Senin, 01 April 2013

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 17



~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~



Bag(17)

akhirnya tinggal satu lagi...Alhamdulillah


Sesampai di rumah Pak Burhan,Faris langsung disambut oleh pelayan rumah dan mempersilahkan Faris untuk duduk terlebih dahulu diruang foyer rumah itu.Meski hanya ruang foyer yg tak lebih ruang tunggu sebelum tamu dipersilahkan masuk keruang tamu,tapi foyer ruang tamu itu didesain sungguh indah.Sebuah kaca besar menjadi sekat dg ruang tamu dari atas kaca itu,berjatuhan butiran air yg merapat kesisi kaca dan jatuh kekolam kecil dibawahnya.


Tak lama kemudian Pak Burhan datang menghampiri Faris.Pak Burhan menyambut Faris dg senyum dan pelukan hangat.


"Ayo,Ris.Langsung saja kita ketaman belakang rumah."

Kemudian Pak Burhan mengajak Faris mengitari sisi rumah yg luas itu.Menuju sebuah taman indah tepat dibelakang rumah,ditengah taman itu ada sebuah kolam renang sederhana khusus untuk keluarga.


Ternyata ditaman itu beberapa anggota keluarga Pak Burhan telah menanti kehadiran Faris dan yg lebih mengejutkan lagi ada seorang yg sangat Faris kenal juga berdiri diantara mereka.


"Ustadz Fatah!"
Faris segera berhambur mendekati Ustadz Fatah,mereka bersalaman erat mata Faris berbinar bahagia.


"Ustadz ada disini?"


"Iya,Ris.Sebenarnya saya adalah adik kandung Pak Burhan.Beberapa bulan terakhir kakak saya itu sering sekali menceritakan tentangmu.Saya sudah menebak bahwa Faris yg dia maksud adalah kamu tapi saya benar2 yakin baru setelah kita bertemu kemarin."


Lalu salah satu mereka mempersilahkan Faris untuk duduk disebuah kursi kayu.Mereka duduk melingkar didepan sebuah meja kayu bundar.Ada 3 meja bundar yg dikelilingi masing2 4 kursi disana.Faris duduk bersama Pak Burhan dan Ustadz Fatah sementara keluarga lain duduk disekitar mereka.Ustadz Fatah menuangkan secangkir teh hangat untuk Faris.


Mereka menikmati sore yg hangat bersama matahari senja yg menyepuh seluas isi taman.Matahari tua yg menyuguhkan tarian indah diatas kolam renang.Gemulainya menghangatkan seisi alam raya.
Tak henti-hentinya Pak Burhan dan Ustadz Fatah bergantian menceritakan tentang Faris kepada keluarga yg lain.Bagaimana kegigihan Faris dalam menjalani hidupnya.Faris yg tak hanya membiayai studi kuliahnya hingga sekarang dapat menempuh program Magister,tapi juga membiayai 2 adiknya yg sedang duduk dibangku kuliah.
"Tapi,semua itu seakan sia2 jika saya tak bisa mewujudkan impian saya selama ini.Saya ingin berhaji,Pak! Ya,saya ingin ke Makkah bertemu Allah dirumah Nya.Mengunjungi Makam Rasulullah dan sahabat2nya" Faris menjelaskannya.



"Bukankah kamu pernah bilang kamu telah memastikan akan berhaji tahun depan bersama ibumu?" selidik Pak Burhan.
Faris terdiam,tertunduk.Ia membenarkan apa yg dikatakan oleh Pak Burhan.Faris memang telah memastikan berhaji tahun depan bersama ibunya untuk ONH telah cukup terkumpul.Keinginannya pun nyaris terwujud jika ia tak membantu pengobatan Mila dan Ibu Mirna yg menjalani operasi.Kini Faris harus menunda keinginan berhajinya hingga beberapa tahun berikutnya.Hingga uangnya terkumpul kembali.Ia sengaja tak mengambil program ONH dari bank karena kebutuhan untuk biaya pendidikan kedua adiknya cukup beragam belum lagi Faris juga harus menyisihkan uangnya untuk dikirim ke orangtuanya di Mojokerto.
Tiba2 mata Faris basah tapi ia menahan sebisa mungkin agar tangisnya tak tumpah.Ia tak ingin mengacaukan suasana sore itu.



" Iya,Pak.Mungkin belum jodoh saya untuk berhaji tahun depan masih ada tahun berikutnya.Saya pasti berhaji! Ini Azzam saya! Tolong ingatkan janji saya ini,Pak!" ujar Faris bersemangat matanya yg berbinar penuh harapan berkabur oleh tangis yg tertahan.Ustadz Fatah tahu betul alasan Faris menunda keberangkatan hajinya.


Bersambung..

Tidak ada komentar :

Posting Komentar