Senin, 08 April 2013

KISAH SANG ABID (AHLI IBADAH) DAN WANITA PELACUR



~::* KISAH SANG ABID(AHLI IBADAH) DAN WANITA PELACUR *::~



Pada masa lampau ada seorang abid (ahli ibadah) dari kalangan bani israil tidak berlalu sedikitpun kecuali diisinya dg taqarub kepada Allah.Karena kesalehannya tersebut Allah slalu melindunginya,kemanapun ia pergi awan2 akan bergerak melindunginya dari sengatan sinar matahari sehingga badannya tidak kepanasan.

Suatu hari Allah mempertemukan seorang ahli ibadah dg seorang wanita pelacur.Saat melihat sang abid timbul dalam hati wanita pelacur ini keinginan untuk bertobat,ia mendekati abid ini dg harapan agar ia sudi memintakan ampun kepada Allah namun saat wanita pelacur itu mendekat timbul perasaan jijik dalam hati sang abid dg kata2 menyakitkan.Ia mengusir wanita pelacur itu untuk menjauh darinya,ia mrasa dirinya suci dan takut kesuciannya ternoda oleh seorang pelacur rendah.

Rasulullah menceritakan kisah ini bahwa Allah mengampuni seluruh dosa wani a pelacur itu dan mencabut keistimewaan sang abid serta membatalkan semua amal yg pernah dilakukannya,Allah pun menghinakan sampai seorang laki2 berani menginjak tengkuknya saat ia tengah bersujud ditempat tafakurnya.

Ibnu Atha'ilah dalam kitab hikam mengomentari kisah tersebut "Sesungguhnya kemaksiatan yg menimbulkan rasa rendah hati dan harapan (rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik dari pada taat yg membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan"

Semulia dan setinggi apapun derajat seseorang pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan oleh karena itu tidak pantas bagi kita menghina dan merendahkan orang karena kesalahan dan dosa2 yg pernah dilakukannya.Ketahuilah saat kita menghina dan merendahkan mereka sebenarnya saat itu pula kita tlah merendahkan dan menginakan diri kita sendiri.

Hakikatnya selain dg amal ibadah,Allah pun mengangkat derajat seorang karena dosa2nya.Bagaimana mungkin? Saat seorang berdosa dan menyesali dosa2 yg dilakukannya kemudian terus menerus meminta ampun kepada Allah,ia pun gigih menjauhi dosa serta menebus dosa2 tersebut dg kebaikan,yakinlah saat itu pula Allah akan mengangkat derajatnya


"Hai,orang2 yg beriman,bertobatlah kepada Allah dg tobat yg sebenar-benarnya,mudah-mud ahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kesurga yg mengalir dibawahnya sungai-sungai..."(Qs At Tahrim,66:8)

Oleh karena itu,jangan pernah menghinakan dan merendahkan orang lain karena kekurangan dan kemiskinannya apalagi sampai diketahui umum.Kita dianggap baik oleh orang,hakikatnya karena Allah masih menutupi aib2 kita ,jangan sampai Anugerah Allah ini kita khianati.Menurut Rasulullah saat kita gemar membuka aib orang lain Allah pun akan membuka aib dan kekurangan kita kepada orang lain.Nauzubillah !!!

Jadilah diri kita sebagai kuburan bagi aib orang lain. Saat mendengar aib saudara kita,segera kubur dan jangan pernah kita buka kecuali yg dibenarkan agama.

NIKMAT DAN SYUKUR


~::* NIKMAT DAN
SYUKUR *::~



Sebagai manusia kita harus menjadi hamba yg bersyukur.Apa aja yg harus kita syukuri? Nikmat Allah,itulah yg harus kita syukuri.Apa aja nikmat Allah itu? Sesungguhnya,nikmat Allah itu teramat banyak tidak berbilang sehingga mustahil bagi manusia untuk merinci dan mengitung jumlahnya."...Dan jika menghitung-hitung nikmat Allah,kamu tidak dapat menentukan jumlahnya"(Qs Al Nahl,16:18)

Kalau menghitungnya saja sudah tidak mungkin bagai mana kita dapat mensyukurinya? Allah mengetahui keterbatasan manusia oleh karena itu dalam lanjutan surat tersebut,(Qs Al Nahl,16:18) Dia menegaskan "Sesungguhnya,Allah benar2 maha pengampun lagi maha penyayang"

Tujuannya,manusia tidak berkecil hati dan berputus asa dalam usahanya mensyukuri nikmat2 tersebut.Karena begitu banyaknya nikmat,untuk lebih memudahkan para ulama membagi nikmat Allah menjadi 3 bagian:
♥♥ Nikmat hidup~ini adalah nikmat yg paling rendah tingkatannya.Nikmat ini diberikan secara gratis,tanpa usaha dan tanpa diminta diberikan pula kepada Hewan dan Tumbuhan,dilengkapi dg segala sesuatu yg penting demi kelanggengannya termasuk dipenuhinya kebutuhan makanan,minuman,pakaian dan tempat tinggal

♥♥ Nikmat kemerdekaan~Nikmat kedua terpenting dan lebih tinggi nilainya dibandingkan nikmat yg pertama.Nikmat ini hanya diberikan kepada manusia.Dg adanya kemerdekaan manusia memiliki kebebasan untuk memilih,melaksanakan apa yg diinginkannya dan menentukan arah hidupnya:jalan kebenaran/jalan kesesatan

♥♥ Nikmat Hidayah~Inilah nikmat tertinggi dan termulia dari nikmat2 sebelumnya sehingga Allah tidak menganugerahkan kepada sembarang orang.Nikmat ini hanya diberikan kepada orang2 terpilih dan yg paling pantas menerimanya.
"Barang siapa yg diberi petunjuk oleh Allah,dialah yg mendapat petunjuk dan barang siapa yg disesatkan Allah merekalah orang2 yg merugi"(Qs Al A'raf,7:178)

Oleh karena itu menurut Dr Imaduddin Abdurrahim manusia perlu membuktikan terlebih dahulu bahwa ia adalah orang yg pantas menerima nikmat yg ke 3 tersebut sehingga Allah berkenan memberikannya



Bagi seorang mukmin,ke 3 nikmat tersebut wajib kita syukuri kehadirannya sehingga ia termasuk kedalam golongan orang2 yg pandai bersyukur kepada Allah.Setidaknya ada 5 cara bersyukur:
~:: Menyakini bahwa segala sesuatu hanyalah milik Allah semata.Hati kita jangan mrasa memiliki/dimiliki apapun kecuali oleh Allah.apa yg kita punya hanya titipan yg suatu saat akan diambil oleh Allah

~:: Slalu memuji Allah dg ucapan Alhamdulillah saat mendapatkan nikmat.Imam jafar ash shadiq pernah ditanya tentang batas minimal orang yg bersyukur,ia pun menjawab,"Paling tidak orang tersebut akan memuji Allah atas sgala nikmat yg diperolehnya,baik itu nikmat keluarga maupun nikmat harta..."

~:: Manfaatkan nikmat yg ada sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.misal Allah menganugerahi kita mata,bukti syukur kita terhadap karunia mata adalah menggunakan mata untuk kebaikan.Ibnu Qudamah mengatakan"Mensyukuri nikmat mata dg menyembunyikan cacat saudaramu yg engkau liat,sedangkan mensyukuri telinga adalah dg menyembunyikan sgala kecacatan saudaramu yg telah engkau dengar"

~:: Berterima kasih kepada orang2 yg menjadi jalan nikmat dan kebaikan.Bukankah yg paling bersyukur kepada Allah adalah yg paling banyak berterima kasih kepada manusia? Dg kata lain,ahli syukur itu sangat tahu balas budi.Sabda Rasulullah "Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yg tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia"(Hr Ahmad)

~:: Menceritakan nikmat tersebut kepada orang lain tujuannya bukan untuk pamer melainkan agar orang ingat Kepada Allah.
"...Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya(dg bersyukur)"(Qs Adh Dhuha,93:11)

Semoga kita menjadi hamba2 yg mampu mensyukuri,Insya Allah.Dia berkenan membukakan pintu2 kebaikan bagi kita dan mengekalkan amal2 kebaikan kita sebagaimana diungkapkan Abu Hasan Al Nuri"Aku bersyukur bukan hanya sekedar membalas nikmat MU,aku bersyukur untuk menyatakan rasa terima kasihku kepada Mu,Aku slalu ingat hari2 ku yg penuh kenikmatan dari sisi Mu.Akhir dari sgala yg kekal atas orang yg bersyukur
Adalah mengingat Allah"

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI BAG 36 (TAMAT)

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI

BG 36

[♥] MUARA CINTA DI MASJID NABAWI [♥]

Kumulai menjalani hari2 ku dg semangat baru,semangat untuk bangkit dan sembuh dari kanker otak yg selama ini bersarang ditubuhku.Ammah,abah,abi dan Maryam selalu
menemaniku dan mendukungku.Ustadz Muhsin pun turut memberikan semangat untuk diriku,aku bahagia sekali menjalani hari2 ku dan aku pun yakin Muhammad selalu berdoa untuk kesembuhanku.Aku tak sabar menunggu hari pernikahanku.

Detik,menit,jam,hari serta bulan berlari menjauhi masa.Kini kondisi kesehatanku sudah jauh lebih baik dan hari pernikahanku dg Muhammad Musin semakin dekat.Tak terasa,aku telah menjalani terapi 6 bulan lamanya dan kini aku merasakan hasil yg baik dalam proses pengobatanku tersebut dan lusa adalah hari pernikahanku semua persiapan telah beres,undangan telah disebar,rangkaian bunga serta hiasan indah pun mulai terlihat diberbagai sudut pesantren.

Semua santri yg bertemu dg ku mengucapkan selamat dan meyakinkanku bahwa aku adalah wanita yg beruntung dapat menikah dg Muhammad Muhsin.

Mereka semua menceritakan kebaikan2 calon suamiku,aku semakin yakin bahwa sosok Muhammad Muhsin adalah sosok imam hidup yg sesuai dg harapanku.

***

Hari ini tepatnya 15 maret tahun 2010 aku melangsungkan pernikahanku dg Muhammad Muhsin.Seusai shalat subuh,kudengar seseorang mengetuk kamarku dirumah ammah Azhar.

Tok... Tok... Tok...

"Assalamu'alaikum,Nida..."

"Wa'alaikum salam..."

Ternyata itu adalah ammah Azhar,beliau menyerahkan gaun pengantin yg harus kupakai saat ijab qabul yg akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Aku pun mengenakan gaun pengantin itu dg penuh semangat,gaun pengantin indah berwarna putih berhiaskan manik2 berwarna merah muda dilengkapi dg jilbab merah muda yg menjulur panjang didadaku dilengkapi dg sepatu yg berwarna merah muda pula semuanya terlihat serasi,untaian bunga melati pun menghiasi jilbabku.Subhanallah,aku berdiri didepan kaca ditemani ammah Azhar.

"Kau sungguh cantik,Nida.Ammah sangat bahagia sekali hari ini.''

"Aku pun bahagia sekali,Ammah.Tapi..."

"Tapi apa,Nak? Apakah ada yg mengganggu pikiranmu?"

"Aku merindukan Ummi,andai ummi masih ada pasti ummi akan sangat bahagia sekali karena putrinya akan melangsungkan pernikahan."

Ammah pun menatapku dalam2,berusaha menenangkan hatiku.

"Nida,ammah tahu ammah tak akan pernah bisa menggantikan posisi ummimu karena ammah pun sangat menyayangimu,Nida.Sekarang kau hapus air matamu kau akan segera melangsungkan ijab qabul,ammah tak ingin kau memancarkan kesedihan saat ijab qabul nanti."

"Terima kasih ammah,aku sangat menyayangi ammah."

Tak lama,abi pun memanggilku untuk segera bersiap-siap.Seluruh tamu undangan telah hadir termasuk sahabatku Najmi,dia hadir bersama suaminya bahkan Aziz pun hadir dalam acara ijab qabul walau tak didampingi oleh Aisyah karena Aisyah telah meninggal 5 bulan yg lalu.Seluruh ulama agung dari penjuru negeri hadir semoga keberkahan Mu hadir dalam pernikahanku ini,ya Rabb.Ijab qabul antara aku dan Muhammad Muhsin dilaksanakan di Masjid Nabawi dipusat kota Madinah.

Abi dan ammah Azhar mendampingiku saat prosesi ijab qabul berlangsung lalu mahar pun dibayar,surat ar Rahman dibacakannya dg sangat tartil dan penuh penghayatan,air mataku menetes tak hanya aku,setiap insan yg menghadiri pernikahanku itu air matanya jatuh bercucuran dan akhirnya setelah kata "sah" terucap dari para saksi aku pun melinangkan air mata kembali karena kini aku telah halal untuk seorang yg sangat aku cintai.Ya...,diriku kini halal untuk Muhammad Muhsin.

Lalu Ustadz Muhsin pun naik ke atas mimbar dan memberi khutbah nikah,sebagaimana yg dilakukan Rasulullah saat pernikahan Fatimai az Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

"Assalamu'alaikum wa rah matullahi wa barakatuh."

"Semoga Allah menghimpun yg terserak dari keduanya.Memberkahi mereka dunia dan kiranya Allah meningkatnya kualitas keturunan mereka,menjadikannya pembuka pintu2 rahmat,sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat.

"Wasalammu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."

Lalu setelah selesai memberikan khutbah nikah,Ustadz Muhsin turun dari mimbar kemudian aku mendekat ke suamiku dan Muhammad pun mendekat ke arahku.Kucium tangannya,aku mencium tangan imam hidupku dg perasaan haru aku berkata pada Muhammad.

"Mari kita jalani hidup baru ini,semoga kita dapat saling menguatkan dalam keimanan dan ketakwaan dan saling melindungi dari perbuatan maksiat."

"Baiklah istriku,akan kugenggam erat tanganmu bersama kita arungi hidup ini untuk meraih cinta tertinggi dari Sang Rabbul Izzati." ucap suamiku padaku.

Lalu suamiku mencium kdningku,rasa haru ini tak bisa kubendung lagi air mataku tumpah,begitu pun dg air mata suamiku.Lalu aku mencium tangan abi dan ke 2 orang tua suamiku.Sungguh,aku merasakan kebahagiaan yg teramat sangat hari itu.Maha suci Engkau yg berkuasa atas segala sesuatu,ya Rabb.

Lalu aku dan suamiku memberikan sedikit wejangan untuk para undangan yg hadir khususnya bagi mereka yg belum melangsungkan pernikahan.Suamiku terlebih dahulu berdiri diatas mimbar dan memberikan wejangan untuk kaum pria.


"Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,"

"Bismillahirahmanir rahiim."

"Dengan menyebut nama Allah,penguasa alam raya beserta isinya.'

"Wahai sahabatku kaum pemuda yg kucintai atas nama Allah.Sungguh...,jagalah dirimu dari maksiat.Peliharalah pandanganmu dari suatu yg belum halal kau pandang,jagalah hatimu dari suatu noda beratasnamakan cinta,jagalah akalmu dari pikiran yg tak pantasnya dipikirkan,jagalah lisanmu dari menggunjing aib saudaramu,jagalah kakimu hingga tak pernah melangkah menuju tempat maksiat,jagalah telingamu hingga tak mendengar caci maki dan hinaan karena dg begitu hanya kebahagiaan abadilah yg kalian dapatkan.Kebahagiaan di dunia dg mendapatkan istri yg shalihah dan dimuliakan dimana pun tempatmu berpijak dan kehidupan di akherat dimana seluruh kenikmatan surga dapat kau rasakan.

"Semoga ini dapat memberikan manfaat dan sesungguhnya segala kebenaran hanya milik Allah.

"Wasalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."

Subhanallah...,sungguh indah tutur kata suamiku.Setelah turun dari mimbar suamiku menghampiriku.Setelah sampai dihadapanku disentuhnya keningku dan dibelailah kepalaku dan berkata sesuatu padaku.

"Adinda...,sekarang giliranmu,rangkailah kata seindah mawar,sehalus salju dan seharum kasturi.Nyatakan katamu dg hati agar didengarkan dg hati pula."

Bergetar aku mendengar penuturan suamiku,Indah sekali pernikahan ini ya Rabb,rasa kasih sayang benar2 terpancar hari ini.Aku memcintai suamiku,ya Rabb.

"Baiklah sayang,akan kulakukan sebaik mungkin.Terima kasih,kata2 mu membuatku bergetar,menjadikan semakin semangat untuk memberikan yg terbaik."

"Baiklah...,semoga berhasil,aku bahagia memiliki istri sepertimu.Kau sungguh istri yg shalihah."


"Begitu juga dg ku,sungguh anugerah dari Allah dapat memiliki suami sepertimu,sayang.Hanya keindahanlah yg aku rasakan saat ini.Keindahan berbalut rasa syukur yg amat mendalam."

Terlalu terbawa suasana,hingga akhirnya aku pun terhanyut dalam tangis lalu aku merasakan kelembutan tangan mendarat pipiku itu tangan suamiku menyeka air mataku dan menatapku sungguh tajam sekali.

"Sudah sayang,jangan menangis cepatlah naik keatas mimbar semuanya telah menunggumu.Aku disini selalu mengiringi langkahmu."

"Baiklah..."

Aku berjalan keatas mimbar dg penuh keyakinan.

"Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."

"Bismillahirahmanirahim..."

"Maha suci Allah pemilik ribuan cinta dan harapan,Maha suci Allah pemilik jutaan kasih dan senyuman,Maha suci Allah pemilik miliaran rindu dan kenangan.Dialah pemilik segala dialam raya ini."

"Wahai sahabat yg kumuliakan atas nama Allah dan Rasulullah.Sebagai seorang wanita jagalah akhlakmu,jagalah kehormatanmu,jagalah tutur katamu,jagalah kelembutan hatimu,jangan biarkan seseorang yg belum halal bagimu menyentuh tanganmu,menodai hatimu dan mengganggu pikiranmu.Serahkan semuanya hanya pada Nya,berusahalah menjadi yg terbaik niscaya kau akan dapatkan yg terbaik untuk hidupmu dan untuk agamamu,sesungguhnya dunia adalah perhiasaan dan perhiasaan yg paling indah adalah wanita yg shalihah dan kebenaran hanyalah milik Allah."

"Wasalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."

Akhirnya aku pun turun dari mimbar,acara ijab qabul pun sudah selesai dg ditutup sebuah doa.

Subhanallah...,kebahagiaanku semakin bertambah,saat tamu undangan menyampaikan rasa bahagianya atas pernikahanku dg Muhammad Muhsing.Alhamdu lillahi rabbil 'aalamiin,impianku terwujud karena dulu aku pernah bermimpi bahwa aku tak ingin melihat seorang pun bersedih atas pernikahanku dan kali ini kumelihat semuanya tersenyum tulus,indah dan ikhlas saat menghadiri pernikahanku.

**

2 bulan setelah pernikahanku.

Allah memberiku kesehatan yg sempurna,aku pun mengandung anak pertamaku dg Muhammad Muhsin dan tak lama setelah itu Maryam pun akan menikah.Maryam menikah dg Aziz,sungguh suatu kejadian hidup yg patut diambil hikmahnya,dan kami pun hidup bahagia diatas bumi Madinah dalam naungan Cinta Ilahi.

TAMAT.

NOVEL SUJUD CINTA DIMASJID NABAWI BAG 35

NOVEL SUJUD CINTA DI MASJID NABAWI


BG 35

[♥] MALAM YG PENUH MISTERI KEBAHAGIAAN [♥]

Seusai shalat Magrib berjamaah dimasjid,aku mendapati Maryam telah berada dirumah ammah dan abah Azhar.Rupanya Maryam menungguku dan sudah kuduga,Maryam pasti sangat bingung mengena
i kejadian tadi pagi dan bisa kupastikan kedatangannya saat ini kerumah ammah Azhar adalah untuk menanyakan mengapa aku tiba2 meninggalkan kediamannya pagi tadi tanpa alasan yg jelas.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam,akhirnya kau datang juga,Nida.Maryam telah lama menunggumu." ujar ammah.

Akhirnya,kami pun berbincang-bincang tapi sepertinya Maryam belum boleh mengetahui tentang perasaanku yg sebenarnya pada saudara kembarnya itu dan akhirnya aku kembali mengalihkan pembicaraan dg Maryam.

Lalu,kudengar seseorang mengetuk pintu rumah ammah.

"Sebentar Maryam,kulihat dulu siapa yg mengetuk pintu."

"Baiklah."

Kulihat dari jendela,sepertinya tamu yg berkunjung kerumah ammah dan abah Azhar lebih dari satu orang tapi aku tak bisa melihatnya dg jelas.Akhirnya kubuka pintu.

"Assalamu'alaikum..."

Sesosok pria memberikan salam kepadaku.

"Assalamu'alaikum,Nida."

Aku terperajat,tak mempercayai siapa yg berada dihadapanku itu.Hal ini kembali terjadi,denyut jantungku berirama tak menentu.Bagaimana tidak,seorang Ustadz agung kini berdiri dihadapanku terlebih lagi Ustadz tersebut adalah ayah kandung dari orang yg kucintai.Ya...,Ustadz Muhsin Abdul Jalil yg kini berada dihadapanku.Apakah ammah dan abah Azhar memberitahukan perasaanku yg sebenarnya pada Usadz Muhsin? Ya Rabb...,hati ini jadi tak menentu.

Dengan terbata-bata aku menjawab salam dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil.

"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..."

"Bolehkan aku masuk,Nida?" tanya Ustadz Muhsin.

