~:: KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
kisah nyata
BAG 6
KUNJUNGAN HERYANI
"Wah,susah juga mencari-cari rumahmu.Disini tho?" ungkap Heryani,gadis jawa kelahiran jakarta itu,saat akhirnya tiba dirumah Rafiqah.Mereka berpelukan.Saat itu Rafiqah sedang dirumah Pram baru datang dari Bandung dan waktu itu sedang beristirahat dikamarnya.
Perjumpaan dg Heryani itu untuk pertama kalinya semenjak pernikahan Rafiqah dg Pram dua bulan yg lalu.Heryani datang untuk menagih janji Rafiqah yg katanya akan melanjutkan studinya setelah menikah.Heryani sendiri mengikuti kuliah di LIPIA (Lembaga ilmu pengetahuan islam dan bahasa arab) dimatraman raya,ia mengikuti program sore khusus buat muslimah karena masih minim perbendaharaan bahasa arabnya ia mengikuti pendidikan dari tingkat paling dasar I' DAT LUGHAWI.Sejenis kelas persiapan pematangan bahasa arab sebelum masuk kejenjang kuliah yg sebenarnya.
"Alhamdulillah,akhirnya kita berjumpa juga.Bagaimana kabar Ayahmu? Sehatkah?" tanya Rafiqah kepada teman dekatnya dari masa kecil itu.
"Alhamdulillah,Iqah baik2 saja.Mas Aziz juga sehat kok." canda Heryani.
"Huss,di dalam ada Mas Pram hati2 kamu Her." sergah Rafiqah,Heryani hanya tertawa empuk.
"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu Iqah?"
"Alhamdulillah,baik2 saja.Semuanya terkendali kok." ujar Rafiqah santai.
"Itulah takdirmu,Iqah.Aku gak nyangka kamu bisa menikah secepat ini,kukira papamu itu tipikal ambisius yg mau semua anaknya berpendidikan tinggi." ungkap Heryani tak habis pikir.
"Ya,semula aku berpikir seperti kamu juga.Aku sempat heran ketika papaku menyuruhku menikah tapi tampaknya papaku memiliki rencana tersendiri.Ia terobsesi bahwa dg menikahi Pram aku akan berubah tak lagi bersikap ekstrim dan fanatik terhadap keyakinan islamku tapi kayaknya Pram tak seutuhnya seperti yg diduga papaku..."
"Maksudmu?" potong Heryani.
"Pram memang dibesarkan dilingkungan sekuler cara berpikirnya melonjak-lonjak berusaha menerobos segala etika dan kenormalan lingkungannya.Baginya itu cara berpikir yg progresif,ia juga tidak pernah dididik dg norma2 keislaman secara detil.Ia shalat tapi tak pernah mengerti bahwa islam itu adalah the only way of life namun sejauh ini karakter dan kepribadiannya baik sekali bahkan bagiku sangat memikat dilihat dari keberadaan dirinya sebagai orang yg tidak murni religius bukan dari kalangan santri dan tidak terbiasa hidup secara islami mungkin ia bisa diibaratkan mutiara hitam yg bila dipoles dg tangan dingin secara akurat dan hati2 pasti menyemburatkan cahaya alaminya yg memesona..." Rafiqah bertutur panjang.
"Aih,baru kali ini aku mendengarmu memuji-muji pria selain Azizmu itu..." seloroh Heryani.
"Huss,ngawur.Jelas dong,Pram itu kan suamiku Her.Kamu ini gimana sih?" mata Rafiqah membulat mencoba menggertak temannya itu tapi Heryani tidak takut sedikit pun ia malah tertawa lebih lepas.sampai lupa,kalau ia berada dirumah orang lain.
"Ok,aku sekarang serius Iqah.Apa menurutmu Pram itu sudah tipikal ideal sebagai suami?"
"Kalau engkau bertanya saat ini,aku rasa ya.Aku yakin demikian.Aku tidak mengatakan ia adalah tipikal suami sempurna seperti yg aku idam2 kan karena kesempurnaan itu amat relatif.Ideal tidak harus berarti sempurna mendapatkan pasangan hidup yg ideal sudah merupakan anugerah,Her.Terutama dizaman seperti ini,sedikit orang yg punya kesempatan demikian.Kenapa aku katakan ia suami ideal bagiku? Karena meski kami memiliki cukup banyak perbedaan dalam hal2 prinsipil,namun kami memiliki kesamaan yg ajaib,kami ingin sama2 belajar dan menata diri kami berusaha agar segala perbedaan itu bisa terkikis hingga menyatu dalam keserasian.Kamu jangan salah paham,Her.Aku tak sedikit pun mau mengorbankan prinsip2 agama apalagi akidah yg aku yakini tapi aku menuntut Pram untuk bisa menyempurnakan sisi2 pemahaman agamanya,sisi komitmennya terhadap ajaran agama,ia juga menuntutku menjadi istri yg patuh yg mau
"Pram memang dibesarkan dilingkungan sekuler cara berpikirnya melonjak-lonjak berusaha menerobos segala etika dan kenormalan lingkungannya.Baginya itu cara berpikir yg progresif,ia juga tidak pernah dididik dg norma2 keislaman secara detil.Ia shalat tapi tak pernah mengerti bahwa islam itu adalah the only way of life namun sejauh ini karakter dan kepribadiannya baik sekali bahkan bagiku sangat memikat dilihat dari keberadaan dirinya sebagai orang yg tidak murni religius bukan dari kalangan santri dan tidak terbiasa hidup secara islami mungkin ia bisa diibaratkan mutiara hitam yg bila dipoles dg tangan dingin secara akurat dan hati2 pasti menyemburatkan cahaya alaminya yg memesona..." Rafiqah bertutur panjang.
"Aih,baru kali ini aku mendengarmu memuji-muji pria selain Azizmu itu..." seloroh Heryani.
"Huss,ngawur.Jelas dong,Pram itu kan suamiku Her.Kamu ini gimana sih?" mata Rafiqah membulat mencoba menggertak temannya itu tapi Heryani tidak takut sedikit pun ia malah tertawa lebih lepas.sampai lupa,kalau ia berada dirumah orang lain.
"Ok,aku sekarang serius Iqah.Apa menurutmu Pram itu sudah tipikal ideal sebagai suami?"
"Kalau engkau bertanya saat ini,aku rasa ya.Aku yakin demikian.Aku tidak mengatakan ia adalah tipikal suami sempurna seperti yg aku idam2 kan karena kesempurnaan itu amat relatif.Ideal tidak harus berarti sempurna mendapatkan pasangan hidup yg ideal sudah merupakan anugerah,Her.Terutama dizaman seperti ini,sedikit orang yg punya kesempatan demikian.Kenapa aku katakan ia suami ideal bagiku? Karena meski kami memiliki cukup banyak perbedaan dalam hal2 prinsipil,namun kami memiliki kesamaan yg ajaib,kami ingin sama2 belajar dan menata diri kami berusaha agar segala perbedaan itu bisa terkikis hingga menyatu dalam keserasian.Kamu jangan salah paham,Her.Aku tak sedikit pun mau mengorbankan prinsip2 agama apalagi akidah yg aku yakini tapi aku menuntut Pram untuk bisa menyempurnakan sisi2 pemahaman agamanya,sisi komitmennya terhadap ajaran agama,ia juga menuntutku menjadi istri yg patuh yg mau
Senantiasa membantu suami dan itu tidak mudah,aku perlu banyak belajar.Kami sering berbenturan pada sisi interpretasi pada kepatuhan itu.Aku membatasinya pada hal2 yg kuanggap tak melanggar aturan Allah dan ia sering tidak bisa menerimanya tapi aku sadar ia tidak menerima bukan berarti ia kejam namun hanya karena ia belum bisa memahaminya makanya aku selalu menghibur diri dg hadist Nabi,
"Janganlah seorang suami beriman membenci istrinya yg beriman karena kalau ia tidak menyukai salah satu tabiatnya pasti ada tabiat lain yg membuatnya merasa senang."(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad)
Sebagaimana suamiku belajar memahamiku aku pun belajar memahaminya.Bagiku usaha untuk saling memahami adalah kunci utama menuju perbaikan diri tanpa itu keserasian pun nyaris tak berarti apa2...."
"Wah,kamu memberiku wawasan baru Iqah.Betul kata orang pengalaman itu guru yg terbaik tapi aju memang melihatmu berbeda Iqah."
"Berbeda bagaimana?" tanya Rafiqah.
"Aku lihat banyak diantara akhwat yg meskipun sudah memiliki suami yg taat beribadah,sudah lama mengaji tapi masih selalu mengeluhkan perbedaan2 sepele diantara mereka.Saat aku melihatmu menikah dg Pram aku pikir engkau akan sangat menderita dan engkau tak akan mampu keluar dari jebakan konflik yg akan memenjarakan kepribadianmu tapi ternyata engkau mampu bersikap sedemikian dewasa,optimisme dalam dirimu membuatmu terkagum-kagum Iqah."
"Aku menyimpan satu hal yg menjadi prinsipku,Her."
"Apa itu?"
"Aku merasa kepatuhankt kepada papa sudah pada tempatnya.Silahkan semua orang menyanggahnya tapi aku berkeyakinan begitu."
"Aku belum mengerti.."
"Begini,papaku menyuruhku menikah dg pria yg dianggap baik Ia mengukur dg sudut pandangnya sendiri terlepas dari ambisi yg mengendap dibalik keputusannya itu,aku menganggap ia telah menyuruhku berbuat baik mungkin standar kebaikan dan keshalihan menurutnya amat rapuh tapi aku memakluminya bila ayahku menyuruhku menikah dg pria yg aku tahu secara pribadi adalah pria bejat,buruk akhlaknya & tidak jelas perikehidupannya aku pasti
Sudah menolak mentah-mentah!!"
"Lalu,kenapa engkau akhirnya menerima lamaran Pram?"
"Entahlah,Her tapi yg jelas aku melihatnya sebagai pria baik,ia memiliki sifat dan karakter yg baik lalu ia menyukai wanita yg berjilbab lebar tidak bersikap apatis seperti papaku.Dalam hati kecilku tersimpan sebuah keyakinan bahwa Pram bisa berubah lebih baik bagiku untuk apa menyimpan timah bersepuh emas? Lebih baik aku memiliki emas yg berselubung lumpur hitam yg pekat sekalipun karena aku masih bisa berharap lumpur itu akan terbuang dan kemuning emasnya akan berkilau suatu hari..."
"Masya Allah! Aku tak menyangka kepribadianmu seindah itu Rafiqah..."
"Ayahmu yg mendidikku menjadi seperti ini,Her..."
"Tapi aku ini putrinya,aku sendiri tak pernah berpikir seperti caramu tak pernah memiliki kebeningan hati,seperti hatimu..."
"Tidak Her,aku tak sebaik kamu.Kalau ada nasihat dan petuah dari ayahmu yg engkau sendiri tak mampu menelannya itu biasa kadang anak seorang dokter malas menelan obat yg diresep oleh bapaknya sendiri makanya banyak anak dokter hanya mau berobat sama orang lain..."
"Maksudmu,aku harus belajar dari selain ayahku?"
"Apa kamu memang mau belajar hanya dari ayahmu saja,Her? Untuk apa kamu kuliah segala?"
"Wah,ngomong sama kamu kadang nyenengin,kadang bikin sewot!"
"Enggak Her,aku serius kok.Banyak petuah ustadz Qomaruddien yg mungkin bagimu biasa karena kamu terlalu sering mendengarkannya tapi justru terpatri dalam diriku.Aku semakin dewasa karena itu...."
"Jadi kamu nyaman bersama Pram?" tanya Heryani lagi.
"Kok,kamu nanya gitu sih? Jelas dong,Pram itu kan suamiku,aku mencintainya dan dilubuk hatiku yg dalam terselip sejuta harapan sekaligus keyakinan bahwa Pram akan selalu menjadi lebih baik....,aku yakin."
"Alhamdulillah,aku turut senang Iqah."
Dibalik ruang tamu dibelakang tirai tepat disisi pintu kekamar tidur,sepasang mata meneteskan cairan bening.Ia terharu bukan main pemilik sepasang mata itu adalah Pram,Pramono agung setia suami Rafiqah yg ternyata terbangun dari tidurnya dan sempat mendengar sebagian ucapan2 arif dan bijak yg keluar dari mulut istrinya.Istri yg amat dicintainya,kini cinta itu bahkan membuncah menjelma menjadi pemuliaan.
Pram kepayahan menahan gemuruh rasa haru didadanya.Sungguh ia merasa menjadi pria beruntung didunia memang selama ini ia juga heran kenapa dari semenjak awal melihat wanita ini hatinya sudah terpikat.Kenapa selama ia kuliah di UI Jakarta dan saat ia menempuh pendidikan untuk meraih gelar S2 nya di Oxford University london ia tak pernah tertarik pada wanita manapun padahal secara fisik banyak wanita yg lebih cantik dari Rafiqah tertama sekali wanita2 amerika berdarah yahudi yg pernah ia kenal.Kenapa ia justru terpikat pada Rafiqah at the first sight? Wanita berjilbab lebar yg begitu sederhana tampilannya dan padahal selama ini ia tak pernah membayangkan akan memiliki istri yg mengenakan gaun muslimah sempurna seperti itu? Ternyata Allah membimbingnya untuk menuju relung2 kesadaran melalui keluhuran budi wanita mulia ini.Subhanaallah!!
Ia tak menyangka hati istrinya sebening itu,cinta istrinya sebersih itu pandangan istrinya terhadapnya sejernih dan sebaik itu
Kepatuhannya selama ini kepada suaminya semulia itu.Justru dia pria yg sungguh tak tahu malu ini yg nyaris menjerumuskan wanita suci itu ke lembah kenistaan.Nyaris ia membuat istrinya terjebak dalam maksiat demi maksiat,nyaris ia menjejali perut istrinya dg makanan2 haram.Ohhh....,betapa sikap istrinya terhadapnya selama ini berasal dari luapan cinta kasih yg bersih bukan dari nafsu syahwat yg kotor dan keji."Ya Allah,betapa lalimnya aku sebagai suami," Pram mengeluh dalam batin,air matanya tumpah ruah tak terbendung...
BERSAMBUNG......

Tidak ada komentar :
Posting Komentar