Sabtu, 30 Maret 2013

NOVEL SANDIWARA LANGIT BAG 20


~::* SANDIWARA LANGIT *::~

BAG 20

~ Rintihan Nabhaan ~

Ia hanya anak berusia 8 tahun lebih belum genap 9 tahun tentunya ia bukan sosok orang yg sangat mengerti seluk beluk kehidupan ia hanya bocah lugu dg segala alam kekanak-kanakan yg masih akrab dg jiwanya namun peristiwa menggetirkan itu tetap saja membekas dan memberi pengaruh hebat dalam jiwanya.Insting kemanusiaannya dapat menangkap lebih banyak dari sekadar yg dapat dipahami oleh nalarnya.

Berbeda dg perceraian yg meledak-ledak ditengah amuk amarah dan kebencian.Wujud perceraian semacam itu amat mudah memahami oleh anak2 yg menyaksikannya dg mata kepala mereka sendiri.Perceraian antara Rizqbn dg Halimah hanya seumpama sandiwara singkat yg dimata sang anak masih tak jelas wujudnya kejadian itu terlalu teduh untuk disebut sebagai perceraian namun insting manusiawinya dapat menangkap sinyal2 kedukaan dan kepedihan dibalik peristiwa itu terlebih-lebih saat Nabhaan sudah merasakan bagaimana berpisah sekian lama dari Ayahnya selama ini Ayahnya tak pernah pergi jauh bahkan menginap dirumah orang lain pun nyaris tak pernah kini berhari-hari,berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ia tak melihat wajah Ayahnya.Hatinya sudah semenjak lama bertanya-tanya.

Namun rayuan dan bujukan kakek dan neneknya yg mengajaknya bermain-main terkadang membuatnya lupa menanyakan hal itu.Lupa bukan berarti ia tak ingat sama sekali dilubuk hatinya yg paling mendalam ia mulai merintih.

"Ummi,Abuya pergi kemana? Kenapa tidak pulang2." begitu Nabhaan akhir bertanya suatu pagi."Abuya sedang bekerja keras untuk memperbaiki rumah kita bila sudah selesai,dia akan pulang menjemput kita." ungkap Halimah dg hati pedg dg sejumput rasa menggugah kedukaan hatinya.


"Kenapa kita tidak diajak melihat-lihat rumah kita yg sedang dibangun ummi?"

"Wah,tidak bisa.Itu pekerjaan orang dewasa,sangat berbahaya kalau kita ikut-ikutan disana nanti kita bisa tertimpa batu bata atau menginjak paku yg berserakan""Tapi Ummi,kenapa Abuya lama sekali tidak membawa kita jalan2 dg mobil kita? Aku rindu ingin melihat pemandangan indah dipegunungan."

"Lho,mobil kita kan sudah rusak? Nanti kita beli mobil baru lagi ya? Berdoalah banyak2 kepada Allah nanti kita bisa berjalan-jalan bersama lagi.Lagi pula kakek kan sudah mengajak kita berjalan-jalan minggu kemarin?"

"Aku lebih suka berjalan-jalan bersama Abuya,Ummi dan nenek dirumah." rengek Nabhaan."Ya,Sabar dulu makanya kamu banyak2 berdoa."

"Aku sering berdoa setiap malam Ummi.Aku sering berdoa bisa punya rumah bagus lagi.Bisa punya mobil bagus lagi dan...bisa sekolah dan belajar bersama-sama teman2 ku dulu.sekolah disini tidak enak..."

Halimah terenyuh mendengar celotehan putranya itu.Setiap saat ia berusaha menepis gemuruh rasa sedih yg kerap melanda hatinya namun bila sudah berhadapan dg kata2 putranya yg begitu polos,jujur dan seadanya.Ia sering larut dalam kesedihan.

Betul,sabda baginda Nabi kita "Sesungguhnya anak itu menyebabkan seorang menjadi pelit penakut dan senantiasa berhasil."(Diriwayatkan oleh Al-Hakim,Baihaqi dari hadits Ya'la bin bin Munabbih Ats-Tsaqafi)

"Nabhaan sayang,kalau kamu berdoa jangan lupa meminta doa agar kita masuk surga bersama-sama jangan hanya meminta kekayaan dunia saja."


"Surga itu seperti apa sih Ummi? Apa lebih indah dari pemandangan dipuncak gunung yg sering kita lihat?" Nabhaan bertanya serius."Surga itu puncak dari segala keindahan anakku sayang,tak ada keindahan yg seperti surga.Keindahan surga itu belum pernah kita lihat,belum pernah kita dengar bahkan kita bayangkan pun tidak akan bisa,indah dan indah sekali siapa yg sudah masuk kedalamnya tak akan mau keluar selama-lamanya?"

"Wah,enak sekali Ummi.Aku ingin segera masuk surga.." tukas Nabhaan senang."Tidak bisa begitu anakku sayang,kalau masuk surga kamu harus banyak beribadah,harus rajin shalat,rajin membaca Al Qur'an dan jangan lupa berbuat baik kepada orang tuamu kamu harus jadi anak yg baik dan shalih."

Halimah berkata teduh,jiwanya seolah-olah melambung dibawa kata2 nya sendiri ia bahkan ikut larut dalam harapan dan kerinduan.Ia ikut merasakan kerinduan yg melambai-lambai terhadap surga bila demikian segala kepenatan jiwanya terasa pupus nyaris tak tersisa.

"Ya Tuhanku,berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku kedalam orang2 yg shalih,dan jadikanlah aku buah tutur yg baik bagi orang2 (yg datang) kemudian,

dan jadikanlah aku termasuk orang2 yg mempusakai surga yg penuh kenikmatan,

dan ampunilah bapakku,karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang2 yg sesat,

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) dihari harta dan anak laki2 tidak berguna,kecuali orang2 yg menghadap Allah dg hati yg bersih..."(ASY-SYU'ARAA:83-89)

Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar