Kamis, 13 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 5

KARYA SARAH AISHA 

BAG 5 


Setelah orang tuanya datang, Aulia segera dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Di rumah sakit, dokter menyarankan agar Aulia banyak-banyak istirahat karena jantungnya tidak kuat jika harus dipaksa mengikuti aktivitas dia yang begitu banyak sebagai mahasiswa sekaligus aktivis LDK di kampusnya. 


Setelah dirasa cukup, Aulia dan keluarganya pamit dan langsung keluar dari ruang dokter. Di dalam langkah yang dipijakkan Aulia, ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya yang tiba-tiba saja menyusup kedalam dadanya. Ada sedikit kegamangan akan kehidupannya di masa mendatang. Tiba-tiba saja harapannya akan sebuah kehidupan yang lebih baik di masa depan hilang terseret arus kehidupan seiring dengan pernyataan dokter beberapa saat yang lalu. Dan seketika saja bayang-bayang Firman kembali hadir dalam episode kehidupannya ini. Jantungnya semakin sakit dan kepalanya kembali pusing. Dia merasakan tubuhnya melayang dan sangat ringan. Tanpa terasa tubuhnya jatuh pingsan. Dia mendengar Bapak dan Ibunya langsung memanggil namanya tatkala dia terjatuh. Namun rasa sakit dan pusing itu mengalahkan semuanya. Tubuhnya semakin lemas. Kemudian dia tidak tahu lagi apa yang terjadi. 

* * * 



Ketika dia membuka mata, samar-samar dia melihat wajah ibunya. 

"Kamu sudah sadar Lia," Tanya Bu Wardah retoris. 

Aulia tak menjawab. Dia masih meyakinkan dirinya bahwa Allah masih memberikan kesempatan padanya untuk menghirup udara segar di dunia ini. 
Hari-hari terus berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat, tempat peraduannya, sudah tak lagi terhitung berapa kali hal itu terjadi sejak kejadian Aulia pingsan di rumah sakit. 
Semakin hari kondisi Aulia semakin lemah. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah dan vacum dari semua kegiatan di luar kampusnya. Sementara itu jantungnya pun semakin lemah dan setiap waktu dia merasakan sakit yang teramat sangat di jantungnya. Dia merasa kondisinya sudah tidak sehat lagi seperti dulu. 


Kini dia lebih sering melaksanakan shalat tahajud di sepertiga malam sambil mengeluarkan air matanya seusai itu untuk bermunajat, meminta kesabaran atas segala cobaan yang tengah menghampirinya kini. Dan biasanya, dia akan menuliskan seluruh isi hatinya kala itu dalam buku hariannya. 


Namun akhir-akhir ini, entah mengapa perasaannya pada Firman yang selama ini terpendam, tiba-tiba saja begitu kuat merasuki jiwanya. Dia sungguh tak bisa melupakan Firman, sosok yang sangat diharapkannya. Karena semua hal itu, dia jadi tidak nafsu makan, akibatnya tubuhnya kini menjadi kurus.Penyakitnya saat ini bukan hanya lemah jantung saja, namun juga perasaan terpendamnya terhadap Firman pun kini sudah menjadi penyakit baru yang bersarang di kedalaman hatinya, yang semakin hari semakin menggerogoti tubuhnya. Penyakit yang sebenarnya dia tahu obatnya, namun karena perasaan itu begitu kuat tertanam disana, maka sulit sekali rasanya untuk diobati. 

* * * 


Pagi ini Aulia tengah merenung di sisi jendela kamar. Wajahnya memancarkan raut wajah yang hampa. Dia hanya bisa pasrah menghadapi segala cobaan ini. 
Dari luar kamar, tampak Nuning, kakaknya masuk kedalam kamarnya sambil mengucapkan salam dan menyebut namanya. 


"Assalamu'alaikum. Aulia..." 

"Eh...wa'alaikumussa­lam...," Jawab Aulia sedikit terkejut. Dia memalingkan wajahnya ke arah Nuning. Sesekali dia membetulkan posisi duduknya. 


"Kamu sedang apa," Tanya Nuning sembari memposisikan dirinya berdiri di samping tempat Aulia duduk. 

"Sarapan yuk," Ajak Nuning tanpa mendengar lagi jawaban dari Aulia atas pertanyaannya yang pertama tadi. 
Aulia menggeleng. 


"Aku nggak lapar Mbak. Aku ingin disini saja." Jawab Aulia singkat. Seperti tak ada gairah. 

"Tapi Li, kamu harus makan. Sudah beberapa hari ini kata Ibu dan Bapak, kamu susah sekali makan. Makanlah Li! Jangan kamu turutkan keinginan yang tidak baik itu." Bujuk Nuning lembut. 
Aulia menghela nafasnya dan membuang pandangannya keluar jendela. Entah apa yang dirasakannya kini. 


"Tapi aku sungguh tidak lapar Mbak. Orang yang tidak lapar jika dipaksa untuk makan, itu akan tidak ikhlas makannya nanti. Mbak mengerti kan." Ucap Aulia berusaha mengelak. 


"Bukan masalah ikhlas atau tidak Li. Tapi ini masalah kesehatanmu. Semenjak pulang dari rumah sakit, kamu sudah tidak memikirkan lagi kesehatanmu. Itu artinya kamu menzhalimi dirimu sendiri. Ingat Li, Allah tidak suka dengan orang-orang yang menzhalimi diri orang lain, terlebih lagi terhadap diri sendiri. Kalau kamu tidak lagi memikirkan kesehatanmu dan tidak mau makan dengan alasan kamu tidak lapar, itu sama saja dengan kamu menzhalimi dirimu sendiri. Mungkin saat ini kamu tidak lapar dan kamu tidak ingin makan, tapi tubuhmu itu kan butuh makan Li. Untuk bisa terus hidup dan berkembang" 
Aulia hanya terdiam sambil sesekali menghela nafasnya. Mungkin dia tengah memikirkan perkataan kakaknya barusan. 


"Li, kehidupan seorang manusia itu terdiri dari dua unsur. Unsur lahiriyah dan unsur batiniyah. Dan kedua unsur itu harus selalu seiring sejalan agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara seimbang. Jika saat ini unsur batiniyahmu mengatakan kamu tidak lapar dan tidak mau makan, hal itu tidak berlaku untuk unsur lahiriyahmu. Dia butuh makan. Dia butuh minum. Dia butuh dikasihi dan butuh diperhatikan. Agar dia bisa terus hidup dan bisa menjalankan amanah yang telah Allah berikan. Kamu harus bisa memikirkan hal itu dan berusaha menyeimbangkan keduanya. Kamu tidak boleh egois karena kamulah si pemilik unsur lahiriyah dan batiniyah itu. Kalau bukan kamu yang memperhatikan dan merawat keduanya, siapa lagi Li. Mbak, Atau Bapak dan Ibu.Bukan kami Li, tapi kamu. Kamu yang harus merawat keduanya. Mbak yakin kamu mengerti apa yang Mbak maksud." Sambung Nuning berusaha memberikan semangat dan motivasi untuk adiknya itu. 


Lagi-lagi Aulia hanya diam seribu bahasa. Tapi kini raut wajahnya lebih serius mendengarkan kakaknya itu berbicara. Perlahan Aulia memalingkan wajahnya pada Nuning kemudian dia mengeluarkan sepatah kata, 


"Mbak...." 

"Apa aku masih punya masa depan," Tanya Aulia begitu lirih terdengar. Nuning terkejut mendengar pertanyaan adiknya itu. Dia tak langsung bisa menjawab. Dia merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. Mulutnya tercekak. Perlahan matanya basah. Dipandanginya wajah Aulia yang begitu pucat dan kurus. 

"Punya Li. Kamu masih punya masa depan. Setiap orang pasti mempunyai masa depan dalam hidupnya. Apa kamu mengkhawatirkan hal itu" 

Aulia mengangguk. 

"Aku adalah wanita yang tidak berdaya Mbak. Keadaanku di dunia ini hanya menjadi beban bagi orang lain. Penyakit yang bersarang di tubuhku ini telah membuat aku tak bisa berbuat banyak dalam hidupku." Ucap Aulia penuh kepasrahan. 

"Aulia! Kamu jangan bicara seperti itu. Allah tidak mungkin menciptakan hamba-Nya dengan kesia-siaan dalam hidupnya. Pasti ada hikmah dibalik semua itu. Dan Mbak yakin kamu bisa mengambil hikmah itu. Aulia yang Mbak kenal dulu tidak pantang menyerah. Dia selalu bisa menjadi cahaya bagi sekelilingnya. Dia amat tegar dan tidak mudah rapuh. Tapi sekarang, mana Aulia yang dulu.Mbak tidak melihat lagi sorot mata penuh ketegaran dan semangat dari matamu. Ayo Aulia, Bangkit Kembalikan lagi semangat hidupmu. Mbak akan selalu membantumu." Ucap Nuning terus memberikan semangat untuk Aulia. 


"Lalu apa yang harus aku lakukan Mbak, Apa yang bisa diperbuat oleh seorang yang penyakitan seperti Άkυ. Bahkan..., Aulia menghentikan kata-katanya." 

"Bahkan apa Li." Tanya Nuning penasaran. 

"Bahkan..... untuk mencintai dan dicintai oleh seorang ikhwan sholeh saja aku sudah tak berani berharap. Lalu apa yang harus aku lak......" 

Belum sempat Aulia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian jantungnya. Dia tak tahan lagi dan akhirnya jatuh pingsan. Penyebab dia pingsan seperti ini bukan hanya karena jantungnya yang sakit, tapi juga karena rasa cintanya yang semakin mendalam pada Firman yang tak juga bisa hilang dari hatinya. 

* * * 


Ketika Aulia membuka matanya, dia tersadar kalau saat ini dia tengah berada di rumah sakit. Tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya begitu pusing. Dia merasakan tangannya seperti ada yang menggenggam. 


"Kamu sudah sadar saya♌g," 
Suara lembut Bu Wardah sedikit memberikan ketenangan pada Aulia. Dia hanya mengangguk tanpa bersuara. Bola matanya hanya diarahkan ke atap kamar rumah sakit. Dia merasakan kehampaan saat ini. 


Bu Wardah keluar untuk memberitahukan hal ini pada dokter. Tak lama berselang, dia datang bersama seorang dokter wanita berkerudung. Dokter itu segera memeriksa keadaan Aulia. Setelah selesai meemeriksa keadaan Aulia, dia bilang bahwa jantungnya sangat lemah. Oleh karena itu, Aulia disarankan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Mereka setuju. Aulia pun dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Namun kondisinya semakin lemah. Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, Aulia tak kunjung pulih. Malah justru kondisinya semakin memprihatinkan. Tubuhnya menjadi kurus. Wajahnya pucat dan terdapat semacam lingkaran hitam di kedua matanya. 


Beberapa temannya di kampus dan di keorganisasiannya banyak yang menjenguk dan memberikan semangat baru untuknya. Namun kedatangan teman-temannya itu tidak membawa pengaruh besar pada keadaannya. Kondisinya tetap tidak berubah. Malah justru semakin parah. Sejak tadi malam hingga menjelang zuhur ini, Aulia tidak membuka matanya meski sekejap saja. Keluarga yang senantiasa menungguinya sudah mulai cemas. Mereka pun berkonsultasi pada dokter yang menangani penyakit Aulia. 


"Bagaimana keadaannya dok." Bu Wardah segera menyerbu dokter berkerudung itu dengan pertanyaannya. 

"Sabar Bu," Tukas Nuning yang saat itu datang sendiri tanpa membawa suami dan anaknya. Dokter berkerudung yang bernama Rina itu diam sejenak sambil menatap satu per satu keluarga Aulia pada saat itu. 

"Kita tunggu beberapa saat lagi, kalau dia tak kunjung sadar juga, maka dia mengalami.....koma!" 


"Apa dok, Koma!!" Tanya Bu Wardah dan Nuning bersamaan dengan nada yang cukup tinggi. Pak Wahyu yang pada saat itu baru datang membeli makan terheran-heran mengapa istri dan anaknya itu begitu histeris. 
Dokter pun kembali menjelaskan apa yang tadi sudah ia jelaskan pada Bu Wardah dan Nuning. Setelah mendengar pernyataan dokter itu, Pak Wahyu, Bu Wardah, dan Nuning sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mereka menangis di depan kamar Aulia. Setelah itu dia menghubungi suaminya untuk mengabarkan hal ini. 


* * * 

Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar