~::* KERUDUNG MERAH DARI MAKKAH *::~
BY:MUHAMMAD TAUFIQ
Alhamdulillah sahabat ini bagian terakhirnya......
Pak Burhan mempersilahkan Faris untuk meneguk tehnya.Faris mengambil cangkir tehnya tapi tertahan tiba2 ada beberapa orang yg datang dari samping taman.Dada Faris bergunjang hebat ia melihat seorang gadis berkerudung merah sedang mendorong sebuah kursi roda yg diduduki seorang gadis yg berkerudung merah.2 gadis kerudung merah ada didepan mata Faris dua-duanya sama anggunnya dalam balutan kerudung merah.
Tangan Faris gemetaran,Ia kaget gadis berkerudung merah yg mendorong kursi roda itu adalah gadis yg pernah dilihatnya 3tahun lalu gadis yg slalu mengganggu tidur dan aktivitasnya.Ya,gadis itu tak salah lagi' batin Faris.Sementara yg duduk dikursi roda adalah Mila.
Faris gemuruh dalam getaran dada.Ia letakkan kembali cangkir tehnya.Ia tenangkan dirinya sedemikian rupa.Sementara Ustadz Fatah langsung menyambut kedatangan mereka.Faris teringat kembali bagaimana ia berjumpa dg gadis berkerudung merah itu di Masjid Ketawanggede.Tapi mengapa Mila juga memiliki kerudung merah yg sama? Bukankah Mila juga mengaku jika seorang nenek tua mengambil mukenanya? Bagaimana mungkin 2 orang yg punya kerudung yg sama juga mengalami kejadian yg serupa? Subhanaallah! Seribu pertanyaan menyergap kedalam benak Faris.
Kini mereka berlima berada disatu Meja sementara itu Ferdian,Mahardiansyah dan Chessa yg juga mendapat undangan minum teh itu turut bersama mereka duduk dikursi yg lain.
"Bagaimana kabarmu,Nak?" tanya Pak Burhan kepada Mila.
Alhamdulillah sahabat ini bagian terakhirnya......
Pak Burhan mempersilahkan Faris untuk meneguk tehnya.Faris mengambil cangkir tehnya tapi tertahan tiba2 ada beberapa orang yg datang dari samping taman.Dada Faris bergunjang hebat ia melihat seorang gadis berkerudung merah sedang mendorong sebuah kursi roda yg diduduki seorang gadis yg berkerudung merah.2 gadis kerudung merah ada didepan mata Faris dua-duanya sama anggunnya dalam balutan kerudung merah.
Tangan Faris gemetaran,Ia kaget gadis berkerudung merah yg mendorong kursi roda itu adalah gadis yg pernah dilihatnya 3tahun lalu gadis yg slalu mengganggu tidur dan aktivitasnya.Ya,gadis itu tak salah lagi' batin Faris.Sementara yg duduk dikursi roda adalah Mila.
Faris gemuruh dalam getaran dada.Ia letakkan kembali cangkir tehnya.Ia tenangkan dirinya sedemikian rupa.Sementara Ustadz Fatah langsung menyambut kedatangan mereka.Faris teringat kembali bagaimana ia berjumpa dg gadis berkerudung merah itu di Masjid Ketawanggede.Tapi mengapa Mila juga memiliki kerudung merah yg sama? Bukankah Mila juga mengaku jika seorang nenek tua mengambil mukenanya? Bagaimana mungkin 2 orang yg punya kerudung yg sama juga mengalami kejadian yg serupa? Subhanaallah! Seribu pertanyaan menyergap kedalam benak Faris.
Kini mereka berlima berada disatu Meja sementara itu Ferdian,Mahardiansyah dan Chessa yg juga mendapat undangan minum teh itu turut bersama mereka duduk dikursi yg lain.
"Bagaimana kabarmu,Nak?" tanya Pak Burhan kepada Mila.
"Alhamdulillah,Pak.Sudah sedikit membaik tapi masih perlu pakai kursi roda persendian dikaki yg belum sembuh benar.
"Sabarlah,Anakku" kata Pak Burhan membelai kepada Mila dg hangat.
"Nah,Ris! Ini adalah putriku yg pernah kuceritakan kepadamu tempo hari Namanya Rasyida Husna" kata Pak Burhan mengenalkan.Husna menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya,senyum indahnya nyaris membekukan Faris.
"Sedangkan ini adalah Mila,Bapak yakin kamu telah mengenalnya,Ris.Kini Mila sudah Bapak anggap anak sendiri.Orang tua Mila sudah tiada kini Bapak tak hanya memiliki seorang anak gadis
Tapi 2 anak gadis yg sangat cantik! Kamu pasti ingin bertanya bagaimana Mila juga memiliki kerudung yg sama dg Husna sebenarnya kerudung mereka itu pemberiaan dari ibu mereka kerudung merah itu dari Makkah.Kebetulan ibu mereka menjadi sahabat yg dekat saat berhaji dulu.Ibu Mbak Mila ini juga yg menemani Ibunya Husna selama berbaring sakit menjelang kembali ke Indonesia hingga istri saya meninggal dunia" Pak Burhan tak sanggup meneruskan penjelasannya airmatanya membasahi kelopak matanya yg tlah keriput.
"Dan seorang istri imam Masjidil Haram di Makkah menghadiahi ibu mereka masing2 sebuah kerudung.Kerudung yg mereka sedang kenakan inilah kerudung itu" Ustadz Fatah melanjutkannya "Kamu juga telah tahu tentang peristiwa mukena milik mereka yg diambil seorang nenek tua.Mila telah menceritakannya pada kami'
"Nah,sekarang kamu tinggal milih nih,Ris! Kamu pilih mau nikah dg putriku yg mana? Mila atau Husna? Kamu boleh milih hanya satu lho,tak boleh dua-duanya" tanya Pak Burhan menggoda yg diiringi gelak tawa keluarga yg lain.Muka Faris memerah.
"Tapi Bapak harap kamu menikahi putriku bukan karena kerudung merah itu melainkan dalam rangka menghimpun belahan hati yg telah Allah ciptakan dalam rangka menyempurnakan ibadah agar kalian dapat bersama-sama meraih keberkahan hidup dalam naungan Cinta Nya" ujar Pak Burhan melanjutkan.
"Mila Yakin Mas Faris akan memilih Mbak Husna Yah! Mbak Husnalah yg selama ini yg Mas Faris cari,Mas Faris sangat mencintai Mbak Husna.Mila akan bahagia sekali jika mereka bersatu Mila akan memiliki 3 kakak yg akan menyayangi saya Mas Mahar,Mbak Husna dan Mas Faris" ujar Mila dg mata berbinar.Sementara Faris menatap jauh kedalam matanya 'Benarkah yg dikatakan Mila? Tapi buru2 mereka segera menundukan pandangan.
Faris tak bisa memungkiri perasaannya yg sangat mencintai Rasyida Husna gadis berkerudung merah yg selama ini selalu berkelebat dalam pikirannya.
"Iya,Pak.Dengan menyebut Nama Allah ijinkan saya menikah dg Rasyida Husna" kata Faris mantap.
"Barakallahu laka!" sambut Ustadz Fatah dg pelukan erat "Sebenarnya Husna Juga menyimpan hati padamu sejak pertemuan kalian di Masjid itu selama ini ia menyembunyikannya kepada kami.Benar begitu kan,Na?"
Husna hanya tertunduk dan tersipu malu lalu air matanya tumpah,ia langsung berhambur memeluk ayahnya dg erat.
"Iya.Sebenarnya ada hal yg selama ini Husna Sembunyikan dari Ayah mungkin saat inilah saat yg tepat untuk Husna menceritakannya sebenarnya jauh sebelum Husna bertemu dg Mas Faris di Masjid Ketawanggede kami telah bertemu sebelumnya mungkin Mas Faris tlah melupakan peristiwa itu"
Seketika Faris terperajat kaget wajahnya mengisyaratkan tanya.
"Saat itu Mas Faris masih menjadi asisten dosen Pak Sumeru Ashari suatu hari Pak Sumeru Ashari sedang mengisi seminar di Universitas Muhammadiyah Malang.Seminar yg bekerja sama dg Fakultas Kedokteran kalau Husna nggak salah ingat seminar tentang pertanian organik dan dampaknya bagi kesehatan manusia Husna masih semester satu ketika itu seusai seminar Husna dan teman2 langsung menuju tempat parkir untuk mengambil motor kebetulan Mas Faris juga berada ditempat parkir.Motor Husna berada disamping motor Mas Faris sedangkan Pak Sumeru telah pulang dg mobilnya.
"Husna dan teman2 tertawa geli melihat tingkah aneh Mas Faris bagaimana tidak,Yah! Padahal motor Mas Faris lumayan bagus lho tapi aneh nya Mas Faris malah menaruh 2 kantong bagor kumal disamping kanan dan kiri motornya.Kayak habis belanja dari pasar gitu! Padahal nggak ada isinya! Teman2 Husna menggoda Mas Faris,Mas Faris diam saja tapi wajah Mas Faris memerah"
Faris yg dari tadi diam tak berekspresi,kini mulai tersenyum malu mendengar tingkahnya dulu diceritakan kembali oleh Husna.Faris mulai teringat kembali dg kepingan peristiwa masa lalunya.
"Beberapa hari kemudian Husna baru tahu alasan mengapa Mas Faris menaruh bagor kumal dimotornya kebetulan ada seorang teman Husna yg menjadi adik kelas Mas Faris Di UNIBRAW.Namanya Dini mungkin Mas Faris kenal?
"Dini? Anak nganjuk itu?"
"Iya.Dini cerita banyak tentang keunikan Mas Faris pada Husna.Mas Faris memang sengaja menaruh bagor kumal itu agar nggak ada teman mahasiswi yg membonceng motornya.Bukanya Mas Faris pelit tapi karena Mas Faris sangat menjaga diri pada setiap yg bukan muhrimnya dg 2 kantong bagor kumal bau itu he... He... Afwan Mas,otomatis nggak ada yg mau membonceng motor Mas Faris sejak itulah diam2 Husna kagum pada pribadi Mas Faris.Husna terus mencari informasi tentang Mas Faris sehingga Husna semakin tahu tentang Mas Faris ini.. He... He... Semakin tahu banyak semakin bertambah pula kekaguman Husna pada Mas Faris.
"Ternyata Allah mempertemukan kembali Husna dg Mas Faris di Masjid Ketawanggede saat itu Husna taqu Mas Faris marah sekali dg Husna yg berdiplomasi tentang mukena itu.Lha wong,Husna hanya mau sedekah pada nenek itu kok! Tapi Husna malah jadi geli melihat Mas Faris marah.Mas Faris lucu sekali kalo lagi marah he... He... Afwan ya,Mas"
Kontan saja semua yg hadir ditaman itu tertawa terbahak mendengar cerita dari Husna,Faris jadi salah tingkah Faris hanya bisa tersenyum dg wajah memerah.
"Nah! Benar kan?! Kalian ini memang berjodoh! Barakallah laka!" ujar Pak Burhan bersemangat.Hingga membuat seluruh keluarga yg berada ditaman itu memancarkan cinta dan kebahagiaan.
Tapi tidak dg Mila meski Mila mencoba tersenyum tapi dari relung hatinya ingin rasanya menangis.Faris segera menangkap kesedihan yg dirasakan Mila.
"Oh ya,Mil! Sebenarnya ada yg selama ini ingin Mas sampaikan kepadamu."
Mata Mila sedikit terbelalak,bola matanya membundar penuh rasa ingin tahu.
"Bahwa selama ini ada seorang yg diam2 sangat mencintaimu lelaki itulah yg selama ini sebenarnya yg menjagamu bukan aku.Ia yg selalu berjalan dibelakangmu saat kamu pulang sendirian dari kuliah malam,ia slalu membawa 2 payung ditangannya jika tiba2 turun hujan lelaki itu langsung meminta seorang didekatnya untuk menghampirimu dan meminjamkan payung itu untukmu.
Ia juga yg paling suka menghabiskan brownies coklat buatanmu.
"Ia juga yg mendatangkan dokter setiap sebulan sekali ke kosmu sampai2 ia pingsan berulang kali saat mendengar kecelakaan kamu kemarin.Kamu mungkin jarang sekali melihatnya dirumah sakit karena memang ia nggak tega melihat langsung keadaanmu tapi setiap malam ia selalu tidur dirumah sakit menjagamu,Mil! Ia yg memanggilkan perawat dan dokter jika tiba2 kamu merasa sakit lelaki itu sangat mencintaimu.Insya Allah lelaki saleh,Ia Insya Allah lelaki yg terbaik untukmu..."
"Lelaki itu adalah Ferdian!" kata Mahardiansyah memotong cerita Faris sambil merangkul pundak Ferdian seketika mata Mila langsung tertuju Ferdian.Ferdian tertunduk.
Ternyata selama ini Mila telah keliru,ia mengira jika kebaikan2 yg seringkali datang kepadanya itu berasal dari Faris,Mila sama sekali tak menyangka jika selama ini yg slalu meminjaminya payung saat hujan turun ketika ia lupa membawa payung adalah Ferdian lalu Ferdian yg meminta Faris untuk mengambil payung yg ia pinjamkan di kos Mila.
Mila tertunduk,mata indahnya berkaca.
"Karena itulah aku sengaja untuk memisahkan kalian dari kedai agar Ferdian tetap terjaga dan meminta Ferdian menemaniku menjalankan program Town Clean dan Care juga dalam proyek2 lain agar Ferdian mempersiapkan terlebih dahuku maisyah sebelum melamarmu.Insya Allah tahun depan Ferdian telah benar2 siap untuk menikah denganmu" Faris melanjutkan penjelasannya.
Mila memandang Mahardiansyah seolah ingin meminta pertimbangan padanya.Mahardiansyah hanya mengangguk sekali seakan ingin meyakinkan kepada adiknya bahwa Ferdian memang jodoh yg terbaik untuk adiknya.
"Baiklah,Mila akan tunggu sampai tahun depan hingga Mas Ferdian siap meminang Mila"
"Subhanallah! Lirih Pak Burhan "Semoga keberkahan dari Allah tercurah pada kalian.Nah,sekarang secepatnya kita persiapkan tanggal pernikahan untuk Faris dan Husna"
"Secepat itu,Pak?" tanya Faris.
"Iya,Ris! Mau kapan lagi?!" Ustadz Fatah yg malah menjawabnya
"Tapi Ustadz,saya telah ber Azzam ingin berhaji terlebih dahulu!"
"Justru itulah,nanti kamu bisa berhaji bersama ibu dan istrimu!" jawab Pak Burhan.
"Tapi..."
"Nggak usah pakai tapi2... Kamu nggak perlu cemas dg biaya hajimu,Bapak akan menanggung biaya haji kalian hitung2 itulah kado yg Bapak bisa berikan setelah pernikahan kalian nanti dan kalau memungkinkan Bapak juga akan menyertai kalian ke Makkah!"
Faris langsung tersentak kaget,ia tak percaya dg apa yg baru saja ia dengar.
"Benarkah,Pak?"
"Iya,Ris! Saya menceritakan pada Mas Burhan tentang bagaimana usahamu membantu keluarga Pak Amin yg istrinya harus operasi karena menderita kanker rahim.Mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang seorang ahli hadist ternama yg bernama Abdullah bin Al Mubarak yg hidup di Makkah pada suatu maktu setelah menyelesaikan ritual ibadah haji ia tertidur dan bermimpi melihat 2 malaikat yg turun dari langit.
"Berapa banyak yg datang tahun ini?' tanya malaikat pertama kepada malaikat kedua
'600.000" jawab malaikat kedua
"Berapa banyak mereka yg ibadah hajinya diterima?"
"Tidak satu pun!"
Percakapan ini membuat Abdullah bin Al Mubarak gemetar.
"Ada seorang tukang sepatu di Damakus dipanggil Ali bin Mowaffaq" kata malaikat yg pertama.
"Dia tidak datang menunaikan ibadah haji tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni."
Ketika Abdullah bin Al Mubarak mendengar hal ini,ia langsung terbangun dan memutuskan pergi menuju Damakus untuk mencari orang yg bernama Ali bin Mowaffaq akhirnya Abdullah Al Mubarak menemukan tempat dimana Ali bin Mowaffaq tinggal.Abdullah bin Al Mubarak menyapanya.
"Siapakah namamu dan pekerjaan apa yg kau lakukan" tanya Abdullah bin Al Mubarak.
"Aku Ali bin Mowaffaq,penjual sepatu.Siapakah namamu?"
Tiba2 Abdullah bin Al Mubarak menangis dan jatuh pingsan ketika ia sadar,Abdullah bin Al Mubarak memohon agar Ali bin Mowaffaq bercerita kepadanya amalan apa yg Ali bin Mowaffaq kerjakan hingga mencapai derajat setinggi itu.
Ali bin Mowaffaq mengatakan "Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji.Aku tlah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu.Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Makkah,Sejak istriku mengandung.Suatu hari istriku mencium aroma makanan yg sedang dimasak oleh tetangga sebelah dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit.Aku pergi menuju tetangga sebelah mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya tetanggaku mendadak menangis "Sudah 3 hari ini anakku tidak makan apa2" katanya.
"Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka"
"Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya,aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya "Belajakan ini untuk anakmu" kata Ali bin Mowaffaq 'Inilah perjalanan hajiku."
Faris mendengar dg seksama apa yg diceritakan oleh Ustad Fatah.
"Keiklasan Ali bin Mowaffaq bersedekah pada tetangganya telah membuatnya mabrur sebelum berhaji" tegas Ustadz Fatah "Semoga begitu juga denganmu,Ris!"
"Amiin" kata Faris Lirih.
"Untuk itu,ijinkan Bapak membantumu mewujudkan Azzam mu berhaji.ijinkan,Mas Burhan berhaji bersama kalian" kata Ustadz Fattah mengakhiri kalimatnya.
Faris diam,ia tak sanggup melukiskan kebahagiaan hatinya dg kata2.Azzam yg selama ini ia teguhkan sebentar lagi akan terwujud ia akan berhaji dg orang2 yg dicintainya.
Kini saatnya matahari terbenam sempurna.Siluet senja masih menyisakan semburat memanjang diseparo bumi.Seiring adzan Magrib berkumandang,mereka merasakan hangat dalam keakraban keluarga dan limpahan rahmat dari Allah Ta'ala,Rabb penguasa alam.
TAMAT

Tidak ada komentar :
Posting Komentar