Minggu, 31 Maret 2013

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 10

~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~

Bag (10)

Dilanjut lagi....

Dikedai Evergreen sore itu nampak sibuk sekali.Lilis dan Vika terlihat sibuk merapikan meja dan sebagainya karena kedai tersebut baru saja dibuat rapat oleh beberapa dosen tidak saja kalangan mahasiswa tapi juga para dosen seringkali memanfaatkan kedai Evergreen untuk acara pertemuan.Setting kedai yg lesehan dan dikelilingi pohon bambu yg sengaja ditanam dipinggir kedai menambah nyaman suasana.Sementara itu pohon asparagus dalam pot membelah lesehan sebagai hijabnya untuk memisahkan antara pengunjung putra dan putri.Kedai Evergreen tak menerima bagi muda mudi yg ingin berduaan dikedai kecuali bagi mereka yg telah berkeluarga.
Civitas akademika khususnya dari Universitas Brawijaya seringkali memilih kedai Evergreen karena memang suasana yg asri dan alami sebagai tempat diskusi hingga penyampaian materi kuliah oleh seorang dosen.Mereka bisa berdiskusi sambil menikmati jus buah organik yg segar tak hanya itu mereka juga bisa memesan tahu telur dan gorengan diwarung sebelah untuk dinikmati di kedai dan yg terpenting bagi mereka adalah kedai tersebut telah dilengkapi dg hot spot.Sehingga mereka bisa berlama lama surfing internetan dg laptop sembari menikmati jus buah dikedai.


Sebuah toyota New Alphard tepat berhenti didepan kedai.Seorang gadis cantik bergamis panjang warna biru dg kerudung yg berwarna biru muda keluar dari mobil tersebut.


"Assalamualaikum.Selamat datang..."sapa Lilis ramah.


"Waalaikumsalam"gadis itu menjawabnya lirih dg segaris senyum dibibirnya.Lilis memerhatikan mata gadis itu sembab.Lilis coba menebak dalam hati bahwa pengunjungnya itu baru saja menangis.
"Silahkan duduk,Mbak.Mbak ingin menikmati apa?"



"Oh,terima kasih.Saya hanya ingin membeli 2 buah melon.Masih adakan?"


"Oh,masih ada,Mbak"Lilis segera meminta Vika untuk mengambilkan 2 buah melon.


"Ayah saya sering kesini.Beliau biasanya membeli 2 buah melon dan satu buket mawar merah."


"Oh,ya? Benarkah? Siapa ya?"Lilis nampak sedang coba mengingat ingat semua pelanggan kedai tapi karena banyaknya pelanggan,Lilis kesulitan menemukan ayah Yg dimaksud gadis itu.


"Biasanya Ayah saya diantar Pak Ridwan sopir taxi biru langganan Ayah"gadis itu menambahkan keterangan.
"Subhanallah! Pak Burhan ya? Pengusaha properti?! Ya! Ya! Kalau Pak Burhan memang sering kesini,Mbak! Tiap akhir pekan sekali beliau selalu membeli 2 buah melon dan 2 buket mawar"akhirnya Lilis menemukan kecocokan dg Ayah yg dimaksud gadis itu.


"Bukan 2 tapi Ayah saya hanya membeli 1 buket mawar"


"Iya,benar Mbak.Tiap akhir pekan,kedai kami memberikan bonus 1 buket bumga bagi yg setiap pelanggan yg membelikan bunga untuk diberikan pada istri atau Ibu jadi meski Ayah Mbak membeli satu tapi mendapat 2 buket mawar"


"Oh! Lho tapi Ayah hanya memberi satu buket bunga kepada saya lalu satu buket bunga untuk siapa?"


"Pak Burhan pernah bilang akan memberikan buket bunga itu untuk istrinya! Jadi satu untuk Mbak satu lagi untuk Ibu.Tapi... Mbak kok sampai ggak tahu ya?!


"Astaghfirullah! Ibu saya telah meninggal,Mbak.Apa mungkin..."perempuan itu tak meneruskan kalimatnya.Ia coba memikirkan sesuatu "Apa benar Ayah saya bilang begitu?"


"Iya,Mbak.Beliau menceritakan bahwa istrinya itu senang sekali menanam mawar dihalaman rumah tapi Ayah Mbak sama sekali tak pernah memberikan setangkai bunga mawar pun untuk Ibu.Untuk itu,sekarang Pak Burhan ingin menebusnya begitulah yg pernah dikatakan oleh Pak Burhan.Apa mungkin mawar itu dibawa ke..."


"Iya! Itu sangat mungkin jika Ayah sedang rindu,Ayah memang sering mengunjungi makam Ibu.Ibu telah meninggal setahun yg lalu di Tanah suci saat menunaikan ibadah haji.Ayah sangat tertekan kehilangan Ibu"
Gadis itu diam sejenak lalu mengusap air yg mengambang dimatanya dg selembar tissue ditangannya.


"Sekarang Ayah dirawat di RS.Dr.Saiful Anwar Malang.Beliau terkena serangan stroke ringan mungkin karena terlalu banyak memikirkan Ibu.Setiap akhir pekan Ayah memang sering membeli buah melon dan bunga mawar untuk saya karena itulah giliran saya sekarang yg membelikan buah melon untuk beliau."


"Semoga Pak Burhan lekas sembuh,Mbak"kata Lilis sambil menyerahkan tas berisi 2 buah melon dan 1 buket bunga mawar merah setelah menerimanya gadis itu langsung bergegas kembali kemobilnya dan segera meninggalkan kedai.
Selisih sekian detik kemudian datangnya Faris dg motornya.Faris hanya dapat sekilas melihat gadis itu sedang memasuki mobilnya.


"Tadi siapa,Lis?"


"Oh,itu Mas putri Pak Burhan.Ia beli melon dan bunga untuk Ayahnya yg sedang sakit."


"Sakit?! Pak Burhan sakit?! Inalillahiwaina ilahirajiun.Pak Burhan sakit apa,Lis?"


"Katanya sih stroke ringan sekarang masih dirawat di RS.Dr.Saiful Anwar."


"Stroke ringan?!"


Lilis juga iku tersentak kaget.Lilis hanya mengangguk pelan tapi dg tetap menjaga pandangan.


"Baiklah.Besok aku akan menjenguk Pak Burhan."


Belum tuntas keterkejutan Faris tiba2 sebuah motor matic diparkir disebelah motor Faris.Faris lebih terkejut lagi saat sipengendara membuka helmnya.


"Chessa!"


Chessa melangkah anggun dari motornya gamis panjangnya berkelebat tersapu angin.Faris memerhatikan terus perubahan yg tiba2 pada diri Chessa terutama pada kerudung merah yg dikenakan Chessa seketika Faris tersadar jika kerudung yg dipakai Chessa itu sama persis dg kerudung yg dipakai gadis yg pernah Faris temui dimasjid Ketawanggede.Apakah kerudung itu milik gadis yg sama? Apakah gadis yg dimasjid itu sebenarnya adalah Chessa? Faris berkata dalam hati.Ah,tidak mungkin Chessa dulu tak pernah memakai kerudung!


"Assalamualaikum,"Chessa memberi salam
Faris belum sempat menjawabnya tiba2 Laila datang tergopoh-gopoh setengah berlari, "Mas Faris! Mila kecelakaan,Mas! Mila Mas!"


"Apa?! Mika?! Mila kenapa?!"


"Mila kecelakaan,Mas! Sekarang di RS.Dr.Saiful Anwar! Cepat kesana,Mas!"


Seketika seisi kedai langsumg tersentak mendengar kabar dari Laika yg tak lain adalah teman satu pesantren mahasiswa dg Mila.


"Ayo cepat sekarang kita kesana! Chess,tolong kamu boncengan dg Laila.Lis,hubungi Mahardiansyah! Tutup saja kedainya!"


Faris langsung menyalakan motornya dan segera melesat sementara Chessa dan Laila mengikuti dibelakangnya.Motor mereka berlari dg kecepatan tinggi menyalip beberapa kendaraan.Terkadang terjebak kemacetan karena sore hari umumnya orang pulang dari kantor.Tetapi mereka cukup lihai untuk melintas di sela2 yg kosong diantara kendaraan yg berlarian.


Mereka masuk ketempat parkir di RS.Dr.Saiful Anwar bersamaan dg datangnya Mobil Toyota New Alphard yg dikendarai putri Pak Burhan.Faris memasuki bagian parkir khusus roda 2 sementara mobil tersebut dibagian parkir mobil.Faris tak memperhatikannya,ia segera berlari menuju ruang UGD dan bertanya pada seorang perawat.Merekapun akhirnya menemukan tempat dimana Mila mendapat penanganan.Sayangnya,mereka tak diijinkan masuk mereka ber3 nampak gelisah bahkan Chessa menangis tersedu.Laila coba menenangkannya.
Sementara Faris berjalan mondar mandir didepan pintu ruang operasi.Gelisah menunggu seseorang keluar dari pintu dan memberi keterangan tentang Mila.Lalu bertanya tentang kecelakaan yg menimpa Mila pada orang2 yg membawa Mila kerumah sakit ternyata motor Mila tidak menabrak atau ditabrak kendaraan lain.Ia terjatuh dg sendirinya entah mengantuk atau pingsan memang Mila yg memiliki gejala darah rendah beberapa kali sering jatuh pingsan.


*Bersambung....

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 9

~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~

Bag (9)

Siapa kiranya yg berkerudung merah yuk kita baca aja.....

Faris menatap bulan yg temaran diujung langit.Ia tak menjawab pertanyaan Mahardiansyah.
"Jawab pertanyaanku,Ris! Apa kamu sudah mencintai perempuan lain?"

"Entahlah,Har.Aku awam soal mencintai perempuan tapi terus terang selama ini ada seorang gadis yg sering kali berkelebat dalam pikiranku.Aku merasa aneh saat mengingatnya"

"Siapa dia?" Mahardiansyah memotongnya dg sebuah pertanyaan.


"Itulah,Har.Aku sendiri tak tahu apapun tentangnya" Faris diam dan nampak kebingungan bagaimana menjelaskannya.Faris tetap diam dan menunggu reaksi dari Mahardiansyah tapi Mahardiansyah juga terdiam.


"Aku bertemu dg nya dimasjid sekitar 3tahun yg lalu saat itu aku sedang menyapu halaman serambi masjid sepertinya ketika itu ia mahasiswa baru.Ia rajin sekali kemasjid mungkin karena dikosnya ia kesulitan mencari teman untuk diajak shalat berjamaah.Setiap setelah jamaah shalat ia selalu membaca Al Qur'an aku tak pernah memerhatikan wajahnya karena kami sama2 menunduk jika kebetulan kami berpapasan.Aku hanya mengenali warna kerudungnya.Ia sering memakai kerudung yg berwarna merah!


"Satu hari,tatapan mata kami bertemu tanpa sengaja itupun hanya sekilas kami langsung menundukan pandangan saat itu selepas shalat ashar,aku sedang membersihkan halaman masjid mungkin karena wudhunya batal jadi terpaksa ia harus melepas mukenanya dan mengambil air wudhu.Kebetulan saat itu ada seorang nenek masuk ke dalam masjid dari awal aku curiga pada nenek itu,diam2 aku mengawasi gerak gerik nenek tua yg mencurigakan itu.Ia melihat kesekeliling masjid aku pura2 tak memerhatikannya ada sebuah mukena diatas sajadah tiba2 nenek itu mengemasi mukena tersebut dan memasukannya kedalam tas mukena.Aku tahu betul,mukena itu adalah milik gadis yg sedang berwudhu tersebut saat nenek itu hendak keluar dari masjid,aku langsung mencegahnya.


"sebentar,nek.."

"Tapi nenek itu pura2 tidak mendengar dan langsung bergegas ingin meninggalkan masjid.Aku pun langsung menghampirinya saat nenek itu hendl mendekati gerbang pintu luar masjid.


"Maaf,Nek! Mukena yg Nenek bawa milik siapa?"


"Ini mukena saya!"Nenek tersebut menjawabnya dg membentak.


"Allah Maha Tahu,Nek! Saya tahu itu bukan mukena Nenek.Sebaiknya Nenek kembalikan saja jika Nenek minta baik2 pada kami,Insya Allah kami akan memberi sebuah mukena untuk Nenek tapi tolong mukena yg Nenek bawa ini dikembalikan!"kataku setengah emosi.


"Nenek itu malah sewot dan melirikku dg penuh benci.Saat itulah,gadis itu muncul dari tempat wudhu.Rupanya dia mendengar percakapan kami sembari mebenahi letak kerudungnya.Saat itulah aku merasakan dadaku berdesir lembut ada sesuatu yg sangat indah yg tiba2 menyusup direlung hatiku.Perasaanku melambung bulir air wudhu yg menitik dari wajah gadis itu membuat wajahnya kian bercahaya matanya berbinar dan bercelak hitam digaris tepi kelopak matanya yg membuatku tersihir membatu untuk beberapa saat.Senyumannya seketika meredakan amarahku yg hendak meledak tapi cepat2 aku menundukan pandanganku sembari beristighfar berkali-kali.


"Ada apa,ya?"


"Aku masih membatu saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya tapi aku coba secepatnya menetralisir keadaan.
"Eh,ini Mbak.Nenek ini tadi mengambil mukena milik Mbak!"kataku kemudian.
"Benarkah?"


"Nggak! Ini mukena saya!" Nenek itu masih ngeyel.


"Baiklah,saya lihat dulu ya mungkin mukena saya masih ada didalam masjid.
Kemudian ia setengah berlari masuk kedalam,tak lama kemudian ia kembali menemui kami.
"Mukenanya masih ada didalam masjid sepertinya ini hanya kesalahan kecil.


"Aku seperti ditampar mendengar perkataan gadis itu.Aku benar2 yakin bahwa nenek itu telah mencuri mukena miliknya tapi ia malah berdiplomasi.


"Tapi,Mbak..."


"Gadis itu hanya mengangguk sekail.Seolah ingin meyakinkan perkataannya tadi lalu Nenek itupun pergi.Tinggal aku yg saat itu penuh tanda tanya,aku tatap mata gadis itu dalam2 rasanya ingin sekali marah padanya kenapa ia harus berdiplomasi melindungi nenek itu seperti itu? Tapi ia buru2 ia menundukan pandangannya lalu tersenyum sambil bilang"AFWAN" Sebelum akhinya ia berpaling & masuk ke dalam masjid.
Ia mengambil sebuah mukena dari dalam almari masjid.Setelah selesai shalat sunnah lisyukril wudhu,ia membaca Al Qur'an hingga menjelang Magrib.


"Itu hari terakhir aku berjumpa dengannya sampai hari ini aku tak pernah melihatnya lagi dimasjid.Awalnya aku memang marah padanya tapi akhirnya aku menyadari bahwa apa yg dilakukan gadis itu adalah keinginannya untuk bersedekah meski ia tahu betul mukenanya telah dicuri tapi ia malah mengiklaskannya dg cara berdiplomasi kemudian hatinya membuat dadaku berdebar setiap aku teringat kejadian itu semacam ada kerinduan yg mendamaikan ada perasaan unik yg tak bisa kujelaskan,Har!


"Karena itulah,sejak hari itu aku berusaha melupakan wajah gadis itu sehingga kini wajahnya sedikit terlupa olehku meski wajahnya samar kuingat tapi getaran didada ini pasti akan terjadi manakala suatu saat nanti kami bertemu kembali semoga Allah melindungiku dari penyakit hati dan hal2 yg buruk jika memang aku jatuh cinta kepadanya semoga Allah menjatuh cintakan aku pada wanita yg selalu jatuh cinta kepadaNya bukan jatuh cinta karena keindahan raga melainkan karena pesma kebaikan yg slalu ia jaga.Semoga hati ini slalu terjaga dalam kebaikan"


Faris mengakhiri penuturannya dg hela nafas panjangnya saat Mahardiansyah hendak mengomentarinya,Faris buru2 memotongnya.


"Tapi,Har... Aku tak pernah menvonis aku jatuh cinta atau semacamnya kepadanya,aku tak sempat memikirkan perasaan yg seperti itu.Kamu tahu sendiri aku lebih fokus untuk segera berhaji."


Mahardiansyah tak segera menanggapi,Ia menunggu Faris menyelesaikan penjelasannya tapi Faris hanya diam.
"Baiklah,Ris! Aku akan coba jelaskan pada Mila semoga dia mengerti aku juga tak berhak memaksamu untuk menikahi adikku."


Lalu ke2 nya diam,memandang angin yg menari hingga menggetarkan pucuk2 pohon cemara.Sementara itu,sepasang kunang2 berjingkat diantara semak2.Tubuhnyja menyala terang kuning kehijauan terbang rendah disela2 pohon cemara.Tingkah mereka sangat indah


Sedikit bisa mengobati perasaan didalam dada Faris yg sedang berkecamuk.Rasa bersalah yg telah mengecewakan sahabat terbaiknya tapi ia juga tak bisa memaksakan diri untuk mencintai Mila sementara Faris telah berjanji dalam hati untuk mempersatukan Ferdian dan Mila kelak.


Begitu juga Mahardiansyah ia tak mungkin memaksakan keinginannya untuk memilih Faris sebagai suami adiknya.Bagaimanapun Faris berhak memilih siapa yg berhak menjadi pendamping hidupnya nanti tapi Mahardiansyah juga bingung harus dg cara apa menjelaskan semuanya pada Mila.


Keduanya tetap terdiam sebelum akhirnya Faris menepuk pundak kiri Mahardiansyah, "Afwan,Sobat"
Mahardiansyah hanya tersenyum tipis.


*Bersambung...

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 8


~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~



Bag(8)



Semakin seru.....



Sementara itu,disebuah kamar kos.Ada 2 orang gadis sedang bercanda sesekali terdengar gelak tawa yg pecah dalam kamar itu.



"Ah,Mbak Mila bisa saja.Chesa kan jadi malu"kata salah satu gadis itu dg manja sembari memutar-mutar tubuhnya didepan cermin.Gamis panjangnya pun mengembang sering tergerai rambut panjangnya yg indah.
"Mana mungkin Mas Faris mencintai Chessa?"



"Sangat mungkin,Chess! Selama ini Mas Faris selalu memerhatikanmu yg pertama kali ia tanyakan saat ia ke kedai sore hari adalah kamu,Chess!"



"Mbak Mila cemburu ya?"



"Ih,nggak lah! Siapa yg cemburu?!"



"Tapi kok muka Mbak Mila jadi merah?! He....he..."



Seketika Mila langsung menutup mukanya dg bantal,gelak tawapun kembali pecah lalu Chessa mendekdp manja tubuh Mila dari belakang.Mereka bersenandung lirih sambil melenggang kekanan dan kekiri.



"Biar Chessa sisir rambut Mbak Mila ya? Kusut banget! Kebanyakan pake kerudung sih! Sampai lupa nyisir rambut kalau sering pakai kerudung juga harus rajin2 nyisir rambut dong,Mbak!"



Mila pun menuruti kemauan Chessa.Chessa langsung membawa Mila duduk didepan cermin lalu Chessa mengambil sebuah sisir rambut dari laci kemudian menyisir rambut Mila dg perlahan.Rambut Mila yg sedikit ikal mulai tertata rapi kembali.Hingga terbentuklah kecantikan yg tergambar jelas dicermin.



"Tuh kan! Mbak Mila terlihat cuantik banget! Huh! Chessa sampai minder!"



"Bisa saja kamu,Chess! Jelas kamu yg lebih cantik dari Mbak.Mbak nggak pandai merawat diri sepertimu."
"Tapi Mbak mencintai Mas Faris,kan?"



"Astaghfirullahal'adzim.Bicara apa kamu,Chess! Mas Faris itu teman kakaknya Mbak,jadi Mas Faris itu seperti kakak Mbak sendiri.



"Bener nih? Nggak bohong? Kalau gitu biar Chessa saja yg mencintai Mas Faris.Boleh nggak,Mbak?"



Mila diam dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah jendela dimana sebuah vas bunga berisi garberra berwarna kuning tertata rapi atas meja dekat jendela Mila menata kembali garberra tersebut.Angin malam menyibak rambutnya bulan tak sempurna tersaput awan dilangit Chessa mendekati Mila.



"Afwan,Mbak.Meski Mbak nggak cerita pada Chessa,tapi Chessa tahu kalau Mbak Mila diam2 mencintai Mas Faris jujur Chessa juga simpati pada Mas Faris tapi mungkin hanya sekedar simpati biasa saya kagum pada Mas Faris yg penuh semangat dan optimis dalam menjalani hidup.Chessa dapat belajar banyak dari Mas Faris tapi mungkin simpati itu hanya sekedar simpati biasa bukan cinta terlalu buru2 jika Chessa menyebut cinta tapi Chessa sangat setuju jika Mbak Mila nantinya menikah dg Mas Faris..."Chessa tak meneruskan kata2nya.Ia melihat mata Mila yg mulai basah akhirnya Mila menangis sesenggukan Chessa memeluk erat Mila.



"Mbak memang sangat mencintai Mas Faris,Chess"lirih Mila dalam dekapan Chessa.



"Iya,Mbak.Chessa tahu itu Chessa akan bantu Mbak."sahut Chessa dg airmata yg mulai tumpah.
Seketika Mila langsung melepaskan pelukanya dan menatap Chessa dalam2 dg airmata yg masih berlingan.



"Tak perlu,Chess! Jangan melakukan tindakan bodoh!"Hanya Allah yg berhak atas jodoh atau tidaknya kami"kata Mila meyakinkan.



Chessa hanya mengangguk Chessa melihat air yg mengambang dimata Mila lalu Chessa kembali memeluk Mila,Dada Mila bergemuruh Mila tak mengira Chessa bisa memahami perasaan yg selama ini ia pendam.Mila berpikir saat itulah saat yg tepat untuk meluapkan tentang perasaannya pada Faris
Mila pun mulai becerita sejak pertama kali kakaknya Mahardiansyah memperkenalnya dg Faris,Mila langsung menaruh simpati pada Faris lalu menceritakan kebaikan2 Faris saat Mila membutuhkan pertolongan.Bagaimana Faris tergeletak dirumah sakit lantaran gejala sakit Typus,Milalah yg seringkali menjenguknya juga tentang brownies coklat yg sengaja ia buat untuk Faris.



Menjelang separo malam,Mila dan Chessa masih bercerita banyak hal.



"Oh ya,Chess ada sesuatu yg Mbak ingin berikan untukmu"



"Apa Mbak?"tanya Chessa penasaran sementara Mila melompat dari ranjang menuju almari pakaiannya.Mila mengambil sesuatu dari dalam almari.



"Ini adalah kerudung yg Mbak paling sering pakai dulu karena ribet cara makainya,Mbak jarang memakainya sekarang Mbak harap kamu mau memakainya"



"Wah! Indah sekali,Mbak?! Warna merah marun warna kesukaan Chessa!"



"Coba sini.Mbak akan beritahu cara memakainya"



Chessa mendekat kemudian Mila memakaikan kerudung merah yg lebar itu pada Chessa.
"Memang sedikit ribet harus dililitkan lebih dahulu melingkar kepundak hingga menutupi hampir seluruh tangan lalu dijepit dg bros,Nah selesai!"



Chessa langsung berlari kearah cermin.Ia perhatikan dg seksama kerudungnya,Ia putar tubuhnya kekanan kekiri lalu tersenyum pada Mila.



"Kamu terlihat anggun sekali memakai kerudung itu,Chess!"



"Terima kasih,Mbak.Chessa akan memakai kerudung ini terima kasih juga telah menemani Chessa seharian jalan2 sampai Chessa juga boleh bubuk disini."



"Iya,sama2.Kapan pun Chessa boleh kesini"



Mila dan Chessa yg telah lelah karena hampir seharian penuh berkeliling dipasar besar Malang,membeli gamis panjang dan kerudung yg cocok untuk Chessa akhirnya mereka memutuskan untuk segera merapikan kamar dan langsung tidur sementara itu Mila mengambil air wudhu dan shalat 2 rakaat sunnah kemudian membaca Al Qur'an hingga matanya tak sanggup lagi menahan kantuk.Mila pun tertidur dalam balutan mukena putih diatas sajadahnya.



Bersambung..

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 7


~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~



Bag(7)



Dilanjut yuk.....



Menjelang separo malam,Faris dan Mahardiansyah masih diasyikkan oleh perbincangan diberanda vila mereka.2 cangkir kopi telah mereka habiskan sementara Ustadz Fauzan dan yg lain telah beristirahat agar sepertiga malam nanti dapat qiyamul lail bersama.Dari balik jaket tebal mereka berdua berlindung dari dingin yg menghujam.



"Jadi kamu masih semangat ya,Ris ingin segera berhaji muda?"



"Iya,Har.Kamu tahu sendiri sejak aku kuliah disini dan berteman denganmu aku telah menyimpan keinginan itu tepatnya sejak kelas 3 SMA.Aku ingin meneruskan niatan ayah yg telah meninggal dunia saat hendak pergi haji.Rencananya,ayah berhaji bersama Ibu saat itu,ayah semangat sekali untuk berhaji sering kali ia berdogeng tentang Makkah dan Madinah lengkap dg cerita sejarah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail meski hanya berdasar buku tapi ayah mendongeng dg sangat menarik menjelang sepekan keberangkatan tiba2 ayah sakit kondisi fisik ayah yg telah renta membuatnya lemah,ayah meninggal.Sejak saat itulah,aku ber Azzam akan berhaji selagi masih muda.



"Kamu kan juga tahu sendiri,Har.Aku mati-matian kerja sejak awal kuliah dulu.Siang dan malam selain aku harus membiayai kuliahku sendiri dan ke 2 adikku,aku juga harus menyisihkan uang untuk ONH nanti semakin hari Azzam itu semakin kuat.Terlebih,hampir setiap hari aku memutar film dokumenter tentang Makkah,Ka'bah,Masjidil Haram,Madinah dg keajaiban2 yg Allah karuniakan,membuatku semakin ingin untuk segera berhaji.Aku selalu menangis saat mendengar kalimah talbiyah dikumandangkan"



Faris terdiam,tiba2 matanya basah semakin dingin terasa saat ingin menyentuh airmata dipipinya,lalu Mahardiansyah memeluk sahabat yg selayak saudara itu.



"Semoga Allah memberi keberkahan pada hidupmu,Ris.Semoga Allah memudahkan jalanmu untuk segera berhaji"



"Amiin"



"Lalu bagaimana dg kabar adikku,Mila,Ris?"



"Alhamdulillah.Insya Allah,Mila baik2 saja.Sekarang mereka sedikit aku jauhkan agar sedikit meredam jebakan2 Virus Merah Jambu.Caranya?"



"Sebentar,Ris! Mereka? Siapa maksudmu mereka?"



"Ya,Mila dan Ferdian! Kamu sendirikan yg bilang ditelepon kemarin bahwa mereka saling jatuh cinta.Sehingga Mila ingin segera menikah sementara Ferdian belum siap terutama kesiapan materi.Lha,sekarang aku sedang membantu Ferdian untuk menyiapkan"



"Astafirullahaladzim! Yang aku maksud kemaren bukan Ferdian,Ris! Tapi kau,Ris!"



"Apa?! Aku?! Aku?!" Faris terperajat hingga ia tak mampu meloloskan kata2 dari mulutnya lalu mereka beristiqfar bersama.



"Jadi lelaki yg kamu maksud kemaren adalah..."



Mahardiansyah hanya mengangguk sekali lalu berkata, "Mila diam2 mencintaimu,Ris karenanya ia ingin segera menikah sedangkan aku tahu kamu tak ingin menikah sebelum berhaji,kan? Makanya aku ingin Mila konsen dulu pada kuliahnnya"



Faris tak berkata apa2 mulutnya membentuk hurup O.



"Lalu apa menurutmu Ferdian mencintai Mila?"



"Iya,Har.Tapi... Sebentar dulu,Har! Kenapa harus aku? Mila itu seperti adikku sendiri,Har! Bahkan,selama ini aku tak menangkap yg mencurigakan dari sikap Mila.Ia biasa2 saja tuh.Nggak ada yg aneh!"



"Jelas saja kamu nggak bisa merasakan,lha wong hanya ada Makkah dimatamu! Lagipula,sebenarnya ia sering membuat brownies coklat untukmu tapi kamu hanya memakannya sedikit selebihnya malah kamu berikan kepada Ferdi dan yg lain terkadang Mila kecewa tapi ia terus saja membuat brownies"



Faris tertegun sejenak



"Afwan,Har.Aku suka sekali dg brownies buatan adikmu karena saudaraku yg dimasjid juga banyak jadi aku harus membaginya rata agar semuanya bisa merasakan brownies itu"



"Tadi kamu bilang Ferdian..."



"Iya,Har.Ferdi memang mencintai Mila.Ferdi sering bercerita padaku tentang perasaannya kepada Mila.Aku pikir,Ferdianlah yg kamu maksud lelaki yg akan menikah dg Mila makanya aku sengaja sedikit menjauhkan mereka"



"Dengan cara apa?"



Kemudian Faris menjelaskan panjang lebar tentang jasa pengambilan sampah yg telah ia rintis bersama Ferdian.



"Sementara ini aku dan Ferdian sendiri yg menangani program Town Clean dan Care jadi aku dan Ferdian tak lagi dikedai kecuali saat kedai hendak buka dan tutup.Program Town Clean dan Care ini sudah berjalan sejak 3hari yg lalu.Tanggapan masyarakat cukup baik sekarang lebih dari 100 rumah yg menjadi anggota program ini dan jumlah pelanggan terus bertambah jadi kami harus menambah personil nanti setelah berjalan sebulan aku akan menyerahkan sepenuhnya program ini pada Ferdian.



Aku yakin jika setahun program ini berjalan dg baik,maka Maisyah yg Ferdian miliki telah cukup untuk meminang Mila.



"Aku sangat percaya dg Ferdian.Ia teman terbaikku setelah kamu,Har.Makanya aku sangat setuju jika Ferdian nantinya bersama Mila tetapi jika Ferdian dibiarkan terus bertemu Mila dikedai aku khawatir terjadi hal2 yg kurang baik untuk itu aku sengaja mengajak Ferdian untuk program Town Clean dan Clear ini"



"Tapi dugaanmu salah,Ris! Kamulah yg Mila cintai bukan Ferdian!"



"Ah,itu soal gampang,Har! Nanti kamu yg coba jelaskan pada Mila tentang ini aku yakin Mila bisa menerima Ferdian."



"Apa menurutmu semudah itu?!"



"Iya,kenapa tidak?"



"Entahlah,Ris.Tapi Mila sangat mencintaimu,Ris!"



"Ah,itu hanya soal waktu,Har!"



Mereka lalu berdiam sejenak memandang bunga2 bougenvile merah muda yg berguguran karena angin telah menamparnya.



"Apa kamu telah mencintai perempuan lain,Ris?"



Faris tersentak kaget,Diam.Hanya menghela nafas panjang.



"Benarkah kamu telah mencintai perempuan lain,Ris?"



Faris masih terdiam



*Bersambung..

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 6


~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~



(Bag 6)



Lanjut ke bagian 6 yaa…. 



Petang itu,sinar matahari terasa hangat senja perpisahan yg ditawarkanya mampu menyihir sebagian bumi menjadi hamparan emas hingga tak ternilai harganya.Kawasan burung dg formasi unik,nampak seakan bermigrasi formasi mirip huruf V dg ujung lancip didepan mirip mata panah konon formasi tersebut memang sengaja dibentuk oleh jamaah burung untuk berbagi kuat arus angin.Kepakan burung yg berada didepan memberikan arus angin bagi burung yg ada dibelakang namun agak serong sedikit.Begitu seterusnya untuk itu,seorang burung pemimpin haruslah kuat dalam mengantarkan saudara2 nya yg lain sedangkan jamaah dibelakangnya bertugas memberi yel2 dan genderang semangat.






Sementara itu,angin masih bertingkah rimgan diranting pepohonan Villa yg bergaya khas Indonesia tersebut terletak ditepian Songgoriti,salah satu kawasan Villa di Batu Malang.Villa yg tidak ingin terjebak dalam satu prinsip dominasi-misal unsur Jawa,Sunda,Thionghoa ataupun minimalis-itu nampak berdiri anggun diatas tanah seluas 4.000 m2.Sementara luas rumahnya sendiri adalah 400 m2.Sebuah Vila yg mengusung konsep menyatu dg alam tersebut mengombinasikan unsur kayu,batu,air dan bunga sebagai cerminan nuasa alam tropis khas Indonesia.
Sedangkan foyer yg membelah 2 ruangan yakni ruangan depan dan tengah adalah sebuah taman sederhana.Ada kolam kecil yg ditumbuhi teratai diatasnya sementara bagian tengah kolam terdapat air mancur yg gemericik jernih berjatuhan diatas daun teratai.Di sekeliling kolam tumbuh pula bunga krisan putih seakan menambah keanggunan vila tersebut yg memang didominasi warna putih mulai dari tembok,granit,gorden,sofa,aksesoris ruangan hingga bunga2 nya semuanya berwarna putih adapun bagian atas taman tersebut dari plastik sehingga sinar matahari dapat leluasa masuk kedalamnya.






Vila cantik ini milik Faris dan Mahardiansyah.Baru 2 tahun Vila ini berdiri.Mereka sendirilah yg mendesain vila yg tak disewakan ini.Vila ini sengaja dibangun untuk tempat berlibur bagi mereka baik keluarga Faris/keluarga Mahardiansyah Karena hanya Mahardiansyah saja yg telah berkeluarga maka sementara ini hanya Mahardiansyahlah yg paling sering memanfaatkan vila ini disetiap akhir pekannya.
Sebuah halaqah kecil sedang berlangsung dalam vila tersebut diawali dg shalat ashar berjamaah dan pembacaan doa Al-Ma'tsurat bersama kemudian dilanjutkan dg kajian keislaman oleh Ustadz Fauzan dari Singosari Malang.Berteman teh hangat dari daun pepermint yg menyegarkan dan beralaskan permadani tebal,Halaqahpun berlangsung.






Tampak Faris dan Mahardiansyah bergabung dalam pertemuan kecil tersebut.Mabit Halaqah yg dihadiri oleh 6 orang itu berlangsung setiap pekan sekali dg mengagendakan mabit setiap bulannya divila tersebut mereka menginap semalam divila itu.Profesi mereka pun bermacam macam.Pak Hadi seorang pengajar di MAN I Malang,Pak Rasyid seorang dosen di UNISMA,Pak Salahuddin Ali yg seorang petani Apel yg sukses hingga Pak Nanang yg pensiun PNS.Mereka tak hanya ikut halaqah bulanan divila tersebut tapi juga mengikuti mabit halaqah pekanan ditempat yg berbeda.






Kini matahari telah menghilang dibalik bukht tapi semburat warna jingganya masih memaksakan diri untuk menerobos ranting dan daunan pepohonan yg menghujam kelangit.Halaqah pun berakhir seiring tergelincirnya senja.Hanya Mutaba'ah Amalan Yaumiyah dan percakapan kecil yg sedang berlangsung.
"Bagaimana.Pak Faris apa masih semangat nih untuk ke Makkah?"tanya Ustadz Fauzan sembari membenarkan letak kaca matanya.






"Insya allah! Mohon doa restunya,Ustadz!"jawab Faris penuh keyakinan.



Haji! Bagi Faris,tak ada yg mengobsesi dirinya selain untuk segera menunaikan Rukun Islam yg ke 5 tersebut dadanya selalu gemuruh rindu begitu kata Makkah itu atau Haji tersebut.Airmatanya selalu meleleh manakala ia mendengar seorang mengucapkan Labbaik Allahumma Labbaik seketika itu angannya langsung berhambur dan terbang menuju kota Makkah dan membayangkan dirinya sedang berada diantara ribuan manusia yg sedang Thawaf mengelilingi Ka'bah.






Sementara awal kuliah S1 dulu Faris memang telah ber azzam untuk segera memenuhi panggilan berhaji.Ia pun mengumpulkan pundi2 bekal dari hasil jerih payahnya.Mulai dari jaga parkir,loper koran sore,pencuci piring di kedai Pujasera,menjual buah dan sayuran,bisnis pembuatan Bokashi dan media tanam hingga mendirikan kedai Evergreen bersama Mahardiansyah dan beberapa lini bisnis yg dibentuknya bersama rekan dosen yg lain.
Tak mudah bagi Faris melewati semua ini ada banyak halangan yg harus Faris tempuh.Apapun bentuk pekerjaannya asal halal dan menguntungkan maka Faris akan melakoninya agar bekal berhaji segera terkumpul.Padahal Faris juga membiayai ke 2 adik perempuannya yg masih duduk diperguruan tinggi selain membiayai kuliah S2 nya sendiri tapi Azzam telah terpahat dalam hati Faris agar niatan berhaji bersama Ibunya tercinta segera terwujud meski harus tertatih dan seringkali terjungkal dalan mengumpulkan bekal Ongkos Naik Haji(ONH).






Bagi Faris,haji jangan menunggu tua karena Ibadah Haji membutuhkan kondisi fisik yg prima jika kondisi badan baik maka ibadah2 sunah selama berhaji selain syarat dan rukun haji pun dapat terjalani dg optimal bukankah Allah akan melipatgandakan pahala menjadi 100.000 bagi seorang yg bersimpuh di Masjiddil Haram? Karena itulah,Faris ingin segera berhaji mumpung masih muda bahkan keinginannya berhaji jauh melebihi keinginannya untuk menikah.Ia ingin haji dulu bersama Ibudannya baru menikah.






"Jika memang demikian,selanjutnya yg perlu dibenahi kembali adalah niat,Ris.Dibutuhkan Azzam yg kuat dan ketulusan niatan hati dalam berhaji,meski ada 15 tempat yg mustajab di Makkah tapi tidak boleh niat ingin ke Makkah hanya sekadar dapat berdoa ditempat2 tersebut karena ingin doa mustajab melainkan haji adalah rangkaian perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq sebagaimana yg dijelaskan Dr.Ali Syariati,bahwa ibadah haji menggambarkan kepulangan kita kepada Allah.






Pulang kepada Allah menunjukan suatu gerakan yg pasti menuju kesempurnaan,kebaikan,keindahan,kekuatan,pengetahuan,nilai2 dan fakta2.Berhaji harus benar2 karena Allah semata karena tak ada yg pantas balasan bagi haji yg mabrur kecuali surga baginya.



"Namun,kamu jangan sampai melewatkan untuk berdoa di 15 tempat tersebut sebagaimana sabda Rasulullah riwayat Imam At Thabrani "Tidak ada tempat diatas bumi ini 15 tempat yg mustajab untuk berdoa kecuali hanya di Makkah yakni didalam Ka'bah,Hajar Aswad,Rukun Yamani,dibawah talang mas(Mizab),Hijir Ismail,Multazam,dibelakang makam Ibrahim,sumur Zamzam,Masy'aril Haram,diatas bukit Sofa,diatas bukit Marwah,ditempatWukuf Arafah,ketika jumroh Aqabah,ketika jumrah Wustha,dan saat jumrah Ula." jelas Ustadz Fauzan panjang lebar.






Kemudian Ustadz Fauzan menambahkan kembali "Mumpung masih muda,memang harus segera berhaji saya berhaji ketika mendekati umur 40 tahun saya menyesal mengapa tidak berhaji saja saat berumur 27 sepertimu,Ris.Jika masih muda,pastilah saya tidak mudah letih saat memperbanyak amalan sunnah ketika berhaji.
Berdoalah sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa "Ya Tuhan kami jadikanlah kami ber 2 orang yg tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yg tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukanlah kepada kami cara2 dan tempat2 ibadah haji kami dan terimalah taubat kami.Sesungguhnya Engkaulah yg Maha penerima taubat lagi Maha penyayang"






Penjelasan panjang lebar dari Ustadz Fauzan membuat dada Faris semakin gemuruh penuh rindu ingin segera berhaji.Ia pejamkan matanya tak disadarinya air matanya menitik dipipi terbayang bagaimana ia bersama ibunya melangsungkan kewajiban berhaji penuh khusyuk.



*Bersambung..
 

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 5

~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~
(Bag 5)

Hemmmm….. lanjut baca di bagian 5 nyok…

Senandung nasyid telah terdengar syahdu diluar halaman gedung Samantha Krida.Terlihat beberapa mahasiswa saling bercengkrama didepan gedung ada pula yg sedang menikmati jajanan buku dari stand yg disediakan panitia didepan dan samping gedung tapi sebagian besar mahasiswa berada dalam gedung karena sebentar lagi Talk Show Manajamen Cinta segera dimulai beberapa pot yg berisi pohon bambu hias nampak berjajar tapi membelah antara peserta putra dan putri.
Untuk sementara,terlihat jumlah putri 2 kali lipat dari putra hingga membuat gedung yg biasa sebagai tempat berlangsungnya wisuda dan dies natalis kampus tersebut terasa jadi lautan jilbab.
Talk Show tersebut menghadirkan Ust.Salim Abdullah dari Yogyakarta dan Ust.Anif Sirsaeba dari semarang sebagai pembicara yg didampingi seorang motivator lokal dari Malang sendiri.


"Mbak Mila,apa nggak apa2 nih,Chessa pakai ginian? Kayaknya semua yg hadir pakaiannya longgar2 sedangkan Chessa?"tanya Chessa ragu2 pada Mila.Nampak mereka berjalan dg sedikit tergesa.Mila terpaksa menghentikan langkahnya dan memandang Chessa.
"Nggak apa2 kok,Chess! Toh,kamu telah berjilbab dan menutup aurat"
"Tapi,Mbak.Pakaian Chessa kan agak ketat kerudung Chessa juga kecil"


"Baiklah kalau kamu merasa nggak nyaman dg pakaianmu,kebetulan Mbak membawa satu gamis panjang dan kerudung lebar dalam tas Mbak.Kamu bisa memakainya"
"Oh,ya?! Ya,Mbak.Chessa mau!"


"Baiklah.Ayo sekarang kita kemasjid kampus kamu nanti bisa ganti dikamar mandinya tapi cepat,ya! Acaranya sudah dimulai tuh!"
Karena letak gedung Samantha Krida berdekatan dg masjid kampus Raden Fatah UNIBRAW,suara tepuk tangan dan gema takbir pun terdengar membahana.Pertanda Talk Show telah dimulai dan itu membuat Mila cemas.Mila tak ingin kehilangan waktu sedetikpun untuk menyaksikan 2 Ustadz favoritnya sedang berbagi ilmu.Mila juga telah membawa buku"Terapi Virus Merah Jambu" karya Ustadz Anif Sirsaeba dan "Bersenandung Diatas Awan Cinta" karya Ustadz Salim Abdulah.Ia berharap akan mendapatkan tanda tangan dari mereka.

Cepat Chess... Cepat... Cepat... Lirih Mila dalam hati sambil menangkupkan kedua tangan didekat bibirnya yg tak henti seperti berkomat kamit.Mila yg menunggunya dihalaman masjid kampus nampak cemas,sementara Chessa sedang mengganti pakaian.Ia berjalan mondar-mandir kesana kemari.Mila cemas sekali.Sesekali matanya tertuju dalam Gedung Samantha Krida.
Beberapa menit kemudian,Chessa keluar dari masjid.Chessa terlihat anggun sekali dg gamis panjang warna merah marun dg kerudung putih bermotif bunga yg jatuh melambai sepinggang.


"Wah,kamu cantik sekali,Chess!"
"Makasiiih... Chesa merasa jadi Fatimah Az-Zahra!"
"Ayo,Chess! Cepat kita masuk kedalam gedung" Mila menarik tangan Chessa dan mereka pun setengah berlari menuju gedung Samantha krida.
Mereka segera mencari tempat yg kosong tentu yg tersisa dibagian belakang.Mila tidak mau,Mila segera menarik tangan Chessa kembali untuk diajaknya kebagian tengah.


Permisi... Afwan... Permisi... Kata Mila tersenyum setiap melewati peserta Talk Show.Akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk yg nyaris bagian terdepan meski sedikit berdesakan,tapi Mila senang bisa melihat jelas 2 Ustadz favoritnya mata Mila berbinar penuh semangat sedangkan Chessa sedang asyik merapikan letak kerudungnya.
"Mas Faris mana ya,Mbak?"bisik Chessa


"Ssstt... Nanti saja bicaranya!"isyarat Mila dg jari telunjuk dibibirnya
Chessa menuruti permimtaan Mila.Kedua kini hanyut dalam suasana Talk Show yg penuh semangat terlebih Ustadz Anif Sirsaeba yg juga seorang motivator berhasil memprograganda peserta Talk Show dg baik gayanya yg blak-blakan,humoris dan ceplas-ceplos telah menyihir seluruh peserta Talk Show.Kedua pembicara tersebut selalu menyerukan untuk segera menikah dini agar dampak Virus Merah Jambu tidaklah negatif.Talk Show pun terlihat semarak dan hidup terutama bagi Mila.
Meski awalnya Chessa malas untuk berangkat karena bukanlah Faris yg menemaninya tetapi Mila.Padahal setelah Chessa menerima undangan untuk hadir di Talk Shom dari Faris,Ia tlah berkhayal akan bersama seharian dg Faris.
Karena Farislah yg meminta Chessa untuk menemaninya tapi khayalannya tersebut buyar saat melihat langsung Talk Show.Chessa menganggap Faris telah mengkhianati janji mulanya Chessa kecewa dg sikap Faris,tapi tidak lagi setelah melihat acara tersebut namun sesekali mata Chessa berlarian kesana kemari berharap menemukan sosok yg paling ia kagumi diantara puluhan peserta Talk Show tapi Chessa tetap gagal.Chessa tak menemukan Faris.
Seusai acara,Mila mengantar Chessa pulang.
"Afwan ya,Chess.Mas Faris nggak bisa temanimu hari ini"

"Ah,nggak apa2 kok,Mbak.Awalnya memang Chessa berpikir macam2.Chessa pikir bisa bersamaan seharian dan bergandengan tangan dg Mas Faris tapi setelah tahu dari penjelasan Ustadz tadi,jika yg begituan itu nggak boleh"
Mila tersenyum mendengar penuturan Chessa.


"Oh ya,Chess! Sebenarnya rencananya Mas Faris juga datang diacara ini tetapi pagi2 Ia harus berangkat ke Cangar untuk menemui kakakku disana.Ada pesanan buah dan bunga yg sangat banyak buat minggu depan jadi harus dipersiapkan mulai sekarang lagipula,Mas Faris ada pertemuan rutin nanti sore disana"


"Tapi kenapa Mas Faris bilang ingin Chessa yg menemani?"


"Oh,jika Mas Faris nggak bilang gitu,Chessa pasti akan malas datang tapi kamu nggak marahkan,tadi Mbak yg jemput bukan Mas Faris?"


"Awalnya sih iya,Mbak.Tapi sekarang nggak lagi Chessa senang sekali ada banyak ilmu baru buat Chessa apalagi sebentar lagi Chessa mau masuk kuliah.Chessa harus pinter2 jaga pergaulan!"
Mila tersenyum sembari menatap Chessa yg benar2 anggun dg kerudung putihnya.


"Eh,Mbak.Kenapa ya Chessa semakin nyaman dg memakai gamis ini? Damai sekali rasanya kok kalau Chessa rasa dg memakai gamis dan jilbab,Chessa merasa selalu ingin tertunduk dan menjaga pandangan ada apanya ya Mbak.Chessa kok merasa aneh,tapi indah..."


"Itu artinya ada tanda2 cinta dari Allah,Allah Yubaarik Fik,Chessa! Segera saja kauyakinkan dirimu untuk terus memakainya"kata Mila lirih
"Insya Allah,Mbak,"jawab Chessa.Acara Talk Show tlah selesai.
Sementara hangat sinar matahari sore itu menemani langkah2 kecil mereka untuk kembali pulang.


Bersambung...