Minggu, 31 Maret 2013

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 9

~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~

Bag (9)

Siapa kiranya yg berkerudung merah yuk kita baca aja.....

Faris menatap bulan yg temaran diujung langit.Ia tak menjawab pertanyaan Mahardiansyah.
"Jawab pertanyaanku,Ris! Apa kamu sudah mencintai perempuan lain?"

"Entahlah,Har.Aku awam soal mencintai perempuan tapi terus terang selama ini ada seorang gadis yg sering kali berkelebat dalam pikiranku.Aku merasa aneh saat mengingatnya"

"Siapa dia?" Mahardiansyah memotongnya dg sebuah pertanyaan.


"Itulah,Har.Aku sendiri tak tahu apapun tentangnya" Faris diam dan nampak kebingungan bagaimana menjelaskannya.Faris tetap diam dan menunggu reaksi dari Mahardiansyah tapi Mahardiansyah juga terdiam.


"Aku bertemu dg nya dimasjid sekitar 3tahun yg lalu saat itu aku sedang menyapu halaman serambi masjid sepertinya ketika itu ia mahasiswa baru.Ia rajin sekali kemasjid mungkin karena dikosnya ia kesulitan mencari teman untuk diajak shalat berjamaah.Setiap setelah jamaah shalat ia selalu membaca Al Qur'an aku tak pernah memerhatikan wajahnya karena kami sama2 menunduk jika kebetulan kami berpapasan.Aku hanya mengenali warna kerudungnya.Ia sering memakai kerudung yg berwarna merah!


"Satu hari,tatapan mata kami bertemu tanpa sengaja itupun hanya sekilas kami langsung menundukan pandangan saat itu selepas shalat ashar,aku sedang membersihkan halaman masjid mungkin karena wudhunya batal jadi terpaksa ia harus melepas mukenanya dan mengambil air wudhu.Kebetulan saat itu ada seorang nenek masuk ke dalam masjid dari awal aku curiga pada nenek itu,diam2 aku mengawasi gerak gerik nenek tua yg mencurigakan itu.Ia melihat kesekeliling masjid aku pura2 tak memerhatikannya ada sebuah mukena diatas sajadah tiba2 nenek itu mengemasi mukena tersebut dan memasukannya kedalam tas mukena.Aku tahu betul,mukena itu adalah milik gadis yg sedang berwudhu tersebut saat nenek itu hendak keluar dari masjid,aku langsung mencegahnya.


"sebentar,nek.."

"Tapi nenek itu pura2 tidak mendengar dan langsung bergegas ingin meninggalkan masjid.Aku pun langsung menghampirinya saat nenek itu hendl mendekati gerbang pintu luar masjid.


"Maaf,Nek! Mukena yg Nenek bawa milik siapa?"


"Ini mukena saya!"Nenek tersebut menjawabnya dg membentak.


"Allah Maha Tahu,Nek! Saya tahu itu bukan mukena Nenek.Sebaiknya Nenek kembalikan saja jika Nenek minta baik2 pada kami,Insya Allah kami akan memberi sebuah mukena untuk Nenek tapi tolong mukena yg Nenek bawa ini dikembalikan!"kataku setengah emosi.


"Nenek itu malah sewot dan melirikku dg penuh benci.Saat itulah,gadis itu muncul dari tempat wudhu.Rupanya dia mendengar percakapan kami sembari mebenahi letak kerudungnya.Saat itulah aku merasakan dadaku berdesir lembut ada sesuatu yg sangat indah yg tiba2 menyusup direlung hatiku.Perasaanku melambung bulir air wudhu yg menitik dari wajah gadis itu membuat wajahnya kian bercahaya matanya berbinar dan bercelak hitam digaris tepi kelopak matanya yg membuatku tersihir membatu untuk beberapa saat.Senyumannya seketika meredakan amarahku yg hendak meledak tapi cepat2 aku menundukan pandanganku sembari beristighfar berkali-kali.


"Ada apa,ya?"


"Aku masih membatu saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya tapi aku coba secepatnya menetralisir keadaan.
"Eh,ini Mbak.Nenek ini tadi mengambil mukena milik Mbak!"kataku kemudian.
"Benarkah?"


"Nggak! Ini mukena saya!" Nenek itu masih ngeyel.


"Baiklah,saya lihat dulu ya mungkin mukena saya masih ada didalam masjid.
Kemudian ia setengah berlari masuk kedalam,tak lama kemudian ia kembali menemui kami.
"Mukenanya masih ada didalam masjid sepertinya ini hanya kesalahan kecil.


"Aku seperti ditampar mendengar perkataan gadis itu.Aku benar2 yakin bahwa nenek itu telah mencuri mukena miliknya tapi ia malah berdiplomasi.


"Tapi,Mbak..."


"Gadis itu hanya mengangguk sekail.Seolah ingin meyakinkan perkataannya tadi lalu Nenek itupun pergi.Tinggal aku yg saat itu penuh tanda tanya,aku tatap mata gadis itu dalam2 rasanya ingin sekali marah padanya kenapa ia harus berdiplomasi melindungi nenek itu seperti itu? Tapi ia buru2 ia menundukan pandangannya lalu tersenyum sambil bilang"AFWAN" Sebelum akhinya ia berpaling & masuk ke dalam masjid.
Ia mengambil sebuah mukena dari dalam almari masjid.Setelah selesai shalat sunnah lisyukril wudhu,ia membaca Al Qur'an hingga menjelang Magrib.


"Itu hari terakhir aku berjumpa dengannya sampai hari ini aku tak pernah melihatnya lagi dimasjid.Awalnya aku memang marah padanya tapi akhirnya aku menyadari bahwa apa yg dilakukan gadis itu adalah keinginannya untuk bersedekah meski ia tahu betul mukenanya telah dicuri tapi ia malah mengiklaskannya dg cara berdiplomasi kemudian hatinya membuat dadaku berdebar setiap aku teringat kejadian itu semacam ada kerinduan yg mendamaikan ada perasaan unik yg tak bisa kujelaskan,Har!


"Karena itulah,sejak hari itu aku berusaha melupakan wajah gadis itu sehingga kini wajahnya sedikit terlupa olehku meski wajahnya samar kuingat tapi getaran didada ini pasti akan terjadi manakala suatu saat nanti kami bertemu kembali semoga Allah melindungiku dari penyakit hati dan hal2 yg buruk jika memang aku jatuh cinta kepadanya semoga Allah menjatuh cintakan aku pada wanita yg selalu jatuh cinta kepadaNya bukan jatuh cinta karena keindahan raga melainkan karena pesma kebaikan yg slalu ia jaga.Semoga hati ini slalu terjaga dalam kebaikan"


Faris mengakhiri penuturannya dg hela nafas panjangnya saat Mahardiansyah hendak mengomentarinya,Faris buru2 memotongnya.


"Tapi,Har... Aku tak pernah menvonis aku jatuh cinta atau semacamnya kepadanya,aku tak sempat memikirkan perasaan yg seperti itu.Kamu tahu sendiri aku lebih fokus untuk segera berhaji."


Mahardiansyah tak segera menanggapi,Ia menunggu Faris menyelesaikan penjelasannya tapi Faris hanya diam.
"Baiklah,Ris! Aku akan coba jelaskan pada Mila semoga dia mengerti aku juga tak berhak memaksamu untuk menikahi adikku."


Lalu ke2 nya diam,memandang angin yg menari hingga menggetarkan pucuk2 pohon cemara.Sementara itu,sepasang kunang2 berjingkat diantara semak2.Tubuhnyja menyala terang kuning kehijauan terbang rendah disela2 pohon cemara.Tingkah mereka sangat indah


Sedikit bisa mengobati perasaan didalam dada Faris yg sedang berkecamuk.Rasa bersalah yg telah mengecewakan sahabat terbaiknya tapi ia juga tak bisa memaksakan diri untuk mencintai Mila sementara Faris telah berjanji dalam hati untuk mempersatukan Ferdian dan Mila kelak.


Begitu juga Mahardiansyah ia tak mungkin memaksakan keinginannya untuk memilih Faris sebagai suami adiknya.Bagaimanapun Faris berhak memilih siapa yg berhak menjadi pendamping hidupnya nanti tapi Mahardiansyah juga bingung harus dg cara apa menjelaskan semuanya pada Mila.


Keduanya tetap terdiam sebelum akhirnya Faris menepuk pundak kiri Mahardiansyah, "Afwan,Sobat"
Mahardiansyah hanya tersenyum tipis.


*Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar