~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~
(Bag 5)
Hemmmm….. lanjut baca di bagian 5 nyok…
Senandung nasyid telah terdengar syahdu diluar halaman gedung Samantha Krida.Terlihat beberapa mahasiswa saling bercengkrama didepan gedung ada pula yg sedang menikmati jajanan buku dari stand yg disediakan panitia didepan dan samping gedung tapi sebagian besar mahasiswa berada dalam gedung karena sebentar lagi Talk Show Manajamen Cinta segera dimulai beberapa pot yg berisi pohon bambu hias nampak berjajar tapi membelah antara peserta putra dan putri.
Untuk sementara,terlihat jumlah putri 2 kali lipat dari putra hingga membuat gedung yg biasa sebagai tempat berlangsungnya wisuda dan dies natalis kampus tersebut terasa jadi lautan jilbab.
Talk Show tersebut menghadirkan Ust.Salim Abdullah dari Yogyakarta dan Ust.Anif Sirsaeba dari semarang sebagai pembicara yg didampingi seorang motivator lokal dari Malang sendiri.
"Mbak Mila,apa nggak apa2 nih,Chessa pakai ginian? Kayaknya semua yg hadir pakaiannya longgar2 sedangkan Chessa?"tanya Chessa ragu2 pada Mila.Nampak mereka berjalan dg sedikit tergesa.Mila terpaksa menghentikan langkahnya dan memandang Chessa.
"Nggak apa2 kok,Chess! Toh,kamu telah berjilbab dan menutup aurat"
"Tapi,Mbak.Pakaian Chessa kan agak ketat kerudung Chessa juga kecil"
"Baiklah kalau kamu merasa nggak nyaman dg pakaianmu,kebetulan Mbak membawa satu gamis panjang dan kerudung lebar dalam tas Mbak.Kamu bisa memakainya"
"Oh,ya?! Ya,Mbak.Chessa mau!"
"Baiklah.Ayo sekarang kita kemasjid kampus kamu nanti bisa ganti dikamar mandinya tapi cepat,ya! Acaranya sudah dimulai tuh!"
Karena letak gedung Samantha Krida berdekatan dg masjid kampus Raden Fatah UNIBRAW,suara tepuk tangan dan gema takbir pun terdengar membahana.Pertanda Talk Show telah dimulai dan itu membuat Mila cemas.Mila tak ingin kehilangan waktu sedetikpun untuk menyaksikan 2 Ustadz favoritnya sedang berbagi ilmu.Mila juga telah membawa buku"Terapi Virus Merah Jambu" karya Ustadz Anif Sirsaeba dan "Bersenandung Diatas Awan Cinta" karya Ustadz Salim Abdulah.Ia berharap akan mendapatkan tanda tangan dari mereka.
Cepat Chess... Cepat... Cepat... Lirih Mila dalam hati sambil menangkupkan kedua tangan didekat bibirnya yg tak henti seperti berkomat kamit.Mila yg menunggunya dihalaman masjid kampus nampak cemas,sementara Chessa sedang mengganti pakaian.Ia berjalan mondar-mandir kesana kemari.Mila cemas sekali.Sesekali matanya tertuju dalam Gedung Samantha Krida.
Beberapa menit kemudian,Chessa keluar dari masjid.Chessa terlihat anggun sekali dg gamis panjang warna merah marun dg kerudung putih bermotif bunga yg jatuh melambai sepinggang.
"Wah,kamu cantik sekali,Chess!"
"Makasiiih... Chesa merasa jadi Fatimah Az-Zahra!"
"Ayo,Chess! Cepat kita masuk kedalam gedung" Mila menarik tangan Chessa dan mereka pun setengah berlari menuju gedung Samantha krida.
Mereka segera mencari tempat yg kosong tentu yg tersisa dibagian belakang.Mila tidak mau,Mila segera menarik tangan Chessa kembali untuk diajaknya kebagian tengah.
Permisi... Afwan... Permisi... Kata Mila tersenyum setiap melewati peserta Talk Show.Akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk yg nyaris bagian terdepan meski sedikit berdesakan,tapi Mila senang bisa melihat jelas 2 Ustadz favoritnya mata Mila berbinar penuh semangat sedangkan Chessa sedang asyik merapikan letak kerudungnya.
"Mas Faris mana ya,Mbak?"bisik Chessa
"Ssstt... Nanti saja bicaranya!"isyarat Mila dg jari telunjuk dibibirnya
Chessa menuruti permimtaan Mila.Kedua kini hanyut dalam suasana Talk Show yg penuh semangat terlebih Ustadz Anif Sirsaeba yg juga seorang motivator berhasil memprograganda peserta Talk Show dg baik gayanya yg blak-blakan,humoris dan ceplas-ceplos telah menyihir seluruh peserta Talk Show.Kedua pembicara tersebut selalu menyerukan untuk segera menikah dini agar dampak Virus Merah Jambu tidaklah negatif.Talk Show pun terlihat semarak dan hidup terutama bagi Mila.
Meski awalnya Chessa malas untuk berangkat karena bukanlah Faris yg menemaninya tetapi Mila.Padahal setelah Chessa menerima undangan untuk hadir di Talk Shom dari Faris,Ia tlah berkhayal akan bersama seharian dg Faris.
Karena Farislah yg meminta Chessa untuk menemaninya tapi khayalannya tersebut buyar saat melihat langsung Talk Show.Chessa menganggap Faris telah mengkhianati janji mulanya Chessa kecewa dg sikap Faris,tapi tidak lagi setelah melihat acara tersebut namun sesekali mata Chessa berlarian kesana kemari berharap menemukan sosok yg paling ia kagumi diantara puluhan peserta Talk Show tapi Chessa tetap gagal.Chessa tak menemukan Faris.
Seusai acara,Mila mengantar Chessa pulang.
"Afwan ya,Chess.Mas Faris nggak bisa temanimu hari ini"
"Ah,nggak apa2 kok,Mbak.Awalnya memang Chessa berpikir macam2.Chessa pikir bisa bersamaan seharian dan bergandengan tangan dg Mas Faris tapi setelah tahu dari penjelasan Ustadz tadi,jika yg begituan itu nggak boleh"
Mila tersenyum mendengar penuturan Chessa.
"Oh ya,Chess! Sebenarnya rencananya Mas Faris juga datang diacara ini tetapi pagi2 Ia harus berangkat ke Cangar untuk menemui kakakku disana.Ada pesanan buah dan bunga yg sangat banyak buat minggu depan jadi harus dipersiapkan mulai sekarang lagipula,Mas Faris ada pertemuan rutin nanti sore disana"
"Tapi kenapa Mas Faris bilang ingin Chessa yg menemani?"
"Oh,jika Mas Faris nggak bilang gitu,Chessa pasti akan malas datang tapi kamu nggak marahkan,tadi Mbak yg jemput bukan Mas Faris?"
"Awalnya sih iya,Mbak.Tapi sekarang nggak lagi Chessa senang sekali ada banyak ilmu baru buat Chessa apalagi sebentar lagi Chessa mau masuk kuliah.Chessa harus pinter2 jaga pergaulan!"
Mila tersenyum sembari menatap Chessa yg benar2 anggun dg kerudung putihnya.
"Eh,Mbak.Kenapa ya Chessa semakin nyaman dg memakai gamis ini? Damai sekali rasanya kok kalau Chessa rasa dg memakai gamis dan jilbab,Chessa merasa selalu ingin tertunduk dan menjaga pandangan ada apanya ya Mbak.Chessa kok merasa aneh,tapi indah..."
"Itu artinya ada tanda2 cinta dari Allah,Allah Yubaarik Fik,Chessa! Segera saja kauyakinkan dirimu untuk terus memakainya"kata Mila lirih
"Insya Allah,Mbak,"jawab Chessa.Acara Talk Show tlah selesai.
Sementara hangat sinar matahari sore itu menemani langkah2 kecil mereka untuk kembali pulang.
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar