Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 17


~:: KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH ::~
Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 17

KEMUNING SENJA DI BERANDA MEKAH

Segala puji bagi Allah yg menciptakan dan mengatur kehidupan hamba2 Nya.

Bencana Tsunami telah terjadi,rumah yg dibeli beserta tanah dan bangunan warung makan didepannya oleh Aziz dan Rafiqah seharga 75 juta rupian hancur berkeping-keping hanya tersisa reruntuhan yg menyapa mereka dg keheningan.

Rafiqah dan Aziz berdiri mematung didepan bangunan itu berbagai perasaan dalam jiwa mereka berkecamuk namun senyum tipis dan tulus masih tersungging dibibir Rafiqah,Aziz sendiri meski tanpa senyum tetap berdiri tegak tak ada rona keputus asaan membias diwajahnya.Bangunan itu runtuh tapi mereka masih berdiri tegak itu artinya hidup masih menyala maka tak ada yg patut mereka cemaskan toh,saat keluar ke dalam kehidupan didunia ini mereka lebih tak berbekal apa-apa.


"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun,dan Dia memberi kamu pendengaran,penglihatan dan hati agar kamu bersyukur."(AN-NAHL:78)

Di bank muamalat mereka masih memiliki simpanan uang hasil berjualan selama ini sudah memberikan mereka cukup banyak,sebagian sudah mereka gunakan untuk memperluas warung meski kini sudah runtuh berpuing-puing dan sebagian lagi masih tersimpan aman.Uang itu cukup untuk membangun kembali rumah makan yg kini ambruk tak menyisakan bagian yg bisa ditegakkan lagi.

Selain itu kondisi masih mencemaskan meski sebagian diantara para pengungsi sudah ada yg dijemput sanak keluarga dari luar Aceh.Sebagian lagi memilih kembali kerumah-rumah mereka membuat sejenis tempat tinggal darurat sambil mencari-cari pekerjaan apa saja yg bisa dilakukan.Mencari-cari apa saja yg bisa mereka makan karena bantuan dan makanan berjalan merayap-rayap lambat sekali jauh lebih cepat dari kehebohan yg terjadi saat penggalangan dana itu dimana dalam hitungan menit saja sebuah televisi swasta berhasil mengumpulkan dana ratusan hingga milyaran rupiah semua bantuan itu mungkin akan sampai kalau tidak besok mungkin satu abad lagi tapi mereka harus makan dan hidup sekarang maka tak ada yg bisa dilakukan selain bekerja.

Saat suasana sudah mulai sedikit nyaman Rafiqah dan Azik hendak pergi kewilayah yg tak terkena gempa mungkin di Aceh barat,Aceh timur atau sekalian Langsa atau kawasan lain mereka ingin mencari Bank muamalat yg masih terbuka beruntung buku tabungan mereka masih bisa digunakan meski sudah basah dan sebagian tulisannya hilang.Mereka menyewa sebuah obil milik orang yg dikenal suaminya tapi bukan main sewa sehari 1 juta rupiah.Ini keterlaluan! Ini namanya mencari kesempatan dalam kesempitan sungguh tak tahu malu namun untuk berangkat menumpang mobil2 yg mengangkut barang besi2 tua atau bala bantuan dari wilayah aman rasanya tak mungkin lebih mencemaskan akhirnya mobil disewa 2 hari dan uang sewa dibayar saat mereka kembali.Deal,mereka pun berangkat.

***


Akhirnya uang sudah ditangan dg bersusah payah mereka bisa mendapatkan orang2 yg mau membantu mereka membangun rumah mereka yg kini sudah menjelma menjadi puing2 berserakan.Prosesnya masih sulit bahan bangunannya masih susah dicari dan harganya lebih mahal dari sebelum terjadinya Tsunami tapi mereka tak mungkin menunggu lebih lama,sudah lama mereka tidur dalam tenda dan menahan rasa dingin menusuk setiap malamnya.Dengan kerja keras akhirnya rumah pun selesai dibangun,mereka juga masih harus membeli perkakas2 rumah sederhana uang yg tersisa tidak banyak cukup untuk memulai berjualan tapi tak cukup untuk membuat bangunan tambahan sebagai lokasi warung dan yg lebih parah belum banyak orang yg bisa diharapkan menjadi pelanggan mereka.Suasana masih tak menentu,banyak orang tapi mereka adalah kumpulan manusia dari berbagai penjuru dunia tapi intinya orang2 ada.Selama ada orang bisa diharapkan ada yg membeli jualan mereka tapi ini satu lagi masalahnya bahan2 makanan yg akan dimasak juga masih sulit didapat.Wah,kalau ini solosinya sulit sekali tapi mereka tak mau hidup dg menghabiskan uang mereka tanpa bekerja akhirnya mereka memutuskan untuk menjual makanan yg bisa diolah cepat,disantap nikmat dan disukai masyarakat sekitar apalagi kalau bukan ikan sembam.

Ikan sembam adalah ikan bakar,disembam artinya dibakar tanpa mengunakan banyak bumbu seperti layaknya ikan bakar khas padan atau ikan bakar ditanah Jawa,ia hanya dibakar dg tambahan bumbu merica dan sedikit bawang putih dan garam terkadang hanya dg garam saja.Ya,garam saja ikan dibiarkan matang dg rasa aslinya baru nanti disantap dg nasi panas lalapan dan sambal pedas rasanya menggelitik lidah.

Untuk menjual makanan seperti itu tidak susah nelayan sudah kembali beroperasi dg membeli ikan bukanlah perkara sulit jarak rumah mereka yg tak jauh dari pantai membuat mereka mudah mendapatkan ikan2 segar.Ikan2 itu tak perlu didinginkan dg es dibiarkan begitu saja cukup ditaburi pasir agar lebih awet.



Saat ada pembeli ikan dibersihkan,disiangi dan dibakar aromanya akan terasa menyengat karena ikannya segar.Mereka hanya perlu membuat steling kecil yg diletakkan diatas sebuah meja panjang seperti layaknya orang yg menjual sarapan pagi lalu disediakan beberapa buah bangku panjang dan beberapa kursi plastik itu sudah cukup mewah untuk situasi saat itu yg masih serba darurat.

Saat dibuka hari pertama dimulai dg 3kg ikan saja dg ukuran kecil2 ternyata laris manis sebentar saja ludes banyak pelancong,sukarelawan atau bahkan para penduduk dgn pengungsi disekitar itu yg berminat menikmati ikan bakar buatan mereka.Bosan dg makanan khas pengungsi atau karena penat melakukan evakuasi besar-besaran mereka akan merasa nikmat bila disuguhi ikan bakar segar dg harga sangat terjangkau maka usaha itu kembali berjalan meski dilevel yg jauh lebih rendah tapi kebahagiaan terasa membias indah dalam hati Aziz dam Rafiqah.

Sore itu seperti biasa Rafiqah dan Aziz melayani para pembeli.Sekarang dari mulai jam 6 pagi (saat itu waktu subuh jam 05.30 pagi) mereka sudah membuka warung itu pun sudah banyak orang antri memesan ikan bakar mulai dari jam 6 hingga jam 8 pagi itulah waktu paling ramai setelah itu biasanya berkurang mulai sepi saat itulah Aziz dan Rafiqah melakukan berbagai pekerjaan rumah menyapu,mengepel dan membereskan tempat tidur dan mengisi bak mandi nanti akan mulai ramai lagi sehabis shalat Dzuhur hingga pukul 14.00 siang hari.Siang hingga sore pengunjung agak sepi bahkan sering tak ada pembeli satu pun itulah waktu mereka beristirahat mulai jam 17.00 sore hari pengunjung kembali datang satu persatu puncaknya habis magrib dan biasanya saat itu jualan akan tinggal sedikit dan tak lama kemudian ludes tak tersisa padahal Aziz menyiapkan tak kurang dari 30-35 kg ikan setiap harinya.

Saat itu jam sudah menunjukan pukul 17.15 para pembeli masih sepi bahkan saat itu belum tampak seorang pun saat itu Rafiqah dan Aziz duduk disebuah bangku panjang dibelakang steling bukan didepannya dibangku yg biasa digunakan para pelanggannya


Di situ pandangan mereka kedepan tertutup oleh steling yg tidak terlalu besar tapi berada pas dikepala mereka bila mereka sedang duduk sehingga mereka tidak menyadari ada 2 orang pembeli datang,mereka baru sadar setelah salah seorang diantara kedua orang itu memesan makanan.

"Tolong bakarkan ikannya 2 ekor" ujar seorang pria yg sudah berumur disampingnya seorang ibu berkerudung menemaninya mereka langsung duduk dibangku panjang tepat didepan steling.Aziz dg tergopoh-gopoh menyiapkan sambal dadakan yg pedas sekali sementara Rafiqah menyiangi ikan untuk segera dibakar.Saat itu secara iseng Aziz bertanya.

"Dari mana,Pak? Tinggal di Aceh?"

"Oh,tidak kami dari luar kota."

"Tujuan kemari?" tanya Aziz datar,ia sudah terbiasa mendengar jawaban seperti itu lalu membalasnya dg pertanyaan seperti tadi.Kebanyakan pengunjungnya akhir2 ini justru dari luar kota.

"Hanya ingin menyampaikan bantuan dana untuk para korban Tsunami,kami ingin menyampaikannya secara langsung.Ya,demi kepuasan saja sekaligus untuk melihat langsung lokasi bencana untuk berbagi rasa dg para korban bencana disini."

"Alhamdulillah,rupanya ada juga orang2 yg rela memberikan sebagian harta mereka dan datang langsung kelokasi ini padahal bisa saja Tsunami terjadi kembali.Bapak tidak takut?"

"Ah,untuk apa takut? Niat kami baik,kok.Takdir itu Allah yg menentukan bukan hanya disini dimanapun bisa saja terjadi Tsunami."

"Wah,bagus sekali saya senang mendengarnya." ujar Aziz sambil terus menggiling cabe yg kini sudah berubah wujud menjadi sambal sejenak kemudian sudah siap Aziz mengelap tangannya dg kain blancu yg ia letakkan diatas meja.

"Lagi pula selain menolong para korban bencana kami datang untuk mencari tahu kabar anak,menantu dan juga cucu kami."

"Bapak punya anak dan cucu disini?" tanya Aziz jadi penasaran.

"Ya,kami sedang mencarinya semenjak Tsunami kami kehilangan kontak sama sekali."


"Siapa nama putri Bapak? Mungkin kami kenal?" tanya Aziz.Saat itu Rafiqah sudah selesai membakar ikannya,ia juga penasaran ingin ikut nimbrung bicara.Ia membalikkan badan dan berjalan ke dekat Aziz sementara Aziz berdiri dan berniat menyiapkan lalapan untuk 2 ekor ikan bakar yg sudah siap saji tersebut.

"Nama anak atau putri kami,Rafiqah."

"Eh..sssiii... Si..siapa,Pak?"

Saat itu Rafiqah terkaget,Ia baru menyadari bahwa suara pria itu sudah sangat ia kenal.

"Putri kami bernama Rafiqah suaminya yakni menantu kami Aziz dan cucu kami bernama Faiz....."

Belum selesai pria itu berbicara Rafiqah berhambur ke depan.

"Papa......" Rafiqah berteriak haru.

Pria didepannya memang Papanya Pak Broto susilo,Ia tak mungkin tak mengenali Papanya.Wajah suara dan bentuk tubuhnya ia memang Pak Broto,Rafiqah memeluknya.Aziz juga ikut berhambur dan bergantian Rafiqah memeluk mertuanya tersebut.

"Papa datang sendirian saja? Atau sama siapa?" tanya Rafiqah dg nafas terengah-engah karena menahan haru yg menyesak dadanya.

"Kamu lihat saja sendiri,sama siapa Papa datang."

Rafiqah memandang wanita disamping Pak Broto,seorang wanita yg sudah cukup tua namun masih kelihatan cantik.Wanita itu mengenakan jubah panjang dg jilbab lebar hingga hampir ke lutut jubahnya berwarna coklat tua berbahan tebal sementara jilbabnya juga berwarna coklat kehitaman.Sangat serasi dg kecantikan wajah tuanya,wanita itu begitu anggun.Rafiqah memandang wajah wanita tersebut ia seperti mengenalnya atau wajah wanita ini sangat mirip dg orang yg betul2 dikenalnya tiba2 ia tersentak.

"Ma... Mama? Mama kah itu?" Rafiqah memandang wanita didepannya dg jantung berdegup kencang ia melihat wajah mamanya tapi bukan tampilan mamanya.Mamanya berjilbab? Mungkinkah itu?

"Aih,ananda Rafiqah apa kamu sudah lupa sama mamamu sendiri? Apakah wajah mamamu sudah terlalu tua sehingga kamu tak lagi mengenalinya?"

YA,ia memang mamanya! Masya Allah.Kembali Rafiqah berhambur kepelukan mamanya kali ini ia tak mampu menahan tangisnya.


Ia bagai baru terbangun dari sebuah mimpi buruk dan langsung berhadapan dg istana yg indah memukau memanjakan mata.Mamanya berjilbab? Sungguh nyaris tak dapat dipercaya.

Mamanya datang bukan dg sekadar berjilbab,jilbab yg dikenakan mamanya bahkan sedikit lebih sempurna dari yg dikenakan Rafiqah,mamanya yg sekuler itu? Astaghfirullah,ia jadi berpikir yg tidak2.Keharuan membuat pikiran Rafiqah tak terkendali.

"Sejak kapan mama berjilbab?" tanya Rafiqah penasaran.

"Belum lama ananda tapi sudah terlalu lama untuk usiaku yg sudah menua seperti ini.Aku merasa terlambat menyadarinya."

"Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik,Ma."

"Ya,ananda mama mengerti mama baru mengenakan jilbab ini sebulan yg lalu."

Mimik wajah Bu Broto terlihat sendu air mata menetes di ujung kelopak matanya,ia tersenyum dan melanjutkan ceritanya.

"Saat mendengar berita Tsunami,mama nyaris gila.Mama membayangkan kemungkinan terburuk yg terjadi pada dirimu ada sejuta penyesalan kenapa mama membiarkan kalian berdua merantau kekota ini tapi mama sadar bahwa saat itu memang tak seorang pun mengira kota ini akan dibombardir oleh badai sehebat itu."

Papamu berusaha menyadarkan mama namun mama terus menangis setiap hari mengkhawatirkan nasibmu,kakak2 dan adikmu juga menangis tapi mama yg paling tenggelam dalam tangisan itu terjadi setiap hari sehingga menimbulkan tanda tanya pada diri papamu dan juga saudara2 mu kami berusaha mengontakmu tapi tidak bisa sementara berita tentang ditemukannya mayat korban bencana termasuk dari kota ini Banda Aceh setiap hari bertambah banyak.Mama makin cemas sehingga betul2 mama akan menjadi gila bila tak segera ditenangkan papapu membawa mama ke RS,dokter memberikan mama obat penenang namun sama sekali tak bermanfaat kecuali sekadar menenangkan sesaat saja.Papa tak tahu harus berbuat apa lagi,menjejali mama dg obat penenang terus menurus jelas tidak mungkin.

Saat itu datang temanmu Heryani ia datang dg sebuah ketulusan yg mama kagumi setiap orang yg melihat mama hanya bisa menasehati sebentar saja,


Kemudian membiarkan mama tenggelam dalam kesedihan.Temanmu itu,Rafiqah menemani mama sepanjang hari bahkan ia meminta untuk menginap agar bisa meredakan kesedihan mama.Sungguh mama mengaguminya,melihatnya mama jadi teringat kamu ananda.Ia sama baiknya dg mu dan baru kali itu mama menyadari kebaikannya baru kali itu mama menyadari bahwa jilbab yg ia kenakan memberikan keteduhan dalam hatinya.Ia sungguh wanita yg baik dan shalihah,cantik luar dan dalam betapa iri mama melihatnya dan betapa menyesal mama selama ini membenci wanita2 yg berpakaian seperti itu.

2 hari Heryani menginap dirumah dan dalam 2 hari itu nyaris ia tak beranjak dari sisi Mama,papamu tidur dikamarmu dulu dan Heryani menemani mama dikamar.Ia terus menenteramkan batin mama dg membacakan hadits penjelasan para ulama tentang keutamaan sabar dan cerita2 singkat yg penuh hikmah hati mama menjadi sejuk dan damai,ia juga membaca ayat2 al quran dg suara merdu setiap malam hingga mama tertidur nyenyak.Di waktu subuh kami shalat berjamaah Heryani sebagai imamnya baru saat itu mama merasakan indahnya shalat meski setiap hari mama melakukannya.

Yah,semenjak itu mama semakin menyukainya.Ia mengenalkan mama dg seorang Ustadz yg tinggal tak jauh dari rumah kita namanya ustadz Hamidi.Mama tahu Bapak Heryani juga seorang ustadz tapi tampaknya Heryani sungkan mengenalkan mama dg Bapaknya sendiri.Ustadz Hamidi teman Bapak Heryani Ustadz Qamaruddin tentu ananda sudah mengenalnya.

Akhirnya mama mengajak papa dan juga saudara2 mu membuat pengajian dirumah.Ustadz Hamidi yg mengisinya kami minta setiap hari sehabis shalat ashar sehingga terpaksa pengajian dijadwal selain Ustad Hamidi beberapa Ustadz lain juga secara bergantian mengisi pengajian kami bilang bahwa untuk sementara setiap hari kami mengaji bila kami merasa sudah cukup mengenal dasar2 ilmu yg harus kami pahami terutama soal akidah baru pengajian dibuat 2 kali sepekan saja.Pengajian itu pun berlangsung terus,mama pun memutuskan berjilbab demikian juga adikmu Heni.


Ia sekarang mengenakan jilbab sepertimu,ananda."Mata mama berkaca-kaca.Rafiqah bertafakur dalam haru.

Bu Broto melanjutan ceritanya,

"Baru kemarin kami mendengar bahwa jalan menuju ke Aceh sekarang sudah mulai kebih mudah,kegiatan masyarakat Aceh meski tertatih-tatih sudah mulai berjalan maka kami pun berangkat kesini tak disangka-sangka bahwa Mama Dan Papamu bertemu kalian disini mama senang sekali.O,ya mana Faiz?"

Cerita Bu Broto menyelipkan keharuan hebat didada Rafiqah.Alhamdulillah harapannya selama ini terkabul segala kesedihan dan kedukaan yg masih tersisa di dadanya tiba2 saja menguap habis kini hatinya terisi dg kebahagiaan yg indah bukan main.Aziz juga duduk bertafakur menikmati gejolak hatinya yg diaduk-aduk rasa bahagia yg membuncah mereka terdiam,mereka baru tersadar kalau Bu Broto menanyakan tentang putra mereka Faiz.

Dengan berat hati mereka menceritakan kejadian sesungguhnya.Bu Broto terlihat sedih tapi ia terlihat tabah bertemu dg putrinya dan juga menantunya dalam kondisi sehat wal afiah sudah merupakan kebahagiaan hebat maka mereka pun merelakan kepergian cucu yg tercinta itu Faiz.

***

Hari makin senja langit sedikit demi sedikit mulai menjadi agak gelap sebentar lagi matahari akan tenggelam.Pak Broto,Bu Broto,Rafiqah dan Aziz duduk bercengkerama.Menikmati udara senja yg sejuk didepan rumah mereka.Di atas 2 bangku panjang yg dibiarkan berjejer berdampingan menghadap ke barat.Kemuning senja menyapa mereka kebahagiaan mengembang didada mereka.Mereka berbicara dan tertawa penuh bahagia,dibalik sekian bencana yg mereka rasakan dibalik beragam musibah yg mereka rasakan selama ini ternyata tersembunyi akar kebahagiaan yg baru terlihat menyeruak di senja itu.Akar itu menumbuhkan pohon CINTA yg begitu sejati,cinta dalam lautan iman,cinta anugerah yg tidak akan menjajah jiwa.

Duhai indahnya! Dan itu terjadi bukan di Jakarta bukan dikota yg hingar bingar dg kesibukan manusia berjuta rupa tapi disudut barat dari negeri indonesia.


Di sebuah kota yg baru saja dihantam bencana kolosal Tsunami,kota yg kini kebanyakan berisi orang2 yg terlantar dan menanti belas kasih sesamanya.Di kota yg dikenal dg sebutan Serambi Mekah dan kami lebih suka menyebutnya,BERANDA MEKAH.

TAMAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar