KARYA SARAH AISHA
BAG 6
Sudah sepekan berlalu sejak dokter menyatakan bahwa Aulia koma. Namun sampai sekarang Aulia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Dia masih tetap memejamkan matanya dan belum sadarkan diri.Dokter Rina sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyadarkan Aulia dari koma, namun dia merasa agak sedikit janggal dengan penyakit yang diderita Aulia. Sepanjang sejarahnya dia menjadi dokter ahli jantung, tak pernah ada pasiennya yang mengalami koma sampai berharihari karena penyakit lemah jantungnya. Dia pun mulai meneliti dan memeriksa kembali penyakit apa yang sebenarnya sampai bisa membuat Aulia koma.
Dan setelah menjalani pemeriksaan pada Aulia, ternyata koma yang dideritanya itu bukan karena penyakit lemah jantungnya, tapi penyakit yang lain. Penyakit yang hanya bisa disembuhkan, bila apa yang dipendam dalam hatinya bisa terwujudkan.
"Apa dok?!" Nuning histeris setengah tak percaya.
"Koma yang dialami Aulia itu bukan karena penyakit lemah jantung yang dideritanya selama ini."
"Iya," Jawab dokter Rina lembut.
"Lalu penyakit apa dok yang sebenarnya dialami oleh Aulia,"
"Mungkin keluarganya sendiri yang lebih tahu." Jawab dokter Rina yang membuat sebuah tanda tanya besar dihati Nuning. Dia mengerutkan dahinya.
"Kami yang lebih tahu dok,"
Dokter Rina mengangguk.
"Maksud dokter apa,"
"Penyakit yang dialami oleh Aulia sebenarnya simple saja. Saat ini ia mengalami depresi yang sangat berat. Mungkin disebabkan oleh tekanan batin yang terlalu berlebihan, atau semacam masalah yang tidak bisa ia pecahkan dan ia pendam sendiri, sehingga mengalami depresi. Nah, depresi yang sangat berat itu pasti berpengaruh pada jantungnya yang saat ini sangat lemah. Sehingga mengakibatkan koma yang berkepanjangan kalau depresi yang dia alami tidak segera dicarikan solusinya. Untuk itu mengapa saya katakan, mungkin keluarganya lebih mengetahui permasalahannya." Jelas dokter Rina.
Nuning sendiri masih bingung masalah apa yang sebenarnya saat ini tengah dialami oleh adiknya itu. Dan karena apa ia bisa sampai tertekan. Nuning terus memikirkan hal itu.
Dia pamit pada dokter Rina dan segera keluar dari ruangannya. Dia berjalan sangat pelan sambil memikirkan perkataan dokter Rina barusan.Dia menghampiri kamar Aulia. Disana ada Pak Wahyu dan Bu Wardah. Sedangkan suami dan anaknya sedang berada di luar rumah sakit untuk membeli makan siang. Nuning segera menjelaskan pada orang tuanya itu tentang penyakit Aulia. Tidak ada yang dikurangi atau ditambahi. Semua sama seperti apa yang dikatakan oleh dokter Rina tadi.
* * *
"Mas, aku tidak pernah habis pikir kalau penyakit yang dialami Aulia itu akibat depresi yang dia alami. Apa ya Mas yang kira-kira membuat dia sampai depresi seperti itu,"Tanya Nuning disela-sela waktu senggangnya menidurkan Fitri, anaknya.
"Entahlah dik. Aku juga belum bisa menemukan kemungkinan apa yang membuat Aulia depresi." Sahut Dani, suami Nuning, sambil mengotak-atik laptopnya.
Sesaat mereka terdiam dan berkelana dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba Dani melontarkan sebuah ide yang cukup brilian.
"Dik, bagaimana kalau kita ke kampus Aulia dan bertanya pada teman-temannya. Siapa tahu saja mereka tahu apa permasalahan yang tengah Aulia hadapi sampai saat ini.Perlahan ada secercah harapan pada raut wajah Nuning. air mukanya begitu berseri-seri. Diapun setuju atas usulan suaminya itu. Dan memutuskan, besok mereka berdua akan memulai investigasi mereka di kampus Aulia.
* * *
Tanpa membawa Fitri, akhirnya Nuning dan Dani pergi ke kampus Aulia.Pertama-tama mereka mencari mahasiswa yang sekelas dengan Aulia. Kemudian mereka menanyai mereka satu per satu ketika jam istirahat tiba. Tapi dari hasil investigasi mereka, tak ada satupun teman yang mengetahui kalau Aulia punya masalah selama ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari mahasiswa dan mahasisiwi yang notabene-nya aktivis dakwah kampus. Kemudian meminta salah satu dari mereka untuk mengumpulkan beberapa diantaranya untuk ditanyai perihal masalah yang dialami Aulia.
Dari sekian banyak aktivis yang dimintai keterangan, ada beberapa orang yang memang menangkap gelagat yang aneh dan tak seperti biasanya pada Aulia. Mereka adalah Asih dan beberapa teman-teman akhwat Aulia. Asih yang tempo hari pernah berbincang sebentar dengan Aulia di masjid kampus,menuturkan pada Nuning yang saat ini bertanya padanya,Aulia pernah menawarkan tiket konser nasyid pada saya. Ketika saya tanya alasannya apa, Aulia menjawab dia ingin menenangkan pikiran dulu. Saya coba tanya padanya apa dia ada masalah sehingga ingin menenangkan pikiran segala. Tapi dia hanya mengulang perkataan yang tadi dia lontarkan. Ingin menenangkan pikiran. Pada saat itu saya tidak tahu apa masalah dia, tapi paling tidak saya menangkap gelagat yang tidak biasa padanya."
"Gelagat apa yang anti maksud." Tanya Nuning dengan penuh penasaran. Sejenak Asih menghentikan kata-katanya sambil mengingat - ingat kembali perbincangan singkatnya dengan Aulia.
"Gelagat yang tidak biasanya Aulia lakukan. Saat itu ia lebih tenang, lebih pendiam, dan lebih....serius. Saya katakan ia lebih serius sebab setelah ia memberikan tiket itu pada saya, dia langsung bertanya, apa yang akan saya lakukan jika sebuah benda berharga milik saya, jatuh ke suatu tempat yang sangat jauh dari jangkauan saya.Apakah saya akan mengambilnya meskipun saya tahu resikonya sangat besar, atau justru saya meninggalkannya dan membiarkan benda itu hilang dan tak akan berharap lagi benda itu akan kembali untuk selamanya. Sedangkan tidak ada orang yang bisa saya mintai tolong. Saat itu saya hanya bertanya apa maksudnya dia bertanya seperti itu, tapi dia hanya menjawab, "Segala sesuatunya pasti memiliki maksud tersendiri. Dan untuk hal ini, simple saja. Mbak hanya tinggal menjawab pertanyaanku dan itulah maksudku." Hanya itu yang ia katakan. Saya berpikir sejenak tapi jawaban itu tak kunjung datang di pikiran saya.
Saya katakan padanya,"Kalau aku ada di posisi seperti apa yang kamu katakan tadi, aku akan...., saya tidak meneruskan kata-kata saya dan lebih memilih untuk mengatakan bahwa saya bingung untuk menjawabnya. Namun anehnya, apa yang saya katakan itu menurut Aulia sudah cukup baginya. Menurutnya sudah memberikan sedikit pemahaman padanya tentang sikap saya bila saya mengalami posisi seperti itu. Saat itu saya sudah mulai menyadari kalau Aulia tidak seperti biasanya. Apalagi ketika ia hendak pamit pada saya karena masih ada kuliah lagi. Dia mengatakan mungkin suatu hari nanti, saya akan mengerti apa maksud dari perbincangan singkat kami pada saat itu." Asih menutup ceritanya. Sedangkan Nuning semakin tidak mengerti apa masalah yang sebenarnya dialami Aulia. Dia mengucapkan terima kasih padanya dan memohon doa untuk kesembuhan Aulia. Asih pun senantiasa mendoakannya.
Kemudian Nuning bertanya lagi pada beberapa teman akhwat Aulia.
Yuyun, salah satu dari mereka menyatakan,Tempo hari seusai syuro di masjid kampus, kami memutuskan untuk makan siang di kantin. Sambil menunggu pesanan datang, kami memutuskan untuk berbincang-bincang sebentar. Namun herannya, Aulia seperti tak bersemangat sekali dengan perbincangan itu. Dia lebih banyak melamun sambil memainkan sedotan yang ada di dalam jus jeruknya. Kami bertanya apa dia ada masalah, tapi dia hanya menjawab, "Tidak ada apa-apa" lalu dia kembali diam dan tidak seperti biasanya. Kemudian tak berapa lama pesanan kami pun datang. Aulia yang pada saat itu memesan somay ikan kalau tidak salah, menuangkan kecap pada somaynya itu.
Tapi dia menuangnya sambil melamun. Entah apa yang dipikirkannya pada saat itu. Alhasil, kecap yang dituangnya pun terlalu banyak. Dia terlihat bingung ketika kami beritahukan kecapnya kebanyakan. Dia segera beristighfar kemudian memakan somaynya meskipun dengan penuh kecap." Jelas Yuyun seingatnya. Kemudian cerita itu dilanjutkan oleh Ike.
"Pernah juga kami pergi ke warnet bersama Aulia karena ada tugas yang harus diselesaikan. Aulia duduk di meja komputer tersendiri. Tapi tak beberapa lama, tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan langsung berpamitan pada kami. Ketika kami bertanya ada apa, Aulia hanya menjawab dia ada urusan dan langsung pergi dengan terburu-buru. Semenjak itu kami melihat seperti ada yang disembunyikan olehnya dari kami. Tapi kami tidak tahu apa." Nuning memejamkan matanya. Menghela nafasnya dalam-dalam dan merasakan betapa rumitnya jalan yang harus ditempuhnya untuk mengetahui permasalahan adiknya itu. Sampai saat ini dia belum menemukan titik terang dari permasalahan Aulia. Dia pun mencatat semua inti dan permasalahan dari kisah yang tadi diceritakan Asih dan beberapa akhwat teman Aulia itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Nuning dan Dani pun menyudahi investigasi mereka.
* * *
Bersambung...

Assalamualaikum.wr.wb
BalasHapusDi tunggu postingan cerita selanjut nya ukhti,, syukron ^__^