Senin, 10 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 2

KARYA: SARAH AISHA

BAG 2 


Hari dan bulan berganti seolah kiamat pun semakin dekat. Ya, kiamat memang semakin dekat dan bukan semakin jauh atau masih jauh. Kita tidak tahu kapan Allah akan mengutus Malaikat IsrafilNya untuk meniupkan sangkakalanya. Yang pasti, hari itu akan semakin dekat. Dan tugas kita sebagai hamba yang taat padaNya, senantiasa memperbaiki diri hari demi hari agar kelak Allah merahmati kita untuk dapat masuk ke dalam surga FirdausNya. Aamiin. 

Katakanlah: "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan."( 
QS. Al Mulk ayat 26) 


"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesaAulian mereka itu apabila kiamat sudah datang"(QS. Muhammad ayat 18) 

Bagi Aulia, mungkin inilah kiamat untuknya. Perasaan cintanya pada Firman benar-benar telah merubah segalanya. Perasaanya terhadap Firman telah membuat dunia Aulia seolah telah kiamat.Semalam, entah karena apa, tiba-tiba saja Aulia teringat akan sosok Firman. Tak terasa, sudah tiga tahun semenjak dia datang ke acara milad Izzatul Islam yang ke 9 dan dia melihat Firman. Tanpa terasa juga dia telah memendam perasaan itu dalam-dalam tanpa bisa ia membuangnya. Masih terlalu sulit baginya untuk melupakan Firman. Dan entah mengapa, seolah perasaan itu semakin kuat bertahta di kedalaman hatinya. 


Dalam hati kecilnya yang terdalam, ingin sekali rasanya dia dapat bersanding dengan Firman. Tapi bagaimana caranya? Firman di Solo sedangkan dia di Jakarta. Terlalu sulit rasanya bila harus mengungkapkan perasaan itu pada Firman. Sedangkan Firman sendiri tidak pernah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang begitu mengharapkannya, yang jauh darinya, yang jauh dari pandangannya, dan tak pernah dikenalnya.Perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud. Berniat mengadu pada Sang Maha Pemberi Rasa agar ditunjukkan jalan terbaik untuknya. 
Seusai shalat tahajud, ia bermunajat padaNya. 


"Ya Allah, sekiranya Engkau tahu, sudah sejak lama aku memendam rasa ini padanya. Rasa yang sulit sekali aku jelaskan pada orang lain. Rasa yang sukar sekali aku ungkapkan padanya karena dia jauh disana. Jarak dan waktu telah memisahkan kami. Dan aku, hanya dapat mencintainya dalam hati saja." 


"Ya Allah, sekiranya dia yang terbaik untukku, maka izinkanlah aku untuk menjadi yang halal baginya. Aku yakin, tidak ada yang tidak mungkin bagiMu. Namun, jika memang dia bukan yang terbaik untukku, maka jauhkanlah ia dari hatiku. Aku mohon Ya اَللّهُ " 



Tanpa terasa air mata itu jatuh menetes membasahi mukena yang kini menutupi tubuh Aulia. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisannya ini bukan karena dia tidak bisa mendapatkan Firman sebagai pendamping hidupnya, tetapi perenungannya terhadap ketetapan Allah dan perasaannya terhadap Firman yang belum juga bisa hilang dari hatinya. Seusai melaksanakan shalat tahajud, dia menutupnya dengan melakukan shalat witir tiga rakaat. Setelah itu dia mengambil buku diarynya dan menuliskan seluruh isi hatinya di dalam buku tersebut. Sejurus kemudian dia mengambil hand phone-nya dan menuliskan sms untuk kakaknya, Nuning, yang tinggal di sebelah rumahnya. 


"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudahmudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."(QS.Al Israa:ayat 79) 


Dia menyeka air mata yang masih tersisa di ujung matanya. Kemudian melepaskan mukena yang masih dikenakannya dan menutup buku diarynya. 


* * * 


Ketika Aulia membuka mata, sejurus kemudian ada sms masuk kedalam ponselnya. Saat dilihat, dari Maya, teman satu kelasnya di kampus. Maya ini adalah sahabat dekatnya sejak dari SLTP. 


