Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 5


~::* SANDIWARA LANGIT *::~


BAG 5

~ Dayung Biduk Rumah Tangga,Terkayuh ~

Kehidupan rumah tangga menjadi miniatur dari komunitas yg sesungguhnya berisi rakxat dg pemimpinnya.Suami ibarat presiden,istri dan anak2 adalah rakyat yg memiliki kewajiban taat tapi juga punya hak dilindungi.

"Setiap kalian adalah penanggung jawab.Masing2 akan dimintai pertanggungjawaban atas orang2 yg diasuhnya.Seorang suami adalah penanggungjawab dan ia akan dia dimintai pertanggungjawaban atas orang2 yg diasuhnya.Istri itu penjaga rumah suami dan anaknya serta ia bertanggungjawab atas semuanya."(Diriwayatkan oleh Ahmad,Bukhori dan Muslim)

Kehidupan rumah tangga sering diibaratkan seumpama bahtera yakni kapal besar yg menyerupai kapal pesiar dizaman sekarang namun kehidupan rumah tangga yg dibangun Rizqaan lebih menyerupah biduk kecil saja bila sebuah bahtera mengandalkan layar2 putih lebar sebagai penggeraknya untuk melaju dilautan maka sebuag biduk hanya membutuhkan sebilah dayung Biduk rumah tangga Rizqaan bahkan baru saja berada di dermaga sedang mencari-cari dayung yg layak digunakan untuk berkayuh ketengah laut.

Orang tua Rizqaan tergolong miskin bahkan sangat miskin.Saat Rizqaan menceritakan kesepakatannya dg orang tua calon istrinya,orang tua Rizqaan bereaksi hebat.Bukan marah atau jengkel karena anaknya dihina dan diremehkan orang namun justru jiwa kepahlawanan mereka seketika mengeliat.Mereka memilih berada satu barisan dg putra dan menantu mereka.Bagi mereka itu adalah perjuangan untuk membela harga diri mereka sebagai orang tua.

"Ayah tidak usah terlalu memikirkan nasib kami nanti.Kami tahu ayah juga hidup serba kekurangan.Biarkanlah kami berjuang berdua mengatasi segala masalah dan menghadapi tantangan itu dg segala cara yg mampu kami lakukan.Cukup bantu kami dg ketulusan doa,itu sudah lebih dari cukup" ujar Rizqaan suatu saat kepada ayahnya yakni saat Rizqaan baru saja akan menuju ke rumah calon istrinya untuk melangsungkan akad pernikahan.

"Tidak hanya dg doa." tukas Ayahnya tegas.
"Bila memiliki sedikit kelonggaran,kami juga akan membantu penghidupan kalian sebisa mungkin tapi kalian tidak mungkin tinggal dirumah kita ini.Terlalu sempit.Ayah ada sedikit simpanan .Sebenarnya itu adalah perhiasaan satu-satunya milik ibu kalian.Tapi kami merelakannya untuk dijual.Tidak seberapa.Tapi kami rasa cukup untuk membayar sewa rumah didaerah yg sedikit ramai selama beberapa bulan.Sisanya bisa kalian gunakan untuk kebutuhan hidup kalian selama beberapa bulan juga.Tapi kalian wajib berhemat-hemat.Mungkin hanya itu yg dapat kami bantu sementara ini.Selebihnya,kalian harus bekerja keras untuk menjalani hidup kalian..."

Ayah menangis.Itulah pertama kali Rizqaan melihat sang Ayah menetaskan air mata karena Ayahnya itu tipikal pria yg keras.sikapnya tegas,agak jauh dari sifat romantis tapi kali Ayahnya seperti membaca sebuah berita duka.


Ia tak mampu menahan air matanya yg merembes mengalir lembut disisi kedua matanya.Sepertinya ia sudah dapat menebak garis2 perjalanan hidup anaknya yg tentu tak jauh dari nuasa serba kekurangan.Nuasa kemiskinan seperti juga hidupnya yg selama berpuluh-puluh tahun berumah tangga ia jalani.Kesediaan Rizqaan menerima tantangan itu bisa jadi merupakan hal yg membuatnya makin larut dalam keharuan.

"Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dg menyebut nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuhnya.Sesungguhnya Rabbku benar2 maha pengampun lagi maha penyayang."(HUD:41)

Rizqaan menceritakan kepada saya saat2 ia akhirnya mengucapkan akad nikah tersebut.Sebuah akad nikah yg ganjil yg bisa jadi hanya itulah satu-satunya di dunia ini.Lafal akad itu dibagian awalnya memang biasa saja hanya berisi pemasrahan calon istri oleh calon mertuanya dg menyebut nama putrinya itu ditunjukan kepada Rizqaan lalu sicalon mertua menyebut jumlah mahar yg harus berikan oleh Rizqaan namun disamping akad resmi itu ada shighat ta'liq (semacam syarat2) yg tidak lazim.Shighat itu diucapkan setelah akad resmi yg intinya sebuah perjanjian dan sepakatan.Tapi sesungguhnya juga sebuah perjudian:bahwa apabila dalam jangka sepuluh tahun menikah kehidupan ekonomi mereka berdua tidak menjadi baik,mapan dan stabil,Rizqaan harus menceraikan istrinya secara suka rela.Dalam hukum fikih bila ungkapan itu dijadikan sebuah syarat dalam akad nikah maka perceraian itu bisa otomatis terjadi bahkan tanpa sisuami mengucapkan lafal talaq sekalipun.

Meski diawali dg sebuah akad yg aneh,akhirnya pernikahan itu usai juga dilaksanakan secara normal.Walimah dilangsungkan secara sederhana.Bahkan itu adalah permintaan dari sang mertua juga,mereka tak ingin sang putri mengawali kehidupan rumah tangganya dg perhelatan mewah namun akhirnya harus hidup dalam kemiskinan,bisa jadi 10 tahun lamanya.


"Biarlah resepsi sesungguhnya nanti diberlangsungkan kalau kamu sudah berhasil,sukses,dan hidup secara layak bersama putriku.Mungkin,10 tahun lagi atau mungkin resepsi itu tidak akan pernah terjadi sama sekali..." ungkap Ayah mertua Rizqaan.Ia hanya tersenyum pahit menanggapi tantangan itu.

"Mulailah dg bismillah.Bertawakallah kepada Allah,sebelum,disaat dan sesudah kamu memulai usahamu setiap hari. "Hanya kepada Allah saja hendaknya kaum beriman itu bertawakkal."(AL MAIDAH:11)

Tetaplah berjalan diatas garis lurus ajaran syariat.Tawakkal itu selalu memberi kebaikan buat dirimu."

Saya mencoba memberi motivasi itu,saat suatu pagi Rizqaan kembali datang menemui saya,kali ini bahkan sebelum pengajian dimulai.

"Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yg dikehendaki) Nya.Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu."(ATH-THALAQ:3)

"Dari mana saya harus memulai Ustadz? Saya belum terbiasa bekerja serius kadang saya memang bekerja serabutan menjadi tukang batu,menjadi kernet mobil atau melakoni pekerjaan2 lain.Tapi kini saya sudah beristri,saya perlu pekerjaan tetap karena target saya bukan sekadar mampu bertahan hidup tapi bagaimana bisa hidup layak dan berkecukupan." Rizqaan meminta nasihat saya.

"Untuk memberimu pekerjaan,sekarang saya belum bisa.Saya punya pekerjaan tapi mungkin kamu belum mampu atau belum berkenan menekuninya sekarang."

Rizqaan hanya tersenyum.Ia paham,bahwa pekerjaan yg dilakoni Ustadz tak jauh dari soal mengajar,memberi ceramah2 ilmiah memang tak mungkin ia membantu Ustadznya memberi pengajaran diberbagai lokasi yg ada.Untuk saat ini,ilmunya masih kelewat dangkal.Ia masih harus banyak belajar.Untuk langsung mengajar,apalagi di pengajian2 sekelas yg ditangani Ustadznya,Rizqaan masih belum percaya diri lagi pula Ustadznya itu hidup bukan dari hasil mengajar.Ia memiliki beberapa rumah kontrakan,warisan dari ke 2 orangtuanya dan dia anak tunggal.


Dari biaya sewa masing2 petak rumah yg hanya berisi 2 ruangan saja-seluruhnya berjumlah 10 petak-,Ia sudah hidup secara layak dan nyaman tidak tergolong mewah namun boleh dibilang berkecukupan.

"Tapi untuk mulai bekerja tak perlu harus menunggu pekerjaan tetap.Mulailah dg segala pekerjaan yg bisa kamu lakukan,biarlah setiap hari-bila perlu-kamu berganti-ganti pekerjaan.Keluarlah dari rumah dg prinsip seekor burung yg digambarkan dalam sebuah hadits secara indah.Saya yakin anak muda masih hapal hadits itu, "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dg sebenar-benarnya tawakkal maka kalian akan diberikan rezeki sebagaimana burung2 diberikan rezeki.Burung2 itu berangkat dg perut kosong dan kembali dg perut kenyang."(Sunan At-Tirmidzi)

Burung keluar dari sangkarnya tanpa tahu ia harus kemana tapi ia terus terbang dan terbang lalu hinggap dimana ia bisa hinggap.Ia akan menggunakan seluruh kemampuan tubuhnya,ketajaman segenap inderanya,kecepatan terbangnya untuk mencari makanan bisa jadi sedikit waktu yg ia butuhkan untuk memperoleh makanan yg diinginkan dan bisa jadi meski sudah seharian penuh berlalu lalang baru sedikit yg ia peroleh untuk santap bersama istri dan anaknya.Pada hari itu saja.Engkau anak muda tentu punya bekal yg lebih dari sekadar yg dimiliki seekor burung? Ok,mungkin engkau hanya kalah karena engkau tak bisa terbang tapi engkau memiliki otak dan kecerdasan segala cara yg mubah bisa engkau usahakan.Mulailah bekerja sebisamu,bekal ilmu agama yg kamu miliki wajib kamu terapkan dalam hidupmu."

Bersambung....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar