KARYA SARAH AISHA
BAG 4
Seusai shalat
Isya, Aulia merebahkan tubuhnya yang masih terbalut mukena putih diatas
tempat tidur.
Hatinya kini masih resah memikirkan kejadian tadi siang di warnet. Dia
benarbenar
menyesal. Entah
apa yang akan Firman dan teman-temannya katakan bila melihat katakata
itu ada dalam
Friendster mereka.
Pasti
Friendsternya akan muncul di dalam Friendster milik Firman dan kawan-kawannya
itu.
Lalu mereka tahu
bahwa ada seorang akhwat yang begitu mengharapkan Firman. Sosok seorang
wanita yang
belum pernah mereka kenal sebelumnya. Tapi untung saja Aulia belum pernah
menaruh fotonya
dalam Friendsternya itu. Jadi paling tidak Firman dan kawan-kawannya itu
tidak akan tahu
bagaimana wajah Aulia yang sebenarnya.
Berulang kali
Aulia membolak-balikan tubuhnya. Dia benar-benar cemas malam ini.
Sebelum masuk
kamarnya tadi, dia menyampaikan pesan pada Ibunya agar dia jangan diganggu
karena sedang
tidak enak badan. Dia mengambil ponselnya yang tergelatak tak jauh dari tempat
ia berbaring
kini. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa. Namun dia putuskan untuk
bertanya pada
Mas Syarif, seorang penulis novel sekaligus munsyid yang berasal dari Jawa
Tengah.
Perkenalan
mereka bisa dibilang menarik. Suatu ketika Aulia mendengar sebuah lagu nasyid
yang diputar di
salah satu gelombang radio Islam di Jakarta. Yang menyanyikan nasyid itu tak
lain adalah Mas
Syarif itu. Tanpa disangka nasyid itu begitu menyentuh hatinya. Kemudian dia
mencari kasetnya
di toko kaset Islami di daerah Depok. Dia mendapatkannya.
Setiap hari
kaset itu diputar olehnya. Ketika dia membaca lirik lagu tersebut, tanpa
sengaja
dia mengetahui
kalau Mas Syarif itu ternyata penulis novel juga. Judul novelnya juga sama
dengan judul
kasetnya. Iseng-iseng dia bertanya pada Mas Syarif itu melalui sms sederhana,
terkait masalah
novelnya.
Setelah sms
tekirim, Mas Syarif pun membalasnya. Aulia membeli novel tersebut dan
mengirimkan
kembali sms pada Mas Syarif untuk memberikan pendapat tentang novel yang
telah dibacanya.
Sms demi sms pun terkirim hanya untuk membahas isi novel tersebut. Tak lupa
Aulia selalu
menitipkan salam untuk Mbak Mia, istri dari Mas Syarif. Sejak saat itu,
hubungan
silaturrahmi
antara Aulia dan Mas Syarif pun semakin erat.
Dan kini, Aulia
tengah mengetik sms untuk Mas Syarif itu.
''Assalamu'alaikum Mas, Aulia
mw ty, apa yg hrs Lia lkkn jk Lia sk dg seorg ikhwn yg sgt jauh. Dia seorg
munsyid. Mungkin Mas tahu
siapa dia. Lia
mhn solusinya Mas ya.wasalam''
Sejurus kemudian
sms itu terkirim pada Mas Syarif. Setelah sms itu terkirim, Aulia menaruh
ponselnya diatas
tempat tidur. Dia beranjak mengambil Al-Qur'an sakunya diatas meja
belajarnya dan
mulai membacanya huruf demi huruf secara khusyuk dan tartil.
Tak lama setelah
itu, ponselnya berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk. Aulia
menghentikan
tilawahnya sejenak lalu membuka pesan di ponselnya itu.
'Assalamu'alaikum Li, bsk
jgn lp bw prlgkpn acr bdh bku. Jgn tlt y? C U"
Klik. Ternyata
dari Yuyun. Mengingatkan kalau besok acara bedah buku dilaksanakan. Aulia
memejamkan kedua
matanya. Sejenak dia terpaku dalam diam. Ada kehampaan dari dalam
hatinya yang ia
sembunyikan dalam-dalam. Setelah menghela nafasnya, dia mengetik pesan
singkat untuk
Mas Syarif.
"Mas, tlg
dilupkn sj prtyaan Lia yg brsn. Dn tlg, rahasiakan ini pd syppn ya/ Aq sdh ptskn
u mlpkn smwnya. Mgkn mmg bkn jdh. Slm u Mbk
Mia. Afwn w jzk?"
Setelah mengirim
pesan singkat itu, dia mengirim pesan balasan untuk Yuyun. Yang
menyatakan bahwa
dia tak akan lupa membawa perlengkapan acara bedah buku yang sudah
disepakati
bersama sewaktu rapat. Setelah semua dirasa cukup, dia meneruskan tilawah
Qur'annya itu.
Berharap Allah akan memberikan rasa aman dihatinya malam ini.
* * *
"Nanti jangan
pulang terlalu malam Li! Katanya kamu sedang tidak enak badan kan," Tanya
Bu Wardah,
menghentikan langkah Aulia yang sedang membawa sarapannya menuju meja
makan, untuk
menjawab pertanyaan Ibunya itu.
"Iya Bu. Lagi
pula acaranya hanya sampai siang kok. Habis itu Lia akan langsung pulang.'
Jawab Aulia yang
langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan untuk menghabiskan
sarapannya.
Pak Wahyu yang
sudah rapi dengan seragam Pegawai Negeri Sipil-nya langsung ikut duduk
bersama Aulia di
meja makan. Bu Wardah pun segera menyiapkan sarapan untuknya. Di tengah
menyantap
sarapan pagi, datang Nuning dan Fitri, anaknya, sambil mengucapkan salam.
'Assalamu'alaikum...''
'Wa'alaikumussalam....'
"Eh... mujahidah
tante. Sini, sarapan sama tante?. Tegur Aulia pada Fitri. Dia langsung
menghampiri
Fitri dan menggendongnya. Dipangkunya Fitri diatas tubuhnya dan sarapan
bersama
dengannya. Nuning sendiri mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ibunya.
"Sarapan Ning," Bu Wardah menawarkan.
'Sudah tadi Bu,
dirumah. Bareng Mas Dani sebelum berangkat kerja," Jawab Nuning
menolak.
''Katanya kamu
sakit Li. Sakit apa," Tanya Nuning pada Aulia.
"Mbak tahu dari
mana aku sakit," Aulia balik bertanya.
"Semalam Mbak
kesini memberikan makanan pada Ibu dan Bapak. Ibu bilang kamu sedang
tidak enak
badan. Kamu sakit."
''Hanya tidak
enak badan saja. Paling kelelahan. Sebentar juga sembuh." Jawab Aulia dengan
pura-pura tidak
sakit. Padahal sesungguhnya, selepas bangun tidur tadi, dia merasakan
jantungnya
sangat sakit. Namun dia tahan dan tidak ia katakan pada keluarganya kalau
jantungnya
sedang sakit saat ini.
"Wajahmu pucat
Li '' Ucap Nuning yang memperhatikan raut wajah Aulia.
"Benar kamu
hanya tidak enak badan saja'"
"Benar Mbak.
Sudahlah, aku mau berangkat ke kampus sekarang. Takut telat. Hari ini ada
bedah buku di
kampus. Ayo Pak." Aulia berusaha mengalihkan pembicaraan. Pak Wahyu
mengangguk.
Aulia mencium kening Fitri dan menyerahkannya pada Nuning. Sebelum
berangkat, dia
mencium tangan Ibunya dan juga kakaknya. Tak lupa dia membiasakan pada Fitri
untuk selalu
mencium tangan orang yang lebih tua darinya.
"Aku berangkat
ya. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam...'' Sahut Bu Wardah dan Nuning.
Baru beberapa
langkah menuju keluar rumah, Aulia menoleh kearah kakaknya itu.
"Mbak, tiket
konser yang tempo hari Mbak berikan, aku kasih pada temanku."
"Lho! Kenapa
Li '' Tanya Nuning penasaran.
"Tidak
kenapa-kenapa. Maaf ya Mbak '' Pinta Aulia yang disambut dengan raut wajah
penuh tanya-nya
Nuning.
Pak Wahyu sudah
siap dengan motornya. Dia langsung membawa pergi Aulia dari hadapan
Bu Wardah,
Nuning, dan Fitri. Tak lupa mereka mengucapkan salam kembali sebelum pergi dan
melambaikan
tangan pada si kecil Fitri.
* * *
Acara bedah buku
yang dilaksanakan di ruang auditorium kampus berlangsung cukup
meriah. Para
hadirin yang datang pada kesempatan hari itu mengatakan bahwa acranya sangat
seru. Sebab yang
disajikan oleh para panitia tidak hanya pembahasan mengenai buku yang
dibedah pada
saat itu tapi juga menghadirkan tim nasyid yang ada di kampus Swadharma
sendiri.
Tanpa terasa
waktu kian bergulir, menghantarkan semuanya pada penghujung acara. Azan
Zuhur sebentar
lagi akan berkumandang. Sebelum acara bedah buku ditutup, salah satu
mahasiswa yang
aktif di LDK kampus membacakan doa penutup. Setelah itu, baru peserta
diperbolehkan
meninggalkan tempat acara. Beberapa panitia ikhwan dan akhwat13 termasuk
Aulia, berdiri
di depan pintu masuk ruang auditorium untuk memberikan ucapan terima kasih
pada peserta
yang sudah hadir pada acara itu.
Para peserta
masih saja berhamburan keluar satu per satu sambil bersalaman dengan para
panitia acara.
Namun di sisi lain, Aulia yang juga tengah bersalaman dengan para peserta yang
hendak
meninggalkan ruangan, merasakan sakit yang teramat sangat di bagian jantungnya.
Wajahnya sudah
begitu pucat namun tak ada satu orang pun yang memperhatikan kepucat pasian
wajahnya itu.
Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya akibat menahan rasa sakitnya
itu. Namun dia
tetap berusaha tersenyum pada peserta yang tersisa.
Sampai pada
puncaknya, sakitnya itu sudah tak bisa ditahan lagi dan akhirnya Aulia pun
jatuh pingsan
dan terkapar dilantai ruang auditorium. Semua yang melihatnya terjatuh langsung
bergegas
menolongnya. Aminah, salah satu teman di organisasi LDK-nya yang berdiri tak
jauh
dari Aulia
segera membungkukkan tubuhnya untuk menolong Aulia yang saat ini pingsan.
"Astaghfirullah!
Aulia!!?, Teriak Aminah yang diiringi dengan kecemasan yang teramat
sangat.
Teman-teman
Aulia yang lain segera menghampiri tubuh Aulia yang kini tengah terbaring
lemas di lantai.
Para akhwat segera bergegas mengangkat tubuh Aulia ke atas kursi yang
dirapatkan.
Yuyun mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya dan mengoleskannya di
pergelangan
tangan Aulia.
Dingin. Itulah
kata-kata yang terlontar dari mulut Yuyun ketika tangannya menyentuh
pergelangan
tangan Aulia. Minyak kayu putih itupun di dekatkannya ke hidung Aulia namun
Aulia tak
kunjung sadar. Mereka semua berinisiatif untuk membawa Aulia ke Unit Kesehatan
Kampus.
Disana, Aulia
direbahkan di kasur khusus pasien. Beberapa akhwat yang menemaninya
begitu cemas
melihat kondisi Aulia yang tak juga menunjukkan kesadarannya dari pingsan.
Yuyun memijat
tangan Aulia secara Perlahan. Tak lupa juga minyak kayu putihnya di
oleskan ke
pergelangan tangan Aulia dan lehernya. Sementara itu, Ike, akhwat yang juga
ikut
mengantarkan
Aulia ke ruang UKK, ikut mengipasi Aulia dengan sebuah kertas. Sedangkan
Aminah berusaha
menghubungi keluarga Aulia. Alhamdulillah ada jawaban. Sebentar lagi, orang
tuanya akan
datang menjemput.
