~::* SANDIWARA LANGIT *::~
BAG 23
Alhamdulillah akhirnya selesai juga....
~ Ending yg Mengharukan ~
Satu minggu berlalu usai kegagalan pernikahan Halimah dg Budiman.Saat itu Rizqaan sudah semakin mapan.Ia sudah berhasil tak kurang dari 10 ribu roti setiap harinya dg keuntungan bersih lebih dari 2 juta perhari kini ia sudah bisa membangun rumahnya kembali meski tidak sebesar dulu.Ia juga sudah memiliki mobil taruna tahun 99 mobil bekas tapi masih bagus dan terawat.Saat itulah Halimah bersama keluarganya datang berkunjung kerumahnya.
Kedua orang tuanya akhirnya tak mampu mempertahankan pendapat mereka,untuk menikahkan Halimah dg pria mana pun yg mereka mau.Setelah Budiman mereka mencoba menawarkan pria lain namun dg alasan yg disampaikan oleh Halimah mereka terbungkam tampaknya memang tak ada pria lain yg bisa menikah dg Halimah maka akhirnya mereka pasrah saja,saat Halimah meminta mereka untuk kembali menikahkannya dg Rizqaan.
Saat melihat putranya Nabhaan,mantan istrinya Halimah dan juga mantan mertuanya dari kejauhan wajah Rizqaan berseri,ia tak sedikitpun menyangka bahwa kedatangan mereka kerumahnya adalah untuk suatu hal yg bisa jadi membuat wajahnya semakin ceria nantinya.Sekadar kedatangan mereka,sudah merupakan anugrah baginya.
Saat sudah berdekatan,ia melihat wajah Halimah yg masih terlihat sedih dan berduka.Sebaliknya,ia melihat wajah mantan Bapak mertuanya sedikit ceria terlihat cerah tidak kusam seperti biasanya.Hal itu mengundang tanda tanya besar dalam hatinya.
"Bagaimana kabar,nak Rizqaan." Bapak Halimah menyapanya,agak aneh karena selama ini ia tak pernah menyapa seramah itu.
"Alhamdulillah,baik2 saja Pak.Bagaimana kabar kalian semua? Bapak,Ibu,Halimah dan yg lainnya?"
"Kami baik2 saja,hanya Halimah yg sedikit kurang sehat." Bapak Halimah berkata halus."Mana Ibumu nak?" tanya Bapak Halimah lagi.
"Kebetulan,sedang istirahat dikamar." jawab Rizqaan.
Rizqaan menyuruh mereka masuk.Diruang tamu yg tidak seberapa besar mereka duduk diatas sebuah bangku sofa yg cukup bagus.Rizqaan ke dalam dan menyiapkan minuman,Halimah merasa begitu canggung karena dahulu,bila datang tamu dirumah ini dia lah yg pergi kebelakang menyiapkan minuman kini Rizqaan yg menyiapkan minuman untuknya.Ia bertamu kerumah Rizqaan? Aneh rasanya,hatinya terenyuh.
Beberapa saat Rizqaan keluar membawa nampan berisi minuman dg sebuah toples berisi makanan ringan."Maaf,tidak ada apa2.Maklum sekarang tidak banyak tamu datang kemari." Rizqaan berkata santun.Bapak dan Ibu Halimah memandang kearahnya dg senyum mengembang.
"Tidak apa2,kami datang untuk menengokmu.Menengok keadaanmu sekarang selain itu kami ada keperluan sangat penting ." ujar Bapak Halimah."O ya? Ada keperluan apa? Ada yg bisa saya bantu?"
Keramahan Rizqaan membuat kedua mantan mertuanya itu tersipu malu hati mereka bagai dipecut dg cemeti tajam,perih ada sejenis penyesalan yg membuncah dalam dada mereka atas sikap mereka selama ini terhadap Rizqaan terhada pria yg terlihat begitu baik,begitu shalih,begitu baik tutur katanya.
"Kami datang untuk sebuah keperluan yg mungkin tak pernah kamu duga ananda.Setelah melalui perdebatan panjang dan banyak kisah2 disekitarnya kami berniat akan menikahkahmu kembali dg putri kami,Halimah.....""A...apa? Menikahkanku kembalitdg Halimah?" Rizqaan tergagap-gagap,ia tak mampu berbicara ada kelebatan sinar menyapu otaknya sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yg tak terkira."Ya,kami serius.Kami akan menikahkanmu disini saja nanti soal pengurusan surat nikah gampang.Di urus belakangan tapi kami mohon ananda berbicara dulu dg Halimah.Kalian bisa bicara didepan kalau sungkan dg keberadaan kami.
Tanpa berbasa-basi Rizqaan segera melangkah disitu ada 2 bangku berjejer dibatasi oleh sebuah meja biasanya disitu Rizqaan menerima tamu agar bebas berbicara bila kebetulan tamunya seorang wanita.
Halimah mengikuti Rizqaan dari belakang,Rizqaan duduk disebelah kiri dari arah depan sementara Halimah disebelah kanan meja mereka duduk sejajar namun diantara mereka ada sebuah meja yg membatasi.Halimah langsung membuka pembicaraan.
"Abuya...""Maaf,aku belum menjadi suamimu lagi..." sela Rizqaan"Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya,aku tak terbiasa dg panggilan lain.""Baiklah,ada apa Adinda?""Abuya,Abuya siap menikahiku lagi?""Adinda Halimah,kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu.Aku senantiasa mencintaimu hanya karena kita bukan lagi suami istri aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi aku tak mungkin menolak."
"Meskipun aku sekarang sudah jauh berbeda dg dulu?" tanya Halimah."Maksudmu ?""Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yg tidak kumiliki sebelumnya?""Kekurangan apa adinda?""Jawab dulu pertanyaanku.""Ya,aku akan menikahimu dg sgala kekuranganmu yg ada slama itu bukanlah cacat dalam agamamu yg tak dapat diperbaiki." ujar Rizqaan tegas.
"Abuya,aku ingin abuya menikahiku karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami yg shalih..." Halimah berhenti sejenak ada keharuan yg membuatnya tercekat sehingga sulit berbicara."Abuya bisa segera menikahiku tapi aku tak tahu apakah keinginan itu akan tetap ada setelah abuya mengetahui kekuranganku sekarang.Abuya,aku baru saja satu minggu yg lalu melakukan chek up dan aku terbukti mengindap leukimia..." sampai disitu Halimah terisak ia tak mampu melanjutkan bicaranya.
Rizqaan tersentak.Tapi demi Allah,ia tak sedikitpun merasa sedih kegembiraan bisa kembali bersama istrinya tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah itu."Dokter mengklaim bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja..." kembali Halimah menangis."Aku tak peduli umur ada ditangan Allah manusia hanya mampu mengira-ngira.Nyawaku bisa saja lebih dahulu terenggut dari pada nyawamu aku akan segera menikahimu biarlah Allah yg menentukan akhir dari perjalanan hidup kita.
Bagiku,hidup atau mati bersamamu dalam 'kecintaan' Allah adalah sebuah kenyataan yg paling penuh berkah." Rizqaan berbicara dg keyakinan kokoh membelit jiwanya.
Saat itu juga mereka masuk lalu tanpa menunggu waktu lama mereka dinikahkan.Dalam sekejap mereka kembali menjadi suami istri.Pernikahan dilangsungkan tanpa menunggu Ibu Rizqaan terbangun mereka ingin segalanya cepat berlangsung dan dg izin Allah segala yg semula tak pernah terbayangkan oleh Rizqaan akhirnya menjadi kenyataan.Sebuah kenyataan indah meski ada kabut gelap yg menyelimutinya.
Rizqaan kembali hidup berbahagia bersama Halimah,mereka kembali mengulang masa2 penuh keceriaan diantara mereka.Satu bulan kemudian anak mereka yg kedua lahir,ia seorang bayi perempuan yg cantik mirip ibunya ,Halimah.Bayi itu dilahirkan dg cara normal,bayi maupun ibunya sama2 selamat.
Saat itu kegembiraan memenuhi kehidupan Rizqaan.Baik Rizqaan,Ibunya,istrinya juga kedua mertuanya dan juga kakak Halimah Ja'far.Saat itu Ja'far datang dg keluarganya,istrinya juga ternyata wanita yg shalihah berjilbab lebar bahkan bercadar namanya Muslimah.Mereka berkumpul dirumah dg penuh keceriaan suasana yg tak pernah mereka rasakan selama ini.Bapak dan Ibu Halimah sekarang juga rajin shalat,Rizqaan sering pergi shalat jumat bersama dg Bapak mertuanya.
Hari2 itu mereka lalui dg penuh kebahagiaan sampai suatu hari mereka mendapat sebuah berita yg mengejutkan.Seorang polisi datang menemui Rizqaan dirumahnya kebetulan saat itu kedua orang mertuanya sedang dirumahnya disitu juga ada Halimah.Kecuali Ja'far yg tidak ada,polisi itu menunjukan sebuah foto.
"Bapak kenal dg orang difoto ini?"Mereka bersama-sama melihatnya dan secara serentak mereka terperajat.Orang difoto itu tidak lain adalah Asyraf kakak lelaki Halimah.
"Ada apa dg anak ku ini?" tanya Bapak Halimah."Ia diduga terlibat pengendaran obat bius dan lebih dari itu dari hasil penyelidikan polisi ternyata ia adalah biang keladi terjadinya kebakaran yg menimpa rumah ini beberapa waktu yg lalu.Itu termasuk tindakan kriminal
Apalagi menyebabkan kematian orang....."
Rizqaan terkejut bukan kepalang,Bapak Halimah terhenyak Ibu Halimah berteriak histeris,Halimah sendiri ikut menjerit untuk kemudian roboh pingsan.Berita itu sungguh mengguncangkan keluaqga Halimah,Bapaknya marah2,ia mencaci maki anaknya itu saat menjenguknya dikantor polisi.Ibunya juga terus menangis atas semua kejadian itu.Saat didesak oleh Bapaknya Asyraf mengaku bahwa ia melakukan perbuatan keji terhadap Rizqaan karena ingin adiknya menikah dg Budiman tapi itu murni inisiatifnya sendiri Budiman tidak terlibat sama sekali.Karena ingin memiliki ipar yg kaya raya seperti Budiman Asyraf nekad membakar rumah Rizqaan,Ia tak menyangka bahwa kejadian itu akhirnya menewaskan Bapak Rizqaan.Bapaknya semakin marah,Ia menampar anaknya itu dan menyumpahinya Ibunya berusaha menyabarkan Bapaknya agar tidak mengamuk dan membuat mereka malu ditempat tersebut.
Sementara keadaan Halimah juga mengkhawatirkan,setelah pingsan 3 jam pukul 2 siang ia terbangun tubuhnya masih lemas tapi ia meminta diambilkan air wudhu lalu ia shalat diatas pembaringan.Ia sengaja menjamak shalatnya dg Ashar tak sampai 15 menit ia kembali pingsan.
Sore menjelang Magrib Halimah terbangun disampingnya duduk Rizqaan sementara didepannya Bapak dan Ibunya Halimah duduk diatas 2 kursi plastik.Mereka semua cemas menantikan keadaannya,seorang dokter perempuan yg sengaja diundang kerumah mendekatinya memeriksa nadinya lalu memberikan suntikan dibagian lengannya.
"A...abuya..." Halimah berkata lirih."Aku disini Adinda.""Alhamdulillah,apakah sudah tiba waktu Magrib?" tanya Halimah."Belum,masih kira-kira 10 menit lagi.""Abuya..." sapa Halimah pelan"Ada apa Adinda."
"Apakah Abuya masih mencintaiku?""Tentu adinda,aku slalu mencintaimu karena Allah.""Aku juga mencintaimu karena Allah,Abuya." Halimah diam sejenak lalu bertanya lirih,"Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yg menimpa kita,Abuya?"
"Engkau akan dapati diriku termasuk orang2 yg bersabar adinda...""Abuya,jawablah pertanyaanku.""Ya,apa adinda?""Apakah engkau meridhaiku sebagai istri?""Sudah tentu Adinda,suami mana pun akan meridhai istri seshalih dirimu,setaat dirimu,sepatuh dirimu kamu bukanlah wanita yg tak memiliki kekurangan atau kesalahan tapi dg keshalihanmu,ketaatanmu,kepatuhanmu aku senantiasa ridha terhadapmu...."
"ALHAMDULLAHILLADZI BINI'MATIHI TATIMMUSH SHAALIHAAT,aku ingin masuk diantara wanita yg disebutkan dalam hadits.""Bagaimana itu adinda?"
"Wanita manapun yg meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya,ia pasti masuk surga."(AT-TIRMIDZI & IBNU MAJAH)
Halimah mengucapkan hadits itu sedemikian fasihnya,arab berikut terjemahannya."Semua wanita shalihah,mengidamkan itu,adinda.Dengan izin Allah adinda akan termasuk diantaranya."Allahumma amien.Abuya,sekarang aku puas apapun yg terjadi atas diriku kini aku sudah kembali menjadi istrimu.Aku telah berdoa setiap malam,agar bisa hidup berdampingan dg suami yg shalih sehingga kalaupun mati aku akan mati dg keridhaan Allah kemudian dg keridhaan suamiku...."Halimah berhenti sejenak.
"Abuya,betapa indahnya bila Allah betul2 mencintai kita,aku ingin dg cinta-Nya kita berdua menuai bahagia seutuhnya.Kebahagiaan yg bukan cuma didunia tapi juga diakhirat."Halimah menghela napasnya yg terasa begitu berat."Abuya,bila aku sudah tiada berjanjilah untuk senantiasa berjalan diatas ajaran Allah,didiklah anak kita dan berbaktilah kepada orangtua..."
"Jangan berkata begitu Adinda..." Rizqaan menyela.Halimah memberi isyarat dg tangannya agar Rizqaan tak bertanya apa2."Berjanjilah Abuya...""Aku berjanji Adinda,tanpa berjanjipun ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut Ibu mereka.." ujar Rizqaan."Alhamdulillah....."
"Abuya....tabir itu mulai terbuka....aku mencintaimu,Abuya.Abuya tak perlu meragukan cintaku tapi aku lebih merindukan Allah,bila ini kesempatanku bersua dengan Nya aku tak akan menyia-nyiakannya sedikitpun.....""Adinda....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurrasulullah......""Adinda.....""Laaaa ilaaaha illallah..... Muhammadurusullah.....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurusulullah.....""Laaaa ilaaaha illallah.... Muhammadurusulullah....."
Suara tahlil itu mengalun lembut dan syahdu dari mulut Halimah,terus menerus semakin lama semakin lemah namun semakin syahdu sampai akhirnya suara terakhir terdengar masih sama "Laaaa ilaaaha illallah..... Muhammadurusulullah....."Usai berakhirnya suara itu nafas Halimah terhenti,ditengah keheningan kamar dirumah mereka yg masih tercium bau catnya karena belum lama dibangun.Halimah menghembuskan nafas terakhir,sang Ibu menjerit sang Bapak menangis,Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yg tiba2 mengalir deras.Pernikahannya dg Halimah yg merupakan masa kembalinya kebahagiaanya yg beberapa saat nyaris lenyap kini nyaris terenggut kembali tapi kepergiaan Halimah dg kondisi yg menyemburatkan aurat surga membuat hatinya terasa nyaman.Ia bersedih tapi juga bangga dg istrinya kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yg menyejukan jiwa betapa berbahagianya Halimah.
Tak lama kemudian adzan magrib terdengar mereka mendengarkan dg kyusu.Saat lantunan adzan berhenti Bapak Halimah mendekati Rizqaan.Ia menatap menantu yg sekian lama ia kecewakan,sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan.Pria yg-dg izin Allah- telah mengubah wujud putrinya sehingga menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran.
Ia menatap pemuda itu,air matanya menetes tak terbendung.Penyesalan membuncah hingga nyaris membakar otak.Ia nyaris bisu dalam suasana hati yg kuyup penyesalan.
"Duhai,seandainya aku masih memiliki putri yg lain pasti aku akan menikahkannya denganmu,ananda." ujar Bapak Halimah kepada Rizqaan."Halimah,sudah cukup bagiku Pak,nikahkanlah aku kembali dg putrimu itu Pak?""Aku sudah melakukannya 2 kali ananda...""Cobalah untuk ketiga kalinya Pak..." ujar Rizqaan lirih.
"Itu bukan lagi hakku ananda,biarlah Allah yg akan menikahkanmu dg nya disurga kelak.Relakanlah kepergiannya saat ini semua kita toh pasti akan mati juga.Gapailah surga dg amal ibadahmu dg ketulusan hatimu hanya dg itu Allah akan berkenan mempertemukan dirimu kembali dg nya....."Rizqaan tersenyum.
"Hai jiwa yg tenang kembalilah kepada Rabbu dg hati yg puas lagi diridhainya.Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba Ku dan masuklah kedalam jannah Ku."(AL FAJR:27-30)
TAMAT.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar