~::* NOVEL SANDIWARA LANGIT *::~
By:ABU UMAR BASYIER
BAG 11
(2 Orang Saudara Halimah)
Halimah adalah anak ke 3 dari Ayahnya Pak Rozaq.Ia memiliki 2 orang kakak kandung,ke 2 nya laki-laki mereka hidup semenjak kecil secara berkecukupan meski orangtuanya tidak belum terlalu kaya namun nyaris segala yg dibutuhkan mereka dimasa kanak2 selalu dapat terpenuhi.Hanya sayang mereka kurang mendapat pendidikan agama yg cukup padahal kakek Halimah seorang Kyai di wilayah Jawa Timur tepatnya di Kediri.Namun entah kenapa jiwa keagamaan itu tidak menurun kepada Ayahnya sehingga mereka hidup nyaris hanya dalam aura keduniaan yg kental saja kurang diberi pengenalan terhadap detil2 ajaran islam.Apalagi dibiasakan untuk hidup secara islami.
Waktu masih baru duduk dikelas 1 SD dan saat itu ke 2 kakaknya duduk dibangku kelas 4 dan 6 Ayahnya memang mulai mengundang seorang Ustadz kerumah.Mereka diberi pelajaran privat mengaji dan membaca Al Qur'an.Halimah dan kakak lelakinya Ja'far giat belajar sehingga keduanya bisa lancar membaca Al Qur'an meski tajwid dan makhrajnya masih belum karuan berbeda dg Asyraf kakaknya yg tertua,ia tidak menaruh minat belajar mengaji sehingga setelah satu tahun les privat mengaji dirumah,satu minggu 3 kali,ia masih belum mengenal huruf secara baik.
Apalagi membaca Al Qur'an,padahal sedikit demi sedikit mereka sudah mulai diajari ilmu fikih,akidah,dan sedikit bahasa arab praktis.
Setelah 1 tahun pengajian privat itu bubar.Si Ustadz menikah dan tak sempat lagi memberi les privat kepada mereka.Bapaknya tak berkenan mencari Ustadz lain sebagai pengganti.Halimah akhirnya ikut mengaji dimasjid dekat rumahnya,nyaris setiap hari.Ia bahkan aktif dalam kegiatan remaja masjid hingga akhirnya ia lah yg paling berkembang pengetahuan agamanya dibanding ke 2 kakaknya itu.
Saat mulai belajar dibangku SMU,Halimah semakin giat mengaji.Kakaknya Ja'far terkadang ia ajak untuk ikut pengajian2 remaja di masjid bahkan akhirnya ia dan kakaknya mulai mengikuti pengajian2 intensif yg diisi banyak Ustadz lulusan Timur Tengah meski hanya Halimah yg akhirnya bisa terus mengaji karena sang kakak mulai banyak sibuk membantu usaha bapaknya sambil sekolah tapi hubungan dg kakaknya itu tetap bagus.Berbeda dg kakak pertamanya Asyraf.Mereka sering terlibat perdebatan terutama soal komitmen terhadap syariat islam.Asyraf sering menuduh Halimah terlalu ekstrim,kolot,sangat tradisional tidak dinamis dan rasional dalam memahami dan mengamalkan islam.Jilbab yg dikenakan Halimah seringkali digugat,dianggap tidak sejalan dg lingkungan keagamaan ditanah air.Berlebih,baginya sekadar jilbab gaul dan modis lebih nyaman dilihat.Itulah,kemapa akhirnya Asyraf termasuk yg kurang menyetujui pernikahannya dg Rizqaan.
Saat Bapak mereka mengajukan tantangan kepada Rizqaan dalam akad nikah Asyraf bersorak dalam hati.Ia bahkan senantiasa berharap bahwa dalam duel itu Bapaknya menang sehingga Halimah bisa menikah dg pria lain yg menurutnya cocok,selevel dg mereka bahkan bila perlu yg memiliki kemapanan ekonomi jauh diatas mereka selain itu,ia juga merasa nyaman karena tak perlu lagi banyak berdebat dg adiknya itu dalam soal2 keagamaan.Berbeda bila Halimah terus bersama Rizqaan mereka berdua ibarat duri dalam daging dalam kehidupan keluarga besar Pak Rozaq.
Halimah sangat menyadari bahwa diantara dia dg keluarganya kecuali dg Ja'far dan mungkin dg ibunya,terdapat jurang pemisah yg sangat lebar dalam prinsip2 hidup dan perjuangan.Bila Halimah lebih memiliki orientasi akhirat jiwanya dipenuhi cita2 penghambaan diri kepada Allah maka sebaliknya keluarganya itu lebih cenderung kepada keduniaan bahkan mereka bisa disebut sangat materialistis,sangat mendewakan harta dan kedudukan dunia.
"Barangsiapa yg menghendaki keuntungan diakhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yg menhendaki keuntungan didunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagiaanpun diakhirat."(ASY-SYURA:20)
Memang jarang orang yg menghamba pada dunia lalu menyadari kondisi mereka karena dunia kerap menggelapkan mata seseorang sehingga kerap kali mengaburkan pandangannya terhadap nilai2 akhirat yg begitu luhur bahkan tak jarang penghamba dunia tetap mengaku sebagai pengejar akhirat.Ia tetap bersikukuh bahwa dunia yg dikejarnya adalah semata-mata demi cita2 akhirat namun sesungguhnya amatlah mudah mengetahui apakah ucapan itu sekadar basa-basi atau memang sebuah ambisi yg sebenarnya.Tanyakan saja kepadanya,amalan akhirat apa yg sedang ia kerjakan sekarang ini?
Seorang penghamba dunia yg bersikap hipokrat,biasanya mengumbar janji2 kosong.
"Nanti,kalau daganganku laris aku akan berkonsentrari belajar."
"Nanti,kalau kesibukanku berkurang aku akan lebih rajin mengaji."
"Nanti,kalau sudah memiliki kendaraan sendiri aku akan rutin mengikuti kajian2 intensif."
"Nanti,kalau sudah mandiri aku akan disiplin mengajar..."
Dan banyak lagi bualan2 sejenis yg begitu mudah meluncur dari mulut para penghamba dunia yg masih berusaha menutup-nutupi kegandrungannya terhadap dunia yg begitu hina.
Itulah yg sering diungkapkan oleh Asyraf "Kalau kamu memiliki banyak uang semua Ustadz dan guru mengaji paling berkualitas bisa kamu undang kerumah,kamu tak perlu lagi mendatangi mereka,kamu tak perlu mencari ilmu tapi ilmu yg akan mencarimu.
Suatu saat ia pernah menegaskan "Kalau kamu sudah memiliki harta dan penghidupan yg cukup kamu bisa berkonsentrasi pada apa saja yg menjadi ambisimu.Mau punya suami yg rajin mengaji dan pintar bahasa arab? Gampang.Mau pergi haji setahun sekali? Mudah saja.Mau membangun masjid atau mendirikan pesantren? Gak usah susah2.Rumusnya adalah uang,kalau kamu punya uang semua bisa kamu beli termasuk suami atau istri yg bagaimanapun bentuknya."
Bapaknya juga pernah bilang "Nak,kamu harus memilih calon suami yg kaya raya.Gak perlu harus pintar mengaji atau pandai berbahasa arab yg penting baik hati dan sayang terhadap istri kalau suami kamu baik dan kaya bisa kamu suruh untuk apa saja,kamu bisa meminta kepadanya apapun yg kamu suka tapi kalau suamimu miskin meski ia ahli dibidang agama,ulama atau sejenis itu kamu akan hidup sengsara.Kamu tahu untuk belajar dipesantren saja orang harus punya duit.Didunia sekarang ini tak ada yg gratis.Ilmu agama juga tidak gratis.Camkan itu."
Nasihat dan wejangan seperti itu sudah seringkali didengarkan oleh Halimah.Baik dari mulut Ayahnya,saudaranya Asyraf.Ja'far sendiri tak pernah banyak bicara,ibunya juga hanya diam bila suatu saat Bapaknya berceramah soal bagaimana mencari menantu yg kaya,punya banyak uang dan sayang istri.Apakah sang ibu setuju atau tidak dg pendapat Bapaknya ia masih bimbang karena Ayahnya punya sikap tegas namun juga pemarah dan pantang dibantah ucapanya.Si Ibu bisa saja diam karena takut tapi mungkin juga setuju semuanya masih buram dan selama ini Halimah tak pernah menanyakan hal itu kepada Ibunya,ia tak mau antara ke 2 orangtuanya terjadi konflhk yg menimbulkan keributan seperti yg sering ia saksikan saat masih kecil.Saat itu Bapak dan Ibunya nyaris setiap hari ribut kadang hanya karena persoalan2 kecil dan remeh mungkin dari semua pengalaman itu akhirnya sang Ibu lebih memilih banyak diam tapi justru karena itu,Halimah selama ini merasa sangat terpojokan hanya Ja'far yg secara sembunyi2 sering memberi dukungan kepadanya menasehati,memberi suntikan motivasi dan mendoakannya agar selalu tegar dalam prinsip2 kebenaran yg dia yakini.Yang sesungguhnya juga diyakini oleh Ja'far.
Saat Halimah menikah dg Rizqaan,Ja'far juga memberi dukungan penuh meski ia sesungguhnya juga merasa ngeri dan bergidik bila membayangkan akibat2 yg bisa saja terjadi karena perjanjian 'aneh' yg mereka sepakati dg Bapak mereka,saat akad.Baginya itu keterlaluan,tapi ia tahu membantah Bapaknya bisa berarti menyulut bensin dg api.Ia bisa didamprat habis2an dan bisa jadi karena itu Halimah akan gagal menikah dg Rizqaan maka akhirnya mereka semua memilih jalan tengah..diam dan membiarkan segalanya berjalan sesuai dg kehendak Allah yg maha Bijaksana.
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar