Bag(14)
hayo sahabat baca lagi....
Selepas isya di Masjid Ketawanggede,Faris masih menyelesaikan beberapa halaman lagi ditalawah Al Qur'an.Sesekali ia merintih sedih teringat kejadian tadi di Rumah sakit,ia jadi malu pada Allah.Beberapa jamaah meninggalkan masjid,sementara Ferdian dan Faris berada dalam kamarnya sesekali Faris memejamkan matanya ada kesedihan yg tiba2 menyelinap direlung hatinya kebimbangan untuk memutuskan suatu pilihan.Ia coba mengingat lagi wajah gadis yg berkerudung merah,memang Faris tidak ingat sepenuhnya wajah gadis itu karena memang Faris sengaja ingin melupakannya.Ia tak ingin hari2 nya setelah pertemuan itu terganggu oleh bayangan wajah gadis itu.
Faris berusaha menjaga hatinya agar tetap bersih tapi entah mengapa debaran didada Faris selalu terjadi manakala ia mengingatnya.Disisi lain hatinya terus saja terlontar tanya 'haruskah ia menyakiti Mila yg sangat mencintainya? Faris menangis lirih,Faris segera beristiqhfar dan mengingat Allah Azza Wajalla karena hanya dg mengingat Allah hati menjadi tenteram,Ia kembali teringat dg Firman Allah "(yaitu) orang2 yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dg mengingat Allah.Ingatlah hanya dg mengingat Allahlah hati menjadi tenteram"
Saat hening kembali,tiba2 Faris mendengar sesenggukan tepat dibelakangnya memaksa Faris menoleh kebelakang Ia melihat lelaki yg berumur sekitar 30 tahun menangis disujud panjangnya.
"Pak Amin!" pekik Faris lirih,Faris menunggu hingga lelaki itu merampungkan shalat sunnahnya setelah selesai Faris menghampirinya.
"Assalamualaikum,Pak Amin."
"Waalaikumsalam," jawabnya masih sesenggukan.
"Ada apa,Pak?"
Lelaki itu diam sejenak "Istri saya sakit,Mas! Sekarang ia sedang merintih dirumah"
"Sakit apa,Pak? Kenapa nggak dibawa kerumah sakit.
"Kanker mulut rahim,harusnya operasi tapi kami tidak punya biaya.Seminggu lalu mertua saya juga baru keluar dari rumah sakit,saya sudah pinjam uang kesana kemari tapi belum cukup juga untuk biaya operasi akhirnya istri saya memilih dirumah,ia putus asa saya nggak tahu harus berbuat apalagi,Mas!"
"Astaqhfirullah! Kalau begitu,ayo sekarang kita bawa istri Bapak kerumah sakit,langsung kerumah sakit Saiful Anwar saja"
"Tapi,Mas!"
"Nggak usah tapi2,Pak yg penting istri Bapak selamat! Saya akan meminjam mobil teman saya untuk membawa istri Bapak kerumah sakit.
Faris langsung memencet ponselnya,Ia menghubungi Ibu Dian ibunya Chessa untuk meminjam Avanzanya beruntung Pak Ali mau menyopirinya jadi Ferdian tak perlu menjemput mobilnya.
Faris,Ferdian dan Pak Ali segera berlari kerumah Pak Amin mereka melihat istri Pak Amin sedang merintih kesakitan.Ditemani beberapa kerabat dekat disampingnya.Faris menjelaskan secukupnya maksudnya ia meminta semua perlengkapan dipersiapkan.
Tak lama kemudian Pak Ali datang dg mobil Chessa tak diijinkan ikut,Ia terlalu capek seharian menemani Mila dirumah sakit.Mereka langsung membawa istri Pak Amin masuk kemudian langsung melaju dg kecepatan tinggi.Ferdian ada disamping Pak Ali sementara Faris coba menguatkan hati Pak Amin yg berada sisi istrinya.Mobil terus melaju Pak Ali cukup mahir mengendarai mobil,Ia dapat melewati beberapa mobil yg berada didepannya untuk kesekian kalinya Faris dan Ferdian harus berada di RS.Saiful Anwar kembali.
Setengah jam kemudian,mereka telah sampai di RS.Dr.Saiful Anwar waktu menunjukan hampir jam 9 malam mereka segera membawa istri Pak Amin keruang perawatan.Ferdian dan seorang adik dari istri Pak Amin ikut bersama Pak Amin membawanya keruang medis sedangkan Faris menuju ruang adminitrasi,seorang adminitrasi sedang berbincang dg seorang gadis.Gadis itu tak lain adalah gadis berkerudung merah yg slama ini telah bersemayam dihati Faris sayangnya,tiba2 gadis itu minta ijin untuk pulang gadis itu keluar dari ruang adminitrasi tepat saat Faris masuk dari pintu yg lain.
Jika sekian detik Faris lebih cepat sampai diruangan itu pastilah mereka akan bertemu tapi ternyata Allah tidak menghendaki pertemuan mereka.
Faris mengucapkan salam saat memasuki ruangan adminitrasi.kepala adminitrasi tersebut berada disisi pintu lain sedang mengantar kepergian gadis
Berkerudung merah itu.Ia membalikkan tubuhnya sembari menjawab salam,sesaat pandangan mereka bertemu.
"Ustadz Fatah?!!"
"Faris!!"
"Subhanallah!"
Mereka saling menjawab tangan lalu berpelukan dg erat.
"Apa kabar,akhi?' sapa orang yg Faris memangilnya dg Ustadz Fatah.
"Alhamdulillah,Ustadz.Usta
"Iya,sudah tahun ini saya dipindahtugaskan disini.Bagaimana dg halaqahmu,Ris.Masih istiqomahkan?"
"Alhamdulillah,masih.Mohon
Ustadz Fatah adalah Ustadz pembimbing halaqah saat Faris menghabiskan libur panjangnya di Mojokerto,rumah Asal Faris meski hanya beberapa pekan saja pertemuan mereka tapi hubungan cukup erat.Ustadz Fatah juga dekat dg keluarga Faris dimojokerto.
Kemudian Faris menceritakan keberadaannya di RS Dr.Saiful Anwar pada Ustadz Fatah.
"Sebenarnya,Ibu Mirna memang seharusnya segera dioperasi jika tidak keselamatan Ibu Mirna akan terancam tapi ia menolaknya dan memaksa ingin pulang.Kami telah membujuk mereka agar membuat surat keterangan tak mampu dari kelurahan agar mereka dapat keringanan biaya operasi dan perawatan tapi mereka tetap saja ngeyel ingin pulang memang biaya operasi dan perawatan pasca operasi tergolong cukup besar sekitar lebih dari 30 juta"kata lelaki paro baya itu.
"Baiklah kalau begitu,biar saya saja yg menanggung semua biaya operasi dan perawatan pasca operasi Ibu Mirna.Tapi tolong Bapak rahasiakan tentang hal ini pada Pak Amin dan keluarga bilang saja dana ini adalah bantuan pemerintah bagi masyarakat yg tak mampu"
"Lho,apa kamu masih ada kerabat dg mereka?"
"Tidak,Pak.Pak Amin adalah salah satu jamaah shalat satu masjid dg saya.Pak Amin orang yg paling semangat memakmurkan masjid bukankah sesama muslim adalah saudara?"
"Mulia sekali hatimu,Ris.Semoga Allah memberi keberkahan pada hidupmu."
"Amiin,Semoga Allah juga memberikan keberkahan pada hidup Ustadz!"
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar