Senin, 01 April 2013

NOVEL KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH BAG 13

~:: KERUDUNG DARI MAKKAH ::~

Bag 13

Mila masih butuh perawatan,kata dokter.Dokter meminta Faris ke ruang administrasi untuk mengurus semua keperluan.Faris berjalan ditemani Chessa dan Laila.Chessa beberapa kali menyeka airmatanya yg terus menitik tanpa henti.

"Padahal kemarin malam,Chessa dan Mbak Mila masih bercanda bareng kerudung ini juga dari Mbak Mila"kata Chessa mengaduh.

Faris tersentak dg penjelasan Chessa"kerudung yg kamu pakai itu dari Mila?"


Chessa hanya mengangguk"Mas,tolong Mbak Mila,Mas.Please..."Chessa merengek sambil menarik-narik lengan baju Faris.
Faris hanya terdiam,Ia memerhatikan secara seksama kerudung yg Chessa pakai sama persis dg kerudung yg dipakai gadis yg ditemuinya dimasjid 3 tahun yg lalu! Jangan... Jangan... Faris terus beralibi.Ah,tidak mungkin,aku ingat betul wajah gadis itu.Gadis itu bukan Mila! Segera ia menepis semuanya lalu berkata "Iya,Chess.Berdoalah kepada Allah agar Mila segera sembuh dan diberi ketabahan"


Kemudian Faris menyelesaikan seluruh adminitrasi.Faris yg menanggung biaya perawatan Mila.
Setelah menunggu sekian lama,akhirnya mereka diijinkan untuk melihat langsung keadaan Mila.Mahardiansyah yg baru saja tiba langsung berhambur airmata ketika melihat keadaan adiknya yg penuh luka perban dikepala,tangan dan kaki.Banyak darah yg masih tercecer.Mila mengeluh sakit yg luar biasa disekujur tubuhnya.Tapi Mila coba tersenyum ada kebahagiaan yg terselip didirinya setelah melihat Faris disisinya.


Beberapa hari kemudian,keadaan Mila mulai membaik tapi kakinya masih terasa nyeri terutama persendiaan dibagian lutut yg bergeser.Mila menjelaskannya semua kepada Mahardiansyah tentang kemungkinan gadis yg dimaksud Faris adalah dirinya.Kerudung merah miliknya itu adalah pemberian ibu dari Makkah saat Ayah dan Ibu mereka berhaji 4tahun yg lalu.Mila sering memakai kerudung merah itu saat masih kos Jl.Kerto Sentono.
Mahardiansyah menangkap kegembiraan luar biasa yg terpancar dari binar mata adiknya tapi Mahardiansyah ragu jika gadis yg dimaksud Faris itu adalah adiknya,jika gadis itu Mila harusnya Faris tahu dari dulu tapi mengapa Faris mengatakan tak pernah bertemu dg gadis itu lagi? Apa karena Faris tlah lupa dg wajah gadis itu?
Mahardiansyah tak ingin memupus harapan adiknya.Mahardiansyah bisa melihat betapa Mila sangat mencintai Faris.Mahardiansyah hanya membelai kepala adiknya yg tengah berbaring dg sayang lalu menghiburnya agar tetap semangat sesekali Mila mengeluh tentang sakit dan ngilu disekujur tubuhnya.


Tapi Chessa buru2 menghiburnya dg canda manjanya sementara Vivi istri Mahardiansyah hanya membelai kepala adik iparnya dg lembut.
Saat mereka berempat tengah asyik bercengkrama,Faris dan Ferdian tiba mereka mengucapkan salam.Kedatangan mereka berdua yg tiba2 seketika mengejutkan Mila.Mila cepat2 membenahi kerudungnya dg bantuan Chessa.


"Bagaimana keadaanmu,Mil?" tanya Faris


"Alhamdulillah,Mas sedikit baikan."


"Syukurlah.Makanya kalau naik motor jangan ngebut!"


"Siapa yg ngebut?! Aku cuma nglamun,kok! He... He... Afwan.Canda,Mas kemarin ada tumpahan oli dijalan aku kurang hati2 jadi,ya seperti ini."


Mahardiansyah memerhatikan mereka berdua,ia memerhatikan bagaimana cara adiknya menatap Faris dan bagaimana cara adiknya tersenyum.Ia tahu betul jika Mila benar2 mencintai Faris.


"Ris,aku ingin bicara denganmu sebentar!" pinta Mahardiansyah serius
Faris hanya mengangguk lalu mereka berdua keluar dari kamar Mila membiarkan Ferdian terpaku disamping Mila tak berkata apa2.Ia tak berani menatap wajah Mila dadanya berdentum keras tiba2 matanya basah melihat keadaan Mila yg memperihatinkan.Chessa memberi sehelai tissue untuknya dadanya terus bergejolak seolah ingin menumpahkan semua perasaan cinta yg selama ini ia pendam,ia tak tahan lalu ia keluar.Ia sandarkan tubuhnya didinding matanya terpejam.Ah,Mila... Lirih Ferdian dalam hati.


Sementara itu,Mahardiansyah dan Faris yg terlihat tengah berbicara serius diujung taman sana Ferdian tak dapat mendengar apa yg sedang mereka bicarakan.


"Mila mencintaimu,Ris! Sadarlah!"kata Mahardiansyah dg nada tinggi.


"Aku tahu,Har! Tapi gadis itu bukan Mila mungkin saja Mila pernah kemasjid Ketawanggede tapi gadis yg kumaksud itu bukan Mila,Har!"


"Munafik kamu,Ris!"


"Astaghfirullah! Meski aku nggak sepenuh ingat wajahnya tapi aku yakin hatiku akan bergetar jika suatu saat nanti berjumpa dengannya.Gadis itu bukan Mila,Har!"


"Gadis berkerudung merah itu cuma adikku.Adikku jugalah yg memberikan mukenanya pada nenek tua yg mau mencuri mukenanya dan ia juga ingat ada seorang laki2 yg saat itu membantunya.
"Kamu pasti lupa wajahnya,Ris!"


Mahardiansyah mendekat hingga beberapa senti dari wajah Faris matanya merah menyala Faris meletakan kedua tangannya kedada Mahardiansyah coba meredakan amarahnya.


"Ishbir,Har! Sabar!" pinta Faris menenangkan tapi Mahardiansyak malah menepis kedua tangan Faris dari dadanya kemudian merangsek ketubuh Faris dan menarik kerah baju Faris hingga nyaris tercekik hingga Faris tak sanggup berkata.


"Nikahi Mila,Ris.Kalau tidak Mila bisa tersiksa seumur hidupnya,Ris!" pekik Mahardiansyah.


"Ti...dak..mung...kin,Har!"kata Faris terbata.


Lalu sebuah pukulan keras nyaris mendarat diwajah Faris kalau Mahardiansyah tidak bisa menguasai emosinya setan nyaris saja memperalatnya Mahardiansyah melepaskan tangannya dari kerah baju Faris.
Sementara Ferdian yg sendari tadi memerhatikan tingkah mereka berdua langsung lari berhambur mendekati Mahardiansyah dan Faris lalu mencoba menenangkan mereka berdua.


"Istighfar,Mas.Kalian saudara!" teriak Ferdian lirih agar tidak menarik perhatian banyak orang di rumah sakit itu.
Faris sedikit kesal pada Mahardiansyah,ia sekuat tenaga menahan amarahnya Faris tak mau setan menguasai dirinya.Ia tak tahu apa yg harus ia katakan lagi pada Mahardiansyah.Disatu sisi Faris ingin memegang teguh apa yg diyakininya,hatinya seakan telah berlabuh pada gadis berkerudung merah itu dan Faris yakin gadis itu bukan Mila.Disisi lain ia tak ingin melukai sahabat karibnya selama ini."Apakah aku harus menikahi Mila tanpa cinta" lirih Faris dalam hati.


Meski berusaha ditutupi,keributan kecil yg terjadi diantara mereka menyita beberapa orang disekitarnya tak urung membuat Chessa dan Vivi juga mencari sumber keributan.


"Masya Allah! Ada apa,Mas?" kata Vivi sembari memeluk Mahardiansyah, "Istighfar!"


Emosi Mahardiansyah perlahan mulai mereda.


"Astaghfirullahal'adzim..."Mahardiansyah merasa khilaf dan langsung memeluk Faris yg dari tadi terpaku.
"Afwan,Saudaraku! Mahardiansyah memeluk Faris erat.


"Sama2,Har.Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Mila.Mila harus segera membaik setelah itu baru kita diskusi lagi jika kami memang berjodoh Allahpun akan mempertemukan kami," jelas Faris


Mahardiansyah mengangguk setuju,Chessa mengerti betul apa yg sedang mereka debatkan, "Tentang Mbak Mila dibicarakan lain saja,Mas! Mbak Mila sedang sakit,Mas!" kata Chessa memohon pada Mahardiansyah.


"Lebih baik Mas Ferdian antar Mas Faris pulang dulu sekarang," pinta Vivi.Setelah saling memaafkan dan menghapus air disekitar mata mereka Faris dan Ferdian memohon diri untuk pulang.Sementara itu,Mila bertanya-tanya dalam hatinya 'apa yg sedang terjadi diluar kamarnya.'


*Bersambung...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar