Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 13


~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 13
MELANCONG KE NEGERI RENCONG

Pak Broto terkejut Bu Broto terperangah mereka bersama-sama memang kaget bukan kepalang saat mendengar putri mereka bersama suaminya Aziz menuturkan hasrat mereka untuk merantau ke Negeri Rencong.

Pak Broto memang dilahirkan disana ia memiliki sanak famili yg masih berdomisili di Aceh sebagian di wilayah Aceh tengah sebagian lagi di Banda Aceh bahkan Aziz juga memiliki kerabat disana tapi mereka sudah menganggap Jakarta sebagai kota halaman mereka.Ke Aceh bagi mereka berarti kembali ke masa lampau,saat2 Broto kecil masih hidup dilingkungan pedesaan.Sebuah desa 30 km diluar kota Banda Aceh setiap hari pergi kesekolah yg jaraknya tak kurang dari 13 km dg berjalan kaki.Aceh bagi Pak Broto adalah lambang kemiskinan,Ia tak peduli bahwa disana juga banyak orang kaya bahkan cukong dan konglomerat.Baginya hidup di Aceh berarti siap hidup melarat.

"Kenapa kalian memilih membuat usaha disana? Dg uang itu kalian bisa memulai banyak jenis usaha di kota Jakarta,kota ini kota pengusaha setiap jengkal tanah kota ini adalah lahan usaha.Untuk apa jauh2 kabur ke Aceh?"

"Kami ingin lebih mandiri,Papa.Bukankah itu yg Papa inginkan dari kami? Di Aceh kami bisa berdikari karena karib kerabat kita disana juga bukan orang2 yg bisa kami buat bergantung." jelas Rafiqah.

"Tapi kalian belum terbiasa hidup disana,disana masih sulit fasilitas hidup masih serba kurang adat dan kebiasaan hidup masyarakat setempat juga masih jauh dari peradaban moderen." ujar Pak Broto cemas.

"Kalau soal fasilitas hidup yg serba kurang itu yg kami cari kami tak mau uang kami habis untuk di hambur2 kan begitu saja.Jakarta terlalu menantang bagi kami segala bentuk hiburan dan kesenangan seolah-olah benda hidup yg setiap hari menyapa kami.Para penjual makanan selalu menggelitik selera untuk kami panggil dan kami cicipi jualannya.Di Aceh itu tidak akan banyak kami dapatkan,soal adat dan kebiasaan mudah-mudahan kami bisa beradaptasi dg mudah yg terpenting kami meminta doa dan restu Papa dan Mama."

"Soal pilihan hidupmu sekarang kami tak lagi mau banyak turut mencampurinya.Ok.Di manapun kalian mau hidup dan berusaha kami merestuinya yg penting kalian bisa merengkuh kesuksesan.Aku tahu Aziz juga sudah terbiasa berjualan Bapaknya pedagang kain kan? Ok,kapan kalian berangkat?"

***

Pak Broto memang sering terlihat kejam dg memaksakan prinsip dan kemauannya pada setiap anak2 nya.Bu Broto lebih menyerupai asisten yg akan bertindak,bersikap dan berperasaan,sebagaimana adanya Pak Broto.Keduanya selalu satu ide selalu sependapat meski secara hakiki itu mustahil karena kedua manusia tentu tak mungkin sama tapi secara lahiriah begitulah yg tampak.

Namun meski terlihat begitu kejam dan arogan sesungguhnya Pak Broto adalah pria yg amat menyayangi anak2 nya termasuk juga putrinya Rafiqah.Saat pernikahan dg Aziz adalah puncak dari masa senewen Pak Broto setelah merasa gagal menundukkan putrinya melalui Pram hingga saat pemuda shalih itu menghembuskan nafasnya yg terakhir ia harus berhadapan dg trauma lanjutan menyaksikan putrinya menikah dg Aziz jenis pemuda dg celana mengatung dan baju gamis lusuh yg selama ini selalu ia pandang dg jijik maka ia membiarkan putranya Hendra untuk menjadi wali nikah bagi putrinya tersebut namun disudut hatinya ia tetap menginginkan agar putrinya hidup berbahagia.Niat putrinya merantau ia dukung dg doa dan restunya.Bu Broto pun bergembira secara sungguh2 kali ini ia seide dg sang suami sepenuh hatinya.


Maka mereka juga yg akhirnya menyempatkan waktu untuk mengantar Rafiqah dan suaminya Aziz kebandara Cengkareng mereka akan terbang menuju Medan dan dari Medan rencananya mereka akan melanjutkan perjalanan dg bus saja.

Di bandara Cengkareng itulah Pak Broto dan Bu Broto melepas kepergian putri dan menantunya,tangis haru meledak Bu Broto memeluk putrinya seolah-olah enggan melepasnya lama sekali Pak Broto sendiri masih bersikap datar tapi senyum sinis yg biasa membias diujung bibirnya kini tidak tampak yg terlihat justru kerut duka dan kecemasan diwajahnya karena inilah perpisahan pertama dg anaknya untuk pergi merantau setelah perpisahan pertama dg anaknya Andi 1 bulan yg lalu anaknya berangkat ke Amerika untuk belajar di Arizona University.

Tapi kepergian Rafiqah dimata Pak Broto dan Bu Broto jelas punya nilai lain karena Rafiqah pergi untuk merantau dan mencari peruntungan sementara Pak Broto dan Bu Broto adalah tipikal manusia yg sudah nyaris kaku dibawah timbunan kesibukan dan aktifitas yg tindih menindih setiap harinya bahkan untuk sekadar menunggu keberangkatan putri dan menantunya itu hingga take off mereka tak punya waktu maka mereka sulit diharapkan akan bisa sering2 mengunjungi putrinya diseberang sana hanya restu dan doa yg dapat mereka titipkan.

"Saya titipkan dirimu kepada Allah yg tidak pernah menyia-nyiakan segala titipan."(Diriwayatkan oleh Ahmad II:403,Ibnu Majah II:943 Lihat shahih Ibnu Majah II:133)

Doa yg pertama kali dipanjatkan oleh Rafiqah dan Aziz saat turun dari pesawat dibandara Polonia Medan adalah doa permohonan agar mendapatkan lokasi hidup yg penuh berkah bukan kekayaan yg mereka cari tapi keberkahan hidup.

"Ya Rabbku,tempatkanlah aku pada tempat yg diberkati,dan Engkau adalah sebaik-baik yg memberi tempat."(AL-MUKMINUN:29)


Dari bandara Polonia mereka meneruskan perjalanan dg taksi menuju terminal Pinang Baris dari situ mereka mencari loket dan memesan bus Karunia Medan-Aceh.Mereka tiba di Medan pukul 14:00 dan bus baru akan berangkat pukul 16:00 jadi mereka masih punya waktu sekitar 1,5 jan lagi mereka beristirahat sejenak sambil makan siang dirumah makan Minang Melayu setelah itu mereka melakukan shalat di Masjid besar dekat rumah makan tersebut menjamak Dhuzur dan Ashar di waktu Ashar setelah itu mereka kembali ke loket.

Hanya beberapa menit kemudian bus datang dan langsung berangkat menuju Aceh tepatnya kota Banda Aceh ibu kota Aceh yg terkenal dg sebutan Tanah Rencong dan sekarang lebih banyak disebut sebagai Nangroe Aceh Darussalam.Di kota itulah mereka akan menggantungkan harapan untuk membina hidup baru.Rafiqah sebagai istri yg baru saja berusaha bangkit dari kepedihan ditinggal mantan suaminya Pramono Agung setia dan Aziz Pemuda masjid yg baru saja menikmati hari2 terindahnya bersama Rafiqah.Bersama istrinya itu ia berniat merajut lembaran2 indah dikota yg dikenal sebagai serambi Mekah itu.

BERSAMBUNG.....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar