~:: * SANDIWARA LANGIT *::~
BY:ABU UMAR BASYIER
BAG 15
~ Badai Susulan Yang Mengguncangkan ~
Prahara itu belum berakhir,setelah sebuah amukan badai yg menjadi prahara gelap dalam kehidupan Rizqaan dan istrinya Halimah masih ada badai pekat lain yg datang menyusul.
Pagi itu hari kedua sang Ibu dirumah sakit kondisinya masih sangat lemah luka2 bakar parah disekujur tubuhnya menimbulkan rasa perih yg hebat,rasa seperti di bakar2 meski selamat saat itu kondisi ibunya sangat mengenaskan,ia memang tidak kritis tapi tetap dirawat sementara dalam ruang UGD.Rencana besok akan pindah keruang perawatan biasa.Sangat beruntung bahwa meski luka2 bakar ditubuhnya tergolong parah tapi hanya mengenai bagian luar tubuhnya saja tidak ada benturan dan tidak ada bagian vital yg terkena api namun sehabis subuh kemarin hingga pagi ini pukul 09.00 mereka menemani sang Ibu.
Kondisi ibunya yg begitu mengenaskan membuat hati Rizqaan merasa ikut terbakar,jiwanya terpukul atas kejadian yg telah melalap ludes harta benda yg dimilikinya pabrik,rumah bahkan mobil honda jazz merah jambu kesayangannya kini ia harus terpukul oleh kematian Bapaknya juga oleh kondisi ibunya yg meski selamat namun menderita begitu hebat semua kejadian itu berlangsung justru saat mereka sedang menapaki kesuksesan yg membanggakan dalam hidup mereka bahkan terjadi saat mereka sedang tidur terlelap setelah seharian berjalan-jalan.Nuasanya mirip dg mimpi yg dialami Halimah rasa takut dan ngeri yg datang tiba2 ditengah kegembiraan ditengah kenyamaman menikmati berbagai keindahan
Saa itu,kamar UGD diketuk dari luar,Rizqaan membuka pintu seorang perawat muda minta ijin masuk.Rizqaan mempersilahkannya.
"Ada orang minta ijin untuk berbicara sebentar." ujar perawat itu."Berbicara dg siapa? Dg saya?" tanya Rizqaan heran."Ya.Nama anda pak Rizqaan bukan?""Ya.""Mereka menunggu diluar."
Rizqaan bergegas keluar ruangan,ia merasa heran kalau ada orang mengajaknya mengobrol disituasi seperti ini kalau mereka para tetangganya dikampung tidak mungkin,mereka tahu betul bahwa ia sekarang tak punya banyak waktu ngomong2 kondisi kejiwaan juga masih labil kalau ada keperluan mereka pasti menyampaikannya kepada perawat atau menunggu Rizqaan saat keluar dari ruang perawatan darurat.
Saat tiba diluar ruangan,Rizqaan terhenyak dadanya berdegup.Ia berdiri mematung memandang dua orang yg sedang berdiri di hadapannya mereka bukan orang asing,mereka dua orang yg sangat dikenalnya.Putri mereka adalah istrinya saat ini,Halimah.Ya,mereka berdua adalah mertuanya.Ia sangat kaget bukan karena kehadiran mereka yg tiba2,sebagai mertua wajar bila mereka datang saat putri mereka mengalami musibah soal dari mana mereka tahu meski Rizqaan sendiri belum sempat memberitahu musibah tersebut tidak terlalu sulit.Ada banyak pekerja dipabriknya yg bisa saja memberitahu mereka tapi ia kaget karena saat itu ia teringat akan perjanjian dan kesepakatan antara mereka saat akad pernikahan dulu.Hari ini adalah saatnya dan dihari ini mereka bertemu disini,disituasi yg sungguh tidak nyaman.
"Bagaimana kondisi putri kami? Cucu kami?" tanya Bapak mertuanya"Alhamdulillah,mereka baik2 saja.Silahkan masuk kedalam Pak,Bu." Rizqaan mempersilahkan."Tidak.Cukup disini saja.Nanti kalau perlu,kita bisa memintanya keluar sebentar."
Mereka sama sekali tak menanyakan kondisi orangtuanya Bapak atau Ibu Rizqaan.Itu hal yg sangat disesalkan oleh Rizqaan mereka adalah besanan seberapapun kurangnya keakraban diantara mereka disaat seperti ini sudah sewajarnya mereka menanyakan kondisi orangtuanya.Ia yakin mereka sudah mendengarnya pihak yg mengabarkan kepada mereka sudah tentu memberitahu apa yg terjadi tentang kebakaran itu,tentang kematian Bapaknya dan tentang kondisi Ibunya sekarang.
"Kami ingin bicara to the point aja." tegas Bapak mertuanya."Kamu masih ingat kesepakatan kita dulu?"
Dukk,Rizqaan kembali tersentak dadanya kembali berdegub bahkan kali ini berdebar-debar kencang.Ia tak menyangka bila mertuanya akan tega menanyakan hal itu dalam kondisinya yg seperti sekarang ini.
"Sekarang hari final kesepakatan itu,hari ini penentuannya apakah kamu masih layak menjadi suami putriku,Halimah atau kamu harus melepaskannya dg rela hati."
Bapak mertuanya itu berkata dg nada tegas tanpa ragu2 seolah-olah perceraian sepasang pasutri yg sudah hidup selama sepuluh tahun sudah dikaruniai seorang anak,dimata mereka hanya sebuah peristiwa sepele saja.Sementara ibu mertuanya hanya diam tertunduk tak berkata sepatah katapun.Rizqaan yakin,ibu mertuanya itu jauh lebih berperasaan,ia seorang wanita tentu ia tahu betul bagaimana perasaan putrinya saat ini dan bagaimana pula kalau memang perceraian itu harus terjadi betapa sakitnya,betapa pedihnya.
"Kondisimu sekarang ini tak jauh beda dari kondisimu saat melamar putriku.Kamu kere,kamu tak punya apa2 bahkan pekerjaan pun kamu sekarang tak punya.Aku tak peduli apa yg terjadi pada dirimu,aku tak peduli bukan berarti aku tidak merasa sedih.Putriku bersamamu,dia turut merasakan musibah yg kamu alami bersamanya bila ia bersedih aku juga turut bersedih tapi perjanjian dan kesepakatan itu tak bisa diingkari sebagai orang yg mengerti agama kamu tentu mengerti apa arti sebuah perjanjian maka bagiku justru inilah cara untuk menyelamatkan putriku dari kesedihan yg berlarut-larut sekarang saatnya kamu penuhi janjimu itu.Ceraikan Halimah!"
Ucapan Bapak mertuanya itu bagaikan petir yg menyambar ke lubuk hatinya saat itu ia merasa dadanya teraduk-aduk.Nyaris meledak.Panas,bergejolak tak karuan tubuhnya menggigil menahan amarah urat2 dipelipisnya menegang Rizqaan berusaha menahan diri agar tidak melampiaskan kemurkaannya.Ia beristighfar,ia tak mau menzhalimi dirinya sendiri dihadapan Allah.
"Pak.Tapi kondisi kami sedang seperti ini,Halimah juga sedang shock perceraian itu hanya membuatnya makin terpuruk dalam kesedihan,ia pasti akan sangat terpukul...""Jadi kamu mau mengingkari perjanjian itu?" tanya mertuanya menyela.
"Bukan,bukan itu maksud saya.Saya sama sekali tidak mengingkari perjanjian itu.Hak ada ditangan Bapak kalau Bapak berkenan minimal menundanya,hingga kondisi membaik kan tidak masalah? Coba pikirkan kondisi putri Bapak sendiri juga cucu Bapak saya berbicara demi kemaslahatan bersama.""Dalam perjanjian itu ditegaskan bahwa waktu kamu harus menceraikan putriku,bila dalam waktu 10 tahun kamu tak membuatnya hidup berkecukupan kamu memang sempat mengalami peningkatan taraf hidup tapi kenyataannya hari ini kamu kembali terpuruk dan hari ini adalah puncak perjanjian itu."
"Tapi,masalahnya kondisi ini...""Saya tidak mau tahu.""Pikirkan kondisi putri dan cucu bapak...""Justru sekarang aku sedang memikirkannya dalam kondisi ini sebaiknya aku menyelamatkannya bila dia sudah bercerai aku bisa menikahkannya dg pria kaya yg sudah aku kenal baik.Ia dan cucuku Nabhaan atau siapa itu namanya bisa hidup nyaman."
"Kami sudah hidup berumah tangga 10 tahun,kami sudah saling mencintai secara mendalam.Bagaimana mungkin dg bercerai secara tiba2 Halimah akan bisa bahagia? Dan anak kami,bagaimana ia bisa hidup bahagia bila berpisah dari ayahnya?" Rizqaan berusaha memberi pengertian kepada mertuanya disebelah kiri Bapak mertuanya ibu mertuanya terlihat mulai meneteskan airmata tampaknya ia juga tidak bisa menerima hasil perjanjian seperti itu.
"Perjanjian tetaplah perjanjian kecuali kalau kamu mau mengingkari perjanjian itu dan aku yakin sebagai seorang Ustadz sebagai orang yg paham agama kamu tak akan mungkin melakukannya.Soal kebahagian itu relatif bung.Bila sudah berpisah dgmu dan hidup nyaman ditengah kesenangan dan gelimang harta ia pasti akan melupakanmu.Anakmu juga pasti lebih senang tinggal ditengah gelimang kekayaan daripada hidup menderita bersamamu.Oh ya,kamu juga tidak akan aku larang bila suatu saat mau sekadar berjumpa dan mengobrol dg anakmu itu.Tetapi sekarang ini permintaanku hanya satu ceraikan Halimah!"
Rizqaan terdiam,tampaknya ini memang sudah keputusan final.Bapak mertuanya tak mungkin mau mengalah dg sekadar mengundurkan waktu perceraian tersebut mungkin 1 atau 2 bulan.1 atau 2 minggu atau malah 1 atau 2 hari.Tidak itu tidak mungkin untuk apa susah2 ia datang kerumah sakit padahal biasanya ia nyaris tak pernah mengunjungi mereka-,kalau bukan untuk menuntaskan kesepakatan itu.Saat ini juga,sikap mertuanya yg tegas dan kukuh pendirian itu sudah ia kenal semenjak lama bahkan semenjak sebelum menikahi Halimah.
Sebagai orang yg mengerti agama,Rizqaan sadar bahwa perceraian itu tak mungkin bisa dihindari bahkan bila ditinjau dari fiqih yg ia pahami perceraian itu bisa saja terjadi dg sendirinya,akibat perjanjian mufakat itu karena itu termasuk nikah bersyarat yakni yg keberlangsungannya digantungkan pada kondisi tertentu "Bila suatu saat suami meninggalkan istri selama 6 bulan tanpa kabar berita maka jatuhlah talaq" syarat seperti itu sering dibacakan dalam sebagian akad2 ditanah air maka bila seorang suami meninggalkan istrinya selama 6 bulan tanpa kabar berita maka perceraian itu otomatis terjadi tanpa ia menalaknya sementara dalam akad dahulu sudah disepakati bahwa dalam 10 tahun ia tak mampu membuat istrinya hidup berkecukupan maka dg rela hati ia harus menceraikannya minimal kalaupun tak terjadi secara otomatis ia tetap harus menceraikan Halimah.Ini yg membuat tubuhnya secara tiba2 menjadi limbung nyaris terjatuh kalau ia tak segera menyadarkan diri,menata jiwanya mengendalikan perasaannya.Ia harus tegar,sebagai seorang muslim ia harus menaati perjanjian yg telah ia buat dg kerelaan hati.
"Hai orang2 yg beriman,penuhilah akad2 itu" (AL-MAIDAH:1)
***
Agar tidak mengganggu Ibunya,Rizqaan memanggil istrinya Halimah.Ia mengajaknya keluar lalu meminta izin kepada mertuanya untuk mengajak Halimah berbicara sebentar disudut ruang tunggu rumah sakit yg kebetulan cukup luas tidak lebar tapi cukup panjang ada 2 baris bangku2 yg masing2 barisnya berisi tak kurang dari 20 bangku.Rizqaan memilih yg paling sudut bersama Halimah untuk mengajaknya berbicara 4 mata.
Mertuanya mengizinkannya.Sebelum mereka berbicara berdua terlebih dahulu Halimah mendatangi ke 2 orang tuanya.Ia memeluk Bapak dan Ibunya secara bergantian.Saat memeluk ibunya sang ibu menangis."Sabar ya nak" ujarnya kepada Halimah.Halimah mengangguk pelan,ia tidak tahu kalau tangisan ibunya itu lebih dari sekadar tangisan karena musibah yg dialaminya.Ia tak tahu bahwa Ibunya sedang memendam kepedihan atas apa yg akan terjadi pada kehidupan rumah tangga anaknya itu.Ia tak menyadari bahwa ungkapan "sabarlah" itu ternyata memuat peringatan atas apa yg akan dihadapinya sebentar lagi.
Rizqaan segera mengajak Halimah kesudut ruangan,disitu mereka memilih bangku yg berdampingan Rizqaan duduk menghadap kesamping kearah Halimah,kedua tangannya memegang kedua tangan istrinya dg penuh kemesraan.
"Ada apa Abuya?"Sapaan 'Abuya itu membuat hati Rizqaan bagai di iris2,beberapa saat ia hanya mampu terdiam nyaris ia ingin melompat,mendatangi mertuanya dan menegaskan bahwa dia akan membatalkan perjanjian itu tapi ia sadar bahwa itu perbuatan dosa itu khianat,itu salah satu ciri kemunafikan seorang mukmin harus menjaga komitmen terhadap janjinya.
"Lho,kok diam Abuya? Ada apa sebenarnya? Kenapa kita harus berbicara berduaan disini?" Halimah bertanya dg penasaran dadanya tiba2 berdebar-debar hatinya mencoba meraba-raba apa yg tengah terjadi kalau bukan karena urusan yg sangat penting untuk apa Rizqaan mengajaknya berbicara 4 mata padahal diruangan perawatan atau didepan kamar mereka bisa berbicara.
"Adinda tersayang.Bersabarlah."
"Kenapa Abuya? Dari kemarin aku sudah bilang bahwa aku akan tetap bersabar menghadapi musibah ini segalanya belum berakhir.Kita bisa mengontrak rumah lagi kita masih memiliki sedikit uang di ATM.Kemarin abuya bilang,ATM itu masih ada tidak ikut terbakar meski buku tabungan dan surat2 penting kita lainnya ludes dimakan api kita bisa memulai usaha dari awal lagi."Halimah terus berbicara panjang lebar.Rizqaan tidak segera menyelanya ia tak tega hatinya kini bergejolak pedih ada perasaan yg menyesakan dadanya sehingga ia tak mampu berkata-kata keluguan istrinya,kepolosan sikapnya,keteduhan jiwanya semua itu membuatnya makin merana saja tapi ia menguatkan dirinya,ia tetap harus berbicara harus.
"Semuanya sudah berakhir adinda." ujar Rizqaan lirih."Maksud abuya?""Kamu ingat perjanjianku dg Bapakmu diawal pernikahan dulu? Saat akad dilangsungkan?"Kening Halimah berkerut.
Ia segera teringat akan perjanjian itu tiba2 saja pikirannya kalut.Hatinya berdegub kencang ada kekhawatiran hebat membayang di wajahnya.Wajah yg selama 2 hari ini memang sedang memudar keceriaannya akibat bencana yg menimpa mereka berdua kini terlihat semakin pucat semakin hilang bias keceriaannya ada bayangan pekat ketakutan dan kekhawatiran tergambar jelas disitu.
"Maksudnya...""Ya.Orang tuamu maksudku Bapakmu menuntut kita segera bercerai.Saat ini juga,ia datang kesini hanya untuk tujuan itu."Gila.Apa2 an ini...!" Halimah berteriak histeris.
"Sabar,sabar dulu adinda.Tenang,tenang..." Rizqaan berusaha menyabarkan Halimah,ia menengok kebelakang,ia lihat ibu mertuanya juga ikut menangis sepertinya ia sudah sadar apa yg sedang terjadi.
"Kenapa? Kenapa abuya? Kita kan bisa membatalkan perjanjian itu kita sedang terkena musibah ini tidak fair namanya." Halimah berkata dg nada meluap-luap,dg intonasi suara yg cukup keras.Rizqaan segera mengingatkan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit,didekat UGD lagi tak baik berteriak-teriak seperti itu.
Sebagai pelampiasan,Halimah menangis sesenggukan dipangkuan Rizqaan,ia melihat Bapak mertuanya berdiri santai tak memedulikan apa yg terjadi.Ia amat menyesali sikap Bapaknya yg begitu keras tak memiliki toleransi sedikitpun.
Sementara beberapa saat Halimah menangis dan Rizqaan sejenak menunda bicaranya ia memberi kesempatan istrinya yg sebentar lagi berubah status menjadi janda itu untuk melampiaskan segala kedukaan dan kesedihannya.Kedukaan yg bertumpuk-tumpuk kedukaan yg menyerupai badai yg datang setelah ombak dan gelombang besar menghantam ia tahu bahwa sebagai wanita Halimah memiliki perasaan yg halus lebih halus dari yg ia miliki sebagai laki2.Ia tahu bahwa perasaan kewanitaan istrinya saat ini teraduk-aduk kusut dan berkerujut.
Setelah sedikit mampu menguasai perasaannya meski tak mampu membendung kesedihan dan kepedihan hatinya Halimah berkata lembut.
"Lalu apa yg akan Abuya lakukan?""Kita harus menepati perjanjian itu Adinda.Sebagai orang beriman kita harus memenuhi janji dan menepati perjanjian yg kita buat dg kerelaan hati.""Tapi perjanjian itu dibuat dg keterpaksaan abuya.Kita tak pernah menyetujuinya dalam hati kita." sela Halimah
"Benar.Tapi saat itu aku punya pilihan untuk menolak dan orangtuamu juga punya pilihan untuk menolak lamaranku akhirnya aku mengambil jalan tengah dg menikahimu dan menyetujui syarat itu.Saat akad dilangsungkan dan syarat itu diucapkan aku dalam kondisi menyetujuinya secara suka rela kalau tidak pernikahan itu tentu batal."
"Jadi abuya setuju kita bercerai?""Aku tidak menyukainya adinda.Kalau disuruh memilih antara mati dan bercerai kalau memang pilihan itu dibenarkan syariat aku akan memilih mati saja.Aku sudah teramat mencintaimu,aku menyayangimu bukan sekadar karena engkau istriku tapi karena selama ini engkau telah menemaniku dalam susah dan senang menemaniku berjuang dalam hidup menemaniku unvk bertahan dalam panduan ajaran syariat.kita hidup bersama,mengaji bersama,belajar dan mendalami ilmu2 islam bersama lalu mengasuh anak dan menjalani hidup sebagai suami istri bersama.
Bagaimana mungkin aku rela dg perceraian ini? Kalau hatimu pedih maka jiwaku sekarang juga sedang merintih kalau engkau terpukul maka sekarang pun aku sedang menahan sakit dalam jiwaku yg nyaris tak dapat aku tahan tapi kita harus patuh pada perjanjian itu karena Allah menyuruh kita demikian.Kepatuhan kita mungkin tak seberapa dibandingkan dg kepatuhan Nabi Ibrahim,saat diperintahkan untuk menyembelih putranya yg tercinta Ismail.Mereka berdua tentu bukan orang gila.Siapa orangtua yg tega menyembelih anaknya? Tapi itu perintah Allah.Mereka secara tulus menjalaninya,adinda ingat apa yg diucapkan Ismail saat itu?
"Hai Bapakku,kerjakanlah apa yg diperintahkan kepadamu,Insya Allah kamu akan mendapati termasuk orang2 yg sabar..."(ASH-SHAAFFAAT:102)
Mereka berdua terdiam tapi wajah Halimah terlihat sudah mulai cerah meski bayang2 kesedihan masih belum terhapus."Abuya,apa engkau benar2 mencintaiku?" tiba2 Halimah bertanya.
"Tentu,aku mencintaimu karena Allah." jawab Rizqaan tegas."Aku juga amat mencintaimu,Abuya.Aku mencintaimu juga karena Allah,apa yg abuya ceritakan menyadarkanku akan penghambaan diri kita selama ini kepada Allah..." Halimah berkata lirih.
"Demi kecintaanku kepada Allah dan demi ketaatanku kepada suami karena engkau,abuya sehingga detik ini adalah suamiku maka aku akan menerima apapun yg akan terjadi apapun yg abuya lakukan terhadapku." suara Halimah bertambah semakin lirih ada nada kepedihan dalam suaranya.
"Apakah engkau akan bersabar,adinda?""Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang2 yg sabar..." ungkap Halimah menyetir potongan ayat diatas ucapan Ismail terhadap Ayahnya Ibrahim.
Rizqaan tersenyum,senyum kepuasan yg berbalut duka dan kepedihan.Ia puas karena Istrinya tabah dan taat kepada Allah.Taat kepjdanya,ia sedih hatinya bagai teriris sembilu karena ketaatan itu justru akan berakhir secara menyedihkan.
"Halimah istriku..." ujar Rizqaan dg nafas tercekat."Ya,abuya.Kakanda,suamiku." balas Halimah tak kalah pedihnya."Di hadapan Allah atas dasar ketaatan kita pada Nya.Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita disurga kelak dalam sejuta keindahan yg melebihi segala yg pernah kita rasakan berdua atas dasar cinta kasih kita yg suci atas dasar kepedihan hati yg mendalam,yg hanya Allah yg mengetahuinya:SAYA MENALAQMU ADINDA."
Meski tabah tapi mau tidak mau tangisan Halimah meledak tak terbendung lagi.Ia menangis terisak-isak,ia tak pernah membayangkan bahwa kesetiaannya kepada suami akan berujung pada kepedihan ini.Ya Allah,ya Rabbi kami yakin berkah sesungguhnya adalah pada cinta Mu kepada kami,kami merindukan cinta Mu.Hati Rizqaan dan Halimah berbisik lirih.
Sementara diujung sebelah sana,sang Ibu juga larut dalam tangisan suaranya pun tersedu-sedu kepedihan hatinya tak jauh berbeda dg yg dialami Halimah.Putri dan belahan hatinya itu.Ia bisa membayangkan betapa pedihnya hati Halimah putrinya itu dan juga Rizqaan 'mantan' menantunya itu.
Ruang tunggu rumah sakit,ruang tunggu UGD yg lengang itu akhirnya menjadi saksi bisu peristiwa yg sangat memedihkan hati.Sebuah perceraian yg unik yg memuat sejuta rasa yg tak mungkin diungkapkan dg kata2.Halimah menarik kedua tangannya dari pangkuan Rizqaan,mereka menjauh keduanya tenggelam dalam tangisan hebat dg kepedihan hati yg sulit terjabarkan dg ungkapan sedetil apapun.Hanya dalam hitungan detik mereka sudah berubah menjadi orang lain.Halimah sudah bukan lagi Rizqaan dan Rizqaan bukan lagi suami Halimah itu terjadi setelah sepuluh tahun mereka hidup dalam suasana yg penuh kebahagiaan,penuh cinta dan romantisme nyaris tak pernah mengalami pertengkaran berarti yg membuat mereka saling membenci tak seorang pun akan menyangka bahwa mereka akan bercerai.
Dengan segala keharmonisan mereka yg selama ini mengundang iri banyak orang yg membuat banyak pasangan suami istri berangan-angan menjadi seperti mereka.Kini semua orang akan terperajat,pasangan suami istri yg begitu ideal,romantis dan penuh kasih sayang itu kini sudah bercerai.Sudah bukan lagi suami istri.Subhanallah,hanya kepada Nya kita mengadu.
Dunia mungkin kerap menyaksikan perceraian suami istri tapi saya yakin nyaris tak ada perceraian yg terjadi dalam suasana saling mencintai seperti dia dalam kondisi yg sama sekali tak menggugah masing2 pasangan untuk rela bercerai dalam segala keterpaksaan hati seperti yg dialami Rizqaan dg mantan istrinya Halimah.Sebuah kisah pedih yg membuat siapa pun layak meneteskan air mata bila menyaksikannya secara langsung dg mata kepala sendiri bahkan juga dg sekadar mendengar secara utuh perjalanan kisah ini,kisah yg memuat kepedihan,kisah yg memilukan hati.
Pagi itu juga,menjelang zhuhur orang tua Halimah Bapaknya memaksa Halimah pergi meninggalkan rumah sakit.Halimah meminta waktu beberapa hari saja untuk merawat dan menemani mantan Ibu mertuanya,Ia ingin meninggalkan kesan baik pada wanita tua yg merana itu sebelum meninggalkannya bisa jadi untuk selama-lamanya.Tapi orang tuanya melarang,Ibu secara gigih memohon kepada Bapaknya agar memberinya kesempatan.Baru sekali itu Halimah melihat ibunya membelanya mati-matian sehingga mengundang murka Bapaknya.Sebuah tamparan keras mampir dipipi ibunya sang ibu menangis,selama ini ibunya selalu mengalah tapi melihat berjuta kepedihan didepan matanya,melihat putrinya tak diberi kesempatan untuk sekadar meringankan beban hatinya dg merawat mantan mertuanya itu hatinya ikut bersedih.
Akhirnya toh sang ibu mengalah juga,Bapaknya menarik tangan Halimah dg paksa meninggalkan ruang tersebut.Saat itu ibu Rizqaan sedang tertidur nyenyak,ia diberi obat tidur agar tidak terus menerus menahan sakit dibadannya dan agar proses penyembuhan luka2 bakarnya lebih cepat kalau saja ia terbangun dan menyaksikan semua peristiwa itu bisa jadi jiwanya lebih terguncang lagi.Kesedihan dan kepedihannya juga traumanya saat menghadapi musibah hebat ini akan bertambah parah karena kepedihan lain yg mungkin tak pernah dibayangkannya itu.
Mereka keluar dari rumah sakit itu,menuju lokasi kebakaran menuju rumah dan pabrik mereka yg terbakar karena tadi malam Rizqaan menitipkan anaknya Nabhaan kepada salah seorang tetangga dekatnya.Ia ingin Nabhaan bisa beristirahat dg nyaman,secara bergantian mereka menemani Ibu Rizqaan dirumah sakit hanya dimalam hari,mereka berdua disana saat Nabhaan tertidur beruntung pemilik rumah itu memiliki kendaraan sehingga Rizqaan dan Halimah bisa bergantian kerumah sakit menjenguk dan merawat ibu mereka.
Setelah Halimah pergi,suasana ruang perawatan darurat itu menjadi legang,Rizqaan seperti baru terbangun dari mimpi,ia nyaris tak bisa mempercaiya bahwa ia kini sudah menduda,bahwa ia sudah kembali kepada ibunya seperti saat sebelum menikah dulu ia nyaris kehilangan segala-galanya.Kepedihan2 itu kembali menyelinap dalam hati Rizqaan.Ia menangis,ia melampiaskan segala kedukaannya itu dg linangan air mata.Ia beristighfar berkali-kali,berdoa kepada Allah dg segala kepedihan hati.
"Ya Allah,Sesungguhnya aku ini adalah hamba,anak dari hamba Mu laki2,anak dari hamba Mu perempuan.Ubun2 ku berada ditangan Mu;mengikuti keputusan takdir Mu dan berjalan sesuai dg ketetapan Mu.Aku memohon kepada Mu dg setiap nama yg menjadi milik Mu,Nama yg Engkau lekatkan sendiri untuk diri Mu,atau Engkau sebutkan dalam kitab Mu,atau Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara hamba Mu (Nabi),atau Engkau menjadikan Al Qur'an ini sebagai penyejuk hatiku,cahaya dalam dadaku,penghilang kesedihanku dan penolak rasa gundahku."(Diriwayatkan oleh Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al Albani)
Hati Rizqaan terasa sejuk,doa yg baru saja ia ucapkan menyirami hatinya dg kesejukan.Benar yg diungkapan dalam hadits dimana doa itu tercantum.
"Barang siapa mengalami kesedihan lalu membaca doa......(seperti disebut diatas),pasti Allah lenyapkan kesedihannya itu lalu Allah gantikan dg keceriaan saat itu juga."
Salah seorang sahabat bertanya 'Apakah kami sebaiknya mempelajari doa itu?""Setiap kalian yg mendengar doa ini,wajib mempelajarinya"(Diriwayatkan oleh Ahmad).sabda Nabi
Beruntung Rizqaan telah hapal itu diluar kepala karena dibaca dg penuh keyakinan memang benar segala kepedihan dan kesedihan hatinya lenyap seketika menjelma menjadi ketawakallan dan tekad yg bulat untuk mengisi hidupnya dg hal2 yg bermanfaat.Betapapun hebatnya cobaan yg sedang dialaminya sekarang ini.
Bersambung.....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar