~::* SANDIWARA LANGIT *::~
BAG 18
~ Lembaran Baru Kehidupan Halimah ~
Tak terbayangkan,kepedihan hati yg dirasakan oleh Halimah wanita yg lugu dan santun itu,harus mengalami kedukaan yg mengharu biru saya sampai sulit menceritakan yg tersisa dari perjalanan hidup wanita ini.Hati saya turut bergejolak.Jujur,bahkan teraduk-aduk,saat Rizqaan menuturkan apa yg dialami Halimah.
Sepanjang perjalanan kerumah didalam mobil Halimah terus menangis sang Bapak hanya diam seribu bahasa bisa jadi ia tertumpu pada 2 perasaan sekaligus sedih dan puas berbeda dg kepedihan dan kepuasan yg dirasakan oleh Rizqaan misalnya.Kesedihannya adalah hal yg sangat manusiawi dan kepuasannya muncul karena ia mampu bersikap teguh pada kebenaran janji seorang muslim layaknya sumpah seorang pendekar dalam dunia persilatan pantang dijilat kembali.
Sementara rasa puas yg dirasakan Bapak Halimah berakar pada keangkuhannya,pada superioritas dirinya,pada perasaan bahwa ia berhasil memecundangi Rizqaan sementara kesedihannya itu mirip dg aura penyesalan yg terlambat karena ia punya hak dan kemampuan untuk membuat kesedihan itu tak perlu terjadi tapi ia tidak melakukannya.Ia bersedih karena akhirnya harus menyaksikan tangisan Halimah yg menyayat hati sifat kebapaannya membuat ia harus mengakui,bahwa putrinya itu kini betul2 tersiksa.
Kesedihan itu diekspresikan dg diam sementara sang Ibu sibuk menenangkan Halimah.Rasa pedih dihati sang Ibu membuatnya juga gagap dalam memberikan kata2 penenang apalagi saat dilihat bahwa putrinya pulang dg hanya membawa selembar baju yg kini dipakainya bahkan lebih merana dari saat pertama kali ia memasuki kehidupan rumah tangganya.Ia tahu bahwa itu bukanlah kesalahan Halimah atau Rizqaan sekalipun itu sebuah musibah yg siapa pun bisa saja mengalami.
"Bersabarlah,nak.Tabahkan hatimu." ujar sang Ibu"Aku,Insya Allah bisa bersabar.Aku menangis karena sudah sewajarnya aku menangis tapi aku tidak yakin bahwa Ibu dan Bapak akan mampu bersabar atas kepedihan2 yg akan kita rasakan bersama.""Maksudmu?" Ibunya bertanya heran.
"Bu,setiap kesalahan dalam langkah kita pasti akan dibayar dg penyesalan.Penyesalan itu tak akan kita rasakan diakhirat tapi juga didunia ini,ibarat perampok yg berhasil membunuh dan menjarah harta korbannya hingga ratusan juta rupiah lalu menjadi kaya hingga ia mati bisahkan Ibu bayangkan bagaimana penyesalan yg ada dalam dadanya? Kalau penyesalan itu tak ada sama sekali berarti ia tak berimam,kalau ia beriman ia akan hidup dalam neraka dunia...""Apa kami kamu anggap perampok?"
"Bukan itu maksudku kalau langkah yg kaliam ambil ini salah dan dosa dimata Allah maka kalian berdua akan merasakan penyesalan seperti yg dialami oleh muslim yg hidup kaya raya karena merampok itu."Ayahnya menoleh kebelakang."Kamu mengancam kami nak?" tanyanya."Aku tak mungkin mengancam apalah kekuatanku ini sebagai putri yg harus menurut apa yg dikatakan kedua orangtua tapi ancaman itu dari Allah.
Dalam Al Qur'an,Allah berfirman,"Hai orang2 beriman,janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat2 yg dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui....(AL-ANFAL:27)
"Apakah tindakan kami itu kamu anggap mengkhianati Allah dan Rasul Nya? Kami hanya mematuhi perjanjian kami dg Rizqbn dari sebelum pernikahanmu dg nya.""Benar,Bapak memang hanya mematuhi perjanjian itu tapi perjanjian itu Bapak ajukan pada satu hal yg berakibat terjadinya pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul Nya."Halimah berkata dg pelan namun tegas dg tangisan yg masih terdengar pelan beberapa kali,ia berusaha menahannya sebisa mungkin.
"Apa bentuk pengkhianatan itu?" tanya sang Ayah."Pertama,Ayah sudah membuatku menghentikanku kepada suami,menghentikan baktiku kepadanya,menghentikan kebiasaan yg selalu melayani dan menghormatinya.Padahal Nabi bersabda,"...Yang senantiasa menaatinya (suami) bila diperintah.Dan selalu menjaga dirinya dan harta suaminya,bila ditinggal..."(Diriwayatkan oleh Ahmad sanadnya hasan dalam bab an-nikah)
kedua,Bapak telah memaksa Rizqaan untuk mengkhianati amanah yg diberikan oleh Allah kepadanya yaitu aku dan anakku Nabhaan."Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga istri2 kalian karena kalian merekrut mereka dg amanah Allah dan kalian menikmati kemaluan mereka dg kalimat Allah."(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan juga Muslim dalam shahihnya)
ketiga,Bapak telah mengabaikan perintah sekaligus peringatan Allah"Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yg kalian sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia dg putri kalian.Bila tidak maka pasti terjadi bencana dan kerusakan besar dimuka bumi..."(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan)
Bapak tahu bahwa Rizqaan bisa diandalkan agama dan akhlaknya Bapak lihat betapa karena kebersihan akhlaknya ia mampu menceraikanku dg segala keterpaksaan dan kedukaan kalau Bapak membiarkan perceraian kami terjadi itu sama artinya Bapak tidak mengizinkan pernikahanku dg orang yg baik agama dan akhlaknya maka aku berani memastikan bahwa bencana dan kerusakan besar itu pasti akan terjadi dan Bapak akan menjadi saksinya.
Keempat,Bapak telah merebut kesempatanku mencari surga dg menaati suamiku.Nabi bersabda,"Wanita manapun yg meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya,ia pasti masuk surga."(Dari Ibnu Majah dan Sunan At-Tirmidzi)
Para ulama telah menjelaskan bahwa yg dimaksud keridhoan disini adalah keridhoan suami yg shalih terhadap istri yg shalihah.
Dengan semua alasan ini dan masih banyak yg lain aku bisa menegaskan bahwa kalian berdua telah mengkhianati Allah dan Rasul Nya..."
Kedua orang tua Halimah terdiam mereka tak mampu menjawab semua sanggahan yg dilontarkan putri mereka Halimah,mereka sebelumnya tidak menyadari bahwa kini mereka berhadapan dg putri mereka yg selama 10 tahun telah mendapatkan didikan dan binaan seorang lelaki shalih yg cukup paham tentang agama.Halimah sekarang ternyata bukan lagi Halimah dulu yg hanya mengerti secuil ajaran agama,ia kini sudah jauh matang bukan wanita yg hanya bisa diceramahi,tapi juga mampu mengeluarkan pendapat selama itu ia pandang sebagai sebuah kebenaran.
Selanjutnya hanya isak tangis Halimah yg terdengar makin lama makin berkurang hingga akhirnya terhenti sama sekali selebihnya hanya keheningan.
Bersambung..
Tidak ada komentar :
Posting Komentar