~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata
BAG 15
DI BALIK RERUNTUHAN ITU...
Hari ini rumah makan tutup,Rafiqah ingin beristirahat.Label 'tutup' sudah dipasang dari sebelum Subuh melekat dikaca depan rumah makan itu.
Para pelayan sudah semenjak kemarin diberitahukan tapi Aziz tetap bekerja ditempat biasa.Menjelang siang hari terasa begitu nyaman,Rafiqah melepas kepergian suaminya Aziz seperti biasanya bekerja part time meski belakangan ini sudah punya intensitas tinggi ditoko kelontong besar yg tidak begitu jauh dari rumah mereka.Jaraknya hanya sekitar 10 kilometer.Itu pun bila ditempuh dg sepeda motor sendiri hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
Tak ada perbedaan dari hari2 biasanya,suasana dipagi itu cukup hening.Temperatur udara juga tidak terlalu panas hanya deru angin yg terkadang agak keras terasa menampar-nampar kulit terutama sekali bagi mereka yg berkendaraan dg sepeda biasa atau sepeda motor dg helm terbuka.
Hanya satu jam setelah kepergian suaminya,ia mendengar suara yg agak aneh dari arah tengah laut.Maklum,ia dan suaminya tinggal meski masih diwilayah kota namun tak terlalu jauh dari laut.Dikala sepi deburan ombak besar sering terdengar sayup2 tapi saat ini bukanlah malam hari.
Meski hening namun ini bukan sejenis sepi yg membuat suara jauh terdengar begitu jelas.Suara itu agak aneh lebih merupakan tiupan keras dari pada suara debur ombak yg biasa dia dengar secara sayup2 ditengah malam.Makin lama suara itu makin terdengar dg jelas.Aih,suara apa gerangan?
Kira2 15 menit sampai 10 menit kemudian suara itu mereda untuk kemudian perlahan-lahan hilang sama sekali sampai 10 menit kedepan suasana kembali tenang seperti biasa.Rafiqah tak lagi memikirkannya.Ia menganggapnya hanya sejenis tiupan angin yg lebih keras dari hari2 biasa.
Hanya saja kira2 10 menit kemudian suara itu muncul kembali meski agak lebih pelan tapi kali ini diiringi gempa yg sangat terasa awalnya pelan seperti gerakan bayi dalam ayunan namun kemudian mulai terasa lebih keras bahkan kian lama kian terasa getarannya sampai akhirnya terasa menggetarkan seisi rumah.
Sejurus kemudian meja dan kursi dirumah itu,bergeser kesana kemari secara tak beraturan.Suara bercampur dg gemuruh gempa yg tampaknya cukup hebat itu semakin menjadi-jadi.Rafiqah mulai dicekam ketakutan,anaknya juga serta merta menangis menjerit-jerit.Rafiqah mulai kebingungan,tampaknya ia juga sadar bahwa ada hal yg sangat tidak beres yg sedang mereka hadapi.
Goncangan gempa semakin kuat namun Rafiqah belum berani keluar rumah.Ia merasa cemas dan khawatir kalau2 keadaan diluar justru lebih buruk lagi karena dari celah jendela yg agak terkuak ia melihat hembusan angin yg sangat kuat dan pohon2 kebil juga terlihat mulai bergoyang-goyang hebat.Sebagian berpatahan dahan2 nya.Kejadian itu berlangsung cukup lama.Hampir setengah jam penuh.
Hatinya agak terasa lega karena setengah jam berlalu tampaknya badai laut dan gempa itu mulai mereda.Suara gemuruh mulai surut,saat itulah pintu rumahnya diketuk diiringi ucapan salam.Suara pria yg amat dikenalnya,tampaknya suaminya sudah pulang.Jelas itu bukan waktu kepulangan suaminya di hari2 biasa.Saat masuk suaminya trlihat begitu cemas dg msih brmandikan peluh Aziz memandang ke arah istri & anak yg masih dlm gendongan istriny
Rafiqah sendiri melihat suaminya dg tidak kalah khawatir,wajah sang suami terlihat agak pucat.Tanda2 kelelahan terlihat jelas mengukir wajahnya.
Selama lebih dari 1 jam Aziz duduk2 menemani Rafiqah hanya sesekali Rafiqah membereskan barang2 rumah yg berantakan tidak karuan.Suasana justru tampak semakin hening tak ada kehebohan yg terdengar dari para tetangganya kecuali beberapa orang yg keluar dan saling bercakap-cakap memperbincangkan gempa yg baru saja terjadi.
Situasi dan kondisi tampaknya sudah terkendali,badai angin yg disertai gempa itu tampaknya sudah benar2 terhenti.Aziz meminta izin kepada istrinya untuk kembali ketoko karena ada barang2 yg belum sempat diberesi katanya toko akan segera ditutup,Ia takut dimarahi oleh majikannya bila barang2 yg di display tidak dikembalikan kelokasi penyimpanan semula.Rafiqah tidak merasa ragu sedikit pun,ia membiarkan suaminya pergi karena paling hanya membutuhkan tak lebih dari 15 atau 20 menit pulang pergi.
Usai ditinggal suaminya,Rafiqah kembali menjalankan aktivitasnya membereskan rumah.Sang anak juga sudah terlihat tenang meski matanya terlihat agak kemerahan karena lama menangis.Tak sampai 5 menit berselang kembali terasa getaran gempa tapi kali ini suaranya makin aneh,gemuruh angin yg terdengar seperti bercampur dg suara air berkecipuk-cipuk makin lama bahkan makin terdengar seperti air tertumpah dari sebuah tebing meluncur kebawah seumpama air terjun.
Ia melongok keluar jendela dg amat cemas.Ya Allah terlihat orang2 dikampung itu berlarian keluar rumah.Apa yg terjadi? Badaikah? Banjirkan? Ia belum menemukan jawabannya.
Namun tiba2 dari kejauhan ia melihat gumpalan asap hitam mengiringi ombak laut yg bergelombang sangat hebat menjulang keatas sambil menerjang-nerjang hebat sangat besar sekali tidak pernah ia melihat gelombang laut sebesar itu sebelumnya seolah-olah rumahnya itu memang dipinggir pantai bahkan ditengah pantai.Ya Allah,apa itu???
Gulungan air ombak yg lebih pantas disebut gunung ombak makin mendekat.Rafiqah segera mengenakan jilbabnya bersiap-siap meninggalkan rumah sambil menanti kedatangan suaminya sedikit uang simpanan dan buntalan pakaian disiapkan,ia berpikir suaminya pasti segera pulang.Betul saja tiba2 terdengar ketukan pintu atau lebih tepatnya gedoran pintu dari luar diiringi salam yg diucapkan dg sangat terburu-buru sang suami pun masuk dalam kondisi yg jauh lebih terengah-engah dari sebelumnya.
"Tampaknya,kita harus segera meninggalkan tempat ini." ujar Rafiqah kepada Suaminya.
"Ya,aku juga berpikir begitu."
Aziz juga sudah menyaksikan keadaan yg porak poranda diluar rumahnya akibat gempa hebat.Orang2 dikampung itu tampaknya sudah amat sibuk untuk mengungsi karena gelombang ombak besar makin lama makin tertarik jauh melewati pantai dan sudah mulai mendekati areal rumah mereka tampaknya sudah terlambat untuk bergerak.Sejenak mereka mematung,mereka gugup bukan main.
Dalam suasa serba kalut Aziz mengajak istrinya Rafiqah masuk kebagian dalam rumah mereka.Aziz teringat bahwa dirumah belakang rumah mereka terdapat lantai yg berlubang 4 persegi panjang yg diberi tutup besi diatasnya.Niatnya lubang itu untuk tempat mengisi barang2 berharga mereka suatu saat.Mungkin sebagai pengganti lemari besi atau brangkas besar yg kalau dibeli tentu amat mahal harganya.Dengan gerak cepat ia mengajak istrinya keruang itu.Anak mereka tentu saja menjerit-jerit tidak karuan,mereka sudah tidak sempat lagi tahu penyebab utama tangisan anak mereka.
Bruaakk!! Suara keras terdengar dibelakang mereka,rupanya lemari diruang tengah rumah mereka jatuh ambruk bahkan kemudian disusul dg suara demi suara keras lain sehingga menimbulkan suara bersahut-sahutan sangat menakutkan.Mereka tidak peduli lagi dg gerak cepat mereka turun kelantai yg menjorok kebawah itu Aziz mendahulukan istri beserta anaknya turun kebawah baru kemudian ia menyusul,dinginnya semen terasa sekali menggigit kaki mereka.
Setelah berada didalam lubang Aziz menutup separuh lubang itu sambil menunggu perkembangan.Tujuan utamanya agar mereka tetap bisa lebih leluasa bernafas dg udara yg masuk melalui celah yg terbuka.Beda kalau penutup besi itu dia rapatkan tentu mereka akan cepat kehabisan oksigen dan kesulitan bernapas tapi niatan itu kemudian terhenti karena gempa dan hantaman badai aneh itu sepertinya menjadi-jadi kalau sebelumnya hanya barang2 rumah yg berjatuhan mulai dari lemari,rak piring hingga meja dan kursi sekarang rumah mereka yg sebenarnya cukup kokoh mulai bergetar hebat kemudian disusul dg runtuhnya sebagian dari tembok rumah.
Yang lebih mengkhawatirkan ombak laut yg membawa limpahan air tampaknya sudah mulai memasuki rumah kontan sekejap saja rumah itu sudah banjir air laut tak ada pilihan lagi pintu besi yg memang didesain dg sistem ditarik kesamping lalu dibagian ujungnya,bagian pintu besi dibuat agak tipis sehingga bisa masuk kelubang yg sengaja dibuat sehingga hasilnya betul2 rapat hanya kali ini tidak dikunci dg gembok karena kunci itu dibuat dibagian atas bukan dibawah.
Sejurus kemudian yg terdengar hanya suara gelombang hebat yg menghantam rumah mereka disusul dg suara reruntuhan bangunan yg terdengar amat menyeramkan,jeritan anak mereka juga makin menjadi-jadi.Di luar gunung ombak dan gelombang air bah menerjang-nerjang dan suaranya bergemuruh begitu hebat.Di dalam lubang itu Aziz,Rafiqah dan anaknya Faiz nyaris kehabisan napas.
Kira-kira 1 jam didalam lubang itu mereka mulai merasa sesak tampaknya karena tidak ada lubang ventilasi sedikit pun dalam kamar pengap itu meskipun itu berguna menahan air agar tidak masuk tetapi akibatnya mereka semakin kehabisan udara segar dan oksigen untuk bernafas bahkan setengah jam kemudian pandangan mereka mulai hitam,kepala mereka mulai pusing,dada mereka sesak tapi anehnya suara tangis anak mereka malah mulai berkurang sedikit demi sedikit namun hal itt justru membuat Rafiqah semakin cemas.
Jantungnya berdegub kencang keringat dingin seperti menyiram seluruh tubuhnya dg deras.
Ia meminta suaminya dg sangat ragu2 untuk membukakan pintu besi tersebut tapi Aziz tidak bisa menjawab.Aziz tak tahu apa yg harus ia lakukan,ia juga kebingungan sekali.Bila pintu dibuka sudah pasti air bah akan masuk bahkan bukan tidak mungkin reruntuhan rumah juga bisa menimpa mereka,sama sekali tidak ada hal lebih baik yg bisa diharapkan kecuali bila badai sudah agak mereda pilihannya hanya diam terpaku.
Dan memang 15 menit kemudian badai mulai terdengar mereda namun suara anak mereka sudah tidak terdengar lagi hal itu sudah tentu membuat kekhawatiran dan kecemasan didada mereka menjelma menjadi teror.
Tanpa banyak berpikir Aziz langsung membuka pintu brangkas pribadi mereka itu awalnya agak sulit karena tampaknya pintu itu tertindih oleh reruntuhan bangunan rumah mereka sehingga cukup sulit ditarik membuka,akhirnya mereka berhasil meskipun beberapa bongkahan batu yg disusul guyuran air hebat terpaksa mereka tahan dg badan dan kepala mereka cukup menyakitkan juga apalagi nafas mereka sudah betul2 habis tapi tak ada waktu untuk berpikir atau mengeluh lagi karena banjir air otomatis langsung memenuhi isi lubang itu.
Dengan susah payah mereka terutama Rafiqah yg menggendong anaknya berusaha keluar dari rumah tersebut dg setengah berenang mereka menerjang keluar.Sangat membingungkan karena mereka sudah tidak melihat pintu2 yg ada dirumah itu lagi yg ada hanya puing2 bangunan dg sisa2 tembok yg masih berdiri canggung,genangan air yg sampai ke paha mereka membuat jalan mereka menjadi semakin lambat tapi akhirnya mereka berhasil mencapai bagian depan rumah yg masih terlihat bagian pintunya sedikit sisanya sudah ambruk tak karuan.
Mereka berlari keluar,pemandangan yg mereka saksikan jauh lebih buruk dari yg mereka banyangkan!!
Kampung mereka bentul2 hancur,rumah2 dan bangunan runtuh nyaris tak tersisa lagi tak ada satu pun bangunan yg terlihat utuh setidaknya dibatas yg bisa mereka lihat dg mata kepala mereka.
Mereka berdiri mematung seolah-olah tubuh mereka disiram air keras tak ada secuil pun ucapan keluar dari mulut mereka,seolah-olah bisu mendadak.
Sekejap mereka baru teringat anak mereka yg masih dalam pelukan Rafiqah,wajahnya pucat kulitnya terasa dingin sekali dan yg membuat dada mereka semakin sesak setelah sekian lama kesulitan bernafas tak terasa lagi detak jantung ataupun suara nafas anaknya mereka terkesiap Enggan untuk memprediksi apa2,Aziz memeriksa dg teliti terutama denyut nadi anaknya,nafasnya,detak jantungnya,temperatur tubuhnya hasilnya sangat pasti Faiz telah meninggal Dunia!!
Suasana menjadi senyap anehnya tak terdengar suara isak tangis atau sedu sedan Rafiqah dan Aziz meskipun cairan bening terlihat menetes tidak banyak tapi cukup untuk membasahi pipi Rafiqah meski mata Aziz memerah menyemburatkan duka yg menganga dalam dadanya tampaknya Rafiqah dan Aziz sadar bahwa bencana itu murni kehendak Allah dibalik soal apakah ia sekadar bencana atau peringatan atas kelalaian mereka selama ini.Dan kematian anaknya sama sekali bukan akibat keteledoran mereka namun itu suratan yg siapa pun tak mampu menghindarinya.
Bagi Rafiqah sendiri itu musibah kedua yg harus ia alami dalam hidupnya yg akhirnya membuat air matanya tak lagi mampu mengucur deras duka akibat musibah kematian Pram telah membuatnya semakin tegar namun Allah belum berhenti mengujinya dan ia tak mau menjadi orang yg gagal dalam ujian itu.Ia menarik nafas dalam2 berdzikir syahdu mengalir dari mulutnya.ALLAHU AKBAR,ALLAHU AKBAR,LAA ILAAHA ILALLAHU ALLAHU AKBAR.....
***
Badai Tsunami! Itulah nama badai yg akhirnya mereka ketahui,melalui kabar dari mulut ke mulut yakni setelah mereka berhasil meninggalkan kampung mereka bergabung dg ribuan pengungsi dari berbagai daerah disekitar kota tersebut adapun penghuni kampung mereka mungkin selain mereka tak ada satu pun yg selamat kalaupun selamat setelah dibawa gelombang ombak kesana kemari itu sebuah keajaiban belaka dan Allah berkenan menampakkan sebagian dasi keajaiban tersebut.
Banyak diantara mereka yg beruntung menyaksikannya atau minimal mendengar ceritanya.
Rafiqah dan Aziz selamat tak kurang suatu apapun hal itu sudah patut menimbulkan rasa syukur mereka sehingga setelah dg tergesa-gesa menguburkan anak mereka,mereka pun melanjutkan perjalanan menjauhi daerah tersebut menuju kampung2 penampungan.Badai berikut gempa yg katanya nyaris mencapai 9 skala richter itu betul2 menjadi tragedi bersejarah bagi Rafiqah dan suaminya.Saat beberapa wartawan mewawancarai mereka,Rafiqah terlihat tenang hatinya tetap merasa tentram meskipun kesedihan masih mengintip direlung hatinya.Saat ditanya,bagaimana ia menerima musibah kematian anaknya Ia hanya berkata lugas,
"Bung,Ia hanya titipan Yang Maha Kuasa dan kini Allah berkenan mengambilnya kembali.Apa yg perlu dirisaukan? Keadaannya sekarang bahkan jauh lebih baik dari kondisi kita."
ucapan yg meluncur deras dg nada santun demikian teduh bermakna sehingga beberapa orang disekitarnya dipaksa menangis menitikkan air mata namun Rafiqah sendiri hanya memandang sejenak ke arah suaminya yg juga tidak kalah teduh dan tabahnya lalu kembali seperti biasa.Bencana itu memang merenggut anak mereka tapi sama sekali tidak dapat merenggut iman yg melekat dilubuk hati mereka.
NANTIKAN BAGIAN AKHIR....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar