Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 12


~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 12
HAL-HAL YANG TAK TERDUGA

Kehidupan bergulir dg atau tanpa restu manusia.Gelap dan terang datang silih berganti,dingin dan panas,sepi dan ramai,kesejukan dan kehangatan,datang dan pergi susul menyusul.

Kemudahan dibalikan kesukaran adalah kepastian,mendaki setelah menurun atau menurun setelah menanjak juga hukum alam (sunnatullah) yg tak akan berubah maka bersiaplah untuk bersedih saat anda berbahagia.Nantikanlah saat berbahagia kala anda dilanda duka begitu anda merasakan ketakukan luar biasa disitu kelegaan hati akan menyelinap sesudahnya.

Tentu banyak pria yg memperebutkan janda seperti Rafiqah bila dilihat dari kondisinya yg baru ditinggal suami yg memiliki 2 rumah mewah dilokasi berbeda,beberapa mobil mahal,beberapa unit perusahaan yg masih berkembang biak serta tanah ratusan hektar diwilayah pedesaan maju.Janda kaya,itu yg di incar banyak lelaki apalagi ia cantik,alim dan shalihah tapi siapa bilang Rafiqah memiliki semua yg disebutkan itu?

Ia gadis yg cantik dan shalihah itu benar tapi ia memiliki semua kekayaan tersebut? Ternyata tidak,beberapa bulan usai kematian Pram beberapa hari sebelum pernikahan Rafiqah dg Aziz keluarga Pram datang mereka bahkan ditemani oleh Pak Broto dan Bu Broto kedua orang tua Rafiqah itu hanya bertugas mengantarkan saja namun tidak dg keinginan yg sama.

Kedua mantan mertuanya bersama mantan2 saudara iparnya datang menuntut seluruh kekayaan yg pernah dimiliki Pram tanpa terkecuali.Mereka mengklaim bahwa perusahaan itu adalah perusahaan keluarga yg diputar dan dijalankan oleh Pram padahal jelas tertulis dalam akte2 kepemilikan kesemuanya atas nama mantan suaminya Pramono Agung Setia tapi keluarganya bersikap bahwa penulisan nama Pram adalah atas kesepakatan keluarga sebagai formalitas saja.Rafiqah bungkam,ia bisa saja berusaha mengklaim hak2 nya melalui notaris dan pengacara tapi ia tak berminat melakukannya sama sekali.Kematian Pram sudah cukup menjadi kesedihan yg melukai jiwanya sekarang.Ia tak ingin kesedihan itu ditumpuk dg kemarahan,kekesalan dan kebecian.


Rafiqah tahu bahwa itu hanya akal-akalan saja keluarga Pram kaya raya Bapak,Ibu dan saudara2 nya sudah memiliki kekayaan dan asset besar berupa unit2 usaha dan liabilitas berupa rumah mewah,mobil dan tanah.Bagian yg dikelola Pram memang berasal dari modal yg dihibahkan oleh orang tuanya kepadanya tapi Pram berhasil mengelola dan mengembangkannya menjadi berlipat-lipat hanya dalam 2 tahun saja dan semua itu hak miliknya bahkan jatah modal yg dihibahkan Ayahnya kepadanya jauh lebih kecil dari yg diberikan kepada saudara2 nya namun Rafiqah tak memedulikan itu.

Lebih parahnya,rumah berikut mobil2 dan seluruh isi rumahnya jtga diklaim sebagai milik keluarga Pram saat Rafiqah mengusulkan rumah2 dan kendaraan dibagi2 kan saja sesuai al-faraaidh aturan pembagian warisan dalam islam mereka menolak mentah2 sekali lagi Rafiqah mengalah.

Beruntung salah seorang saudara Pram yaitu kakak kandungnya yg bernama Joko memberikan uang tunai kepada Rafiqah sebesar 25 juta rupiah jumlah yg sangat kecil dibandingkan total harga kekayaan Pram yg bernilai puluhan milyar rupiah untuk itu Rafiqah bersyukur.Untuk yg keterlaluan sedikitnya itu Rafiqah mengucurkan air mata bersama tangis bahagia.Pram adalah hadiah terindah dan harta termahal yg pernah dimilikinya segala materi milik Pram baginya nyaris tak bernilai apa2.

Kenyataan itu diungkapkan oleh Rafiqah kepada Aziz saat datang melamar dan Aziz menerimanya dg lapang dada.Ia ingin menikahi Rafiqah karena keshalihannya bukan karena harta benda yg dia miliki dan ajaib Aziz juga ternyata tak mengetahui kekayaan mantan suami Rafiqah yg cukup besar kecuali ketika Rafiqah menceritakan hal itu kepadanya.Ini poin penting yg membuat Rafiqah semakin terdorong menerima lamaran Aziz.

Dengan modal 25 juta itu Rafiqah bersama Aziz memeluai kehidupan rumah tangganya.Babak2 baru itu pun memuat kisah yg mendebarkan.

"Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kenikmatan yg memperdayai..."(ALI IMRAN:185)


Bagaimana harus mulai bekerja? Itu yg terlintas dibenak Aziz.Ia orang yg sangat terbiasa bekerja mandiri meski biasanya hanya membantu orangtuanya berjualan dipasar.Ayahnya memiliki sebuah toko bahan yg sederhana dilos sebuah pasar dikawasan Jatinegara,Ayahnya seorang pria berwajah tampan begitu juga Aziz bertubuh kekar dan memiliki rambut semi ikal rambut yg bila disisir sangat rapi dg menggunakan minyak rambut akan menjadi lurus namun bila dibiarkan terurai begitu saja lebih terlihat ikal.Ayahnya inilah yg menempanya menjadi pekerja keras semenjak kecil.

Ditoko kain itulah,Aziz menghabiskan sebagian besar waktunya,selain waktu belajar dan mengaji.Pagi ia belajar hingga siang hari lalu ketoko,sore harinya ia mengaji dan selesai mengaji kembali ketoko jam 8 malam ia baru pulang kerumah.Saat pengajiannya banyak dilakukan pada malam hari Aziz langsung ketoko sepulang sekolah terkadang tak sempat mampir kerumah disitulah ia membantu Ayahnya melayani para bembeli hingga waktu Magrib baru ia pamit untuk menghadiri pengajian2 rutin yg diikutinya.

Itu berlangsung setiap hari semenjak Aziz masih duduk dibangku SD hingga ia lulus SMU setelah lulus SMU Aziz memilih membantu Ayahnya seratus persen berdagang,ia menunda keinginannya untuk kuliah sebenarnya ia ingin mengasah kemampuan bahasa arabnya lebih dalam dan merintis pendidikan diluar negeri.Ia ingin belajar di Timur tengah seperti Ustadz Qomar di Ummul Qura Mekkah atau di Islamic University Madinah tapi keinginan itu sementara ia tunda setidaknya 1 atau 2 tahun ini hingga kemampuan bahasa arabnya mumpuni dan beban orangtuanya lebih ringan.

Tapi takdir mengurai perjalanan hidugnya secara berbeda dari apa yg ia inginkan.

Beberapa bulan yg lalu ia mendengar bahwa suami Rafiqah meninggal dunia Hatinya tercekat ada semacam kegelisahan dalam hatinya ia merasa ikut bersedih atas wafatnya Pram meski ia belum pernah mengenalnya sama sekali karena yg ia rasakan saat itu adalah kepedihan yg dirasakan oleh Rafiqah.


"Kenapa aku jadi membayangkan Rafiqah? Astaghfirullah." batin Aziz

Kegelisahan itu muncul karena disamping rasa sedih atas apa yg diderita Rafiqah ada sejumput harapan yg dulu pernah ada dalam hatinya dan kini kembali menyelinap diam2 ke dalam perasaannya "Aku harus mempersunting,Rafiqah..." ujar Aziz dalam hati.

"Aku harus mengubah bayangan haram ini menjadi karunia yg halal caranya hanya menikahinya" ungkap batinnya lagi.

"Tapi,sudikah Rafiqah menerimaku sebagai suaminya? Kudengar Pram bukan orang miskin sepertiku." begitu tanya hatinya,itulah yg ia belum tahu jawabannya.

Semenjak dahulu ia mengagumi Rafiqah.Semenjak kecil ia memandang wanita itu sangat berbeda dg teman2 wanitanya banyak gadis yg sudah berkerudung dan berjilbab sempurna bahkan lebih sempurna dari Rafiqah tapi kebanyakan mereka berasal dari keluarga yg sudah membiasakan dirinya demikian semenjak kecil atau setidaknya mereka belajar disebuah pesantren yg mendidik mereka untuk terbiasa menutup aurat rapat2 berbeda dg Rafiqah ia memutuskan berjilbab saat keluarganya berada digarda terdepan menentangnya.Ia mengaji dan mempelajari islam di bawah bayang2 wajah masam dan ungkapan2 pedas yg menyembur ke arahnya setiap kali berangkat atau pulang dari pengajian.

Ia juga sosok wanita yg mencoba hidup sederhana dg segala fasilitas mewah yg bisa ia punyai,ia wanita yg semenjak kecil bergaul akrab dg masyarakat miskin menemani mereka dan menyelami kehidupan mereka saat suasana kehidupan rumahnya mencibir segala hal yg berbau miskin,rakyat kecil atau orang2 awam kebanyakan.Ia tumbuh menjadi muslimah sesungguhnya dg usahanya sendiri setelah taufik dari langit menyerbu jiwanya tanpa henti.

Yah,Heryani,Aziz dan beberapa sahabat karib sesama peserta pengajian semenjak kecil membentuk barisan dimana Allah menggunakan mereka dan barisan mereka untuk menelusupkan taufik itu kelubuk hati Rafiqah.Jelas setelah rasa syukurnya kepada Allah yg tiada henti Rafiqah harus banyak berterima kasih kepada teman2 nya itu.


Atas usaha dan kerja keras mereka Rafiqah bisa bertahan mengaji dan mendalami ilmu2 keislaman meski ia kerap terlambat mengejar kesadaran islam yg lebih dahulu akrab dg teman2 dekatnya tapi pencapaian Rafiqah dianggap paling fantastis setidaknya demikianlah dimata Aziz,ia ibarat kembang harum nan indah yg tumbuh ditanah jorok berlumpur sebuah hadits dhaif mengistilahkan wanita seperti itu sebagai khadraa-uddiman.Keindahannya lebih memikat dan memanjakan hati.

Alhamdulilllahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat,kini Rafiqah telah menjadi istrinya.Ditangan istrinya ada uang sejumlah 25 juta rupiah jumlah yg sangat besar bagi Aziz itu sudah nyaris sama dg total modal berjualan kain yg dimiliki ayahnya.Ditangan Aziz ada uang sejumlah 3 juta rupiah uang pemberian Ayahnya sebagai modal untuk memulai hidup baru bersama istrinya jadi kini mereka memiliki 28 juta rupiah sebagai modal awal mengarungi samudra kehidupan rumah tangga yg hingga saat ini belum jelas akan menjadi seperti apa.

Pak Broto dan Bu Broto orang tua Rafiqah memang memandang sinis pernikahan Rafiqah dg Aziz tapi kesinisan itu sesungguhnya telah jauh berkurang karena kemarahan meluap-luap didada mereka terhadap keluarga Pram mantan menantunya itu yg telah mempermalukan mereka habis-habisan tak hanya mempermalukan mereka dan putri mereka Rafiqah tapi keluarga Pram telah merampok secara tidak manusiawi segala kekayaan yg seharusnya dimiliki Rafiqah tak sedikit pun kekayaan yg disisakan keluarga Pram untuk putri mereka itu,selain uang sejumlah 25 juta! Uang yg tidak cukup untuk menyekolahkan putri mereka disekolah favorit keluarga mereka itu selama 1 semester!! Bagi mereka 25 juta itu bukan uang tapi pesangon bagi pegawai yg di PHK,menyedihkan sekali.

Sebelum mengantar keluarga Pram ke rumah Rafiqah yg akhirnya direbut keluarga Pram,orang tuanya sempat berdebat dg mantan besannya itu saat keputusan diambil secara sepihak dan Rafiqah menerimanya dg tabah orang tua Rafiqah tidak bisa menerimanya.


Orangtua Rafiqah ingin memerkarakan kasus itu ke pengadilan,ini penghinaan berat bagi keluarga Broto susilo tapi Rafiqah membujuk orangtuanya untuk mengalah meski tidak bisa menerima tapi akhirnya mereka tak mampu berbuat apa2 karena semua keputusan ada ditangan Rafiqah sebagai mantan istri Pram ia yg berhak mengklaim hak2 nya.

Atas kejadian itu meski memandang sinis pernikahan Rafiqah dg Aziz yg bagi mereka tak menjanjikan hal lebih baik dari pernikahan pertamanya tapi ada sedikit empati dibenak mereka itulah sebabnya saat Rafiqah dan Aziz baru memikirkan apa yg akan mereka lakukan dg modal yg mereka punya Pak Broto dg persetujuan Bu Broto menyerahkan uang sebesar 75 juta kepada mereka berdua,mereka memberikannya sebagai tanda simpati atas duka yg dialami putrinya.Uang itu terlalu kecil bagi keluarga Broto apalagi untuk diberikan kepada putrinya itu,putri yg amat mereka sayangi semenjak kecil meski kerap membuat mereka kelimpungan.

"Saya memberikan uang ini sebagai modal bagi kalian untuk hidup mandiri,saya memang kerap memanjakan anak2 saya semasa mereka masih bersekolah dg memberi fasilitas yg cukup tapi saat hidup berumah tangga saya ingin mereka berjuang menerjang hidup ini dg keringat mereka sendiri.Saya dulu juga berjuang dari level terendah didunia bisnis sebagai pedagang asongan di Jakarta sampai saya berhasil membuat warung kecil dipinggir jalan akhirnya bisa menyewa los untuk berjualan kebutuhan harian di pasar kramat jati lalu membuka toko mas.Baru beberapa keberuntungan membuat saya mampu menekuni usaha properti usaha unggulan para kolongmerat diberbagai belagan dunia.Mulailah dg modal kecil ini untuk membangun hidup kalian dimanapun kalian tinggal antara kami dg putri kami Rafiqah memang ada banyak perbedaan dalam prinsip hidup tapi sebagai orangtua kami tak pernah rela membiarkan anak2 kami hidup menderita.Semoga berhasil...."


Itulah ucapan paling berharga yg pernah didengar Rafiqah dari mulut Papanya Pak Broto susilo,Rafiqah tahu bahwa sesungguhnya Papanya itu amat mencintainya saat memaksanya menikah dg Pram disudut hatinya yg paling dalam sesungguhnya sang Papa juga ingin ia hidup bahagia karena konsep kebahagiaan dimata Papanya berbeda dg yg selama ini diyakini oleh Rafiqah.

Menganut paham materialisme yg menjajah pikiran kebanyakan orang dizaman ini Pak Broto senantiasa memandang kebahagiaan itu pasti bertekuk lutut dibawah todongan harta benda,uang,kekayaan dan reputasi.Bahagia identik dg kaya,populer dan mampu memiliki segalanya.Semakin banyak merasa terhibur dan tertawa semakin banyak bisa bersantai dan bersenang-senang semakin terlihat kualitas kebahagiaan padahal seringkali semua itu hanya tontonan yg terlihat indah namun kosong kesejatian.

Ya,Allah padahal kebahagiaan sejati bukan manusia yg bisa mengukurnya hanya Allah yg maha pencipta,yg maha pengasih,yg maha bijaksana yg menentukan kapan seorang manusia bisa disebut telah berbahagia maka untuk berbahagia kita hanya bisa mempelajari jalan2 nya dari Allah semata.Disini keimanan menjadi dasar utamanya dan disini taufik menjadi asal dari segalanya karena sengsara atau bahagianya manusia Allah pula yg sudah menentukannya,menakdirkan dan menyuratkannya.

"Sesungguhnya salah seorang diantara kalian disempurnakan peciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari lamanya dalam bentuk nutfah,kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari juga kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama 40 hari juga,kemudian diutuslah kepadanya malaikat,yg lalu memiupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk (menulis) 4 perkara (1) ketentuan rezekinya,(2) ketentuan ajalnya,(3) ketentuan amalnya,(4) ketentuan ia akan celaka atau bahagia..."(Diriwayatkan oleh Bhukari XI:417 dlm kitab Al-Qadr,bab takdir dan juga oleh Muslim no 2643 dalam kitab Al-Qadr,bab cara penciptaan manusia dalam perut ibunya)


Allah telah menetapkan kebahagiaan atau kesengsaraan bagi seseorang.Itu soal takdir yg harus kita imani dan itu artinya kebahagiaan datang berdasarkan taufik Allah.

Namun disisi lain kita wajib berikhtiar dan Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha dan amal kebajikan setiap hamba.

Ikhtiar itulah yg harus dicapai dg memproses diri menjadi manusia yg bertakwa karena proses menuju takwa itu terus berkelanjutan dan berkesinambungan sepanjang hidup kita maka proses menuju kebahagiaan juga datang setahap demi setahap sesuai dg tahapan pencapaian ketakwaan yg bisa kita raih.Saat ketakwaan yg terusik oleh noda dosa dan kefasikan saa itu pula nilai kebahagiaan berkurang.Saat dosa kita terhapus dg taubat dan istighfar saat itu pula nilai kebahagian kembali bertambah maka hanya orang paling bertakwa yg berhak merasakan puncak kebahagiaan.Sosok yg beruntung itu Rasulullah.

Kebahagiaan itu sesuatu yg kadang tak bisa dinilai secara kasat mata,ia tersembunyi direlung2 hati yg bila dicoba dilonggok akan semakin pergi.Misterius

Banyak orang mampu banyak tersenyum dan tertawa sementara mereka menyembunyikan benih2 kesengsaraan dalam dada tidak sedikit tangis dan cucuran air mata justru muncul dari sebuah kebahagiaan itulah yg sering disebut sebagai tangis orang2 shalih seperti diungkapkan oleh salah seorang ulama As-salaf,

"Ada kalanya tangisan itu lebih bernilai dibandingkan senyuman."

Diriwayatkan dari Abu Umamah dari Nabi bahwasanya beliau bersabda,

"Tidak ada suatu yg lebih dicintai Allah selain 2 tetes dan 2 bekas: yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yg mengalir fi sabilillah.Adapun 2 bekas: yaitu bekas karena berjuang fi sabilillah dan bekas karena melaksaksanakan salah satu dari kewajiban yg telah diwajibkan Allah"(Hadits riwayat At-Tirmidzi,ia berkata hadits hasan,diriwayatkan juga oleh Ibnu Abid Dunya dan Ath-Thabraani dalam Al-Kabir dan dinyatakan Shahih oleh Al-Albani.


Abdullah bin Umar pernah berkata bijak, "Demi Allah,aku menangis sehingga meleleh air mata membasahi pipiku lebih aku sukai dari pada bersedekah 1000 dinar."(Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi)

Nabi adalah manusia yg paling berbahagia namun beliau banyak meneteskan air mata.Tangisan lebih akrab dg beliau daripada tawa gembira.

"Sesungguhnya aku melihat apa yg tidak bisa kalian lihat dan aku mendengar apa yg tidak kalian dengar.Langit merintih dan memang sudah sepantasnya ia merintih tidak ada tempat dilangit selebar 4 jari sekalipun tanpa terdapat malaikat yg meletakkan kenimgnya bersujud kepada Allah.Demi Allah,kalaulah kalian mengetahui seperti yg aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis niscaya kalian tidak akan merasakan kelezatan wanita diatas ranjang dan niscaya kalian akan pergi ketempat yg tinggi memohon kepada Allah"(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Subhanallah! Seringkali kebahagiaan itu bersembunyi dibalik tangis dan tidak jarang tumpukan kesengsaraan itu berserakan di hati orang yg gemar tersenyum dan tertawa itu salah satu rahasia kebahagiaan yg sulit ditangkap oleh panca indera kecuali oleh sedikit orang yg dikaruniai oleh Allah ketajaman perasaan dalam membaca sisi2 halus dari realitar kehidupan.

***

Uang ditangan mereka sekarang berjumlah 103 juta rupiah jumlah yg sangat besar bagi kebanyakan orang dinegeri kita.Dengan uang itu sesungguhnya mereka bisa memulai berbagai jenis usaha yg baik secara lebih leluasa tapi usaha apa itu? O,ya mereka juga belum memiliki rumah untuk itu mereka bisa menyewa sementara waktu.Biarlah uang itu dijadikan modal berdagang,tapi berdagang apa?

Selama berhari-hari Aziz dan Rafiqah memikirkan langkah apa yg akan mereka ambil untuk memulai berbisnis dg modal tersebut.Banyak usaha dg resiko yg berbeda-beda dan prospek yg bermacam-macam pula tapi untuk sementara mereka akan menganut konsep konservatif dalam bisnis yaitu mencari peluang bisnis yg lebih aman.Resiko kerugian lebih kecil meski perkembangannya juga relatif lamban ada pilihan kedua yaitu gaya bisnis yg lebih agresif dan lebih berani.Resikonya tinggi tapi bayangan keuntungan juga jauh lebih besar peluang berkembangannya luar biasa tapi bila sekali gagal mereka akan tertunduk pasrah merenungi nasib.Opsi pertama akhirnya menjadi pilihan mereka,pilih bisnis yg aman2 saja tapi sekarang yg harus dipikirkan jenis bisnis apa dan dimana mereka akan memulainya?

Satu pekan akhirnya berlalu dan akhirnya mereka membuat sebuah keputusan berani bukan berani dalam memilih jenis bisnis tapi berani dalam berdikari dan mencetak kemandirian setelah berpikir matang mereka memilih untuk membuka usaha jauh dipulau seberang sana.Mereka memilih pindah ke propinsi Aceh di ujung paling barat Sumatra itu dan membuka usaha rumah makan.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar