♥*~ MAHAR CINTA UNTUK ANISA ~*♥
Bag (3)
Yuk mari baca lagi.....
Ba'da Magrib aku baru sampai di Masjid Nurul Anwar ini,sedikit telat karena aku harus mengantar Ibu ke RSU Jombang ada tetangga Ibu yg melahirkan.
Masjid Nurul Anwar ini sangat sederhana bentuknya sebagian terlihat terbuka dan minim tembok hanya kaca bening dan beberapa ukiran kayu sederhana sehingga masjid ini nampak luas.
Aku bertemu 3 laki2,aku bisa menebaknya mereka adalah ke 3 saudaraku yg mabit dimasjid ini,ada tas rangsel disamping mereka.Mereka terlihat begitu siap untuk mabit malam ini.
Lelaki pertama bernama Pak Agus meski ia hanya lulusan SMA saja tapi ia telah tercatat sebagai PNS dikantor dinas pendidikan Kabupaten Jombang.Pak Baihaqi adalah lelaki kedua peserta mabit,ia lulusan Universitas Islam Malang sekarang mengajar di SMA N 3 Jombang.Lelaki ketiga bernama Pak Hasan,ia guru di MTS N Plandi Jombang kami berempat langsung akrab tanpa terlihat ada semacam persaingan atau permusuhan.Malah,mereka berniat mengundurkan diri jika mereka tahu bahwa yg melamar Anisa tidak seorang saja .Namun,akhirnya kami memutuskan untuk tetap menyelesaikan mabit ini apapun hasil dari keputusan Kyai Faqih nanti.
Seusai shalat isya dikejutkan oleh kedatangan seorang Pak Tua Yg hanya berkaos singlet dan bersarung tapi kami tahu ia bukan orang gila hanya lelaki tua yg miskin dan pikun entah dari mana asalnya tiba2 sudah berada diserambi masjid.
Kami mencoba bertanya tentang tempat tinggalnya hanya terjawab dg gelengan dan anggukan kepala kemudian Pak Baihaqi memberikan sebungkus nasi untuk Pak Tua tersebut.Pak Tua itu langsung melahapnya seketika,kami coba bertanya tentang nama dan alamatnya ia hanya mengangguk berkali-kali bahkan bicaranya ngelantur.
Tiba2 Pak Tua tersebut menggigil serta merta Pak Baihaqi melepas jaket yg ia kenakan dan langsung diberikan kepada Pak Tua.
"Rumah saya di Pulerejo,saya mau kesurabaya tapi uang hilang dibus.Saya mau ke Surabaya"
Rupanya Pak Tua itu telah kehilangan uang dibus atau mungkin lupa tidak membawa uang untuk ke Surabaya.
Hingga kondektur bus menurunkannya di depan masjid.
"Mengapa ke Surabaya" tanyaku.
"Cucu!" jawabnya singkat.
"Apakah keluarga dirumah tahu,jika Bapak pergi ke Surabaya?"
Pak Tua itu hanya menggeleng,sementara Pak Baihaqi mengancingkan jaket yg Pak Tua kenakan kemudian Pak Baihaqi memberi sejumlah uang untuk Pak Tua kedermawanan Pak Baihaqi memang luar biasa.
"Ini sekadarnya,Pak.Pulanglah! Keluarga Bapak dirumah pasti sangat mencemaskan lain kali saja ke Surabaya.Bersama keluarga saja,jangan sendiri ya,Pak" pinta Pak Baihaqi.
"Tidak! Saya tidak mau uang,saya mau ke Surabaya bertemu cucu!"
"Ke Surabaya lain kali saja,ini sudah larut malam sebaiknya bapak segera pulang keluarga dirumah pasti sedang kebingungan mencari Bapak" pinta Pak Baihaqi kembali.
Akhirnya ia mau menerima uang pemberian Pak Baihaqi kemudian kami mengantarkan ke bibir serambi masjid sementara Pak Tua itu berjalan sendiri kearah jalan raya untuk menunggu bus ke Pulorejo.
Tapi aku tidak tega,bagaimana mungkin membiarkan Pak Tua yg pikun itu pulang sendiri? Akankah ia benar2 pulang? Atau malah nekat ke Surabaya lagi? Tidak,aku tidak mungkin membiarkan Pak Tua pikun itu pulang sendiri.Aku segera menyusul dan mengantarnya pulang dg motorku.
***
Ada sebuah kereta kelinci yg diparkir didepan masjid Nurul Anwar sore ini.Puluhan santri TPQ sedang belajar Qira'ati diserambi masjid sebagian tertib mengaji tapi ada yg berlarian hingga membuat sibuk ustadz dan ustadazahnya mereka terlihat lucu dg kerudung penceng diwajahnya sementara itu ketiga saudaraku juga terlihat sibuk mengajar Qira'ati.
Pak Hasan menghampiriku,kuucap salam padanya.
"Mereka ini adalah santri TPQ dari Nurul Iman kami sengaja mengajak mereka kesini dalam rangka memakmurkan masjid.Pembelajaran Qira'ati dimasjid ini kurang berkembang dg adanya kegiatan seperti ini diharapkan masyarakat disini kebih antusias pada pendidikan Al Qur'an putra putrinya sekaligus juga bisa menjadi rekreasi bagi santri TPQ Nurul Iman yg lebih penting Kyai Faqih akan terkesan dg mabit kita!"
Subhanallah! Aku mengiyakan niatan mereka yg ingin memakmurkan masjid ini dg cara mendatangkan santri TPQ Nurul Iman yg Pak Hasan sendiri yg menjadi pendidik di TPQ tersebut.
Menjelang Magrib semua aktifitas TPQ sudah selesai mereka sudah kembali pulang dg kereta kelinci.Masjid mulai lenggang kembali,tenang.
Selepas isya kami berempat mengadakan diskusi sederhana dg menelaah dan mengambil hikmaq surah dari Al Qur'an kemudian kami lanjutkan pada shalat tasbih berjamaah lalu istirahat karena nanti malam kami Qiyamul lail bersama.
Malam ini terasa dingin sekali tak seperti mabit malam pertama kemarin hingga aku mengenakan 2 jaket sekaligus untung saja karpet dimasjid ini lumayan tebal,aku melanjutkan tilawah Al Qur'an hingga separuh malam.
***
Aku datang menjelang Magrib pada mabit ke 3 malam ini meski aku telah gagal dalam mabitku yg pertama tapi aku ingin tetap mabit dan beri'tikaf malam ini,aku juga bisa shalat tasbih berjamaah dg ke 3 saudaraku.
Terkadang ingin menangis jika teringat akan Anisa.Kenapa Allah tak mengizinkan hati kami bertemu? Adakah hati ini telah kotor? Ya Rabb,Zat yg maha mengetahui segala isi hati jika hati ini tak mencintai Anisa karena Mu maka hapuslah hasratku untuk memilikinya namun jika hati ini mencintai Anisa karena Mu maka pertemukan hati kami dalam naungan cinta Mu ikatlah hati kami dg temali cinta Mu agar keberkahan Mu selalu menyertai kami.
Saat aku datang sebagian pagar masjid telah bercat baru padahal sebelumnya warna putihnya telah pudar ternyata ke 3 saudaraku tersebut baru saja mengecat pagar masjid.
"Tadi kami bertiga mengecat pagar tapi belum selesai,habis isya nanti kami akan melanjutkan lagi jika mau Pak Fajar juga bisa ikut.Ya itung-itung untuk memakmurkan masjid kalau masjid lebih indah banyak pula jamaah yg datang ini dalam rangka memberi kesan baik akam kehadiran kita bahwa kita tidak saja mabit tapi juga memperindah masjid,apalagi besok kita sudah tidak disini lagi.
Astaghfirullah! Aku beristighfar lirih mendengar penjelasan Pak Agus.
"Afwan,Pak malam ini saya tidak mabit disini saya minta izin karena malam ini saya harus ikut membantu mempersiapkan untuk acara akhir sanah madrasah sekolah besok.
Pak Agus terlihat kecewa dg penolakanku,aku lebih memilih mementingkan acara akhir sanah besok karena aku yg bertanggung jawab untuk acara besok.
"Jika meninggalkan masjid ini berarti Pak Fajar gagal"
"Saya tahu,Pak.Biarlah mungkin bukan rezeki saya mungkin Anisa bukan jodoh saya tapi besok sore saya tetap akan menemui Kyai Faqih."
***
Angin sore masih bergetar didedaunan pohon anggur daunnya lebat menutupi sebagian halamah rumah Kyai Faqih.Sinar matahari sore ini terasa hangat anak2 kecil berlarian mereka hendak mengaji di TPQ milik Kyai Faqih sementara kulihat Anisa duduk disamping abi nya kemudian ia beranjak masuk kedalam rumah setelah mengetahui kedatanganku.Kyai Faqih langsung menyambutku dg hangat dan wajah yg berseri-seri.
"Kalian akan menikah tahun ini atau tahun depan? Secepatnya saja!"
"Subhanallah! Apa maksud Kyai? Siapa yg akan menikah?"
Kyai Faqih malah tertawa keras sekali hingga kursinya bergetar.
"Ya,kamu dg Anisa,Jar! Siapa lagi?"
"Subhanallah! Mengapa?"
Lagi2 Kyai Faqih tertawa terbahak,aku semakin tidak mengerti.
"Apa kamu sudah berubah pikiran lagi?"
"Tapi,Kyai.Afwan saya tidak mengerti bukankah saya telah gagal memenuhi syarat? Bahkan mabit di masjid Nurul Anwar pun saya gagal"
"Justru karena gagal itulah kamu akan menikah dg Anisa.Sekarang ceritakan alasan mengapa kamu mengantarkan kunci milik Hasanuddin yg tertinggal?"
"Bagaimana Kyai tahu?"
"Sudahlah! Ceritakan saja!"
"Saya simpati sekali pada pemuda seperti Hasanuddin tidak saja berbakti pada orang tua,dg mengayuh becak yg sarat sayuran dan menyiapkannya untuk dijual dipasar tapi ia juga mencintai Allah,ia menyempatkan untuk Qiyamul lail dimasjid sebelum ia berangkat kepasar dipagi buta.Subhanallah! Jika saya tidak mengantar kuncinya maka ia akan kembali dg mengayuh becak yg penuh dg sayuran ituatau jika becaknya telah sampai dipasar,dan ia kembali kemasjid tanpa becak maka akan butuh banyak waktu padahal saat itu telah menjelang subuh,saya hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan tersebut meskipun saya tahu perbuatan saya tersebut dapat menggagal pernikahan saya."
"Lalu mengapa kamu mengantar Pak Na'im pulang?"
"Kyai juga tahu tentang itu?"
"Sudahlah! Ceritakan saja!"
"Saat mabit dimasjid Tebuireng tersebut,Pak Na'im terlihat sakit awalnya Pak Rahmad yg ingin mengantarkannya pulang tapi Pak Rahmad juga terlihat sakit kemudian sayalah yg ganti mengantar Pak Na'im pulang karena esoknya Pak Na'im ada jam mengajar kewajiban manusia tidak saja beribadah kepada Allah melainkan juga menolong sesama manusia.Saya hanya ingin sedikit bersedekah,biarlah saya kehilangan kesempatan ke 2 saya."
"Berarti kamu sudah tidak ingin menikah dg Anisa?"
"Justru saya semakin mantap ingin menikah dg Anisa,menyempurnakan separuh ibadah bersama Anisa.Saya berusaha menjaga kemurnian niat,saya tak ingin menikah dg Anisa hanya karena berhasil menyempurnakan mabit.Apakah mabit saya akan barakah jika saya melalaikan orang lain yg membutuhkan pertolongan saya?"
"Lalu mengapa kamu juga mengantar Mbah Pur pulang ke Pulorejo?"
"Maksud Kyai,lelaki tua yg dimasjid Nurul Anwar?"
Kyai Faqih hanya mengangguk.Aku hampir tidak percaya ternyata Kyai Faqih juga mengenal Pak Tua yg pikun itu.
"Saya juga tidak mungkin membiarkan Pak Tua itu pulang sendiri,Kyai.Ia sudah tua dan pikun saya khawatir keluarganya pasti sangat cemas karena Mbah Pur pergi tanpa pamit.Anehnya,saat sampai dirumah Mbah Pur keluarganya terlihat tenang sekali."
Kyai Faqih malah tertawa mendengar penjelasanku sementara aku semakin tidak mengerti.
"Mengapa kamu menolak ajakan mengecat masjid?"
"Menurut saya cara mereka memakmurkan masjid adalah kurang tepat tidak dg menghias masjid tapi dg mendekatkan diri pada Allah serta amar ma'ruf nahi munkar bahkan Rasulullah pernah merobohkan masjid yg dibangun oleh orang2 munafik.Begitu juga ketika membawa santri TPQ Nurul Iman ke masjid Nurul Anwar bukan cara mereka yg keliru tapi niat mereka kurang tepat.
Hanyalah yg memakmurkan masjid2 Allah ialah orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah maka merekalah orang2 yg diharapkan termasuk golongan orang2 yg mendapat petunjuk.
Maaf kelancangan saya,Kyai.Tujuan yg baik berawal dari niat yg baik pula kita sering kali terjebak pada hal2 yg sebenarnya bertujuan baik namun penyakit hati seringkali mengancam niatan suci untuk itu menjaga kemurniatan niat karena Allah semangat sangat penting itulah yg berusaha saya lakukan."
"Barakallahulaka! Menikahlah dg Anisa,putraku!"
"Apa maksud,Kyai?"
"Sebenarnya semua penghalang dalam mabitmu,kamilah yg mengaturnya kami minta bantuan Hasanuddin,Pak Na'im,Pak Rahmad,Mbah Pur,Pak Agus,Pak Baihaqi dan Pak Hasan untuk menggagalkan mabitmu semua hanya sandiwara!"
"Astaghfirullahal'adzim! Apa maksud,Kyai?"
"Dari semula kami telah merestui pernikahan kalian.Ini hanya permainan,Anisa yg merencanakannya."
"Mengapa,Kyai?" Apakah ini balasan dari Anisa karena saya sempat menolak perjodohan kemarin?"
"Tidak,putraku.Kami hanya ingin mengetahui kejernihan hatimu menyikapi hal yg kuhadapi.Anisa yg lebih tahu alasan tepatnya,lebih jelasnya kamu bisa menanyakannya setelah kalian menikah nanti itupun jika kamu tidak berubah pikiran lagi."
"Saya tetap ingin menikah dg Anisa apapun alasan Anisa,izinkan saya untuk mencintai Anisa karena Allah."
Hari pernikahan pun tiba,resepsi yg sederhana digelar dihalaman rumah Kyai Faqih sementara ijab qabul berlangsung semalam.Kyai Faqih sendiri yg menikahkan kami sebuah mushaf Al Qur'an yg cantik dan seperangkat alat shalat lengkap telah kuberikan sebagai mahar namun mahar sebenarnya adalah mahar cinta yg tulus karena Allah yg telah kupersembahkan kepada Anisa.
Gerimis malam ini seakan tanpa henti tapi aku suka,aku teringat pada aku yg dulu yg slalu menitipkan doa diantara rintik gerimis agar dapat menikmati gerimis tak seorang diri ada belahan hati yg menemani indahnya gerimis yg bertasbih disetiap rintiknya.
Permintaan hati tersebut terwujud malam ini aku dapat mendekap Anisa belahan hati yg aku cintai setelah kami shalat sunnah 2 rakaat bersama kami menikmati gerimis yg berjatuhan diluar jendela kini Anisa telah berada dalam dekapanku.
"Maafkan aku,suamiku.Mabit itu sekadar sandiwara untuk menguji kesungguhan dan keimanan calon suamiku.Apakah ia mencintaiku karena kecantikanku ataukah mencintaiku karena Allah."
"Mengapa kamu melakukan itu?"
"Sssttt... Jangan terburu-buru,"jemari lembut tangannya menyentuh bibirku."Aku akan menjawabnya setelah kamu melakukan tugasmu."
Anisa menutup jendela kamar lalu menguncinya.
"Tugas apa?"
Anisa malah tertawa kecil sembari memutar tubuhnya hingga kerudungnya terjatuh dan tergerai rambut indahnya hingga ia jatuh dalam pelukanku.
"Tugasmu adalah mabit malam ini,suamiku.Tidak diluar melainkan didalam kamar ini!"
Kulihat surga saat kutatap matanya kubaca isyarat cinta pada setiap gerak bibirnnya hingga kubertasbih memuji Nya berulangkali hingga ia berbisik ditelingaku,"Karena... Karena aku ingin meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku karena Allah.
Angin dan gerimis masih bercumbu sembari bertasbih diluar sana,penuh cinta,penuh berkah sesekali menyapa kami dg lembut lewat celah jendela hingga kami selalu berselimut kebahagiaan dan keberkahan.
Tamat.
Bag (3)
Yuk mari baca lagi.....
Ba'da Magrib aku baru sampai di Masjid Nurul Anwar ini,sedikit telat karena aku harus mengantar Ibu ke RSU Jombang ada tetangga Ibu yg melahirkan.
Masjid Nurul Anwar ini sangat sederhana bentuknya sebagian terlihat terbuka dan minim tembok hanya kaca bening dan beberapa ukiran kayu sederhana sehingga masjid ini nampak luas.
Aku bertemu 3 laki2,aku bisa menebaknya mereka adalah ke 3 saudaraku yg mabit dimasjid ini,ada tas rangsel disamping mereka.Mereka terlihat begitu siap untuk mabit malam ini.
Lelaki pertama bernama Pak Agus meski ia hanya lulusan SMA saja tapi ia telah tercatat sebagai PNS dikantor dinas pendidikan Kabupaten Jombang.Pak Baihaqi adalah lelaki kedua peserta mabit,ia lulusan Universitas Islam Malang sekarang mengajar di SMA N 3 Jombang.Lelaki ketiga bernama Pak Hasan,ia guru di MTS N Plandi Jombang kami berempat langsung akrab tanpa terlihat ada semacam persaingan atau permusuhan.Malah,mereka berniat mengundurkan diri jika mereka tahu bahwa yg melamar Anisa tidak seorang saja .Namun,akhirnya kami memutuskan untuk tetap menyelesaikan mabit ini apapun hasil dari keputusan Kyai Faqih nanti.
Seusai shalat isya dikejutkan oleh kedatangan seorang Pak Tua Yg hanya berkaos singlet dan bersarung tapi kami tahu ia bukan orang gila hanya lelaki tua yg miskin dan pikun entah dari mana asalnya tiba2 sudah berada diserambi masjid.
Kami mencoba bertanya tentang tempat tinggalnya hanya terjawab dg gelengan dan anggukan kepala kemudian Pak Baihaqi memberikan sebungkus nasi untuk Pak Tua tersebut.Pak Tua itu langsung melahapnya seketika,kami coba bertanya tentang nama dan alamatnya ia hanya mengangguk berkali-kali bahkan bicaranya ngelantur.
Tiba2 Pak Tua tersebut menggigil serta merta Pak Baihaqi melepas jaket yg ia kenakan dan langsung diberikan kepada Pak Tua.
"Rumah saya di Pulerejo,saya mau kesurabaya tapi uang hilang dibus.Saya mau ke Surabaya"
Rupanya Pak Tua itu telah kehilangan uang dibus atau mungkin lupa tidak membawa uang untuk ke Surabaya.
Hingga kondektur bus menurunkannya di depan masjid.
"Mengapa ke Surabaya" tanyaku.
"Cucu!" jawabnya singkat.
"Apakah keluarga dirumah tahu,jika Bapak pergi ke Surabaya?"
Pak Tua itu hanya menggeleng,sementara Pak Baihaqi mengancingkan jaket yg Pak Tua kenakan kemudian Pak Baihaqi memberi sejumlah uang untuk Pak Tua kedermawanan Pak Baihaqi memang luar biasa.
"Ini sekadarnya,Pak.Pulanglah! Keluarga Bapak dirumah pasti sangat mencemaskan lain kali saja ke Surabaya.Bersama keluarga saja,jangan sendiri ya,Pak" pinta Pak Baihaqi.
"Tidak! Saya tidak mau uang,saya mau ke Surabaya bertemu cucu!"
"Ke Surabaya lain kali saja,ini sudah larut malam sebaiknya bapak segera pulang keluarga dirumah pasti sedang kebingungan mencari Bapak" pinta Pak Baihaqi kembali.
Akhirnya ia mau menerima uang pemberian Pak Baihaqi kemudian kami mengantarkan ke bibir serambi masjid sementara Pak Tua itu berjalan sendiri kearah jalan raya untuk menunggu bus ke Pulorejo.
Tapi aku tidak tega,bagaimana mungkin membiarkan Pak Tua yg pikun itu pulang sendiri? Akankah ia benar2 pulang? Atau malah nekat ke Surabaya lagi? Tidak,aku tidak mungkin membiarkan Pak Tua pikun itu pulang sendiri.Aku segera menyusul dan mengantarnya pulang dg motorku.
***
Ada sebuah kereta kelinci yg diparkir didepan masjid Nurul Anwar sore ini.Puluhan santri TPQ sedang belajar Qira'ati diserambi masjid sebagian tertib mengaji tapi ada yg berlarian hingga membuat sibuk ustadz dan ustadazahnya mereka terlihat lucu dg kerudung penceng diwajahnya sementara itu ketiga saudaraku juga terlihat sibuk mengajar Qira'ati.
Pak Hasan menghampiriku,kuucap salam padanya.
"Mereka ini adalah santri TPQ dari Nurul Iman kami sengaja mengajak mereka kesini dalam rangka memakmurkan masjid.Pembelajaran Qira'ati dimasjid ini kurang berkembang dg adanya kegiatan seperti ini diharapkan masyarakat disini kebih antusias pada pendidikan Al Qur'an putra putrinya sekaligus juga bisa menjadi rekreasi bagi santri TPQ Nurul Iman yg lebih penting Kyai Faqih akan terkesan dg mabit kita!"
Subhanallah! Aku mengiyakan niatan mereka yg ingin memakmurkan masjid ini dg cara mendatangkan santri TPQ Nurul Iman yg Pak Hasan sendiri yg menjadi pendidik di TPQ tersebut.
Menjelang Magrib semua aktifitas TPQ sudah selesai mereka sudah kembali pulang dg kereta kelinci.Masjid mulai lenggang kembali,tenang.
Selepas isya kami berempat mengadakan diskusi sederhana dg menelaah dan mengambil hikmaq surah dari Al Qur'an kemudian kami lanjutkan pada shalat tasbih berjamaah lalu istirahat karena nanti malam kami Qiyamul lail bersama.
Malam ini terasa dingin sekali tak seperti mabit malam pertama kemarin hingga aku mengenakan 2 jaket sekaligus untung saja karpet dimasjid ini lumayan tebal,aku melanjutkan tilawah Al Qur'an hingga separuh malam.
***
Aku datang menjelang Magrib pada mabit ke 3 malam ini meski aku telah gagal dalam mabitku yg pertama tapi aku ingin tetap mabit dan beri'tikaf malam ini,aku juga bisa shalat tasbih berjamaah dg ke 3 saudaraku.
Terkadang ingin menangis jika teringat akan Anisa.Kenapa Allah tak mengizinkan hati kami bertemu? Adakah hati ini telah kotor? Ya Rabb,Zat yg maha mengetahui segala isi hati jika hati ini tak mencintai Anisa karena Mu maka hapuslah hasratku untuk memilikinya namun jika hati ini mencintai Anisa karena Mu maka pertemukan hati kami dalam naungan cinta Mu ikatlah hati kami dg temali cinta Mu agar keberkahan Mu selalu menyertai kami.
Saat aku datang sebagian pagar masjid telah bercat baru padahal sebelumnya warna putihnya telah pudar ternyata ke 3 saudaraku tersebut baru saja mengecat pagar masjid.
"Tadi kami bertiga mengecat pagar tapi belum selesai,habis isya nanti kami akan melanjutkan lagi jika mau Pak Fajar juga bisa ikut.Ya itung-itung untuk memakmurkan masjid kalau masjid lebih indah banyak pula jamaah yg datang ini dalam rangka memberi kesan baik akam kehadiran kita bahwa kita tidak saja mabit tapi juga memperindah masjid,apalagi besok kita sudah tidak disini lagi.
Astaghfirullah! Aku beristighfar lirih mendengar penjelasan Pak Agus.
"Afwan,Pak malam ini saya tidak mabit disini saya minta izin karena malam ini saya harus ikut membantu mempersiapkan untuk acara akhir sanah madrasah sekolah besok.
Pak Agus terlihat kecewa dg penolakanku,aku lebih memilih mementingkan acara akhir sanah besok karena aku yg bertanggung jawab untuk acara besok.
"Jika meninggalkan masjid ini berarti Pak Fajar gagal"
"Saya tahu,Pak.Biarlah mungkin bukan rezeki saya mungkin Anisa bukan jodoh saya tapi besok sore saya tetap akan menemui Kyai Faqih."
***
Angin sore masih bergetar didedaunan pohon anggur daunnya lebat menutupi sebagian halamah rumah Kyai Faqih.Sinar matahari sore ini terasa hangat anak2 kecil berlarian mereka hendak mengaji di TPQ milik Kyai Faqih sementara kulihat Anisa duduk disamping abi nya kemudian ia beranjak masuk kedalam rumah setelah mengetahui kedatanganku.Kyai Faqih langsung menyambutku dg hangat dan wajah yg berseri-seri.
"Kalian akan menikah tahun ini atau tahun depan? Secepatnya saja!"
"Subhanallah! Apa maksud Kyai? Siapa yg akan menikah?"
Kyai Faqih malah tertawa keras sekali hingga kursinya bergetar.
"Ya,kamu dg Anisa,Jar! Siapa lagi?"
"Subhanallah! Mengapa?"
Lagi2 Kyai Faqih tertawa terbahak,aku semakin tidak mengerti.
"Apa kamu sudah berubah pikiran lagi?"
"Tapi,Kyai.Afwan saya tidak mengerti bukankah saya telah gagal memenuhi syarat? Bahkan mabit di masjid Nurul Anwar pun saya gagal"
"Justru karena gagal itulah kamu akan menikah dg Anisa.Sekarang ceritakan alasan mengapa kamu mengantarkan kunci milik Hasanuddin yg tertinggal?"
"Bagaimana Kyai tahu?"
"Sudahlah! Ceritakan saja!"
"Saya simpati sekali pada pemuda seperti Hasanuddin tidak saja berbakti pada orang tua,dg mengayuh becak yg sarat sayuran dan menyiapkannya untuk dijual dipasar tapi ia juga mencintai Allah,ia menyempatkan untuk Qiyamul lail dimasjid sebelum ia berangkat kepasar dipagi buta.Subhanallah! Jika saya tidak mengantar kuncinya maka ia akan kembali dg mengayuh becak yg penuh dg sayuran ituatau jika becaknya telah sampai dipasar,dan ia kembali kemasjid tanpa becak maka akan butuh banyak waktu padahal saat itu telah menjelang subuh,saya hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan tersebut meskipun saya tahu perbuatan saya tersebut dapat menggagal pernikahan saya."
"Lalu mengapa kamu mengantar Pak Na'im pulang?"
"Kyai juga tahu tentang itu?"
"Sudahlah! Ceritakan saja!"
"Saat mabit dimasjid Tebuireng tersebut,Pak Na'im terlihat sakit awalnya Pak Rahmad yg ingin mengantarkannya pulang tapi Pak Rahmad juga terlihat sakit kemudian sayalah yg ganti mengantar Pak Na'im pulang karena esoknya Pak Na'im ada jam mengajar kewajiban manusia tidak saja beribadah kepada Allah melainkan juga menolong sesama manusia.Saya hanya ingin sedikit bersedekah,biarlah saya kehilangan kesempatan ke 2 saya."
"Berarti kamu sudah tidak ingin menikah dg Anisa?"
"Justru saya semakin mantap ingin menikah dg Anisa,menyempurnakan separuh ibadah bersama Anisa.Saya berusaha menjaga kemurnian niat,saya tak ingin menikah dg Anisa hanya karena berhasil menyempurnakan mabit.Apakah mabit saya akan barakah jika saya melalaikan orang lain yg membutuhkan pertolongan saya?"
"Lalu mengapa kamu juga mengantar Mbah Pur pulang ke Pulorejo?"
"Maksud Kyai,lelaki tua yg dimasjid Nurul Anwar?"
Kyai Faqih hanya mengangguk.Aku hampir tidak percaya ternyata Kyai Faqih juga mengenal Pak Tua yg pikun itu.
"Saya juga tidak mungkin membiarkan Pak Tua itu pulang sendiri,Kyai.Ia sudah tua dan pikun saya khawatir keluarganya pasti sangat cemas karena Mbah Pur pergi tanpa pamit.Anehnya,saat sampai dirumah Mbah Pur keluarganya terlihat tenang sekali."
Kyai Faqih malah tertawa mendengar penjelasanku sementara aku semakin tidak mengerti.
"Mengapa kamu menolak ajakan mengecat masjid?"
"Menurut saya cara mereka memakmurkan masjid adalah kurang tepat tidak dg menghias masjid tapi dg mendekatkan diri pada Allah serta amar ma'ruf nahi munkar bahkan Rasulullah pernah merobohkan masjid yg dibangun oleh orang2 munafik.Begitu juga ketika membawa santri TPQ Nurul Iman ke masjid Nurul Anwar bukan cara mereka yg keliru tapi niat mereka kurang tepat.
Hanyalah yg memakmurkan masjid2 Allah ialah orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah maka merekalah orang2 yg diharapkan termasuk golongan orang2 yg mendapat petunjuk.
Maaf kelancangan saya,Kyai.Tujuan yg baik berawal dari niat yg baik pula kita sering kali terjebak pada hal2 yg sebenarnya bertujuan baik namun penyakit hati seringkali mengancam niatan suci untuk itu menjaga kemurniatan niat karena Allah semangat sangat penting itulah yg berusaha saya lakukan."
"Barakallahulaka! Menikahlah dg Anisa,putraku!"
"Apa maksud,Kyai?"
"Sebenarnya semua penghalang dalam mabitmu,kamilah yg mengaturnya kami minta bantuan Hasanuddin,Pak Na'im,Pak Rahmad,Mbah Pur,Pak Agus,Pak Baihaqi dan Pak Hasan untuk menggagalkan mabitmu semua hanya sandiwara!"
"Astaghfirullahal'adzim! Apa maksud,Kyai?"
"Dari semula kami telah merestui pernikahan kalian.Ini hanya permainan,Anisa yg merencanakannya."
"Mengapa,Kyai?" Apakah ini balasan dari Anisa karena saya sempat menolak perjodohan kemarin?"
"Tidak,putraku.Kami hanya ingin mengetahui kejernihan hatimu menyikapi hal yg kuhadapi.Anisa yg lebih tahu alasan tepatnya,lebih jelasnya kamu bisa menanyakannya setelah kalian menikah nanti itupun jika kamu tidak berubah pikiran lagi."
"Saya tetap ingin menikah dg Anisa apapun alasan Anisa,izinkan saya untuk mencintai Anisa karena Allah."
Hari pernikahan pun tiba,resepsi yg sederhana digelar dihalaman rumah Kyai Faqih sementara ijab qabul berlangsung semalam.Kyai Faqih sendiri yg menikahkan kami sebuah mushaf Al Qur'an yg cantik dan seperangkat alat shalat lengkap telah kuberikan sebagai mahar namun mahar sebenarnya adalah mahar cinta yg tulus karena Allah yg telah kupersembahkan kepada Anisa.
Gerimis malam ini seakan tanpa henti tapi aku suka,aku teringat pada aku yg dulu yg slalu menitipkan doa diantara rintik gerimis agar dapat menikmati gerimis tak seorang diri ada belahan hati yg menemani indahnya gerimis yg bertasbih disetiap rintiknya.
Permintaan hati tersebut terwujud malam ini aku dapat mendekap Anisa belahan hati yg aku cintai setelah kami shalat sunnah 2 rakaat bersama kami menikmati gerimis yg berjatuhan diluar jendela kini Anisa telah berada dalam dekapanku.
"Maafkan aku,suamiku.Mabit itu sekadar sandiwara untuk menguji kesungguhan dan keimanan calon suamiku.Apakah ia mencintaiku karena kecantikanku ataukah mencintaiku karena Allah."
"Mengapa kamu melakukan itu?"
"Sssttt... Jangan terburu-buru,"jemari lembut tangannya menyentuh bibirku."Aku akan menjawabnya setelah kamu melakukan tugasmu."
Anisa menutup jendela kamar lalu menguncinya.
"Tugas apa?"
Anisa malah tertawa kecil sembari memutar tubuhnya hingga kerudungnya terjatuh dan tergerai rambut indahnya hingga ia jatuh dalam pelukanku.
"Tugasmu adalah mabit malam ini,suamiku.Tidak diluar melainkan didalam kamar ini!"
Kulihat surga saat kutatap matanya kubaca isyarat cinta pada setiap gerak bibirnnya hingga kubertasbih memuji Nya berulangkali hingga ia berbisik ditelingaku,"Karena... Karena aku ingin meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku karena Allah.
Angin dan gerimis masih bercumbu sembari bertasbih diluar sana,penuh cinta,penuh berkah sesekali menyapa kami dg lembut lewat celah jendela hingga kami selalu berselimut kebahagiaan dan keberkahan.
Tamat.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar