KARYA: SARAH AISHA
BAG 1
Tuhan,
Biarlah kutitip cinta ini pada-Mu
Karena aku tahu,
tak ada yang lebih pantas mendapatkannya
Kecuali Engkau.
Tuhan,
Sekiranya tak ada lagi cinta
yang dapat aku hasilkan
biarlah cintaku pada-Mu
terus merekah sepanjang zaman.
Tuhan,
Apabila sampai akhir waktu
aku tak jua mendapatkan cinta?nya?
Biarkanlah kukembalikan semua cintaku
hanya kepada-Mu
Itulah sebait puisi yang ditulis oleh Aulia ketika perasaan cinta itu tengah melanda hatinya.Perasaan cinta yang tak kunjung jua teraplikasikan pada seorang ikhwan yang entah dimana
adanya sekarang.Ikhwan itu bernama Firman. Aulia mengetahuinya saat dia datang ke perhelatan milad grup nasyid Izzatul Islam ke 9 di Istora Senayan.
Firman itu adalah salah seorang personil grup nasyid asal Solo bernama True Voice. Mereka menjadi salah satu bintang tamu pada acara itu.
Awalnya Aulia tidak pernah mengetahui adanya grup nasyid True Voice dan tidak pernah mengenal Firman. Namun entah mengapa, saat Aulia melihat penampilan Firman dengan aksi panggungnya, tiba-tiba saja ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan, merasuk kedalam sukmanya.
Tiba-tiba saja pandangannya pada Firman berubah menjadi pandangan yang berbeda. Tidak seperti saat melihat penampilan grup nasyid lainnya yang bila dilihat menjadi suatu hiburan dan pencerahan tersendiri bagi kesenangan ruhiyahnya, tapi saat dia melihat Firman dan teman-temannya
mendendangkan nasyid mereka, ada perasaan yang tak menentu arahnya.
Pandangannya berubah menjadi pandangan suka, dan pendengarannya pun berubah menjadi pendengaran suka pada Firman.
Sekitar setengah jam Firman dan teman-temannya membawakan beberapa buah nasyid di atas panggung. Firman juga membawakan sebuah lagu dangdut kepunyaan Rhoma Irama yang berjudul Istri Shalehah.
Setiap keindahan yang tampak oleh mata Itulah perhiasan, perhiasan terindah Namun yang paling indah
Diantara semua Hanya istri shalehah
Istri yang shalehah
Lagu itu terus saja terngiang di telinga Aulia. Tiba-tiba lagu itu menjadi sebuah lagu yang indah yang pernah melintas di pendengarannya. Dan selama itu pula Aulia berusaha keras untuk menjaga pandangannya dari melihat Firman. Namun sebuah layar besar yang terpampang disetiap sudut Istora Senayan membuat Aulia menjadi sulit untuk menahan pandangannya. Dan di
akhir performance mereka, salah seorang dari mereka memanggil nama Firman. Jadilah nama itu menjadi sebuah nama yang selalu di ingat oleh Aulia, sampai sekarang.
Waktu seolah bergulir semakin cepat. Saat Nuning, kakak Aulia mengajaknya untuk segera pergi dari tempat acara karena acara sudah selesai, dia masih belum bisa melupakan sosok Firman yang baru dilihatnya. Entah apa yang membuat Aulia menjadi tertambat hatinya pada Firman.
Yang pasti dalam perjalanan menuju Masjid Al Bina karena waktu sudah mendekati Maghrib, Aulia masih diliputi rasa itu. Rasa yang sangat berbeda pada sosok bernama Firman.Rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya. Apakah mungkin, dia telah jatuh hati pada Firman.
Entahlah. Sejenak, dia basuh peluh yang ada di tubuhnya dengan air wudhu dan dia tenangkan hatinya dengan menunaikan 3 rakaat shalat Maghribnya. Berjamaah dengan kakaknya dan ratusan jamaah lainnya yang pada saat itu juga datang dalam acara milad Izis yang ke 9.
* * *
Pagi kembali menjelang. Sinar matahari pun kembali naik ke permukaan untuk menampakan dirinya dan menunjukkan pada semua penghuni bumi kalau Allah tak pernah tidur. Dia senantiasa mengembalikan malam yang telah larut dengan pagi yang terang benderang.
Mengembalikan matahari-Nya yang sebelumnya telah ia gilirkan ke belahan bumi-Nya yang lain, tanpa prakiraan salah sedikitpun. Dia bisa mengatur semua ini dengan cermat tanpa bantuan
siapapun.
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya Άku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan" (QS.Al An'am ayat 78)
"Dialah Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan seluruh makhluk yang tidak ada sekutu bagi-Nya sampai kapanpun. Dia mengembalikan pagi ini bersama cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke celah-celah kamarnya. Dia mengembalikan pagi ini bersama kicauan burung-burung dan kokokan ayam jantan yang selalu terdengar nyaring ditelinganya. Dan dia pun
mengembalikan pagi ini bersama cita dan harapan yang tengah dirajut oleh hamba-Nya yang bernama Aulia.
Ya, pagi ini setelah shalat Shubuh dan membaca wirid dan Al-Quran, lalu beres-beres di rumah sebentar, rencananya Aulia akan segera bergegas pergi ke kampusnya yang terletak di bilangan
Fatmawati, Jakarta Selatan. Ya, kampusnya bernama Universitas Swadarma.
Hari ini rencananya akan di adakan syuro di Masjid Kampus. Agenda yang nanti akan dibahas adalah masalah Program Bedah Buku yang akan dilaksanakan kurang lebih dua minggu
lagi dari sekarang. Aulia bertugas menjadi sekretaris umum pada acara itu. Makanya jangan heran kalau pagi ini dia tengah dinanti oleh teman-teman ikhwan dan akhwat nya sebab semua
data dan proposal yang dibutuhkan untuk acara itu ada padanya.
Hari ini memang tak ada jadwal kuliah untuknya, namun karena amanah dari acara ini,makanya dia datang ke kampus untuk mengikuti syuro yang diadakan pukul 09.00 WIB. Tapi memang setiap harinya, meskipun tak ada jadwal kuliah, dia memang sering sekali datang ke kampus meskipun itu hanya sekedar menyerahkan tugas pada dosen, mengikuti rapat keorganisasiannya di LDK yang seperti saat ini ia laksanakan, atau membina adik-adik LDK nya.
Jalanan cukup padat pagi ini karena hari ini hari Senin. Hari pertama orang masuk kerja dan hari pertama orang memulai kembali aktivitasnya setelah dua hari kemarin orang-orang itu
berlibur. Termasuk juga Aulia.
Dia sampai di masjid kampusnya tak kurang dari pukul 09.00 WIB saat rekan-rekan satu organisasinya sudah memulai rapat mereka di awali dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an dan
dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia acara bedah buku yang bernama Ramdan.
"Tumben Li, telat." Ucap Yuyun, salah satu sahabat dekatnya, ketika Aulia baru saja sampai dan mendudukkan tubuhnya di dekat Yuyun sambil memegang bahunya.
"Iya nih. Habis macet sekali di jalan. Padahal aku sudah berangkat dari rumah jam 8. Baru
dimulai ya"
Yuyun mengangguk kemudian kembali mendengarkan Ramdan, sang ketua panitia berbicara.Dari sepanjang Aulia berorganisasi di kampusnya, mungkin baru kali ini dia terlambat datang
ke suatu acara. Biasanya dia selalu datang tepat waktu atau kalau pun telat paling hanya lewat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan. Itupun kebanyakan dari teman-temannya yang lain belum pada datang. Biasanya mereka akan berbarengan datang setelah seperempat atau setengah
jam berlalu dari waktu yang ditentukan.
Aulia berprinsip, lebih baik menunggu satu jam dari pada terlambat satu menit. Itulah prinsip yang dijalaninya sampai sekarang. Menurutnya, orang-orang yang sering terlambat berarti
mereka adalah orang-orang yang tidak menghargai waktu. Mereka termasuk orang-orang yang merugi. Seperti halnya yang telah اَللّهُ beri tahukan kepada semua hambaNya dalam firmanNya Surat Al Ashr.
Namun karena jalanan macet, jadilah Aulia menjadi salah seorang dari mereka yang datang terlambat. Namun keterlambatannya itu menjadikan dia semangat untuk lebih disiplin lagi.
* * *
Rapat ditutup dengan pembacaan hamdalah dan doa'a penutup majelis. Aulia, Yuyun, dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk makan bersama di kantin kampus. Setelah
mengelilingi matanya ke semua meja yang ada di kantin, Aulia menemukan tempat yang cukup nyaman disana.
Setelah mendudukkan tubuh mereka disana, Aulia dan teman-temannya memesan beberapa makanan yang berbeda. Aulia memesan somay ikan, Yuyun memesan pempek Pak Karsiman
yang terkenal enak, dan beberapa temannya yang lain ada yang memesan pecel, ketoprak, dan mie ayam.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka sedikit berbincang-bincang tentang masalah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun herannya, Aulia seperti tak bersemangat
sekali dengan perbincangan itu. Dia lebih banyak melamun sambil memainkan sedotan yang ada
di dalam jus jeruknya.
"Lia, kamu kenapa sih." Tanya Yuyun ingin tahu.
Aulia terkejut dengan pertanyaan Yuyun barusan. Dia langsung membetulkan posisi duduknya dan segera menggeleng.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Aulia yang menyembunyikan perasaannya saat ini kepada teman-temannya.
"Kamu ada masalah Li." Tanya temannya yang lain bernama Ike.
Aulia hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Dia kembali diam. Teman-temannya Ĵμƍα hanya bisa saling berpandangan sambil mengangkat bahu mereka masing-masing.
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Aulia mengambil sepiring somay ikannya dari tangan pelayan. Dia mengambil sebotol kecap dan menuangkannya ke atas somaynya itu, sambil melamun.
Tanpa sadar, kecap yang dituangkannya itu turun terlalu banyak dari botolnya hingga hampir membanjiri somay ikannya. Aulia langsung tersadar saat Yuyun dan teman-temannya yang lain
menegurnya.
"Aulia, kecapnya!"
"Astaghfirullah!" Ucap Aulia terkejut sambil mengangkat botol kecapnya.
"Ya ampun, kecapnya banyak sekali" Ucapnya sekali lagi.
"Kamu kenapa sih Li? Sedari tadi aku perhatikan, kamu banyak melamun. Bahkan kamu tidak sadar kalau kecap yang kamu tuangkan kebanyakan" Ucap Yuyun penuh perhatian.
"Entahlah. Tapi, sungguh aku tidak apa-apa" Sahut Aulia sambil terus menyingkirkan kecap yang membanjiri somaynya ke sebuah plastik. Wajahnya terlihat bingung. Tidak biasanya Aulia
bersikap seperti itu.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa Li. Kami semua bisa membaca raut wajah dan sikapmu pagi ini. Kamu beda Li. Tidak biasanya kamu seperti ini. Pasti ada masalah yang sedang kamu
hadapi. Ceritalah Li, mungkin kami bisa bantu" Salah seorang teman yang bernama Nasti mencoba mencari tahu apa masalah yang tengah Aulia hadapi.
Tapi lag-lagi, Aulia hanya menggeleng sambil menjawab,
"Tidak ada apa-apa. Sungguh. Sudahlah, sebaiknya kita makan ªåĴĴäª "
"Tapi kecapnya"Tanya Yuyun spontan.
"Biarlah aku makan. Sayang kalau tidak dimakan akan mubazir. Toh semua ini juga karena kelalaian Άku".
"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanan nya."(QS.Abasa Ayat 24)
"Aku telah berikan banyak nikmat nikmat pada mu, kalau kamu pandai bersyukur dan mensyukuri segala pemberian Ku, Aku akan tambahkan lagi nikmat-nikmat (kesehatan, rezeki, kebahagian dan ketentraman dll) kepada Mu, tapi kalau kamu tidak pandai bersyukur tunggulah azab Ku yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat nanti".(QS.Ibrahim ayat 7)
Aku takut menjadi orang yang dianggap tidak bersyukur kalau membuang makanan ini.?
Ucapnya lagi lalu langsung membaca Bismillah dan memakan somay yang ada di hadapannya.Teman-temannya yang lain pun mengikutinya.Dibalik perasaannya kini bersama teman-temannya, ada sebongkah rasa yang tidak ia mengerti dari mana datangnya.
Mengapa rasa itu menjadi penghalang keceriaannya bersama teman-temannya kini? Perasaan yang menurutnya, tak semestinya timbul dalam hatinya. Saat ini,ia tengah melawan perasaan itu. Perasaan cintanya pada seorang ikhwan bernama Firman.
Tak diduga, rasa itu semakin cepat menjalarnya dan merasuk kedalam sukmanya. Apa yang sebenarnya ia sukai dari sosok seorang Firman, sebenarnya ia juga tidak tahu. Tapi entah mengapa, kini ia menjadi sulit untuk menghilangkan Firman dari ingatannya. Tiba-tiba, ia ingin sekali menikah.
"Menikah dengan orang yang dicintainya, dalam hati ªåĴĴäª " Oh Tuhan, ampuni aku atas perasaan yang tak semestinya ada dalam hatiku.Ucap Aulia dalam hati.
* * *
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar