Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 2


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 2


~ Kesepakatan Atau Perjudian ~


Yuk sahabat baca lagi......

Satu minggu kemudian,tepat hari rabu anak muda itu kembali menemui saya usai pengajian.

"Bagaimana hasilnya?" tanya saya langsung saat ia sudah duduk bersila dihadapan saya.
"Kayaknya lumayan bagus." ujar anak muda itu datar.
"Maksudnya?"
"Kami mengobrol panjang.Saya sudah menduga calon mertua saya itu cukup berpendidikan.Punya karakter yg bagus dan tidak semena-mena.Lewat obrolan panjang akhirnya ia memang bisa memahami masalahku tapi tampaknya masalahnya tidak begitu saja selesai."

"Terus?"
"Calon mertua saya itu ternyata orang yg berpendirian kuat tapi ambisius.Ia bersedia menikahkan saya dg putrinya tapi dg sebuah tantangan."
"Tantangan?"

"Ya.Ia menantang saya dg justru tidak akan membantu kami sedikit pun bila kami menikah.Ia memang bukan konglomerat,Ustadz.Tapi hidupnya sangat berkecukupan setidaknya ia bisa membantu kami bila suatu saat kami hidup kesusahan dan ia sesungguhnya tak ingin putrinya hidup serba kekurangan sepanjang hayat.Tapi bila sudah berkeluarga,ia ingin putrinya tidak lagi bergantung kepadanya.Ia menantang,bahwa dalam 10 tahun saya harus dapat memberi penghidupan layak buat putrinya.Kami sudah harus memiliki kehidupan yg berkecukupan bila tidak,ia meminta saya menceraikannya dan uniknya dia minta hal itu diucapkan saat akad nikah sebagai syarat."

"Kelihatannya menarik."
"Lho,kenapa Ustadz bilang menarik? Ini sama saja dg perjudian!" pemuda itu memandang saya dg sedikit melotot.Ia tampak terkejut sekali dg tanggapan saya yg seolah-olah menyudutkannya.
"Tidak,itu tantangan menarik.Saya serius,saya kira itu jauh lebih baik buatmu,ketimbang ia menolakmu mentah2."


"Tapi apa syarat yg tidak batil? Bukankah Rasulullah bersabda, "Segala bentuk syarat yg tidak ada dalam kitabullah,maka syarat itu batil."(Dari hadist Aisyah diriwayatkan Imam Bukhori dalam shahihnya)

"Betul.Tapi yg dimaksud dg syarat yg tidak ada dalam kitabullah',bukan bahwa syarat itu tidak disebutkan lafalnya dalam kitabullah atau sunnah Rasulullah.Tapi,bahwa syarat itu bertentangan dg ajaran kitabullai.Demikian dijelaskan oleh para ulama."

"Lalu,apakah syarat saya harus menceraikan istri saya dalam sepuluh tahun bila belum mampu hidup layak,itu sesuai dg kitabullah?" tanya pemuda itu penasaran.

"Itu soal hak,anak muda.Kamu tidak berkewajiban menyetujui syarat itu.Tapi ia juga berhak untuk tidak menikahkan putrinya denganmu.Syarat yg berkaitan dg hak,bergantung pada kesepakatan saja misalnya seorang wanita muslimah meminta dinikahi oleh seorang muslim yg sudah menikah.Si muslim menerima dg syarat,ia tidak berkewajiban menafkahinya selama satu tahun.Ini sebagai contoh saja,kalau si wanita menerima berarti ia merelakan tidak mengambil apa yg menjadi haknya.Itu sah2 saja tapi kalau tidak ada syarat itu si suami berkewajiban menafkahinya dalam kondisi bagaimanapun.Sabda Nabi, "Kaum muslimin itu terikat persyaratan yg disepakati di antara mereka..."(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Kecuali bila syarat itu berbentuk mengubah yg halal menjadi haram atau yg haram menjadi halal yakni mengubah hukum Allah (At-Tirmidzi,dari hadits Amru bin Auf Al Muzzani,dari ayahnya,dari kakeknya).

Kalau kamu setuju dg syarat itu,berarti kamu merelakan apa yg menjadi hakmu.Itu sah saja,tapi kamu berhak menolaknya.Sebagaimana calon mertuamu juga berhak menolakmu.Makanya saya katakan bahwa tantangan itu menarik sekali."

Pemuda itu tercenung.
"Sekarang kamu punya 2 pilihan,anak muda.Kamu bisa memilih menikahinya dan itu sungguh tantangan menarik.Setidaknya bisa jadi motivasi dan pelecut buatmu untuk bekerja sungguh2 meski resikonya juga tidak kecil.Bahkan bisa jadi sangat besar kalau tidak berkenan,kamu punya pilihan kedua yaitu Menolaknya atau mencari wanita lain untuk kamu nikahi..."

"Saya tidak punya pilihan lain.Setidaknya untuk saat ini..." tukas pemuda itu.
"Nah,saya kira kamu sulit mengambil pilihan kedua karena kamu sendiri yg mengatakan kemarin kalau kamu sangat bermasalah dg gejolak syahwatmu."

"Yah.Sepertinya saya memang cuma punya satu pilihan saja.Tadi saya hanya ingin meyakinkan diri bahwa tantangan itu tidaklah menyalahi aturan ajaran islam kalau memang diperbolehkan,saya siap menanggung segala akibatnya."

"Kalau begitu,lakukanlah.Tapi tetaplah lakukan istikharah
istikharah bukanlah untuk memilih tapi untuk memantapkan hati dalam pilihan yg dalam hal ini kita mohon bimbingan dari Allah).Ulangi terus hingga berkali-kali,sampai kamu yakin bahwa Allah telah memberikan jalan terbaik bagimu."

"Insya Allah Ustadz.Saya mohon doanya." terlihat wajahnya mulai cerah,ada semangat baru membersit dari dalam dirinya.Perpancar jelas pada sorot matanya.

"Saya akan terus mendoakanmu,anak muda.Bila ada kesulitan hubungi saja saya dimajelis ini,usai pengajian pagi kecuali hari jumat saya libur mengajar" kami bersalaman.Saya memberi beberapa petuah singkat kepadanya termasuk agar ia banyak membaca buku2 panduan bagi suami istri dan memohon kebaikan dari Allah. "Jangan lupa,minta doa restu dari kedua orangtuamu." ujar saya menutup pertemuan pagi itu.

Bersambung.....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar