Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 17


~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 17

KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH

Segala puji bagi Allah yg menciptakan dan mengatur kehidupan hamba2 Nya.

Bencana Tsunami telah terjadi,rumah yg dibeli beserta tanah dan bangunan warung makan didepannya oleh Aziz dan Rafiqah seharga 75 juta rupian hancur berkeping-keping hanya tersisa reruntuhan yg menyapa mereka dg keheningan.

Rafiqah dan Aziz berdiri mematung didepan bangunan itu berbagai perasaan dalam jiwa mereka berkecamuk namun senyum tipis dan tulus masih tersungging dibibir Rafiqah,Aziz sendiri meski tanpa senyum tetap berdiri tegak tak ada rona keputus asaan membias diwajahnya.Bangunan itu runtuh tapi mereka masih berdiri tegak itu artinya hidup masih menyala maka tak ada yg patut mereka cemaskan toh,saat keluar ke dalam kehidupan didunia ini mereka lebih tak berbekal apa-apa.


"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun,dan Dia memberi kamu pendengaran,penglihatan dan hati agar kamu bersyukur."(AN-NAHL:78)

Di bank muamalat mereka masih memiliki simpanan uang hasil berjualan selama ini sudah memberikan mereka cukup banyak,sebagian sudah mereka gunakan untuk memperluas warung meski kini sudah runtuh berpuing-puing dan sebagian lagi masih tersimpan aman.Uang itu cukup untuk membangun kembali rumah makan yg kini ambruk tak menyisakan bagian yg bisa ditegakkan lagi.

Selain itu kondisi masih mencemaskan meski sebagian diantara para pengungsi sudah ada yg dijemput sanak keluarga dari luar Aceh.Sebagian lagi memilih kembali kerumah-rumah mereka membuat sejenis tempat tinggal darurat sambil mencari-cari pekerjaan apa saja yg bisa dilakukan.Mencari-cari apa saja yg bisa mereka makan karena bantuan dan makanan berjalan merayap-rayap lambat sekali jauh lebih cepat dari kehebohan yg terjadi saat penggalangan dana itu dimana dalam hitungan menit saja sebuah televisi swasta berhasil mengumpulkan dana ratusan hingga milyaran rupiah semua bantuan itu mungkin akan sampai kalau tidak besok mungkin satu abad lagi tapi mereka harus makan dan hidup sekarang maka tak ada yg bisa dilakukan selain bekerja.

Saat suasana sudah mulai sedikit nyaman Rafiqah dan Azik hendak pergi kewilayah yg tak terkena gempa mungkin di Aceh barat,Aceh timur atau sekalian Langsa atau kawasan lain mereka ingin mencari Bank muamalat yg masih terbuka beruntung buku tabungan mereka masih bisa digunakan meski sudah basah dan sebagian tulisannya hilang.Mereka menyewa sebuah obil milik orang yg dikenal suaminya tapi bukan main sewa sehari 1 juta rupiah.Ini keterlaluan! Ini namanya mencari kesempatan dalam kesempitan sungguh tak tahu malu namun untuk berangkat menumpang mobil2 yg mengangkut barang besi2 tua atau bala bantuan dari wilayah aman rasanya tak mungkin lebih mencemaskan akhirnya mobil disewa 2 hari dan uang sewa dibayar saat mereka kembali.Deal,mereka pun berangkat.

***


Akhirnya uang sudah ditangan dg bersusah payah mereka bisa mendapatkan orang2 yg mau membantu mereka membangun rumah mereka yg kini sudah menjelma menjadi puing2 berserakan.Prosesnya masih sulit bahan bangunannya masih susah dicari dan harganya lebih mahal dari sebelum terjadinya Tsunami tapi mereka tak mungkin menunggu lebih lama,sudah lama mereka tidur dalam tenda dan menahan rasa dingin menusuk setiap malamnya.Dengan kerja keras akhirnya rumah pun selesai dibangun,mereka juga masih harus membeli perkakas2 rumah sederhana uang yg tersisa tidak banyak cukup untuk memulai berjualan tapi tak cukup untuk membuat bangunan tambahan sebagai lokasi warung dan yg lebih parah belum banyak orang yg bisa diharapkan menjadi pelanggan mereka.Suasana masih tak menentu,banyak orang tapi mereka adalah kumpulan manusia dari berbagai penjuru dunia tapi intinya orang2 ada.Selama ada orang bisa diharapkan ada yg membeli jualan mereka tapi ini satu lagi masalahnya bahan2 makanan yg akan dimasak juga masih sulit didapat.Wah,kalau ini solosinya sulit sekali tapi mereka tak mau hidup dg menghabiskan uang mereka tanpa bekerja akhirnya mereka memutuskan untuk menjual makanan yg bisa diolah cepat,disantap nikmat dan disukai masyarakat sekitar apalagi kalau bukan ikan sembam.

Ikan sembam adalah ikan bakar,disembam artinya dibakar tanpa mengunakan banyak bumbu seperti layaknya ikan bakar khas padan atau ikan bakar ditanah Jawa,ia hanya dibakar dg tambahan bumbu merica dan sedikit bawang putih dan garam terkadang hanya dg garam saja.Ya,garam saja ikan dibiarkan matang dg rasa aslinya baru nanti disantap dg nasi panas lalapan dan sambal pedas rasanya menggelitik lidah.

Untuk menjual makanan seperti itu tidak susah nelayan sudah kembali beroperasi dg membeli ikan bukanlah perkara sulit jarak rumah mereka yg tak jauh dari pantai membuat mereka mudah mendapatkan ikan2 segar.Ikan2 itu tak perlu didinginkan dg es dibiarkan begitu saja cukup ditaburi pasir agar lebih awet.



Saat ada pembeli ikan dibersihkan,disiangi dan dibakar aromanya akan terasa menyengat karena ikannya segar.Mereka hanya perlu membuat steling kecil yg diletakkan diatas sebuah meja panjang seperti layaknya orang yg menjual sarapan pagi lalu disediakan beberapa buah bangku panjang dan beberapa kursi plastik itu sudah cukup mewah untuk situasi saat itu yg masih serba darurat.

Saat dibuka hari pertama dimulai dg 3kg ikan saja dg ukuran kecil2 ternyata laris manis sebentar saja ludes banyak pelancong,sukarelawan atau bahkan para penduduk dgn pengungsi disekitar itu yg berminat menikmati ikan bakar buatan mereka.Bosan dg makanan khas pengungsi atau karena penat melakukan evakuasi besar-besaran mereka akan merasa nikmat bila disuguhi ikan bakar segar dg harga sangat terjangkau maka usaha itu kembali berjalan meski dilevel yg jauh lebih rendah tapi kebahagiaan terasa membias indah dalam hati Aziz dam Rafiqah.

Sore itu seperti biasa Rafiqah dan Aziz melayani para pembeli.Sekarang dari mulai jam 6 pagi (saat itu waktu subuh jam 05.30 pagi) mereka sudah membuka warung itu pun sudah banyak orang antri memesan ikan bakar mulai dari jam 6 hingga jam 8 pagi itulah waktu paling ramai setelah itu biasanya berkurang mulai sepi saat itulah Aziz dan Rafiqah melakukan berbagai pekerjaan rumah menyapu,mengepel dan membereskan tempat tidur dan mengisi bak mandi nanti akan mulai ramai lagi sehabis shalat Dzuhur hingga pukul 14.00 siang hari.Siang hingga sore pengunjung agak sepi bahkan sering tak ada pembeli satu pun itulah waktu mereka beristirahat mulai jam 17.00 sore hari pengunjung kembali datang satu persatu puncaknya habis magrib dan biasanya saat itu jualan akan tinggal sedikit dan tak lama kemudian ludes tak tersisa padahal Aziz menyiapkan tak kurang dari 30-35 kg ikan setiap harinya.

Saat itu jam sudah menunjukan pukul 17.15 para pembeli masih sepi bahkan saat itu belum tampak seorang pun saat itu Rafiqah dan Aziz duduk disebuah bangku panjang dibelakang steling bukan didepannya dibangku yg biasa digunakan para pelanggannya


Di situ pandangan mereka kedepan tertutup oleh steling yg tidak terlalu besar tapi berada pas dikepala mereka bila mereka sedang duduk sehingga mereka tidak menyadari ada 2 orang pembeli datang,mereka baru sadar setelah salah seorang diantara kedua orang itu memesan makanan.

"Tolong bakarkan ikannya 2 ekor" ujar seorang pria yg sudah berumur disampingnya seorang ibu berkerudung menemaninya mereka langsung duduk dibangku panjang tepat didepan steling.Aziz dg tergopoh-gopoh menyiapkan sambal dadakan yg pedas sekali sementara Rafiqah menyiangi ikan untuk segera dibakar.Saat itu secara iseng Aziz bertanya.

"Dari mana,Pak? Tinggal di Aceh?"

"Oh,tidak kami dari luar kota."

"Tujuan kemari?" tanya Aziz datar,ia sudah terbiasa mendengar jawaban seperti itu lalu membalasnya dg pertanyaan seperti tadi.Kebanyakan pengunjungnya akhir2 ini justru dari luar kota.

"Hanya ingin menyampaikan bantuan dana untuk para korban Tsunami,kami ingin menyampaikannya secara langsung.Ya,demi kepuasan saja sekaligus untuk melihat langsung lokasi bencana untuk berbagi rasa dg para korban bencana disini."

"Alhamdulillah,rupanya ada juga orang2 yg rela memberikan sebagian harta mereka dan datang langsung kelokasi ini padahal bisa saja Tsunami terjadi kembali.Bapak tidak takut?"

"Ah,untuk apa takut? Niat kami baik,kok.Takdir itu Allah yg menentukan bukan hanya disini dimanapun bisa saja terjadi Tsunami."

"Wah,bagus sekali saya senang mendengarnya." ujar Aziz sambil terus menggiling cabe yg kini sudah berubah wujud menjadi sambal sejenak kemudian sudah siap Aziz mengelap tangannya dg kain blancu yg ia letakkan diatas meja.

"Lagi pula selain menolong para korban bencana kami datang untuk mencari tahu kabar anak,menantu dan juga cucu kami."

"Bapak punya anak dan cucu disini?" tanya Aziz jadi penasaran.

"Ya,kami sedang mencarinya semenjak Tsunami kami kehilangan kontak sama sekali."


"Siapa nama putri Bapak? Mungkin kami kenal?" tanya Aziz.Saat itu Rafiqah sudah selesai membakar ikannya,ia juga penasaran ingin ikut nimbrung bicara.Ia membalikkan badan dan berjalan ke dekat Aziz sementara Aziz berdiri dan berniat menyiapkan lalapan untuk 2 ekor ikan bakar yg sudah siap saji tersebut.

"Nama anak atau putri kami,Rafiqah."

"Eh..sssiii... Si..siapa,Pak?"

Saat itu Rafiqah terkaget,Ia baru menyadari bahwa suara pria itu sudah sangat ia kenal.

"Putri kami bernama Rafiqah suaminya yakni menantu kami Aziz dan cucu kami bernama Faiz....."

Belum selesai pria itu berbicara Rafiqah berhambur ke depan.

"Papa......" Rafiqah berteriak haru.

Pria didepannya memang Papanya Pak Broto susilo,Ia tak mungkin tak mengenali Papanya.Wajah suara dan bentuk tubuhnya ia memang Pak Broto,Rafiqah memeluknya.Aziz juga ikut berhambur dan bergantian Rafiqah memeluk mertuanya tersebut.

"Papa datang sendirian saja? Atau sama siapa?" tanya Rafiqah dg nafas terengah-engah karena menahan haru yg menyesak dadanya.

"Kamu lihat saja sendiri,sama siapa Papa datang."

Rafiqah memandang wanita disamping Pak Broto,seorang wanita yg sudah cukup tua namun masih kelihatan cantik.Wanita itu mengenakan jubah panjang dg jilbab lebar hingga hampir ke lutut jubahnya berwarna coklat tua berbahan tebal sementara jilbabnya juga berwarna coklat kehitaman.Sangat serasi dg kecantikan wajah tuanya,wanita itu begitu anggun.Rafiqah memandang wajah wanita tersebut ia seperti mengenalnya atau wajah wanita ini sangat mirip dg orang yg betul2 dikenalnya tiba2 ia tersentak.

"Ma... Mama? Mama kah itu?" Rafiqah memandang wanita didepannya dg jantung berdegup kencang ia melihat wajah mamanya tapi bukan tampilan mamanya.Mamanya berjilbab? Mungkinkah itu?

"Aih,ananda Rafiqah apa kamu sudah lupa sama mamamu sendiri? Apakah wajah mamamu sudah terlalu tua sehingga kamu tak lagi mengenalinya?"

YA,ia memang mamanya! Masya Allah.Kembali Rafiqah berhambur kepelukan mamanya kali ini ia tak mampu menahan tangisnya.


Ia bagai baru terbangun dari sebuah mimpi buruk dan langsung berhadapan dg istana yg indah memukau memanjakan mata.Mamanya berjilbab? Sungguh nyaris tak dapat dipercaya.

Mamanya datang bukan dg sekadar berjilbab,jilbab yg dikenakan mamanya bahkan sedikit lebih sempurna dari yg dikenakan Rafiqah,mamanya yg sekuler itu? Astaghfirullah,ia jadi berpikir yg tidak2.Keharuan membuat pikiran Rafiqah tak terkendali.

"Sejak kapan mama berjilbab?" tanya Rafiqah penasaran.

"Belum lama ananda tapi sudah terlalu lama untuk usiaku yg sudah menua seperti ini.Aku merasa terlambat menyadarinya."

"Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik,Ma."

"Ya,ananda mama mengerti mama baru mengenakan jilbab ini sebulan yg lalu."

Mimik wajah Bu Broto terlihat sendu air mata menetes di ujung kelopak matanya,ia tersenyum dan melanjutkan ceritanya.

"Saat mendengar berita Tsunami,mama nyaris gila.Mama membayangkan kemungkinan terburuk yg terjadi pada dirimu ada sejuta penyesalan kenapa mama membiarkan kalian berdua merantau kekota ini tapi mama sadar bahwa saat itu memang tak seorang pun mengira kota ini akan dibombardir oleh badai sehebat itu."

Papamu berusaha menyadarkan mama namun mama terus menangis setiap hari mengkhawatirkan nasibmu,kakak2 dan adikmu juga menangis tapi mama yg paling tenggelam dalam tangisan itu terjadi setiap hari sehingga menimbulkan tanda tanya pada diri papamu dan juga saudara2 mu kami berusaha mengontakmu tapi tidak bisa sementara berita tentang ditemukannya mayat korban bencana termasuk dari kota ini Banda Aceh setiap hari bertambah banyak.Mama makin cemas sehingga betul2 mama akan menjadi gila bila tak segera ditenangkan papapu membawa mama ke RS,dokter memberikan mama obat penenang namun sama sekali tak bermanfaat kecuali sekadar menenangkan sesaat saja.Papa tak tahu harus berbuat apa lagi,menjejali mama dg obat penenang terus menurus jelas tidak mungkin.

Saat itu datang temanmu Heryani ia datang dg sebuah ketulusan yg mama kagumi setiap orang yg melihat mama hanya bisa menasehati sebentar saja,


Kemudian membiarkan mama tenggelam dalam kesedihan.Temanmu itu,Rafiqah menemani mama sepanjang hari bahkan ia meminta untuk menginap agar bisa meredakan kesedihan mama.Sungguh mama mengaguminya,melihatnya mama jadi teringat kamu ananda.Ia sama baiknya dg mu dan baru kali itu mama menyadari kebaikannya baru kali itu mama menyadari bahwa jilbab yg ia kenakan memberikan keteduhan dalam hatinya.Ia sungguh wanita yg baik dan shalihah,cantik luar dan dalam betapa iri mama melihatnya dan betapa menyesal mama selama ini membenci wanita2 yg berpakaian seperti itu.

2 hari Heryani menginap dirumah dan dalam 2 hari itu nyaris ia tak beranjak dari sisi Mama,papamu tidur dikamarmu dulu dan Heryani menemani mama dikamar.Ia terus menenteramkan batin mama dg membacakan hadits penjelasan para ulama tentang keutamaan sabar dan cerita2 singkat yg penuh hikmah hati mama menjadi sejuk dan damai,ia juga membaca ayat2 al quran dg suara merdu setiap malam hingga mama tertidur nyenyak.Di waktu subuh kami shalat berjamaah Heryani sebagai imamnya baru saat itu mama merasakan indahnya shalat meski setiap hari mama melakukannya.

Yah,semenjak itu mama semakin menyukainya.Ia mengenalkan mama dg seorang Ustadz yg tinggal tak jauh dari rumah kita namanya ustadz Hamidi.Mama tahu Bapak Heryani juga seorang ustadz tapi tampaknya Heryani sungkan mengenalkan mama dg Bapaknya sendiri.Ustadz Hamidi teman Bapak Heryani Ustadz Qamaruddin tentu ananda sudah mengenalnya.

Akhirnya mama mengajak papa dan juga saudara2 mu membuat pengajian dirumah.Ustadz Hamidi yg mengisinya kami minta setiap hari sehabis shalat ashar sehingga terpaksa pengajian dijadwal selain Ustad Hamidi beberapa Ustadz lain juga secara bergantian mengisi pengajian kami bilang bahwa untuk sementara setiap hari kami mengaji bila kami merasa sudah cukup mengenal dasar2 ilmu yg harus kami pahami terutama soal akidah baru pengajian dibuat 2 kali sepekan saja.Pengajian itu pun berlangsung terus,mama pun memutuskan berjilbab demikian juga adikmu Heni.


Ia sekarang mengenakan jilbab sepertimu,ananda."Mata mama berkaca-kaca.Rafiqah bertafakur dalam haru.

Bu Broto melanjutan ceritanya,

"Baru kemarin kami mendengar bahwa jalan menuju ke Aceh sekarang sudah mulai kebih mudah,kegiatan masyarakat Aceh meski tertatih-tatih sudah mulai berjalan maka kami pun berangkat kesini tak disangka-sangka bahwa Mama Dan Papamu bertemu kalian disini mama senang sekali.O,ya mana Faiz?"

Cerita Bu Broto menyelipkan keharuan hebat didada Rafiqah.Alhamdulillah harapannya selama ini terkabul segala kesedihan dan kedukaan yg masih tersisa di dadanya tiba2 saja menguap habis kini hatinya terisi dg kebahagiaan yg indah bukan main.Aziz juga duduk bertafakur menikmati gejolak hatinya yg diaduk-aduk rasa bahagia yg membuncah mereka terdiam,mereka baru tersadar kalau Bu Broto menanyakan tentang putra mereka Faiz.

Dengan berat hati mereka menceritakan kejadian sesungguhnya.Bu Broto terlihat sedih tapi ia terlihat tabah bertemu dg putrinya dan juga menantunya dalam kondisi sehat wal afiah sudah merupakan kebahagiaan hebat maka mereka pun merelakan kepergian cucu yg tercinta itu Faiz.

***

Hari makin senja langit sedikit demi sedikit mulai menjadi agak gelap sebentar lagi matahari akan tenggelam.Pak Broto,Bu Broto,Rafiqah dan Aziz duduk bercengkerama.Menikmati udara senja yg sejuk didepan rumah mereka.Di atas 2 bangku panjang yg dibiarkan berjejer berdampingan menghadap ke barat.Kemuning senja menyapa mereka kebahagiaan mengembang didada mereka.Mereka berbicara dan tertawa penuh bahagia,dibalik sekian bencana yg mereka rasakan dibalik beragam musibah yg mereka rasakan selama ini ternyata tersembunyi akar kebahagiaan yg baru terlihat menyeruak di senja itu.Akar itu menumbuhkan pohon CINTA yg begitu sejati,cinta dalam lautan iman,cinta anugerah yg tidak akan menjajah jiwa.

Duhai indahnya! Dan itu terjadi bukan di Jakarta bukan dikota yg hingar bingar dg kesibukan manusia berjuta rupa tapi disudut barat dari negeri indonesia.


Di sebuah kota yg baru saja dihantam bencana kolosal Tsunami,kota yg kini kebanyakan berisi orang2 yg terlantar dan menanti belas kasih sesamanya.Di kota yg dikenal dg sebutan Serambi Mekah dan kami lebih suka menyebutnya,BERANDA MEKAH.

TAMAT.

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 16


~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 15
DI BALIK RERUNTUHAN ITU...

Hari ini rumah makan tutup,Rafiqah ingin beristirahat.Label 'tutup' sudah dipasang dari sebelum Subuh melekat dikaca depan rumah makan itu.

Para pelayan sudah semenjak kemarin diberitahukan tapi Aziz tetap bekerja ditempat biasa.Menjelang siang hari terasa begitu nyaman,Rafiqah melepas kepergian suaminya Aziz seperti biasanya bekerja part time meski belakangan ini sudah punya intensitas tinggi ditoko kelontong besar yg tidak begitu jauh dari rumah mereka.Jaraknya hanya sekitar 10 kilometer.Itu pun bila ditempuh dg sepeda motor sendiri hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

Tak ada perbedaan dari hari2 biasanya,suasana dipagi itu cukup hening.Temperatur udara juga tidak terlalu panas hanya deru angin yg terkadang agak keras terasa menampar-nampar kulit terutama sekali bagi mereka yg berkendaraan dg sepeda biasa atau sepeda motor dg helm terbuka.

Hanya satu jam setelah kepergian suaminya,ia mendengar suara yg agak aneh dari arah tengah laut.Maklum,ia dan suaminya tinggal meski masih diwilayah kota namun tak terlalu jauh dari laut.Dikala sepi deburan ombak besar sering terdengar sayup2 tapi saat ini bukanlah malam hari.

Meski hening namun ini bukan sejenis sepi yg membuat suara jauh terdengar begitu jelas.Suara itu agak aneh lebih merupakan tiupan keras dari pada suara debur ombak yg biasa dia dengar secara sayup2 ditengah malam.Makin lama suara itu makin terdengar dg jelas.Aih,suara apa gerangan?

Kira2 15 menit sampai 10 menit kemudian suara itu mereda untuk kemudian perlahan-lahan hilang sama sekali sampai 10 menit kedepan suasana kembali tenang seperti biasa.Rafiqah tak lagi memikirkannya.Ia menganggapnya hanya sejenis tiupan angin yg lebih keras dari hari2 biasa.

Hanya saja kira2 10 menit kemudian suara itu muncul kembali meski agak lebih pelan tapi kali ini diiringi gempa yg sangat terasa awalnya pelan seperti gerakan bayi dalam ayunan namun kemudian mulai terasa lebih keras bahkan kian lama kian terasa getarannya sampai akhirnya terasa menggetarkan seisi rumah.

Sejurus kemudian meja dan kursi dirumah itu,bergeser kesana kemari secara tak beraturan.Suara bercampur dg gemuruh gempa yg tampaknya cukup hebat itu semakin menjadi-jadi.Rafiqah mulai dicekam ketakutan,anaknya juga serta merta menangis menjerit-jerit.Rafiqah mulai kebingungan,tampaknya ia juga sadar bahwa ada hal yg sangat tidak beres yg sedang mereka hadapi.

Goncangan gempa semakin kuat namun Rafiqah belum berani keluar rumah.Ia merasa cemas dan khawatir kalau2 keadaan diluar justru lebih buruk lagi karena dari celah jendela yg agak terkuak ia melihat hembusan angin yg sangat kuat dan pohon2 kebil juga terlihat mulai bergoyang-goyang hebat.Sebagian berpatahan dahan2 nya.Kejadian itu berlangsung cukup lama.Hampir setengah jam penuh.

Hatinya agak terasa lega karena setengah jam berlalu tampaknya badai laut dan gempa itu mulai mereda.Suara gemuruh mulai surut,saat itulah pintu rumahnya diketuk diiringi ucapan salam.Suara pria yg amat dikenalnya,tampaknya suaminya sudah pulang.Jelas itu bukan waktu kepulangan suaminya di hari2 biasa.Saat masuk suaminya trlihat begitu cemas dg msih brmandikan peluh Aziz memandang ke arah istri & anak yg masih dlm gendongan istriny


Rafiqah sendiri melihat suaminya dg tidak kalah khawatir,wajah sang suami terlihat agak pucat.Tanda2 kelelahan terlihat jelas mengukir wajahnya.

Selama lebih dari 1 jam Aziz duduk2 menemani Rafiqah hanya sesekali Rafiqah membereskan barang2 rumah yg berantakan tidak karuan.Suasana justru tampak semakin hening tak ada kehebohan yg terdengar dari para tetangganya kecuali beberapa orang yg keluar dan saling bercakap-cakap memperbincangkan gempa yg baru saja terjadi.

Situasi dan kondisi tampaknya sudah terkendali,badai angin yg disertai gempa itu tampaknya sudah benar2 terhenti.Aziz meminta izin kepada istrinya untuk kembali ketoko karena ada barang2 yg belum sempat diberesi katanya toko akan segera ditutup,Ia takut dimarahi oleh majikannya bila barang2 yg di display tidak dikembalikan kelokasi penyimpanan semula.Rafiqah tidak merasa ragu sedikit pun,ia membiarkan suaminya pergi karena paling hanya membutuhkan tak lebih dari 15 atau 20 menit pulang pergi.

Usai ditinggal suaminya,Rafiqah kembali menjalankan aktivitasnya membereskan rumah.Sang anak juga sudah terlihat tenang meski matanya terlihat agak kemerahan karena lama menangis.Tak sampai 5 menit berselang kembali terasa getaran gempa tapi kali ini suaranya makin aneh,gemuruh angin yg terdengar seperti bercampur dg suara air berkecipuk-cipuk makin lama bahkan makin terdengar seperti air tertumpah dari sebuah tebing meluncur kebawah seumpama air terjun.

Ia melongok keluar jendela dg amat cemas.Ya Allah terlihat orang2 dikampung itu berlarian keluar rumah.Apa yg terjadi? Badaikah? Banjirkan? Ia belum menemukan jawabannya.

Namun tiba2 dari kejauhan ia melihat gumpalan asap hitam mengiringi ombak laut yg bergelombang sangat hebat menjulang keatas sambil menerjang-nerjang hebat sangat besar sekali tidak pernah ia melihat gelombang laut sebesar itu sebelumnya seolah-olah rumahnya itu memang dipinggir pantai bahkan ditengah pantai.Ya Allah,apa itu???


Gulungan air ombak yg lebih pantas disebut gunung ombak makin mendekat.Rafiqah segera mengenakan jilbabnya bersiap-siap meninggalkan rumah sambil menanti kedatangan suaminya sedikit uang simpanan dan buntalan pakaian disiapkan,ia berpikir suaminya pasti segera pulang.Betul saja tiba2 terdengar ketukan pintu atau lebih tepatnya gedoran pintu dari luar diiringi salam yg diucapkan dg sangat terburu-buru sang suami pun masuk dalam kondisi yg jauh lebih terengah-engah dari sebelumnya.

"Tampaknya,kita harus segera meninggalkan tempat ini." ujar Rafiqah kepada Suaminya.

"Ya,aku juga berpikir begitu."

Aziz juga sudah menyaksikan keadaan yg porak poranda diluar rumahnya akibat gempa hebat.Orang2 dikampung itu tampaknya sudah amat sibuk untuk mengungsi karena gelombang ombak besar makin lama makin tertarik jauh melewati pantai dan sudah mulai mendekati areal rumah mereka tampaknya sudah terlambat untuk bergerak.Sejenak mereka mematung,mereka gugup bukan main.

Dalam suasa serba kalut Aziz mengajak istrinya Rafiqah masuk kebagian dalam rumah mereka.Aziz teringat bahwa dirumah belakang rumah mereka terdapat lantai yg berlubang 4 persegi panjang yg diberi tutup besi diatasnya.Niatnya lubang itu untuk tempat mengisi barang2 berharga mereka suatu saat.Mungkin sebagai pengganti lemari besi atau brangkas besar yg kalau dibeli tentu amat mahal harganya.Dengan gerak cepat ia mengajak istrinya keruang itu.Anak mereka tentu saja menjerit-jerit tidak karuan,mereka sudah tidak sempat lagi tahu penyebab utama tangisan anak mereka.

Bruaakk!! Suara keras terdengar dibelakang mereka,rupanya lemari diruang tengah rumah mereka jatuh ambruk bahkan kemudian disusul dg suara demi suara keras lain sehingga menimbulkan suara bersahut-sahutan sangat menakutkan.Mereka tidak peduli lagi dg gerak cepat mereka turun kelantai yg menjorok kebawah itu Aziz mendahulukan istri beserta anaknya turun kebawah baru kemudian ia menyusul,dinginnya semen terasa sekali menggigit kaki mereka.


Setelah berada didalam lubang Aziz menutup separuh lubang itu sambil menunggu perkembangan.Tujuan utamanya agar mereka tetap bisa lebih leluasa bernafas dg udara yg masuk melalui celah yg terbuka.Beda kalau penutup besi itu dia rapatkan tentu mereka akan cepat kehabisan oksigen dan kesulitan bernapas tapi niatan itu kemudian terhenti karena gempa dan hantaman badai aneh itu sepertinya menjadi-jadi kalau sebelumnya hanya barang2 rumah yg berjatuhan mulai dari lemari,rak piring hingga meja dan kursi sekarang rumah mereka yg sebenarnya cukup kokoh mulai bergetar hebat kemudian disusul dg runtuhnya sebagian dari tembok rumah.

Yang lebih mengkhawatirkan ombak laut yg membawa limpahan air tampaknya sudah mulai memasuki rumah kontan sekejap saja rumah itu sudah banjir air laut tak ada pilihan lagi pintu besi yg memang didesain dg sistem ditarik kesamping lalu dibagian ujungnya,bagian pintu besi dibuat agak tipis sehingga bisa masuk kelubang yg sengaja dibuat sehingga hasilnya betul2 rapat hanya kali ini tidak dikunci dg gembok karena kunci itu dibuat dibagian atas bukan dibawah.

Sejurus kemudian yg terdengar hanya suara gelombang hebat yg menghantam rumah mereka disusul dg suara reruntuhan bangunan yg terdengar amat menyeramkan,jeritan anak mereka juga makin menjadi-jadi.Di luar gunung ombak dan gelombang air bah menerjang-nerjang dan suaranya bergemuruh begitu hebat.Di dalam lubang itu Aziz,Rafiqah dan anaknya Faiz nyaris kehabisan napas.

Kira-kira 1 jam didalam lubang itu mereka mulai merasa sesak tampaknya karena tidak ada lubang ventilasi sedikit pun dalam kamar pengap itu meskipun itu berguna menahan air agar tidak masuk tetapi akibatnya mereka semakin kehabisan udara segar dan oksigen untuk bernafas bahkan setengah jam kemudian pandangan mereka mulai hitam,kepala mereka mulai pusing,dada mereka sesak tapi anehnya suara tangis anak mereka malah mulai berkurang sedikit demi sedikit namun hal itt justru membuat Rafiqah semakin cemas.

Jantungnya berdegub kencang keringat dingin seperti menyiram seluruh tubuhnya dg deras.

Ia meminta suaminya dg sangat ragu2 untuk membukakan pintu besi tersebut tapi Aziz tidak bisa menjawab.Aziz tak tahu apa yg harus ia lakukan,ia juga kebingungan sekali.Bila pintu dibuka sudah pasti air bah akan masuk bahkan bukan tidak mungkin reruntuhan rumah juga bisa menimpa mereka,sama sekali tidak ada hal lebih baik yg bisa diharapkan kecuali bila badai sudah agak mereda pilihannya hanya diam terpaku.

Dan memang 15 menit kemudian badai mulai terdengar mereda namun suara anak mereka sudah tidak terdengar lagi hal itu sudah tentu membuat kekhawatiran dan kecemasan didada mereka menjelma menjadi teror.

Tanpa banyak berpikir Aziz langsung membuka pintu brangkas pribadi mereka itu awalnya agak sulit karena tampaknya pintu itu tertindih oleh reruntuhan bangunan rumah mereka sehingga cukup sulit ditarik membuka,akhirnya mereka berhasil meskipun beberapa bongkahan batu yg disusul guyuran air hebat terpaksa mereka tahan dg badan dan kepala mereka cukup menyakitkan juga apalagi nafas mereka sudah betul2 habis tapi tak ada waktu untuk berpikir atau mengeluh lagi karena banjir air otomatis langsung memenuhi isi lubang itu.

Dengan susah payah mereka terutama Rafiqah yg menggendong anaknya berusaha keluar dari rumah tersebut dg setengah berenang mereka menerjang keluar.Sangat membingungkan karena mereka sudah tidak melihat pintu2 yg ada dirumah itu lagi yg ada hanya puing2 bangunan dg sisa2 tembok yg masih berdiri canggung,genangan air yg sampai ke paha mereka membuat jalan mereka menjadi semakin lambat tapi akhirnya mereka berhasil mencapai bagian depan rumah yg masih terlihat bagian pintunya sedikit sisanya sudah ambruk tak karuan.

Mereka berlari keluar,pemandangan yg mereka saksikan jauh lebih buruk dari yg mereka banyangkan!!

Kampung mereka bentul2 hancur,rumah2 dan bangunan runtuh nyaris tak tersisa lagi tak ada satu pun bangunan yg terlihat utuh setidaknya dibatas yg bisa mereka lihat dg mata kepala mereka.

Mereka berdiri mematung seolah-olah tubuh mereka disiram air keras tak ada secuil pun ucapan keluar dari mulut mereka,seolah-olah bisu mendadak.

Sekejap mereka baru teringat anak mereka yg masih dalam pelukan Rafiqah,wajahnya pucat kulitnya terasa dingin sekali dan yg membuat dada mereka semakin sesak setelah sekian lama kesulitan bernafas tak terasa lagi detak jantung ataupun suara nafas anaknya mereka terkesiap Enggan untuk memprediksi apa2,Aziz memeriksa dg teliti terutama denyut nadi anaknya,nafasnya,detak jantungnya,temperatur tubuhnya hasilnya sangat pasti Faiz telah meninggal Dunia!!

Suasana menjadi senyap anehnya tak terdengar suara isak tangis atau sedu sedan Rafiqah dan Aziz meskipun cairan bening terlihat menetes tidak banyak tapi cukup untuk membasahi pipi Rafiqah meski mata Aziz memerah menyemburatkan duka yg menganga dalam dadanya tampaknya Rafiqah dan Aziz sadar bahwa bencana itu murni kehendak Allah dibalik soal apakah ia sekadar bencana atau peringatan atas kelalaian mereka selama ini.Dan kematian anaknya sama sekali bukan akibat keteledoran mereka namun itu suratan yg siapa pun tak mampu menghindarinya.

Bagi Rafiqah sendiri itu musibah kedua yg harus ia alami dalam hidupnya yg akhirnya membuat air matanya tak lagi mampu mengucur deras duka akibat musibah kematian Pram telah membuatnya semakin tegar namun Allah belum berhenti mengujinya dan ia tak mau menjadi orang yg gagal dalam ujian itu.Ia menarik nafas dalam2 berdzikir syahdu mengalir dari mulutnya.ALLAHU AKBAR,ALLAHU AKBAR,LAA ILAAHA ILALLAHU ALLAHU AKBAR.....

***

Badai Tsunami! Itulah nama badai yg akhirnya mereka ketahui,melalui kabar dari mulut ke mulut yakni setelah mereka berhasil meninggalkan kampung mereka bergabung dg ribuan pengungsi dari berbagai daerah disekitar kota tersebut adapun penghuni kampung mereka mungkin selain mereka tak ada satu pun yg selamat kalaupun selamat setelah dibawa gelombang ombak kesana kemari itu sebuah keajaiban belaka dan Allah berkenan menampakkan sebagian dasi keajaiban tersebut.

Banyak diantara mereka yg beruntung menyaksikannya atau minimal mendengar ceritanya.

Rafiqah dan Aziz selamat tak kurang suatu apapun hal itu sudah patut menimbulkan rasa syukur mereka sehingga setelah dg tergesa-gesa menguburkan anak mereka,mereka pun melanjutkan perjalanan menjauhi daerah tersebut menuju kampung2 penampungan.Badai berikut gempa yg katanya nyaris mencapai 9 skala richter itu betul2 menjadi tragedi bersejarah bagi Rafiqah dan suaminya.Saat beberapa wartawan mewawancarai mereka,Rafiqah terlihat tenang hatinya tetap merasa tentram meskipun kesedihan masih mengintip direlung hatinya.Saat ditanya,bagaimana ia menerima musibah kematian anaknya Ia hanya berkata lugas,

"Bung,Ia hanya titipan Yang Maha Kuasa dan kini Allah berkenan mengambilnya kembali.Apa yg perlu dirisaukan? Keadaannya sekarang bahkan jauh lebih baik dari kondisi kita."

ucapan yg meluncur deras dg nada santun demikian teduh bermakna sehingga beberapa orang disekitarnya dipaksa menangis menitikkan air mata namun Rafiqah sendiri hanya memandang sejenak ke arah suaminya yg juga tidak kalah teduh dan tabahnya lalu kembali seperti biasa.Bencana itu memang merenggut anak mereka tapi sama sekali tidak dapat merenggut iman yg melekat dilubuk hati mereka.

NANTIKAN BAGIAN AKHIR....

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 15



~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 14
MULAI HIDUP BARU

Baik Aziz maupun Rafiqah memiliki karib kerabat di Aceh mereka tersebar dibeberapa wilayah di Aceh Barat,Timur,Tengah yg sangat luas.

Tapi mereka berniat untuk tidak akan menggantungkan hidugnya pada pertolongan atau budi baik karib kerabat mereka itu selain kondisi ekonomi para kerabat Pak Broto maupun Aziz yg rata2 masih ditaraf miskin maksimal hanya hidup secara sederhana mereka juga ingin lebih mandiri untuk itu mereka ingin nyaman tinggal di Aceh.

Dan untuk itu juga uang sebesar 75 juta mereka belikan sebuah rumah yg secara kebetulan mereka dapatkan dg cukup murah termasuk kawasan kota di Banda Aceh.Rumah itu dahulu pernah ditinggali seorang perantauan dari Minang kabau dan dibagian depannya pernah digunakan sebagai rumah makan sehingga sekali tepuk 2 lalat tergilas.Sekali menggelojorkan modal mereka mendapatkan rumah sekaligus lokasi strategis berwirausaha maka usaha yg mereka rintis sudah pasti bisnis rumah makan.

Rumah makan adalah bisnis aman orang bilang seorang penjual makanan bila pergi dg modal 20 ribu dan pulang kembali dg uang 20 ribu berarti ia sudah untung,kenapa? Karena ia sudah makan dari dagangannya sendiri apalagi bila makanan itu adalah makanan pokok nasi dan lauk pauknya itulah bisnis yg akan mereka garap.

Disebut aman karena makanan adalah kebutuhan harian selama ada orang makan diluar rumah,selama itu pula bisnis rumah makan bisa berjalan bahkan dilokasi dimana orang tak terbiasa makan diluar rumah bila sudah didirikan rumah makan akan banyak yg tergoda mencicipinya maka dalam bisnis rumah makan ada 2 jurus yg tidak boleh diabaikan.

Pertama cermati selera pasar jangan membuat makaman dg cita rasa yg asing kalaupun hendak mengusung makanan daerah seperti masakan padang,maskan jawa atau masakan sunda cita rasa harus diinovasi beri toleransi pada selera masyarakat disekitar buat sentuhan rasa yg dapat diterima kebanyakan orang pembeli adalah Raja,orang tak layak menjual sesuatu apalagi makanan dan memaksa orang lain untuk menyukainya.


Kedua konsistensi rasa,biarkan cita rasa sederhana dan apa adanya tapi bila konsisten akan terkumpul juga banyak orang yg menjadi pelanggannya namun betapapun lezatnya cita rasa apabila selalu berubah-ubah akan sulit menarik pelanggan.Setiap saat pelanggannya akan berganti-ganti.Orang hanya akan senang saat makan pertama kali dikali kedua ia akan kecewa.Ini musibah besar bagi pebisnis rumah makan.

Kalau mau ditambahkan lagi pelayanan.Soal lokasi memang berpengaruh tapi tak terlalu besar terbukti banyak rumah makan yg laris padahal terletak ditengah sawah atau masuk kesebuah gang sempit dan banyak rumah makan yg sepi meski diletakkan didekat pasar atau dipinggir jalan Lintas antar propinsi.Cita rasa yg memasyarakat konsitensi rasa dan pelayanan.Itu 2 atau 3 kali hal yg menjadi jurus maut dalam bisnis rumah makan.

Juga disebut aman karena bisnis ini minim resiko bila tidak habis makanan bisa dimakan sendiri dan sisanya dibagikan kepara tetangga itung2 sedekah.Bila kita menjual 6 piring makanan yg laku 3 piring maka 3 piring yg tersisa bisa kita sikat sebagai jatah makan kita keesokan harinya sementara hasil dari menjual 3 piring itu bisa diolah menjadi 6 piring makanan lagi.Ini terlihat sederhana dan simpel tapi ini kenyataan yg akurat dan dirasakan oleh setiap orang yg terjun dalam bisnis ini.

Sehingga usaha rumah makan tergolong usaha bisnis aman.


Meski perkembangannya tidak terlalu cepat bahkan tergolong lambat namun bila sudah mendapatkan Rezeki,ada usaha rumah makan yg melesat perkembangannya secara menghebohkan.Sehingga bisa dikembangkan dg cara yg lebih canggih dan moderen namun yg demikian tidaklah terlalu banyak.

Dengan uang ditangan sejumlah 28 juta mereka bisa memulai berjualan dg leluasa.Mereka sudah menyiapkan dana setidaknya untuk satu bulan berjualan dg perhitungan selama 1 bulan itu mereka hanya mencari pelanggan saja.Tak ada keuntungan.Makanan yg tidak terjual bisa dibagi-bagikan kekampung sebelah atau dimana saja mereka jumpai,orang yg hidup dalam kemiskinan.Tidak kepada para tetangga sebelah yg dekat dg mereka karena dikhawatirkan mereka akan terus berharap setiap hari mendapat makan gratis dan bila pemberian itu dihentikan mereka akan kecewa berat.

Uang sejumlah itu mereka cadangkan sebagian diantaranya untuk kebutuhan darurat mereka menyimpannya dibank Muamalat.

Aziz mengusulkan membuat rumah makan khas Aceh-Jawa dg pertimbangan dan asumsi bahwa masyarakat Jawa yg dikenal dg komunitas Pujakusuma jumlahnya cukup banyak disana.Sebagian kaum transmigran yg sudah turun temurun disitu dan sebagian lagi mantan para pekerja rodi di Zaman Belanda dulu yg kini masih menyisakan cucu atau bahkan cicit2 nya.Selain itu cara mengolah masakan bisa dipelajari,jadi tak masalah bila mereka menyediakan juga makanan khas setempat.Masakan Aceh tentu lebii banyak penggemarnya dikota itu.Ini logika sederhana,maka didirikanlah rumah makan dg nama Rumah Makan Aceh-Jawa,Niagara.Mereka berharap hasil dari usaha rumah makan itu akan mengalir deras seperti halnya air terjun Niagara dinegeri nun jauh disana.

***


Pertama kali dibuka tentu mereka masih harus mencari pelanggan.Sehingga tidak ada kesibukan yg berarti,kesibukan sesungguhnya justru dimalam hari atau tepatnya dini hari untuk menyiapkan beberapa jenis masakan yg akan dipajang dietalase.Untuk melayani pembeli belum diperlukan banyak orang maka sementara waktu,Rafiqah yg akan mengurusnya.Sementara Aziz memilih mencari kesibukan lain bekerja secara part time disebuah toko kelontong besar disebuah pasar dekat Masjid raya.Ia memang tipe pekerja keras yg sulit untuk duduk berpangku tangan saja tanpa bekerja dalam sehari saja.Jarak toko tidak terlalu jauh dari lokasi dimana mereka tinggal.

Di malam hari tepatnya sehabis Magrib,Aziz meluangkan waktunya untuk memberi pelajaran membaca Al Quran dan pengajian untuk remaja dan anak2.Lokasinya di Masjid Nurul Fitrah dekat rumah mereka.Sebuah masjid yg tidak terlalu besar kira2 15X12 Meter saja namun sudah digunakan sebagai Masjid Jami.Disitu didirikan shalat berjamaah setiap harinya dan juga shalat jumat setiap pekannya dg cara itulah Aziz ini hidupnya tak lepas dari belaian indah amal ibadah dan sejuknya atmosfir keislaman karena ia sadar dunia ini hanya media menuju keabadian dialam sana.

"Apalah artinya aku mengejar dunia? Perumpamaan antara aku dg dunia tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara dalam satu riwayat yg beristirahat dibawah naungan sebatang pohon kemudian pergi lagi meninggalkannya"(Diriwayatkan oleh Ahmad,At Tirmidzi,Ibnu Majah dan Al Hakim dinyatakan shahih oleh Syaikh Al AlBani)

BERSAMBUNG....

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 14



~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 14
MULAI HIDUP BARU

Baik Aziz maupun Rafiqah memiliki karib kerabat di Aceh mereka tersebar dibeberapa wilayah di Aceh Barat,Timur,Tengah yg sangat luas.

Tapi mereka berniat untuk tidak akan menggantungkan hidugnya pada pertolongan atau budi baik karib kerabat mereka itu selain kondisi ekonomi para kerabat Pak Broto maupun Aziz yg rata2 masih ditaraf miskin maksimal hanya hidup secara sederhana mereka juga ingin lebih mandiri untuk itu mereka ingin nyaman tinggal di Aceh.

Dan untuk itu juga uang sebesar 75 juta mereka belikan sebuah rumah yg secara kebetulan mereka dapatkan dg cukup murah termasuk kawasan kota di Banda Aceh.Rumah itu dahulu pernah ditinggali seorang perantauan dari Minang kabau dan dibagian depannya pernah digunakan sebagai rumah makan sehingga sekali tepuk 2 lalat tergilas.Sekali menggelojorkan modal mereka mendapatkan rumah sekaligus lokasi strategis berwirausaha maka usaha yg mereka rintis sudah pasti bisnis rumah makan.

Rumah makan adalah bisnis aman orang bilang seorang penjual makanan bila pergi dg modal 20 ribu dan pulang kembali dg uang 20 ribu berarti ia sudah untung,kenapa? Karena ia sudah makan dari dagangannya sendiri apalagi bila makanan itu adalah makanan pokok nasi dan lauk pauknya itulah bisnis yg akan mereka garap.

Disebut aman karena makanan adalah kebutuhan harian selama ada orang makan diluar rumah,selama itu pula bisnis rumah makan bisa berjalan bahkan dilokasi dimana orang tak terbiasa makan diluar rumah bila sudah didirikan rumah makan akan banyak yg tergoda mencicipinya maka dalam bisnis rumah makan ada 2 jurus yg tidak boleh diabaikan.

Pertama cermati selera pasar jangan membuat makaman dg cita rasa yg asing kalaupun hendak mengusung makanan daerah seperti masakan padang,maskan jawa atau masakan sunda cita rasa harus diinovasi beri toleransi pada selera masyarakat disekitar buat sentuhan rasa yg dapat diterima kebanyakan orang pembeli adalah Raja,orang tak layak menjual sesuatu apalagi makanan dan memaksa orang lain untuk menyukainya.


Kedua konsistensi rasa,biarkan cita rasa sederhana dan apa adanya tapi bila konsisten akan terkumpul juga banyak orang yg menjadi pelanggannya namun betapapun lezatnya cita rasa apabila selalu berubah-ubah akan sulit menarik pelanggan.Setiap saat pelanggannya akan berganti-ganti.Orang hanya akan senang saat makan pertama kali dikali kedua ia akan kecewa.Ini musibah besar bagi pebisnis rumah makan.

Kalau mau ditambahkan lagi pelayanan.Soal lokasi memang berpengaruh tapi tak terlalu besar terbukti banyak rumah makan yg laris padahal terletak ditengah sawah atau masuk kesebuah gang sempit dan banyak rumah makan yg sepi meski diletakkan didekat pasar atau dipinggir jalan Lintas antar propinsi.Cita rasa yg memasyarakat konsitensi rasa dan pelayanan.Itu 2 atau 3 kali hal yg menjadi jurus maut dalam bisnis rumah makan.

Juga disebut aman karena bisnis ini minim resiko bila tidak habis makanan bisa dimakan sendiri dan sisanya dibagikan kepara tetangga itung2 sedekah.Bila kita menjual 6 piring makanan yg laku 3 piring maka 3 piring yg tersisa bisa kita sikat sebagai jatah makan kita keesokan harinya sementara hasil dari menjual 3 piring itu bisa diolah menjadi 6 piring makanan lagi.Ini terlihat sederhana dan simpel tapi ini kenyataan yg akurat dan dirasakan oleh setiap orang yg terjun dalam bisnis ini.

Sehingga usaha rumah makan tergolong usaha bisnis aman.


Meski perkembangannya tidak terlalu cepat bahkan tergolong lambat namun bila sudah mendapatkan Rezeki,ada usaha rumah makan yg melesat perkembangannya secara menghebohkan.Sehingga bisa dikembangkan dg cara yg lebih canggih dan moderen namun yg demikian tidaklah terlalu banyak.

Dengan uang ditangan sejumlah 28 juta mereka bisa memulai berjualan dg leluasa.Mereka sudah menyiapkan dana setidaknya untuk satu bulan berjualan dg perhitungan selama 1 bulan itu mereka hanya mencari pelanggan saja.Tak ada keuntungan.Makanan yg tidak terjual bisa dibagi-bagikan kekampung sebelah atau dimana saja mereka jumpai,orang yg hidup dalam kemiskinan.Tidak kepada para tetangga sebelah yg dekat dg mereka karena dikhawatirkan mereka akan terus berharap setiap hari mendapat makan gratis dan bila pemberian itu dihentikan mereka akan kecewa berat.

Uang sejumlah itu mereka cadangkan sebagian diantaranya untuk kebutuhan darurat mereka menyimpannya dibank Muamalat.

Aziz mengusulkan membuat rumah makan khas Aceh-Jawa dg pertimbangan dan asumsi bahwa masyarakat Jawa yg dikenal dg komunitas Pujakusuma jumlahnya cukup banyak disana.Sebagian kaum transmigran yg sudah turun temurun disitu dan sebagian lagi mantan para pekerja rodi di Zaman Belanda dulu yg kini masih menyisakan cucu atau bahkan cicit2 nya.Selain itu cara mengolah masakan bisa dipelajari,jadi tak masalah bila mereka menyediakan juga makanan khas setempat.Masakan Aceh tentu lebii banyak penggemarnya dikota itu.Ini logika sederhana,maka didirikanlah rumah makan dg nama Rumah Makan Aceh-Jawa,Niagara.Mereka berharap hasil dari usaha rumah makan itu akan mengalir deras seperti halnya air terjun Niagara dinegeri nun jauh disana.

***


Pertama kali dibuka tentu mereka masih harus mencari pelanggan.Sehingga tidak ada kesibukan yg berarti,kesibukan sesungguhnya justru dimalam hari atau tepatnya dini hari untuk menyiapkan beberapa jenis masakan yg akan dipajang dietalase.Untuk melayani pembeli belum diperlukan banyak orang maka sementara waktu,Rafiqah yg akan mengurusnya.Sementara Aziz memilih mencari kesibukan lain bekerja secara part time disebuah toko kelontong besar disebuah pasar dekat Masjid raya.Ia memang tipe pekerja keras yg sulit untuk duduk berpangku tangan saja tanpa bekerja dalam sehari saja.Jarak toko tidak terlalu jauh dari lokasi dimana mereka tinggal.

Di malam hari tepatnya sehabis Magrib,Aziz meluangkan waktunya untuk memberi pelajaran membaca Al Quran dan pengajian untuk remaja dan anak2.Lokasinya di Masjid Nurul Fitrah dekat rumah mereka.Sebuah masjid yg tidak terlalu besar kira2 15X12 Meter saja namun sudah digunakan sebagai Masjid Jami.Disitu didirikan shalat berjamaah setiap harinya dan juga shalat jumat setiap pekannya dg cara itulah Aziz ini hidupnya tak lepas dari belaian indah amal ibadah dan sejuknya atmosfir keislaman karena ia sadar dunia ini hanya media menuju keabadian dialam sana.

"Apalah artinya aku mengejar dunia? Perumpamaan antara aku dg dunia tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara dalam satu riwayat yg beristirahat dibawah naungan sebatang pohon kemudian pergi lagi meninggalkannya"(Diriwayatkan oleh Ahmad,At Tirmidzi,Ibnu Majah dan Al Hakim dinyatakan shahih oleh Syaikh Al AlBani)

BERSAMBUNG....