Tak lama
berselang, akhirnya Aulia pun sadar. Perlahan dia membuka matanya dan menatap
satu per satu
teman yang mengantarkannya ke ruang UKK.
?Alhamdulillah!!
Kamu sudah sadar Li??, Tanya Yuyun dengan nada gembira. Spontan
semua yang ada
di ruangan itu ikut gembira dan merasa lega karena Aulia sudah sadar.
Aulia sendiri
masih merasa bingung, ada dimana ia sekarang. Wajah pucatnya masih setia
menemani
dirinya. Ketika Aminah bertanya apa yang dirasakannya saat ini, Aulia menjawab,
?Semua tubuhku
lemas. Jantungku sakit sekali dan kepala ku pusing?. Jawab Aulia sambil
terus
mengedip-ngedipkan matanya.
"Kamu sudah
makan," Tanya Aminah kembali.
Aulia hanya
mengangguk lirih.
Sejenak mereka
semua terdiam lalu Aulia meminta tolong pada Ike untuk mengambilkan
tasnya. Ike pun
dengan senang hati mengambilkannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Aulia
berusaha
mendudukan tubuhnya dan mengambil obat yang ada dalam tasnya itu. Dia segera
meminum obat
itu. Berharap melalui obat itu, Allah berkenan memberikan sedikit rasa reda
pada
sakitnya itu.
Sejurus
kemudian, obat itu sudah masuk kedalam tubuhnya. Dia kembali membaringkan
tubuhnya.
Ditatapnya satu per satu wajah teman-temannya.
"Maaf ya? Karena
aku, acaranya jadi berantakan" Ucap Aulia dengan lirih.
"Jangan bicara
seperti itu Lia." Sahut Aminah dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak
membuat acaranya berantakan. Acaranya kan sudah selesai. Lagi pula memang
tugas kita kan
untuk menolong saudarinya yang sedang sakit. Sudahlah, kamu jangan
beranggapan yang
macam-macam. Kamu istirahat saja ya? Sebentar lagi orang tuamu akan
datang untuk
menjemputmu kesini."
"Syukran ya
semuanya," Lirih Aulia dengan mata berkaca-kaca. Aminah, Yuyun, dan Ike
pun
menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum.
Tiba-tiba ponsel
Ike berbunyi.
''Ya
Assalamu'alaikum. Oh, Lia. Alhamdulillah dia sudah sadar. Baru saja. Kenapa?
Oh...
iya iya, baik.
Iya, kami akan segera kesana. Ya wa'alaikumussalam...''
"Siapa Ke," Serbu Yuyun.
"Hafidz. Dia
bilang kalau Aulia sudah sadar, kita disuruh kesana, mengambil makanan untuk
Lia. Sekalian
ada yang mau dibicarakan katanya".
''Ooh...''
"Hmm.. kalian
pergi saja. Biar aku disini sendiri," Pinta Aulia.
"Ya sudah. Kita
ambil makanan untuk kamu dulu ya"
"Tidak usah," Tolak Aulia sambil menggeleng.
"Aku tidak
lapar..."
"Tapi Li, kamu
harus makan agar kondisi tubuh kamu bisa kembali pulih...". Bujuk Aminah.
''Tidak apa Mbak.
Aku makan dirumah saja. Toh sebentar lagi orang tuaku akan datang kan,
Salam untuk
teman-teman yang lain ya? Maaf aku tidak bisa meneruskan acaranya.'
"Ya sudah kalau
begitu. Kamu hati-hati ya disini, Kalau ada apa-apa langsung bilang
petugas diluar"
"Iya. Terima
kasih ya"
"Ya sudah, kita
pergi dulu ya, Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam,'' Jawab Aulia.
Dia kini sendiri
sambil menunggu orang tuanya datang menjemput. Dia masih tidak mengerti
kenapa rasa
sakit ini benar-benar merasuki jiwanya? Kenapa tiba-tiba wajah Firman begitu
melekat dalam
pikirannya? Rabbi, maafkan aku....
* * *
