~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~
bag(15)
Penasaran siapa gadis yg berkerudung merah ayoooo lanjut lagi
Beberapa hari kemudian disebuah pagi dg mentari yg terasa hangat menyapa,rumput disepanjang taman Rumah sakit Dr.Saiful Anwar Malang mulai meriap manja,sisa embun terakhir telah menjelma udara sejak bersama helaan nafas pepohonan rindang disekeliling rumah sakit.Beberapa perawat berpakaian putih nan anggun berjalan beriringan dg senyum menawan yg tergores dibibirnya.
"Pakailah,Mbak! Chessa mohon! Plis!" pinta Chessa kepada Mila sembari menyerahkan kerudung merah yg dulu pernah dipakai Mila.
"Tapi,Chess... Kerudung itu sudah Mbak berikan kepadamu!"
"Iya,Chessa tahu tapi nggak apa2 kan jika Mbak Mila memakainya lagi? Moga dg Mbak Mila memakai kerudung ini,Mas Faris ingat kembali"
Mila ragu2 menjawab ya tapi Chessa terus mendesak dan merayunya akhirnya Mila menuruti permintaan Chessa.
Kini untuk pertama kalinya setelah 3tahun lamanya,Mila memakai kembali kerudung merah itu.Chessa membantu memakainya merapikan rambut Mila dan membedaki tipis wajah Mila.Mila pun nampak anggun sekali.
"Ayo,Mbak! Sekarang kita jalan2 keluar!"
"Tapi Chess..."
"Pakai kursi roda,Mbak! Kemarin Pak Dokter sudah mengijinkan kok! Sudah seminggu Mbak berbaring disini,apa nggak bosen?"
Mila mengiyakan ajakan Chessa.Chessa membantu Mila duduk dikursi roda lalu menuntunnya keluar kesisi taman rumah sakit meski seringkali Mila mengaduh lantaran persendiaan kakinya belum sembuh total tapi ia nampak bahagia bisa menikmati sinar mentari langsung menerpa wajahnya sementara Chessa duduk dibangku panjang dekat dg Mila.
Tak lama kemudian seorang gadis yg juga berkerudung merah menuntun lelaki tua bertongkat,lelaki tua itu melepas syal tebal yg melingkar dilehernya.Ia ingin menikmati segarnya udara pagi tanpa syal yg menghalangi,ia meminta putrinya menuntunnya kebangku panjang.Lelaki itu adalah Pak Burhan bersama putrinya Rasyida Husna.
Sejenak setelah Husna membantu Ayahnya duduk dibangku panjang tatapan matanya terhenti saat menemukan seorang gadis dikursi roda yg mengenakan kerudung merah yg mirip dg kerudung yg sedang ia pakai.
Tatapan mereka bertemu,mereka terdiam beberapa detik tak bereaksi dan tak berkata apapun lalu mereka tersenyum dan bersalaman lalu menyebutkan nama.Padahal seribu tanya tengah berlompatan dalam dada mereka 'mengapa ia juga mempunyai kerudung merah yg sama dg ku? Begitulah yg mereka saling pikirkan.
Sementara itu Chessa dan Pak Burhan juga saling bertanya-tanya dalam hati mereka.Sejenak mereka berempat hanya terdiam ditelan oleh ribuan pertanyaan.
"Eh,Afwan.Kerudung kalian kok sama,ya? Padahal model dan motif kerudung kalian kan unik? Jarang ditemukan disini" kata Chessa melumerkan keadaan.
Husna dan Mila hanya tersenyum dan saling berpandangan.
"Ee..."
"Ee..."
Mereka saling berebut ingin menjelaskan.Mila mempersilahkan Husna untuk menjelaskan lebih dahulu.
"Sebenarnya kerudung merah ini adalah pemberiaan Almarhum Ibu saya"
"Iya,Benar.Ibu Ida Mendapat kerudung itu saat ia di Makkah," tambah Pak Burhan meyakinkan.
"Makkah?!!" Mila terperajat "Dari istri salah satu ulama di Makkah?"
"Iya.Syaikh Fattah namanya,Beliau salah satu imam di Masjidil Haram! Lho,Mbak kok tahu? Jangan2..." kata Husna.
"Subhanallah!" Mila memekik lirih "Kerudumg yg saya pakai ini juga dari Syaikh Fattah,istri beliau memberikan kerudung merah ini pada Ibu saya saat berhaji"
"Astafirullah! Ayah baru ingat,Na.Ibumu pernah bercerhta jika ada seorang wanita lain lagi yg diberi kerudung oleh istri ulama tersebut mungkin wanita itu adalah ibu nya Mbak Mila ini.Wanita itu bernama Ibu Fatimah,Ibumu selalu menceritakan jika Ibu Fatimah sangat baik kepadanya mereka bersahabat.Ibu Fatimah juga yg merawat ibumu saat ia sakit di Tanah Suci."
"Iya benar,Pak! Ibu saya bernama Fatimah" Mila membenarkan keterangan Pak Burhan.
"Benarkah,Yah?!"
Pak Burhan hanya mengangguk,Pak Burhan tiba2 matanya basah karena teringat akan istrinya sedangkan Husna mendekati Mila lalu menggenggam tangan Mila dg hangat.
"Jika Ibu kita bersahabat,maukah kamu juga bersahabat dg ku? Bahkan menjadi saudariku?" kata Husna
Mila mengangguk sekali sembari tersenyum,mereka pun berpelukan setelah mereka puas bercerita tentang banyak hal baik tentang ibu mereka atau tentang kesibukan mereka,Pak Burhan dan Husna mohon pamit untuk pulang agenda Pak Burhan hari itu dirumah sakit hanya Chek in kesehatan saja.
Ketika Pak Burhan dan Husna beranjak pergi tiba2 Mila berkata "Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu,Mbak Husna?" Mila ingin sekali melontarkan sebuah pertanyaan yg sejak awal Pertemuan tadi sudah mengganjal dalam pikiran.
"Apa ya,Mbak Mila?" tanya Husna sambil melingkarkan kembali Syal keleher Ayahnya.
"Apakah dulu kamu pernah kemasjid Ketawanggede?"
"Masjid Ketawanggede?!"
"Iya,Masjid Ketawanggede dekat komplek kampus UNIBRAW."
Husna terdiam sejenak,ia mencoba mengingat kembali lintasan yg pernah ia lewati.
"Oh,masjid besar dipojok itu,ya?"
Mila mengangguk.
"Iya,pernah mungkin sekali atau dua kali aku pernah shalat dimasjid tersebut.ada apa ya?
"Apa mukena mu pernah diambil nenek tua dimasjid itu?"
"Astaghfirullah? Iya,pernah! Saat itu ada seorang nenek tua yg mengambil mukena saya kebetulan saat itu aku dari kos seorang teman dijalan Watu Gong lalu shalat ashar dimasjid itu.Lho,kok kamu tahu tentang nenek itu,Mbak Mila? Saat itu memang ada seorang nenek tua yg mengaku ngaku sebagai pemilik mukena saya lalu ada seorang ta'mir yg menegur nenek tua itu.Ada apa,Mbak Mila? Kok kamu bisa tahu?" tanya Husna mendekati Mila.
"Ah,nggak apa2,Mbak Husna kebetulan ta'mir masjid itu adalah temanku" kata Mila singkat.
Setelah tak ada lagi yg Mila tanyakan,akhirnya Husna undur diri meninggalkan Mila dg sejuta perasaan yg berkecamuk dalam dadanya.Mila terpekur beberapa saat sebelum akhirnya Chessa menyadarkan.
"Mbak,apa mungkin yg saat itu kehilangan mukena tidak saja Mbak Mila tapi juga..."
Mila mengangguk berkali-kali,ia kembali memutar slide kenangan peristiwa ketika mukena miliknya diambil nenek tua diMasjid Ketawanggede.Ia tak pernah mengira Husna juga mengalami hal yg serupa dihari yg berbeda
Mila dan Husna sama2 memberikan mukena mereka pada nenek tua yg mengaku sebagai pemilik mukena.
"Berarti..."
"Iya,Benar Chess!" Mila memotongnya sebelum Chessa menyelesaikan Pertanyaannya.
"Subhanallah ya,Mbak.Allah mempertemukan Mbak Mila dan Mbak Husna kembali disi tapi Mbak.Mbak pernah cerita kalau ada seorang lelaki yg saat itu menegur nenek tua itu?"
"Iya,Tapi Mbak lupa wajah penjaga ta'mir itu lagipula Mbak benar2 jaga pandangan Mbak saat itu.Mungkin Mas Faris,mungkin juga bukan."
Keduanya terdiam,Mila meminta Chessa untuk membawanya kembali kedalam kamar.Mila membenamkan sebagian wajah nya pada sisi kerudung lebarnya 'jadi selama ini Mas Faris benar.Gadis itu bukan aku! Tapi Husna dan Mas Faris mencintai Husna' lirih Mila dalam hati kemudian hanyut dalam isak tangis,kerudung merahnya basah.
*Bersambung....

Tidak ada komentar :
Posting Komentar