~::* NOVEL SANDIWARA LANGIT *::~
ABU UMAR BASYIER
BAG 6
(Hari-hari yang penuh kesulitan)
Uang yg diberikan sang Ayah ternyata nyaris habis untuk membayar biaya kontrakan 2 bulan saja karena memang dilokasi yg sedikit ramai,sesuai permintaan Ayahnya.Entah apa sesungguhnya yg dimaui Ayahnya itu dg memilih kontrakan dilokasi yg jelas lebih mahal.Rizqaan bahkan hanya memegang uang 200 ribu rupiah lagi saat itu uang sebesar itu hanya cukup untuk biaya hidup satu atau 2 bulan saja itu pun dg ekstra hati2.Dengan mengabaikan hal2 yg kurang diperlukan diwaktu yg sedikit itu,Rizqaan berusaha mencari pekerjaan yg layak buatnya.Ia hanya lulusan SMA ,Ijazah yg dia miliki nyaris tak berguna sama sekali untuk mencari pekerjaan dikota besar dimana ia tinggal.Ia memang bisa saja mengajar mengaji secara privat dirumah2 mewah hasilnya cukup lumayan.Tapi ia belum mau menggunakan kesempatan seperti itu,baginya ilmu agama sebisa mungkin diajarkan dg cuma2 ia tak mau hidup bergantung pada upah mengajar.
"Barang siapa yg menuntut ilmu yg seyogianya dia cari untuk mengharap dapat melihat wajah Allah,namun ia justru mencarinya untuk mengejar sebagian kenikmatan dunia maka ia tidak akan mendapatkan 'arf (baunya) surga dihari kiamat nanti."(Diriwayatkan Abu Dawud dinyatakan shahih)
Dalam riwayat lain "...dan banyak dunia dikejar melalui amalan2 akhirat."(Diriwayatkan oleh Al Hakim )
Lama ia berpikir.Berhari-hari bahkan hingga beberapa pekan berlalu akhirnya ia menentukan sebuah pilihan.Ia akan berdagang saja! Sebuah pekerjaan yg sebelumnya tak pernah ia pikirkan sama sekali,selama ini jika ia harus bekerja mencari uang ia akan mengandalkan otak dan ototnya yakni dg bekerja pada orang lain ia bisa bertukang atau menjadi kernet mobil tapi ia ingin memulai dari pekerjaan yg bersifat mandiri.Uang dikantongnya tersisa 150 ribu,50 ribu akan dia simpan dan 100 ribu akan ia jadikan modal usaha.
Kenapa akhirnya ingin berdagang? Ia teringat pesan Nabi dalam sebuah hadits "9/10 pintu rezeki ada pada usaha perdagangan."(Adab Ad Din wa Ad Dunya,Al Mawardi,hlm 211)
Berdagang,itulah pilihannya.Tapi berdagang apa,dg modal hanya 100 rb rupiah? Berjualan dizaman sekarang ini harus bermodal lumayan.Sekadar berjualan bakso keliling saja harus punya modal 2 jutaan untuk beli gerobak bakso,dandang besar,alat2 memasak bakso,piring,sendok dan berbagai peralatan lain semuanya membutuhkan hampir 2 juta belum lagi modal awal untuk membuat baks6 dan memulai usaha.Modalnya hanya 100 ribu rupiah saja untuk membeli gerobaknya pun tidak cukup.
Ia harus memilih berjualan dg modal minim tapi jualan apa? Pusing juga.Sehari penuh ia berjalan kesana kemari,bertanya-tanya kepada teman2 nya akhirnya dipenghujung hari yg melelahkan,ia mendapatkan hasilnya dari salah seorang teman karibnya yg juga belum lama berumah tangga,ia mendapat tawaran berjualan roti keliling.Ia tak perlu mengeluarkan modal untuk membeli gerobak atau sejenisnya alat berjualan akan disediakan oleh pabrik dimana ia akan mengambil roti dagangannya.Ia hanya harus menyiapkan modal untuk membeli roti yg akan dijualnya nanti.Perbiji roti rata2 500 rupiah,dijual masing2 seharga 750 rupiah.Sehingga sebiji roti ia memperoleh keuntungan 250 rupiah.Hanya beberapa jenis roti,yg bila ia mau boleh juga dibeli tapi dg harga lebih mahal.Margin keuntungannya juga memang lebih besar termasuk diantaranya roti tawar,roti sobek dan roti potong tapi untuk sementara ia melupakan jenis2 roti spesial itu kalau nanti ditanya,bilang saja tidak ada.Dengan 50 ribu saja ia sudah mendapatkan 100 potong roti biasa beragam rasa.Katanya roti2 itu bisa bertahan hingga 3 hari.Namun yg tidak laku tidak boleh dikembalikan itu syaratnya.Biasa para penjual memulai berjualan pertama kali dg modal 100 potong roti saja.Total modalnya Rp 50.000,-.Gunanya untuk menjelajahi pasar dan mencari pelanggan bila sudah lama berjualan ada yg bisa menghabiskan hingga 750 potong perharinya.Keuntungannya jelas lumayan 250 x 750 Rp 187.500,- Modalnya hanya sekitar Rp 375.000,- saja.
Rizqaan mulai berjualan,seperti lazimnya orang memulai berjualan,tentu saja roti yg laku dibeli tidak selamanya seperti yg diinginkan.Terkadang ia hanya membawa 75 potong roti habis semua untung kotornya Rp 18.750,- padahal hari masih siang belum lagi waktu ashar namun saat keesokan harinxa ia mengambil 100 potong hingga sore hari belum juga habis,hasil jual beli menjadi sulit ditebak.Terutama penjaja roti pemula seperti dia dg rata2 penghasilan 15-20 ribu perharinya,ia bersama istrinya Halimah mencoba bertahan hidup,hasil itu sebenarnya cukup lumayan untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan minum mereka sehari2 namun mereka harus menyimpan sebagian diantara hasil itu untuk kebutuhan2 mendadak juga untuk membayar sewa rumah kontrakan yg setiap bulannya Rp 200.000,- tentu saja mereka harus pandai2 mengatur kas keluarga yg ala kadarnya itu namun mereka tetap bertahan.Rizqaan juga dg rajin setiap hari menjajakan rotinya nyaris tak ada hari tanpa berjualan ia berangkat dari sebelum waktu subuh baru berkeliling menjajakan rotinya.Waktu efektif berjualan hanya hingga tengah hari saja.Ia akan terus berjualan hingga sore,bila masih ada roti yg tersisa tapi bila tak habis juga ia tetap harus pulang sesudah ashar itu komitmen yg ia jaga betul.Ia tak mau mengejar-ngejar keuntungan layaknya orang yg di uber2 syetan" berjualan itu harus rilexs,jangan ngotot" begitu ungkapan salah seorang temannya mengajarkan.
***
2 bulan pertama adalah masa paling menyulitkan karena mereka terus berjuang bersama,bertahan hidup dg makan dan minum ala kadarnya menahan diri untuk tidak membeli makanan apa pun yg dijajakan oleh para pedagang keliling yg nyaris setiap satu menit lewat didepan kontrakan mereka.Bukan hanya suara ketukan pada piring gelas atau bambu yg diperagakan secara berbeda-beda oleh masing2 penjual yg membuat mereka sering kali ngiler.Aroma sedap yg sering juga tercium hingga keruang tamu rumah kontrakannya begitu menggoda selera.
Sungguh sulit,terutama bagi istrinya yg hanya mendekam dirumah saja.Rizqaan sendiri juga tak mau menyantap makanan enak2 dijalan bahkan sekadar membeli sirup apalagi es campur atau jajanan lain saja,Rizqaan menahan diri meski ia sudah memiliki keuntungan dari hasil berjualan,ia kasihan membayangkan istrinya makan ala kadarnya dirumah.Ia ingin segala yg ia nikmati juga dinikmati oleh istrinya.Kebersamaan itu indah.
Bila suatu saat mereka harus membeli kebutuhan lain seperti sabun mandi,sabun cuci atau yg lain terpaksa jatah makan mereka kurangi,minimal lauk pauknya diubah dipilih yg lebih murah karena biar hanya satu sen mereka harus menabung setiap hari karena tak ada yg akan membayarkan uang kontrakan mereka atau membelikan obat buat mereka kalau kebetulan salah seorang diantara mereka sakit hingga segalanya harus diperhitungkan secara cermat hal itu tentu sulit dan membutuhkan ketelatenan namun mereka tetap tabah.Mereka berprinsip pada apa yg Allah tegaskan dalam Al Qur'an "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."(ALAMNASYRAH:5-6)
Pernah suatu saat Rizqaan sakit hingga 3 hari,ia terpaksa berhenti dulu berjualan.Uang yg sudah dikumpulkan lebih dari setengah bulan habis untuk membeli obat sementara penghasilan tak ada yg masuk.Akhirnya di hari2 yg tersisa hingga akhir bulan Rizqaan bekerja keras,jatah makan dirumah dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja bahkan sering kali hanya makan dg bawang goreng dan garam rasanya ternyata lezat juga mirip nasi uduk betawi.Cara itu harus mereka lakukan karena pemilik kontrakan dimana mereka tinggal terkenal garang,5 hari saja terlambat membayar uang kontrakan akan diusirkan dari rumah tersebut.Selama ini dari mulai 3 tahun rumah kontrakan ini didirikan sudah puluhan orang yg diganjar berat diusir paksa dari rumah karena terlambat membayar uang kontrakan.
Padahal mencari rumah kontrakan yg layak seperti itu dg harta sewa semurah itu sungguh sulit di wilayah2 berdekatan kos2 an itu maka yg dapat mereka lakukan hanya mengencangkan ikat pinggang,tahan2 lapar sedikit gak usah sok kaya.Keberhasilan memang senantiasa membutuhkan pengorbanan dan kerja keras.
"Siapa yg bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.Orang yg sering waspada,tidak sama dg orang yg kerjanya tidur saja."
Setelah lewat 2 bulan setengah barulah kondisi mulai membaik,upaya merengkuh pelanggan sebanyak-banyaknya ternyata tidak sia2.Rizqaan sudah mampu menjual antara 100-150 potong roti perhari keuntungan antara 25-37 ribu lima ratus rupiah perharinya.Mereka mulai bernafas lega,mereka bersyukur kepada Allah atas segala karunia yg Allah berikan kepada mereka meski masih hidup sangat sederhana namun kepayahan yg mereka rasakan jauh berkurang semua itu hanya karena rahmat dari Allah kemudian juga karena kesungguhan mereka berdua.Kesungguhan Rizqaan dalam menjalankan usahanya juga kesungguhan Halimah untuk senantiasa mendoakan suaminya,bersabar dan menekan serendah mungkin keinginan2 nya yg lazimnya dimiliki setiap wanita.Ia rindu menjadi istri yg bersyukur.
"Dan (ingatlah juga),tatkala Rabbmu mema'lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu,dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku),maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih."(IBRAHIM:7)
Bersambung....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar