melihat katakata
itu ada dalam Friendster mereka.


Pasti Friendsternya akan muncul di dalam Friendster milik Firman dan kawan-kawannya itu.
Lalu mereka tahu bahwa ada seorang akhwat yang begitu mengharapkan Firman. Sosok seorang
wanita yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Tapi untung saja Aulia belum pernah
menaruh fotonya dalam Friendsternya itu. Jadi paling tidak Firman dan kawan-kawannya itu
tidak akan tahu bagaimana wajah Aulia yang sebenarnya.


Berulang kali Aulia membolak-balikan tubuhnya. Dia benar-benar cemas malam ini.
Sebelum masuk kamarnya tadi, dia menyampaikan pesan pada Ibunya agar dia jangan diganggu
karena sedang tidak enak badan. Dia mengambil ponselnya yang tergelatak tak jauh dari tempat
ia berbaring kini. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa. Namun dia putuskan untuk
bertanya pada Mas Syarif, seorang penulis novel sekaligus munsyid yang berasal dari Jawa
Tengah.


Perkenalan mereka bisa dibilang menarik. Suatu ketika Aulia mendengar sebuah lagu nasyid
yang diputar di salah satu gelombang radio Islam di Jakarta. Yang menyanyikan nasyid itu tak
lain adalah Mas Syarif itu. Tanpa disangka nasyid itu begitu menyentuh hatinya. Kemudian dia
mencari kasetnya di toko kaset Islami di daerah Depok. Dia mendapatkannya.
Setiap hari kaset itu diputar olehnya. Ketika dia membaca lirik lagu tersebut, tanpa sengaja
dia mengetahui kalau Mas Syarif itu ternyata penulis novel juga. Judul novelnya juga sama
dengan judul kasetnya. Iseng-iseng dia bertanya pada Mas Syarif itu melalui sms sederhana,
terkait masalah novelnya.


Setelah sms tekirim, Mas Syarif pun membalasnya. Aulia membeli novel tersebut dan
mengirimkan kembali sms pada Mas Syarif untuk memberikan pendapat tentang novel yang
telah dibacanya. Sms demi sms pun terkirim hanya untuk membahas isi novel tersebut. Tak lupa
Aulia selalu menitipkan salam untuk Mbak Mia, istri dari Mas Syarif. Sejak saat itu, hubungan
silaturrahmi antara Aulia dan Mas Syarif pun semakin erat.
Dan kini, Aulia tengah mengetik sms untuk Mas Syarif itu.


''Assalamu'alaikum Mas, Aulia mw ty, apa yg hrs Lia lkkn jk Lia sk dg seorg ikhwn yg sgt jauh. Dia seorg munsyid. Mungkin Mas tahu
siapa dia. Lia mhn solusinya Mas ya.wasalam''

Sejurus kemudian sms itu terkirim pada Mas Syarif. Setelah sms itu terkirim, Aulia menaruh
ponselnya diatas tempat tidur. Dia beranjak mengambil Al-Qur'an sakunya diatas meja
belajarnya dan mulai membacanya huruf demi huruf secara khusyuk dan tartil.
Tak lama setelah itu, ponselnya berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk. Aulia
menghentikan tilawahnya sejenak lalu membuka pesan di ponselnya itu.


'Assalamu'alaikum Li, bsk jgn lp bw prlgkpn acr bdh bku. Jgn tlt y? C U"

Klik. Ternyata dari Yuyun. Mengingatkan kalau besok acara bedah buku dilaksanakan. Aulia
memejamkan kedua matanya. Sejenak dia terpaku dalam diam. Ada kehampaan dari dalam
hatinya yang ia sembunyikan dalam-dalam. Setelah menghela nafasnya, dia mengetik pesan
singkat untuk Mas Syarif.


"Mas, tlg dilupkn sj prtyaan Lia yg brsn. Dn tlg, rahasiakan ini pd syppn ya/ Aq sdh ptskn u mlpkn smwnya. Mgkn mmg bkn jdh. Slm u Mbk Mia. Afwn w jzk?"


Setelah mengirim pesan singkat itu, dia mengirim pesan balasan untuk Yuyun. Yang
menyatakan bahwa dia tak akan lupa membawa perlengkapan acara bedah buku yang sudah
disepakati bersama sewaktu rapat. Setelah semua dirasa cukup, dia meneruskan tilawah
Qur'annya itu. Berharap Allah akan memberikan rasa aman dihatinya malam ini.

* * *

"Nanti jangan pulang terlalu malam Li! Katanya kamu sedang tidak enak badan kan," Tanya
Bu Wardah, menghentikan langkah Aulia yang sedang membawa sarapannya menuju meja
makan, untuk menjawab pertanyaan Ibunya itu.

"Iya Bu. Lagi pula acaranya hanya sampai siang kok. Habis itu Lia akan langsung pulang.'
Jawab Aulia yang langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan untuk menghabiskan
sarapannya.


Pak Wahyu yang sudah rapi dengan seragam Pegawai Negeri Sipil-nya langsung ikut duduk
bersama Aulia di meja makan. Bu Wardah pun segera menyiapkan sarapan untuknya. Di tengah
menyantap sarapan pagi, datang Nuning dan Fitri, anaknya, sambil mengucapkan salam.

'Assalamu'alaikum...''

'Wa'alaikumussalam....'

"Eh... mujahidah tante. Sini, sarapan sama tante?. Tegur Aulia pada Fitri. Dia langsung
menghampiri Fitri dan menggendongnya. Dipangkunya Fitri diatas tubuhnya dan sarapan
bersama dengannya. Nuning sendiri mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ibunya.

"Sarapan Ning," Bu Wardah menawarkan.

'Sudah tadi Bu, dirumah. Bareng Mas Dani sebelum berangkat kerja," Jawab Nuning
menolak.

''Katanya kamu sakit Li. Sakit apa," Tanya Nuning pada Aulia.

"Mbak tahu dari mana aku sakit," Aulia balik bertanya.

"Semalam Mbak kesini memberikan makanan pada Ibu dan Bapak. Ibu bilang kamu sedang
tidak enak badan. Kamu sakit."

''Hanya tidak enak badan saja. Paling kelelahan. Sebentar juga sembuh." Jawab Aulia dengan
pura-pura tidak sakit. Padahal sesungguhnya, selepas bangun tidur tadi, dia merasakan
jantungnya sangat sakit. Namun dia tahan dan tidak ia katakan pada keluarganya kalau
jantungnya sedang sakit saat ini.

"Wajahmu pucat Li '' Ucap Nuning yang memperhatikan raut wajah Aulia.

"Benar kamu hanya tidak enak badan saja'"
"Benar Mbak. Sudahlah, aku mau berangkat ke kampus sekarang. Takut telat. Hari ini ada
bedah buku di kampus. Ayo Pak." Aulia berusaha mengalihkan pembicaraan. Pak Wahyu
mengangguk. Aulia mencium kening Fitri dan menyerahkannya pada Nuning. Sebelum
berangkat, dia mencium tangan Ibunya dan juga kakaknya. Tak lupa dia membiasakan pada Fitri
untuk selalu mencium tangan orang yang lebih tua darinya.


"Aku berangkat ya. Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumussalam...'' Sahut Bu Wardah dan Nuning.
Baru beberapa langkah menuju keluar rumah, Aulia menoleh kearah kakaknya itu.

"Mbak, tiket konser yang tempo hari Mbak berikan, aku kasih pada temanku."

"Lho! Kenapa Li '' Tanya Nuning penasaran.

"Tidak kenapa-kenapa. Maaf ya Mbak '' Pinta Aulia yang disambut dengan raut wajah
penuh tanya-nya Nuning.

Pak Wahyu sudah siap dengan motornya. Dia langsung membawa pergi Aulia dari hadapan
Bu Wardah, Nuning, dan Fitri. Tak lupa mereka mengucapkan salam kembali sebelum pergi dan
melambaikan tangan pada si kecil Fitri.


* * *

Acara bedah buku yang dilaksanakan di ruang auditorium kampus berlangsung cukup
meriah. Para hadirin yang datang pada kesempatan hari itu mengatakan bahwa acranya sangat
seru. Sebab yang disajikan oleh para panitia tidak hanya pembahasan mengenai buku yang
dibedah pada saat itu tapi juga menghadirkan tim nasyid yang ada di kampus Swadharma sendiri.
Tanpa terasa waktu kian bergulir, menghantarkan semuanya pada penghujung acara. Azan
Zuhur sebentar lagi akan berkumandang. Sebelum acara bedah buku ditutup, salah satu
mahasiswa yang aktif di LDK kampus membacakan doa penutup. Setelah itu, baru peserta
diperbolehkan meninggalkan tempat acara. Beberapa panitia ikhwan dan akhwat13 termasuk
Aulia, berdiri di depan pintu masuk ruang auditorium untuk memberikan ucapan terima kasih
pada peserta yang sudah hadir pada acara itu.


Para peserta masih saja berhamburan keluar satu per satu sambil bersalaman dengan para
panitia acara. Namun di sisi lain, Aulia yang juga tengah bersalaman dengan para peserta yang
hendak meninggalkan ruangan, merasakan sakit yang teramat sangat di bagian jantungnya.
Wajahnya sudah begitu pucat namun tak ada satu orang pun yang memperhatikan kepucat pasian
wajahnya itu. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya akibat menahan rasa sakitnya
itu. Namun dia tetap berusaha tersenyum pada peserta yang tersisa.

  
Sampai pada puncaknya, sakitnya itu sudah tak bisa ditahan lagi dan akhirnya Aulia pun
jatuh pingsan dan terkapar dilantai ruang auditorium. Semua yang melihatnya terjatuh langsung
bergegas menolongnya. Aminah, salah satu teman di organisasi LDK-nya yang berdiri tak jauh
dari Aulia segera membungkukkan tubuhnya untuk menolong Aulia yang saat ini pingsan.


"Astaghfirullah! Aulia!!?, Teriak Aminah yang diiringi dengan kecemasan yang teramat
sangat.

Teman-teman Aulia yang lain segera menghampiri tubuh Aulia yang kini tengah terbaring
lemas di lantai. Para akhwat segera bergegas mengangkat tubuh Aulia ke atas kursi yang
dirapatkan. Yuyun mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya dan mengoleskannya di
pergelangan tangan Aulia.


Dingin. Itulah kata-kata yang terlontar dari mulut Yuyun ketika tangannya menyentuh
pergelangan tangan Aulia. Minyak kayu putih itupun di dekatkannya ke hidung Aulia namun
Aulia tak kunjung sadar. Mereka semua berinisiatif untuk membawa Aulia ke Unit Kesehatan
Kampus.


Disana, Aulia direbahkan di kasur khusus pasien. Beberapa akhwat yang menemaninya
begitu cemas melihat kondisi Aulia yang tak juga menunjukkan kesadarannya dari pingsan.
Yuyun memijat tangan Aulia secara Perlahan. Tak lupa juga minyak kayu putihnya di
oleskan ke pergelangan tangan Aulia dan lehernya. Sementara itu, Ike, akhwat yang juga ikut
mengantarkan Aulia ke ruang UKK, ikut mengipasi Aulia dengan sebuah kertas. Sedangkan
Aminah berusaha menghubungi keluarga Aulia. Alhamdulillah ada jawaban. Sebentar lagi, orang
tuanya akan datang menjemput.


Tak lama berselang, akhirnya Aulia pun sadar. Perlahan dia membuka matanya dan menatap
satu per satu teman yang mengantarkannya ke ruang UKK.
?Alhamdulillah!! Kamu sudah sadar Li??, Tanya Yuyun dengan nada gembira. Spontan
semua yang ada di ruangan itu ikut gembira dan merasa lega karena Aulia sudah sadar.
Aulia sendiri masih merasa bingung, ada dimana ia sekarang. Wajah pucatnya masih setia
menemani dirinya. Ketika Aminah bertanya apa yang dirasakannya saat ini, Aulia menjawab,
?Semua tubuhku lemas. Jantungku sakit sekali dan kepala ku pusing?. Jawab Aulia sambil
terus mengedip-ngedipkan matanya.

"Kamu sudah makan," Tanya Aminah kembali.
Aulia hanya mengangguk lirih.
Sejenak mereka semua terdiam lalu Aulia meminta tolong pada Ike untuk mengambilkan
tasnya. Ike pun dengan senang hati mengambilkannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Aulia
berusaha mendudukan tubuhnya dan mengambil obat yang ada dalam tasnya itu. Dia segera
meminum obat itu. Berharap melalui obat itu, Allah berkenan memberikan sedikit rasa reda pada
sakitnya itu.


Sejurus kemudian, obat itu sudah masuk kedalam tubuhnya. Dia kembali membaringkan
tubuhnya. Ditatapnya satu per satu wajah teman-temannya.

"Maaf ya? Karena aku, acaranya jadi berantakan" Ucap Aulia dengan lirih.

"Jangan bicara seperti itu Lia." Sahut Aminah dengan menggelengkan kepalanya.

"Kamu tidak membuat acaranya berantakan. Acaranya kan sudah selesai. Lagi pula memang
tugas kita kan untuk menolong saudarinya yang sedang sakit. Sudahlah, kamu jangan
beranggapan yang macam-macam. Kamu istirahat saja ya? Sebentar lagi orang tuamu akan
datang untuk menjemputmu kesini."


"Syukran ya semuanya," Lirih Aulia dengan mata berkaca-kaca. Aminah, Yuyun, dan Ike
pun menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum.
Tiba-tiba ponsel Ike berbunyi.


''Ya Assalamu'alaikum. Oh, Lia. Alhamdulillah dia sudah sadar. Baru saja. Kenapa? Oh...
iya iya, baik. Iya, kami akan segera kesana. Ya wa'alaikumussalam...''

"Siapa Ke," Serbu Yuyun.

"Hafidz. Dia bilang kalau Aulia sudah sadar, kita disuruh kesana, mengambil makanan untuk
Lia. Sekalian ada yang mau dibicarakan katanya".

''Ooh...''

"Hmm.. kalian pergi saja. Biar aku disini sendiri," Pinta Aulia.

"Ya sudah. Kita ambil makanan untuk kamu dulu ya"

"Tidak usah," Tolak Aulia sambil menggeleng.

"Aku tidak lapar..."

"Tapi Li, kamu harus makan agar kondisi tubuh kamu bisa kembali pulih...". Bujuk Aminah.

''Tidak apa Mbak. Aku makan dirumah saja. Toh sebentar lagi orang tuaku akan datang kan,
Salam untuk teman-teman yang lain ya? Maaf aku tidak bisa meneruskan acaranya.'

"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya disini, Kalau ada apa-apa langsung bilang
petugas diluar"

"Iya. Terima kasih ya"

"Ya sudah, kita pergi dulu ya, Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumussalam,'' Jawab Aulia.

Dia kini sendiri sambil menunggu orang tuanya datang menjemput. Dia masih tidak mengerti
kenapa rasa sakit ini benar-benar merasuki jiwanya? Kenapa tiba-tiba wajah Firman begitu
melekat dalam pikirannya? Rabbi, maafkan aku....


* * *