Rasanya,tak seharusnya Ustadz Muhsin meminta izin kepadaku untuk memasuki rumah ini karena ini bukanlah kediamanku tapi tak lama kemudian ammah,abah dan abi hadir diruangan itu dan akhirnya abah Azhar membuka suara untuk mengizinkan Ustadz Muhsin masuk ke kediamannya.


Saat itu tubuhku masih kaku.Bagaimana tidak setelah Ustadz Muhsin masuk ada beberapa orang lain yg mengikutinya,entahlah siapa mereka semua tapi yg jelas aku tetap yakin bahwa Muhammad Muhsin ada diantara mereka.Dan ternyata memang benar,tamu terakhir yg masuk menundukkan wajahnya tersenyum padaju.Wajahnya sungguh meneduhkan.Rabbi...,diakah sosok yg selama ini hanya menjadi bayangam dalam hatiku? Sesegera mungkin kutundukkan pandanganku tak berani lagi aku menatap wajah itu


Setelah semuanya masuk,entah mengapa kaki ini masih sulit untuk digerakkan,terasa kaku,lidah ini pun kelu tak bisa ucapkan apa pun hingga akhirnya Maryam menghampiriku dan mengajakku duduk disebelahnya.

"Baiklah,sepertinya sudah bisa dimulai," ucap abah Azhar.

Dimulai? Apa yg harus dimulai? Keringat dinginku mulai bercucuran dan sepertinya wajahku pun kian memucat.Rabbi,aku berlindung pada Mu.Hatiku semakin yakin bahwa Ustadz Muhsin memang sudah mengetahui perasaanku pada putranya tapi aku juga masih tak mengerti maksud kehadiran Ustad Muhsin kemari.



"Assalamu'alaiku wa rahmatullahi wa barakatuh..."

Suara salam Ustadz Muhsin menggema diseluruh sudut ruangan.

"Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh..."

Seluruhnya yg hadir menjawab salam dg baik.

"Sebelumnya,saya ingin menyampaikan beberapa hal.Nida,boleh saya bertanya kepadamu?" tanya Ustadz Muhsin.

"Tentu saja,Ustadz.''

"Apa kau mengenal seorang pria yg duduk disampingku ini?"

Itu adalah pria yg tersenyum padaku tadi.Mungkin itu Muhammad Muhsin tapi mungkin juga tidak.

"Tidak,aku tak mengenalnya." jawabku pada Ustadz Muhsin.

"Sungguh?"

Sepertinya Ustadz Muhsin meyakinkanku akan jawaban yg kuutarakan tadi.

"Ya,sungguh aku tak mengenalnya,Ustadz."

"Baiklah,kalau begitu sekarang kulanjutkan dg pertanyaanku yg kedua.Bagaimana jika seorang yg belum kau kenal meminangmu untuk menjadi istrinya,apa kau bersedia?"

Aku tak tahu,jawaban apa yg harus kuberikan.Memang ada getaran halus dihatiku saat aku melihat sesosok pria yg duduk disamping Ustadz Muhsin tersebut tapi aku juga tak bisa memastikan apakah itu adalah Muhammad Muhsin ataukah bukan tapi kini kumulai meneguhkan pendirianku sesuai dg apa yg aku katakan kemarin pada ammah dan abah bahwasanya aku akan berusaha ikhlas dan ridha atas semua ketetapan Allah.Entah Muhammad Muhsin ataukah bukan jodohku nanti aku hanya akan berusaha meminimalisir harapanku untuk berjodoh dg dirinya dan menyerahkan urusan jodohku pada Allah.

"Nida,kau bisa menjawab pertanyaan yg saya ajukan tadi?"

Sepertinya aku terlalu lama berpikir hingga membuat Ustadz Muhsin terlalu lama menunggu jawabanku.

"Maaf Ustadz,terlalu lama menunggu jawabanku.Insya Allah akan kuterima,asalkan pria itu shalih dan dapat saling menguatkan dalam keimanan,saling menguatkan dalam ketakwaan dan saling melindungi untuk menjauhi maksiat dan tentunya abiku pun harus meridhainya sebagai pendamping hidupku."

"Lalu,bagaimana dg harapanmu untuk berjodoh dg insan yg telah ada dalam hatimu?"


"Aku rela mengorbankan cinta dalam hatiku pada seorang insan yg telah lama kucintai demi mengharapkan cinta dari Allah."

"Kau yakin dg jawabanmu?"

"Ya Ustadz,saya yakin."

"Sungguh?"

"Insya Allah.Saya yakin,Ustadz."

"Baiklah..."

Rabbi...,Ustadz Muhsin adalah Ustadz yg agung di Madinah jadi banyak orang Madinah yg meminta bantuan terhadap dirinya.Mungkin saja,pemuda yg ada disampingnya itu meminta bantuan kepada Ustadz Muhsin untuk meminangku menjadi istri pemuda tersebut.Sepertimya,aku harus belajar menghapus rasa cintaku terhadap Muhammad Muhsin.Aku harus mulai membuka hatiku untuk orang lain semoga kali ini kisah cintaku tak gagal seperti saat bersama Azhar dan Aziz,aamiin.

Meski ammah,abah,abi,Maryam dan beberapa orang lainnya berada diruangan tersebut tapi sepertinya aku hanya berada dg Ustadz Muhsin saja diruangan tersebut karena semuanya membisu tanpa suara.

"Jadi,kau bersedia menerima lamaran dari pemuda yg berada disampingku ini?"

Bismillah...,insya Allah diri ini ridha ya Rabb,semoga abi pun mengizinkannya dan merestuinya.

"Aku harus meminta izin pada abiku terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ustadz."

Aku menghampiri abi yg duduk tak jauh dari tempat dudukku,kucium tangannya.

"Abi,apakah abi merestui jika aku menikah dg pemuda yg berada disamping Ustadz Muhsin tersebut?" tanyaku pada abi.

"Tentu saja,Nak.Insya Allah,abi selalu merestuimu."

"Terima kasih,abi.Aku sangat menyayangi abi."

Setelah kupastikan bahwa abi pun merestuinya,aku kembali ke tempat dudukku semula dan berkata pada Ustadz Muhsin.

"Abi merestuinya,Ustadz.Aku yakin,abi selalu merestui yg terbaik untuk diriku jadi tak ada alasan untuk menolak pinangan dari pemuda yg berada disamping Ustadz."

"Alhamdulillah..."

Sepertinya semuanya bahagia termasuk abi tapi entah mengapa aku masih bingung.Sebenarnya siapa pemuda tersebut? Mengapa abi langsung merestui pemuda tersebut untuk menjadi pendamping hidupku dan apakah abi telah mengenalnya lalu ammah,abah pun turut bahagia padahal keduanya telah mengetahui bahwa aku sangat mencintai Muhamad Muhsin.


Maryam pun begitu,bahkan langsung memeluk diriku dan berkata bahwa dia bahagia sekali karena bisa selalu dekat dg diriku tapi dibalik kebingunganku saat ini terselip perasaan yg begitu bahagia padahal dg memutuskan menerima pinangan pemuda tersebut aku harus berusaha sepenuh jiwa untuk melupakan cintaku pada Muhammad,tak lama kemudian Ustadz Muhsin pun membuka pembicaraan.

"Saya telah bertanya pada Nida,kini saatnya saya pun harus bertanya pada pemuda yg hendak melamarnya.Nak,kau telah mendengar keputusan Nida dan orang tuanya mereka menerima lamaranmu.Apakah kau bahagia?"

''Tentu saja,aku sangat bahagia,abi." jawab pemuda tersebut.

Apa? Abi? Ada apa ini? Benarkah dia adalah...
Tak ingin berada pada posisi yg meragukan ini segera aku bertanya tentang identitas pemuda tersebut pada Ustadz Muhsin.

"Maaf Ustadz,bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan pada Ustadz?"

"Pertanyaan apakah yg akan kau ajukan,Nida?"

"Sebenarnya,siapa pemuda yg berada disamping Ustadz? Mengapa dia memanggil Ustadz dg sebutan Abi?"

"Apa salah,jika pemuda disampingku itu memanggilku dg sebutan abi? Bukankah dia adalah putraku?"

"Putra? Putra Ustadz?"

Entah...,aku pun masih bingung tak bisa kuungkapkan perasaanku saat ini.

"Kau masih belum mengerti,Nida?" jawab Ustadz Muhsin terhadapku.

"Ya...,aku masih bingung Ustadz."

Aneh,mengapa semuanya tersenyum diatas kebingunganku ini.

"Nida,kau boleh bertanya langsung pada pemuda yg disampingku ini." jawab Ustadz Muhsin padaku.

"Baiklah,Ustadz."

Demi menjawab rasa ingin tahuku itu,kuberanikan diriku untuk bertanya pada pemuda tersebut.Kutundukan wajahku,berusaha tak terlalu lama melihatnya sebab tak ingin hatiku ternoda sebelum ijab qabul diucapkan dalam pernikahanku.Bismillah...

"Maaf,siapa sebenarnya namamu? Mengapa kau memanggil Ustadz dg sebutan abi?" tanyaku pada pemuda tersebut.

"Aku memanggil Ustadz Muhsin Abdul Jalil dg sebutan abi karena beliau adalah ayah kandungku," jawab pemuda itu.


"Ayah kandung? Jadi kau adalah..."

"Ya,aku adalah Muhammad Muhsin saudara kembar Maryam Muhsin putra Ustadz Muhsin Abdul Jalil."

Subhanallah... Kini,aku merasakan kebahagiaan memenuhi dadaku,hingga sesak rasanya.Suasana haru mewarnai kediaman ammah dan abah Azhar.Langit pun cerah,sepoi udara malam itu sepertinya turut hadir untuk mengucapkan selamat pada diriku.Rabbi...,Kau mendengarkan doaku.Terima kasih,ya Allah.Akhirnya aku pun menceritakan kondisi kesehatanku yg sesungguhnya dan meminta Muhammad untuk bersabar menungguku hingga terapi kanker otakku usai kujalani dan Alhamdulillah semuanya setuju tanpa terkecuali dan akhirnya disepakati bahwa pernikahanku dg Muhammad Muhsin akan dilangsungkan setelah terapi air zamzam yg akan kujalani untuk mengobati kanker otakku.Alhamdulillah,semoga Allah memberikan kesembuhan yg sempuna padaku,aamiin.Dan aku pun mengajukan mahar surat ar Rahman dalam pernikahan kami nanti dan Alhamdulillah Muhammad menyetujuinya.



Nantikan bagian akhir...

NOVEL SUJUD CINTA DIMASJID NABAWI BAG 34

NOVEL SUJUD CINTA DIMASJID NABAWI

BAG 34

[♥] AKHIRNYA MENTARI KEMBALI BERSINAR [♥]

Hari ini adalah hari ke 2 aku berada di Ma'had Al Fathir ini tapi belum juga aku bertemu secara langsung.Aku memang ingin bertemu dg dirinya tapi aku tak ingin mendahului skenario Nya.

Tiba2,seseorang menepuk bahuku.

"Maryam..."

Kulihat sahabatku tersenyum riang,mungkin karena kondisiku mulai membaik saat ini...

"Nida...,bagaimana kabarmu saat ini? Kau sudah sehat?"

"Alhamdulillah,jauh lebih baik dari kemarin."

"Alhamdulillah,jika begitu keadaanmu.Sebenarnya,kau sakit apa? Mengapa bisa tak sadarkan diri seperti kemarin,sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu."

Rabb...,haruskah aku berkata yg sejujurnya pada Maryam bahwa aku sedang mengindap kanker stadium 3 tapi aku tak ingin semua orang yg kusayangi bersedia lantaran mengetahui penderitaanku saat ini.

"Nida,kau mau menceritakannya kepadaku?" tanya Maryam terhadapku.

"Maryam...,aku pasti akan menceritakan semuanya yg terjadi pada diriku tapi sepertinya ini bukanlah waktu yg tepat suatu saat nanti jika menurutku waktunya telah tepat akan kuceritakan semuanya kepadamu."

"Baiklah...,aku akan menunggu waktu yg tepat itu.Oh ya,aku ingin mengajakmu kesuatu tempat,kau mau?"

"Ke mana?"

"Kerumahku,aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku dan seluruh keluargaku."

"Apa? Pada keluargamu?"

"Iya,mengapa harus terkejut? Ke 2 orang tuaku sudah mengetahui banyak cerita tentang dirimu bahkan semua kakak dan adikku pun telah mengetahui bahwa engkau adalah sahabatku.Tapi sayang semenjak kau melanjutkan studimu di Mesir,silahturahmi kita hampir saja terputus dan kali ini aku merasa sangat beruntung telah dipertemukan kembali dg mu oleh karena itu aku ingin memperkenalkan dirimu pada ke 2 orang tuaku."

Keresahan ini kembali hadir,jika aku pergi ke rumah Maryam secara tidak langsung pasti aku akan bertemu dg seluruh keluarganya dan itu artinya aku pun pasti akan bertemu dg Muhammad Muhsin tapi aku belum siap,Rabbi.Aku belum siap,apa yg harus kulakukan,aku pun tak mungkin menolak ajakan Maryam,aku tak ingin mengecewakan sahabatku,ya Rabb.

"Nida... Ayo,kau harus bertemu dg keluargaku,aku ingin kau mengenal keluargaku dan aku juga menginginkan seluruh keluargaku mengenalmu."

"Tapi,aku..."

"Tapi,apa? Sudahlah,ayo kita pergi kerumahku."

Tak sempat aku memberikan alasan pada Maryam,tangannya dg cepat merengkuh tanganku dan mengajakku ke rumahnya.Tak jauh memang tapi selama perjalanan menuju rumah Maryam langkah ini sepertinya terlalu berat.Hati ini rasanya terlalu berat menghadapi ini semua.Entah mengapa,aku masih saja merasa belum siap untuk bertemu dg sosok Muhammad Muhsin.

Dan kami telah sampai didepan sebuah kediaman yg sungguh menyejukkan,cat tembok berwarna hijau dg dihiasi kaligrafi yg sungguh indah,alunan suara Al Qur'an terdengar dari dalamnya dan aku masih berusaha menolak ajakan sahabatku untuk bertemu dg keluarganya,beribu macam tak berubah sejak dahulu jika menurutnya hal yg dilakukan adalah benar,maka tak seorang pun dapat menghalanginya.

"Ehm... Maryam,siapa yg sedang membaca Al Qur'an didalam?"

"Kau bisa menebaknya?"

"Siapa? Aku tak tahu."

"Bukannya dulu aku sering bercerita kepadamu?"

"Bercerita tentang apa? Sepertinya tidak."

Kulihat sebuah senyum terlihat pada wajah sahabatku.

"Nida... Nida...,ternyata kau benar2 melupakannya."

"Maaf,tapi aku benar2 tak mengingatnya."

Hatiku sempat bertanya-tanya,memang saat di pesantren dulu kami sering bercerita mengenai keluarga masing2.

"Sepertinya,kau belum juga mengingatnya,baiklah aku akan memberitahumu.Kau masih ingat tentang saudara kembarku yg selalu dibanggakan oleh abiku?"

"Apa? Saudara kembarmu?"

"Ya...,saudara kembarku,Muhammad Muhsin,kau ingat?"

"Jadi,yg sedang melantunkan ayat suci Al Quran itu adalah saudara kembarmu,Muhammad Muhsin?"

"Ya...,betul sekali."


Aku tak bisa menahan perasaanku,hatiku tak menentu hingga entah mengapa akhirnya aku berlari secepat mungkin meninggalkan kediaman Maryam sebelum aku sempat bertemu dg keluarganya.

Aku segera kembali ke rumah ammah Azhar.Di sepanjang jalan kuteteskan air mata,entah mengapa kondisiku jadi seperti ini.

Kulihat abi,ammah dan abah Azhar sedang berbincang-bincang dihalaman rumah.Aku yakin,semuanya pasti akan bingung dan bertanya-tanya,mengapa aku berlari sambil meneteskan air mata.Aku langsung menuju kamar dan kutumpahkan semua air mataku.Kudengar langkah kaki menghampiriku.

"Abi...!"

Kupeluk abiku erat2,aku menangis dalam pelukannya hingga punggung abi basah lantaran derasnya air mata yg kukeluarkan.

"Tenanglah,Nak... Ada apa? Ceritakan pada abi."

Tapi napasku masih tak beraturan,aku masih tersedu-sedu hingga tak bisa menceritakan permasalahan ini dg jelas pada abi.

"Nak...,tenangkan dulu dirimu,hapus air matamu,yakinkanlah dirimu bahwa semuanya akan baik2 saja."

Lalu abi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yg masih tersisa dipelupuk mataku.Abi menatapku dan menenangkan diriku.

"Baiklah...,sekarang ceritakan semuanya pada abi."

Kuceritakan semuanya pada abi dan aku pun bercerita akan rasa takut yg selalu mengejarku akhir2 ini.

"Boleh Abi bertanya padamu,Nak? Sebenarnya,apa yg membuatmu takut? Seharusnya kau bahagia karena kini posisimu dekat dg Muhammad Muhsin,walaupun hingga saat ini kau belum bertemu langsung dg dirinya."

"Sebenarnya,aku belum siap bertemu dg Muhammad Muhsin dg kondisiku saat ini."

"Kondisi seperti apa,Nak? Kau wanita shalihah dan Muhammad Muhsin adalah pria yg shalih lalu kondisi apa lagi yg membuatmu takut,Nak?"

"Aku takut jika Muhammad mengetahui bahwa aku sedang mengindap kanker otak stadium 3,aku tak siap abi,sungguh aku tak siap hadapi ini."

Tiba2 kudengar seorang menghampiriku ternyata itu adalah ammah dan abah Azhar.Ammah langsung memeluk tubuhku.

"Nak...,mengapa kau tak katakan pada ammah jika kau mengindap kanker otak stadium 3?"


Ammah menangis mengetahui kondisiku saat ini.Rabb...,satu demi satu orang yg kusayangi bersedih mengetahui kondisiku saat ini.Inilah yg tak kuinginkan dan kulihat juga abah Azhar meneteskan air mata.Ya Rahman...

"Aku hanya tak ingin membuat ammah bersedih,lagi pula aku juga tak ingin merepotkan ammah dan abah."

"Nida,ammah dan abah tak pernah merasa direpotkan olehmu.Ammah ingin menceritakan kisah hidup ammah.Dulu ammah juga pernah mengindap kanker bahkan kanker yg amah derita telah stadium akhir tapi alhamdulillah karena kehendak Allah ammah dapat sembuh dg kesembuhan yg sempurna setelah menjalani pengobatan dipusat kota Madinah.Terapi air zamzam,ammah menjalani terapi air zamzam 6 bulan lamanya,awalnya ammah ragu karena berbagai pengobatan diseluruh penjuru Syria telah ammah jalani tapi hasilnya tak sesuai yg diharapkan.Tapi akhirnya ammah mulai meyakinkan diri ammah sendiri bahwa air zamzam adalah air yg penuh berkah karena berada dibumi yg diberkahi yaitu bumi Madinah dan muncul dg kisah yg sangat diberkahi yaitu kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail,dg berbekal keyakinan itulah ammah mulai menata semangat diri,menghapus air mata hingga akhirnya tibalah saatnya dimana Allah menyembuhkan penyakit ammah dg sempurna.Nak,kau mau menjalani terapi itu? Ammah akan selalu mendampingi dirimu saat terapi berlangsung."

"Benarkah apa yg ammah katakan itu?"

"Untuk apa ammah berdusta padamu,Nida?"

Rasanya memang sungguh bahagia,bagaikan mendapatkan sepercik harapan,harapan untuk sembuh dari penyakitku ini.Terima kasih,Rabbi.

"Nida...,ammah ingin bertanya kepadamu.Ammah mendengar pembicaraanmu dg abimu dan sepertinya kalian menyinggung nama Muhammad? Apa Muhammad yg kau bicarakan itu adalah Muhammad Muhsin putra Ustadz Muhsin Abdul jalil?"

Sepertinya aku tak harus menyembunyikan kisah tentang Muhammad lagi pada ammah dan abah.Rasanya sudah lelah terus hidup dalam sebuah rahasia,kuharap ini akan membawa kebaikan bagi hidupku.



"Betul,ammah.Muhammad yg kumaksud adalah Muhammad Muhsin,saudara kembar Maryam Muhsin dan putra dari Ustadz Muhsin Abdul Jalil."

"Kau mengenalnya?"

Abi pun menjawab pertanyaan ammah,abi menceritakan semuanya pada ammah dan abah tanpa terkecuali,termasuk kejadian yg baru saja kualami tadi dan kini akhirnya kedua orang tua Azhar mengetahui bahwa aku mencintai Muhammad Muhsin.

"Benarkah yg abimu ceritakan itu,Nida?"

Sepertinya ammah dan abah ingin meyakinkan dirinya tentang kebenaran semua yg dikatakan bi tentang perasaanku pada Muhammad.

"Itu memang benar,ammah,abah tapi sekarang aku mulai belajar untuk tak berharap terlalu banyak.Cukuplah pilihan Allah saja yg kuharapkan,entah siapa pun yg Allah ditakdirkan untukku,insya Allah aku akan belajar untuk rela dan ikhlas."

"Sungguh,kau wanita yg shalihah,Nida.Ammah dan abah yakin hanya laki2 shalih yg akan mendampingimu didunia dan akhirat."

"Mohon doanya,ammah,abah."

Ammah pun memeluk diriku dg hangat.

BERSAMBUNG...