::* SANDIWARA LANGIT *::~
By:ABU UMAR BASYIER
BAG 12
~ Perdebatan Dengan Bang Asyraf ~
"Seorang ustadz gak mungkin bisa berdagang." begitu ujar bang Asyraf suatu kali kepada Halimah.
Saat itu,ia secara tanpa sengaja melewati daerah dimana Halimah tinggal.Rizqaan kebetulan pula sedang keluar belanja.Saat teringat,ia mencari rumah adiknya tersebut ia mampir dan sempat beberapa saat mengobrol dg Halimah.Ucapan itu tercetus begitu saja,saat Halimah dg bangga menceritakan perkembangan bisnis suaminya Rizqaan.
"Lho,apa hubungannya,Ustadz dg bisa berdagang atau tidak?"
"Ustadz itu sudah identik dg ceramah2 dimasjid.Mereka hanya bisa hidup dg amplop2 pemberian para panitia pengajian yg mengundang mereka itu sudah rahasia umum,siapapun tahu." Asyraf berkata dg ngotot.
"Kondisi umum,tidak bisa dijadikan sebagai ukuran bang" begitu Halimah biasa menyapa kakak laki2nya,suaranya lembut.
"Sekarang ini banyak pejabat yg korupsi.Apakah lantas menjadi pejabat identik dg menjadi koruptor?"
"Itu berbeda Halimah.Itu hanya soal kesempatan saja.Tak semua pejabat menggunakan kesempatan dan peluang untuk bertindak kriminal dg korupsi atau sejenis itu.Sementara Ustadz yg tak bisa berdagang dan hanya mampu mengemis-ngemis,itu soal kemampuan.Mereka Ustadz sudah biasa dijejali doktrin hanya mengejar akhirat saja.Dunia itu nomor sekian itulah sebabnya mereka miskin produktifitas tidak kreatif cenderung suka meminta-minta saja.." Asyraf menjawab kelembutan Halimah justru dg suara keras.
"Abang memandang terlalu jauh.Ucapan Abang,sepertinya hanya berisi sinisme saja.Kalau soal peluang,apa yg selama ini banyak dilakukan para Ustadz juga peluang yg telah diciptakan oleh lingkungan kita banyak diantara kita yg memandang agama itu hanya sebagai siraman rohani itu mirip dg hiburan,itulah sebabnya mereka memandang para Ustadz dan juru dakwah sebagai entertainer.Mereka dianggap menghibur dg ceramah kerohanian mereka dan karena itu mereka dibayar jadi masyarakat kita juga yg memang memberi peluang ke arah itu.Itu kesalahan kita bersama,seperti juga masyarakat kita yg memberi peluang atas terjadinya banyak korupsi diantara para pejabat kitj jadi bukan soal kemampuan,sebagai manusia kita diciptakan sama kita masing2 bisa bekerja dan membangun kreativitas dg setara.Tak peduli Ustadz atau bukan Ustadz" Halimah berkata dg suara yg diusahakan selembut dan sesantun mungkin namun tetap tegas dan berirama.
"Itu hanya pembelaan diri saja.Pada dasarnya tak ada bukti bahwa guru mengaji bisa sukses dalam berbisnis..." Asyraf berkata sinis.
"Banyak buktinya Bang." tukas Halimah.
"Dimasa dahulu,Abu Hanifah,Imam Malik dan Imam Syafi'i dikenal juga sebagai pebisnis.Seorang Imam besar Ahli Hadits,Ibnul Mubarak juga seorang saudagar yg sukses."
"Itu dulu,sekarang ini nyaris tak ada.."
"Kalau soal kesuksesan berbinis,banyak Kyai ditanah air ini yg kaya raya dan berhasil dalam dunia bisnisnya dari dulu sampai sekarang.Banyak Kyai pondok tradisional yg bisa kita jadikan contoh sebagai pebisnis maju.Sebut saja Mbah Mangli(Ia seorang kyai yg menganut paham sufi secara pemahaman,banyak sisi keyakinan dan akidahnya yg diragukan bahkan secara jelas2 menyimpang namun selain itu ia adalah kyai dg ribuan masa disetiap pengajiannya.Disamping sebagai kyai ia juga seorang pedagang emas yg sukses dijakarja,ia memiliki rumah mewah dan kendaraan keluaran terbaru beberapa merek yg ia simpan dijakarta dirumah dimana ia tinggal bersama istri keduanya) gunung adong sana.Kalau dipondok moderen,Almarhum Kyai Haji Hamam Ja'far mantan pengasuh pondok moderen pabelan Muntilan juga dikenal kaya raya.Pebisnis unggulan tapi mereka juga Kyai yg cukup berhasil punya ribuan santri dipondoknya mereka semua kaya dg berbisnis atau menjadi petani yg berhasil bukan hasil mencaplok amplop di masjid2 atau berceramah keliling kampung..."
"Ah,aku tidak percaya."
"Saya tidak memaksa Abang untuk percaya atau tidak percaya.Tapi saya hanya ingin bertanya,kenapa seorang Ustadz menurut Abang tidak mungkin sukses berbisnis?"
"Karena Ustadz itu cuma memikirkan akhirat saja." jawab Asyraf kesal.
"Lalu,apakah orang yg hanya memikirkan dunia dipastikan akan kaya?"
"Kalau ia berusaha ,ia pasti kaya."
"Bohong." tegas Halimah.
"Banyak orang2 kafir bahkan kaum atheis yg tidak mengakui adanya Allah,yg bekerja keras sepanjang hidup ternyata mati dalam kondisi miskin.Orang2 yg berbisnis dg mencampur adukan antara yg halal dan yg haram juga banyak yg tetap miskin ternyata banyak orang yg ingin kaya otaknya hanya diisi dg dunia tapi tetap saja kere tak punya apa2 bukan mereka tak berusaha tapi karena belum ada izin dari yg diatas sana..." ungkap Halimah yakin.
Coba simak firman Allah
"Dan kawinkanlah orang2 yg sendirian diantara kamu,dan orang2 yg patut (kawin) dari hamba2 sahayamu yg wanita.Jika mereka miskin,Allah akan membuat mereka kaya dg kurnia Nya.Dan Allah maha luas (pemberian Nya) lagi maha mengetahui."(AN-NUR:32)
Kaya dan miskin itu rahasia Allah Bang,kita hanya diwajibkan berusaha.Dan tidak benar bahwa seorang yg sudah mengenal agama dg baik,entah itu Ustadz,guru mengaji atau ulama maka ia akan malas mencari dunia karena agama mengajarkan sebaliknya kita dituntut mencari dunia untuk kebahagiaan akhirat mencari dunia untuk akhirat bukan dunia untuk dunia
Simak saja peringatan Nabi kepada Fatimah dan suaminya Ali bin Abi Thalib, "Hai Fatimah,bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu,karena Allah membagi-bagikan rezeki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari."(Riwayat Al Munziri,beliau menisbahkan hadits ini kepada Baihaqi)
Untuk bisa berzakat kita harus punya uang,untuk bisa berhaji kita perlu uang,untuk bisa bersedekah dan berinfak kita perlu memiliki sesuatu yg bisa diberikan kepada orang lain.Itulah kenapa Nabi bersabda "Orang yg berusaha membantu janda dan orang miskin adalah seperti orang yg berjihad dijalan Allah.Bahkan seperti orang yg mengerjakan shalat malam tanpa henti dan seperti orang yg tidak henti berpuasa."(Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)
Tapi soal miskin dan kaya tak selamanya bisa dicapai sesuai kehendak bagi kita kaum beriman saat menjadi kaya kita harus menggunakan kekayaan demi akhirat karena dunia adalah ladang akhirat semakin kaya kita semakin punya bekal demi akhirat namun bila kita ditakdirkan miskin kita tak patut mengeluh dan bersusah hati.Seperti diungkapkan dalam sebuah hadits qudsi:
"Ada diantara hamba Ku bila diberikan kekayaan maka dia akan dirusak oleh kekayaannya."(Ibnu Al Jauzi,Ibnu Al Qayyim)
"Itu hanya teori saja secara nyata,apakah para Ustadz itu mampu berbisnis untuk kemudian mandiri tanpa mengharap belas kasih orang lain?" Asyraf bertanya sinis.
"Siapa yg berusaha,ia akan dapat tidak didunia mungkin diakhirat tak ada dalil yg kongkrit yg bisa membuktikan seorang Ustadz tidak bisa sukses dalam bisnis."
"Kamu jangan sombong Halimah.Kalian itu belum bisa disebut kaya,yg kalian punya belum seberapa." tegas Asyraf semakin sinis.
"Kami tak mau menyombongkan diri Bang,kami hanya ingin menegaskan bahwa sungguh salah persepsi yg mengatakan bahwa Ustadz tak mungkin bisa kaya semua itu ditangan Allah kalau soal kekayaan kami tak memedulikan apakah secara materi kami ini bisa kaya atau tidak karena yg terpenting itu kekayaan hati."
"Itulah yg membuat kalian tetap miskin tetap melarat,kalian kurang ambisius kamu perlu hidup bersama suami yg punya ambisi besar mengejar cita2 dunia baru kamu akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya kalau kamu mau,aku bisa carikan suami seperti itu."
"Justru dg prinsip itu,kami selalu kaya.Kami tidak akan merasa susah bila kekurangan,kami juga tak terlalu bersenang hati dg kekayaan sementara para pengejar dunia seperti 'orang yg itu' bila mengalami kebangkrutan atau kerugian yg tak seberapa saja akan merasa pusing 7 keliling.Maka siapa yg kaya diantara kita? Kalau rumah yg bagus,mobil yg memadai hasil jerih payah sendiri,harta yg cukup untuk membesarkan dan mendidik anak.Semuanya dianggap bukan apa2,lalu apa yg Abang anggap sebagai kekayaan? Bila segala yg ada tak pernah membuat Abang merasa cukup,merasa senang dan berbahagia,lalu apa standar kebahagiaan menurut Abang? Coba Bang,simak nasihat Nabi kita
"Orang yg cita2 nya tertuju pada dunia saja,urusannya akan Allah cerai beraikan,kemiskinan senantiasa terbayang dipelupuk matanya,sementara dunia yg mendatanginya hanya sebatas yg telah Allah tetapkan baginya saja.Dan siapa saja yg cita2nya tertuju pada akhirat pasti Allah beri keteguhan pada kesatuan jiwanya kekayaan selalu melekat dalam hatinya sementara dunia memandangnya secara pasrah."(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dinyatakan shahih Oleh Al Bani)
Halimah menjelaskan panjang lebar.Ia merasa sedih melihat kondisi Abangnya yg begitu lunglai ditemgah godaan dunia yg sesungguhnya fana ini.
"Dari dulu,kamu selalu berbeda dg kami."
"Setidaknya,Bang Ja'far bisa memahamiku bisa meyakini apa yg kuyakini."
"Kalian berdua memang selalu sama.sama2 keras kepala,selalu berusaha menentang arus kehidupan." tukas Asyraf.
"Justru kami hanya mengikuti fitrah kami Bang,kita dicipta memang hanya untuk beribadah kepada Allah.Kita hidup hanya sekali dan sekali itu adalah kesempatan kita menjadi hamba yg sejati.Bila hidup sekali hanya kita gunakan untuk kehidupan dunia ini maka segala yg kita punya akan berakhir didunia ini saja."
"Sudahlah Halimah,kita memang gak mungkin bisa sepakat."
"Saya selalu berdoa,agar Allah menyatukan kita dalam kebenaran Bang."
"Sudah.Aku pulang dulu,semoga usaha suamimu maju."
Asyraf pun pamit pulang,ia pergi dg pikiran sesak kekesalan.Minuman hangat yg terhidang semenjak tadi bahkan belum sempat disentuhnya sama sekali.
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar