Selasa, 18 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 11

KARYA SARAH AISHA

BAG 11

"Untung ya bu, semua usaha dan pengorbanan kita bisa diganti oleh dengan kesembuhan Aulia. Nuning senang sekali,"Ucap Nuning pada Bu Wardah di sela-sela langkah mereka seusai sarapan di kantin rumah sakit bersama dengan si kecil Fitri.

"Alhamdulillah Ning. Semua itu juga atas kehendak Allah kalau kata Firman. Oh iya, sekarang dia ada dimana,"


"Dia ada dirumah bersama dengan Mas Dani. Mau istirahat dulu katanya. Dan rencananya, besok dia akan pulang ke Solo."


"Besok Ning,Apa tidak terlalu cepat." Tanya Bu Wardah sambil terus menuntun Fitri yang tengah asyik menikmati kue yang baru saja dibelinya di kantin.


"Nuning rasa tidak terlalu cepat bu. Lagi pula dia sudah tidak mempunyai kepentingan apaapa lagi di Jakarta. Toh di Solo dia juga mempunyai aktivitas yang harus ia selesaikan. Jadi kita hargai saja keputusannya."


"Apa kita tidak bisa membujuknya untuk tinggal beberapa hari lagi disini,Aulia belum pulih benar Ning. Ibu yakin kalau Firman ada disini, Aulia pasti bisa cepat sembuh."

"Bu, Nuning yakin, ada atau tidak adanya Firman, kehidupan Aulia pasti akan baik-baik saja. Ibu percaya deh sama Nuning. Lagi pula, Firman itu kan bukan siapa-siapa kita bu. Dia mau datang bersama Nuning untuk membantu Aulia saja itu sudah bersyukur. Janganlah kita meminta macam-macam lagi padanya. Sudah terlalu banyak yang dia lakukan untuk kita. Nuning harap, bapak dan ibu jangan terlalu berharap padanya,ya.."



"Iya ibu tahu. Tapi apa maksud kamu agar jangan terlalu berharap,"


Nuning terdiam sejenak lalu kembali bersuara,"Ehm....ibu ingat apa kata-kata terakhir Firman sebelum Aulia sadar."

Bu Wardah berpikir sebentar lalu menyahut,"Iya ibu ingat. Kalau tidak salah, dia itu akan menikahi Aulia. Memang kenapa Ning,"

"Ibu tidak salah. Itu memang kata-kata terakhir Firman yang dia katakan sebelum Aulia sadar dari komanya. Sebenarnya.... tadinya Nuning dan Mas Dani mempunyai pikiran untuk meminta kesediaan Firman agar dia mau menikahi Aulia diluar niat dia untuk membantu kita dalam kesembuhan Aulia. Tapi jawabannya,,,,dia tidak bersedia.

Alasannya karena dia tidak mau niatnya menikahi Aulia itu hanya karena kasihan, bukan cinta. Meskipun dia mengakui kekaguman dirinya pada Aulia sebagai wanita shalihah. Tapi entah mengapa dia tetap tidak mau menikahinya. Nuning dan Mas Dani pun tidak bisa memaksanya. Kami hanya bisa menghargai keputusannya itu. Ibu mengertikan,"Jelas Nuning.


Bu Wardah seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia mengangguk lirih, "Ya, kamu benar Ning. Ibu dan bapak pun tidak akan memaksa dia untuk bersedia menikahi Aulia. Dan ibu yakin, kalau Aulia itu akan bisa mengerti. Karena ibu tahu, Aulia tidak akan mengulangi kesalahannya seperti ini lagi. Ya,kan Ning."


Nuning mengangguk sambil tersenyum,
"Iya ibu benar. Biar bagaimanapun, Aulia adalah gadis yang tegar. Nuning yakin, sebenarnya Aulia tidak ingin memiliki perasaan terhadap Firman, tapi karena perasaan itu Allah yang mengkaruniai, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa,"
Bu Wardah mengangguk. Langkah mereka semakin dekat ke kamar Aulia.

Namun tiba-tiba si kecil Fitri mendadak ingin buang air kecil. Bu Wardah pun memilih untuk mengantar Fitri ke toilet. Sedangkan Nuning masuk ke kamar Aulia.


* * *

"Terima kasih ya,sus." Ucap Aulia pada seorang suster yang membawakan sarapan untuknya.

"Sama-sama Mbak. Jangan lupa dimakan ya sarapannya,Biar cepat sembuh dan bisa pulang dari rumah sakit ini."


Aulia hanya tersenyum sambil memandang wajah suster yang bernama Rosi itu.

"Kalau gitu saya keluar dulu ya Mbak,"


"Iya. Makasih sekali lagi ya,sus." Kata Aulia yang hanya dibalas dengan senyuman oleh suster Rosi, kemudian dia segera berlalu dari hadapan Aulia.


Saat ini Aulia sedang duduk di kursi roda menghadap ke sebuah jendela besar sambil menatap indahnya pemandangan diluar sana dari dalam kamarnya. Pikirannya jauh melayang ke alam yang entah apa namanya. Di pangkuannya terdapat sebuah mushaf Al Qur'an yang tadi sempat ia baca sebelum suster Rosi datang. Dia kembali menatapi mushaf itu sambil termenung. Sudah sejak lama dia meninggalkan dunianya dan pergi ke dunia lain yang tak pernah ia kenali sebelumnya.


Matanya jauh memandang lurus keluar. Hatinya sedikit terhibur ketika melihat burungburung diluar sana tengah asyik menikmati suasana pagi bersama dengan komunitas mereka sesama burung yang lain.


Dalam diamnya dia berdoa,
"Ya Allah, betapa hinanya diri ini yang telah menempatkan cinta kepada hamba-Mu lebih tinggi dari cintaku kepada-Mu. Maafkan aku Ya Allah. Aku sungguh-sungguh bertaubat. Mulai saat ini aku berjanji untuk tidak lagi memikirkan nama lain selain nama-Mu. Aku akan membuang seluruh kenangan akan bayang-bayangku terhadap dirinya. Takkan lagi aku memikirkan dan mengharapkannya. Aku sudah menjadi orang yang bodoh dan hina. Aku benarbenar ingin kembali pada-Mu. Aku benar-benar ingin membuka kembali lembaran hidupku yang baru. Aku benar-benar ingin menata kembali langkahku yang sudah sekian lama ini terkotori oleh perasaan yang tak semestinya ada dalam hatiku.

Aku minta maaf dan memohon ampun pada-Mu. Mohon dengan sangat Ya Allah. Aku berdoa, baik aku maupun dia, kelak bisa menemukan cinta sejati yang Engkau persembahkan hanya untuk diriku dan dirinya. Cinta, yang hanya bisa kurangkai dan kubalut dalam doa kepada-Mu. Aku mohon Ya Rabb." Setetes air mata itu jatuh membasahi pipinya. Dia segera menghapusnya tanpa menunggu air mata itu kering. Helaan nafasnya sedikit membuat dia dapat bernafas lega. Dari luar, Nuning terdengar mengucapkan salam sambil melangkah mendekati Aulia.

"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."­ Jawab Aulia pelan.

"Apa kabar adik Mbak yang satu ini," Tanya Nuning berusaha memecah kesunyian. Dia menyeret sebuah kursi dan duduk di samping Aulia.


"Alhamdulillah baik. Mbak sendiri gimana,"

"Baik juga alhamdulillah." Jawab Nuning. Matanya menangkap sarapan Aulia yang belum juga disentuhnya sedikitpun.


"Kamu belum sarapan Li.Makan ya, Mbak suapin."

Aulia menggeleng,
"Aku nggak lapar Mbak." Jawab Aulia gamang.

"Tuh kan kamu mulai lagi. Ingat Li, kamu itu baru sembuh. Kamu harus banyak makan dan minum vitamin untuk bisa membantu memulihkan kondisi tubuhmu. Dan kamu juga harus ingat, seberat apapun masalah yang kamu hadapi sekarang ini, kamu tidak boleh kalah dengan keadaan. Kamu harus tetap menjalani kehidupanmu. Kamu ini aktivis da'wah Li. Jadilah seorang akhwat yang tegar, jangan loyo seperti wanita-wanita awam diluar sana yang kalau ada masalah sedikit langsung sakit. Kamu harus beda Li. Kamu harus beda!"


Aulia hanya terdiam mendengar kata-kata Nuning. Lalu dia menoleh ke arah kakaknya itu.

"Maafin aku ya Mbak,"
Nuning mengangguk sambil tersenyum.

"Sekarang kamu makan ya,"

"Iya. Sini, biar aku makan sendiri." Pinta Aulia. Nuning segera memberikannya. Tanpa banyak kata, Aulia memakan sarapannya. Nuning yang melihatnya merasa sangat bahagia karena melihat adiknya itu sudah mau makan.


"Li..." Panggil Nuning.

"Hm...." Sahut Aulia.

"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini pada kami,"

Aulia menghentikan sejenak aktivitas sarapannya. Dia tertegun mendengar pertanyaan Nuning. Namun dia pun menjawabnya dengan terlebih dahulu menghela nafasnya.

"Awalnya aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Entah perasaan apa yang aku rasakan pada Firman Mbak. Yang pasti sejak tiga tahun lalu, aku selalu mengingatnya meskipun aku sudah berusaha untuk melupakannya. Aku juga bingung kenapa wajah yang belum pernah ku lihat sebelumnya, tiba-tiba bisa merasuk begitu saja dalam relung sukmaku saat pertama kali melihatnya. Diri yang belum pernah kukenal sebelumnya, tiba-tiba saja menjadi tak bisa lekang dari ingatanku. Entah mengapa dia yang menjadi tempat jatuhnya cintaku, padahal banyak ikhwan yang melintasi penglihatanku tapi tak pernah seperti ini. Mungkin inilah akibatnya karena aku kurang mengindahkan perintah Allah untuk menjaga pandangan.

"Aku sedih saat aku yakin cintaku padanya tidak akan terbalas. Tapi aku lebih sedih lagi karena aku harus jatuh cinta padanya. Kenapa harus dia... Sampai sekarang aku belum juga menemukan jawabannya. Hatiku sakit Mbak. Sebisa mungkin aku bersikap biasa-biasa saja dan apa adanya di depan siapapun, tapi itu tetap tidak bisa menutupi rasa sakit dan hancurnya hatiku karena aku harus berpura-pura bersikap tegar dan bersikap seolah-olah tak pernah ada masalah apapun dalam hatiku. Semakin aku buang perasaan itu, semakin sakit pula hatiku.

Coba bayangan Mbak, aku harus membohongi diriku sendiri demi sebuah hati yang tak pernah terbalaskan.

"Air mataku bukanlah air mata kesedihan karena aku tidak bisa memilikinya, tapi air mata kesedihan karena aku mencintainya. Dan karena hal itu, sebisa mungkin aku berusaha untuk membencinya. Membenci orang yang aku cintai. Dan hal itu sangat sakit. Di satu sisi aku mencintainya, tapi di sisi lain aku membencinya karena aku mencintainya. Dua perasaan yang berbeda itu terus berperang dan bergejolak di hatiku sampai akhirnya aku menjadi lemah dan tak berdaya seperti ini. Dan kenapa aku menyembunyikan semua ini dari Mbak dan yang lain, karena aku memang tidak ingin terlihat lemah di mata siapapun. Maafkan aku ya Mbak,"Seketika itu air matanya jatuh menetes membasahi pipinya.


"Iya Mbak ngerti. Lalu apa langkah kamu selanjutnya untuk menapaki hari-hari kamu kedepan,Apa...kamu ingin meminta Firman untuk bersedia menikahimu,"

Sontak Aulia terkejut dengan kata-kata Nuning.

"Memintanya untuk menikahi aku?!"
Nuning mengangguk pelan. Namun anggukan itu disambut dengan gelengan Aulia.

"Tidak Mbak. Aku tidak mau sehina itu. Aku baru sadar, bahwa perasaan yang aku rasakan terhadap Firman bukanlah sebuah cinta, tapi hanya perasaan untuk sekedar memiliki. Dan itu hanya sebuah nafsu. Kalaupun memang aku benar-benar mencintainya....biar­lah kutitip cintaku ini pada Zat Yang Maha Pemberi cinta dan kasih. Biarlah kubalut cinta ini dengan kesucian dan ketulusan doa yang selalu aku panjatkan pada-Nya. Aku tidak mau lagi jatuh kedalam lembah yang sama.

"Aku sudah cukup berterima kasih pada Firman karena dia sudah bersedia membantu kesembuhanku, dan aku tidak akan meminta lebih lagi padanya. Biarlah dia hidup dengan jalan hidupnya sendiri, dan aku dengan jalan hidupku sendiri. Aku telah mengikhlaskan cintaku ini hanya pada Allah. Telah kutitipkan cintaku ini pada-Nya. Dan akan kuambil lagi setelah aku benar-benar telah menemukan pasangan jiwaku yang sejati, jika memang orang itu bukanlah Firman. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mengingatnya dan melupakan semua tentangnya. Aku akan memulai kembali lembaran hidupku yang baru, tanpa adanya bayang-bayang Firman lagi. Mbak mau membantuku,kan."


Nuning tersenyum dan mengangguk. Diapun segera memeluk tubuh Aulia dengan sangat erat. Dan air mata itu kembali mengalir dari ujung mata Aulia.
Dalam peluknya yang erat, Nuning berkata,
"Li, besok Firman akan pulang ke Solo,"
Tiba-tiba mulut Aulia kelu. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Tapi dia tetap mengangguk, menandakan kalau dia sudah merelakan Firman pergi dari Jakarta, dan juga dari hatinya. Meskipun itu untuk selamanya.



* * *

Nantikan episode terakhir..

Tidak ada komentar :

Posting Komentar