Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 14


  • ~::* SANDIWARA LANGIT*::~

    BY:ABU UMAR BASYIER

    BAG 14

    ~ Gemuruh Prahara ~


    Pada bulan ke 6 tahun ke 10 pernikahan,pabrik roti yg dikelola Rizqaan kembali ke top omzet sebelumnya.Omzet penjualan kembali menembus angka 18 ribu potong roti perhari.Di bulan ke 7 dan ke 8 bahkan sempat terjual 20 ribu potong perhari selama satu pekan namun masuk bulan ke 9 kembali terjadi keanehan penjualan kembali menurun cukup dratis hingga angka 14 ribu potong saja itu terjadi selama satu minggu,full.Roti 'T' kembali mengeliat,ia telah memperbaiki kualitas rasa,arowa dan tekstur rotinya tampaknya mereka berhasil menemukan cara membuat roti lebih awet,sehingga nyaris sama dg roti buatan Rizqaan.Sebenarnya itu tidak masalah tapi kejadian yg lalu terulang,beberapa langganan roti Rizqaan kembali di obok2.Mereka dipsovokasi agar beralih keroti merek 'T' yg kembali menjanjikan harga murah kali ini bahkan dg margin keuntungan lebih banyak dari sebelumnya,sebagian pelanggan menolak tapi sebagian lain manut.Rizqaan sempat heran,dg harga semurah itu dg kualitas sebagus itu,pengusaha roti 'T' sesungguhnya sedang melakukan harakiri alias bunuh diri nyaris tak ada keuntungan pada penjualan roti itu padahal omzetnya pasti ribuan potong roti perharinya.Uang yg diputar jelas minimal puluhan juta perhari untuk apa seorang pengusaha melakukan tindakan nekat2 seperti itu? Bila tujuannya adalah mematikan usaha lawan jenis,berapa lama sipengusaha bisa bertahan seperti itu? Saat harga rotinya kembali normal atau menjadi lebih mahal,tentu para pelanggan juga tak lagi terlalu berminat membeli rotinya dg mengabaikan roti2 merek lain.Menilik cara mereka menembus pasar memang terlihat adanya etika buruk.Permainan harga yg mereka buat juga tidak lazim bahkan over dan nekat2an.Rizqaan menyebutnya bunuh diri tapi Rizqaan tak mau memedulikan hal itu,ia kembali ke konsep dasar semula ciptakan inovasi baru.


    Selain menambah kadar susu dalam roti buatannya,Rizqaan juga bermain dg rasa2 baru beberapa jenis buatan sendiri yg belum lazim dicampurkan kedalam roti terutama dikota dimana Rizqaan tingga ia coba buat ternyata penerimaan pasar bagus beberapa jenis roti baru bahkan habis diserap pasar lebih cepat dan dg jumlah lebih banyak ketimbang rasa2 sebelumnya.Cara pengolahan roti juga divariasikan tak hanya roti bakar tapi roti goreng dan roti kukus juga ia perkenalkan beberapa inovasi baru yg ia buat secara cepat dan ketat membuat roti 'T' kelimpungan.Merek roti misterius itu tak mampu mengimbangi kecepatan Rizqaan berinovasi para pelanggan juga akhirnya muak dg gaya penetrasi pasar 'T' yg membuat bingung para bembeli dan membuat mereka berubah-ubah sikap tak menentu kadang mengambil dari 'T' kadang roti buatan Rizqaan akhirnya kebanyakan mereka menyadari adanya ketidakberesan dalam kompetisi tersebut mereka lebih memilih roti2 buatan Rizqaan karena semenjak semula mereka pelanggan2 roti Rizqaan sebelum direcoki oleh masuknya roti merek 'T' yg sesungguhnya tidak wajar.


    Dalam dunia bisnis perseteruan itu memang wajar tapi dalam kasus ini tidak.Roti 'T' terlihat begitu ngotot ingin merebut pasar roti2 Rizqaan seperti kota itu begitu sempit saja padahal dg roti2 merek lain Rizqaan tak pernah punya masalah serius persaingan itu tetap ada tapi bergulir wajar2 saja selain itu para penjaja roti 'T ' seperti berusaha keras untuk tidak berpapasan dg para penjaja roti buatan Rizqaan.Pernah beberapa kali mereka berpapasan secara tidak sengaja tapi para penjaja roti misterius itu langsung menyelinap pergi tanpa menoleh sama sekali tak sudi beradu pandang.


    Para penjaja roti Rizqaan menceritakan kejadian2 itu sehingga mau tak mau Rizqaan jadi terdorong ingin tahu siapa sesungguhnya pemilik usaha roti itu tapi akhirnya ia menepis keinginan itu ia hanya mampu beristighfar memohon ampun kepada Allah.Mungkin ini bagian dari ujian Allah kepada mereka berdua.Bertiga dg putra mereka Nabhaan yg sudah berusia 8 tahun.oh ya bahkan berlima karena kedua orangtua Rizqaan sudah lebih sering tinggal dirumah mereka hanya sesekali melihat rumah mereka diluar kota karena disitu ada kebun kecil dibelakang rumah.Mereka datang biasanya bersama2 kesana memetik buah coklat yg hanya 3 pohon pisang atau ketela lalu dibawa kerumah Rizqaan.Hari2 berjalan dg nikmat.

                                                                          ***
    Selanjutnya,perseteruan aneh itu seperti berhenti secara mendadak.penjualan roti Rizqaan berjalan lancar bahkan sangat lancar tak ada lagi gangguan atau hambatan2 berarti roti 'T' tiba2 saja lenyap dipasaran bagai amblas ditelan bumi seperti halnya saat muncul ia begitu mendadak dan tiba2 kali ini pun lenyap dari pasaran juga secara begitu mendadak.

    Para penjaja rotinya pun sudah tak pernah kelihatan batang hidungnya,aneh tapi begitulah kenyataannya.Produksi roti Rizqaan sendiri semakin meningkat mereka kini butuh tungku baru yg lebih besar,lempengan2 pembakar yg lebih banyak,mesin pengadon yg juga lebih besar dan juga memerlukan ruang khusus untuk menyimpan gerobak2 roti yg pada siang hari digunakan oleh para penjaja roti untuk keliling.Akhirnya,pabrik diperluas tanah seluas 150 meter persegi disebelah pabriknya ia beli harganya agak kemahalan tapi Rizqaan tidak peduli yg penting usahanya berjalan lancar,tanah itu dibelinya dg cash tanah 100 meter yg tepat berada dibelakang rumah Rizqaan dimana pertama kali digunakan lahan pabrik dibongkar bangunannya yg memang semi permanen kemudian dibuat pagar sekelilingnya sehingga menjadi halaman belakang rumah yg menyatu dg rumah mereka.Mereka kini memiliki sisa tanah cukup luas dibelakang rumah tempat mereka duduk2 disore hari,disitu dibuat sejenis taman dg kolam ikan berukuran 2X2 meter ada beberapa bangku plastik ditata dg sebuah meja kecil yg terbuat dari plastik.Disitu setiap sore atau pagi hari mereka berkumpul duduk2 sambil menikmati secangkir teh,ditemani dg beberapa potong pisang goreng,juadah bakar atau serabi kesukaan Nabhaan.Hidup mereka menjadi terasa indah,keindahan itu semakin memesona saat akhirnya diketahui bahwa Halimah hamil lagi,masa yg cukup panjang setelah usia anak pertama mereka sudah 8 tahun lebih sehingga kehamilan Halimah menjadi layaknya puncak sebuah kebahagiaan mereka tak memikirkan apa2 yg mungkin terjadi dibelakang hari bagi mereka hidup adalah hari ini,hari kemarin adalah masa lalu,hari esok belum tentu terjadi maka hidup sesungguhnya adalah hari ini.Di hari inilah kita menata hari esok.Akhirat tak akan ada tanpa dunia.Dunia adalah ladang pahala


    Akhirnya mereka memasuki bulan ke 11 tahun ke 10,artinya satu bulan lagi genap sudah usia pernikahan mereka menjadi 10 tahun bila mereka bisa bertahan,lalu menghadap ke orang tua Halimah kesepakatan itu berakhir rumah tangga mereka Insya Allah akan tetap utuh disitulah kebahagian sesungguhnya yg menyemburatkan secara lebih nyata dan betapa waktu satu bulan itu berjalan begitu lambat.Lambat sekali seolah mereka menunggu berpuluh-puluh tahun lamanya,hari demi hari berlalu dg seolah-olah kakek renta yg berjalan tertatih-tatih seumpama seekor kura2 yg berjalan lambat menyisiri pinggiran pantai yg panjang terasa membosankan.Sampai tibalah malam itu.Malam itu malam ke 12 tahun ke 10 hari yg ke 28 itu artinya 2 hari lagi babak final perjanjian itu akan berlangsung.


    Usai berpergian seharian keluar kota bersama istri,anak dan ke dua orang tuanya mereka tiba dirumah pukul 21.00 karena terlalu lelah sesampainya dirumah mereka duduk sejenak menikmati secangkir teh hangat kemudian masing2 ke kamar untuk tidur.Rizqaan bersama Halimah tidur dilantai bawah demikian juga putra mereka Nabhaan namun sekarang Nabhaan sudah berani tidur sendiri dikamarnya yg juga dilantai bawah bersebelahan dg kamar Rizqaan dan Halimah sementara ke 2 orang tua Rizqaan dilantai atas lantai 2 masing2 menempati kamar.Rizqaan memang meminta begitu agar masing2 kamar sering ditempati tidak dibiarkan kosong.Kamar yg sering kosong dan jarang dibacakan Al Qur'an didalamnya akan mudah ditempati oleh mahluk2 Allah yg lain yg berbeda alamnya dg kita,Jin
    Karena tubuh yg kelelahan mereka tidur begitu nyenyak karena besok adalah hari terakhir yg akan mereka jalani sebagai masa perjudian,lusa adalah penentuannya setelah itu mereka bebas merdeka.Bebas dari ikatan kesepakatan yg menyempitkan hati mereka selama ini apalagi,bulir2 kasih dalam dada mereka semakin tumbuh bersemi.Mereka sudah saling mencinta sebagai pasangan suami istri sedemikian dalamnya.Maka malam ini mereka harus dg nyaman menenangkan pikiran,menentramkan jiwa.


    Mereka tertidur nyenyak.Malam itu,Halimah bermimpi sedang mendaki puncak gunung bersama Rizqaan,putra mereka Nabhaan juga kedua orang mertuanya.Semenjak kecil,ia memang ingin melakukan hiking dan climbing bersama teman2 pemudinya tapi selain karena kesibukan belajar dan mengaji,ia juga merasa kurang suka kalau harus berjalan2,berkemah dan mendaki gunung bersama anak2 remaja dikampungnya biasanya mereka pergi rombongan,laki2 dan perempuan pergi hingga berhari2 tanpa ditemani mahram mereka.Ia tak bisa membayangkan melakukan itu meski saat itu juga belum mengerti tentang hukum wanita bepergian tanpa ditemani mahram tapi pergi tanpa bersama orang tua atau kakak laki2nya,bergerombol bersama banyak orang pria dan wanita sungguh tak bisa dia bayangkan.Risih tidak nyaman.


    Tapi dalam mimpinya ini,keinginan terpendam itu terwujud bersama keluarganya mereka mendaki gunung yg cukup tinggi jalannya mendaki tapi tidak terlalu banyak semak2,pendakiannya juga tidak terjal,sehingga tidak terasa menyulitkan.Setelah berjam-jam melakukan pendakian mereka pun tiba dipuncak Halimah tak pernah tahu bagaimana kondisi puncak gunung,ia hanya pernah mendengar cerita dari teman2nya.Ternyata begitu indah,ada hamparan luas,gunduk2 ditengahnya ada rongga besar menyerupai lembah tapi tidak dalam disitu ada juga lubang2 tidak terlalu besar yg mengeluarkan asap panas.Di luar rongga lembah itu tanah lebih datar cukup luas dan terlihat sangat mempesona apalagi udara terasa dingin sekali dan langit terlihat cerah berawan,awan2 putih itu sebagian terlihat begitu dekat seperti bisa dijangkau dg tangan indah sekali.


    Namun,pada saat mereka sedang menikmati keindahan panorama puncak gunung tersebut,tiba2 tanah dimana mereka berpijak bergetar awalnya hanya pelan saja tapi lama kelamaan semakin keras,mereka panik saat itu tak ada seorang pun terlihat dipuncak gunung tersebut selain mereka sekeluarga.Rizqaan langsung menggendong Nabhaan sementara ke dua orang tuanya merapat ke sisi Halimah mereka saling mendekat,saling merapat sehingga tanpa terasa saling berpelukan karena mereka bingung kemana harus pergi.Mereka berada dipuncak esiko lagi akhirnya mereka pasrah sementara guncangan semakin terasa akhirnya betul2 menguncang hebat sehingga tubuh mereka seolah-olah diayun ombak besar ditengah lautan.Meski semakin panik "Gempa...gempa...gempa!!!


  • Saat itu tengah malam atau mungkin dini hari antara pukul 00.00-01.00.Ditengah kenikmatan tidur dalam belaian mimpi yg indah.Sayup2 Rizqaan mendengar suara gemericik makin lama makin terdengar bukan suara gemericik air tapi seperti hembusan angin yg menerpa tumpukan dedaunan sehingga menimbulkan suara menderu dan menggemericik.Di tengah keheningan,suara2 itu terdengar semakin jelas mula2 Rizqaan mengira hanya hembusan angin kencang diluar rumah tapi semakin lama suara itu seperti semakin mendekat.Udara dikamar itu tiba2 berubah menjadi sedingit hangaj padahal mereka tidur diruangan ber Ac yg setting hingga 20 derajat biasanya terasa sangat dingin hingga mereka merasa perlu menggunakan selimut tebal.Setelah itu tidur terasa nyaman dibawah kehangatan selimut dan dinginnya AC yg menyatu menjadi sebuah nuasa rasa yg nikmat ditubuh ditengah heningnya malam.Tapi malah saat itu udara terasa hangat dan suara2 menggemiricik itu kini malah diiringi dg suara2 tungku api pemanggang roti yg baru dinyalakan sebelum kayu2 menjadi bara pletak.pletak terdengar seperti suara kayu2 terbakar.Rizqaan melompat dari tempat tidurnya,selimut besar yg dia pakai langsung dicampakkan suara tubuhnya yg melompat dan menjejakan kakinya diatas,menimbulkan suara gedebum.Saat itulah Halimah terbangun dari mimpinya.


    "Ada apa Abuya?"(Halimah biasa memanggi Rizqaan dg sebutan Abuya yg biasanya merupakan dialek bhs.Arab pasaran berarti Abi,Ayah.Halimah terbiasa menggunakan panggilan hangat itu sekaligus mengajari anaknya untuk menyapa bapaknya dg Abuya terkadang ia juga menyapa suaminya dg panggilan Abu Nabhaan)
    "Entahlah.Tapi seperti suara tungku terbakar,sepertinya dekat sekali.Ayo kita keluar." Rizqaan berkata setengah panik. o Mereka berdua bergegas keluar kamar,saat pintu kamar dibuka terasa udara menjadi jauh lebih hangat dari biasanya mereka sudah mulai curiga tapi meter mereka keluar dari kamar,mata mereka terbelalak ngeri mereka melihat ruangan belakang rumahnya bagian dapur dan ruang makan sudah dipenuhi kobaran api.Api berkobar-kobar,menyala hebat membakari seluruh isi ruangan termasuk meja dan kursi2.Api mulai menjalar menuju ruangan tengah jarak antara mereka dg kobaran api hanya beberapa meter saja hanya dipisahkan sebuah kamar saja.Yah,sebuah kamar saja.Uups mereka mendadak teringat,kamar pemisah itu adalah kamar dimana anak mereka Nabhaan tidur malam itu jarak dari tempat mereka berdiri hanya satu meter saja.Saat ingat,Rizqaan langsung melompat ke arah pintu kamar anaknya itu.Ia membuka pintu dan langsung berhambur masuk,kamar itu memang agak kendap suara saat masuk kamar,ia mendengar suara tangisan anaknya Nabhaan.Udara kamar itu sudah cukup panas,beruntung api belum menjalar masuk tapi suasana kamar yg mulai agak panas padahal ruangan itu juga ber AC seperti kamar mereka.Membuat anaknya terbangun dan menangis tersendu-sedu,ia memang belum meraung-raung hanya menjerit tertahan karena secara tiba2 saat itu lampu mati tanpaknya kobaran api sudah memutuskan aliran listrik dalam rumah.Suasa rumah menjadi gelap,Rizqaan agak kesulitan merambat-rambat mencapai pintu rumah sementara istrinya Halimah dg cemas masih menunggu diluar kamar.Saat matanya sudah agak terbiasa,ia melihat celah pintu segera ia menghambur keluar disitu ia nyaris bertabrakan dg istrinya yg rupanya juga nekat akan masuk kamar.


    Saat itu yg ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana mereka dapat keluar dari rumah itu secepatnya tak ada terlintas dalam pikiran mereka untuk menyelamatkan barang2 yg ada dalam rumah itu termasuk perhiasan dan sejumlah uang kontan dikamar mereka saat itu nyawa bagi mereka lebih penting diselamatkan.karena api sudah tinggal berjarak setengah meter dari mereka sudah membakar sebagian kamar dimana anak mereka tidur tadi,ruang belakang dapur,kamar mandi dan ruang makan sudah habis terkurung api satu2 nya jalan adalah ke ruang tamu hanya ruangan itu-dan juga kamar mereka-yg sementara ini terlihat aman dari jilatan api yg menjilat-jilat ganas.Akhirnya mereka berhambur cepat menuju ruang tamu.Membuka pintu cepat2 lalu berlari keluar mereka terus berlari menjauhi rumah,setelah agak jauh mereka berbalik kebelakang.Rizqaan dan Halimah memandang nanar ke arah depan mereka.Selain rumah mereka yg sudah diselimuti kobaran api mereka melihat pabrik roti dibelakang agak kesebelah kanan rumahnya ternyata sudah lebih dahulu terbakar.Api sudah menelan seluruh bangunan pabrik yg memang semi permanen,bagian bawah dg batu bata,bagian atasnya dg kayu,atapnya seng namun itu pun sekarang sudah terlihat hangus terbakar.
    Di berbagai sudutnya api bahkan sudah mulai lenyap namun yg tersisa adalah asap disertai puing2 bangunan berwarna hitam gosong sisa amukan api yg bisa jadi sudah lebih dari satu jam menbakarnya.Rumah mereka memang agak jauh dari para tetangga.Disebelah depan,belakang dan samping kiri dan kanan rumahnya hanya tanah kosong.Sebagian berisi kebun rambutan dan jambu biji,sebagian hanya tanah berumput.Namun kobaran api yg besar akhirnya terlihat oleh para peronda malam dan beberapa anak muda yg kebetulan masih berkeliaran.Suara2 bergema saling bersahut-sahutan "Kebakaran,kebakaran,kebakaran !!!"
    Dalam waktu sekejap para penduduk sekitar berdatangan,menyaksikan amukan si jago merah sementara Halimah dan Rizqaan hanya diam mematung,dada Rizqaan bergemuruh Hati Halimah bagai diamuk badai mereka tak mampu lagi saling berkata-kata kedukaan hebat sekaligus kekhawatiran besar menyesak dada.Saat itu mereka serasa terbangun dari mimpi indah dan terpuruk didepan realita yg memedihkan suasana hati mereka bercampur aduk ada rasa kecewa,sedih,duka,pedih dan kebingungan karena kebingungan itulah mereka jadi tidak menyadari hal2 lain.Mereka baru tersadar,telah puluhan atau mungkin ratusan orang sudah berkumpul didekat mereka.


    "Ya Allah.Ayah.Ya,Ayah,Ibu.Mereka masih diatas !!" Rizqaan berteriak keras tanpa berpikir,ia berlari hendak merangsek masuk ke dalam rumah yg sedang dipenuhi api."Jangan Abuya,jangan..."Halimah berteriak memangil-manggil.Salah seorang tetangga,seorang Bapak setengah baya bertubuh kekar mengambil insiatif mengejar Rizqaan.Ia tak mengajak beberapa orang membantu menahan tubuh Rizqaan yg hendak menerjang ke arah api.


    "Jangan lakukan itu pak,itu sama saja dg bunuh diri.Sabar kita cari jalan keluar,sabar pak..." Bapak itu mengingatkan sambil menahan sekuatnya tubuh Rizqaan.
    Rizqaan meronta-ronta,pikirannya gelap namun akhirnya tubuhnya terdiam karena beberapa orang menahannya dg sekuat tenaga.Pandangan matanya nyaris hilang tapi Rizqaan berusaha menahan diri saat ia sudah mampu menguasai dirinya ia duduk bersimpuh.Beberapa orang masih berusaha menenangkannya,saat itu puluhan penduduk sudah datang membawa air dg ember secara bersama-sama mereka menyiramkan air itu ke arah kobaran api dirumah Rizqaan.
    Tak banyak memberi pengaruh untuk memanggil mobil pemadam kebakaran rasanya terlalu terlambat kalaupun mobil itu datang beberapa saat lagi rumah Rizqaan tentu sudah habis dilahap api,akhirnya secara kolektif mereka bersepakat menggunakan berbagai cara agar api lebih mudah dipadamkan minimal tidak merambat ketempat lain meski memungkinkan itu amat kecil karena rumah Rizqaan dan pabriknya menyendiri agak jauh dari rumah2 lain.Jarak terdekat mungkin 100 meter lebih terpisah oleh lahan kosong tanpa pohon hanya rerumputan hijau saja namun mereka mengusahakan sebisanya.Dan usaha itu sedikit banyak memberi hasil juga,api terlihat agak mereda bahkan ruang tamu terlihat hanya sebagiannya saja dapur,kamar mandi seluruhnya terbakar hangus.Bagian atas rumahnya saja yg belum jelas.Api memang terlihat merambat ke atas sempat menghanguskan sebagiannya tapi sebagian lain masih utuh,dg bersusah payah 3 orang pemuda membasahi tubuhnya dg air lalu secara perlahan-lahan dg takut2 memasuki rumah yg sudah sebagian besarnya hangus terbakar api,tak berapa lama keberanian mereka mulai muncul.Mereka mengendap-endap memasuki rumah,menaiki tangga yg bersebelahan dg ruang makan terus keatas.Beruntung,tangga masih bisa dinaiki meski dinding2 nya sudah terbakar hangus bahkan ruang kamar sudah runtuh berjatuhan batu2 batanya yg terbalut semen dan pasir dg semangau kepahlawanan ketiga pemuda itu merangsek naik.


    Selama beberapa menit mereka lenyap tak terlihat hanya suara keras seperti dobrakan pintu terdengar dari luar.Ratusan pasang mata memandang kearah rumah itu menanth dg harap2 cemas tak sampai 10 menit ketiga pemuda itu turun,2 orang diantaranya menggendong tubuh seorang perempuan tua yg tentunya adalah Ibu Rizqaan sementara yg satu memanggul tubuh seorang pria tua kurus Bapaknya Rizqaan.Bersama ratusan orang yg ada Rizqaan dan Halimah memandang kearah ketiga pemuda yg turun tergesa-gesa itu.Saat tiba dihadapan Rizqaan kedua tubuh lemas itu diturunkan diatas tanah yg pertama diletakan adalah tubuh Bapak Rizqaan.Halimah dan Rizqaan langsung menjatuhkan diri memandang kearah tubuh yg terbujur lemah dihadapan mereka.


    "Dia sudah meninggal dunia" ucapan itu meluncur cepat dari mulut salah seorang pumuda tadi.
    Tubuh Ayahnya itu memang terlihat sebagian besarnya hitam,menghangus,wajahnya pucat,kulit mukanya dingin dan suara nafas mdmang sudah tak lagi terdengar detak jantung berhenti nadi juga tak berdenyut.Ia memang sudah meninggal dunia seperti dikatakan pemuda tadi.
    Rizqaan menjerit pasrah,Halimah menangis terseduh-sedu.Tubuhnya berguncang secara tiba2 tubuh wanita berjilbab lebar itu melemah akhirnya jatuh terjerembab,pingsan.Beberapa orang wanita,membantu memegangi tubuhnya.Rizqaan sendiri sudah tak mampu menggerakkan badannya.Ia juga shock berat kejadian itu ibarat pukulan telak diakhir ronde pertarungan ia begitu sedih hingga tak teringat lagi harus berbuat apa.Nabhaan sendiri juga ikut menangis,ia menangis karena takut,sedih dan juga khawatir akan kondisi Ibunya.Ia memeluk tubuh Ibunya yg lemas dipangkuan seorang wanita setengah baya.Sisa malam itu berlangsung sendu,hanya diisi tangisan dan rintihan Rizqaan bersama anaknya Nabhaan istrinya Halimah yg pingsan tak sadarkan diri berjam-jam hingga tiba waktu subuh.Mereka melakukan shalat dimasjid terdekat,setelah sadar Halimah memilih shalat dirumah salah seorang tetangga mereka Pak Broto.

                                      ***

    Malam itu juga Ibu Rizqaan yg belum jelas kondisinya dibawa kerumah sakit.Rizqaan tak bisa ikut mengantar,tubuhnya masih lemas.Baru dipagi harinya jam 8 ia bersama Halimah pergi menjenguk mereka berangkat dg mobil tetangga yg secara suka rela meminjamkan kepada mereka.Mobil Rizqaan sendiri sudah menjadi bangkai hangus digarasi rumah,kobaran api itu terlalu hebat dan besar tak ada sesuatu pun dirumah dan pabrik itu yg dapat diselamatkan.

    Alhamdulillah,'ala kulli haal (ucapan ini dianjurkan bagi orang yg melihat sebuah keburukan peristiwa jelek atau hal2 yg mengecewakan.Ia tetap harus memuji nama Allah dg ungkapan,Alhamdulillah,'ala kulli haal yg artinya secara umum "Bagaimanapun,segala puji tetap hanya milik Allah"Ibu Rizqaan ternyata selamat,ia memang mengalami luka bakar parah disekujur tubuhnya namun masih bisa diselamatkan wajahnya bahkan tak tersentuh api sedikitpun bersih tak ada kulit yg terbakar meski demikian jiwanya amat terpukul.
    Kalau Rizqaan dan Halimah merasa begitu sedih dan terhenyak pasrah,ibunya itu bahkan tak henti2 nya menangis ia merasa begitu sedih akibat musibah yg meluluhlantakkan harta benda anaknya dalam sekejap namun lebih dari itu ia juga amat terpukul atas wafatnya sang suami Bapak dari Rizqaan ia tak pernah membayangkan akan ditinggal mati suami dg cara seperti itu.Saat mereka seperti sedang dalam buaian kebahagiaan yg begitu memanjakan hati.Kini,jiwanya justru bagai terjajah.Terjajah oleh kepedihan dan kesengsaraan yg datang begitu tiba2.


    "Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu,dg sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta,jiwa harta dan buah-buahan.Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yg sabar (yaitu) orang2 yg apabila ditimpa musibah,mereka mengucapkan "Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un.Mereka itulah yg mendapat keberkatan yg sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka,dan mereka itulah orang2 yg mendapat pentunjuk."(AL-BAQARAH:155-157)


    Rizqaan teringat nasihat yg pernah dibaca dalam sebuah buku.
    IMAM Al QURTHUBI mengungkapkan 'Tak seorang pun mampu menghindari rasa sakit dan kepedihan karena secara naluqi manusia cenderung merasakannya.Tak mungkin menghilangkan hal yg bersifat naluriah namun yp harus dilakukan seorang hamba seperti saat terjadinya musibah yaitu menghindari hal2 yg bisa dicegah seperti bersedih secara berlebihan karena bila itu dilakukan seorang dapat dikategorikan keluar dari statusnya sebagai orang yg tabah'

    Rizqaan sadar bahwa tanpa dipaksa pun suatu saat hatinya akan mampu menerima kejadian ini.Sebuah keterpaksaan akan membuatnya mampu bersikap tabah mau tidak mau namun yg ia butuhkan adalah ketabahan sejati yg memang muncul setiap kali terjadi musibah dan cobaan.Secara langsung tanpa jeda.

    "Sesungguhnya ketabahan sejati adalah saat pertama kali musibah terjadi"(Diriwayatkan Bukhari)
  • IMAM ATH-THAYYIBI menjelaskan "Bila ketabahan dan keteguhan hati muncul saat pertama kali hati seseorang diserang oleh hal2 yg menyusahkannya itulah yg disebut ketabahan sempurna.Ketabahan itulah yg pasti mendapatkan pahala adapun apabila gambaran musibah sudah mulai redup sehingga jiwa seseorang mulai terhibur dan muncullah ketabahan hatinya maka itu adalah ketabahan yg bersifat naluriah tidak akan mendapatkan pahala lagi."

    Orang yg memiliki tingkat ketabahan itu tidak perlu terlalu banyak menelaah masalah sekadar untuk mengetahui substansi dan yg mendarah daging dalam dirinya.
    Seperti kata Ibnu Mubarak 'Orang yg terlalu banyak meneliti pasti sering merasa kehilangan.Orang yg banyak bersiap siaga dg ketabahan pasti tidak akan pernah menyerah."


    Bersambung....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar