Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 7


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

 ABU UMAR BASYIER

BAG 7

~ Memulai Masa Pendakian ~


yuk sahabat baca lagi novelnya......

Hari2 selanjutnya mereka rasakan semakin nyaman.Pertumbuhan kemampuan perekonomian keluarga membuat mereka berdua bisa berpikir lebih jernih untuk melihat dan menatap masa depan juga memenuhi segala kebutuhan jasmani dan rohani mereka.Mereka mulai dapat meluangkan waktu untuk berkunjung kerumah orangtua,kerabat atau teman2 dekat.Interaksi dg tetangga juga semakin baik.Rizqaan bahkan bisa sepekan sekali mengajak istrinya mengaji,ia sendiri mulai bisa melanjutkan pelajaran2 bahasa arab dan beberapa disiplin ilmu keislaman yg selama ini sudah Saya ajarkan kepadanya.

"Alhamdulillah,anak muda sudah mulai rajin kembali hadir dipengajian" ujar Saya saat berjumpa dg nya untuk pertama kalinya semenjak ia menikah.

Saya suka menyapanya 'anak muda' dg sapaan itu saya mencoba mengingatnya bahwa ia masih begitu muda dan energik masih banyak kesempatan untuk berkembang dalam segala hal dalam mendongkrak kemampuan ilmiahnya atau untuk mencari kemapanan materi.

"Ya,Ustadz.Alhamdulillah,sebenarnya selama ini juga saya sudah kangen dg pengajian juga kepada Ustad dan teman2 pengajian lain tapi saya sedang mencoba bernafas dulu mengatur sandaran sejenak biar belajar saya bisa konsen dan fokus" jawab Rizqaan santai.

"Bagaimana usahamu?"
"Alhamdulillah,hingga kini masih lancar mudah-mudahan seterusnya tapi dari mana Ustad tahu kalau saya membuat usaha?"

"Sangat mudah ditebak,saya tahu pemahaman agamamu,anak muda.Kamu pasti lebih memilih usaha berdagang karena itu usaha hidup yg dijalani Rasulullah dan karena berdagang banyak keutamaannya bila bukan terpaksa pasti kamu tidak memilih selain berdagang." ujar saya menjelaskan tebakan saya.

"Ya.Memang saya lebih memilih berwirausaha,ketimbang pada orang lain saya tidak punya lahan untuk bertani maka saya memilih berdagang." Rizqaan berkata dg senyuman tersungging dibibirnya.


"Kamu sekarang sudah memulai masa pendakian.Saya bisa melihatnya dari penampilanmu hari ini Allah sedang berkenan memberi kesempatan kalian berdua bisa menikmati kehidupan yg lebih baik meski saya yakin masih amat sederhana tapi sungguh kalian harus sadari disekeliling kalian masih banyak orang yg jauh lebih sengsara dan lebih kekurangan dibandingkan kalian..." Saya melanjutkan nasihat saya.

"Maka saya peringatkan berhati-hatilah karena pada setiap tetes karunia ada pertanggungjawaban,ada amanah yg harus diemban.Ada nikmat yg harus disyukuri.

"Demi Allah.Bukan kemiskinan yg aku khawatirkan terhadap diri kalian tetapi yg aku khawatirkan justru apabila dunia ini dibentangkannya kepada kalian,sebagaimana dahulu juga dibentangkan dihadapan umat2 sebelum kalian lalu kalian pun memperebutkannya,sebagaimana orang2 terdahulu memperebutkannya.Hingga akhirnya dunia itu membinasakan kalian,sebagaimana dahulu dunia itu membuat mereka binasa."(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Hakim dari hadits Abu Hurairah)

Bersiap-siaplah bila hari kehari kalian diberi kesempatan untuk menapaki jenjang yg lebih baik waspadalah terhadap godaan harta lebih dari kewaspadaan kalian menghadapi kemiskinan yg betapapun mencekiknya..."

Rizqaan mencamkan betul nasihat saya itu,ia membuktikan bahwa meski sibuk berjualan roti dari pagi hingga siang hari terkadang hingga sore hari,ia masih tetap menyempatkan diri menghadiri kajian umum pada hari ahad pagi dan juga pengajian2 khusus disore hari minimal 3 kali sepekan bahkan ada 2 jadwal dimalam hari yg juga rutin dia hadiri.


Semangatnya begitu hebat,begitu menyala-nyala dan semua itu tak lepas dari dukungan istrinya yg secara sepenuh hati memberi keleluasaan bagi Rizqaan untuk menimba ilmu untuk membina diri,memperkaya wawasan ilmiah dan mempertajam kemampuan bahasa arabnya.Mereka sama sekali tidak khawatir akan mengalami kesulitan mencari nafkah bahkan tantangan 10 tahun itu pun tak membuat mereka terjebak dalam dilema kecintaan terhadap duniawi atau kesibukan yg menodai kebeningan hati.

***

Dirumah Rizqaan menghabiskan kebanyakan waktunya untuk 2 hal saja membaca atau bercengkrama dg istri saat si istri sibuk memasak atau menyelesaikan pekerjaan rumah,Rizqaan membaca dan belajar terkadang diselingi dg membaca Al Qur'an ,membaca wirid dipagi hari dan petang.Rutinitas itu ia jalani dg penuh kesungguhan.Setiap hari sesekali ia pergi berjalan keluar rumah dg mengendarai sepeda motor tua yg baru saja dibelinya dg cara diangsur,dg kendaraan itu juga mereka kadang berkunjung ke rumah orang tua,orangtua Halimah sendiri untuk sementara waktu menolak dikunjungi tapi beruntung mereka masih bisa sering dihubungi melalui telepon atau sms.

Satu tahun berlalu,Rizqaan kini sudah semakin fasih bercakap-cakap dalam bahasa arab caranya membaca kitab bahkan sudah mendapat pujian dari rekan2 mengajinya,lancar dan jarang sekali menemui kesalahan padahal kitabc yg dibaca bervariasi ada kitab2 rujukan semacam Al Umm,Fathul Baari atau Syarah Shahih Muslim ada juga kitab2 Tafsir klasik seperti Tafsir Al Qurthubi,Tafsir Ibnu Katsir atau yg kontemporer seperti Adhwaaul Bayaan bahkan ia juga sering membaca dan menelaah buku2 berbahasa arab moderen tulisan para ulama terkini sebut saja buku2 karya Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin juga berbagai jenis kutaib (buku mini) dg berbagai variasi bahasan.


Disamping itu,jualannya juga mengalami peningkatan yg cukup memuaskan.Sekarang seharinya ia bisa menjual antara 300 hingga 450 potong roti yg berarti memberi keuntungan kotor antara Rp 75.000-112.500,-per harinya jumlah yg cukup besar untuk bisa hidup secara lebih layak bahkan mereka kini sudah bisa menabung lebih banyak.Melengkapi perabotan rumah sedikit demi sedikit dan membeli berbagai buku dan kitab berbahasa arab dan indonesia namun itu baru awal dari perjalanan hidup mereka.Sebagai manusia mereka sungguh buta akan apa yg terjadi esok hari.Rahasia takdir tak mungkin ditebak jalan yg dilaluinya -berdagang -untuk mencari nafkah juga tak selamanya membuat Rizqaan tenang bukan berarti ia berdagang secara haram tapi dunia dagang masa kini adalah ruang dimana segala bentuk tipu muslihat kerap digunakan diantara perang tipu menipu disekelilingnya itulah,Rizqaan mengais rezeki.Mencari keutamaan dari Allah dan betapa itu bukanlah hal yg mudah kecuali bagi yg dianugerahi rahmat oleh Allah hanya kepada Allah kaum mukminin bertawakkal.

Bersambung.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar