Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 14



~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 14
MULAI HIDUP BARU

Baik Aziz maupun Rafiqah memiliki karib kerabat di Aceh mereka tersebar dibeberapa wilayah di Aceh Barat,Timur,Tengah yg sangat luas.

Tapi mereka berniat untuk tidak akan menggantungkan hidugnya pada pertolongan atau budi baik karib kerabat mereka itu selain kondisi ekonomi para kerabat Pak Broto maupun Aziz yg rata2 masih ditaraf miskin maksimal hanya hidup secara sederhana mereka juga ingin lebih mandiri untuk itu mereka ingin nyaman tinggal di Aceh.

Dan untuk itu juga uang sebesar 75 juta mereka belikan sebuah rumah yg secara kebetulan mereka dapatkan dg cukup murah termasuk kawasan kota di Banda Aceh.Rumah itu dahulu pernah ditinggali seorang perantauan dari Minang kabau dan dibagian depannya pernah digunakan sebagai rumah makan sehingga sekali tepuk 2 lalat tergilas.Sekali menggelojorkan modal mereka mendapatkan rumah sekaligus lokasi strategis berwirausaha maka usaha yg mereka rintis sudah pasti bisnis rumah makan.

Rumah makan adalah bisnis aman orang bilang seorang penjual makanan bila pergi dg modal 20 ribu dan pulang kembali dg uang 20 ribu berarti ia sudah untung,kenapa? Karena ia sudah makan dari dagangannya sendiri apalagi bila makanan itu adalah makanan pokok nasi dan lauk pauknya itulah bisnis yg akan mereka garap.

Disebut aman karena makanan adalah kebutuhan harian selama ada orang makan diluar rumah,selama itu pula bisnis rumah makan bisa berjalan bahkan dilokasi dimana orang tak terbiasa makan diluar rumah bila sudah didirikan rumah makan akan banyak yg tergoda mencicipinya maka dalam bisnis rumah makan ada 2 jurus yg tidak boleh diabaikan.

Pertama cermati selera pasar jangan membuat makaman dg cita rasa yg asing kalaupun hendak mengusung makanan daerah seperti masakan padang,maskan jawa atau masakan sunda cita rasa harus diinovasi beri toleransi pada selera masyarakat disekitar buat sentuhan rasa yg dapat diterima kebanyakan orang pembeli adalah Raja,orang tak layak menjual sesuatu apalagi makanan dan memaksa orang lain untuk menyukainya.


Kedua konsistensi rasa,biarkan cita rasa sederhana dan apa adanya tapi bila konsisten akan terkumpul juga banyak orang yg menjadi pelanggannya namun betapapun lezatnya cita rasa apabila selalu berubah-ubah akan sulit menarik pelanggan.Setiap saat pelanggannya akan berganti-ganti.Orang hanya akan senang saat makan pertama kali dikali kedua ia akan kecewa.Ini musibah besar bagi pebisnis rumah makan.

Kalau mau ditambahkan lagi pelayanan.Soal lokasi memang berpengaruh tapi tak terlalu besar terbukti banyak rumah makan yg laris padahal terletak ditengah sawah atau masuk kesebuah gang sempit dan banyak rumah makan yg sepi meski diletakkan didekat pasar atau dipinggir jalan Lintas antar propinsi.Cita rasa yg memasyarakat konsitensi rasa dan pelayanan.Itu 2 atau 3 kali hal yg menjadi jurus maut dalam bisnis rumah makan.

Juga disebut aman karena bisnis ini minim resiko bila tidak habis makanan bisa dimakan sendiri dan sisanya dibagikan kepara tetangga itung2 sedekah.Bila kita menjual 6 piring makanan yg laku 3 piring maka 3 piring yg tersisa bisa kita sikat sebagai jatah makan kita keesokan harinya sementara hasil dari menjual 3 piring itu bisa diolah menjadi 6 piring makanan lagi.Ini terlihat sederhana dan simpel tapi ini kenyataan yg akurat dan dirasakan oleh setiap orang yg terjun dalam bisnis ini.

Sehingga usaha rumah makan tergolong usaha bisnis aman.


Meski perkembangannya tidak terlalu cepat bahkan tergolong lambat namun bila sudah mendapatkan Rezeki,ada usaha rumah makan yg melesat perkembangannya secara menghebohkan.Sehingga bisa dikembangkan dg cara yg lebih canggih dan moderen namun yg demikian tidaklah terlalu banyak.

Dengan uang ditangan sejumlah 28 juta mereka bisa memulai berjualan dg leluasa.Mereka sudah menyiapkan dana setidaknya untuk satu bulan berjualan dg perhitungan selama 1 bulan itu mereka hanya mencari pelanggan saja.Tak ada keuntungan.Makanan yg tidak terjual bisa dibagi-bagikan kekampung sebelah atau dimana saja mereka jumpai,orang yg hidup dalam kemiskinan.Tidak kepada para tetangga sebelah yg dekat dg mereka karena dikhawatirkan mereka akan terus berharap setiap hari mendapat makan gratis dan bila pemberian itu dihentikan mereka akan kecewa berat.

Uang sejumlah itu mereka cadangkan sebagian diantaranya untuk kebutuhan darurat mereka menyimpannya dibank Muamalat.

Aziz mengusulkan membuat rumah makan khas Aceh-Jawa dg pertimbangan dan asumsi bahwa masyarakat Jawa yg dikenal dg komunitas Pujakusuma jumlahnya cukup banyak disana.Sebagian kaum transmigran yg sudah turun temurun disitu dan sebagian lagi mantan para pekerja rodi di Zaman Belanda dulu yg kini masih menyisakan cucu atau bahkan cicit2 nya.Selain itu cara mengolah masakan bisa dipelajari,jadi tak masalah bila mereka menyediakan juga makanan khas setempat.Masakan Aceh tentu lebii banyak penggemarnya dikota itu.Ini logika sederhana,maka didirikanlah rumah makan dg nama Rumah Makan Aceh-Jawa,Niagara.Mereka berharap hasil dari usaha rumah makan itu akan mengalir deras seperti halnya air terjun Niagara dinegeri nun jauh disana.

***


Pertama kali dibuka tentu mereka masih harus mencari pelanggan.Sehingga tidak ada kesibukan yg berarti,kesibukan sesungguhnya justru dimalam hari atau tepatnya dini hari untuk menyiapkan beberapa jenis masakan yg akan dipajang dietalase.Untuk melayani pembeli belum diperlukan banyak orang maka sementara waktu,Rafiqah yg akan mengurusnya.Sementara Aziz memilih mencari kesibukan lain bekerja secara part time disebuah toko kelontong besar disebuah pasar dekat Masjid raya.Ia memang tipe pekerja keras yg sulit untuk duduk berpangku tangan saja tanpa bekerja dalam sehari saja.Jarak toko tidak terlalu jauh dari lokasi dimana mereka tinggal.

Di malam hari tepatnya sehabis Magrib,Aziz meluangkan waktunya untuk memberi pelajaran membaca Al Quran dan pengajian untuk remaja dan anak2.Lokasinya di Masjid Nurul Fitrah dekat rumah mereka.Sebuah masjid yg tidak terlalu besar kira2 15X12 Meter saja namun sudah digunakan sebagai Masjid Jami.Disitu didirikan shalat berjamaah setiap harinya dan juga shalat jumat setiap pekannya dg cara itulah Aziz ini hidupnya tak lepas dari belaian indah amal ibadah dan sejuknya atmosfir keislaman karena ia sadar dunia ini hanya media menuju keabadian dialam sana.

"Apalah artinya aku mengejar dunia? Perumpamaan antara aku dg dunia tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara dalam satu riwayat yg beristirahat dibawah naungan sebatang pohon kemudian pergi lagi meninggalkannya"(Diriwayatkan oleh Ahmad,At Tirmidzi,Ibnu Majah dan Al Hakim dinyatakan shahih oleh Syaikh Al AlBani)

BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar