Jumat, 29 Maret 2013

MAHAR CINTA UNTUK ANISA BAG (2)


♥*~ MAHAR CINTA UNTUK ANISA ~*♥


Bag (2)

Yuk baca lagi sahabat ......



Masjid Jami Cukir letaknya sekitar 120 meter dari rumah kami dan 100 meter dari jalan raya.Sedikit masuk kedalam gang aku dan Ayah sering shalat Jum'at di masjid tersebut selain dimushala seberang jalan kami hanya cukup berjalan kaki saja untuk sampai kesana.

Masjid tersebut berhimpitan dg pesantren Darul Falah tak heran jika masjid tersebut selalu semarak oleh santri2 yg tholabul ilmi dipesantren besar itu.Masjid Jami Cukir lumayan luas dan sebagian telah bertingkat banyak sekali kegiatan yg rutin diadakan di masjid diantaranya kegiatan Remaja Masjid,pembacaan Maulid Diba' hingga kegiatan mingguan ibu2 muslimah.Terlebih bulan Ramadhan.kegiatan dimasjid tersebut semakin semarak.Ada pengajian kitab salaf di setiap ba'da shalat subuh,dzuhur dan ashar yg dikaji oleh KH.Ishomuddin Hadzik dari Tebuireng dan 2 ustadz dari pesantren Darul Falah.


Namun ada satu kegiatan rutin yg melibatkan jama'ah yg cukup besar bahkan bisa mencapai ratusan bahkan ribuan jama'ah.Kegiatan jama'ah Thariqat Naq-Sabandiyah tersebut rutin diadakan setiap hari senin oleh karena itu kegiatan tersebut lebih populer dg nama senenan begitu banyaknya jama'ah biasanya hingga meluber mendekati jalan raya.

Aku mengenal beberapa takmir masjid tersebut ada Pak Hamid yg rumahnya tepat didepan masjid,Pak Zuhdi yg tinggal tepat diselatan seberang masjid dan beberapa teman remaja masjid lainnya.

Menjelang Magrib aku dan Ayah berangkat kemasjid.Aku telah membicarakan tentang rencana mabit malam ini pada Ayah aku hanya membawa mushaf Al Qur'an,sehelai jaket,sepotong roti,sebotol air mineral dan sedikit uang untuk jaga2 jika diperlukan.

Seusai shalat Magrib aku minta izin pada Pak Hamid untuk mabit malam ini dan insya allah 2 malam berikutnya.Pak Hamid pun mengizinkannya meskipun ia sedikit heran karena sebelumnya aku tidak pernah mabit dimasjid kecuali bulan ramadhan.Kalaupun diluar bulan ramadhan aku bermalan dimasjhd jika ada kegiatan remaja masjid yg berlangsung hingga larut malam dan aku malas untuk pulang.


Aku membaca Al Qur'an hingga menjelang shalat isya.Aku menata kembali niatku,aku ingin mabitku malam ini karena Allah bukan karena meminang Anisa atau tujuan yg lain.Hanya karena Allah semata.

Nawaitu i'tikafa lillahi ta'ala
Ba'da shalat isya dan shalat sunnah ba'diyah aku melanjutkan tiwalah Al Qur'an,aku tak sendiri malam itu ada beberapa santri yg menghabiskan malam dg membaca Al Qur'an tapi sayang satu persatu dari mereka meninggalkan masjid seiring merayapnya malam.

Menjelang pukul 10 malam,aku mulai letih karena terlalu lama duduk aku memperbarui wudhuku kemudian shalat tasbih 4 rakaat dg 2 salam berbeda dg shalat tasbih yg biasa dikerjakan pada siang hari,4 rakaat dg 1 salam.

Kubaca tasbih sebanyak 15 kali setelah membaca surah Al Fatihah dan surah Al Qur'an lainnya sedangkan setelah tasbih ruku' aku bertasbih 10 kali begitu juga setelah membaca tahmid saat i'tidal setelah tasbih sujud,setelah duduk diantara 2 sujud dan setelah tasbih sujud kedua masing2 bertasbih 10 kali kemudian bertasbih 10 kali juga saat duduk istikharah menjelang rakaat pertama begitu juga pada rakaat kedua,ketiga dan keempat sehingga jumlah total semuanya ada 300 tasbih dalam 4 rakaat shalat tasbih.

Biasanya aku shalat tasbih sekali dalam sebulan Insya Allah aku akan mengerjakannya disetiap malam selama mabit di Masjid Jami Cukir ini menyenangkan sekali bisa mengerjakan shalat tasbih yg merupakan tuntunan Rasulullah ada semacam kekuatan dan energi positif yg kuhirup dari setiap tasbih yg kubaca hingga aku merasakan semakin dekat dg Allah.


"Jika engkau bisa mengerjakannya setiap hari satu kali maka kerjakan.Jika tidak bisa maka kerjakan pada setiap Jum'at satu kali,jika tidak bisa juga maka kerjakan dalam seumur hidupmu satu kali saja"

Malam semakin larut kini tinggal aku sendiri didalam masjid.Beberapa lampu diserambi masjid telah padam hanya lampu didalam masjid ini yg masih kubiarkan menyala.Aku meneruskan membaca Al Qur'an kembali.Bersembunyi dari balik jaketku dari terpaan angin yg menerobos celah pintu masjid sesekali kuteguk air mineral.

Saat mulai letih aku menyelinginya dg shalat sunnah 2 rakaat juga memperbanyak berdzikir aku tak ingin kesempatan berharga ini berlalu begitu saja.Rutinitas yg padat disetiap hari seringkali melalaikan aku untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah inilah saatnya untuk menambal celah2 amalan sunnah yaumiyah.

Tak terasa aku membaca Al Qur'an hingga pukul 1 pagi aku sangat letih hingga kubersandar didinding untuk mengurangi penatku aku terkantuk berkali-kali dalam duduk bersilaku sementara tanganku masih menggenggam mushaf kecil.

Hingga aku terjaga saat jam besar yg berada dipojok berdentang keras sekali sebanyak 2 kali aku meluruskan kedua kakiku yg terasa berat sekali karena berjam-jam duduk bersila kuteguk air mineral dan melahap sebungkus roti yg kubawa dari rumah.


Kemudian aku menggosok gigi dan berwudhu.Dalam sepertiga malam yg terakhir ini,angin malam berhembus semakin kencang langit sedikit berawan rembulan nampak temaran.

Pagi ini aku merasa tak sendiri tubuhku terasa hangat sekali meski angin sekali-kali menamparku saat mengambil air wudhu.Aku merasa ada ribuan malaikat turun ke bumi berebut wudhu denganku,sebelum menjemput ampunan doa dan asa dari hamba Allah yg sedang terjaga untuk Nya.

Aku mengerjakan shalat Tahajud sebanyak 6 rakaat kemudian kututup dg shatat witir sebanyak 3 rakaat aku berharap menemukan seperti malam terakhir milik Nya pada 2 malamku berikutnya karena aku ingin selalu menjadi hamba yg selalu disayang Allah.

Kemudian aku melanjutkan tilawah Al Qur'an hingga menjelang subuh aku berdiri lagi untuk shalat sunnah fajar 2 rakaat sebelum muazin mengumandangkan adzan subuh.

Alhamdulilah! Aku telah menyelesaikan mabit malam ini dg baik meski masih mengantuk berat aku tetap harus mengajar di MA Tebuireng dan mengerjakan tugas kuliahku.Aku beruntung sekali karena hari inh aku hanya mempunyai satu jam mengajar saja itu pun pagi hari jadi aku aisa qailulah yg cukup menjelang dzuhur untuk bekal mabit nanti malam.

Dalam mabit ke 2 malam ini aku juga membawa hasil ulangan harian yg harus kukoreksi.Bagaimanapun tugas tersebut merupakan tanggung jawabku sebagai pendidik aku berharap mabit ke 2 berjalan seperti kemarin.Aku pun melakukan amalan ibadah seperti kulakukan kemarin malam.Tilawah Al Qur'an,shalat tasbih,qiyamul lail dan memperbanyak dzikir.Alhamdulilah! Aku lebih banyak terjaga meski terkantuk menjelang shalat Tahajud.

***
Malam ke 3,berbeda dg malam pertama dan kedua mabit pada malam ketiga ini terasa lebih ringan.Aku merasa nyaman sekali bahkan aku dapat menyelesaikan tugas kuliahku dan Silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran hanya semalam meski belum berupa ketikan paling tidak aku akan lebih mudah mengetiknya karena aku sudah membuat drafnya.


Tugas kuliah tersebut hanya kukerjakan saat aku letih tilawah Al Qur'an namun aku lebih banyak memilih tilawah dalam setiap mabitku hingga aku sering terkantuk dalam duduk bersilaku dg mushaf Al Qur'an yg masih tergenggam ditangan.

Tiba2 aku terjaga oleh lantunan surah Al Qur'an yg sedikit keras,ada seorang yg sedang shalat tepat disampingku kupandang lekat wajahnya yg sepertinya aku mengenalnya.Subhanallah! Ia adalah Hasanuddin rumahnya tak jauh dari masjid ini,Ia juga siswa kelas X1 IPA 1 di MA Tebuireng.

Suaranya sangat merdu melantunkan surah Al Qur'an.Ia terlihat khusyuk dan thuma'ninah dalam sethap gerakan shalatnya aku tak henti2 nya bertasbih dalam hati.Hampir tak percaya ternyata masih ada remaja yg masih mau menghidupkan sepertiga malam terakhir Mu,Ya Allah.Remaja yg masih mau memakmurkan masjid.Aku harus banyak belajar padanya tentang semangat mendekatkan diri kepada Allah.Tentang hati yg selalu merindu untuk bertemu dengan Mu.

Saat aku menuju tempat wudhu untuk memperbarui wudhuku aku melihat sebuah becak yg sarat dg kubis,wortel,kentang dan sayuran lainnya aku baru tahu Hasanuddin juga membantu Ibunya mengantarkan sayuran untuk dijual dipasar padahal sekarang masih jam 3 pagi.Hasanuddin harus mengayuh becak yg sedemikian beratnya ditambah lagi dingin yg begitu sangat tapi ia masih mau menyempatkan diri untuk shalat Tahajud dimasjid sebelum mengantarkan sayurannya kepasar.Subhanallah!

Aku menghampiri Hasanuddin seusai salam kedua dari shalatnya.Ia hanya tersenyum bibirnya masih bergemuruh dzikir.
"Bapak masih disini? Ada kegiatan apa kok sampai bermalam dimasjid?" sapanya.
"Tidak ada,hanya ingin i'tikaf saja.Apa kamu qiyamul lail disini setiap hari?"
Hasanuddin hanya mengangguk sekali sembari tersenyum.
"Permisi,Pak.Saya harus mengantar sayuran kepasar.Sayurannya agak banyak khawatir belum selesai menatanya dikios saat subuh tiba."



"Iya,silahkan.Hati2!"
Hasanuddin bergegas meninggalkan masjid.Hasanuddin yg kurus itu harus mengayuh becaknya yg sarat dg sayuran.Ya Rabb,izinkan aku memiliki putra yg saleh seperti dia suatu saat nanti anak yg tidak saja berbakti kepada orang tua tapi juga mencintai Mu.

Astaghfirullah! Kunci milik Hasanuddin tertinggal! Segera kupungut kunci yg tergeletak diatas karpet aku setengah berlari mengejar Hasanuddin dari becaknya aku teriak lirih saja,aku tak ingin membuat kegaduhan dipagi buta ini ternyata Hasanuddin telah berada diujung gang hendak menyeberang kejalan raya.Tanpa kunci itu,Hasanuddin tidak bisa membuka kiosnya.

"Hasanuddin! Kuncimu tertinggal!"
"Astaghfirullahal'adzim! Terima kasih,Pak."
Aku hanya tersenyum sembari mengatur nafasku yg sengal sementara Hasanuddin dan becaknya tengah menyeberang jalan kemudian aku kembali ke masjid.

Astaghfirullah! Aku telah keluar dari masjid! Apakah Kyai Faqih akan memaklumi perbuatanku? Apakah beliau akan menerima alasanku? Apakah hanya sekedar mengembalikan sebuah kunci saja aku harus keluar masjid? Padahal bisa saja,Hasanuddin mengambil sendiri kuncinya yg tertinggal.Entahlah,bagaimanapun jika aku tak mengembalikannya langsung Hasanuddin tetap mengambil sendiri kuncinya tapi sungguh malang sekali jika ia harus kembali lagi dg becaknya yg berat itu atau jika ia memilih meninggalkan becaknya dijalan sementara ia harus kembali kemasjid maka sungguh rawan sekali nasib sayuran dan becaknya.

Apapun alasannya aku hanya ingin sedikit bersedekah pada pemuda pilihan Allah tersebut pemuda yg rela menanggalkan selimut hangatnya untuk menjemput segala keberkahan yg Allah telah dihamparkan Nya dipagi buta ini.Meskipun aku tahu aku telah kehilangan kesempatan untuk meminang Anisa.Ah,Anisa.

***


Sore ini aku menemui Kyai Faqih kembali.Sesuai permintaan beliau untuk menemuinya setelah kuselesaikan mabit selama 3 malam dimasjid.


"Bagaimana,Jar?" Bagaimana mabitmu?"


"Alhamdulillah,Kyai.Saya sudah mengerjakannya.Namun,afwan Kyai.Pada mabit yg ke 3 saya terpaksa harus keluar dari masjid."


"Apa kamu masih ingat peraturannya?"
"Masih,Kyai."

Kyai Faqih mengangguk berkali-kali.kami terdiam beberapa saat.Entah apa yg akan Kyai Faqih akan putuskan.
"Baiklah karena kamu telah keluar dari masjid kamu telah gagal.Apapun alasannya kamu telah gagal.Sekarang,apakah kamu masih ingin menikahi Anisa?"
"Insya Allah,hati ini masih ingin selalu menyentuh hati Anisa karena Allah lah saya mencintai Anisa izinkan saya menyempurnakan separuh ibadah saya bersama Anisa."

"Tapi kamu telah gagal!"
Aku terdiam sekarang yg kubutuhkan hanya keiklasan untuk menerima apapun keputusan Kyai Faqih.
"Baiklah.Malam jumat besok ada mabit bersama di masjid Tebuireng,aku beri kesempatan sekali lagi karena kulihat kesungguhanmu.Jar,tapi ingat! Jangan keluar dari masjid lagi selama mabit! Dengan alasan apapun! Mabit ini hanya semalam pergunakan dg sebaik-baiknya tata lagi niatmu karena Allah maha mengetahui."

Subhanallah! Kemurahan hati Kyai Faqih sungguh luar biasa.Aku harus mempergunakan kesempatan kedua ini dg baik aku harap tak ada halangan lagi dalam mabitku nanti.

Masjid Tebuireng letaknya ditengah-tengah koplek pesantren Tebuireng salah satu pesantren tertua di Indonesia ini,telah memiliki ribuan santri yg berasal dari penjuru tanah air dan beberapa dari luar negri dg tujuan nyantri atau sekadar riset penelitian.

Sebenarnya pesantren Tebuireng telah memiliki masjid baru yg megah letaknya tepat diutara SMP A.Wahid Hasyim yg merupakan salah satu sekolah dibawah yayasan pesantren Tebuireng.Masjid yg bernama Ulil Albab tersebut juga terletak dekat dg komplek Asrama pesantren putri Tebuireng.


Namun mabit bersama yg rutin tiap bulan sekali tersebut bertempat di masjid lama Tebuireng meski telah terjadi renovani disana sini karena sebagian kayu telah lapuk tapi sebagian besar bagian masjid ini masih menompangnya.Mihrab,jendela lantai dan bagian dalam masjid yg lainnya masih selalu dipertahankan dan dijaga keasliannya.

Nuasa pesantren salaf yg begitu kental dalam masjid ini.Ada kedamaian hati yg selalu kutemukan saat berada didalamnya karena selalu ada santri yg bersimpuh dan membaca Al Qur'an disini.Hingga nuansanya terasa begitu sejuk beradu dg lantunan lirih Al Qur'an dari bibir santri hingga aku slalu memilih shalat dibagian dalam masjid ini.Seakan kubisa merasakan kehadiran Allah dihatiku seakan ada sejuta malaikat bertasbih yg berdesakan dan berebut tempat denganku didalam masjid yg tidak terlalu luas ini.

Menjelang Magrib aku sudah berada dipelataran masjid Tebuireng ada banyak sekali masyarakat yg ikut dalam mabit malam ini.Banyak wajah2 yg tak asing bagiku Pak Rahmad Budiono guru Matimatika,Pak Bek guru sosiologi,Pak Saiful,Pak Na'im dan beberapa guru dilingkungan yayasan pesantren Tebuireng.Sepertinya mereka memang sengaja ingin ikut mabit bersama.

Aku segera mengambil tempat dishaf pertama karena aku ingin selalu mendapat keberkahan dalam shalatku.Aku menyesal sekali mengapa tidak dari dulu aku ikut mabit rutin setiap bulan ini aku selalu menolak ajakan Pak Rahmad untuk mabit.Aku hanya mengikuti pengajian kitab salaf oleh KH.Ishaq Latief selepas isya dipesantren Tebuireng ini padahal aku bersama jamaah mabit yg lain dapat menyatukan hati,berdzikir,memohon ampunan bersama hingga doa kami terakumulasi dan membumbung ke angkasa hingga cahaya Allah slalu menyinari hati dan keberkahan hidup selalu mengiringi kami.

Shalat Magrib berjamaah pun berlangsung dg Imam KH.Musta'in Syafii selaku dewan pengasuh.Lantunan surah Al Quq'an beliau sungguh indah hingga membuat kami khusyuk dalam setiap rakaat dan thuma'ninah dalam setiap rukun nya.


Seperti biasa jamaah shalat Magrib ini selalu membludak terlebit mabit bersama ini bahkan,hingga tersambung masuk kedalam komplek santri yg berhimpitan dg masjid.

Gemuruh dzikir bersama-sama seusai shalat begitu membahana hingga melambung tinggi dan nyaris menyentuh langit kemudian dilanjutkan shalat sunnah awwabin.Beberapa santri masih berada dalam masjid sekadar berdzikir atau membasahi bibir mereka dg hafalan dan tilawah Al Qur'an.

Setelah shalat isya berjamaah dilanjutkan dg pembacaan istighosah bersama kemudian dilanjutkan ceramah KH.Musta'in Syafii.Ceramah yg begitu memesona dan lincah disertai guyonan sederhana membuat para santri tergelak dan bersorak hingga kami tak terkantuk meski ceramah baru berakhir menjelang pukul 11 malam.

Beberapa santri terlihat meninggalkan masjid.Beberapa dari mereka melanjutkan dg membaca Al Qur'an bercengkrama bahkan telah terlelap diatas sajadah mereka.Aku memperbarui wudhuku kemudian shalat 2 rakaat dan melanjutkan tilawah Al Qur'an.Malam semakin beranjak tua berteman sunyi angin seakan tak berhembus dalam masjid ini hanya lantunan Al Qur'an yg saling beradu dan mengambang dilangit2 masjid hingga berjejal dan menerobos keluar jendela.Masjid ini seakan terangkat hingga kurang sekilan menyentuh langit.

Terkadang rasa kantuk menggelayut manja.Aku sering terkantuk dalam dudukku hingga aku beristighfar berkali-kali dan memperbarui wudhuku.Aku mendengar gemericik air dari kran yg tak tertutup rapat juga pada genangan air yg terus mengalir untuk mensucikan kaki sebelum ke masjid.Ah,terasa segar sekali menikmati setiap basuhan anggota wudhuku.

Saat hendak kembali kemasjid,aku melihat Pak Rahmad sedang menuntun Pak Na'im yg sedang menggigil kedinginan.
"Ada apa,Pak?"
"Pak Na'im masuk angin saya akan mengantarkannya pulang," jawab Pak Rahmad sebelum batuk berkali-kali.Kulihat wajah Pak Rahmad juga pucat.
"Biar saya saja yg mengantarkan Pak Na'im pulang.Pak Rahmad sebaiknya pulang juga."

kami membantu Pak Na'im dan menuntunnya ketempat pakir.


Saat aku mengantarkan pak Na'im aku menitikan air mata ,aku telah keluar masjid,aku telah menyia-nyiakan kesempatan kedua.Apakah ini pertanda aku dan Anisa tak berjodoh? Bagaimanapun,aku tidak mungkin membiarkan Pak Na'im dan Pak Rahmad sakit.
Ya Rabb,mudahkan segala urusanku


Selepas ashar aku menemui Kyai Faqih kembali,aku nyaris tanpa semangat menghadapi ini namun aku harus tetap menemui Kyai


Faqih dg membawa kegagalan ini meskipun aku sudah tahu keputusan apa yg akan Kyai Faqih ambil untukku.


"Mengapa kamu terlihat lesu,Jar?"
Aku hanya diam & tertunduk.
"Kamu gagal lagi?"
"Afwan,Kyai"

Tak terasa air mataku menitik.
"Astaghfirullahal'adzim! Aku tlah memberimu kesempatan ke 2 kamu tetap saja melewatkannya


Sudalah! pulanglah! kalian tak berjodoah!

Kyai Faqih beranjak dari kursinya dan meninggalkanku yg sedang tersedu.


Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya beranjak pergi,aku tidak mungkin menjelaskan apa yg terjadi.


Aku tak pernah melihat Kyai Faqih marah seperti ini.Aku menuntun motorku hingga sampai ke pagar rumah.Meninggalkan rumah Kyai Faqih bersama gerimis & air mata yg berjatuhan dipipikiu sore ini.

"Fajar!"
Tiba2 Kyai Faqih memanggilku berada Didepan pintu rumah.
"Kemarilah!"
Apa yg terjadi? Mengapa Kyai Faqih memanggilku?
"Kemarin ada 3 lelaki yg juga ingin Meminang Anisa mereka juga harus mabit selama 3 malam seperti mabitmu yg pertama tidak dimasjid Cukir tapi dimasjid Nurul Anwar Blimbing mereka akan mulai mabit malam Jumat lusa,aku beri kesempatan lagi kesempatan ygh terakhir bagimu.


Bergabunglah dg mereka bertiga!"


"Baiklah,Kyai"
Kemudian aku meninggalkan rumah Kyai Faqih saat itulah aku bertemu dg Anisa yg sedang berpayung.
Subhanallah! Kami saling berpandangan sekilas kemudian kami menunduk.Ia mengenakan baju Kurung putih berwarna putih sedikit kebiruan dibeberapa bagian ia terlihat anggun sekali.Ah,Anisa akankah kumiliki Hatimu?
Ya Rabb,jagalah hati ini dan pertemukan hati kami dg cinta Mu.



Bersambung ...

Tidak ada komentar :

Posting Komentar