Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGGIT BAG 21


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 21

~ Menanti Pilihan Allah ~

yuk sahabat  kita lanjutin bacanya........

Saat kandungan mendekati masa melahirkan Halimah diantar Ibunya kerumah sakit.Saat itu ia juga belum menerima pinangan Budiman.Halimah pergi ditemani Ibunya,sebelum sampai dirumah sakit Halimah berhenti disebuah ATM untuk mengambil uang kiriman dari Rizqaan.

Beberapa bulan lalu Rizqaan mengirimkan uang 10 juta untuknya selanjutnya setiap bulan Rizqaan selalu mengirimi minimal 1 juta meski Halimah tinggal bersama orangtua dg uang itu ia bisa membeli sendiri banyak keperluannya dan juga keperluan Nabhaan.Ia tak pernah menerima uluran tangan Budiman,Ia sering menawarkan hadiah,uang atau barang2 berharga kepadanya.

Tiba dirumah sakit Halimah memeriksakan kandungannya selain itu ia melakukan chek up untuk mengetahui kesehatan tubuhnya sendiri sehingga Ibunya agak lama menanti.Setelah dari dokter kandungan ia diantar keruang lain untuk melakukan medicle check up disitu si Ibu harus menunggu lebih lama karena air seni,kotoran dan darahnya diperiksa semua.

Selama ini Halimah agak jarang memeriksakan diri tapi semenjak perceraian itu terjadi.Ia merasa kondisi tubuhnya selalu melemah mulanya ia berpikir pasti hanya faktor kejiwaan tapi ia merasa perlu juga memeriksakan kondisi fisiknya inilah saat yg tepat sambil memeriksakan kandungan ia juga meminta kesehatannya secara seluruh diperiksa.

Halimah keluar dari ruangan medical check up,ia terlihat letih wajahnya agak pucat."Kamu tak apa2 Halimah." tanya Ibunya."Tidak apa2 Bu,tidak apa2." jawab Halimah.

Beberapa hari kemudian Halimah datang untuk mengambil hasil dari check up beberapa hari yg lalu.Kali ini Ibunya juga ikut mengantarkannya karena ia tak bisa menyetir mobil sendiri.Sebenarnya bisa saja ia naik taksi tapi ia malas.Ibunya kembali menanti diluar ruangan saat keluar terlihat Halimah juga begitu keletihan wajahnya kali ini bahkan lebih pucat dari beberapa hari sebelumnya.


"Kamu,tak apa2 Halimah?" tanya Ibunya lagi."Eh,tidak.Tidak apa2 Bu." Halimah agak tergagap menjawabnya."Betul,kamu tak apa2 ?""Be..betul Bu...""Ya sudah,mari pulang."

2 hari setelah itu Budiman datang kali ini ia datang dg ditemani Ayahnya.Bapaknya pernah menyarankan Budiman agar datang dg orangtuanya,kedua orangtuanya atau minimal Ayahnya dg begitu semoga Halimah memahami keseriusan Budiman dan moga2 Hatinya luluh dan bisa menerima lamaran Budiman.

Orang itu datang dg mengendarai sebuah sedan BMW keluaran terbaru terlihat ia dan Ayahnya ceria tampaknya mereka yakin bahwa kali ini Halimah tak akan menolak lagi pinangannya karena ini sudah nyaris sama dg pinangan resmi,ia datang bersama Ayahnya dan kedudukan ayahnya sebagai pejabat tinggi pasti memengaruhi siapapun yg didatanginya.

Setelah mereka duduk,Halimah ditemui oleh Bapaknya.Ia kembali didesak untuk menerima pinangan Budiman.

"Lihatlah,Ia sudah datang bersama Ayahnya itu artinya dia serius ingin menikahimu apalagi yg kamu pikirkan.Ia kaya,baik hati ia menjadi duda bukan karena ditinggal selingkuh istrinya tapi karena istrinya meninggal dunia.Bersamanya,kamu akan jauh lebih berbahagia dari pada saat kamu bersama Rizqaan." jelas Bapaknya itu antusias sekali.

"Kebahagian bagiku bukan karena harta atau kedudukan Pak,yg terpenting dalam rumah tangga adalah cinta dan kepercayaan.Aku tidak mencintai Budiman dan aku juga merasa tak mungkin mempercayainya.""Kenapa? Karena dia bukan Ustadz ?"

"Bukan soal Ustadz atau bukan tapi aku melihat agamanya selama disini saja aku tak pernah melihatnya meminta izin shalat kadang ia duduk disini dari siang hingga ashar aku tak melihatnya shalat kalau shalat sebagai tiang agama saja sudah ia lalaikan apalagi ajaran agama yg lain?"

"Kamu memang keras kepala anakku." tukas Bapaknya kesal."Bukan,bukan itu aku hanya ingin kita selamat dunia akherat.""Jadi bagaimana urusannya?" Bapaknya mendesak."Begini,izinkan aku berbicara dg Budiman dan juga Ayahnya."


"Kamu mau menerima lamarannya?""Pokoknya,izinkan aku berbicara dg mereka.""Kamu jangan membuat Bapakmu malu dihadapan mereka." ancam Bapaknya.

"Tidak,itu tidak akan terjadi percayalah,Pak."

Akhirnya Halimah diperkenankan menemui kedua tamu mereka itu ia meminta kepada mereka berbicara tanpa didengar kedua orangtuanya.Akhirnya mereka memilih berbicara diteras disitu mereka terlibat obrolan yg tidak panjang tapi sangat serius,tidak terdengar ada kemarahan atau kekesalan yg terucap dari mulut Budiman atau Bapaknya tapi juga tidak terdengar keceriaan.Mereka berbicara seperti sedang melakukan perundingan serius bahkan lebih serius dari perundingan bisnis antara Budiman dg Bapaknya tak sampai 10 menit Halimah kembali.Budiman dan Bapaknya juga kembali masuk keruang tamu mereka menemui kedua orangtua Halimah yg menunggu dg harap2 cemas.

Saat itu wajah Budiman terlihat pucat demikian juga wajah Bapaknya tapi mereka tidak terlihat kesal atau marah."Begini Pak." Budiman memulai berbicara."Disini,kami hanya ingin memberikan ketegasan saja bahwa kami tidak jadi melamar putri Bapak."

"Lho,kenapa begitu? Memangnya ada apa?" Bapak Halimah bertanya,ia terheran-heran kaget dan merasa terpukul dg perubahan itu.

"Soal alasannya,nanti Bapak tanya saja sama putri Bapak yg jelas kami tidak jadi melamar putri Bapak bukan kami marah,kesal,kecewa atau karna saya tak menyukainya.Bukan,bukan karena itu kami harap kejadian ini tidak merenggangkan hubungan diantara kita.Hubungan bisnis antara saya dg Bapak juga tidak perlu dibatalkan namun soal pernikahan saya mohon maaf saya tidak bisa menjadi menantu Bapak.Sekali lagi,kami mohon maaf..."

Semua ucapan itu didengar dan simak oleh Bapak Halimah dg hati terbakar.Ia berusaha menahan emosinya yg menyala-nyala ia begitu berharap akan bisa memiliki menantu yg super kaya seperti Budiman namun harapannya itu begitu aja amblas karena alasan yg ia sendiri belum mengetahuinya.Apapun alasan itu,sungguh tidak pantas.


Saat tamu memohon pamit dan pergi meninggalkan rumah mereka,Halimah masuk kamar.Bapak dan Ibunya menyusulnya ke dalam kamar mereka bertanya kepada Halimah tentang alasan kenapa lamaran mereka bisa digagalkan dan kenapa mereka tidak terlihat marah atas penolakan Halimah.Dengan sabar,Halimah menceritakan apa yg menjadi alasannya secara jelas,gamblang dan detil. Kedua orangtuanya hanya mendengarkannya dg wajah pucat pasi.

Bersambung....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar