KARYA SARAH AISHA
BAG 10
"Man! Firman! Bangun,Man! kita sudah mendarat. Kamu mau istirahat dulu atau mau langsung ke rumah sakit."
Pertanyaan Dani membuyarkan impian Firman tentang perbincangannya dengan ibunya semalam. Dia mengucek-ngucek kedua matanya dan membetulkan posisi duduknya. Dia tak langsung menjawab.
"Kamu mau istirahat dulu atau mau langsung kerumah sakit," Tanya Dani mempertegas pertanyaan sebelumnya.
Firman menatap penuh tajam wajah Dani. Dia seperti terlihat bingung. Belum pernah dalam fase kehidupannya dia sebingung ini.
Pramugari sudah mengumumkan bahwa pesawat sudah mendarat. Dia menyarankan agar penumpang segera bersiap-siap untuk turun dan memeriksa barang-barang bawaan mereka. Sejurus kemudian, Dani, Nuning, dan Firman sudah berada di dalam taxi. Firman memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit menemui akhwat yang dia tahu sangat mencintai dirinya. Jalanan memang macet. Namun tidak terlalu lama mereka terjebak dalam kemacetan itu. Kurang dari satu jam, mereka sudah sampai dirumah sakit. Entah mengapa, jantung Firman tibatiba berdegup kencang. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Kakinya ia langkahkan mengikuti Dani dan Nuning melewati koridor-koridor rumah sakit yang tak pernah sepi dari pengunjung dan pasien. Hati Firman menjadi galau tatkala dia menyadari bahwa keputusan yang telah dia ambil sudah terlalu jauh. Tapi dia segera sadar. Seperti inilah semestinya seorang muslim bertindak. Meskipun dia harus mengorbankan hati dan perasaaannya, tapi dia sudah bisa mengikhlaskan dirinya untuk bisa semampunya membantu Aulia. Ya, semampunya, bukan sepenuhnya. Karena kalau sepenuhnya, dia belum siap dengan segala kemungkinan yang ada.
Dari kejauahan dia melihat seorang ibu paruh baya dengan seorang laki-laki yang menurutnya adalah suaminya, segera menghampiri Dani dan Nuning. Mereka pun segera berpelukan. Tanpa terasa dan tanpa diminta, air mata itu pun mengiringi pertemuan mereka.
Firman hanya bisa menarik nafasnya sejenak untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya, kemudian dia hembuskan perlahan. Ibu Wardah, ibu paruh baya yang tadi dilihatnya, segera menghampiri dirinya.
"Apa kamu... Nak Firman," Tanya Bu Wardah pada Firman dengan nada yang penuh harap. Firman menatap wajah Bu Wardah sambil mengangguk.
"Ya. Saya Firman,bu!" Jawab Firman dengan suara bergetar.
Air mata itu terjatuh. Air mata itu meleleh di ujung mata Bu Wardah. Harapan itupun kembali hadir di kedalaman relung hatinya. Seketika itu juga dia hendak bersimpuh di kaki Firman namun segera dicegah oleh Firman.
"Ibu jangan! Tidak perlu seperti itu. Ini memang sudah kewajiban setiap muslim untuk membantu saudarinya."
"Terima kasih,Nak." Ucap Bu Wardah lirih.
Firman mengangguk. Pak Wahyu pun turut mengucapkan terima kasih padanya. Firman pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang apa yang harus saya lakukan,"Tanya Firman pada semua yang ada disana.
"ekarang kita temui dulu dokter Rina. Mungkin dia lebih tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang." Jawab Dani.
Dani dan Firman menemui dokter Rina di ruangannya. Tanpa berlama-lama lagi, dokter Rina segera mengajak Firman menemui Aulia di kamarnya.
"Kalau boleh saya tahu, bagaimana keadaannya sekarang dok?"Tanya Firman di sela-sela langkahnya menuju kamar Aulia.
"Keadaannya saat ini sangat lemah. Bahkan denyut nadi dan detak jantungnya bergerak sangat lambat. Untungnya kamu segera datang."
Firman hanya tersenyum lirih tanpa berucap sedikitpun. Pintu kamar Aulia sudah terlihat. Sebelum dia memasuki kamar itu, dia menarik nafasnya perlahan kemudian dihembuskannya. Pintu kamar itu dibuka oleh dokter Rina. Langkahnya semakin bergetar dibuatnya. Seketika matanya menangkap seorang wanita yang lemah terbaring tak berdaya di sana. Lebih tepatnya lagi, seorang akhwat. Ya, dialah Aulia.
Firman menghentikan langkahnya di depan pintu. Pak Wahyu, Bu Wardah, Dani, Nuning, dan dokter Rina tak banyak bicara. Mereka hanya saling berpandangan sambil berucap dalam diam.
Firman mulai melangkahkan kakinya mendekati tubuh Aulia yang masih terbaring lemah. Aulia yang masih belum tahu kalau ikhwan yang dia cintai kini ada di sampingnya. Dengan perasaan yang tak menentu, Firman menghampiri Aulia. Dia melihat wajah Aulia yang putih bersih. Kepalanya masih tertutup dengan jilbab yang biasa ia kenakan. Di mulut dan hidungnya terdapat alat untuk membantu pernafasannya. Tubuhnya masih tertutup dengan selimut. Matanya terpejam sangat rapat. Ia seperti sedang tertidur. Tidur yang sangat nyenyak. Firman segera menundukkan pandangannya setelah dia menyadari bahwa saat ini Aulia hanyalah koma. Jadi dia masih harus tetap menjaga pandangannya.
"Apa yang harus saya lakukan,dok?" Tanya Firman dengan perasaan yang hanya dia sendiri yang mengetahui.
"Dia menjadi koma seperti ini karena memendam perasaannya terhadapmu. Dia hanya akan bisa kembali sadar jika kamu berkenan menik...."
"Apa ada jalan lain selain menikahinya dok," Tiba-tiba Dani segera memutus kata-kata dokter Rina. Semua yang ada disana terkejut. Terutama Pak Wahyu dan Bu Wardah.
"Ehm...entahlah. Sebab syaraf-syaraf pada tubuh Aulia ini akan merangsang segala sentuhan dan suara dari orang yang dicintainya. Apa kamu mau menyentuhnya tanpa menikahinya terlebih dahulu,"
Pertanyaan itu ditujukan pada Firman. Dan saat ini Firman benar-benar bingung. Namun Dani seperti mempunyai ide yang bagus.
"Dok, Firman ini seorang munsyid, Dia biasa menyanyikan lagu-lagu religi. Bagaimana kalau kita coba dulu dengan menggunakan suara Firman,Siapa tahu saja syaraf-syaraf pada otaknya itu bisa merangsang suara Firman."
Dokter Rina berpikir sejenak. Diapun mengangguk.
"Bisa. Kita bisa coba. Barangkali hal ini bisa merangsang syaraf-syaraf otaknya. Sebab, mengingat Aulia juga belum pernah bertemu dengan Firman kan, Begitu juga sebaliknya. Dan selama ini Aulia hanya bisa mendengar suara Firman tanpa bisa berinteraksi secara langsung bukan."
Semua mengangguk. Tanpa berlama-lama, Firman menarik kursi yang ada disana kemudian dia duduk di sebelah kanan tubuh Aulia. Dia pun segera menyanyikan sebuah lagu milik grup nasyidnya. Yang lain hanya mendengarkan dengan perasaan yang penuh harap dihati, semoga Firman memang benar-benar orang yang dipilih Allah sebagai perantara kesembuhan Aulia. Tak ada reaksi. Itulah yang ditangkap oleh Firman dan yang lainnya ketika Firman menghentikan lagunya. Dia menatap Dani yang berdiri di sebelah kiri Aulia. Kecemasan kembali menghampiri mereka. Namun tiba-tiba kedua mata Aulia terlihat seperti bergerak-gerak. Nuning yang pertama kali melihat hal itu.
Spontan harapan yang sebelumnya redup kini kembali bersinar lagi. Dokter Rina kembali menyuruh Firman untuk menyanyi kembali. Dan mata Aulia pun masih terus bergerak. Semua tersenyum melihat perkembangan itu. Dokter Rina segera memeriksa keadaan Aulia. Dia membuka kelopak matanya sambil menyorotkan lampu senter kecil miliknya kesana. Kornea matanya seolah-olah menangkap sinar itu.
Dokter Rina menatap ke semua sambil mengangguk dan tersenyum. Yang lain pun ikut tersenyum, termasuk Firman. Kali ini dia mencoba untuk mengajak Aulia berbincang. Meskipun dia tidak tahu apakah suaranya itu di dengar oleh Aulia atau tidak.
"Assalamu'alaikum." Ucap Firman sedikit bergetar.
"Ehm..Aulia, ini Firman. Apa kau mengenalku,Aku yakin kau pasti sudah mengenalku jauh sebelum aku mengenal dan melihatmu saat ini. Oh iya, apa kabarmu hari ini.Aku selalu mendoakanmu agar Allah senantiasa menjagamu di setiap hembusan nafas dan putaran waktu yang kau lalui dalam kehidupan ini."
Sejenak Firman menghentikan kata-katanya. Dia melihat jemari tangan Aulia bergerak, meskipun setelah itu dia tak melihatnya bergerak lagi. Dia kembali berkata.
"Aku...datang kesini karena ingin menjengukmu. Aku ingin melihatmu sembuh dan kembali menapaki hari-harimu dengan ceria. Kata kakakmu, kau seorang aktivis da'wah di kampus. Apa itu benar? Jika memang benar adanya, aku sangat bangga padamu. Dapatkah kau ceritakan kegiatanmu selama ini setelah kau sembuh nanti?.
Bangunlah Aulia! Aku tak ingin kau terusterusan seperti ini karena perasaan yang kau pendam terhadapku. Aku sudah disampingmu. Bangun Aulia! Bangun!.
"Sudah sekian lama kau tidak melihat matahari terbit dari peraduannya. Apa kau tidak ingin melihat keindahan sinar sang surya yang menghangatkan seisi bumi ini, Kau juga sudah lama tak menyentuh mushaf-mu. Ayat-ayat itu telah lama menunggu untuk kau baca. Apa kau tak merindukannya? Dan satu yang harus kau ingat, kau juga telah lama meninggalkan keluargamu dan terbang ke dunia lain yang entah apa namanya dan dimana dunia itu. Apa kau tak ingin kembali ke sini dan berkumpul bersama mereka.Apa kau tak merindukan mereka? Mereka disini sangat merindukanmu Aulia. Bangunlah! Dan tataplah hari esok dengan senyummu. Senyum yang menurut keluarga dan teman-temanmu pasti sangat manis.
"Da'wah saat ini sangat membutuhkanmu. Jangan kau rusak hidupmu seperti ini. Bangunlah! Bangun Aulia! Bangun! Bangun!"
Firman tertunduk lemas. Dia merasa usahanya sia-sia. Tanpa terasa air matanya mengalir dari ujung matanya. Sejenak dia terdiam. Yang lain pun hanya bisa pasrah melihat kondisi seperti itu. Suasana saat itu sangat hening. Tak berapa lama, Firman kembali besuara.
"Saya akan menikahinya!"Ucap Firman tanpa keraguan sedikitpun. Semua yang mendengarnya saat itu sangat terkejut.
" Apakah dia sungguh-sungguh mengatakan hal itu?" Batin mereka masing-masing bergumam.
"Kamu sungguh-sungguh Firman," Tanya Nuning.
Firman hanya mengangguk. Kemudian dia mengarahkan pandangannya pada Aulia. Namun tiba-tiba dia melihat jemari tangan Aulia bergerak lagi. Kali ini gerakannya lebih sering.
Dan matanya? 'Kali ini matanya juga bergerak. Dan perlahan-lahan kedua matanya itu terbuka. Dengan segera Firman berdiri dan menjauh sedikit dari tempatnya duduk tadi. Aulia kini telah membuka matanya. Dokter Rina segera memeriksa keadaan Aulia. Bu Wardah dan Pak Wahyu sangat senang melihat perkembangan anaknya itu. Tak terkecuali dengan Dani dan Nuning. Mereka seperti melihat sebuah harapan baru pada Aulia. Samar-samar Aulia menangkap cahaya terang yang menembus kornea matanya. Kedipan matanya masih sangat lemah.
Pak Wahyu, Bu Wardah, Dani, dan Nuning menghampiri Aulia. Mereka menangis haru dan bahagia karena melihat Aulia sudah bangun kembali dan bisa berkumpul lagi dengan mereka.
Satu per satu mata Aulia menangkap sosok orang-orang yang sangat ia cintai dan ia sayangi.
"Kamu sudah sadar Saya♌Ǧ?" Tanya Bu Wardah.
Aulia hanya tersenyum sambil menahan tangisnya.
"Ibu!" Panggil Aulia lirih. Suaranya terdengar sangat lemah.
"Iya sayang, ibu disini."
Aulia mengalihkan tatapannya pada Pak Wahyu.
"Bapak!" Lirih Aulia.
"Iya, bapak juga disini menemani Aulia."
Dia mengalihkan juga pandangannya pada Dani dan Nuning. Dia tak memanggil mereka, tapi tangan lembutnya berusaha menggenggam jemari Nuning. Dia menatap wajah kakaknya itu dengan tatapan yang sangat berarti. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sangat sulit untuk di ucapkan. Dokter Rina pun segera memeriksa keadaannya kembali.
"Ya Allah, terima kasih. Kau telah mengembalikan Aulia pada kami. Terima kasih Ya Allah." Ucap Nuning dalam hati.
Sementara itu, Firman masih saja berdiri di belakang Dani dan Nuning tanpa berucap sedikitpun. Sejurus kemudian dia memutuskan melangkah keluar kamar untuk menenangkan dirinya. Dia berjalan sejalan-jalannya dan bersandar di salah satu tiang rumah sakit. Dani menoleh kebelakang namun Firman sudah tidak ada. Dia memutuskan keluar kamar untuk mencari Firman. Dari jarak beberapa meter dari pintu kamar, ia dapati Firman tengah menunduk lesu sambil bersandar di sebuah tiang..
"Firman!" Panggil Dani pelan.
Firman menolehkan kepalanya.
"Kamu Kέ♌āPå,Ayo masuk! Biar bagaimanapun Aulia itu harus tahu kalau antum sangat berjasa dalam proses kesembuhannya."
Firman menggeleng. Lesu.
"Kέ♌āPå,Man?" Tanya Dani.
Firman menghela nafasnya. Dia membuang pandangannya jauh ke depan.
"Ana justru tidak ingin dia tahu kalau ana ada di sini."
Dani hanya terdiam tanpa mau bertanya kenapa Firman tidak ingin Aulia tahu kalau dia ada di sini.
"Man!"Panggil Dani.
"Ya," Sahut Firman.
"Apa...kata-kata terakhir antum sebelum Aulia sadar itu, masih berlaku,"
Firman hanya terdiam. Tiba-tiba dia berucap.
"Afwan Mas. Ana minta maaf."
"Ya, ana menghargai keputusan antum. Toh kata-kata antum tadi hanya salah satu cara untuk kesembuhan Aulia bukan. Tapi karena Aulia sudah sadar, maka antum pun sudah tak punya kewajiban apa-apa lagi di sini. Afwan ya, karena telah merepotkan antum."
Firman mengangguk sambil tersenyum lirih.
"Tapi, sekarang antum bersedia kan untuk menemui Aulia,Sebentar saja. Sebelum pada akhirnya antum kembali ke Solo, dan Aulia masih terus saja berharap pada antum tanpa sebuah kepastian yang tidak jelas."
Firman terlihat berpikir sejenak. Namun akhirnya dia mengangguk dan bersedia menemui Aulia. Mereka melangkahkan kaki bersama menuju kamar Aulia.
* * *
"Li, apa kamu tahu siapa yang berjasa atas kesembuhanmu.Apa kamu tahu,Li." Tanya Nuning.
Aulia menyahut, "Allah."
Nuning tersenyum. Namun bukan itu yang dia maksud.
"Allah memang selalu berjasa dalam setiap fase kehidupan kita Li. Tapi selain kehendak dan izin Allah, ada orang lain yang Mbak maksudkan."
Dengan tatapan yang sangat lirih, Aulia bertanya,
"Siapa dia Mbak,"
Nuning kembali tersenyum dan melirikkan kedua matanya pada Pak Wahyu dan Bu Wardah.
"Seseorang yang senantiasa ada dalam hatimu. Seseorang yang selalu kamu sembunyikan namanya dari siapapun kecuali pada Allah. Seseorang yang kini ada di sini, yang sengaja datang kesini untuk membantumu untuk sembuh. Kamu tahu siapa dia?"
Raut wajah Aulia seketika berubah. Wajahnya terlihat cemas, dan bibirnya mulai bergumam menyebutkan nama Firman tanpa bersuara sedikitpun.
Nuning mengangguk sambil tersenyum,
?"ya. Dia Firman. Dia ada di sini Li."
Aulia hanya terdiam tanpa menyahuti kata-kata Kakaknya itu.
Tiba-tiba dari luar, Dani mengucapkan salam sambil berjalan menghampiri Aulia. Berjalan dengan seorang ikhwan bernama Firman.
Samar-samar Aulia menatap wajah laki-laki yang selama ini ada di dalam hatinya. Dia menangkap senyum itu. Senyum yang pertama kali dilihatnya ketika Firman tengah mendendangkan nasyid di panggung.
Seketika itu, riak-riak air mata mengalir begitu saja dari ujung matanya. Dia tak kuasa menahan tangis itu. Dengan cepat diapun mengalihkan pandangannya. Firman pun hanya berdiri dengan jarak beberapa langkah dari tempat tidur Aulia. Mereka hanya saling terdiam tanpa berucap sedikit pun. Namun Firman memutuskan untuk memulainya.
"Anti...sudah sadar Aulia,"
Aulia hanya mengangguk perlahan tanpah menoleh sedikit pun pada Firman. Sedangkan Firman pun hanya menunduk.
"Syukran atas bantuannya dan atas kesediaan antum untuk datang ke Jakarta." Ucap Aulia pelan.
Firman mengangguk, "Afwan..." Sahut Firman.
"Kesembuhan itu datangnya dari Allah. Kalau bukan karena kehendak Allah, maka kesembuhan itu tidak akan bisa terwujud."
Setelah itu tak ada lagi perbincangan yang berarti. Baik Firman maupun Aulia sudah tak tahu lagi apa yang harus mereka bicarakan. Mereka saling bicara dalam diam. Dan mereka pun hanya bisa berdoa dalam hati semoga masing-masing mereka mempunyai kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala ujian hidup. Dan yang pasti saling mendoakan agar satu sama lain bisa dikaruniai cinta yang sejati dari Allah. Ya, cinta yang hanya bisa dibalut dalam doa. Firman memutusakan untuk meminta diri. Dia keluar kamar untuk menenangkan dirinya. Dani pun menyusulnya.
Dan lagi-lagi, air mata itu mengalir bagai anak sungai yang melewati batang hidung Aulia. Ada perasaan mencekam yang seolah mengoyak-oyak hatinya.
* * *
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar