Selasa, 18 Juni 2013

NOVEL CINTA DALAM DOA BAG 8

KARYA SARAH AISHA

BAG 8


Setelah Dani pulang dan beristirahat, Nuning segera memberitahukan perihal yang tadi ia temukan di kamar Aulia. Dari awal dia menemukan buku harian adiknya itu sampai tentang Mas Syarif yang dia juga tak tahu siapa. Namun dia menjelaskan, siapa tahu saja dari Mas syarif itu bisa memberikan informasi tentang keberadaan sosok ikhwan misterius itu. Keesokannya Nuning dan Dani pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Aulia. Kali ini Pak Wahyu dan Bu Wardah tidak ikut. Mereka menjaga Fitri dirumah. Sementara itu, Aulia belum juga ada perubahan. Nuning dan Dani berkonsultasi dengan dokter Rina.

"Jadi bagaimana keadaannya sekarang dok," Tanya Nuning ketika bertemu dengan dokter Rina.


"Keadaannya masih sama seperti hari-hari kemarin. Belum sadarkan diri dan jantungnya juga masih lemah." Jawab dokter Rina.


"Oh iya, apa kalian sudah menemukan apa penyebab depresi yang dialami oleh adik kalian itu," Tanya dokter Rina kemudian.


"Sudah dok." Jawab Nuning sambil mengeluarkan sebuah buku harian Aulia dan sebuah hand phone dari dalam tasnya.


"Apa penyebabnya,"

"Dia sedang jatuh cinta pada seorang pria." Ucap Nuning.

"Jatuh cinta." Tanya dokter Rina setengah tak percaya.

Nuning membuka satu halaman buku harian Aulia agar dokter Rina membacanya. Setelah dokter Rina membacanya, dia mengatakan satu hal pada Nuning dan Dani yang sedari tadi menunggu dia berbicara.


"Kalau begini keadaannya, kalau cinta sudah membuat Aulia koma, maka satu-satunya jalan, kita harus membawa laki-laki itu pada Aulia dan berusaha membuat dia agar mau mengucapkan kata cinta pada Aulia. Sebab penyakit yang dialami Aulia adalah penyakit cinta. Perasaan cinta yang dipendam terlalu dalam akan menyebabkan hal-hal semacam ini jika si pencinta tak kuat fisiknya. Seperti Aulia. Maka secepatnyalah kalian membawa laki-laki itu pada Aulia. Aulia itu hanya butuh balasan cinta dari laki-laki pujaannya. Saya rasa ketika cintanya itu terbalas, maka dia akan sadar dan hidup seperti sediakala. Tapi disamping dia juga mempunyai penyakit lemah jantungnya." Jelas dokter Rina panjang lebar.


"Apa kalau cara itu tidak bisa kami lakukan, Aulia akan selamanya koma." Kali ini Dani yang bertanya.


"Hanya Allah yang bisa memberikan keajaiban. Seperti halnya orang sakit yang harus diberikan obat agar bisa sembuh, Aulia pun demikian. Dia harus segera diberikan obat agar penyakitnya bisa segera sembuh. Dan obatnya adalah laki-laki yang dia cintai itu. Maka dari itu saya katakan bahwa hanya Allah saja yang bisa memberikan keajaiban padanya."


Nuning dan Dani tertunduk lemas. Mereka benar-benar bingung. Sebab mereka sendiri tidak tahu siapa laki-laki yang dicintai Aulia itu.Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter Rina, mereka berdua pamit dan segera keluar dari ruangan dokter Rina. Nuning mempunyai sebuah gagasan agar secepatnya mereka menghubungi Mas Syarif. Laki-laki yang pernah dikirimi Aulia Sms. Sambil mendudukan tubuh mereka di kursi ruang tunggu, Dani segera menghubungi ikhwan bernama Mas Syarif itu dari Ponsel Nuning.
Cukup lama nada sambung terdengar. Namun Alhamdulillah akhirnya terdengar juga suara seorang laki-laki mengucapkan salam.



"Assalamu'alaikum...­."


"Wa'alaikumussalam..­..," Jawab Dani dengan lebih santai.


"Maaf sebelumnya, apa benar ini Mas Syarif," Tanya Dani.


"Oh...iya benar, saya Syarif. Kalau boleh tahu anda ini siapa ya," Mas Syarif balik bertanya.

"Oh, saya Dani, kakak ipar dari Aulia. Apa Mas ini kenal dengan Aulia."

"Aulia,Aulia yang mana ya?," Tanya Mas Syarif dengan heran.

"Mas tidak kenal dengan Aulia?"

"Ehm... mungkin saya pernah tahu
Namanya saja, tapi saya lupa. Memangnya ada apa ya?"

"Begini Mas, to the point saja. Saat ini Aulia sedang koma di rumah sakit karena penyakit yang disebabkan karena dia memendam perasaan cinta pada seorang laki-laki."

"Masya اَللّهُ,..." Ucap Mas Syarif.


"Sedangkan kami sendiri tidak tahu siapa laki-laki itu. Kami pun tahu kalau dia tengah mencintai seorang laki-laki itu dari buku hariannya. Dan setelah kami telusuri lagi, didalam ponselnya terdapat sebuah pesan singkat yang isinya ditujukan pada Mas Syarif. Apa Mas sempat membaca pesannya"


"Isi pesannya seperti apa,Kok saya lupa ya."


"Sebentar Mas ya." Ucap Dani. Nuning segera membuka sms di ponsel Aulia dan dibacakannya pada Mas Syarif.


"Begini Mas isinya. Asssalamu'alaikum. Mas, Aulia mw ty, apa yg hrs Lia lkkn jk Lia sk dg seorg ikhwn yg sgt jauh. Dia seorg munsyid dr Solo. Mungkin Mas tahu siapa dia. Lia mhn solusinya Mas ya? Wasalam." Begitu Mas.

Apa Mas pernah membaca pesan seperti itu?.

"Oh...Iya, iya. Saya pernah membaca pesan itu. Tapi pada saat itu saya sedang sibuk sekali karena sedang melakukan promo album nasyid saya?.


"Oh, Mas Syarif ini seorang munsyid juga rupanya"


"Iya, Alhamdulillah. Lalu, saya tidak sempat membalas pesan itu. Lagipula saya juga kadang lupa siapa Aulia ini. Karena pesan yang masuk dari pembaca novel saya itu banyak sekali. Dan mungkin salah satunya dari Aulia."


"Novel? Mas ini penulis Ĵμƍα ."


"Iya. Kebetulan saya seorang munsyid sekaligus penulis. Lalu bagaimana kelanjutannya?"

"Nah itu dia Mas. Saya juga tidak tahu harus bagaimana. Dokter bilang, Aulia bisa sadar dari komanya kalau dia sudah menerima balasan cinta dari laki-laki itu. Tapi saya sendiri tidak tahu siapa laki-laki itu. Nah, maksud saya menghubungi Mas, berharap mungkin Mas tahu siapa ikhwan itu. Seorang munsyid dari Solo." Ucap Dani penuh harap.


"Oh begitu. Wah, saya juga kurang tahu Mas. Gimana ya?"

"Atau, mungkin Mas tahu nama-nama munsyid yang berasal dari Solo siapa saja?"

"Ehm...nanti deh saya cari-cari dulu ya. Insya Allah kalau memang nanti ada informasi akan saya kabari."


"Wah, terima kasih banyak Mas ya.Jadi merepotkan nih,"


"Ah..tidak apa-apa Mas. Memang sepantasnyalah sesama saudara seiman harus saling membantu."


"Ya sudah kalau begitu. Saya tunggu informasinya ya Mas."

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam..." Jawab Mas Syarif.


Dani dan Nuning tersenyum simpul. Ada perasaan lega yang tiba-tiba saja menyusup kedalam relung hati mereka masing-masing. Mereka pun segera bergegas melihat keadaan Aulia sekarang.


* * *


Hari ini hari Minggu. Semua keluarga berada dirumah sakit untuk menjenguk Aulia. Masih belum ada perubahan. Tidak membaik, juga tidak memburuk. Keadaannya masih stabil. Kabar yang ditunggu-tunggu dari Mas Syarif pun belum juga datang. Mereka semua hanya bisa pasrah dan bertawakal pada Allah semoga cobaan ini akan cepat berlalu.


Siang ini Nuning berada di kamar Aulia, sementara orang tua, suami, dan anaknya sedang makan siang di kantin rumah sakit sekalian membelikan dia makan siang. Selepas zuhur tadi dia lebih memilih untuk menemani Aulia di kamarnya. Sejurus doa selalu dia panjatkan untuk kesembuhan adik tersayang itu. Sesekali dia berbicara sendiri dengan Aulia meskipun dia tahu kalau adiknya itu tak akan mendengarnya.


"Kamu tahu Li, Mbak begitu sayang padamu. Dulu sewaktu kamu memutuskan untuk berjilbab, Mbak sangat bahagia. Terlebih lagi karena kamu mau terjun langsung ke dunia dakwah. Dengan sendirinya kamu jadi tahu bagaimana pergaulan diantara aktivis. Mbak begitu bangga padamu karena kamu bisa membuat orang tua kita bangga.


"Tapi sekarang Li,Kenapa sekarang hanya karena rasa suka terhadap lawan jenis, kamu jadi tidak berdaya seperti ini. Kenapa kamu jadi terbunuh oleh cinta yang tidak seharusnya ada dalam hatimu? Kenapa kamu jadi terkalahkan oleh nafsu yang seharusnya bisa kamu cegah? .Kenapa Li? Kenapa?"

Nuning tersungkur di peraduan Aulia sambil menangis. Sesekali dia menghapus air matanya.Saat ini semua keluarga sangat mencemaskan keadaanmu Li. Karena kami pun tidak tahu sampai kapan kondisi kamu akan seperti ini,Karena kami tidak tahu harus kemana kami mencari obat untuk menyembuhkan sakitmu.Dan kenapa harus seorang ikhwan misterius yang kamu cintai saat ini yang bisa menjadi perantara kesembuhanmu. Kenapa obat biasa tidak mampu menjadi perantara itu? Bangun Li! Bangun!! Kamu harus sadar! Kamu harus bangkit! Hidupkan masa depanmu Li. Jangan kamu kalah oleh bisikan nafsu setan. Mbak yakin kamu bisa. Kamu pasti bisa?.
Tangis Nuning semakin pecah. Namun dia sadar, sekuat apa pun usaha dia untuk membangunkan Aulia, Aulia tidak akan sadar.


Tiba-tiba sebuah bunyi ringtone terdengar dari tas Nuning. Dia tersentak kaget dan segera mengambil Ponselnya. Dia sempat melihat nomor yang menghubunginya itu. Nomor tidak dikenal. Segera diangkatnya.


"Assalamu'alaikum...­.." Suara seorang pria terdengar begitu lantang di telinga Nuning.

"Wa'alaikumussalam. Maaf ini siapa ya," Tanya Nuning.

"Saya Syarif Mbak, yang tempo hari pernah dihubungi oleh Mas Dani terkait masalah adik iparnya yang sedang sakit itu."


"Oh!! Iya iya. Saya Nuning. Saya istrinya Mas Dani. Maaf ya Mas tidak mengenali." Pinta Nuning sumringah. Ada keceriaan yang tiba-tiba saja hadir dihatinya.


" OH,, ya nggak apa-apa. Begini Mbak, kebetulan setelah saya cari-cari informasi tentang seorang munsyid yang berasal dari Solo, itu ndak ada. Tapi kalau tim nasyid dari Solo, itu ada satu Mbak." Jelas Mas Syarif to the point.


"Tim nasyid.."

"Iya Mbak. Ada apa?"


"Hmm,tidak. Lalu.."


"Ya sampai saat ini yang saya temukan hanya tim nasyid itu yang berasal dari Solo. Selebihnya saya rasa tidak ada lagi."


Nuning masih tertegun dengan pikirannya sendiri. Tim Nasyid? Pikirnya dalam hati.

"Apa nama tim nasyid itu Mas?"


"Namanya True Voice. Tim nasyid ini berjumlah 5 orang."


"True Voice?!" Tanya Nuning setengah tak percaya.

"Iya. Ada apa Mbak?"Tanya Mas Syarif balik.

"Apa Mas tahu dimana tim nasyid True Voice itu tinggal," Nuning balik bertanya tanpa mengindahkan pertanyaan Mas Syarif barusan.

"Wah..afwan Mbak, kalau informasi lebih detailnya saya tidak tahu karena saya juga diberi tahu oleh manajer saya. Atau kalau Mbak sempat, cari di internet saja. Insya Allah akan ada banyak informasi yang akan Mbak dapatkan tentang tim nasyid itu disana. Sekali lagi afwan Mbak."


Seiringan dengan permintaan maaf Mas Syarif, Pak Wahyu, Bu Wardah, Dani, dan Fitri datang bersamaan. Mereka memperhatikan Nuning yang sedang berbicara di telepon. Wajah Nuning lesu.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya Mas atas informasinya,Semoga dibalas oleh Allah dengan segala kebaikan"


"Aamiin. Terima kasih Mbak. Kalau begitu saya doakan semoga pencariannya berhasil dan semoga Aulia bisa cepat sembuh. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," Nuning menutup ponselnya.


"Siapa Ning," Tanya Bu Wardah dengan wajah cemas bercampur harap. Yang lain ikut menyimak.


"Mas Syarif." Jawab Nuning datar.

"Dia bilang apa Dik." Kali ini Dani yang bertanya.Nuning menghela nafasnya.

"Dia bilang kalau seorang munsyid yang berasal dari Solo tidak ada. Tapi kalau tim nasyid yang asalnya dari Solo ada." Jawaban Nuning begitu gamang terdengar. Nuning menjawab itu sambil menatap wajah Aulia.


"Apa nama tim nasyid itu"
Sambil mengalihkan wajahnya ke orang tua dan suaminya, dia menjawab, 'True Voice.'


"Lalu kamu tahu dimana True Voice itu berada." Tanya Pak Wahyu yang kini tengah menggendong Fitri.


"Tepatnya aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya......" Nuning menghentikan kata-katanya. Dia mengalihkan sesaat pandangannya pada Aulia dan meneruskan jawabannya.

"Aku tahu siapa ikhwan yang saat ini tengah Aulia cintai."

"Siapa Ning?," Tanya Pak Wahyu dan Bu Wardah berbarengan.


"Salah satu personil dari True Voice itu." Jawab Nuning yang lagi-lagi datar.


"Tahu dari mana kalau kami tahu siapa laki-laki yang sekarang dicintai Aulia?" Tanya Pak Wahyu.


"Aulia pernah menuliskan di buku hariannya kalau Nuning mengenal siapa ikhwan yang saat ini ada dalam hatinya. Dan Nuning tahu siapa ikhwan itu. Ikhwan yang tidak pernah tahu adanya Aulia. Ikhwan yang sangat jauh darinya, dari pandangannya, dan tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Dia bernama...Firman." Jawab Nuning parau namun penuh keyakinan.

"Kamu yakin Ning namanya Firman," Tanya Bu Wardah.

Nuning mengangguk.
"Iya Bu. Karena hanya Firman-lah yang Nuning kenal diantara anggota True Voice itu."

"Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan." Tanya Dani.


"Aku belum tahu pasti Mas keberadaan Firman itu dimana. Tapi kata Mas Syarif tadi, kita bisa coba cari di internet. Multiply, Friendster, atau...di google dan yahoo sekali pun. Mungkin itu bisa membantu kita menemukan dimana keberadaan Firman. Ya Mas?"

"Insya Allah." Jawab Dani tegas.
Tiba-tiba semua yang ada di ruangan itu menjadi ingin sekali melihat bagaimana paras seorang Firman.

* * *


Dikantor, Dani mencoba mencari informasi dari berbagai sarana. Di google, dia mengetik nama True Voice untuk ditelusurinya. Alhamdulillah banyak yang membahas dan mengulas tentang tim nasyid muda tersebut. Tapi tak ada satupun informasi yang mengulas tentang keberadaan Firman. Dia banyak melihat foto-foto anggota True Voice, tapi dia belum tahu yang mana Firman.


Dia tak habis akal. Di Friendsternya, dia juga coba mencari nama tim nasyid itu. Dan alhamdulillah....ada­ yang cocok. Dia buka FS16 True Voice tersebut. Alhamdulillah lagi, disana ada contact person-nya. Dengan segera Dani mencatat no CP tersebut. Dia juga mengirimkan pesan di FS tersebut yang mengatakan bahwa dia ingin sekali bertemu dengan semua anggota True Voice.


Sesampainya dirumah, dia langsung memberi tahukan kabar gembira itu. Nuning begitu bahagia. Dia segera menyuruh suaminya untuk menghubungi CP True Voice itu.

"Assalamu'alaikum...­," Ucap seorang laki-laki dari sebrang sana.

"Wa'alaikumussalam."­ Jawab Dani.


"Maaf, saya mau tanya. Apa benar ini CP dari tim nasyid True Voice?"

"Iya benar, saya Novri CP dari tim nasyid True Voice. Bapak ini dari mana ya?"

"Ehm...saya Dani. Kakak ipar dari Aulia." Jawab Dani sekenanya. Dia bingung harus dari mana dia memulai.


"Aulia?"

"Ehm.....gimana ya saya menjelaskannya? Begini, bisa tidak saya minta alamat Firman, salah satu anggota True Voice?"


"Maaf, untuk apa ya Pak?"


"Baik, saya jelaskan. Dan saya berharap, anda atau siapa pun yang mengetahuinya, bisa percaya dengan penjelasan saya. Begini, Aulia itu adalah adik ipar saya. Saat ini dia tengah mengalami koma karena depresi yang menderanya. Frustasi itu disebabkan karena dia memendam perasaan cintanya pada salah satu anggota True Voice. Yaitu Firman. Jadi saya mohon dengan sangat, Mas bisa memberikan alamat dimana tempat tinggal Firman sekarang."

"I..iya, tapi untuk apa ya?"


"Adik saya itu sekarang tengah koma karena perasaan cintanya pada Firman. Saya hanya ingin bicara pada Firman. Itu saja. Saya hanya ingin minta bantuan dia untuk bisa menyembuhkan Aulia. Tolong Mas." Kali ini suara Dani begitu tegas dan lantang. CP yang bernama Novri tadi bingung harus berbuat apa.


"Maaf Pak, saya tidak bisa begitu saja memberikan alamat Firman pada Bapak. Kalau mau, Bapak datang langsung saja ke basecamp True Voice. Insya Allah akan kami terima dengan baik, dan Bapak bisa membicarakan hal tersebut dengan kami secara bersama-sama. Bagaimana?

Dani berpikir sejenak.
"Baiklah. Dimana alamatnya?"

Setelah Novri memberikan alamatnya pada Dani, Dani pun segera berterima kasih dan mengatakan akan secepatnya datang kesana. Ya, meskipun harus cuti dulu dari pekerjaannya karena tempatnya yang cukup jauh, yaitu di Solo.


Setelah Nuning mengetahui hal tersebut, dia pun langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Mereka memutuskan, lusa mereka akan segera menuju ke Solo.

* * *
Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar