KARYA SARAH AISHA
Bag 12
Di bangku taman, Aulia duduk sendiri. Seusai shalat dhuha tadi, dia memutuskan untuk menyendiri di taman sambil merobek satu per satu kertas dari buku diarynya dan dia lemparkan kedalam kaleng yang sudah penuh dengan api. Dia mencoba untuk membakar kenangan masa lalunya.
Dari kejauhan, terlihat Firman dan si kecil Fitri berjalan menghampirinya.
Ketika sudah dekat, Firman mencoba untuk menyapanya.
"Assalamu'alaikum," Ucap Firman sambil terus menggandeng Fitri yang sedang asyik memakan kuenya.
Aulia sempat terkejut melihat Firman ada di dekatnya. Namun dia berusaha untuk santai saja walaupun hatinya saat ini tidak menentu.
"Wa'alaikumussalam," Jawab Aulia tanpa menoleh ke arah Firman.
"Ehm...sedang apa anti disini,"Tanya Firman membuka pembicaraan.
Sambil terus merobek satu per satu kertas buku diarynya, Aulia menjawab, "Membakar seluruh kenangan lama yang tak semestinya ada dalam hati ana." Firman hanya terdiam sambil memandangi serpihan-serpihan kertas yang beterbangan karena terbakar api yang ada di dalam kaleng.
"Ehm...ana mau pamit. Nanti siang ana akan kembali ke Solo." Ucap Firman.
Aulia menghentikan sejenak kegiatannya lalu memulainya kembali. Setelah menghela nafasnya, dia menyahuti perkataan Firman.
"Hati-hati."
Firman mengangguk lirih. Mereka saling menunduk dan melepaskan pandangan ke arah lain.
"Sebelumnya ana minta maaf atas semua peristiwa ini." Sambung Aulia.
"Bukan maksud ana membuat antum repot atau merasa terbebani. Jujur, selama ini ana sudah berusaha untuk perasaan ini. Tapi sulit sekali. Di satu sisi ana ingin sekali membuang jauh perasaan ini, tapi di sisi lain, ada perasaan yang seolah mengharuskan ana untuk tetap mempertahankan perasaan ini. Dan hal itu yang belum bisa ana lakukan. Sekali lagi ana minta maaf. Maaf atas segala khilaf dan salah yang membuat antum jadi merasa tidak tenang menjalani hidup antum. Mungkin memang beginilah jalannya. Semoga dari semua kejadian ini bisa membawa hikmah dan berkah untuk ana pribadi.
"Silahkan antum menjalani hidup antum dengan cara dan jalan antum sendiri. Ana pun juga demikian. Dan ana harap, baik ana maupun antum, masih senantiasa istiqomah di jalan-Nya, dan senantiasa selalu memanjatkan doa yang suci, agar Allah senantiasa memberikan kita pasangan dan cinta yang benar-benar sejati. Sekali lagi ana minta maaf. Dan...hati-hati di jalan."
Firman masih terus terdiam dan menunduk. Dia tak berniat mengucap sepatah katapun. Sampai pada akhirnya Aulia berdiri dari duduknya.
"Sekali lagi ana mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada antum. Mudah-mudahan di kehidupan mendatang, antum bisa menemukan wanita shalihah yang bisa antum jadikan pasangan hidup, yang juga antum cintai dan mencintai antum. Sehingga kalian bisa berlabuh di dermaga cinta-Nya. Cinta yang selalu terbalut dengan doa yang tertuju pada-Nya.
"Afwan, ana pamit. Assalamu'alaikum." Ucap Aulia sambil meraih tangan si kecil Fitri.