"Li, bisa kita ketemuan,Hari ini di tempat biasa jam 10 " 


Begitu isi sms Maya untuk Aulia. Aulia sendiri mengerutkan keningnya setelah membaca sms dari Maya. Berpikir sejenak apakah hari ini ada acara atau tidak. Setelah cukup berpikir, Aulia pun mengetik balasan sms untuk Maya. 


"Ok May. Jam 10 di tempat biasa" 
Tak lama berselang, Aulia segera bergegas pergi ke tempat yang biasa dia datangi bersama dengan Maya, teman dekatnya. Entah apa yang ingin Maya bicarakan padanya sehingga harus bertemu pagi ini di tempat biasa. 
Di kantin kecil milik Pak Kumis, Aulia menunggu Maya sambil meminum segelas jus alpukatnya. Tak berapa lama, datang seorang wanita mengenakan t-shirt berwarna merah marun dipadankan dengan rok setengah betisnya menghampiri Aulia. 


"Hai Li " Ucap wanita tadi yang tak lain adalah Maya. Dia duduk di kursi yang masih kosong di sebelah Aulia. 

"Hai May " Aulia menyahuti. 


Baik dirinya maupun Maya tak langsung membuka pembicaraan. Maya terlihat murung dan tak bersemangat sedangkan Aulia sendiri menatap Maya dengan penuh Tanya. 

"Kamu kenapa May?" 

Tanya Aulia membuka pertanyaan.Maya masih menikmati ketermenungannya. Dia hanya menatap wajah Aulia dengan ekspresi sedih. 

"Irvan Li....", Ucap Maya buka suara. 


"Ada apa dengannya?," Tanya Aulia seolah mencari akar permasalahan yang dihadapi temannya itu. 

"Irvan selingkuh....", Jawab Maya dengan tangis yang ditahan. 

"Aku lihat dia menggandeng perempuan lain.." 


Aulia menatap Maya dengan tatapan hampa. Dia tak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada Maya agar bisa menyadarkan semua kekhilafannya itu. Aulia diam sejenak untuk berpikir sementara Maya sudah mengeluarkan air matanya. 


Irvan adalah lelaki yang disebut Maya sebagai kekasihnya. Sudah hampir tiga bulan ini Maya menjalin hubungan haram itu dengan Irvan. Awalnya Aulia sudah menasehati Maya agar tidak berhubungan dengan Irvan sebab Irvan itu adalah salah satu anak kampus yang terkenal dengan kenakalannya.Ketika Aulia memberikan nasehat itu pada Maya, yang ada justru Maya yang marah padanya. Maya bilang kalau Irvan itu laki-laki baik yang akan selalu mendampinginya. Bahkan karena hal tersebut, sampai-sampai Maya tidak mau lagi bertegur sapa dengan Aulia. 

Tapi ketika ada masalah dengan Irvan, selalu Aulia yang menjadi tempat curhatnya. Sebenarnya Aulia sudah enggan berurusan dengan Maya disebabkan Maya yang sulit untuk dinasehati. Dia meminta saran pada Aulia, tapi ketika Aulia memberikan saran, dia malah menolak dan enggan untuk berubah. Tapi biar bagaimanapun, kalau tak ada teman yang mau mendengar keluh kesah Maya, takutnya dia akan mencari teman yang salah. Aulia menarik nafasnya dan mulai berkata. 

"May, sudah berapa kali kamu minta ketemu sama aku dan membicarakan hal yang §ª♏ª." 

"Sudah tidak terhitung May. Aku sudah kasih kamu saran yang terbaik menurut aku, tapi kamu tidak juga mau mendengar. Lalu apa yang kamu inginkan May" 

"Jadi kamu menyalahkan aku Li ", Tanya Maya. 


"Tidak ada yang menyalahkanmu. Tapi dirimu sendiri kan yang merasa bersalah? 

" Aku sudah katakan, jauhi Irvan May, dia tidak pantas untukmu. Tapi apa yang kamu perbuat? 

"Kamu masih terus saja bersamanya. Ingat May, Allah itu tidak buta. Dia selalu melihat gerak-gerik setiap hamba-Nya". 


"Tapi Irvan kan baik Li..." 

"Selalu itu yang kamu katakan. Sekarang aku tanya, apa yang telah Irvan berikan pada kamu? Bunga, perhatian, atau kasih Şaya♌g" 


"Semuanya....", Jawab Maya lesu. 

"Semuanya itu hanya semu May. Apa bunga yang Irvan berikan masih segar" Maya menggeleng. 


"Apa hanya karena perhatian dan kasih sayang dari Irvan, bisa membuat kamu mengatakan kalau Irvan itu baik sama kamu" Maya hanya terdiam. Tidak mengangguk atau pun menggeleng. 


"Asal kamu tahu saja ya May, seorang laki-laki bisa dikatakan baik pada wanita, jika dia bisa bersikap sopan. Sopan dalam artian yang sesungguhnya. Menghormati dan juga mengahargai. Kalau yang aku lihat, Irvan itu tidak bisa menghormati wanita apalagi menghargai. Lihat saja tingkahnya, setiap ada wanita yang lewat dihadapannya, selalu digodanya. Dia bahkan berani menggamit tangan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Aku lihat itu dengan mata kepalaku sendiri May. Coba kamu pikir, apa dia itu baik " Maya kembali terdiam sambil menahan tangisnya. 


"Menjadi baik itu mudah May. Asal kita senantiasa istiqomah dijalan Allah, Insya Allah, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Kalau kita mau berbuat baik dengan cara yang baik. Aku kan sudah pernah bilang padamu kalau laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim itu dilarang bermesra-mesraan layaknya suami istri. Itu dosa May. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu malah lebih memilih Irvan ketimbang aku, sahabatmu sejak kecil." 

''Coba kalau seandainya saja kamu ikuti kata-kataku. Jangan pernah berhubungan dengan Irvan, pasti kejadiannya tak akan seperti ini. Dan coba kalau kamu memegang prinsip bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim itu tidak boleh bersentuhan, maka akan lain ceritanya. Aku yakin kamu tak akan mau dekat-dekat dengan Irvan. Karena pasti kamu akan mencari laki-laki yang tetap menjaga kesuciannya. Dan bukan dengan cara pacaran, tapi menikah." 


Dan sekarang kamu lebih memilih kenikmatan yang semu itu, maka nikmatilah hasilnya. Seharusnya kamu tidak boleh marah ataupun kesal kalau Irvan itu bergandengan dengan wanita lain. Apa yang menjadi alasanmu untuk marah. 

" Apa karena kamu sudah merasa memiliki Irvan sebagai kekasihmu." 

Kamu dan wanita yang digandeng Irvan itu tak ada bedanya May. Kalian sama-sama wanita yang bukan muhrim dengan Irvan. Dan seharusnya yang marah itu adalah orang tuamu karena Irvan sudah seenaknya merebut hatimu dari mereka. 

"Cobalah May, untuk bisa membuka pikiranmu. Masih banyak hal yang bisa kamu kerjakan selain memikirkan Irvan. Dan masih banyak laki-laki yang lebih baik dari Irvan. Coba kamu jaga kesucian dirimu, agar kelak kamu pun bisa mendapatkan pasangan hidup yang juga menjaga kesucian dirinya. Ingat May, pasangan hidup kita adalah cerminan diri kita. Kalau kita baik, maka Allah akan mengkaruniakan kita pasangan hidup yang baik pula. Tapi kalau kita buruk dan tidak bisa menjaga kesucian diri kita, maka siap-siap saja mendapatkan pasangan yang serupa." 

''Wanita sholehah itu ibarat sebuah benda yang dijual di toko dan dipajang di ruang kacanya. Yang tidak bisa disentuh oleh siapapun kecuali orang yang akan membelinya. Tapi kalau wanita yang hanya menuruti hawa nafsunya, dia ibarat sebuah benda yang diobral di kaki lima yang siapa saja bisa memeganggnya tanpa harus membelinya. Kamu tinggal pilih May, mau menjadi wanita yang pertama atau yang kedua" Maya menangis tersedu-sedu mendengar pernyataan Aulia barusan. 


Dia benar-benar menyesal telah mengabaikan nasehat sahabat kecilnya itu. Mulai saat itu dia berjanji tak akan lagi berhubungan dengan Irvan dan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi wanita sholehah yang tadi Aulia katakan.Perbincangan kali ini diwarnai dengan perasaan lega antara Aulia dan juga Maya. 

* * * 

Bersambung....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar