Kamis, 04 April 2013

NOVEL KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH BAG 4


~:: KEMUNING SENJA DIBERANDA MEKAH ::~

Karya: Abu umar basyier
Kisah nyata

BAG 4

JEJAK-JEJAK KASIH

Allah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.Itulah,kenapa pernikahan disyariatkan dan itulah kenapa dalam syarat keserasian menjadi elemen penting yg sangat dibutuhkan.

Dalam sebuah hadits,Nabi pernah menegaskan kepada salah seorang sahabat beliau yg ingin mempersunting seorang wanita untuk dinikahinya.Sabda Beliau,

"Lihatlah terlebih dahulu (wanita) itu.Karena yg demikian itu lebih baik agar tercipta keserasian (yakni tercipta cinta,kasih sayang dan keharmonisan.lihat An-Nihayah oleh Ibnu atsir 1:32) diantara kalian berdua."(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam sunannya kitab An Nikah,bab riwayat melihat wanita yg dipinang,hadits No.1087.Imam At Tirmidzi berkata,hadits ini hasan.Diriwayatkan juga oleh An Nasa'i dlm sunannya dlm kitab An Nikah bab dibolehkannya melihat wanita yg sebelum dinikahi.)


Ketidakserasian adalah virus berbahaya dalam kehidupan rumah tangga tingkat bahaya amat ditentukan dg kapasitas virus itu sendiri,seberapa besar powernya.Wilayah mana yg ia hinggapi dan bagaimana ide kreatif suami istri yg diibaratkan sebagai pakar komputer menyiasati sikap dan langkah mereka agar tak terganggu oleh bahaya virus tersebut.

Yang parah bila ketidakserasian itu melekat pada titik2 sentral yg berpotensi memicu terjadinya komplit berat misalnya dalam soal prinsip hidug,dalam keyakinan atau dalam pandangan terhadap masa depan.Sayangnya pada pernikahan Rafiqah dg suaminya Pram justru dititik2 itulah ketidakserasian berkerumun.Awalnya terlihat agak samar2 namun kian hari kian berwujud jelas akhirnya menjadi sangat jelas.Saat itulah hal2 yg dicemaskan oleh Rafiqah semakin menjelma menjadi kenyataan.

Pram memang bukan pria bejat,pria nakal atau pria tak bermoral,ia pria bagus dg karakter bawaan yg cukup memikat.Hanya masalahnya ia buta agama.Disamping buta agama,ia sudah terlanjur memiliki prinsip,persepsi dan sudut pandang khusus yg mengental liat dalam benaknya selama ini yakni terkait dg nilai2 religiusitas yg harus ia jaga,ia hormati dan ia perjuangkan.

Sementara disisi lain Rafiqah juga punya banyak prinsip dan peta pemikiran yg sering berseberangan dg yg dimiliki oleh Pram.Maka benturan pemikiran pun terjadi,awalnya hanya menimbulkan degup perlahan saja namun makin lama makin menyentak,sedikit lalu akhirnya menggelegar kuat.Langit2trumah tangga mereka pun mulai terancam goyah.

Awal kehidupan rumah tangga mereka sempat bergoyang cukup hebat namun kesabaran Rafiqah dan juga kearifan Pram membuat mereka sejauh ini mampu bertahan dalam benak mereka yg dalam mereka tetap ingin mempertahankan rumah tangga mereka sebisa mungkin.Mereka berusaha agar ketidakserasian diantara mereka dapat segera teratasi minimal terbungkam sejenak.


Diawal sebuah pernikahan kata perceraian memang sangat menakutkan bahkan bagi Rafiqah yg dari semenjak belum menikah pun sudah memperkirakan kemungkinan terjadinya hal itu,Itulah kenapa ia berusaha menata aura rumah tangganya agar tetap nyaman meski perbedaan dalam banyak hal kian hari kian menyeruak.

Ya,contohnya saja soal bar diruang tamu persis dg yg dimiliki oleh orang tua Rafiqah dirumahnya bedanya dahulu Rafiqah hanya sebagai salah satu penghuni yg tak punya hak apa2 untuk campur tangan dalam urusan mengatur isi rumah tapi sekarang ia adalah istri dari bapak Pram yg ikut memiliki rumah dimana mereka berdua tinggal hanya mereka berdua saja karena rumah itu baru dibangun saat mereka sudah menetapkan hari pernikahan dan baru 1 bulan mereka tinggal disitu.

Sebagai nyonya rumah,Rafiqah merasa punya tanggung jawab terhadap apa yg ada dirumah.Bar adalah bahasa dari sebuah gaya hidup moderen hasil adopsi dari masyarakat barat.Persoalannya kebanyakan mereka adalah orang2 yg menganggap minuman itu halal sementara Rafiqah dan suaminya adalah muslim yg tahu betul akan haramnya khamar.Kebanyakan relasi bisnis yg mampir dirumah mereka pun juga muslim jadi sungguh picik bila kebiasaan itu turut dilestarikan oleh mereka.

Rafiqah tidak rela ada sebagian orang berbuat haram bahkan melakukan Dosa besar didalam rumahnya.Lebih parahnya,Pram sering memintanya menyediakan minuman bagi para tamunya.Bila yg dihidangkan adalah kopi,blended bavarage,copucino teh atau juice buah jelas bukan masalah tapi seringkali ia dipaksa untuk memenuhi permintaan sebagian tamu yg ingin bersantap malam dg ditemani secawan wine atau vodca bila demikian sungguh runyam akibatnya.Mau ditaruh dimana imannya? Mau ditaruh mana kepatuhannya pada syariat Allah selama ini?


Ia tahu benar,bahwa yg ia lakukan adalah kerjasama dalam bermaksiat.Padahal Allah sudah menegaskan,

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.Dan bertakwalah kamu kepada Allah,sesungguhnya Allah amat berat siksa Nya."(AL MAIDAH:2)

Ia cemas bahkan merinding hebat bila membayangkan peringatan Nabi yg dituturkan oleh Ibnu Umar putra Umar bin Al Khatab katanya,

"Tahukah,kalian...." Tegas Nabi, ".. Bahwa penjual minuman keras,pembelinya,penyajinya,yg menyediakan fasilitasnya,itu sama dg orang yg menenggak (meminum) nya..." (Lihat mushannaf Ibnu Razzaq IX:240)

Iiih,ia ngeri membayangkan bahwa dirinya termasuk orang yg akan dilaknat karena terlibat langsung dalam kemaksiatan didepan matanya,dirumahnya sendiri.

Dalam sebuah hadist Nabi pernah menegaskan,

"Kalau ada seorang muslim menenggak minuman keras,hukumlah dia dg pukulan cemeti.Bila ia mengulangi untuk kedua kali pukul dg cemeti,kalau ia mengulangi lagi untuk ketiga kali pukul dg cemeti dan bila ia mengulanginya lagi untuk keempat kali penggal lehernya!!!" (Diriwayatkan oleh Ahmad dlm musnadnya XXXIV:228)

Menghidangkan minuman keras kepada para tetamunya sama saja memberi mereka fasilitas untuk berbuat dosa besar yg bila dalam sebuah negara islam sudah mengharuskan mereka dipecut dg cambuk hingga kapok atau bahkan bagi mereka yg sudah kecanduan dipenggal kepalanya hingga mati terkulai.

Realita itu tentu amat menyusahkan hati Rafiqah.


Tak hanya itu,terkadang dirumah mereka diadakan pesta kecil-kecilan saat sebuah proyek besar goal atau usaha yg dikelola suaminya Pram mendapat benefit besar.Disitu terkadang harus dihidangkan macam ragam makanan dan minuman termasuk wine.

Lalu ditengah acara terkadang diadakan acara berdansa.Meski Pram tak pernah menyuruhnya berdansa dg pria lain,seperti lazimnya kebiasaan dikalangan mereka dan bisa jadi ia masih menghormatinya sebagai wanita berjilbab tapi tak jarang ia memintanya berdansa bersama disaksikan belasan hingga puluhan pasang mata,Ia seringkali menolak.

Tapi pernah sekali saja ia memenuhi permintaan tersebut karena desakan Pram yg sudah kelewat batas.Ia melakukannya dg sangat terpaksa namun sialnya justru mereka berdua mendapatkan aplause hebat dari para hadirin,gaya dansanya dipuji hebat,gaya dansa yg santun tapi memikat padahal ia sudah menyimpan serumpun malu dihatinya.Ia sudah merasa begitu terhina,telah mengkhianati kesuciannya,kefasikan yg menurut pandangan kebanyakan mereka adalah keceriaan baginya bagai belati mengubak dada namun itu terlanjur terjadi.

Dan dilain kesempatan,ia kembali diminta berdansa dg Pram bahkan bukan dirumahnya tapi dikediaman salah seorang rekan bisnis Pram! Disitu,ia kembali didesak bahkan dg balutan emosi yg lebih nyata Rafiqah panik,ia sangat tidak mengharapkan terjadinya percecokkan didepan orang banyak sehingga kembali ia mengalah untuk berdansa dg suaminya itu dan itu adalah 2 kali penampilannya hanya itu saja.Sesudah itu ia selalu menolak bila diminta berdansa meski dg suaminya dan meski sang suami memaksa dan mendesaknya habis-habisan karena itu Pram pernah marah hebat dan nyaris menampar wajahnya.

***

Rafiqah merasa bagai dikurung ditengah kobaran api besar yg menjilat-jilat.Sesungguhnya ia punya kesempatan untuk melompat keluar dari kobaran tersebut namun ia masih berharap bahwa itu akan padam dg sendirinya bahkan Pram yg merasa sangat sulit beradaptasi dg Rafiqah secara ajaib juga sama sekali tak menginginkan perceraian.


Ia termasuk orang yg tak menginginkan ada percikan2 api sekalipun yg akan menghangus dirumahnya meski tanpa sadar sesungguhnya dialah yg menyulut api tersebut.

Diluar segala kehebohan dalam gaya hidup sesungguhnya Pram tetap seorang pria yg baik,sikapnya lembut dan bila pun marah ia selalu menahan diri untuk tidak menyakiti istrinya bahkan saat kemaragannya memuncak dan emosinya mendorong tangan kanannya untuk meluncur kewajah Rafiqah,ia tetap menahan diri dan selama ini selalu berhasil.

Karena sikapnya itu,Rafiqah masih sanggup bertahan.Pram bahkan sangat membanggakan dirinya dihadapan teman2 nya dan banyak rekan2 bisnis Pram yg merasa iri dengannya.

"Beruntung kau Pram,dapat istri secantik dan sealim dia..." ujar salah seorang rekan bisnis Pram.Pak Budi namanya lengkapnya Budi santoso.

"Ya,betul.Semenjak dahulu aku memang ingin memiliki istri seperti dia.Bagiku,wanita muslimah yg shalihah akan menjadi bunga kebahagiaan dalam rumah tangga."

"Hmm,yg aku agak heran kenapa wanita seperti dia mau menikah denganmu? Biasanya wanita dg balutan jilbab lebar seperti itu hanya menikah dg teman2 mengajinya." Budi berkata heran.

"Itu namanya jodoh bung! Kalo sudah jodoh,siapa yg bisa menghalangi? Lagi pula,apa aku ini tidak pantas berjodoh dg wanita seperti dia.Kau kira,wanita berjilbab itu makhluk asing dia itu wanita bung.Wanita mana yg tak akan terpikat terhadapku?" Pram menyombong.

"Huh,paling2 kau cuma memanfaatkan hubungan baikmu dg Pak Broto itu.Siapa yg gak tahu,kalau kau itu gacoan Pak Broto sejak dulu.Berapa banyak tender yg kau serahkan kepadanya,padahal banyak yg lebih berkapasitas dibandingkan dia.Aku tahu dia dulunya hanya pedagang emas biasa saja.Kau termasuk yg Paling berjasa mengangkat harkatnya..." Budi mengoceh dg maksud menyudutkan Pram.Ia tak yakin,bila pesona diri Pram lah yg membuat Rafiqah jatuh cinta kepadanya tapi karena Pak Broto keburu kepincut oleh keberhasilan Pram dalam dunia bisnis dan karena Pak Broto seperti berhutang budi kepadanya.


"Ahh,itu cuma bualanmu saja,bilang saja kalau kau merasa iri.Yang jelas,terbukti aku bisa menikahi Rafiqah kalau dia tak suka tentu dia sudah menolaknya..."

Budi terdiam,malas ia beradu mulut dg temannya yg satu ini.Entah karena iri atau semata-mata hanya merasa aneh dg rezeki yg diperoleh Pram.

Orang seperti Pak Budi ternyata tidak sedikit,seringkali Pram menerima pertanyaan serupa dari rekan2 bisnisnya terlebih-lebih dalam berbagai pertemuan dan pesta,Rafiqah selalu tampak beda cara berpakaiannya berbeda 180 derajat dg gaya berpakaian istri teman2 nya bahkan dalam acara pengajian atau sejenis itu yg kadang mereka hadiri bersama-sama gaya berpakaian Rafiqah yg full cover kerap mengundang decak kagum meski tak sedikit yg memilih berbisik-bisik.

Tapi tak seperti yg kerap dibayangkan oleh Pak Broto kebanyakan rekan2 bisnis mereka justru memandang hormat kepada Rafiqah bahkan sesungguhnya Pram tak perlu mendesak-desak istrinya untuk mau berdansa agar mendapatkan apresiasi dari rekan2 nya.Rafiqah sudah menjadi keistimewaan tersendiri pada keluarga Pramono agung setia.

Ditengah kegalauan hati akibat ragam perbedaan dalam prinsip hidug dg suaminya Pram,Rafiqah masih merasa terhibur oleh kenyataan bahwa suaminya itu masih senantiasa membanggakan dirinya dihadapan rekan2 nya.Mereka juga tidak pernah dicemooh atau dicibirkan akibat penampilan dirinya yg menutup aurat secara baik seperti yg selama ini dicemaskan oleh Papanya Pak Broto.Itulah sebabnya kenapa cinta kasih antara dirinya dg Pram betapapun lebar jurang pemisah antara pola pikir dan gaya hidup mereka berdua,masih melukiskan jejak-jejaknya bahkan kumpulan jejak indah yg meskipun terlihat kabur dan buram namun masih menjadi bukti bahwa cinta kasih diantara mereka sebagai pasutri sudah ada namun sejauh manakah cinta kasih itu bertahan untuk tetap ada?

BERSAMBUNG......

Tidak ada komentar :

Posting Komentar