"Ayo sayang, kita ke umi. Fitri lagi makan apa sih,"
"Ini tante, Fitli lagi makan kue bolu. Tadi di beliin sama om Filman. Enak deh tante." Aulia hanya tersenyum mendengar celotehan keponakannya itu yang masih lugu. Sambil terus melangkahkan kakinya kedepan sambil menuntun Fitri, dan semakin menjauhi Firman yang masih tengah tertegun di tempatnya berdiri, Aulia terus berdoa agar cintanya kini bisa bersemi dengan indah di sisi Tuhannya. Kini dia berjanji untuk tidak lagi menempatkan cinta lain selain cintanya kepada Allah Swt, Rabb semesta alam yang Maha Pemberi Cinta. Dan sekali lagi dia hanya bisa membalut cintanya itu dalam doa yang selalu terpanjatkan kepada Sang Pemilik Cinta, Allah Azza Wajalla.
Aulia semakin jauh melangkah, sedangkan Firman mendapati secarik kertas di bangku taman tempat Aulia duduk tadi. Dia mengambil kertas itu. Isisnya adalah sebuah surat tulisan tangan Aulia. Tanpa pikir panjang lagi, dia pun membacanya.
Assalamu'alaikum
Akh Firman,
Maafkan aku yang telah mencintaimu. Maafkan aku yang telah membuat hariharimu terganggu. Mungkin selama ini kau tak menyadari kalau ada seorang ukhti yang mengharapkanmu. Aku pun tidak tahu dari sisi apa Άku mencintaimu. Perasaan itu tiba-tiba saja menyusup di dalam hatiku saat aku pertama kali melihatmu tiga tahun yang lalu. Apa aku salah jika aku memendam rasa ini padamu? Sungguh, jika aku ditanya apakah aku menginginkan rasa ini, aku akan menjawab, ini bukanlah keinginanku. Tapi Allah yang telah menganugerahkan rasa ini padaku.
Akh Firman,Apa yang harus aku lakukan? Selalu pertanyaan itu yang aku lontarkan pada setiap sudut di hatiku. Setiap saat aku selalu berharap agar Allah selalu memberikan jawaban itu padaku. Tapi sampai sekarang, aku belum menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan itu. Bisakah kau menolongku? Jika memang aku salah dalam mencintaimu, maka aku berharap agar engkau berkenan memaafkanku. Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu, apakah engkau pernah jatuh cinta?
Akh Firman,Sungguh.. jika perasaan cinta ini tidak begitu dalam padamu, aku juga tidak ingin seperti ini. Seperti wanita yang tidak mempunyai harga diri. Mungkin disaat yang sama, disaat engkau tahu bahwa aku mencintaimu, engkau sudah mulai tidak mau tahu semua tentangku.
Akh Firman,Haruskah aku merasa bersalah atas perasaan ini? Perasaan yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan,andai saja tiga tahun lalu aku tidak pernah datang ke konser itu, Andai saja tiga tahun lalu kakakku tidak pernah mengajakku ke tempat itu. Andai saja tiga tahun lalu aku mempunyai alasan agar aku tidak jadi pergi kesana. Andai saja tiga tahun lalu aku tidak pernah melihatmu,Pasti semuanya tidak akan seperti ini jadinya.
Akh Firman,Sekuat tenaga aku selalu berusaha untuk bisa melupakanmu. Melupakan bayangmu, melupakan semua tentang dirimu. Tapi yang aku dapat, apa kau tahu Akhi? Hatiku semakin sakit. Sakit sekali. Kalau saja kau tahu apa yang aku rasakan saat ini. Tapi aku tak tahu apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui perasaanku, mungkin kau sudah tak mau tahu lagi tentangku.
Akh Firman,Sekali lagi maafkan aku. Jika memang takdir telah menentukan kalau aku dan engkau tidak berjodoh dan tidak bisa bersatu, maka memang inilah jalan yang terbaik yang telah Allah berikan untuk kita. Suatu saat kau akan menemukan belahan jiwamu. Begitu juga denganku. Dan 'dia' adalah yang terbaik, yang kelak akan Allah berikan untukku, sebagai pengganti dirimu.
Akh Firman,Maafkan aku yang telah mencintaimu.........
Wassalamu'alaikum.....
Setelah membaca surat itu, sekilas Firman tertegun menatap Aulia dari belakang yang terus melangkah dengan pasti sambil terus bercanda ria dengan keponakan kecilnya, Fitri. Dia tidak tahu apakah keputusannya untuk tetap tidak menikahi Aulia adalah keputusan yang benar atau tidak. Tapi yang pasti, hatinya saat ini sangat ragu dan bimbang untuk kembali memutuskan apakah Aulia memang jodoh yang sudah Allah siapkan untuknya dengan jalan yang begitu rumit ini,Ataukah Aulia hanya sekedar intermezo yang hanya melintasi fase kehidupannya ªåĴĴäª . Entahlah.
Saat ini Firman masih terus tertunduk diam sambil terus mencermati kata-kata dalam surat yang Aulia tulis untuknya. Setelah menghela nafasnya, dia merobek surat itu dan membuangnya kedalam kaleng yang masih dipenuhi oleh kobaran api yang tidak terlalu besar itu namun bisa segera menghanguskan surat yang ia lemparkan kedalamnya.
Sementara itu Aulia masih terus saja bercanda ria dengan Fitri. Ia tak lagi menghiraukan Firman yang ia tinggalkan sendiri di bangku taman. Kini ia berazzam untuk tidak lagi memikirkan siapapun dan apapun selain Allah swt. Ya meskipun itu sangat sulit, tapi menurutnya tidak ada yang tidak mungkin selama manusia itu mau berusaha. Dalam gelak tawa dan candanya bersama Fitri, terselip sebuah syair lagu yang pernah ia dengar sebelumnya, yang bunyinya,
Haruskah diri ini menjerit dan berlari
Mengejar dirimu yang kian jauh melangkah....
Atau ku harus lari dari kenyataan ini
Memendam cinta dan coba melupakanmu...
Mungkin jika seorang pecundang bisa berpikiran seperti itu. Seperti dirinya dulu yang sempat menjadi seorang pecundang.
Namun kini dia bukan lagi seorang pecundang yang hanya bisa pasrah dengan keadaan tanpa mau berusaha untuk merubahnya kearah yang lebih baik. Kali ini dia yakin, bahwa dirinya pasti bisa mengubur semua kenangan yang tak semestinya ada dalam hatinya.
Untuk menjadi seorang akhwat sejati yang selalu istiqomah dijalan da'wah-Nya. Matahari terus terpancar dari ufuk timur. Sinarnya tak lagi menghangatkan namun cukup untuk memberikan pencerahan kepada hati dan jiwa para penerima sinarnya, bahwa matahari masih setia menemani langkah-langkah mereka dan masih banyak cinta yang perlu mereka bagikan. Pada orang tua, keluarga, sahabat, dan makhluk Allah yang lain yang tak hanya sekedar cinta berbalut hawa nafsu, namun cinta yang senantiasa di balut dengan kemanisan iman, keindahan taqwa, dan kesucian doa. Ya, cinta yang selalu terbalut dengan doa kepada Sang Pemilik Cinta, Rabb semesta alam, Allah swt.
Dia-lah yang pantas terlebih dahulu mendapatkan cinta hamba-hamba-Nya, sebelum hamba- Nya yang lemah.
"Terima kasih Ya Rabb. Engkau telah menunjukkan jalan kehidupanku yang lurus, jalan yang Engkau anugerahi. Aamiin." Ucap Aulia sambil terus melangkah dengan pasti meninggalkan Firman dan meninggalkan kenangan masa lalunya. Melangkah untuk menggapai hari yang lebih cerah.
TAMAT
Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang tengah jatuh cinta, namun tidak bisa memiliki. Obat bukanlah penyembuh rasa sakit. Namun obat adalah perantara atas kesembuhan yang Allah berikan.
Wallahu'alam...

Syukron uhkty :)
BalasHapus